Sabtu, 06 April 2013

Riwayat Sholawat Badar

 Sholawat Badar



Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar.
Sholawat ini adalah hasil karya Kiyai Ali Manshur, yang merupakan cucu Kiyai Haji Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kiyai `Ali Manshur adalah anak saudara/keponakanKiyai Haji Ahmad Qusyairi, ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan oleh ulama terkemuka Haramain, Habib `Alawi bin `Abbas bin `Abdul `Aziz al-Maliki al-Hasani, dengan jodol “Inarat ad-Duja”.
Diceritakan bahwa asal mula karya ini ditulis oleh Kiyai `Ali Manshur sekitar tahun 1960an, pada waktu umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ketika itu, Kiyai `Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi dan juga seorang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ.
Keadaan politik yang mencekam saat itu dan kebejatan PKI yang merajalela membunuh massa, bahkan banyak kiyai yang menjadi mangsa mereka, maka terlintaslah di hati Kiyai `Ali, yang memang mahir membuat syair `Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah SWT untuk meredam fitnah politik saat itu bagi kaum muslimin khususnya Indonesia.
Dalam keadaan tersebut, Kiyai `Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan pada malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w. Setelah siang, Kiyai `Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahwa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kiyai `Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kiyai `Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar”.maka terjadilah hal yang mengherankan keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lain. Mereka menceritakan bahwa pada waktu pagi shubuh mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kiyai `Ali untuk membantunya kerana akan ada suatu acara diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa barang tersebut menurut kemampuan masing-masing. yang lebih mengherankan lagi adalah pada malam harinya, ada beberapa orang asing yang membuat persiapan acara tersebut namun kebanyakan orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.

Menjelang keesokan pagi harinya, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib `Ali bin `Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang tiba-tiba datang ke rumah Kiyai `Ali tanpa memberi tahu terlebih dahulu akan kedatangannya. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai `Ali menerima para tamu istimewanya tersebut. Setelah memulai pembicaraan tentang kabar dan keadaan Muslimin, tiba-tiba Habib `Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai `Ali tersebut. Tentu saja Kiyai `Ali terkejut karena hasil karyanya itu hanya diketahui dirinya sendiri dan belum disebarkan kepada seorangpun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah salah satu kekeramatan Habib `Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa banyak bicara, Kiyai `Ali Manshur mengambil kertas karangan syair tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata karena terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai `Ali, Habib `Ali menyerukan agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI. Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai `Ali tersebut.
Selanjutnya, Habib `Ali Kwitang telah mengundan para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, salah seorang yang diundang diantaranya ialah Kiyai `Ali Manshur bersama pamannya Kiyai Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kiyai `Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luaslah Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan populer dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan. Maka tak heran bila sampai sekarang Shalawat Badar selalu Populer. di Majelis Taklim Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi sendiri di Kwitang tidak pernah tinggal pembacaan Shalawat Badar tersebut setiap minggunya. untuk lebih lengkapnya tentang cerita ini teman2 milis MR dan teman temanku seiman dapat membaca buku yang berjudul “ANTOLOGI Sejarah Istilah Amaliah Uswah NU” yang disusun oleh H. Soeleiman Fadeli dan Muhammad Subhan. semoga Allah memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib yang berperan serta mempopulerkan Shalawat tersebut kepada kita kaum muslimin. Al-Fatihah…..

Sholawat badar merupakan , pernghormatan, pujian, pengakuan dan rasa syukur bagi para Syuhada perang Badar. Hal seperti ini dilakukan pula di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan iringan rebana sebagaimana terlukiskan dalam hadits berikut
[47.76]/4750 Telah menceritakan kepada kami Musaddad Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadldlal Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Dzakwan ia berkata; Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz bin `Afran berkata; suatu ketika, Nabi shallallahu `alaihi wasallam dan masuk saat aku membangun mahligai rumah tangga (menikah). Lalu beliau duduk di atas kasurku, sebagaimana posisi dudukmu dariku. Kemudian para budak-budak wanita pun memukul rebana dan mengenang keistimewaan-keistimewaan prajurit yang gugur pada saat perang Badar. Lalu salah seorang dari mereka pun berkata, “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari.” Maka beliau bersabda: “Tinggalkanlah ungkapan ini, dan katakanlah apa yang ingin kamu katakan.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam hanya mengkoreksi perkataan “Dan di tengah-tengah kita ada seorang Nabi, yang mengetahui apa yang akan terjadi esok hari” karena Beliau tahu sebatas yang diwahyukan namun beliau tidak melarang ungkapan cinta (sholawat) sebagaimana kita ingin mengungkapkannya dengan pernyataan “katakanlah apa yang ingin kamu katakan”
Bermanfaat untuk amal sholeh (amal kebaikan) saja sekaligus memeriahkan sebuah keramaian / pertemuan.
Bisa sebagai pengganti sedekah ketika tidak punya harta yang bisa disedakahkan

Dari Abu Dzar r.a. berkata, bahwasanya sahabat-sahabat Rasulullah saw. berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah saw., orang-orang kaya telah pergi membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Bukankah Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang dapat disedekahkan? Yaitu, setiap kali tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, melarang kemungkaran adalah sedekah, dan hubungan intim kalian (dengan isteri) adalah sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya dan dia mendapatkan pahala?” Rasulullah saw. menjawab, “Bagaimana pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, apakah ia berdosa? Demikian juga jika melampiaskannya pada yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)

video

MENGGAPAI BERKAH SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. (Bag. 2)






MENGGAPAI BERKAH SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. (Bag. 2)


LANJUTAN TAFSIR QS. AL – AHZAB AYAT 56 *)



1. Makna Shalawat
Di dalam Bahasa Arab, lafaz  صَلَوَات  merupakan bentuk jamak dari  صَلاَة   yang mempunyai asal kata  صَلىَّ    -    يُصَلىِّ  yang berarti berdoa atau memohon. Dalam perkembangannya, penggunaan kata-kata tersebut semakin bermacam-macam sehingga artinya pun menjadi beraneka ragam, diantaranya ia menjadi nama salah satu bentuk ibadah umat Islam, yaitu shalat, karena shalat merupakan salah satu bentuk apresiasi-aplikatif penyembahan dan permohonan seorang hamba kepada Tuhannya.

Selain itu, ia juga dapat berarti pujian, rahmat dan ampunan untuk Nabi Muhammad saw., tergantung siapa yang melakukannya. Perbuatan seperti ini, masyarakat Indonesia menamakannya shalawat. Tidak diketahui kapan dan siapa yang pertama kali menyebutnya demikian, sebab al-Quran menamai perbuatan untuk Nabi saw. tersebut dengan shalat, bukan dengan shalawat. Tetapi yang jelas, ini dapat memudahkan kita dalam membedakan pelaksanaan ibadah shalat dan pengucapan shalat (baca: shalawat) atas Rasulullah saw.

Ibn Mandzur menjelaskan di dalam bukunya Lisan al-‘Arab, shalawat atas nabi itu dapat berasal dari tiga macam, yaitu Allah, malaikat dan manusia—sebagaimana dikemukakan ayat 56 surat al-Ahzab. Shalawat yang berasal dari Allah artinya Dia memberikan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada Nabi Muhammad saw. Apabila para malaikat mengucapkan shalawat, artinya mereka memohonkan ampun untuk rasul kepada Allah. Sedangkan bila ia diucapkan oleh manusia, itu merupakan permohonan manusia kepada Allah agar mencurahkan karunia rahmat-Nya kepada Rasulullah beserta alam seisinya.


2. Tata Cara Bershalawat Atas Nabi Muhammad saw.

Al-Quran surat al-Ahzab ayat 56 memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar senantiasa bershalawat atas Nabi Muhammad saw. Akan tetapi pengucapan shalawat itu harus sesuai dengan aturan-aturan yang telah diajarkan Allah dan nabi-Nya, sebab ia merupakan bentuk doa sekaligus penghormatan kepada Rasulullah saw.


a)      Larangan Membaca Shalawat al-Batra’

Rasulullah saw. bersabda di dalam salah satu hadisnya :

لاَ تَصِلُوْا عَلَيَّ الصَّلاَةَ اْلبَتْرَاءَ فَقَالُوْا وَمَا الصَّلاَةُ اْلبَتْرَاءُ قَالَ تَقُوْلُوْنَ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَتَمْسُكُوْنَ بَلْ قُوْلُوْا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ  — الحديث


“Janganlah kalian bershalawat untukku dengan shalawat al-batra’ (terputus/tanggung)”. Para sahabat bertanya, “Apakah shalawat al-batra’ itu?” Nabi saw. menjawab, “Yaitu kalian mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad) lalu kalian diam, tetapi ucapkanlah allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad (ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad)”. (Al-Hadis).

Hadis ini mengajarkan agar manusia jangan menjadi orang yang pelit serta tanggung dalam bershalawat, yakni hanya cukup mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad, akan tetapi harus lengkap membawa keluarga Nabi saw., yaitu dengan mengucapkan allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad. Ini dikarenakan bahwa nabi adalah bagian dari keluarga, begitu pula keluarganya merupakan bagian dari diri nabi. Sebagaimana Rasulullah menjelaskan :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ إِنَّهُمْ مِنيِّ وَأناَ مِنْهُمْ فَاجْعَلْ صَلاَتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَمَغْفِرَتَكَ وَرِضْوَانَكَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ — الحديث


Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya mereka (keluarga nabi) adalah bagian dari diriku dan diriku juga bagian dari mereka, maka jadikanlah keberkahan, rahmat, ampunan serta keridhaan-Mu untukku dan mereka (keluargaku)”. (Al-Hadis).

Berdasarkan hadis di atas, para ulama menetapkan bahwa sedikit-dikitnya bacaan shalawat adalah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ

b)      Bilangan Bacaan Shalawat

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan al-Tirmizi, bahwasanya pernah suatu ketika seseorang datang kepada Nabi saw., lalu ia berkata :

إِنِّى أكْـثَرُ الصَّلاةِ عَلَيْكَ فَكَمْ أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِى قَالَ مَا شِئْتَ قَالَ الرُّبْعُ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ النِّصْفُ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ الثُّلـُثَيْنِ قَالَ مَا شِئْتَ وَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ أجْعَلُ لَكَ صَلاَتِى كُـلُّهَا قَالَ إِذَا تَكْفِى هَمُّكَ وَيَغْفِرُ لَكَ ذَنْـُبكَ — رواه أحمد والترمذى وغيرهما


“Sesungguhnya aku mampu membaca banyak shalawat bagimu, maka berapa lamakah aku dapat membaca shalawatku untukmu?” Nabi saw. menjawab, “Terserah kamu”. Ia berkata, “Apakah seperempat hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”.  Ia berkata, “Apakah setengah hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”. Ia berkata, “Apakah dua pertiga hari?” Beliau menjawab, “Terserah kamu. Apabila kamu dapat menambahnya maka itu lebih baik bagimu”. Ia berkata, “Aku akan membaca shalawatku bagimu sepanjang hari”. Nabi berkata, “Kalau itu mencukupi bagimu maka bertekadlah melaksanakannya dan semoga Allah mengampuni dosa-dosamu”. (HR. Ahmad, al-Tirmizi dan selainnya).

Hadis ini menjelaskan kepada kita bahwa tidak ada batasan seorang mukmin membaca shalawat untuk nabinya, bahkan semakin banyak dan sering ia bershalawat maka akan semakin banyak pula kebaikan yang didapat. Tidak ada yang dapat membalas itu semua kecuali Allah swt. dengan menganugerahkan berbagai kebaikan dan ampunan sepanjang hidup orang yang mau selalu membaca shalawat untuk utusan Allah yang mulia.

c)      Berbagai Macam Jenis Shalawat

Rasulullah saw. sepanjang hidupnya selalu mendoakan umatnya agar selalu mendapat hidayah, rahmat dan ampunan dari Allah. Maka sudah sepantasnya bila Allah memerintahkan kepada umatnya yang beriman agar senantiasa mendoakan beliau supaya selalu mendapat rahmat Allah sehingga tampaklah kemuliannya di seluruh alam semesta ini. Allah swt. berfirman di dalam al-Qur’an :

يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما


“Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab: 56).

Berikut ini adalah beberapa jenis shalawat yang diajarkan Rasulullah—selain yang telah dikemukakan di atas—yang harus selalu diamalkan oleh seluruh umatnya yang beriman.
Pertama, Diriwayatkan dari Imam al-Bukhari di dalam shahih-nya melalui jalur sanad Ka’ab bin ‘Ujrah, ia berkata :

قِيْلَ ياَ رَسُوْلَ اللهِ اَماَّ السَّلاَمُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْناَ فَكَيْفَ الصَّلاَةُ قَالَ قُوْلُوْا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ  — رواه البخاري


“Katanya Rasulullah ditanya, “Wahai Rasulullah, adapun mengucapkan salam kepadamu kami telah tahu, maka bagaimana cara mengucapkan shalawat?” Nabi menjawab, “Ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


(Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berilah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.)”. (HR. al-Bukhari).
Kedua, Imam Abu Daud meriwayatkan suatu hadis :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَرَّهُ أنْ يُكْتاَلَ بِالْمِكْياَلِ اْلأَوْفىَ إِذاَ صَلىَّ عَلَيْناَ أهْلَ اْلبَيْتِ فَلْيَقُلْ اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ وَأزْوَاجِهِ اُمَّهَاتِ اْلـمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَتِهِ وَأهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ — رواه أبو داود


Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang suka dibayar (mendapat) pahala yang banyak (sempurna) ketika ia bershalawat untuk kami, ahlul bait, maka ucapkanlah :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ النَّبِيِّ مُحَمَّدٍ وَأزْوَاجِهِ اُمَّهَاتِ اْلـمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَتِهِ وَأهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


(Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad, istri-istrinya ibunya kaum mukminin, keturunannya, dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia)”. (HR. Abu Daud).

3. Keutamaan Bershalawat Atas Nabi Muhammad saw.

Allah swt. mengajak hamba-hamba-Nya untuk bershalawat atas Nabi Muhammad saw. tentu bukan tanpa manfaat dan hikmah, khususnya bagi mereka yang membacanya. Diantara beberapa keutamaan bershalawat adalah :

  • Mendapat syafa‘at al-‘uzma Nabi Muhammad saw. di hari kiamat nanti pada saat kebangkitan di saat seluruh umat manusia berusaha mencari pertolongan demi keselamatan diri mereka. Hal ini sebagaimana dikemukakan Rasulullah saw. di dalam hadisnya :

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ إِذَا سَمِعْـتُمُ اْلـمُؤَذِّنَ فَقُلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلىَّ عَلَيَّ مَرَّةً صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ عَشْرًا ثُمَّ سِلُوا الله َ لِيَ اْلوَسِيْلَةَ فَإِنَّهَا دَرَجَةٌ فِى اْلجَـنَّةِ لاَ تَنْـَبغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَاَرْجُوْ اَنْ اَكُوْنَ اَناَ ذَلِكَ اْلعَبْدُ فَمَنْ سَاَلَ الله َ لِيَ الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ شَفَاعَتِى يَوْمَ اْلقِيَامَةِ — رواه مسلم


Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar dari Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda, “Apabila kalian mendengar muadzdzin sedang adzan maka jawablah seperti apa yang ia katakan kemudian bershalawatlah atasku karena sesungguhnya orang yang bershalawat atasku sekali maka Allah akan bershalawat (merahmati) untuknya sepuluh kali lipat. Lalu memohonlah kepada Allah suatu perantara untukku karena sesungguhnya derajat di surga tidak akan diberikan kecuali kepada seorang hamba dari hamba-hamba Allah. Dan aku berharap supaya aku menjadi hamba tersebut. Maka barangsiapa yang memohon kepada Allah bagiku suatu perantara maka ia akan mendapatkan syafaatku di hari kiamat”. (HR. Muslim).

  • Mendapatkan pahala kebaikan berlipat ganda sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas.
  • Dimudahkan oleh Allah segala urusannya, baik di dunia dan akhirat.

Al-Qur’an surat al-Ahzab ayat 56 memberitakan keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad saw. di antara seluruh makhluk yang ada di ‘arsy, langit, bumi dan alam semesta. Begitu agungnya sehingga Allah yang menciptakannya beserta para malaikat memujinya dan selalu bershalawat untuknya. Oleh karena itu, bila Allah saja membaca shalawat maka manusia, terutama orang-orang yang beriman harus ikut memuji dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.

Membaca shalawat, selain bernilai ibadah, juga termasuk salah satu cara menghormati dan memuliakan nabi. Namun, membaca shalawat saja tidaklah cukup dan justru tidak akan mendapatkan syafaat beliau jika tidak dibarengi menjadikannya teladan dalam kehidupan, mematuhi segala perintah dan ajarannya, serta meninggalkan segala larangan dan perkara yang dibencinya. Apabila hal itu tidak dilaksanakan, maka bukan syafaat dan surga yang didapat, akan tetapi neraka dan murka Allah sebab ini termasuk perbuatan yang menyakiti Allah dan rasul-Nya. Di dalam al-Qur’an dijelaskan :

إن الذين يؤذون الله ورسوله لعنهم الله في الدنيا والآخرة وأعد لهم عذابا مهينا .  والذين يؤذون المؤمنين والمؤمنات بغير ما اكتسبوا فقد احتملوا بهتانا وإثما مبينا


“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Ny,. Allah akan melaknatnya di dunia dan di akhirat serta menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata”. (QS. al-Ahzab: 57 – 58).


SUMBER REFERENSI :



Ahmad bin ‘Abdul Halim bin Taimiyyah al-Harani, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyyah fi al-‘Aqidah, Juz 1, (Maktabah Ibnu Taymiyyah, tth.).

Ahmad bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al-Haitami, al-Shawa‘iq al-Muharriqah, (Beirut, Muassisah al-Risalah, 1997).

Ahmad Musthofa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, Jilid 7 dan 8, (Dar al-Fikr, 1973).

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam, (Jakarta: Jayamurni, 1970).

Hasan Mughni, Syair-Syair dan Nadoman (Basa Sunda) Ngamuat Pelajaran Agama, (Kuningan, tth.).

Husin al-Habsyi, Kamu al-Kautsar, (Surabaya: PP. Assegaff dan PP. Alawy, 1977).

Rus’an, Lintasan Sejarah Islam di Zaman Rasulullah saw., (Semarang: Wicaksana, 1981).

*) Disusun oleh Miftahul Khaer, S.Th.I. Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw.

MENGGAPAI BERKAH SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. (Bag. 1)



MENGGAPAI BERKAH SHALAWAT ATAS NABI MUHAMMAD SAW. (Bag. 1)


TAFSIR QS. AL – AHZAB AYAT 56 *)




Hayu batur pada kumpul
Ngahormat ka Gusti Rasul
Supaya urang dikabul
Sagala anu diusul
Urang maraca solawat
Ka Nabi nuhun syafaat
Supaya urang salamet
Di dunya sareng aherat


Nabi Muhammad saw. dilahirkan di kota Mekkah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah atau bertepatan dengan tanggal 20 April 571 Masehi. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim yang telah ditinggalkan ayahnya, Abdullah, sejak masih berusia 2 bulan di dalam kandungan dan menjadi piatu karena ditinggal mati ibunya, Siti Aminah, pada usia 6 tahun.
Seumur hidupnya, Nabi Muhammad saw. terus berdakwah menyiarkan ajaran agama Allah kepada seluruh umat manusia. Berbagai aral dan rintangan ia hadapi dengan penuh kesabaran dengan senantiasa mengharap pertolongan Allah swt. Tidak sedikit ancaman, hinaan dan cobaan yang diterima bahkan sampai terluka parah akibat peperangan yang dialaminya hingga nyaris meninggal dunia. Itu semua dilaluinya dengan tanpa amarah dan perasaan balas dendam, melainkan ia selalu bermunajat kepada Tuhannya agar misi yang ia emban—yakni i’lai kalimatillah (menegakkan ajaran agama Allah) di muka bumi—dapat tercapai dengan gemilang. Kegigihan Rasulullah saw. dalam memperjuangkan agama Islam serta beratnya penderitaan yang ia alami diabadikan oleh Allah di dalam al-Qur’an :

لقد جاءكم رسول من أنفسكم عزيز عليه ما عنتم حريص عليكم بالمؤمنين رؤوف رحيم

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat menginginkan (keimanan, keselamatan dan kebaikan) bagi kamu semua, lagi amat belas kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. Al-Taubah: 128).
Muhammad saw. adalah manusia seperti manusia lainnya dalam naluri, fungsi fisik dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan kedudukan istimewa di sisi-Nya. Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia sehingga ia rela mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman kepada Allah (QS. Asy-Syu’ara: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya sehingga menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan makhluk tak bernyawa.
Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah swt. menjadikan beliau sebagai teladan yang baik bagi seluruh umat manusia :

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat dan ridha) Allah dan (ganjaran amal kebaikan) pada hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah(berdzikir)”. (QS. Al-Ahzab: 21).
Disadari sepenuhnya bahwa uraian tentang Nabi Muhammad saw. amat panjang, yang dapat diperoleh secara tersurat maupun tersirat di dalam al-Qur’an, hadis, riwayat-riwayat dan pandangan para pakar. Hal penting bagi para pengikutnya selain turut-patuh ajaran yang ia bawa dan menjadikannya sebagai teladan, adalah selalu menghormati, mengingat serta melafalkan namanya setiap saat selama nafas masih berhembus bagai seorang yang merindukan kekasihnya.

A. Lafaz dan Terjemah QS. Al-Ahzab Ayat 56

إن الله وملائكته يصلون على النبي يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما

Artinya :
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. AL-Ahzab: 56).

B. Tafsir Mufradat
يصلون             :  Mereka semua bershalawat.
Al-shalah mempunyai pengertian asal doa. Namun, apabila ia disandingkan dengan nama Allah maka berarti pemberian rahmat-Nya. Apabila ia diucapkan oleh malaikat, ia merupakan permohonan ampun kepada Allah. Dan bila al-shalah dilakukan oleh manusia, berarti bentuk pemujaan dan permohonan (doa) kepada Allah. Jadi, bila manusia melakukan al-shalah (ibadah shalat) artinya manusia sedang memuja dan memohon kepada Allah untuk dirinya. Begitupula jika manusia mengucapkan al-shalah (shalawat atas Nabi saw.) berarti ia sedang memuji Nabi saw. serta memohon kepada Allah agar selalu dilimpahkan rahmat-Nya kepada Nabi dan seluruh umatnya.
وسلموا            :  Berilah salam penghormatan.
Al-salam artinya selamat, tidak ada yang cacat, damai, aman, pasrah, dan homat.
C. Penjelasan QS. Al-Ahzab Ayat 56
Ayat ini merupakan bagian terakhir dari ayat-ayat yang diturunkan pada saat Nabi Muhammad saw. menikahi Zainab binti Jahsy yang berkaitan tentang ketetapan hijab (penghalang/penutup/tirai) antara seorang wanita dengan orang lain yang bukan muhrimnya, yakni tepatnya di pagi hari perkawinan keduanya pada bulan Dzulqa’dah tahun 5 Hijriyah. Di dalam sebuah hadis riwayat Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih dan al-Baihaqi dari sahabat Anas ra disebutkan bahwa :

عَنْ اَنَسٍ قَالَ لَماَّ تَزَوَّجَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَيْنَبَ بِنْتِ جَهْشٍ دَعَا اْلقَوْمُ فَطَعِمُوْا ثُمَّ جَلَسُوْا يَـتَحَدَّثـُوْنَ وَإِذَا هُوَ كَاَنـَّهُ يَـتَهَـيَّـأُ لِلْقِياَمِ فَلَمْ يَقُوْمُوْا فَلَمَّا رَاَى ذَلِكَ قَامَ فَلَمَّا قَامَ قَامَ مَنْ قَامَ وَقَعَدَ ثَلاَثـَةُ نَفَرٍ فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَدْخُلَ فَإِذَا اْلقَوْمُ جُلُوْسٌ ثُمَّ إِنـَّهُمْ قَامُوْا فَانْطَلَقَتُ فَاَخْبَرَتُ النَّبِيَّ صَلىَّ الله ُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنـَّهُمْ قَدْ اِنْطَلِقُوْا فَجَاءَ حَتىَّ دَخَلَ فَذَهَبَتْ اَدْخَلَ فَـاَلْقىَ الْحِجَابَ بَيْنِيْ وَبَيْـنَهُ فَاَنْزَلَ الله ُ : يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوت النبي … الآية . — رواه البخاري ومسلم وأحمد وابن جرير وابن مردويه والبيهقي

Diriwayatkan dari Anas ra. Ia berkata, “Ketika Rasulullah saw. menikahi Zainab binti Jahsy, beliau mengundang orang banyak lalu mereka makan dan duduk berbincang-bincang. Dan tiba-tiba beliau beliau bersiap-siap untuk bangun tetapi mereka tidak bangun juga. Karena melihat demikian maka beliau pun bangun dan tatkala mereka bangun, sebagian orang ikut bangun sedang tiga diantaranya tetap duduk. Kemudian Nabi saw. bersiap-siap untuk masuk dan ternyata orang-orang tersebut duduk kembali. (Tak lama) kemudian mereka pun bangkit, maka aku pergi untuk memberitahukan kepada Nabi saw. bahwa mereka telah bubar. Maka datanglah beliau untuk masuk kembali dan aku pun ikut masuk, lalu beliau menurunkan tabir antara aku dan beliau. Lalu Allah menurunkan wahyunya, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke dalam rumah-rumah Nabi … (surat al-Ahzab ayat 53 – 56)”. (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Mardawih dan al-Baihaqi).
Terlepas dari persoalan hijab, ayat-ayat ini menjelaskan tentang adab kesopanan yang harus dilakukan seorang hamba Allah kepada kekasih-Nya, Muhammad saw. Pada ayat 53 dijelaskan bahwa pada saat hari pernikahan Nabi saw. dengan Zainab, beliau mengundang orang-orang dan mereka menunggu-nunggu waktu makan karena masakannya belum siap. Setelah mereka semua makan kemudian mereka saling berbincang-bincang padahal Nabi berharap agar mereka semua segera pulang. Hal seperti ini sangat dibenci oleh Allah swt. karena telah membuat nabi-Nya merasa terganggu. Terlebih mengawini istri-istri beliau setelah beliau meninggal dunia.
Dari ayat 53 ini, setidaknya kita dapat mempraktikkan ajaran tersebut, yakni apabila kita bertamu dan diundang dalam suatu pesta, baik pesta pernikahan ataupun lainnya, maka janganlah kita mengharap-harap dan menunggu-nunggu hidangan yang belum siap atau belum dipersilahkan oleh tuan rumah. Begitupula bila setelah makan, kita dilarang berlama-lama apalagi sambil bercakap-cakap yang tidak perlu. Itu semua dapat mengganggu ketentraman sang tuan rumah, sekalipun rumah yang didiami itu bukan rumah Nabi saw., sebab berlama-lama duduk itu tercela di mana saja dan terhina bagi siapa saja. Rasulullah bersabda di dalam hadis yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah dan Ibnu ‘Abbas ra.:

حَسْـبُكَ فِى الثـُّقَلاَءِ اَنَّ الله َ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَحْـتَمِلُهُمْ .

“Cukuplah bagimu mengenai orang-orang yang berlama-lama duduk (bertamu) itu, bahwa Allah tidak membiarkan (menyukai perbuatan) mereka itu”.
Ayat 54 surat al-Ahzab merupakan penegasan Allah terhadap ayat sebelumnya, bahwa apapun yang diperbuat manusia sekalipun niat tersembunyi yang ada di dalam hati tetap Allah mengetahui segalanya. Ayat 55 adalah pengecualian tentang hijab antara istri-istri Nabi saw. yang membolehkan sebagian kerabat dan wanita-wanita mukminat menemui mereka tanpa ada penghalang/tabir.
Ayat selanjutnya adalah pokok pembahasan tulisan ini, yakni pengajaran kepada umat manusia bahwa Allah dan para malaikat-Nya yang senantiasa memberikan penghormatan kepada Nabi Muhammad saw. Dalam ayat ini, setelah dijelaskan adab terhadap Rasulullah serta perintah hijab, al-Quran mengajarkan tentang kedudukan hamba dan nabi Allah di antara seluruh penghuni langit dimana Allah selalu memujinya dan bershalawat untuknya di hadapan seluruh malaikat sehingga para malaikat pun ikut bershalawat setiap saat tanpa henti hingga akhir zaman kelak.
Di dalam al-Quran ditemukan bahwa para nabi sebelum Muhammad saw. telah diseru oleh Allah dengan nama-nama mereka, seperti ya Adam, ya Mûsa, ya ‘Îsa, dan lain sebagainya. Tetapi terhadap Muhammad, Allah sering memanggilnya dengan panggilan kemuliaan, seperti ya ayyuhan nabi, ya ayyuhar rasûl, atau memanggilnya dengan panggilan mesra, seperti ya ayyuhal mudatstsir, ya ayyuhal muzzammil. Kalaupun ada ayat yang menyebut namanya langsung, nama tersebut dibarengi dengan gelar kehormatan dan kemuliaan, seperti di dalam surat Ali ‘Imran ayat 144 :

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul…”. (QS. Ali ‘Imran: 144).
Dan di dalam surat al-Fath ayat 29 :

محمد رسول الله والذين معه أشداء على الكفار رحماء بينهم

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir…”. (QS. Al-Fath: 29).


*) Disusun oleh Miftahul Khaer, S.Th.I. Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut dan memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw.





LIHAT SELANJUTNYA

Khasiat dan Fadhilah Sholawat Quthbul Aqthab

Sholawat Quthbul Aqthab


Sholawat Quthbul Aqthab
Allahmma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadin fil awwaliin washalli 'alaa sayyidina Muhammadin fil aakhiriinaa washalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin finnabiyyin washalli 'alaa sayyidina Muhammadin fil mursaliin, washalli 'alaa sayyidina Muhammadin fil malail a'laa ilaa yaumiddiin.

Artinya :

Ya Allah limpahkanlah rahmat kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, pada zaman/abad awal dan di abad yang terakhir (akhir zaman) , di dalam kenabian dan kerasulan (keutusan),di dalam golongan mulia sampai hari qiyamat.


Khasiat dan fadhilah Sholawat Quthbul Aqthab :

  • Barang siapa yang ingin bertemu dengan nabi Muhammad di dalam mimpi, maka maka baca  Sholawat Quthbul Aqthab sebagai wirid 70 kali dalam sehari semalam, demikian menurut Alhafizh   Dimyathi. Atau sebelum tidur wudlu, dan sholat sunnah 2 rekaat , setelah sholat bacalah sholawat ini sampai tidur, tidurnya dalam keadaan suci baik pakaian maupun tempatnya dan posisi tidurnya membujur ke utara muka menghadap kiblat serta hatinya tidak melamun.



Sholawat lain :

Category: Sholawat

Keutamaan Dan Khasiat Sholawat Nurul Anwar

Sholawat Nurul Anwar


ART002

اللهم صل على نور الانوار وَسِرِّ الاَسرَارِ وَتِر يَاقِ الاَغيَارِ وَمِفتَاحِ بَابِ اليَسَارِ سَيِّدِنَا مُحَمَّد المُختَارِ وَالِهِ الاَطهَار وَاصحَا بِهِ الاَخيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ

"Allahumma shalli 'alaa nuuril anwaari wasirril asraari, watiryaaqil aghyaari wamiftaahi baabil yasaari, sayyidinaa wamaulaana Muhammadinil muhtaari wa aalihil ath haari wa ash haabihil ahyaari 'adada ni'amillaahi wa ifdhaalih".

Artinya :

Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada cahaya dari segala cahaya, rahasia dari segenap rahasia, penawar duka dan kebingungan, pembuka pintu kemudahan, yakni junjungan kami, Nabi Muhammad saw yang terpilih, keluarganya yang suci dan para sahabatnya yang mulia sebanyak hitungan nikmat Allah SWT dan karunia Nya

Keutamaan Dan Khasiat Sholawat Nurul Anwar :

Sholawat ini bersumber dari wali quthub Sayyid Ahmad al Badawi ra. menurutnya, keutamaan dan kegunaannya sholawat ini adalah :

  • Jika dibaca setiap selesai shalat fardhu, maka akan terhindar dari segala mara bahaya dan memperoleh rizki dengan mudah
  • Jika dibaca 7 kali  sebelum tidur, insya Allah akan terhindar dari sihir yang dilakukan orang jahat
  • Jika dibaca 100 kali sehari semalam, akan memperoleh cahaya Illahi, menolak bencana, mendapat rizki lahir batin

Sholawat lain :

Category: Sholawat

Khasiat dan fadhilah sholawat Rekeis

Sholawat Rekeis


Assalaatu wassalaamu 'alaika yaa sayyidi yaa rasuulallaah khudz biyadii qollat hiilatiiadriknii

Artinya :
Rahmat dan keselamatan semoga tetap atas engkau wahai penghulu saya ya Rasulullah, peganglah tanganku, habis daya upayaku, semoga engkau berkenan menolong aku

Khasiat dan fadhilah sholawat Rekeis :

Manfaat , khasiat serta fadhilah sholawat Rekis ini sangat besar daantaranya yaitu :

Barang siapa membaca sholawat Rekis 1000 x (seribu kali) pada malam Jum'at dan dilanjutkan pada malam -malam berikutnya sampai hari Jum'at sebanyak 1000 x ( delapan hari berturut-turut) maka akan dikabulkan hajatnya, dan Insya Allah dapat bermimpi ketemu Rasulullah SAW. ( Menurut Syech Ibn Syaifuddin Al Jabbary ).

Sholawat Rekeis dengan Lafadh lain :

Allaahumma shalli wasallim 'alaa sayyidinaa Muhammadin qod dlaqat hiilatii adriknii yaa rasulallah


Sholawat ini diajarkan oleh Rasulullah kepada seorang Mufti kota Syam yang bernama Syech Hamid Affandy Al 'Imadi dalam sebuah mimpi, Beliau Rasulullah bersabda barang siapa membaca Sholawat tsb Allah SWT akan memberikan kemudahan dalam segala hal

Category: Sholawat

Sholawat Asnawiyah

Sholawat Asnawiyah


sholawat asnawiyah2

SHOLAWAT ASNAWIYAH

YAA ROBBISHOLLI ‘ALA ROSUU LI MUHAMMADIN SIRRIL ‘ULAA
WAL ANBIYAA’ WAL MURSALIIN AL GHURRI KHOT MAN AWWALAA
YAA ROBBI NAWWIR QOLBANAA BINURI QURAANIN JALA
WAFTAH LANAA BIDARSIN AW  QIROATIN TUROTTALAA
WARZUQ BIFAHMIL ANBIYAA LANAA WA AYYA MANTALAA
TSABIT BIHI IIMANANAA DUNYA WA UKHRON KAMILA
AMAN AMAN AMAN AMAN INDONESIA RAYA AMAN
AMIN AMAIN AMIN AMIN YAA ROBBI ROBBAL ‘ALAMIN
AMIN AMIN AMIN AMIN WAYAA MUJIIBASSAILIIN

Sholawat Asnawiyah merupakan Sholawat gubahan syair karya Kyai Haji Raden Asnawi (KHR. Asnawi)yang terkenal hingga sekarang. Kalau boleh saya katakan bahwa Sholawat Asnawiyah merupakan “Sholawat Nasionalis” , karena kalau kita mau menyimak syair Sholawat  tersebut,  akan terlihat betapa Kiai Asnawi sangat mencintai Indonesia. Dalam syair tersebut terdapat doa yang khusus untuk Indonesia agar aman. Kiai Raden Asnawi adalah seorang Ulama’ dan Kyai kharismatik terkenal dari Kudus Jawa Tengah salah seorang pendiri organisasi sosial keagamaan Islam terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia, yakni Nahdlatul Ulama (NU). NU memang dilahirkan oleh para ulama besar di Tanah Air pada 1926. Peran Kiai Raden Asnawi dalam mendirikan NU selama ini agak dilupakan, padahal beliau termasuk salah seorang tokoh kunci dalam upaya pendirian hingga penyebaran NU di Indonesia. Beliau juga seorang pejuang kemerdekaan yang sangat mencintai negara Indonesia ( Indonesia Raya) , beliau pernah di penjara Belanda karena membela negara. Jejak perjalanan hidup Kiai Raden Asnawi menunjukkan bahwa beliau adalah seorang tokoh besar Islam yang mencintai negaranya, Ulama’ yang berjiwa nasionalis sejati.
 
Download  Sholawat Asnawiyah klik di sini

Category: Sholawat

Fadhilah Dan Manfaatnya Sholawat Pembuka Pintu Ilmu

Sholawat Pembuka Pintu Ilmu



pembuka pintu ilmu

"Allahumma sholli wasallim 'alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan tukhrijunii bihaa min zhulumaatil wahmi, watukrimunii binuuril fahmi, watuwadhdhihu lii maa isykila hattaa yufhama innaka ta'lamu walaa a'lamu waanta 'allaamul ghuyuubi".


Artinya :

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW., yang dengan sholawat tsb. Engkau keluarkan aku dari kegelapan ragu-ragu dan berikanlah aku dengan sinar kefahaman dan karuniakan kejelasan kepadaku segala apa-apa yang aku merasa sukar/sulit, sehingga dapat dimengerti/difahami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, sedang aku tidak mengetahui, dan Engkau mengetahui sesuatu yang gaib.


Fadhilah dan manfaatnya Sholawat ini :


Barang siapa yang memperbanyak membaca Sholawat tersebut terutama sekali bagi siswa siswi atau mahasiswa ataupun siapa saja yang sedang menuntut ilmu, maka insya Allah akan dibuka pintu kecerdasan , kefahaman sehingga mudah mengerti terhadap ilmu yang dipelajari.


Category: Sholawat
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email

TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU