Selasa, 01 April 2014

Do’a Bepergian, Do’a yang Mengesankan


SafarAda satu do’a yang begitu menyentuh, dalam maknanya dan saya anggap begitu lengkap menghimpun segala kebaikan yang kita butuhkan dan segala keburukan yang ingin kita hindari berkaitan dengan perjalanan jauh atau safar yang kita lakukan. Do’a itu adalah do’a safar yang diajarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Saya baru tahu dan menghafalnya tatkala berangkat haji 2 tahun lalu. Do’a tersebut adalah sebagai berikut:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، {سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ. وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ} اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِيْ سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى، وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى، اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيْفَةُ فِي اْلأَهْلِ، اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَاْلأَهْلِ. وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ

“Allah Maha Besar (3x). Maha Suci Rabb yang menundukkan kendaraan ini untuk kami, sedang sebelumnya kami tidak mampu. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Rabb kami (di hari Kiamat). Ya Allah! Sesungguhnya kami memohon kebaikan dan taqwa dalam bepergian ini, kami mohon perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah! Permudahlah perjalanan kami ini dan dekatkan jaraknya bagi kami. Ya Allah! Engkau-lah teman dalam bepergian dan yang mengurusi keluarga(ku). Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelelahan dalam bepergian, pemandangan yang menyedihkan dan perubahan yang buruk dalam harta dan keluarga.”
Apabila kembali, doa di atas dibaca dan ditambah: “Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji kepada Rabb kami.” (HR. Muslim 2/998)
Pernah suatu ketika saya mendengar berita musibah kebakaran di sebuah pemukiman padat di Jakarta saat orang-orang mudik merayakan Idul Fithri di kampung halamannya. Terbayang bagaimana reaksi mereka saat pulang menyaksikan rumahnya habis terbakar. Saya pun segera teringat kepada do’a safar di atas … sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perubahan yang buruk dalam harta dan keluarga. Jika kita hayati dan renungkan do’a tersebut rasanya tidak berlebihan jika saya mengulangi lagi ungkapan saya di awal tulisan ini, sebuah do’a yang menghimpun segala kebaikan yang kita butuhkan dan segala keburukan yang ingin kita hindari berkaitan dengan safar yang kita lakukan. Do’a yang mencakup apa-apa yang mungkin tidak terpikirkan untuk kita mohonkan seandainya kita menyusun do’a sendiri. Memang sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Berikut sedikit penjelasan Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad saat mensyarah kumpulan do’a Hishnul Muslim karya DR Sa’id bin Ali Wahf al-Qahthani tentang do’a safar tersebut.
Ungkapan أَنْتَ الصَّاحِبُ Engkau teman, dengan kata lain teman yang selalu dekat. Yang dimaksud adalah dampingan Allah Ta’ala kepadanya dengan segala perhatian dan penjagaan. Yang demikian itu karena manusia adalah makhluk yang harus banyak didampingi dalam perjalanan. Pendampingan itu dibutuhkan agar selalu merasa tenang, selalu berhati-hati, terjaga dari apa-apa yang membahayakannya sehingga diingatkan dengan kata itu sebagai tempat bersandar yang paling baik dan penjagaan yang paling sempurna daripada sahabat yang mana pun juga.
Ungkapan الْخَلِيْفَة pengganti dengan kata lain, yang menggantikan orang yang pergi untuk mengamankan segala apa yang diwakilkan kepadanya. Artinya, Engkaulah yang kuharapkan, bersandar kepada-Nya ketika aku tiada di tengah keluargaku, hendaknya Engkau merapikan kekacauan yang ada pada mereka, mengobati penyakit mereka dan menjaga agama dan amanat mereka.
Ungkapan مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ dari kesulitan dalam perjalanan dengan kata lain, kerumitannya. Diambil dari akar kata الوعث yaitu suatu tempat yang datar, banyak tanah berpasir yang melelahkan dan menyulitkan binatang ternak.
Ungkapan وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ adalah pemandangan yang menyedihkan. الكابة و الكابة و الكاب adalah penampilan yang buruk, putus asa karena sedih. Sedangkan yang dimaksud adalah memohon perlindungan dari segala pemandangan yang menimbulkan rasa sedih.
Ungkapan وَسُوْءِ الْمُنْقَلَبِ keburukan ketika kembali, yaitu kembali dengan sesuatu yang buruk baginya. Kembali dengan sesuatu yang menimpa dirinya dalam perjalanan, atau apa-apa yang menimpa diri, kerabat, harta dan apa-apa yang menjadi kesenangannya. Al-munqalab adalah tempat kembali.
Ungkapan وَإِذَا رَجَعَ dan ketika pulang, yaitu dari perjalanannya.
Ungkapan قَالَهُنَّ semua itu dibaca dengan kata lain, mengucapkan semua kalimat itu, وَزَادَ فِيْهِنَّ dengan tambahan: kami semua kembali, yaitu kembali dengan baik. Dari kata اب artinya kembali dengan kata lain, kami kembali, dan تَائِبُوْنَ kami semua bertaubat dari segala macam dosa. Serta عَابِدُوْنَ kami semua beribadah dengan kata lain, kami mukhlis لِرَبِّنَا kepada Rabb kami, dan karenanya kami حَامِدُوْنَ kami memuji atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kami.


***

_________________
Rujukan:
  • Syarah Do’a dan Dzikir Hishnul Muslim, Majdi bin Abdul Wahhab Ahmad, Darul Falah.

Selamatkan Diri dari Adzab Allah Dengan Bersyukur


Rain from freefoto.comTidak perlu diragukan lagi akan keutamaan syukur dan ketinggian derajatnya, yakni syukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya yang datang terus beruntun dan tiada habis-habisnya. Di dalam Al-Qur’an Allah menyuruh bersyukur dan melarang kebalikannya. Allah memuji orang-orang yang mau bersyukur dan menyebut mereka sebagai makhluk-makhluk-Nya yang istimewa. Allah menjadikan syukur sebagai tujuan penciptaan-Nya, dan menjanjikan orang-orang yang mau melakukannya dengan balasan yang sangat baik. Allah menjadikan syukur sebagai sebab untuk menambahkan karunia dan pemberian-Nya, dan sebagai sesuatu yang memelihara nikmat-Nya. Allah memberitahukan bahwa orang-orang yang mau bersyukur adalah orang-orang yang dapat memanfaatkan tanda-tanda kebesaran-Nya.
Allah memerintahkan untuk bersyukur pada beberapa ayat Al-Qur’an. Allah berfirman:

 وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“… dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (An-NahI: 114)

 فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)


فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“… maka mintalah rizki itu di sisi Allaih dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.“ (Al-Ankabut: 17)
Allah menggantungkan tambahan nikmat dengan syukur. Dan tambahan nikmat dari-Nya itu tiada batasnya, sebagaimana syukur kepada-Nya. Allah berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Dengan bersyukur akan selalu ada tambahan nikmat. Ada peribahasa mengatakan, ‘Jika kamu tidak melihat keadaanmu bertambah, maka bersyukurlah.’
Allah mengabarkan bahwa yang menyembah Diri-Nya hanyalah orang yang bersyukur pada-Nya. Dan siapa yang tidak mau bersyukur kepada-Nya berarti ia bukan termasuk orang-orang yang mengabdi-Nya. Allah berfirman:

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
“… dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar hanya kepada Allah saja kamu menyembah.” (Al-Baqarah: 172)
Allah mengabarkan keridhaan-Nya terletak pada mensyukuri-Nya. Allah berfirman:

وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“… dan jika kamu bersyukur niscaya Allah meridhai bagimu kesyukuranmu itu …” (Az-Zumar: 7)
Allah mengabarkan bahwa musuh-Nya iblis selalu berusaha menggoda manusia agar tidak bersyukur, karena ia tahu kedudukan syukur yang sangat tinggi dan nilainya yang sangat agung, seperti yang terungkap dalam firman-Nya:

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“… kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raaf: 17)
Allah membarengkan syukur dengan iman dan memberitahukan bahwa Dia tidak punya keinginan sama sekali untuk menyiksa hamba-hamba-Nya yang mau bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.“ (An-Nisaa: 147) Artinya, kalau kalian mau bersyukur dan beriman yang menjadi tujuan kalian diciptakan, maka buat apa Allah menyiksa kalian?

Lantas Bagaimanakah kita Bersyukur?
Asal dan hakikat syukur ialah mengakui nikmat yang memberinya dengan cara tunduk, patuh dan cinta kepadanya. Orang yang tidak mengenal bahkan tidak mengetahui suatu nikmat ia jelas tidak bisa mensyukurinya. Demikian juga dengan orang yang mengenal nikmat tetapi tidak mengenal yang memberinya, ia tidak mensyukurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya tetapi ia mengingkarinya berarti ia mengkufurinya. Orang yang mengenal nikmat berikut yang memberikannya, mau mengakui dan juga tidak mengingkarinya, tetapi ia tidak mau tunduk, mencintai dan meridhai, berarti ia tidak mau mensyukurinya. Dan orang yang mengenal nikmat berikut yang memberinya lalu ia mau tunduk, mencintai dan meridhai serta menggunakan nikmat untuk melakukan keta’atan kepadanya, maka ia adalah orang yang mensyukurinya.
Dengan demikian jelas bahwa syukur itu harus berdasarkan lima landasan, yakni kepatuhan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, kecintaan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri, pengakuan orang yang bersyukur atas nikmat yang disyukuri, sanjungan orang yang bersyukur kepada yang disyukuri atas nikmatnya dan tidak menggunakan nikmat itu untuk hal-hal yang tidak disukai oleh yang disyukuri. Kelima hal itulah yang menjadi asas dan landasan syukur. Satu saja di antaranya tidak ada maka salah satu kaidah syukur menjadi rusak.


*********
______________
Rujukan:
Fiqih Do’a Dan Dzikir, Syaikh Abdurrazak bin Abdul Muhsin al-Badr, Penerbit Darul Falah.

Pandangan Mata Saat Shalat


Menoleh dalam shalat. Picture courtesy of http://pedia.muftisays.comKerap kali kita menyaksikan saat seseorang sedang shalat pandangan matanya melirik ke arah lain atau memandang ke atas, dan ada juga yang memejamkan atau  menutup matanya. Yang melirikkan matanya mengesankan orang tersebut tidak khusyu, sedangkan yang menutup matanya mengesankan orang tersebut sedang berusaha untuk khusyu di dalam shalatnya. Lantas bagaimanakah petunjuk dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hal ini?
Sesungguhnya di antara kesalahan orang yang shalat adalah memandang ke tempat selain tempat sujud dan memejamkan matanya. Telah datang perintah yang menganjurkan orang shalat untuk menundukkan pandangannya dan melihat tempat sujud, kecuali saat tasyahhud (duduk tahiyat)  dimana hendaknya memandang isyarat jari telunjuknya dan tidak lebih dari itu.
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha dia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang menoleh ketika shalat. Beliau bersabda, “Menoleh itu adalah ikhtilash (upaya tipu daya) yang dilakukan oleh syaithan dari shalat yang dikerjakan seorang hamba.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam ash-Shahih II/234 dan VI/338, Abu Dawud di dalam as-Sunan I/239, at-Tarmidzi di dalam al-Jaami II/482, dll.)
Dari Anas radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Bagaimana keadaan kaum yang mengangkat pandangan matanya ke langit ketika shalat?” Beliau sangat keras menanggapi masalah ini sehingga beliau bersabda, “Hendaklah mereka benar-benar mengakhiri perbuatan itu atau hendaklah mereka benar-benar menjaga pandangan mata mereka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam ash-Shahih II/233, an-Nasa’i di dalam al-Mujtaba III/7, Abu Dawud di dalam as-Sunan I/240, dll.)
Dari Jabir bin Samrah radhiallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Hendaklah sekelompok orang benar-benar menghentikan pandangan mata mereka yang terangkat ke langit ketika shalat atau pandangan itu tidak akan kembali lagi pada mereka.”  (Diriwayatkan oleh Muslim di dalam ash-Shahih I/321, Abu Dawud di dalam as-Sunan I/240, Ibnu Majah di dalam as-Sunan I/332 dan Ahmad di dalam al-Musnad V/90)
Menoleh dalam shalat selain bisa memutus konsentrasi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, juga disebut sebagai ikhtilash yang artinya sesuatu yang dirampas secara paksa dan secara sombong. Atau sesuatu yang disambar dan dibawa lari tanpa ada perlawanan, sekalipun dalam pengawasan pemiliknya. Dalam bahasa Arab, yang disebut dengan naahib (perampas) adalah orang yang mengambil barang dengan paksa dan menggunakan kekuatan. Sedangkan yang dimaksud dengan saariq (pencuri) adalah orang yang mengambil barang sewaktu pemiliknya lengah. Ketika syaithan membujuk orang yang sedang shalat untuk menoleh ke arah mana saja tanpa ada keperluan, maka dia serupa dengan mukhtalish. Dinamakan dengan ikhtilash karena sebagai ungkapan buruk perbuatan yang dilakukan oleh pelakunya, sebab orang yang sedang shalat pada hakikatnya sedang menghadap Rabb-nya Subhanahu wa Ta’ala, dan syaithan akan selalu mengintai kelengahannya. Ketika dia menoleh itulah syaithan akan mencuri kesempatan dan menguasai kondisi tersebut. (Fathul Baari II/235)
Namun shalat tidak menjadi batal karena menoleh kecuali jika sampai berpaling dari arah kiblat atau membelakanginya. Ibnu Abdil Barr berkata, “Jumhur ulama mengatakan bahwa menoleh yang ringan (tidak keterlaluan) tidak menyebabkan shalat menjadi rusak.”
Mengenai memejamkan mata dalam shalat, Ibnul Qayyim berkata, “Memejamkan mata bukanlah ajaran yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika shalat. Telah dijelaskan bahwa beliau memandang jari telunjuknya ketika duduk tasyahhud dan pandangan beliau tidak melebihi jari telunjuknya itu.”
Al-Fairuz Abadi berkata, “Dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membuka kedua matanya al-mubarakah (yang penuh berkah) ketika mengerjakan shalat. Beliau tidak memejamkannya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang yang ahli ibadah.” (Safar as-Sa’adah hal. 20)
Banyak hadits yang membuktikan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak memejamkan kedua matanya ketika shalat. Di antaranya ketika beliau menghalangi binatang yang hendak lewat di hadapannya ketika shalat, melihat surga dan neraka, ketika menghalangi seorang pemuda dan wanita yang akan lewat di depannya dan ketika syaithan datang kepadanya ketika shalat lantas beliau memegang dan mencekiknya.
Para ulama masih memperselisihkan apakah memejamkan mata ketika shalat makruh atau tidak. Bahkan ada sebagian ulama yang membolehkannya karena memejamkan mata sangat membantu seseorang untuk khusyu yang menjadi ruh shalat. Namun yang benar jika tanpa memejamkan mata bisa mengerjakan shalat dengan khusyu, maka itu lebih afdhal. Sedangkan apabila benda yang berada di hadapannya bisa mengganggu konsentrasinya , maka tidak makruh memejamkan mata. Bahkan yang mengatakan sunnah dalam kondisi seperti ini lebih mendekati dengan maksud syariat daripada memvonisnya sebagai perbuatan makruh. Wallahu a’lam.


**********

____________________
Rujukan:
Koreksi Total Ritual Shalat, Abu Ubaidah Masyhur Hasan Salman, Pustaka Azzam.

Kisah-kisah Menakjubkan Bakti Ulama Kepada Ibu


Bakti kepada orang tuaPerintah untuk berbakti kepada orang tua mungkin sudah sering kita dengar. Di berbagai pengajian, buku-buku dan artikel majalah yang kita baca sudah banyak menjelaskan berbagai dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang memerintahkan dan menganjurkan untuk berbuat baik kepada orang yang telah melahirkan kita. Namun barangkali masih jarang kita dengar contoh kongkrit dan kisah-kisah bakti para ulama salafus shalih kepada orang tua mereka khususnya kepada ibu mereka. Tindakan mereka tersebut tentu tidak lepas dari baik dan dalamnya pemahaman mereka terhadap ilmu yang mereka miliki sebagai ulama. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Berikut saya cuplikan beberapa kisah nyata yang menakjubkan tentang bakti kepada ibu.
Dari Dawud bin Qais dia berkata, “Abu Murrah pernah mengabarkan kepadaku bahwa bila Abu Hurairah hendak pergi, setelah mengenakan pakaian, dia datang kepada ibunya lalu berkata, ‘Semoga keselamatan dan berkah terlimpah kepadamu wahai Ibu. Semoga engkau mendapatkan balasan dari Allah karena dulu engkau telah memeliharaku.’ Kemudian bila pulang, dia pun mengatakan seperti itu.” (1)
Dari Mundzir ats-Tsauri dia berkata, “Muhammad bin al-Hanafiyah biasa menyisir rambut ibunya.” (2)
Abdullah bin Ja’far bin Khaqan al-Maruzi (Bandan) berkata , “Muhammad bin Basyir bin Utsman pernah berkata, ‘Pernah ketika saya bermaksud untuk keluar (setelah saya mengumpulkan hadits-hadits dari para ulama Basrah), ibu saya melarang. Saya pun mentaati larangan ibuku. Karena ketaatanku itu saya mendapatkan berkah.’” (3)
Muhammad bin Munkadir berkata, “Pernah semalaman saya memijat kaki ibuku, sementara saudaraku Umar waktu itu semalaman juga melakukan shalat. Saya tidak menganggap amalan malam Umar lebih baik dari amalan malamku.” (4)
Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hanbali ketika menyebutkan biografi Abdullah bin Aun berkata, “Pernah suatu ketika dia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal itu dia membebaskan dua orang budak.” (5)
Dari Anas bin an-Nadhr al-Asyja’i dia berkata, “Suatu malam ibu Ibnu Mas’ud meminta air. Ibnu Mas’ud pun mengambil air, lalu dibawa kepada ibunya. Ternyata ibunya telah tertidur. Maka dia pun berdiri menunggui ibunya hingga pagi.” (6)
Al-Akhnasi pernah berkata, “Saya pernah mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saya pernah bersama Manshur bin al-Mu’tamir duduk-duduk di rumahnya. Tiba-tiba ibunya memanggil dengan nada agak kasar, ‘Wahai Manshur, anak laki-laki Hubairah membutuhkan kamu untuk suatu urusan. Apakah kamu enggan?!’ Manshur menempelkan jenggot pada dadanya, sedikitpun dia tidak berani mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajah kepada ibunya.” (7)
Suatu ketika Ibnul Hasan at-Tamimi hendak membunuh kalajengking, namun kalajengking itu masuk ke lubang. Dia beranikan diri merogohkan jari-jarinya ke lubang untuk menangkap kalajengking itu meskipun harus rela disengat. Orang-orang berkata kepadanya, “Kamu ini bagaimana?!” Dia menjawab, ‘Saya khawatir kalajengking tadi keluar lalu merayap ke tempat ibuku dan menyengatnya.’” (8)
Suatu ketika Umar ditanya, “Bagaimana bentuk bakti anakmu kepadamu?” Umar menjawab, “Setiap kali berjalan di siang hari bersamaku, dia selalu berjalan di belakangku dan setiap kali berjalan di malam hari bersamaku, dia selalu berjalan di depanku. Begitu pula ketika tidur , dia tidak pernah tidur di atas bila saya berada di bawah.” (9)
Dari Muhammad bin Sirin dia berkata, “Pada zaman Utsman harga kurma sangat mahal hingga mencapai seribu dirham. Meskipun begitu Usamah tetap berani membelinya. Dia beli kurma tadi lalu dia kupas kulitnya kemudian diberikannya kepada ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu berani membeli kurma dengan harga seribu dirham?’ Dia menjawab, ‘Saya punya prinsip, bila ibu saya meminta sesuatu yang saya mampu memenuhinya pasti akan saya penuhi.” (10)
Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu dalam satu piring?” Dia menjawab, “Saya khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan ibuku. Karena menurutku itu termasuk tindakan durhaka kepadanya.” (11)
Semoga Allah merahmati mereka para pendahulu kita yang shalih dan menjadikan kita termasuk golongan mereka.
***

___________________________
Rujukan:
Kisah Teladan Bakti Anak Kepada Ibu Bapak, Ibrahim bin Abdullah Musa al-Hazimi, Penerbit Media Hidayah 2004
(1) Hadits hasan diriwayatkan Bukhari dalam al-Adabul Mufrad dan lainnya.
(2) Al-Birr wa Shilah no 34. Para periwayat atsar ini orang-orang yang tsiqah.
(3) Siyar A’lam an-Nubala XII/145
(4) Siyar A’lam an-Nubala V/405
(5) Ahsan al-Mahasin karya Abu Ishaq hal. 348
(6) Birrul Walidain karya Ibnul Jauzi hal. 550
(7) Siyar A’lam an-Nubala V/359
(8) Tahdzib Siyar A’lam an-Nubala hal. 541
(9) ‘Uyun al-Akhbar III/97 dan Birrul Walidain hal. 53
(10) Ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad II/527
(11) Muhadharat al-Adiba hal 327 dan Wafayat al-A’yan III/268

Akibat Tersebarnya Berita Kejahatan dan Kemungkaran


Akibat tersebarnya berita-berita kejahatanBagi penikmat media-media berita baik itu koran maupun televisi niscaya akan sering mendengar dan membaca berbagai berita tentang perbuatan kriminal dan mungkar. Entah itu berita korupsi, perzinaan, perselingkuhan, pencurian, pembunuhan, penyiksaan, kerusakan akhlak dan lain sebagainya. Memang berita-berita tersebut sudah menjadi konsumsi yang digemari banyak orang dan sumber pemasukan untuk menyedot banyak pembaca bagi media-media tersebut. Sebagian mungkin beranggapan bahwa itu perlu diketahui dalam rangka kontrol sosial, mengetahui waqi’ (realitas umat) dan sebagai bahan untuk mengkritik pemerintah. Namun pada kenyataannya yang banyak terjadi hanyalah sekedar konsumsi mata dan hati tatkala beristirahat selepas kerja, untuk refreshing dan dianggap ‘hiburan’ oleh kebanyakan orang yang tidak memiliki kemampuan atau kekuasaan apa-apa untuk merubahnya. Jangan-jangan dalam hatinya pun tidak terbersit rasa benci sama sekali.
Seorang ulama, Syaikh Musthafa al-Adawy, menjelaskan secara ringkas tentang hal yang berkaitan dengan memperdengarkan berita-berita buruk ini. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


لا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًاعَلِيمًا

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nisa: 148)
Yang demikian itu karena kata-kata buruk akan membantu tersebarnya kejahatan dan kemaksiatan.
Contoh sederhana saja, jika anda mendengar beberapa orang bercerita bahwa si fulan melakukan zina, anda pasti tidak senang dan anda akan membenci si fulan yang berzina. Setelah beberapa hari anda mendengar kabar bahwa fulan yang lain berzina dengan mahramnya, maka rasa benci anda kepada pelaku zina yang pertama akan berkurang dan kebencian itu akan terarah kepada pelaku zina dengan mahramnya. Bebeapa hari kemudian anda mendengar masyarakat bercerita bahwa fulan yang lain lagi melakukan zina di tempat umum dan terbuka, di pinggir jalan. Mendengar kabar itu pasti anda akan lupa dari pelaku zina dengan mahramnya dan kebencian anda akan terarah kepada pelaku zina di tempat umum. Jadi begitulah, kemungkaran akan menjadi hal biasa jika banyak dibicarakan.
Jika ada di sebuah kampung di mana tidak ada satu pun dari penduduknya yang meminum minuman keras, kemudian pada suatu ketika terdengar kabar bahwa salah satu penduduknya meminum minuman keras, maka semua penduduk akan membenci peminum itu. Namun jika mereka pergi ke kota dan melihat minuman keras dijual di pinggir-pinggir jalan dan begitu sering dibicarakan, maka perbuatan itu lambat laun akan dianggap sebagai perbuatan biasa. Oleh karenanya mengucapkan kata-kata buruk tidak diperkenankan.
Alloh berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)
Dan sudah dipaparkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

فليقل خيرا او ليصمت

“… maka ucapkanlah kata-kata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ini akan mencegah tersebarnya keburukan.

Demikian penjelasan Syaikh Musthafa al-Adawy.
Apabila kita bisa menjaga diri dari menyebarkan berita-berita buruk, maka selanjutnya seperti halnya kita menjaga kesehatan tubuh dengan menghindari mengkonsumsi makan-makanan yang buruk yang bisa merusak kesehatan, maka terlebih lagi jika itu adalah makanan hati. Bacaan dan ilmu ibarat makanan bagi hati dan akal. Permasalahan ini cakupannya tentu akan lebih luas lagi, tidak hanya sekedar masalah bacaan atau tontonan di media massa.
Ternyata mati rasa tidak hanya terjadi pada kulit, tetapi bisa juga terjadi pada hati. Wallohu a’lam wa nas’alulloha al’afiyah.


***

____________________
Rujukan:
Fikih Akhlak, Musthafa al-Adawy, Penerbit Qisthi Press 2005

Untuk Para Lelaki Yang Menunda-nunda Untuk Menikah


Bunga pernikahan. Courtesy of Bride and Groom Magazine.Konon menurut data statistik umumnya pria menikah pada usia 27 tahun dan wanita pada usia 25 tahun. Tentunya itu bukan patokan untuk menikah, karena siapa saja yang sudah mampu untuk menikah maka dianjurkan untuk segera menikah. Dan Alloh menjanjikan rizki bagi mereka yang menikah.
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An-Nuur: 32)
Berapakah umur anda sekarang? Barangkali anda belum berminat untuk segera menikah? Silakan simak motivator-motivator berikut ini:
1. Mendapatkan ketenangan dan rasa kasih sayang
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

artinya, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (Ar-Rum: 21)
2. Agar termasuk golongan Rasulullah
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas, katanya : “Ada tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan setelah diberitakan kepada mereka, sepertinya mereka merasa hal itu masih sedikit bagi mereka. Mereka berkata, ‘Ibadah kita tak ada apa-apanya dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bukankah beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan juga yang akan datang?’ Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sungguh, aku akan shalat malam selama-lamanya.’ Kemudian yang lain berkata, ‘Kalau aku, maka sungguh, aku akan berpuasa Dahr (setahun penuh) dan aku tidak akan berbuka.’ Dan yang lain lagi berkata, ‘Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya.’ Kemudian datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka seraya bertanya: ‘Kaliankah yang berkata begini dan begitu. Ada pun aku, demi Allah, adalah orang yang paling takut kepada Allah di antara kalian, dan juga paling bertakwa. Namun aku berpuasa dan juga berbuka, aku shalat dan juga tidur, dan aku menikahi wanita. Barangsiapa yang benci sunnahku, maka bukanlah golonganku.’ (Muttafaq alaihi)
3. Agar bisa menjadi orang terbaik

خَيْرِكُمْ خَيْرِكُمْ لأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرِكُمْ لأَهْلِيْ

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku”. (HR. Ibnu Majah)
4. Bisa mendapatkan pahala sedekah dengan mudah dan berulang-ulang
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula kepada Sa’ad bin Abi Waqas radhiyallahu ‘anhu, “Sungguh tidaklah kamu menginfakkan suatu infak semata untuk mencari wajah Allah melainkan kamu mendapatkan pahala padanya. Bahkan apa yang kamu letakkan pada mulut istrimu.” (Muttafaq ‘alaih).
“Dan nafkah yang diberikan seseorang kepada ahlinya, istrinya dan keluarganya adalah sedekah” (HR Muslim)
Seandainya punya isteri plus anak 2 saja, sehari 3 kali memberi mereka makan, pakaian dsb, setahun berapa banyak telah bersedekah…? Dan itu tidak terasa bahwa sang suami telah bersedekah walau hanya karena menunaikan kewajiban asal sejak awal sudah diniatkan lillahi Ta’ala.
5. Bahkan itu adalah sedekah yang paling utama
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Satu dinar yang kamu infakkan di jalan Allah, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk membebaskan budak, dan satu dinar yang kamu sedekahkan untuk orang miskin, dan satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu, maka yang paling utama adalah satu dinar yang kamu infakkan untuk istrimu.” (HR. Muslim).
6. Menunaikan syahwat sekaligus bersedekah dan berpahala
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan dalam persetubuhan kalian terdapat sedekah” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah! Salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya (kepada istrinya). Apakah ia mendapatkan pahala padanya?! Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Bagaimana menurutmu, seandainya seseorang menyalurkan syahwatnya pada suatu yang haram, apakah ia berdosa? Maka demikian sebaliknya jika ia menyalurkannya pada suatu yang halal, ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
7. Berpotensi mendapatkan pahala yg mengalir terus-menerus walau telah wafat dengan memiliki anak shalih
“Jika mati anak Adam terputuslah amalannya melainkan tiga perkara: Ilmu yang boleh dimanfaatkan, sedekah jariah (yang manfaatnya terus-menerus) serta anak yang shalih yang mendoakannya (dengan kebaikan).” (HR Muslim)
Bayangkan kita mengajarkan kebaikan kepada anak-anak yang kemudian diamalkan oleh mereka dan lalu mereka mengajarkannya kepada keturunan-keturunan mereka dan seterusnya.
“Barangsiapa yang memulai sunnah yang baik dalam Islam, maka baginya pahala dan pahala orang-orang yang mengikuti amal itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun…” (HR Muslim)
8. Bisa mendapatkan pelindung dari api neraka
“… barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)
9. Bisa mendapat kejutan di akhirat kelak karena anak
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Siapa yang membaca Al Qur’an mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikanlah mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya: “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Qur’an” (Hadits diriwayatkan oleh Al Hakim)
10. Memenuhi hak ibu dan ayah
Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah siapakah di antara manusia yg paling berhak utk aku berbuat baik kepadanya?” Rasulullah menjawab “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya lagi. “Ibumu” jawab beliau. Kembali orang itu bertanya lagi “Kemudian siapa?” “Ibumu.” “Kemudian siapa?” tanya orang itu lagi. “Kemudian ayahmu” jawab Rasulullah.  (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Umumnya para ibu dan ayah menghendaki anaknya segera menikah. Mengapa tidak untuk menyenangkan dan memenuhi keinginan mereka kalau kita mampu memenuhinya…? Bahkan berbuat baik kepada ibu dan ayah lebih didahulukan daripada berbuat baik kepada orang lain.
Demikianlah 10 motivator atau alasan kuat untuk segera menikah yang bisa saya kumpulkan. Silakan bagi pembaca yang mempunyai motivator-motivator lain untuk menambahkannya pada bagian komentar. Jazaakumullohu khairan.


*********

________________________
Dirangkum dari berbagai sumber.

Program Gratis Untuk Menulis Huruf Arab dan Terjemah al-Qur’an


Arabic Pad 1.4Bagi anda yang suka menulis makalah atau artikel-artikel islami kerap kesulitan tatkala harus menulis tulisan Arab, baik dalam hal penulisan huruf-huruf dan tanda harokatnya maupun arah penulisan dari kanan ke kiri atau RTL (right to left). Tidak banyak orang yang faham bagaimana cara mensetting komputer Windows-nya agar bisa melakukan penulisan dari kanan ke kiri dan menulis huruf Arab lengkap dengan tanda harokatnya.
Namun alhamdulillah ada suatu program buatan anak bangsa yang khusus dibuat untuk menulis Arab dengan mudah – Arabic Pad 1.4. Program tersebut bahkan bisa digunakan dan diunduh secara gratis di websitenya. Di antara kelebihan program tersebut yang saya rasakan adalah kemudahan dalam menulisnya dibanding menggunakan Word, mudah dalam menambahkan berbagai tanda harokat, serta ukuran programnya yang kecil, tidak lebih dari 50 kB. Hasil tulisan kita di Arabic Pad tinggal kita copy paste ke program word editor. Bagi pengguna Windows XP kemungkinan masih perlu ada sedikit setting yang harus dilakukan, namun bagi pengguna Windows 7 insya Alloh lebih mudah.

Bagi anda yang berminat silakan anda download di link di atas.
Di samping itu ada juga program gratis yang menampilkan terjemah al-Qur’an berbahasa Indonesia – Terjemah al-Qur’an 1.5. Masih dari pembuat yang sama dengan Arabic Pad. Kelebihan dari program tersebut adalah memiliki fasilitas pencarian yang sangat cepat dan ukurannya yang hanya 271 kB. Namun program tersebut hanya menampilkan terjemahannya saja tanpa disertai tulisan Arabnya.
Saya ucapkan jazaakallahu khairan kepada Mas Ebta Setiawan atas usahanya yang bermanfaat ini.


***
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU