Jumat, 17 Mei 2013

Tiga Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Memandang Suatu Perkara

Tiga Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Memandang Suatu Perkara

َ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
.فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَي فِي الْقُرْأَنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِا للَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحّمَنِ الرَّحِيْمِ : وَكَأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقُهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم
وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّي اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأَنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ


Marilah kita panjatkan puji beserta syukur ke hadirat Allah SWT, yang maha ghofur, berkat hidayat, taufik dan inayahnylah kita bias bertemu, bertatap muka dalam makom yang insyaallah allah mulyakan sehingga alhamdulillah kita bias melaksankan sebagian kewajiban kita yakni shalat jum'at.
Shalawat dan salam semoga selamanya terlimpah curahkan kepada baginda kita Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa kepada kita kepada kita dari jalan onta kejalan toyota, yang mebawa umatnya dari kegeelapan menuju jalan terang benerang dari alam kejahiliahan kejalan kepintaran.
Dan tidak lupa kepada keluarganya, sahabatnya dan semua umatnya yang mengikuti ajarannya, termasuk kita sampai hari kiamat. Amin yaallah yarobal a'lamin.

Yang saya hormati seluruh para alim ulma
Yang saya hormati para tokoh, para pejabat pemerintah
Dan tak lupa hadirin yang hadir disini seiman seperjuangan rahimakumullah

Berkat nikmat-Nya, pada malam yang berbahagia ini, kita semua bisa berkumpul, bertatap muka dalam rangka mengisi atau melaksanakan sebagian kewajiabn kita yakni dolabul ilmu atau mencari ilmu, semoga pertemuan kali ini dan dengan berkumpulnya ditempat ini, Allah swt meridoi dan mengampuni segala dosa kita. Amiin.
Insyallah pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan keterangan yang di sampaikan oleh sebagian ahli hukama yakni :

اِعْتَصَمَ بِعَقْلهِ ضَلَّمَنْ

1. Bahwa barang siapa berpegang teguh kepada akal, niscaya ia sesat
Maksudnya bahwa barang siapa yang berpegang teguh terhadap akal sehingga lupa terhadap Maha pencipta yakni Allah swt maka dia akan sesat seperti banayak dijaman sekarang orang menapsirkan al-Quran dengan akalnya akhirnya dia melaksanaka sholat dibarengi dengan musik seperti aliran yang ada di jawa dan melaksanakan sholat dengan baan terjemaah memang boleh dalam agama tapi bukan selamanya.
وَمَنْ اسْتَغْنَى بِمَالِهِ قَلَّ
2. barang siapa merasa cukup dengan hartanya, maka dia itu miskin
Kalau dilihat dalam redaksinya bahwa orang yang merasa cukup kepada hartanya maka dia akan miskin, merasa kurang dan merasa kuatir karena dunia sikap ini lahir atas kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menimpanya pada masa yang datang dalam urusan dunianya. Misalnya, takut mendapat kefakiran, tertimpa sakit atau bencana.
Penyakit ini lenih celaka dari penyaki hati, karena selain menimbulkan keraguan dan buruk sangka terhadap takdir Allah, sikap ini akan menyulut seseorang semakin mencintai dunia dan melupakan akhirat meskipun dalam tensi yang sangat kecil. Dalam hadist dikemukakan bahwa pada suatu saat Rasulallah mejenguk Bilal yang sedang sakit. Ketika Bilal mengekurkan kurma untuk disuguhkan kepada Rasulallah, beliau bertanya:
مَاهَذَا يَابِلَال ؟ فَاقَلَ : اَدْخَرْتَهُ لَكَ، قَالَ : أَمَا تَخْشَى اَنْ يُجْعَلَ لَكَ بُخَارٌ فِى نَارِ جَهَنَّمَ
Artinya:“Apakah ini wahai Bilal ?” Bilal menjawab: “ Saya menyimpan kurma ini untuk engkau.” Rasulallah menjawab:” Apakah kamu tidak takut jika makan-makan ini dijadikan untukmu sebagai gumpalan api neraka jahanam?Infakanlah, wahai Bilal. Janganlah engkau mendapat kefakiran dari Allah Yang Menguasai ‘Arasy.” (H.R. Thabrani).
Orang saleh seperti Bilal, tentu saja, dengan ikhlas mengumpulkan kurma itu karena ingin mengagungkan Rasulallah. Bila melakukannya bukan karena kalau pada masa-masa yang akan datang Allah tidak menumbuhkan lagi pohon kurma, atau karena ingin memperoleh nilai lebih. Meskipun demikian, bila sudah mendapat teguran pahit dari Rasulallah dan diperintahkannya supaya segera diinfakan. Nah, bagaimana dengan orang-orang yang rakus menumpukan kekayaan dan hasil ribanya, sambil melupakan kewajiban infak dan zakatnya?
Maka apa yang yang harus dilakukan apabila orang sudah rakus, apakah cara untuk mengobatinya? Ada Cara mengobati Rakus dan Tamak adalah :
Ketahuilah bahwa obat ini terdiri dari tiga unsur: sabar, ilmu, dan amal. Secara keseluruhan terangkum dalam hal-hal berikut ini :

1. Ekonomis dalam kehidupan dan arif dalam membelanjakan harta.
2. Jika seseorang bisa mendapatkan kebutuhan yang mencukupinya, maka dia tidak perlu gusar memikirkan masa depan, yang bisa dibantu dengan membatasi harapan-harapan yang hendak dicapainya dan merasa yakin bahwa dia pasti akan mendapatkan rezeki dari Allah. Jika sebuah pintu rezeki tertutup baginya, sesungguhnya rezeki akan tetap menunggunya di pintu-pintu yang lain. Oleh karena itu hatinya tidak perlu merasa gusar.

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَآبَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقُهَا اللهُ يَرْزُقُهَا وَإيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْم
Artiny a:“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al-’Ankabut: 60)

3. Hendaklah dia mengetahui bahwa qana`ah itu adalah kemuliaan karena sudah merasa tercukupi, dan dalam kerakusan dan tamak itu ada kehinaan karena dengan kedua sifat tersebut, dia merasa tidak pernah cukup. Barangsiapa yang lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti dia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.

4. Memikirkan orang-orang Yahudi dan Nasrani, orang-orang yang hina dan bodoh karena tenggelam dalam kenikmatan. Setelah itu hendaklah dia melihat kepada para nabi dan orang shalih, menyimak perkataan dan keadaan mereka, lalu menyuruh akalnya untuk memilih antara makhluk yang mulia di sisi Allah ataukah menyerupai penghuni dunia yang hina.

5. Dia harus mengerti bahwa menumpuk harta itu bisa menimbulkan dampak yang kurang baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أُنْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَأَنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ
Artinya :“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian, karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (Hadits riwayat Muslim).
Hadits ini berlaku dalam urusan dunia. Adapun dalam urusan akhirat, maka hendaklah setiap muslim berlomba-lomba untuk mencapai derajat kedudukan tertinggi. Penopang urusan ini adalah sabar dan membatasi harapan serta menyadari bahwa sasaran kesabarannya di dunia hanya berlangsung tidak seberapa lama untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi, seperti orang sakit yang harus menunggu pahitnya obat saat menelannya, karena dia mengharapkan kesembuhan selama-lamanya.
وَمَنْ عَزَّ بِمَخْلُوْكٍ ذَلَّ
3. dan barang siapa merasa mulia karena kekuatannya, maka hinalah dia
Maksudnya barang siapa yang berpegang kepada kekuatanya maka kekuatan itu akan hilang karena manusia tidak akan selamanya kuat pasti satu saat akan lemah karena ada hujan ada panas, siang ada malam, langit ada bumi dan juga begitu ada kekuatan pasti ada kelemahan, tatapi kalau

Hadirin yang budiman
Itu saja yang bisa saya sampaikan dalam pertemuan kali ini mengenai materi yang saya bahas mudah-mudahan banyak manfaatnya dan mhon maaf atas segala kekurangannya.


وَالسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ 
Ustadz Ahmad Hambali Pengasuh TPQ Nuruddin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email

TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU