Minggu, 28 Juli 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AR-RA'D AYAT 21 - 40 ( 02 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AR-RA'D
Ayat [43]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:2/3
21 dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.(QS. 13:21)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 21 

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (21

Ciri kedua adalah bahwa mereka senantiasa memelihara hubungan silaturahmi yang kokoh sebagaimana yang diperintahkan Allah; termasuk pula hubungan yang harus mereka pelihara segala suatu yang menyangkut hak Allah dan hak sesama hamba-Nya.
Hubungan antara sesama manusia ialah menjalin hubungan tolong-menolong, menjalin cinta dan kasih sayang sebagaimana disebutkan dalam hadis:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من سره أن يبسط له في رزقه وأن ينسأ له في أثره فليصل رحمه
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa gembira dilapangkan rezekinya dan selalu disebut-sebut kebaikannya, maka hendaklah pelihara hubungan silaturahim."
(H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmuzi)
Dan Hadis Nabi saw.:

عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن البر والصلة ليخففان سوء الحساب يوم القيامة ثم تلا هذه الآية
Artinya:
Dari Ibnu Abbas ia berkata: "Bersabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya kebajikan dan menghubungkan silaturahmi itu kedua-duanya benar-benar meringankan hisab yang buruk di hari kiamat." Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat ini.
(H.R. Al-Khatib dari Ibnu Asakir)
Termasuk hak Allah ialah melaksanakan rukun iman, rukun Islam dan sebagainya.
Ciri ketiga ialah bahwa mereka itu benar-benar takut kepada Allah swt. Sifat takut kepada Allah adalah sesuai dengan martabat para ulama dan ciri dari orang-orang "muqarrabin". Dalam hubungan ini Allah swt. telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
Artinya:
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.
(Q.S. Fatir: 28)
Ciri keempat adalah bahwa mereka senantiasa takut kepada "hisab" yang sifatnya merugikan mereka pada hari kiamat, yaitu hasil yang buruk dari perhitungan amalan seseorang di hari kiamat nanti lantaran banyaknya kejahatan yang dilakukannya selagi hidup di dunia ini. Oleh sebab itu mereka senantiasa mawas diri sebelum mereka dihitung amalannya di akhirat kelak. Mereka selalu membandingkan antara amal-amal mereka yang baik dengan yang buruk, selalu berusaha agar amal yang baik lebih banyak dari perbuatan yang buruk agar neraca kebajikan mereka di akhirat kelak lebih berat daripada neraca keburukan. Dalam hal ini Allah telah berfirman:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ
Artinya:
Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
(Q.S. Al-Qari'ah: 6-9)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 21 

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (21

(Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan) yaitu iman, silaturahmi dan lain sebagainya (dan mereka takut kepada Rabb mereka) ancaman-Nya (dan takut kepada hisab yang buruk) penafsiran kalimat ini telah dijelaskan sebelumnya.


22 Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),(QS. 13:22)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 22 

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (22

Ciri kelima ialah mereka senantiasa bersifat sabar dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan demi mengharapkan wajah dan rida Allah. Sabar berarti menahan diri terhadap segala hal yang tidak disenanginya, baik dengan cara melakukan ketaatan dan menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan agama maupun dengan jalan menjauhi hal-hal yang dilarang agama dan yang tidak disukainya, atau pun dengan bersikap rela atas segala ketentuan Allah yang telah berlaku berupa musibah dan lain sebagainya.
Kesabaran yang diminta dari setiap orang yang berakal dan beriman lantaran ia merupakan sesuatu yang terjadi di dalam hati sanubari ialah kesabaran yang dilakukan semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah dan ganjaran-Nya, bukan kesabaran yang dibuat-buat karena ingin dipuji dan disebut-sebut. Itulah kesabaran yang sejati yang menjadi sifat bagi orang-orang yang berakal dan beriman.
Ciri keenam ialah bahwa orang-orang yang berakal senantiasa mendirikan salat. Arti "mendirikan salat" ialah menunaikan dengan cara yang sebaik-baiknya dengan menyempurnakan rukun dan syaratnya, disertai rasa khusyuk dan tawaduk menghadapkan wajah dan hati kepada Allah semata-mata, serta memelihara waktu yang telah ditetapkan untuknya. Dan ini hanyalah dapat dilakukan, bila kita merasakan bahwa pada saat-saat melakukan salat itu kita sedang sendiri berdiri di hadapan Allah swt. Pencipta dan Penguasa semesta alam, Yang Maha Esa dan Maha Perkasa. Dengan demikian, maka tak ada sesuatu pun yang dipikirkan pada saat itu kecuali bermunajat kepada Allah semata-mata.
Ciri ketujuh ialah bahwa di samping memiliki sifat-sifat yang tersebut di atas, mereka senantiasa menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah dilimpahkan Allah kepada mereka, baik secara tersembunyi maupun secara terang-terangan. Kenyataan dapat memberikan pengertian kepada kita tentang apa rahasianya, maka Alquran berulang kali menganjurkan kepada orang-orang mukmin untuk menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah mereka peroleh, karena apabila orang-orang mukmin mau menafkahkan sebagian hartanya kepada yang memerlukan pertolongan dan untuk menyokong kepentingan umum, niscaya kemiskinan dan kemelaratan dapat dilenyapkan dari kehidupan masyarakat.
Ciri kedelapan ialah bahwa orang-orang yang berakal senantiasa menolak kejahatan dengan kebajikan, karena kebajikan itu dapat menolak kejahatan. Kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa apabila seseorang dapat bergaul dengan orang lain dengan hubungan yang akrab dan kasih sayang serta menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan, maka janganlah ia dimusuhi atau dibenci dalam masyarakatnya. Dan apabila ia menemui suatu musibah, maka orang-orang lain yang pernah mendapat pertolongannya akan segera pula mengulurkan tangan pertolongan kepadanya. Sebaliknya orang yang suka menyakiti orang lain, atau enggan memberikan bantuan dan pertolongan adalah orang yang tidak berakal karena sikap dan perbuatannya itu hanyalah mempersempit alam kehidupannya sendiri, serta menimbulkan kebencian dan kedengkian orang lain terhadap dirinya.
Berbuat kebaikan untuk menghindari kejahatan, atau membalas perbuatan jahat orang lain dengan berbuat kebajikan kepadanya adalah tanda orang yang berakal dan bijaksana. Dari sini dapatlah dipahami, betapa tingginya nilai ajaran agama Islam untuk membina hubungan baik antara sesama manusia, dan untuk menciptakan kerukunan dan kesejahteraan masyarakat.
Setelah menyebutkan ciri-ciri orang yang berakal seperti tersebut di atas, maka pada akhir ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut pasti akan memperoleh tempat kesudahan yang baik, yaitu surga Jannatun Naim di akhirat kelak di samping kebahagiaan, ketenangan dan kesejahteraan di dunia ini.


23 (yaitu) syurga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;(QS. 13:23)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 23 

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلَائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan, bahwa yang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak bukan hanya semata-mata yang memiliki sifat tersebut itu, melainkan juga orang-orang yang saleh di antara ibu-ibu dan nenek moyang mereka, demikian pula istri dan keturunan mereka yang terdekat. Mereka ini pun akan turut pula merasakan kebahagiaan dan kesejahteraan itu selama mereka tidak kehilangan hak untuk memperoleh rahmat Allah, misalnya karena kekafiran dan kemusyrikan kepada Allah, maka mereka tak akan dapat menikmati pula kebahagiaan dan kesejahteraan itu, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. pernah bersabda kepada putrinya Fatimah Zahrah sebagai berikut:

يا فاطمة بنت محمد: سليني من مالي ما شئت لا أغني عنك من الله شيئا
Artinya:
Wahai Fatimah putri Muhammad! Mintalah dari hartaku apa yang kau inginkan (maksudnya) karena aku sekali tidak akan dapat menolongmu dari kemurkaan Allah (bila engkau sendiri tak mempunyai amal kebajikan)
(H.R. Ad Darimi)
Di dalam Alquran Allah telah menegaskan pula sebagai berikut:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya:
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
(Q.S. Asy Syu'ara: 88, 89)
Orang-orang berakal yang tersebut di atas akan ditempatkan Allah kelak dalam surga-Nya, dan mereka di sana duduk berhadap-hadapan di atas balai-balai yang indah disertai orang-orang yang mereka cintai, yaitu nenek moyang, kaum keluarga serta anak-anak mereka, yakni orang-orang yang patut masuk surga dari kalangan orang-orang yang saleh agar hati mereka menjadi senang dan bahagia.
Hal itu merupakan rahmat dan kebaikan Allah swt. kepada mereka. Selain itu pada malaikat datang kepada mereka dari segala penjuru untuk memberikan ucapan selamat atas keberuntungan yang telah mereka peroleh, yaitu masuk surga dan berdiam dalam rumah yang diliputi kesejahteraan, berdekatan dengan para Nabi dan Rasul dan orang-orang yang mengakui kebenaran agama Allah.


24 (sambil mengucapkan):` Salaamun alaikum bima shabartum `. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.(QS. 13:24)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 24 

سَلَامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24

Dalam ayat ini disebutkan bahwa para malaikat itu datang kepada mereka yang berada di surga itu sambil mengucapkan salam: "Semoga kamu aman dari segala hal yang tidak diinginkan dan segala yang ditakuti yang senantiasa merusak orang-orang selain kamu. Keberuntungan ini kamu peroleh berkat kesabaran dan kesengsaraan yang kamu alami selama menjalani kehidupan di dunia."
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Nabi saw. dulunya sering datang ke makam para syuhada pada setiap permulaan tahun, di sana beliau membaca ayat tersebut. Hal semacam itu dilakukan pula oleh Abu Bakar, Umar dan Usman r.a.


25 Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).(QS. 13:25)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 25 

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (25

Ada beberapa perjanjian dengan Allah dan manusia, yaitu bahwa manusia wajib mengakui kemahaesaan Allah serta kodrat dan iradat-Nya, dan bahwa manusia wajib beriman kepada Nabi-nabi-Nya dan kepada wahyu yang diturunkan-Nya dan sebagainya. Untuk ini Allah swt. telah memberikan pula bukti-bukti dan dalil-dalil yang nyata atas semuanya itu.
Akan tetapi dalam kenyataannya ada sebagian manusia telah merusak perjanjian tersebut, dengan arti:
a. Bahwa mereka tidak memperhatikan janji-janji tersebut sehingga mereka tidak dapat melaksanakan kewajiban yang merupakan efek atau keharusan yang timbul dari adanya perjanjian itu. Misalnya bila mereka benar-benar berpegang teguh kepada tauhid, maka mereka tentunya tidak akan beribadah kepada selain Allah. Dan Allah memberikan bukti-bukti yang nyata tentang kemahaesaan-Nya. Akan tetapi mereka tidak memperhatikan, sehingga mereka tetap melanggar dasar tauhid tersebut maka mereka senantiasa menganut kepercayaan syirik, yaitu mempercayai dan menyembah juga kepada selain Allah.
b. Dan adakalanya pula mereka mula-mula memperhatikan janji-janji yang telah mereka ikrarkan itu, serta dalil-dalil yang telah diberikan, dan mereka telah mengakui dan meyakini kebenarannya akan tetapi kemudian mereka menyangkal kebenaran itu, dan tidak lagi bersedia untuk meyakini dan mengamalkannya.
Orang-orang yang suka memungkiri dan menyalahi janji yang telah diikrarkannya dinamakan "munafik". Dalam hubungan ini Rasulullah saw. telah bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi saw. beliau bersabda: "Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam, yaitu apabila ia bercerita ia selalu bohong, dan apabila ia berjanji ia selalu mungkir, dan apabila ia dipercayai ia khianat."
(H.R. Muslim, Turmuzi, dan Nasa'i)
Dalam menafsirkan ayat ini, Abu Al-Aliyah seorang mufassir menyebutkan bahwa ada enam macam sifat terdapat pada orang-orang munafik, apabila mereka merasa mempunyai kekuatan dalam masyarakat, maka mereka menampakkan sifat-sifat tersebut, yaitu:
1. Apabila berbicara mereka berbohong.
2. Apabila berjanji mereka mungkir.
3. Apabila diberi kepercayaan mereka khianat.
4. Mereka suka memungkiri janji Allah yang telah mereka ikrarkan sebelumnya.
5. Mereka suka memutuskan silaturahmi yang oleh Allah diperintahkan untuk dihubungkan dan dipelihara.
6. Mereka suka berbuat kerusakan di bumi ini.
Selain suka merusak janji yang telah diikrarkannya, orang-orang munafik itu suka memutuskan apa-apa yang diperintahkan Allah swt. untuk menghubungkannya, yaitu:
1. Keimanan kepada Allah dan kepada nabi-nabi-Nya yang telah datang membawa kebenaran, mereka hanya beriman kepada sebagian Nabi-nabi tersebut dan mereka kafir terhadap sebagian yang lainnya.
2. Allah menyuruh mereka menghubungkan silaturahmi antara sesama manusia, tetapi mereka memutuskannya; mereka bermusuhan terhadap orang-orang mukmin dan memberikan bantuan kepada orang-orang kafir.
3. Mereka menghalang-halangi setiap usaha yang menuju kepada pembinaan kehidupan yang harmonis dan penuh kasih sayang. Mereka tidak sudi melihat terwujudnya persatuan dan kesatuan antara orang-orang mukmin, seperti yang dianjurkan Rasulullah:

المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya:
Orang mukmin terhadap orang mukmin yang lain haruslah seperti suatu bangunan, bagian yang satu menguatkan bagian yang lainnya.
(H.R. Bukhari, Muslim, dan Turmuzi dari Abu Musa Al-Asyari)
Dan sabda Rasulullah saw.:

المؤمن كالجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر
Artinya:
Orang-orang mukmin itu adalah seperti satu tubuh apabila salah satu anggotanya menderita sakit, maka anggota-anggota yang lain pun rela pula menderita karena berjaga dan merasa demam karenanya.
(H.R. Bukhari)
Sebab itu, umat Islam haruslah hati-hati dalam menjaga kesatuan dan persatuan antara mereka jangan sampai dimasuki hasutan dan usaha-usaha kaum munafik untuk memecah belah persatuan itu.
Selain orang-orang munafik itu suka melanggar janji dan memutuskan silaturahim, mereka juga suka berbuat kerusakan di muka bumi ini, baik dengan kelaliman yang mereka lakukan terhadap diri mereka sendiri, maupun dengan kelaliman yang mereka lakukan terhadap hak milik orang lain dengan jalan yang tidak sah, atau pun dengan menimbulkan fitnah dan bencana dalam masyarakat Muslimin, dan mengobarkan permusuhan peperangan terhadap mereka.
Pada akhir ayat ini Allah menetapkan hukuman yang layak untuk ditimpakan kepada orang-orang munafik itu mengingat jahatnya kelakuan dan perbuatan-perbuatan mereka. Hukuman tersebut ialah berupa laknat Allah swt., yaitu menjauhkan mereka dari rahmat-Nya sehingga mereka tersingkir dari kebaikan dunia dan akhirat; dan mereka akan menemui kesudahan yang sangat buruk, yaitu azab neraka Jahanam sebagai balasan dari kejahatan dan dosa-dosa yang telah mereka perbuat.


26 Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit).(QS. 13:26)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 26 

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ (26

Allah melapangkan dan memperbanyakkan rezeki bagi sebagian hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka ini memperoleh rezeki yang lebih dari keperluan mereka sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang rajin dan terampil dalam mencari harta, dan melakukan bermacam-macam usaha. Selain itu, mereka ini hemat dan cermat serta pandai mengelola dan mempergunakan harta bendanya itu.
Sebaliknya, Allah swt. juga menyempitkan rezeki dan membatasinya bagi sebagian hamba-Nya sehingga rezeki yang mereka peroleh tidak lebih dari apa yang diperlukan sehari-hari. Mereka ini biasanya adalah orang-orang yang pemalas dan tidak terampil dalam mencari harta atau tidak pandai mengelola dan mempergunakan harta tersebut.
Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya itu adalah berdasarkan hikmah-Nya serta pengetahuan-Nya tentang masing-masing hamba-Nya itu. Dan kedua hal tersebut tidak ada hubungannya dengan kadar keimanan dan kekafiran hamba-Nya. Sebab itu, ada kalanya Allah swt. menganugerahkan rezeki yang banyak kepada hamba-Nya yang kafir kepada-Nya. Dan sebaliknya kadang-kadang Allah menyempitkan rezeki bagi hamba yang beriman kepada-Nya untuk menambah pahala yang kelak akan mereka peroleh di akhirat. Maka kekayaan dan kemiskinan itu adalah dua hal yang dapat terjadi pada orang-orang beriman maupun yang kafir, yang saleh atau pun yang fasik.
Dalam ayat selanjutnya Allah menceritakan bahwa kaum musyrik Mekah yang suka memungkiri janji Allah, sangat bergembira dengan banyaknya harta benda yang mereka miliki, dan kehidupan duniawi yang berlimpah-limpah, dan mengira bahwa harta benda tersebut merupakan nikmat dan keberuntungan terbesar.
Oleh sebab itu, pada akhir ayat ini Allah menunjukkan kekeliruan mereka, dan Dia menegaskan bahwa kenikmatan hidup duniawi ini hanyalah merupakan kenikmatan yang kecil artinya. Pendek waktunya dan cepat hilangnya, dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat yang besar nilainya dan lama masanya. Oleh karenanya tidaklah pada tempatnya bila mereka bangga dengan kenikmatan di dunia yang mereka rasakan itu.
Dalam hubungan ini, suatu riwayat yang disampaikan oleh Imam Turmuzi dari Ibnu Masud menyebutkan sebagai berikut:

نام رسول الله صلى الله عليه وسلم على حصير وقد أثر في جنبه فقلنا يا رسول الله لو اتخذنا لك، فقال مالي وللدنيا ما أنا في الدنيا إلا كراكب استظل تحت شجرة ثم راح وتركها
Artinya:
Pernah Rasulullah saw. tidur di atas sehelai tikar kemudian beliau bangun dari tidurnya dan kelihatan bekas tikar itu pada samping tubuhnya, lalu kami berkata: "Ya Rasulullah, seandainya kami ambilkan tempat untukmu?" Rasulullah bersabda: "Saya dan dunia ini tak ada artinya. Saya hidup di dunia ini hanya laksana seorang pengendara yang berteduh sejenak di bawah sepohon kayu kemudian ia berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu."


27 Orang-orang kafir berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya? `Katakanlah:` Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya`,(QS. 13:27)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 27 

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (27

Setelah pada ayat yang lalu Allah menjelaskan bahwa orang-orang musyrik itu terpukau oleh fatamorgana kehidupan duniawi dan gembira dengan kenikmatan yang kecil itu, lalu Allah menyebutkan akibat yang timbul dari sikap dan pandangan mereka yang keliru itu yaitu mereka mengajukan usul kepada Nabi Muhammad agar kepada beliau diturunkan suatu ayat dari Tuhan yang akan membuktikan kenabian dan kerasulannya. Di antara mereka kaum musyrikin kota Mekah, seperti Abu Sofyan bin Harb dan kawan-kawannya pernah mengatakan sebagai berikut: "Mengapa tidak diturunkan kepada Muhammad suatu bukti sebagaimana yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi dan Rasul-rasul terdahulu, seperti jatuhnya langit berkeping-keping kepada mereka, atau bukit Safa menjadi emas atau menggeser gunung-gunung dari sekitar kota Mekah, sehingga tempat-tempat yang lowong itu dapat dijadikan kebun. Dan ucapan yang lain yang disebut dalam Alquran, antara lain yang terdapat dalam ayat berikut:

فَلْيَأْتِنَا بِآيَةٍ كَمَا أُرْسِلَ الْأَوَّلُونَ
Artinya:
Maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana Rasul-rasul yang telah lalu diutus.
(Q.S. Al-Anbiya': 5)
Dengan adanya ucapan-ucapan mereka yang semacam itu karena keingkaran dan kesombongan mereka yang demikian rupa, maka seolah-olah mereka menganggap bahwa tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang telah dibawa Nabi Muhammad saw. seperti Alquran dan lain-lainnya, belumlah mereka anggap sebagai bukti yang nyata tentang kerasulan Nabi Muhammad saw. yang mendorong mereka untuk taat dan iman kepada-Nya, atau sebagai suatu kebenaran yang tak dapat diragukan lagi.
Selanjutnya pada ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menjelaskan kepada orang-orang musyrik tersebut, bahwa turunnya ayat bukti tersebut tidaklah memegang peranan dalam menjadikan seseorang mendapat petunjuk atau ia jadi sesat, karena seluruhnya dalam kekuasaan Allah semata-mata. Hanya Allah swt. sajalah yang kuasa menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan menuntut orang-orang yang suka bertobat kepada-Nya.
Dengan demikian walaupun diturunkan kepada Nabi Muhammad suatu mukjizat yang akan membuktikan kerasulannya, namun hal itu tidak akan bermanfaat untuk menjadikan seseorang beriman. Jalan satu-satunya bagi mereka untuk beriman hanyalah merendahkan diri serta taat kepada Allah swt. dan memohon hidayah kepada-Nya untuk beroleh keberuntungan di dunia dan di akhirat, serta terhindar dari tipu daya dan godaan setan.
Bagi orang-orang yang beriman, Alquran itu sendiri sudah merupakan ayat atau mukjizat yang membuktikan kerasulan Nabi Muhammad saw., sehingga tidak diperlukan lagi bukti-bukti yang lain. Sebaliknya orang-orang musyrik tersebut memang telah ditenggelamkan dalam kesesatan dan keingkaran, sehingga bukti-bukti atau mukjizat apa pun yang diperlihatkan kepada Rasulullah tidak akan mendatangkan faedah untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang yang beriman.


28 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. 13:28)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 28 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan siapakah orang yang mendapat tuntunan-Nya itu? Mereka ialah orang-orang beriman dan hati menjadi tenteram karena senantiasa mengingat Allah. Ingatlah, bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram dan jiwa menjadi tenang, tidak merasa gelisah dan merasa takut atau pun khawatir, karena orang yang senantiasa mengingat Allah senantiasa melakukan hal-hal yang baik, dan ia merasa bahagia dengan kebajikan yang dilakukannya itu.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 28 

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (28

(Yaitu orang-orang yang beriman dan yang merasa tenang) tenteram (hati mereka dengan mengingat Allah) mengingat janji-Nya. (Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram) yakni hati orang-orang yang beriman.


29 Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.(QS. 13:29)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 29 

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29

Dalam ayat ini dijelaskan selanjutnya, bahwa orang-orang yang beriman dan melakukan amal-amal yang saleh, niscaya akan memperoleh kebahagiaan dan tempat kembali yang baik di sisi Allah swt. pada hari kemudian.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 29

الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29

(Orang-orang yang beriman dan beramal saleh) kalimat ini menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah (alangkah bahagianya) lafal thuubaa mashdar daripada lafal ath-thiib, adalah nama sebuah pohon di surga, seseorang yang berkendaraan tidak akan dapat menempuh naungannya sekali pun berjalan seratus tahun (bagi mereka dan tempat kembali yang baik) tempat kembali di akhirat.


30 Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah:` Dialah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat `.(QS. 13:30)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 30

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (30

Allah swt. menjelaskan, bahwa Dia telah mengutus Nabi Muhammad kepada suatu umat yang bukan merupakan umat yang pertama kali menerima kedatangan Rasul Allah. Karena sebelum itu telah ada umat-umat lainnya yang telah berlalu yang juga pernah didatangi oleh Rasul-rasul-Nya. Maka umat Muhammad adalah umat yang terakhir menerima nabi dan Rasul-Nya.
Allah swt. menjelaskan bahwa tugas Nabi Muhammad adalah untuk membacakan kepada umatnya Alquran yang telah diwahyukan-Nya kepada beliau yang di waktu itu mereka adalah kafir kepada Allah. Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. agar ia mengatakan kepada umatnya bahwa Allahlah Tuhannya, dan tidak ada Tuhan selain Allah, dan hanya kepada Allahlah ia bertawakal, dan hanya kepada-Nyalah ia bertobat.
Ucapan ini terutama menunjukkan kekeliruan mereka itu karena kekafiran mereka kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang telah melimpahkan rahmat-Nya yang amat banyak kepada setiap makhluk-Nya. Di antara nikmat-Nya itu ialah bahwa Allah telah mengutus Nabi Muhammad sebagai Rasul yang dipilih-Nya dari kalangan mereka sendiri yang sangat menginginkan agar mereka beriman kepada Allah swt. dan beroleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sehubungan dengan masalah ini, Allah swt. juga telah berfirman dalam ayat yang lain:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya:
Dialah yang telah mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(Q.S. Al-Jumu'ah: 2)
Selain itu ucapan yang di atas yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad untuk disampaikan kepada umatnya itu juga dimaksudkan untuk mengajarkan kepada mereka keutamaan bertobat kepada Allah swt. Nabi Muhammad saw. walaupun ia adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang tidak pernah berbuat dosa, namun Allah memerintahkan juga kepadanya untuk bertobat. Jika demikian halnya, maka apa lagi orang-orang yang berdosa, tentulah lebih patut untuk bertobat kepada Allah dari segala dosa yang telah mereka lakukan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 30 

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (30)
(Demikianlah) sebagaimana Kami mengutus nabi-nabi sebelummu (Kami mengutus kamu kepada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya supaya kamu membacakan) mengajarkan (kepada mereka apa yang Kami wahyukan kepadamu) yaitu Alquran (padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah) karena mereka mengatakan sewaktu mereka disuruh sujud atau menyembah kepada-Nya siapakah Tuhan Yang Maha Pemurah? (Katakanlah) kepada mereka hai Muhammad ("Dialah Rabbku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.")


31 Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentu Al quran itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.(QS. 13:31)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 31 

وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (31

Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir Mekah berkata kepada Nabi saw., "Jika engkau ini benar-benar seorang nabi, maka lenyapkanlah gunung-gunung Mekah ini daripada kami, kemudian jadikanlah pada tempatnya sungai-sungai dan mata air-mata air supaya kami dapat bercocok tanam, dan bangkitkanlah nenek moyang kami yang telah mati menjadi hidup kembali, untuk berbicara kepada kami." (Dan sekiranya ada suatu bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat dipindahkan) artinya dapat dipindahkan dari tempatnya yang semula (atau dapat dibelah) dapat dipotong (karenanya bumi, atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara) seumpamanya mereka dapat dihidupkan kembali karenanya, niscaya mereka tetap tidak akan beriman juga. (Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan Allah) bukan kepunyaan yang lain-Nya. Oleh sebab itu maka tiada beriman melainkan orang-orang yang telah dikehendaki oleh Allah untuk beriman, bukannya orang-orang selain mereka sekali pun didatangkan kepada mereka apa yang dipintanya itu. Sedangkan ayat selanjutnya ini diturunkan ketika para sahabat berkehendak untuk menampakkan apa yang mereka minta, karena para sahabat sangat menginginkan mereka mau beriman, yaitu firman-Nya: (Maka tidakkah mengetahui) mengerti (orang-orang yang beriman itu, bahwasanya) huruf an di sini adalah bentuk takhfif daripada anna (seandainya Allah menghendaki tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya) kepada keimanan tanpa melalui mukjizat lagi. (Dan orang-orang yang kafir senantiasa) yakni penduduk Mekah yang kafir (ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri) yakni oleh sebab kekafiran mereka itu (yaitu berupa malapetaka) yang menimpa mereka dengan berbagai macam cobaan, seperti dibunuh, ditawan, diperangi dan paceklik (atau bencana itu terjadi) hai Muhammad terhadap pasukanmu (dekat tempat kediaman mereka) yaitu kota Mekah (sehingga datanglah janji Allah) yaitu memberikan pertolongan-Nya untuk mengalahkan mereka. (Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji) hal ini telah terjadi di Hudaibiah sehingga tibalah saatnya penaklukan kota Mekah.


32 Dan sesungguhnya telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu!(QS. 13:32)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 32 

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (32

Ayat ini pun berisi hiburan kepada Rasulullah dan umat Islam agar mereka tidak berkecil hati terhadap sikap dan keingkaran orang-orang kafir dan musyrikin Mekah itu. Di sini Allah swt. menerangkan bahwa bukan hanya Muhammad saja yang pernah diperolok-olok oleh kaum kafir dan musyrik, bahkan Rasul-rasul yang telah diutus Allah kepada mereka sebelumnya pun mengalami keadaan yang demikian itu. Hanya saja Allah memberi tenggang waktu dan menangguhkan datangnya azab dan malapetaka kepada orang-orang kafir tersebut, tetapi akhirnya Allah pasti membinasakan mereka dengan azab yang sangat dahsyat.


33 Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah:` Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu `. Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan (tentang hal itu) sekedar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorangpun baginya yang akan memberi petunjuk.(QS. 13:33)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 33 

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (33

Oleh karena orang-orang kafir dan musyrik itu menyembah kepada selain Allah, yaitu benda-benda yang mereka anggap sebagai Tuhan mereka, padahal tidak dapat memberikan manfaat dan mudarat dan tidak mengetahui apa-apa yang dikerjakan manusia dan tidak pula dapat mengawasi serta memberikan pahala atau pun siksa kepada manusia berdasarkan amal dan perbuatan mereka. Maka dalam ayat ini Allah swt. mencela kebodohan mereka itu dengan mengatakan: "Apakah Allah Yang Maha Mengetahui dan mengawasi perbuatan mereka samakan Dia dengan apa-apa yang dipertuhankan oleh mereka itu yang tidak mempunyai sifat-sifat seperti itu?"
Dan oleh karena kaum musyrik menjadikan beberapa sekutu bagi Allah swt., maka Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk mengatakan kepada mereka: "Sebutkanlah sifat-sifat yang dimiliki oleh apa-apa yang kamu anggap sebagai sekutu-sekutu Allah, sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat kesempurnaan seperti yang dimiliki Allah swt.; oleh sebab itu, tidaklah sepantasnya untuk menjadi sekutu-Nya."
Ucapan dan tuntutan mereka kepada Nabi Muhammad saw. seperti tersebut di atas juga memberikan kesan adanya anggapan mereka bahwa Allah swt. seakan-akan tidak mengetahui apa-apa yang terjadi di bumi ini termasuk mukjizat-mukjizat yang dimiliki oleh Rasul-rasul terdahulu. Oleh sebab itu dalam ayat ini Allah swt. juga memerintahkan kepada mereka itu, apakah mereka mengucapkan kata-kata tersebut dengan maksud untuk memberitahukan kepada Allah swt. tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di bumi yang tidak diketahui Allah sebagai anggapan mereka? Padahal Allah senantiasa mengetahui apa saja yang terjadi di alam ini.
Oleh karena kaum musyrikin itu mempersekutukan Allah dengan yang lain, maka dalam ayat ini pun Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad untuk menanyakan kepada mereka, apakah mereka menyebut-nyebut "sekutu-sekutu" Allah hanya sekadar ucapan lahiriah saja, dan tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali? Kalau demikian halnya maka ucapan mereka adalah kata-kata kosong yang tidak mempunyai hakikat kebenaran sama sekali. Padahal Allah sama sekali tidak mempunyai sekutu. Dia Maha Tinggi dan Maha Sempurna.
Pada akhir ayat ini Allah swt. membuka tabir rahasia dari kesesatan orang-orang kafir dan musyrik itu ialah bahwa mereka telah terpukau oleh godaan setan yang menggambarkan kepada mereka bahwa tipu daya yang mereka lakukan itu adalah suatu kebaikan dan perbuatan yang terpuji. Oleh karena mereka telah menuruti rayuan setan tersebut, maka mereka telah dihalangi dan diselewengkan dari jalan Allah. Tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah, karena mereka telah menuruti kehendak setan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 33 

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (33

(Maka apakah Tuhan yang menjaga) yakni mengawasi (setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya) yaitu berupa amal kebaikan dan keburukan, sama keadaan-Nya dengan berhala-berhala yang tidak demikian keadaannya; tentu saja tidak. Pengertian ini ditunjukkan oleh firman selanjutnya, yaitu (Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah, "Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu.") kepada-Nya, siapakah berhala-berhala itu (atau) bahkan apakah (kalian hendak memberitakan kepada Allah) menceritakan kepada-Nya (mengenai apa) yakni sekutu (yang tidak diketahui)-Nya (di bumi) istifham atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar; artinya jelas tidak ada sekutu itu, sebab jika sekutu itu ada niscaya Dia akan mengetahuinya, Maha Tinggi Allah dari semua sekutu (atau) bahkan mereka menamakannya sebagai sekutu-sekutu Allah (kalian mengatakan sekadar perkataan pada lahirnya) dengan sangkaan yang batil, lagi hal itu tidak ada kenyataannya pada batinnya. (Sebenarnya orang-orang kafir itu dijadikan memandang baik tipu daya mereka) yang dimaksud ialah kekafiran mereka (dan dihalanginya dari jalan yang benar) yaitu hidayah. (Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tak ada seorang pun baginya yang akan memberi petunjuk).


34 Bagi mereka azab dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya azab akhirat adalah lebih keras dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab) Allah.(QS. 13:34)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 34 

لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (34

Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan betapa malangnya nasib orang-orang yang sesat itu, dan bagaimana besarnya kerugian yang mereka derita, yaitu baik di dunia ini maupun di akhirat lebih berat. Dalam pada itu, mereka tidak mendapatkan seorang pelindung pun dari azab Allah.


35 Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa; sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.(QS. 13:35)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 35 

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ (35

Pada ayat ini disebutkan, bahwa perumpamaan surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa adalah seperti sebuah kebun yang indah, yang pohon-pohonnya berbuah tak henti-hentinya dan naungannya dapat dimanfaatkan setiap waktu, bagi orang-orang yang berteduh di bawahnya. Surga tersebut merupakan tempat tinggal terakhir dan kekal, serta penuh kenikmatan bagi orang-orang yang bertakwa.
Pada akhir ayat tersebut diingatkan pula, bahwa jika surga adalah merupakan tempat tinggal yang sangat menyenangkan untuk orang-orang yang bertakwa, sebaliknya neraka adalah merupakan tempat kediaman yang penuh azab dan kesengsaraan bagi orang-orang yang kafir.
Dengan adanya perbandingan antara kedua tempat tersebut, maka terserah kepada manusia yang hidup di dunia ini, apakah ia akan memilih dan menempuh jalan ke surga dengan beriman, beramal dan bertakwa, ataukah ia akan memilih dan menempuh jalan ke neraka, yaitu dengan kekafiran kemusyrikan dan perbuatan-perbuatan jahat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 35

مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا تِلْكَ عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ (35

(Perumpamaan) gambaran (surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa) kalimat ayat ini menjadi mubtada, sedangkan khabarnya tidak disebutkan, lengkapnya mengatakan: yaitu seperti apa yang akan Kami ceritakan kepada kalian (mengalir sungai-sungai di bawahnya; buah-buahannya) artinya apa-apa yang dimakan di dalam surga (tiada henti-hentinya) tidak pernah lenyap (sedang naungannya) tiada henti-hentinya pula, tidak pernah terhapus oleh matahari, karena di dalam surga tidak ada matahari. (Itulah) yakni surga itu (tempat kesudahan) akhir daripada kesudahan (orang-orang yang bertakwa) takut kepada perbuatan syirik (sedangkan tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka).


36 Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah:` Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali `.(QS. 13:36)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 36 

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ (36

Setelah memberikan gambaran tentang surga pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah swt. menjelaskan sikap orang-orang Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terhadap Alquran setelah mereka itu masuk agama Islam, misalnya Abdullah bin Salam dari kalangan Yahudi. Mereka ini sangat bergembira dengan turunnya Alquran dan menerima baik segala ajaran dan hukum-hukumnya.
Akan tetapi di samping itu ada pula segolongan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengingkari sebagian dari Alquran itu, terutama mengenai ajaran Alquran tentang keesaan Allah swt.
Maka Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan kepada golongan tersebut kemantapan imannya tentang keesaan Allah swt. dengan mengatakan: "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk menyembah Allah semata-mata dan aku tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Aku seru manusia untuk beriman kepada-Nya saja dan aku yakin bahwa hanya kepada-Nyalah aku akan kembali."
Ucapan ini dengan tegas menolak kepercayaan syirik, yaitu mempersekutukan sesuatu dengan Allah yang dianut oleh kaum musyrikin. Kepercayaan itu sangat bertentangan dengan ajaran Alquran tentang keesaan Allah secara mutlak yang merupakan inti pokok dalam agama Islam.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 36 

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ (36

(Orang-orang yang Kami berikan kitab kepada mereka) seperti Abdullah bin Salam dan lain-lainnya dari kalangan orang-orang Yahudi yang beriman (mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu) karena Alquran yang diturunkan kepadanya tidak bertentangan dengan kitab Taurat yang ada pada mereka (dan di antara golongan-golongan) yang telah bersekutu untuk melawan kamu, yaitu mereka yang terdiri dari kalangan kaum musyrikin dan orang-orang Yahudi (ada yang menginginkan sebagiannya) yaitu yang menyangkut tentang penyebutan lafal Ar-Rahman dan hal-hal yang lain selain yang menyangkut kisah-kisah. (Katakanlah, "Sesungguhnya aku hanya diperintahkan) oleh apa yang diturunkan kepadaku (untuk) supaya (menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Hanya kepada-Nya aku berseru dan hanya kepada-Nya aku kembali.") tempat kembaliku.


37 Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.(QS. 13:37)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 37

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ (37

Pada ayat ini Allah menjelaskan beberapa ciri utama dari Alquran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw., yaitu bahwa Alquran tersebut adalah berisi peraturan-peraturan yang benar, yang patut ditaati manusia untuk mencapai kebahagiaan dan keberuntungan mereka di dunia dan akhirat kelak. Di samping itu, Alquran diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu suatu bahasa yang mempunyai beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain.
Di antara keistimewaan bahasa Arab ialah bahasa ini merupakan bahasa yang hidup sejak zaman dahulu sampai sekarang dan mempunyai bentuk-bentuk dan kata-kata serta kalimat yang sangat luas yang memungkinkan untuk dipakai dalam berbagai bidang, baik ilmu pengetahuan, kebudayaan, politik, keagamaan, hukum, budi pekerti dan sebagainya. Bahkan pada masa kita sekarang ini, bahasa Arab semakin luas pemakaiannya dalam hubungan-hubungan internasional bahkan telah ditetapkan sebagai salah satu dari bahasa-bahasa resmi yang dipakai dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Perlu diingat, bahwa karena Alquran itu adalah diturunkan dalam bahasa Arab di dunia menjadi mukjizat bagi Nabi Muhammad saw. dan mempunyai kehormatan sebagai Kitab Suci, maka terjemahan Alquran dalam suatu bahasa asing tidaklah bersifat sebagai Kitab Suci. Sebagaimana diketahui, di antara kehormatan yang dimiliki Alquran ialah bahwa membacanya saja adalah terhitung ibadah, dan tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci, yaitu orang-orang yang tidak berhadas dan tidak bernajis.
Banyak ayat-ayat lain yang menyebutkan ciri-ciri Alquran itu, antara lain dalam firman Allah swt.:

لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ
Artinya:
Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
(Q.S. Fussilat: 42)
Pada ayat ini selanjutnya Allah swt. memperingatkan kepada Nabi Muhammad saw. dan kaum Muslimin umumnya agar jangan sampai menuruti kehendak hawa nafsu dan keinginan dari orang-orang yang mengingkari Alquran baik sebagian maupun keseluruhannya karena Allah swt. telah memberikan ilmu yang benar kepada kita, yaitu Alquranul Karim. Juga diperingatkan, bahwa jika Nabi Muhammad dan kaum Muslimin sampai tergoda dan mengikuti kehendak orang-orang yang mengingkari Alquran itu, maka siksa Allah pasti akan menimpa dan tidak seorang pun dapat menjadi pelindung dan penjaga terhadap siksa Allah swt. Yang Maha Kuasa.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 37 

وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ حُكْمًا عَرَبِيًّا وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَمَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا وَاقٍ (37

(Dan demikianlah) penurunan itu (Kami telah menurunkannya) Alquran itu (sebagai peraturan dalam bahasa Arab) yaitu dengan memakai bahasa Arab, yang dengannya engkau putuskan hukum-hukum di antara manusia. (Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka) hawa nafsu orang-orang kafir, dalam hal apa yang mereka inginkan, supaya kamu melakukannya menurut peraturan agama mereka. Ini hanyalah merupakan perumpamaan (setelah datang pengetahuan kepadamu) tentang tauhid (maka sekali-kali tidak ada bagimu terhadap Allah) huruf min di sini adalah zaidah (seorang penolong pun) penolong yang mau membantu menyelamatkanmu (dan tidak pula seorang pemelihara) yang dapat mencegah azab Allah yang menimpa dirimu.


38 Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).(QS. 13:38)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 38 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ (38
 
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dia telah mengutus Rasul-rasul sebelum Nabi Muhammad saw. dan mereka telah dikaruniai istri dan keturunan.
Hal ini wajar menunjukkan bahwa kehidupan keluarga dan berketurunan adalah hal yang wajar dan merupakan salah satu dari sunatulllah bagi makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini yang juga berlaku bagi para Nabi dan Rasul-rasul-Nya. Hidup berkeluarga tidak boleh dianggap sebagai penghalang dalam beragama dan dalam perjuangan bagi kemajuan pribadi, masyarakat dan bangsa. Bahkan pernikahan menurut ajaran Islam, selain berfaedah untuk melanjutkan keturunan juga adalah memberikan ketenangan dan ketenteraman serta kestabilan dalam kehidupan yang wajar. Di samping itu pernikahan pun mempererat silaturahim antara keluarga-keluarga yang bersangkutan dan dapat pula menjadi sarana bagi dakwah Islamiah sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Oleh karena hidup berkeluarga adalah suatu naluri yang wajar dan merupakan sunatullah, maka manusia tak boleh menantangnya. Oleh sebab itu adalah suatu pandangan yang amat keliru apabila ada pemimpin agama yang mempunyai sikap dan anggapan bahwa mereka harus menjauhi hidup berkeluarga agar tidak menganggu tugas-tugas mereka dalam menjalankan agama. Sikap hidup membujang atau tabattul dan peraturan-peraturan yang melarang pemimpin-pemimpin agama untuk hidup berkeluarga adalah hal-hal yang tidak dikenal dalam agama Islam dan sangat ditentangnya. Perkawinan dan anak merupakan suatu nikmat dan rahmat Allah kepada hamba-Nya. Karenanya perlu dipelihara sebaik-baiknya.
Dalam suatu riwayat disebutkan orang-orang Yahudi mencela Nabi Muhammad saw. karena beliau mempunyai beberapa orang istri. Kata mereka, kalau benar-benar Muhammad adalah Nabi dan Rasul tentulah ia akan menyibukkan diri dengan tugas-tugas kenabiannya saja dan tidak akan mempedulikan wanita. Di samping itu mereka meminta bermacam-macam bukti tentang kenabiannya selain Alquran yang menjadi mukjizat-Nya. Maka Allah swt. telah membantah mereka itu dengan menegaskan bahwa Nabi Muhammad bukanlah Rasul Allah yang pertama melainkan sebelum itu Allah swt. telah mengutus beberapa Rasul dan semuanya adalah manusia yang memerlukan makan dan minum, berkeluarga dan berketurunan serta melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang lainnya, berjalan di pasar dan sebagainya. Dalam hal ini Allah swt. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menegaskan:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
Artinya:
Sesungguhnya aku ini hanya manusia seperti kamu yang diwahyukan kepadaku.
(Q.S. Al-Kahfi: 110)
Kemudian dalam ayat yang sedang dibacakan ini ditegaskan tentang kewajaran dan kebolehan para Rasul itu hidup berkeluarga dan berketurunan. Allah menegaskan bahwa Dia mengaruniai mereka istri dan keturunan.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda:

وأما أنا فأصوم وأفطر وأقوم وأنام وآكل اللحم وأتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني
Artinya:
Adapun aku, aku berpuasa dan berbuka, aku bersalat di waktu malam juga tidur, aku juga makan daging dan juga menikahi wanita; maka siapa yang tidak suka kepada sunahku tiadalah ia termasuk umatku.
(H.R. Bukhari)
Adapun ayat-ayat atau bukti-bukti kenabian dan kerasulan yang dituntut oleh orang-orang kafir kepada Nabi Muhammad saw. berulang kali tegaskan dalam Alquran, bahwa masalah tersebut adalah di bawah wewenang Allah semata-mata. Para Rasul hanya mampu memperlihatkan suatu mukjizat dengan izin Allah.
Mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad saw. adalah Alquran yang membawa ajaran-ajaran, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang menuntun manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Alquran senantiasa terpelihara kemurniannya dan tak satu pun makhluk dapat menandinginya, baik isi maupun bahasanya.
Ayat-ayat atau bukti-bukti dan mukjizat tidaklah muncul begitu saja melainkan haruslah sesuai dengan hikmah Allah dan selaras pula dengan masanya. Masing-masing masa tersebut mempunyai ciri tersendiri yang telah ditetapkan Allah. Setiap peristiwa yang terjadi di alam ini adalah menuruti ketentuan atau takdir-Nya baik mengenai waktunya, maupun mengenai tempat dan cara serta sebab-sebab terjadinya. Maka suatu mukjizat tidak akan timbul sebelum waktu yang telah ditetapkan Allah. Ajal seseorang serta umur, rezeki dan peristiwa-peristiwa yang dialami di dunia dan di akhirat adalah terjadi sesuai dengan ketentuan Allah. Manusia tak dapat meminta agar ajalnya datang lebih cepat atau pun lebih lambat dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam takdir-Nya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 38 

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ (38

Ayat ini diturunkan ketika orang-orang kafir mencela Nabi saw. karena istrinya banyak, yaitu: (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan) yakni anak-anak, sedangkan engkau adalah salah satu di antara para rasul itu. (Dan tidak ada hak bagi seorang rasul) di antara para rasul itu (mendatangkan sesuatu ayat melainkan dengan izin Allah) karena para rasul itu tiada lain hanyalah hamba-hamba yang diasuh-Nya. (Bagi tiap-tiap masa) zaman (ada kitab) yang tertera di dalamnya tentang batas masa berlakunya.


39 Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).(QS. 13:39)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 39 

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan suatu segi dari kekuasaan-Nya, yaitu bahwa Dia berkuasa untuk menghapuskan dan menetapkan apa-apa yang dikehendaki-Nya, baik mengenai peristiwa-peristiwa alamiah, maupun kejadian-kejadian yang dialami manusia.
Gejala-gejala tentang adanya penghapusan dan penetapan Allah ialah adanya siang dan malam silih berganti, adanya gelap dan terang, hidup dan mati, kuat dan lemah, sehat dan sakit, bahagia dan sengsara, kaya dan miskin dan sebagainya.
Selanjutnya pada akhir ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa di sisi-Nya ada Ummul Kitab, yaitu Lohmahfuz. Maka semua peristiwa dan kejadian yang terjadi di alam ini tidaklah lepas ada pada Lohmahfuz yang tidak akan mengalami perubahan dan penggantian apa pun.
Berdasarkan pengertian tersebut maka ayat ini juga merupakan bantahan terhadap tuntutan kaum kafir dan musyrik yang meminta kepada Nabi Muhammad saw. untuk mendatangkan ayat-ayat atau bukti-bukti mengenai kenabian dan kerasulannya selain Alquran. Hal tersebut tidak akan terjadi kecuali jika termasuk dalam ketentuan yang ditetapkan Allah, yakni bahwa setiap peristiwa telah ditentukan Allah, yakni bahwa setiap peristiwa telah ditentukan waktunya sehingga tak mungkin akan terjadi lebih segera atau lebih lambat dari waktu yang telah ditetapkan-Nya dan segala sesuatunya telah ada dalam Lohmahfuz.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 39 

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ (39

(Allah menghapuskan) daripada kitab itu (apa yang dikehendaki-Nya dan menetapkan) dapat dibaca yutsbitu atau yutsabbitu, artinya hukum-hukum dan masalah-masalah lainnya yang dikehendaki-Nya untuk dihapus atau ditetapkan (dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab) asal kitab yang tidak berubah sedikit pun daripadanya, yaitu kitab-kitab-Nya di zaman azali.


40 Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.(QS. 13:40)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ar Ra'd 40 

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ (40

Pada ayat ini Allah swt. menerangkan segi yang lain dari kekuasaan-Nya, yaitu dalam memberikan usia yang panjang atau yang pendek kepada Rasulullah dan kekuasaan-Nya dalam memberikan ganjaran maupun balasan terhadap amalan hamba-Nya. Maka di sini diterangkan Allah, bahwa ada kemungkinan Dia memberikan umur yang panjang kepada Rasulullah sehingga beliau berkesempatan untuk melihat datangnya azab Allah kepada kaum kafir yang telah Dia janjikan atau pun Dia hanya memberikan usia yang pendek kepada Rasulullah sehingga beliau tidak mendapat kesempatan untuk menyaksikan azab yang diturunkan-Nya kepada mereka itu. Tetapi semuanya itu bukanlah urusan Rasulullah melainkan kekuasaan Allah semata-mata. Tugas Rasul-Nya hanya terbatas pada penyebaran agama Islam kepada manusia. Adapun mereka menerima atau menolaknya itu adalah urusan Allah. Dialah yang akan memberikan pahala kepada orang-orang beriman dan beramal saleh dan Dia pulalah yang akan menimpakan azab kepada mereka yang kafir dan berbuat kelaliman.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Ar Ra'd 40 

وَإِنْ مَا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَعَلَيْنَا الْحِسَابُ (40

(Dan jika) asalnya lafal immaa ini terdiri daripada in syarthiyah dan maa zaidah, kemudian keduanya dijadikan satu sehingga jadilah immaa, artinya seandainya (Kami perlihatkan kepadamu sebagian apa yang Kami ancamkan kepada mereka) yaitu sebagian daripada azab-Ku sewaktu kamu masih hidup. Jawab dari in syarthiyah tidak disebutkan, lengkapnya ialah fadzaaka: itulah azab-Ku (atau Kami wafatkan kamu) sebelum orang-orang kafir itu diazab (karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja) hal itu tidak penting bagimu, tugasmu tiada lain hanya menyampaikan (sedangkan Kamilah yang menghisab amalan mereka) jika mereka telah kembali kepada Kami, maka Kami akan membalas semua amal perbuatan mereka.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [3]
Ayat 21 s/d 40 dari [43]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU