Selasa, 23 Juli 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH YUNUS AYAT 61 - 80 ( 04 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: YUNUS
Ayat [109]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/6
61 Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).(QS. 10:61)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 61 

وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ وَمَا يَعْزُبُ عَنْ رَبِّكَ مِنْ مِثْقَالِ ذَرَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرَ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (61

Allah swt. menyeru Rasul-Nya dan umat manusia yang menaatinya, bahwa pada saat Rasulullah melaksanakan urusan yang penting yang menyangkut masyarakat pada saat membacakan ayat-ayat Alquran yang mengatur semua urusan itu dan pada saat manusia melaksanakan amal perbuatannya tidak ada yang terlepas dari pengawasan Allah. Dia menyaksikan semua amal perbuatan itu pada saat dilakukannya.
Yang termasuk urusan penting dalam ayat ini ialah segala macam urusan yang menyangkut kepentingan umat seperti urusan dakwah Islamiah, yaitu mengajak umat agar mengikuti jalan yang lurus dengan cara yang bijaksana dan suri teladan yang baik, membangunkan kesadaran umat agar tertarik untuk melakukan perintah agama dan menjauhi larangan-larangan-Nya termasuk pula urusan pendidikan umat dan cara-cara merealisir pendidikan itu hingga menjadi kenyataan yang berfaedah bagi kesejahteraan umat. Disebutkan pula bahwa ayat-ayat Alquran yang dibaca itu mencakup semua urusan berdasarkan pola-pola pelaksanaannya, tidak boleh menyimpang daripadanya karena urusan segala umat secara prinsip telah diatur dalam kitab itu.
Kemudian disebutkan semua amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya agar kaum muslimin tergugah hatinya untuk melakukan perbuatan yang telah digariskan oleh wahyu yang diturunkan pada Rasul-Nya, dan mempedomani fungsi isi dari wahyu itu dalam urusannya sehari-hari, serta menaati Rasul karena apa yang diucapkan dan dikerjakan Rasul itu menjadi suri teladan yang baik bagi seluruh umat.
Dalam ayat itu Allah swt. menandaskan, bahwa segala macam amalan yang dilakukan oleh hamba-Nya, tidak ada satu pun yang terlepas dari ilmu Allah meskipun amalan itu lebih kecil dari benda yang terkecil, atau pun urusan itu maha penting sehingga tak terkendalikan oleh manusia. Disebutkannya urusan yang kecil dari yang terkecil dan urusan yang maha penting agar tergambar dalam hati para hamba-Nya, bahwa ilmu Allah itu begitu sempurna sehingga tidak ada satu urusan pun yang terlepas dari ilmu-Nya, bagaimanapun remehnya urusan itu dan bagaimana pentingnya urusan itu, walaupun urusan itu di luar kemampuan manusia.
Ilmu Allah tidak hanya meliputi segala macam urusan yang ada di bumi yang kebiasaannya urusan ini dapat dibayangkan oleh mereka secara mudah. Juga meliputi segala macam urusan di langit yang urusannya lebih rumit dan lebih sukar tergambar dalam pikiran mereka. Hal ini untuk menguatkan arti dari keluasan ilmu Allah sehingga terasalah keagungan dan kekuasaan-Nya.
Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan dengan tandas bahwa tidak ada satu urusan pun melainkan tercatat dalam kitab yang nyata yaitu Lohmahfuz, maksudnya segala macam urusan itu semuanya terkontrol dan terkendali serta terkuasai oleh ilmu Allah Yang Maha Luas itu dan tercatat dalam kitab-Nya yang bernilai tinggi dan sempurna uraiannya.
Allah swt. berfirman:


وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
Artinya:
Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.
(Q.S. Al-An'am: 59)


62 Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. 10:62)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 62 

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62

Allah swt. menghadapkan perhatian kaum Muslimin agar mereka mempunyai kesadaran yang penuh, bahwa sesungguhnya wali-wali Allah tidak akan merasakan kekhawatiran dan gundah hati.
Dimaksudkan dengan wali-wali Allah dalam ayat ini ialah orang-orang yang takwa sebagai sebutan bagi orang-orang yang membela agama Allah dan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum-Nya di tengah-tengah masyarakat, dan sebagai lawan kata dari orang-orang yang memusuhi agama-Nya seperti orang-orang musyrikin dan orang kafir. (Perhatikan tafsir surah Al-An'am: 51-55)
Dikatakan tidak ada kekhawatiran bagi mereka karena mereka yakin bahwa janji Allah pasti akan datang, dan pertolongan-Nya tentu akan tiba, serta petunjuk-Nya tentu membimbing mereka ke jalan yang lurus. Dan apabila ada bencana menimpa mereka, mereka tetap bersabar menghadapi dan mengatasinya dengan penuh ketabahan dan tawakal kepada Allah. (Perhatikan tafsir surah Al-Baqarah: 249)
Dan tidak pula gundah hati mereka karena mereka telah meyakini dan rela bahwa segala sesuatu yang bersangkut paut di bawah hukum-hukum Allah berada dalam genggaman-Nya. Mereka tidak gundah hati lantaran berpisah dengan dunia, karena kenikmatan yang akan diterima di akhirat adalah kenikmatan yang besar. Dan mereka takut akan menerima azab Allah di hari pembalasan karena mereka dan seluruh hatinya telah dibaktikan kepada agama yang menurut petunjuk-Nya. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu apa pun, karena telah mendapatkan petunjuk yang tak ternilai besarnya. (Perhatikan tafsir surah Al-Baqarah: 2 dan surah Al-Anfal: 29)


63 (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.(QS. 10:63)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 63 

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63

Kemudian daripada itu Allah swt. menjelaskan siapa yang dimaksud dengan wali-wali Allah yang berbahagia itu dan apakah sebabnya maka mereka itu demikian. Penjelasan yang didapat dalam ayat ini wali itu ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Dimaksud beriman di sini ialah orang yang beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada Rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir dan segala kejadian yang baik dan yang buruk semuanya dari Allah, serta melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Sedang yang dimaksud dengan bertakwa ialah memelihara diri dari segala tindakan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah, baik hukum-hukum Allah yang mengatur tata alam semesta, atau pun hukum syarak yang mengatur tata hidup manusia di dunia. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)


64 Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.(QS. 10:64)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 64 

لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64

Sesudah itu Allah swt. menjelaskan bahwa mereka mendapat kabar gembira yang mereka dapati di dalam kehidupan mereka di dunia dan kehidupan mereka di akhirat. Kabar gembira yang mereka dapati ini ialah kabar gembira yang telah dijanjikan Allah melalui Rasul-Nya. Kabar gembira yang mereka dapati di dunia, seperti kemenangan yang mereka peroleh di dalam menegakkan kalimat Allah, kesuksesan hidup karena menempuh jalan yang benar, harapan yang diperoleh sebagai khalifah di dunia selama mereka tetap berpegang kepada hukum Allah dan membela kebenaran agama Allah akan mendapat husnul khatimah. Adapun kabar gembira yang akan mereka dapati di akhirat yaitu selamat dari kubur, dari sentuhan api neraka dan kekalnya mereka di dalam surga Aden. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)
Kemudian Allah swt. menegaskan bahwa tidak ada perubahan dari janji-janji Allah. Maksudnya bahwa kabar gembira yang telah dijanjikan Allah di dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh sabda Rasul-Nya baik janji Allah yang mereka dapati di dunia dan yang akan mereka dapati di akhirat itu, tidak akan ada perubahannya lagi karena hal itu adalah hasil dari iman yang benar yang mereka pegangi dan buah dari takwa yang mereka lakukan.
Di akhir ayat ini Allah swt. menyatakan bahwa segala apa yang mereka dapati adalah kemenangan yang gilang-gemilang yang tak ada tandingannya di dunia, yaitu kebahagiaan hidup di surga dan terlepas dari siksa neraka.


65 Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 10:65)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 65 

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (65

Dalam pada itu Allah swt. melarang kaum Muslimin merasa risau dan gundah lantaran perkataan orang-orang musyrikin yang memusuhi agama Allah dan mendustakan wahyu Allah itu karena sesungguhnya kemenangan, kekuatan, dan perlindungan itu tidaklah mereka miliki tetapi Allahlah yang berkuasa untuk memberikan kesemuanya itu kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya. Kaum Muslimin dilarang takut menghadapi orang-orang musyrikin lantaran jumlahnya yang besar. (Perhatikan tafsir surah Al-Anfal: 10)
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan bahwa Dialah Yang Maha Mendengar terhadap perkataan orang-orang musyrik yang mendustakan Rasul dan mendustakan kebenaran wahyu. Lagi Yang Maha Mengetahui tindakan-tindakan mereka yang dilakukan terhadap Nabi dan pengikutnya, seperti tipu daya mereka untuk mengalahkan agama tauhid dan penganiayaan mereka terhadap Nabi dan pengikut-pengikutnya.


66 Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). Mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga.(QS. 10:66)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 66 

أَلَا إِنَّ لِلَّهِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ (66

Allah swt. mengingatkan kaum Muslimin bahwa semua yang ada di langit dan di bumi serta seluruh benda penyusunannya berada di bawah kekuasaan Allah termasuk pula patung-patung yang mereka sembah dan mereka perserikatkan dengan berada di dalam kekuasaan-Nya pula. Orang-orang musyrik mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain itu bukanlah berdasarkan pada keyakinan yang benar, akan tetapi hanyalah berdasarkan pada persangkaan belaka. Mereka menyembah patung-patung karena adanya suatu anggapan, bahwa patung-patung yang mereka sembah itu dapat menolong mereka, dan dapat mendekatkan diri kepada Allah dan dapat melancarkan jalan agar doa-doa mereka dikabulkan Allah. Anggapan serupa itu timbul dalam pikiran mereka, karena mereka menganggap bahwa Allah itu sama dengan pemimpin-pemimpin serta pembesar-pembesar mereka yang bengis dan lalim. Apabila mereka ingin berhubungan dengan pembesar-pembesar mereka atau ingin menyampaikan permohonan kepada mereka, permohonan itu tidaklah akan diterima atau mendapat pelayanan sebagaimana mestinya apabila tidak terlebih dahulu melalui tangan-tangan kanan pemimpin mereka.
Di akhir ayat Allah swt. menegaskan, bahwa orang-orang musyrikin mengikuti dugaan-dugaan seperti itu adalah karena mengikuti kebodohan yang tidak akan membawa kepada kebenaran sedikit pun.


67 Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.(QS. 10:67)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 67

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (67


Kemudian daripada itu Allah swt. menegaskan kepada kaum Muslimin Allahlah yang menciptakan malam bagi manusia agar supaya manusia itu dapat beristirahat pada waktu itu. Dan Dia pula menciptakan siang terang-benderang oleh cahaya matahari agar manusia pada waktu itu dapat mencari karunia-Nya. Pergantian siang dan malam itu diatur oleh Allah dengan hukum-hukum-Nya. Dengan hukum-hukum-Nyalah maka benda-benda langit beredar dalam orbitnya yang telah ditentukan. Dalam mengatur peredaran benda-benda langit Allah tidak memerlukan tuhan-tuhan yang lain untuk membantu, tetapi cukup dengan hikmah-Nya yang tinggi, Allah berkuasa untuk mengatur peredaran benda-benda itu. Karena peredaran benda-benda langit itu timbullah perbedaan waktu dan perubahan suasana, sehingga manusia dapat mencari waktu yang sesuai guna mencukupi keperluan hidupnya, dan memenuhi kewajibannya terhadap Penciptanya.
Di akhir ayat Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang benar-benar memperhatikan ayat-ayat yang dibacakan oleh Rasulullah saw. dan memikirkan baik-baik kandungan isinya, serta memperhatikan hukum-hukum Allah yang berlaku terhadap alam semesta dan seisinya, tentu akan mengakui keesaan dan kekuasaan Allah.


68 Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata:` Allah mempunyai anak `. Maha Suci Allah; Dia-lah Yang Maha Kaya; kepunyaan apa yang ada di langit dan di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?(QS. 10:68)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 68 

قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ هُوَ الْغَنِيُّ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَذَا أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (68

Allah swt. menjelaskan kepada kaum Muslimin bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani termasuk pula orang-orang musyrik mengatakan bahwa Allah mempunyai anak seperti misalnya kepercayaan orang-orang Yahudi bahwa Uzair anak Allah, kepercayaan orang-orang Nasrani bahwa Isa Al-Masih putra Allah, dan orang-orang musyrik menduga bahwa para malaikat itu anak perempuan Allah. Allah swt. menyangkal anggapan-anggapan dan tuduhan-tuduhan mereka. Bagaimana mungkin tuduhan-tuduhan itu dapat dibenarkan sebab Dialah Yang Maha Kaya bahkan langit, bumi dan benda-benda yang ada di antaranya adalah ciptaan-Nya; Dialah Yang Menguasai. Allah tidak memerlukan kepada semua benda yang ada itu, malahan sebaliknya mereka itulah yang memerlukan Allah. Apabila manusia memerlukan anak, memang sudah sepantasnya sebab anak itulah yang melanjutkan keturunan dan menjadi kebanggaannya. Akan tetapi Allah tidak memerlukan anak sebab Dialah yang menciptakan manusia dan keturunannya.
Allah swt. menandaskan bahwa orang-orang Ahli Kitab dan orang-orang musyrikin yang beranggapan demikian itu, tidak mempunyai alasan sedikit pun untuk menyatakan kebenaran kepercayaannya, bahkan kepercayaan itu hanyalah menunjukkan kepada kebodohan mereka sendiri. Itulah sebabnya maka Allah swt. menyatakan di akhir ayat, bahwa mereka menyatakan sesuatu yang mereka tidak ketahui kebenarannya, dan itulah suatu kebodohan besar. Apalagi setelah mereka mendapat keterangan-keterangan dari wahyu yang dibacakan, dan mereka masih tetap mempertahankannya, hal ini menunjukkan kebebalan mereka. Dari ayat ini dapatlah diambil pelajaran bahwa orang yang mengatakan sesuatu yang tidak didasarkan pada sumber-sumber yang benar dan tidak mempunyai alasan adalah menunjukkan kepada kebodohan sendiri.


69 Katakanlah:` Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak beruntung `.(QS. 10:69)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 69 

قُلْ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ (69

Sesudah Allah swt. memerintahkan kepada Rasul-Nya mengatakan kepada orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang lain, atau orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, bahwa orang-orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah seperti mereka itu, tidak akan beruntung karena apa yang mereka harapkan seperti selamatnya mereka dari siksaan api neraka, dan kehidupan bahagia berkat pertolongan dari patung-patung yang mereka pertuhankan, tidak akan menjadi kenyataan.


70 (Bagi mereka) kesenangan (sementara) di dunia, kemudian Kami rasakan kepada mereka siksa yang berat, disebabkan kekafiran mereka.(QS. 10:70)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 70 

مَتَاعٌ فِي الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ نُذِيقُهُمُ الْعَذَابَ الشَّدِيدَ بِمَا كَانُوا يَكْفُرُونَ (70

Kemudian dari itu Allah swt. memberikan penjelasan bahwa mereka itu memperoleh kesenangan yang sementara di dunia, tertipu oleh kenikmatan dunia yang sementara itu. Kenikmatan dunia itu apabila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat tidak ada artinya sama sekali. Kemudian pada hari kebangkitan mereka akan dikembalikan kepada Allah. Pada masa itulah mereka akan dikumpulkan di padang Mahsyar, dan dimintai pertanggungjawabannya atas semua perbuatan yang mereka lakukan di dunia. Kemudian Allah swt. akan memberikan siksaan-Nya yang setimpal dengan perbuatan mereka, yaitu siksaan yang pedih yang tak teperikan, disebabkan oleh keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan mendustakan Muhammad saw.


71 Dan bacakanlah kepada mereka berita penting tentang Nuh di waktu dia berkata kepada kaumnya:` Hai kaumku, jika terasa berat bagimu tinggal (bersamaku) dan peringatanku (kepadamu) dengan ayat-ayat Allah, maka kepada Allah-lah aku bertawakal, karena itu bulatkanlah keputusanmu dan (kumpulkanlah) sekutu-sekutumu (untuk membinasakanku). Kemudian janganlah keputusanmu itu dirahasiakan, lalu lakukanlah terhadap diriku, dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.(QS. 10:71)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 71 

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكُمْ مَقَامِي وَتَذْكِيرِي بِآيَاتِ اللَّهِ فَعَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْتُ فَأَجْمِعُوا أَمْرَكُمْ وَشُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُنْ أَمْرُكُمْ عَلَيْكُمْ غُمَّةً ثُمَّ اقْضُوا إِلَيَّ وَلَا تُنْظِرُونِ (71

Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk menceritakan kepada kaum musyrikin Mekah dan lainnya tentang kejadian yang penting dalam riwayat Nabi Nuh a.s. dan kaumnya. Nabi Nuh a.s. menyatakan kepada kaumnya tentang kebulatan tekadnya untuk terus menyebarkan agama Allah seraya menyerahkan sepenuhnya segala keputusan kepada Allah.
Tidaklah dia mempedulikan apakah kaumnya itu keberatan akan kehadirannya di tengah-tengah mereka untuk menyeru mereka menyembah Allah, ataukah pula mereka keberatan akan peringatan yang disampaikannya tentang bukti-bukti keesaan Allah swt. Berkat kebulatan tekad dan ketawakalannya itu, Nabi Nuh a.s. tidak pula ragu-ragu menentang kaumnya supaya mereka membulatkan keputusan mereka dengan mengikutsertakan sembahan-sembahan mereka untuk membinasakan beliau. Bahkan dia menganjurkan kepada mereka agar dalam menetapkan rencana itu terang-terangan, tidak sembunyi-sembunyian. Kemudian bilamana rencana itu sudah matang dengan permufakatan yang terbuka, Nabi Nuh menyerukan supaya mereka segera melaksanakan rencana pembunuhan terhadap dirinya itu dan tidak menunda-nundanya.


72 Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya) `.(QS. 10:72)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 72 

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ (72

Kemudian dalam ayat ini Nabi Nuh a.s. mengatakan lagi kepada kaumnya bahwa dia tidak akan minta apa-apa kepada mereka dan tidak memperoleh keuntungan duniawi dari tugas dakwah itu, kecuali pahala dan ganjaran dari Allah swt. Karena itu tidak ada alasan bagi mereka untuk berpaling dari seruannya itu. Sekiranya mereka berpaling dari peringatan-peringatan dan seruan-seruan itu sedikit pun Nabi Nuh tidak dirugikan atau hal itu tidaklah menyusahkan beliau. Dia diperintahkan untuk menjadi orang yang menjunjung tinggi segala perintah Allah swt. dan berserah diri kepada-Nya.


73 Lalu mereka mendustakan Nuh, maka Kami selamatkan dia dan orang-orang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan itu.(QS. 10:73)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 73 

فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ (73

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan meskipun Nabi Nuh a.s. sudah mengemukakan kebenaran seruan dan ajakannya dengan alasan-alasan yang kuat, namun kaumnya terus mengingkarinya dan mendustakan kerasulannya. Manakala kemungkinan mereka beriman telah tertutup, turunlah hukuman Tuhan kepada mereka berupa angin topan yang dahsyat serta banjir yang besar yang menimpa dan menenggelamkan mereka. Nabi Nuh dan orang-orang beriman bersamanya diselamatkan Allah dari bencana taufan itu. Mereka naik ke sebuah bahtera yang mereka buat sebelum kejadian taufan itu atas petunjuk Allah swt. Mereka inilah yang menjadi penghuni bumi dan menggantikan kaum yang telah binasa itu yaitu mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah.
Allah swt. kemudian mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk menyampaikan berita ini kepada mereka yang terus-menerus ingkar kepada Rasul. Apa yang dialami umat Nabi Nuh itu tentulah akan dialami pula oleh kaumnya bilamana mereka terus-menerus mengingkari kerasulannya.


74 Kemudian sesudah Nuh, Kami utus beberapa rasul kepada kaum mereka (masing-masing), maka rasul-rasul itu datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka tidak hendak beriman karena mereka dahulu telah (biasa) mendustakannya. Demikianlah Kami mengunci mati hati orang-orang yang melampaui batas.(QS. 10:74)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 74 

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِ رُسُلًا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا بِهِ مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ نَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِ الْمُعْتَدِينَ (74

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan tentang pengutusan Rasul-rasul sesudah peristiwa taufan Nabi Nuh a.s. itu. Nabi-nabi yang diutus itu antara lain Nabi Hud, Saleh, Ibrahim, Lut dan Syuaib a.s. Mereka diutus kepada kaum mereka masing-masing. Nabi Lut kepada kaum `Ad, Nabi Saleh kepada kaum Samud dan Syu'aib diutus kepada kaumnya penduduk Madyan, juga diutus kepada kaum Mu'tarikah, tetangganya. Kedua kaum ini sebenarnya satu rumpun, mereka mempunyai bahasa yang sama dan tanah air yang sama. Tiap-tiap nabi itu datang kepada kaumnya dengan membawa bukti-bukti kebenaran kerasulannya dan memberikan petunjuk kepada kaum itu. Mereka memberikan penjelasan-penjelasan mengenai ketuhanan menurut kemampuan dan tingkatan perkembangan pikiran dan pengamatan kaum itu. Tiap Nabi itu menggariskan pedoman-pedoman hidup bagi kaumnya sesuai pula dengan masa, suasana dan keadaan lingkungan mereka. Kebanyakan kaum Nabi-nabi itu tidak beriman, bahkan mereka mendustakannya sebagaimana kaum Nuh sebelum mereka dalam usaha menentang Nabi-nabi itu. Kebiasaan taklid buta kepada pemuka-pemuka itu selalu diikuti oleh generasi berikutnya. Maka oleh karena itu seperti halnya hati nenek moyang mereka, hati mereka terkunci mati, maka hati nurani generasi berikutnya pun ikut terkunci. Hal demikian itu adalah akibat dari tindakan mereka yang melampaui batas.
Kaum musyrikin Arab yang menentang Nabi Muhammad saw. mengalami kegelapan hati nurani seperti halnya umat-umat yang lampau. Hati mereka tertutup untuk menerima kebenaran. Mereka mendustakan Rasul dan berbuat durhaka yang melampaui batas. Sunah Allah tetap berlaku bagi mereka yang menantang dan mengingkari agama. Jika kaum musyrikin Arab itu tetap ingkar, mereka akan ditimpa azab Tuhan seperti halnya umat yang lampau itu.
Firman Allah:


سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
Artinya:
Sebagai sunah Allah yang berlaku atas orang-orang yang terdahulu sebelum(mu). Dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati perubahan pada sunah Allah.
(Q.S. Al-Ahzab: 62)


75 Kemudian sesudah rasul-rasul itu, Kami utus Musa dan Harun kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.(QS. 10:75)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 75 

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى وَهَارُونَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ بِآيَاتِنَا فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (75

Sesudah menerangkan pengutusan Rasul-rasul tersebut kepada kaum mereka masing-masing, maka Allah dalam ayat ini menerangkan secara tersendiri pengutusan Musa dan Harun a.s. kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya. Kisah Musa a.s. berulang kali terdapat di dalam Alquran, karena kisah ini mengandung pelajaran yang penting. Musa a.s. adalah seorang utusan Allah yang dihadapkan kepada seorang raja Firaun yang memiliki kekuasaan besar dan raja dari suatu negara yang sudah tinggi peradaban dan kebudayaannya. Karena kebesarannya itulah dia menjadi sombong dan aniaya terhadap rakyatnya. Dia dikelilingi oleh pemuka kaumnya (bangsa Qibty) yang sangat besar pengaruhnya padanya dan banyak menyesatkan pikirannya. Demikian pula rakyat kaum Qibty, penduduk bumi Mesir amat dipengaruhi oleh pemuka-pemuka ini. Kalau pemimpin-pemimpin mereka itu ingkar, maka mereka pun ingkar, kalau mereka beriman, maka mereka turut pula beriman. Segala urusan dan kepentingan mereka senantiasa tergantung kepada pemuka-pemuka ini.
Ketika Nabi Musa membuktikan kebenaran kerasulannya dengan beberapa macam mukjizat, mereka tetap tidak mau beriman dikarenakan keangkuhan yang bersarang dalam kalbu mereka. Akal pikiran mereka sebenarnya, mengakui kebenaran kerasulan Musa a.s. itu. Mereka dapat membedakan antara sihir dengan yang bukan sihir (mukjizat) karena mereka mengetahui apa sebenarnya itu. Namun mereka tetap ingkar karena mereka adalah orang-orang yang penuh dosa.
Firman Allah swt.:


وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan mereka mengingkarinya karena kelaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikan betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
(Q.S. An Naml: 14)


76 Dan tatkala telah datang kepada mereka kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata:` Sesungguhnya ini adalah sihir yang nyata `.(QS. 10:76)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 76 

فَلَمَّا جَاءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوا إِنَّ هَذَا لَسِحْرٌ مُبِينٌ (76

Kemudian Allah swt. menerangkan dalam ayat ini anggapan pemuka kaum Firaun itu bahwa mukjizat dan bukti-bukti (kebenaran itu) adalah sihir yang nyata bagi orang-orang yang menyaksikan dan memperhatikannya. Tuduhan mereka itu sangatlah buruk, karena yang melontarkan tuduhan itu menyadari sepenuhnya bahwa tuduhan itu palsu. Keajaiban yang luar biasa yang dilahirkan Musa a.s. itu bukanlah perbuatan dia sendiri, tetapi peristiwa itu adalah mukjizat yang terjadi atas kuasa Allah swt.


77 Musa berkata:` Apakah kamu mengatakan terhadap kebenaran waktu ia datang kepadamu, sihirkah ini?, Padahal ahli-ahli sihir itu tidaklah mendapat kemenangan `.(QS. 10:77)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 77 

قَالَ مُوسَى أَتَقُولُونَ لِلْحَقِّ لَمَّا جَاءَكُمْ أَسِحْرٌ هَذَا وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُونَ (77

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bantahan Musa a.s. bahwa tidaklah patut mereka mengucapkan tuduhan sihir terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah berupa mukjizat itu ketika ia datang kepada mereka. Mata mereka menyaksikan sendiri kejadian-kejadian yang luar biasa lagi menggentarkan perasaan. Jika peristiwa-peristiwa itu hanyalah sihir tentu pada suatu waktu akan dapat dikalahkan oleh sihir pula. Tetapi adalah suatu kenyataan bahwa ahli sihir mereka tidak berhasil mengalahkan mukjizat Nabi Musa itu. Ahli-ahli sihir tidak akan berhasil memperoleh kemenangan dengan sihirnya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, atau pun perkara-perkara besar pada umumnya. Sihir merupakan sulapan, cepat atau lambat dia akan tersingkap kepalsuannya atau lenyap.


78 Mereka berkata:` Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua. `(QS. 10:78)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 78 

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا وَتَكُونَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاءُ فِي الْأَرْضِ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِينَ (78

Dalam ayat ini Allah menjelaskan pemuka-pemuka bangsa Qibty itu. Setelah mereka gagal untuk mengemukakan alasan yang kuat untuk mematahkan alasan Musa a.s., maka mereka mencari-cari alasan untuk membela dan mempertahankan tradisi atau adat-istiadat mereka. Mereka menuduh bahwa kedatangan Musa kepada mereka ialah untuk memaksa mereka meninggalkan kebiasaan adat-istiadat yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, kemudian sesudah itu memaksa mereka mengikuti agama Nabi Musa. Menurut mereka, usaha Nabi Musa demikian itu bertujuan untuk menjadi pemimpin agama dan negara di Mesir bersama saudaranya Harun. Oleh karena mereka memandang Musa a.s. itu akan merubah tradisi dan agama mereka dengan agama yang dibawanya serta keinginannya untuk menjadi raja di Mesir, maka mereka bertekad untuk tidak beriman kepadanya serta tidak menjadi pengikutnya.


79 Firaun berkata (kepada pemuka kaumnya):` Datangkanlah kepadaku semua ahli-ahli sihir yang pandai! `(QS. 10:79)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 79 

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ائْتُونِي بِكُلِّ سَاحِرٍ عَلِيمٍ (79

Kemudian dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan sikap Firaun sesudah pikirannya dipengaruhi dan diisi dengan tuduhan dan pandangan-pandangan pemuka kaumnya terhadap Musa. Dia lalu memerintahkan mereka untuk memanggil ahli-ahli sihir yang pandai supaya dapat menandingi dan menghancurkan mukjizat-mukjizat Nabi Musa itu. Tindakan Firaun yang demikian untuk memelihara martabat kemuliaannya dan menghambat perkembangan kekuatan Musa dan Bani Israel di kerajaannya.


80 Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka:` Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan. `(QS. 10:80)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yunus 80 

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80

Kemudian sesudah ahli-ahli sihir dipanggil, datanglah mereka menemui Musa. Mereka menawarkan kepada Musa apakah Musa yang lebih dahulu melontarkan tongkatnya ataukah mereka yang memulai. Maka mereka pun melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka. Dengan kekuatan sihir mereka mempesona penglihatan manusia sehingga menakutkan hati mereka yang menyaksikannya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Yunus 80

فَلَمَّا جَاءَ السَّحَرَةُ قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (80

(Maka tatkala ahli-ahli sihir itu datang, Musa berkata kepada mereka,) sesudah mereka mengatakan kepadanya, "Kamukah yang akan melemparkan terlebih dahulu ataukah kami yang akan melemparkan?" (Al-A`raf 115) ("Lemparkanlah apa yang hendak kalian lemparkan.")


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [6]
Ayat 61 s/d 80 dari [109]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Follow by Email

TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU