Minggu, 28 Juli 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH YUSUF AYAT 41 - 60 ( 03 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: YUSUF
Ayat [111]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/6
41 Hai kedua temanku dalam penjara:` Adapun salah seorang di antara kamu berdua, akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku). `(QS. 12:41)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 41 

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَمَّا أَحَدُكُمَا فَيَسْقِي رَبَّهُ خَمْرًا وَأَمَّا الْآخَرُ فَيُصْلَبُ فَتَأْكُلُ الطَّيْرُ مِنْ رَأْسِهِ قُضِيَ الْأَمْرُ الَّذِي فِيهِ تَسْتَفْتِيَانِ (41

Maka pada ayat ini barulah diterangkan takwil mimpi kedua pemuda itu oleh Yusuf. Berkatalah Yusuf: "Hai kedua kawan penghuni penjara, adapun mimpi yang pertama, takwilnya ialah bahwa dia segera akan keluar dari penjara ini dan kembali bekerja seperti dulu sebelum masuk penjara, yaitu sebagai tukang siram kebun raja dan akan memberi minum raja dengan khamar. Takwil mimpi kedua, bahwa dia akan dihukum salib lalu bangkainya dan sebagian dari kepalanya akan dimakan burung. Begitulah takwil mimpi yang kamu tanyakan kepada saya sebagai wahyu yang telah diwahyukan kepadaku."


42 Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua:` Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu. `Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya.(QS. 12:42)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 42 

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِنْهُمَا اذْكُرْنِي عِنْدَ رَبِّكَ فَأَنْسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ (42

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Yusuf berpesan kepada pemuda yang keluar dengan takwil yang baik agar disampaikan kepada raja di dalam penjara masih banyak orang yang tidak bersalah dihukum. Mereka dihukum karena tuduhan-tuduhan yang tidak benar agar hal ini menjadi perhatian oleh raja. Sampaikanlah juga kepada raja apa yang engkau lihat dan yang engkau dengar sekitar aku dan sampaikan seruanku untuk menganut agama tauhid dan lain-lain apa yang terjadi selama engkau dalam penjara. Rupanya pemuda itu setelah sampai di luar lupa menyampaikan pesan-pesan Yusuf kepada raja sehingga Yusuf terpaksa meringkuk dalam penjara beberapa tahun lamanya.


43 Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya):` Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan tujuh butir lainnya yang kering. `Hai orang-orang yang terkemuka:` Terangkanlah kepadaku tentang ta_bir mimpiku itu jika kamu dapat mena_birkan mimpi. `(QS. 12:43)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 43 

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ (43

Dalam ayat ini diterangkan bahwa raja pada suatu ketika bermimpi yang sangat ajaib sekali dan sangat menggelisahkan hatinya. Belum pernah raja bermimpi seperti itu selama hidupnya. Maka dikumpulkannya semua orang cerdik pandainya, juru-juru tenung dan pembesar-pembesar kerajaannya. Lalu dia berkata: "Aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk dimakan tujuh ekor sapi yang kurus, aku melihat tujuh bulir gandum yang subur dan tujuh bulir pula yang kering. Cobalah kamu ceritakan takbir mimpiku itu kalau di antara kamu ada yang mempunyai ilmu takbir mimpi."


44 Mereka menjawab:` (Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu mena_birkan mimpi itu. `(QS. 12:44)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 44 

قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ (44

Permintaan raja itu tidak seorang pun yang dapat memecahkannya. Bermacam-macam pendapat mereka, ada yang mengatakan, bahwa itu adalah sebagai mimpi permainan tidur saja dan ada pula yang mengatakan bahwa itu adalah pengaruh angan-angan di waktu tidur yang tidak mempunyai arti apa-apa. Terhadap mimpi yang seperti itu, kami tidak mempunyai ilmu untuk mencarikan takbirnya.


45 Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya:` Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena_birkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya). `(QS. 12:45)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 45 

وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِي (45

Raja tidak bersenang hati mendengar jawaban mereka itu dan raja bertambah gelisah tampaknya. Raja ingin hendak mengetahui takbir mimpinya, tetapi tidak tahu kepada siapa akan ditanyakan. Setelah tukang siram kebun raja yang pernah meringkuk dalam penjara bersama Yusuf mendengar kabar ini, dia teringat akan Yusuf yang sedang meringkuk dalam penjara yang pernah menakwilkan mimpinya sendiri dengan tepat. Dia dengan cepat-cepat datang menghadap raja seraya berkata: "Ya tuanku, di dalam penjara ada seorang pemuda bernama Yusuf. Dia seorang yang mulia, mempunyai pikiran yang dalam, pandangan yang luas, dapat membukakan keajaiban-keajaiban alam dengan akalnya dan dapat pula menakbirkan mimpi dengan tepat. Kalau tuanku utus saya kepadanya, pastilah saya kembali dengan membawa tabir mimpi tuanku itu yang tentunya akan meyakinkan tuanku kebenarannya.


46 (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru):` Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh butir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya. `(QS. 12:46)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 46 

يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ (46

Raja gembira mendengar pendapat tukang siram kebunnya itu, lalu mengutusnya untuk menemui Yusuf dalam penjara. Sesampainya di penjara dan bertemu dengan Yusuf, dia berkata: "Hai Yusuf, saudaraku yang mulia yang dapat dipercaya. Saya datang kepadamu untuk meminta suatu takbir mimpi, yaitu tujuh ekor sapi yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus dan tujuh bulir gandum yang hampa kering dan ada pula tujuh bulir gandum yang rimbun. Mudah-mudahan saya kembali telah dapat membawa takbir mimpi itu dari engkau dan supaya dapat diketahui oleh orang banyak yang tentunya mereka akan berterima kasih kepadamu atas segala kelebihan dan kebaikan yang engkau berikan itu."


47 Yusuf berkata:` Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.(QS. 12:47)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 47 

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تَأْكُلُونَ (47
 
Dengan segala kemurahan hati Yusuf menerangkan takbir mimpi raja itu seolah-olah Yusuf menyampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya. Katanya: "Wahai raja dan pembesar-pembesar negara semuanya, kamu akan menghadapi suatu masa tujuh tahun lamanya penuh dengan segala kemakmuran dan keamanan. Ternak berkembang biak, tumbuh-tumbuhan subur, dan semua orang akan merasa senang dan bahagia. Maka galakkanlah rakyat bertanam dalam masa tujuh tahun itu. Hasil dari tanaman itu harus kamu simpan, gandum disimpan dengan tangkai-tangkainya supaya tahan lama. Sebagian kecil kamu keluarkan untuk dimakan sekadar keperluan saja."


48 Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang akan kamu simpan.(QS. 12:48)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 48 

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّا تُحْصِنُونَ (48

Sehabis masa yang makmur itu akan datang masa yang penuh kesengsaraan dan penderitaan selama tujuh tahun pula. Pada waktu itu ternak habis musnah, tanaman-tanaman tidak berbuah, udara panas, musim kemarau panjang. Sumber-sumber air menjadi kering dan rakyat menderita kekurangan makanan. Semua simpanan makanan akan habis kecuali tinggal sedikit untuk kamu jadikan benih.


49 Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur. `(QS. 12:49)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 49 

ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ (49

Kemudian sesudah berlalu masa kesulitan dan kesengsaraan itu, maka datanglah masa hidup makmur, aman dan sentosa. Di masa itu bumi menjadi subur, hujan turun sangat lebatnya, manusia kelihatan beramai-ramai memeras anggur dengan aman dan gembira. Mereka telah duduk bersantai menikmati buah-buahan hasil kebunnya bersama anak-anak dan keluarganya. Itulah takbir mimpi raja itu saya sampaikan kepadamu untuk saudara sampaikan kepada raja dan pembesar-pembesarnya.


50 Raja berkata:` Bawalah dia kepadaku. `Maka tatkala utusan itu datang kepada Yusuf, berkatalah Yusuf:` Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakanlah kepadanya bagaimana halnya wanita-wanita yang telah melukai tangannya. Sesungguhnya Tuhanku, Maha Mengetahui tipu daya mereka. `(QS. 12:50)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 50 

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللَّاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ (50

Dalam ayat ini diterangkan bagaimana tertariknya raja dengan takbir mimpi yang disampaikan oleh utusannya itu sehingga raja ingin sekali bertemu langsung dengan Yusuf, maka raja memerintahkan kembali menemui Yusuf di penjara lalu berkata: "Pergilah engkau temui Yusuf di penjara dan bawalah dia kemari, supaya langsung aku mendengarkan perkataannya dan aku dapat mengukur sampai di mana tinggi ilmunya dan luas pandangannya. Mudah-mudahan ilmunya itu dan pandangan-pandangannya itu berguna bagiku untuk keselamatan bangsa dan negaraku." Maka utusan itu pergi menemui Yusuf dan menyampaikan panggilan raja terhadap dirinya agar ia datang menghadap raja, sebab raja membutuhkan nasihat-nasihatmu dan akan mengangkatmu ke derajat yang tinggi. Yusuf memenuhi panggilan raja. Tetapi sebelum Yusuf datang menghadap, Yusuf minta kepada utusan raja itu agar dia kembali dan menanyakan kepada raja tentang peristiwa perempuan-perempuan yang sudah memotong jarinya sendiri dengan pisau supaya diketahui dengan jelas duduk perkaranya yang sebenarnya mengenai hal itu supaya dia datang menghadapnya dalam keadaan bebas dari tuduhan-tuduhan. Tuhanku lebih mengetahui tentang tipu daya perempuan-perempuan itu.


51 Raja berkata (kepada wanita-wanita itu):` Bagaimana keadaanmu ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)? `Mereka berkata:` Maha Sempurna Allah, kami tiada mengetahui sesuatu keburukan daripadanya. `Berkata isteri Al Aziz:` Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. `(QS. 12:51)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 51 

قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ الْآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (51

Setelah utusan kembali menemui raja dan menyampaikan permintaan Yusuf kepadanya, maka dengan segera raja memanggil semua perempuan-perempuan yang memotong jarinya itu dan berkata: "Bagaimana pandanganmu terhadap Yusuf ketika kamu menggodanya dulu? Sebab Yusuf akan aku keluarkan dari penjara." Mereka menjawab: "Bahwa Yusuf seorang pemuda yang suci murni, Maha Sempurna Allah, kami tiada melihat sesuatu yang buruk padanya." Berkatalah pula istri Perdana Menteri yang tergila-gila dan terus menggoda Yusuf selama bersama-sama tinggal di rumahnya: "Memang sudah terlalu lama Yusuf dalam penjara tanpa kesalahan apa-apa. Sayalah yang bersalah karena aku tidak dapat menahan hawa nafsuku, aku selalu menggodanya. Sekarang jelaslah kebenaran itu, bahwa Yusuf tidak bersalah dan dia termasuk orang-orang yang benar."


52 (Yusuf berkata):` Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat.(QS. 12:52)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 52 

ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ (52

Ayat ini menerangkan pengakuan Zulaikha yang terus terang mengatakan bahwa dialah yang bersalah, dialah yang menggoda tetapi Yusuf tetap enggan dan berpaling karena takut kepada Tuhannya. Semuanya itu menjadi bukti tentang kejujurannya. Ia tidak mau berdusta terhadap Yusuf walaupun Yusuf dalam penjara. Juga supaya diketahui oleh suaminya bahwa dia berterus terang seperti itu menunjukkan bahwa dia bersih, terpelihara dari perbuatan keji karena kekuatan iman Yusuf. Istrinya tidak mau dituduh pengkhianat sebab Allah swt. tidak akan memberi petunjuk kepada setiap pengkhianatan.


53 Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 12:53)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 53 

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (53

Dengan perasaan yang amat terharu dan sesal yang amat mendalam, istri Al-Aziz mengakui bahwa dia tidak dapat membersihkan dirinya dari kesalahan dan keterlanjuran dan memang dialah yang telah mengkhianati suaminya dengan merayu Yusuf ketika suaminya tidak di rumah. Untuk mempertahankan nama baiknya dan nama baik suami dan keluarganya dia telah menganjurkan supaya Yusuf dipenjarakan atau ditimpakan kepadanya siksaan yang pedih. Dia telah melakukan kesalahan berganda yaitu berdusta dan memfitnah orang yang jujur dan bersih sehingga dia dijebloskan dalam penjara. Sebagai alasan bagi kesalahan dan keterlanjurannya itu dia mengemukakan bahwa memang jiwa manusia itu condong kepada berbuat maksiat karena dorongan hawa nafsu dan syahwatnya, dan bujukan setan yang selalu berusaha untuk menjerumuskan ke lembah kehinaan dan dorongan ingin mempertahankan kedudukan, kehormatan dan sebagainya. Begitulah sifat manusia pada umumnya kecuali orang-orang yang telah mendapat rahmat Allah, orang-orang yang teguh imannya, teguh pendiriannya, kuat jiwanya sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh hawa nafsu dan bujukan setan. Berkata istri Al-Aziz: "Saya memang telah bersalah besar dan amat menyesali keterlanjuran saya itu dan memohon kepada Allah atas semua dosa dan kesalahan saya semoga doaku ini dikabulkan-Nya, karena Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


54 Dan raja berkata: `Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku`. Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, dia berkata: `Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami`.(QS. 12:54)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 54 

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (54

Dalam suasana yang sangat mengharukan itu raja memerintahkan supaya Yusuf dijemput ke penjara dan dibawa menghadap ke istana. Di istana, Yusuf menerangkan kepada raja semua pengalamannya semenjak dia tinggal di istana Al-Aziz sampai dia masuk penjara dan akhirnya dapat bertemu muka dengan raja. Mendengar penjelasan Yusuf timbullah keyakinan dalam hati raja bahwa dia benar-benar seorang yang jujur dan setia, seorang yang penuh rasa tanggung jawab, seorang yang berbudi mulia, seorang yang berilmu, seorang yang tabah dan kuat imannya. Karena keyakinan itu raja mengumumkan di hadapan pembesar dan pemimpin negara bahwa dia telah mengangkat Yusuf menjadi orang kepercayaannya. Semua urusan negara diletakkan di bawah pimpinan dan tanggung jawabnya, dialah yang berhak sepenuhnya mengendalikan pemerintahan, dialah satu-satunya orang yang dapat berhubungan langsung dengan raja. Menurut riwayat Ibnu Abbas: Ketika utusan raja sampai di penjara dia berkata kepada Yusuf: "Tanggalkanlah baju penjara yang engkau pakai itu, pakailah baju baru ini dan marilah bersama saya menghadap raja." Semua penghuni penjara berdoa untuknya, demikian pula sebaliknya Yusuf berdoa pula untuk mereka. Ketika sampai di istana, raja merasa sangat heran karena dilihatnya Yusuf masih muda (waktu itu umurnya lebih kurang 30 tahun). Apakah dia yang masih muda ini telah dapat menakbirkan mimpiku dengan tepat, sedangkan semua para ahli sihir dan pemuka-pemuka agama di negeriku tidak ada yang dapat menakbirkannya. Lalu raja memerintahkan supaya dia duduk di hadapannya dan bertitah: "Janganlah engkau merasa takut, lalu dikalungkan ke lehernya kalung emas dan diberi jubah kebesaran dari sutra dan disediakan pula untuknya kuda berpelana yang dihiasi berbagai macam hiasan dan dipukulkan genderang di seluruh pelosok negeri Mesir sebagai pertanda dan pernyataan bahwa Yusuf telah diangkat menjadi khalifah (tangan kanan) raja. Demikian riwayat Ibnu Abbas. Kemudian raja bertitah: "Semenjak hari ini engkau mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi kami dan kami angkat engkau sebagai seorang yang terpercaya, kami percayakan kepadamu semua urusan negara."


55 Berkata Yusuf: `Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan`.(QS. 12:55)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 55 

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الْأَرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (55

Kemudian raja bermusyawarah dengan Yusuf mengenai mimpinya dan bagaimana tindakan yang paling baik untuk menanggulangi tujuh tahun masa kering. Yusuf meminta kepada raja supaya diserahkan kepadanya semua urusan yang berhubungan dengan produksi pertanian agar dia dapat mengaturnya dengan sebaik-baiknya sehingga tidak akan terjadi kelaparan walaupun musim kemarau amat panjang. Selanjutnya Yusuf mengetengahkan rencana jangka panjangnya dan berkata: "Dalam musim subur yang panjang itu hendaklah dipergiat pekerjaan pertanian dan kepada seluruh rakyat diperintahkan supaya jangan ada tanah kosong yang tidak ditanami. Kemudian dibangun gudang-gudang yang besar yang dapat menampung semua hasil tanaman dan disimpan di sana dengan batang-batangnya agar tahan lama. Kemudian bila datang musim kemarau yang panjang itu, dapatlah kita ambil simpanan itu sedikit demi sedikit, sedang batang gandum itu boleh kita manfaatkan untuk makanan ternak." Raja sangat gembira mendengar pendapat Yusuf dan bertambah kuatlah kepercayaannya kepada kecerdasan dan kebijaksanaannya dan semua usul Yusuf itu dapat diterimanya. Janganlah urusan pertanian bahkan semua urusan negara telah diserahkan bulat-bulat kepadanya. Maka dengan demikian jadilah Yusuf sebagai penguasa yang sangat disegani, dihormati dan disayangi di Mesir.


56 Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja ia kehendaki di bumi Mesir itu. Kami melimpahkan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.(QS. 12:56)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 56 

وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (56

Demikianlah Allah mengatur langkah-langkah tahap demi tahap untuk menempatkan Yusuf pada kedudukan yang tinggi dan terhormat di negara Mesir dan berkuasa penuh di setiap pelosok negeri itu sesuai dengan sunah-Nya yang dimulai dengan mimpinya melihat 11 buah bintang, matahari dan bulan sujud kepadanya yang menyebabkan ayahnya Yakub bertambah sayang kepadanya dan karena itu saudara-saudaranya bertambah dengki dan iri terhadapnya. Kemudian dia dimasukkan ke dalam sumur, lalu diambil oleh kafilah yang hendak pergi ke Mesir. Lalu dijual kepada penguasa di sana (Al-Aziz) dengan harga yang amat murah sampai ia menetap di istana sebagai salah seorang keluarga yang dipercaya. Kemudian ia digoda oleh istri Al-Aziz dan difitnah sehingga dijebloskan ke dalam penjara. Dalam penjara dia dikaruniai Allah ilmu menakbirkan mimpi dan menakbirkan mimpi penghuni penjara. Akhirnya ia menakbirkan mimpi raja dan setelah istri Al-Aziz sendiri mengakui bahwa Yusuf tidak bersalah, timbullah kepercayaan raja terhadap dirinya sebagai orang yang jujur, setia tabah dan sabar menghadapi cobaan, berakhlak mulia, berilmu dan bijaksana, dia diangkat sebagai penguasa. Semua kejadian itu merupakan suatu rentetan yang jalin-berjalin sangat erat hubungan satu dengan yang lainnya yang pada mulanya seakan-akan dia sudah ditakdirkan untuk selalu dirundung malang, tetapi pada akhirnya dia mendapat keberuntungan dan kebahagiaan. Dia sampai di Mesir sebagai seorang budak belian, tetapi kemudian dia menjadi orang yang paling dihormati dan disegani di sana. Kalau bukanlah dia seorang manusia yang jujur dan ikhlas, suka berbuat baik dalam segala tindakannya tentulah Allah tidak akan mengaruniakan kepadanya nikmat yang sebesar itu. Demikianlah Allah memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan sesungguhnya Allah akan memberi balasan yang berlipat ganda bagi setiap orang yang berbuat baik.


57 Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.(QS. 12:57)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 57 

وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (57

Di samping balasan di dunia Allah menyediakan pula di akhirat balasan yang lebih baik, lebih berharga dan lebih membahagiakan bagi orang-orang yang tetap beriman dan selalu bertakwa kepada-Nya yaitu surga Jannatun na'im yang terdapat di dalamnya segala macam nikmat dan kesenangan yang belum pernah terlihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.


58 Dan saudara-saudara Yusuf datang (ke Mesir) lalu mereka masuk ke (tempat) nya. Maka Yusuf mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya.(QS. 12:58)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 58 

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (58

Untuk memenuhi permintaan Yakub, berangkatlah saudara-saudara Yusuf kecuali Bunyamin karena tidak diizinkan oleh Yakub untuk membeli bahan makanan yang sangat mereka perlukan. Ketika sampai di sana mereka langsung menemui Yusuf dengan harapan akan segera dapat membeli bahan makanan, karena urusan ini sepenuhnya berada di tangan Yusuf. Ketika mereka masuk menghadap, tahulah Yusuf bahwa yang datang itu adalah saudara-saudaranya sendiri, karena rupa dan jenis pakaian mereka masih melekat dalam ingatannya apalagi dengan jumlah mereka sepuluh orang pula. Berkatalah Yusuf dalam hatinya tidak diragukan lagi mereka ini adalah saudara-saudara saya. Sebaliknya mereka tidak tahu sama sekali bahwa yang mereka hadapi adalah saudara mereka sendiri.
Mereka semua tidak lagi ingat bentuk Yusuf karena sudah lama berpisah apalagi yang mereka hadapi adalah seorang perdana menteri dengan pakaian kebesaran dan tanda-tanda penghargaan berkilau di bajunya. Tidak mungkin Yusuf akan sampai kepada martabat yang amat tinggi itu karena mereka telah membuangnya ke dalam sumur dan kalau dia masih hidup tentulah dia akan menjadi budak beliau yang diperas tenaganya oleh tuannya.


59 Dan tatkala Yusuf menyiapkan untuk mereka bahan makanannya, ia berkata: `Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan sukatan dan aku adalah sebaik-baik penerima tamu?(QS. 12:59)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 59 

وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلَا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ (59

Yusuf mengabulkan permintaan mereka membeli barang-barang mereka dan menukarkan dengan bahan makanan dan memerintahkan supaya disiapkan untuk mereka 10 pikul bahan makanan dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan dalam perjalanan, karena mereka berjumlah sepuluh orang, masing-masing berhak mendapat satu pikul. Tetapi mereka menceritakan bahwa di kampung mereka ada lagi 2 orang yang sangat memerlukan bahan makanan yaitu seorang saudara dan seorang ayah mereka sendiri.
Mereka memohon supaya kepada mereka diberikan 12 pikulan sebab yang sepuluh pikulan itu hanya cukup untuk mereka saja: "Ayah kami tidak dapat datang kemari karena sudah tua dan lemah sedang saudara kami sengaja kami tinggalkan untuk menjaganya dan menyenangkan hatinya." Mendengar keterangan saudara-saudaranya itu Yusuf berkata: "Kalau demikian bawalah saudaramu itu kemari sebagai bukti bagi kami atas kebenaranmu dan kami akan mengabulkan permintaanmu itu. Kami telah melihat sendiri bahan-bahan makanan yang disediakan untuk kamu semua berjumlah 10 pikulan, karena kami hanya sanggup menyerahkan satu pikulan untuk satu orang. Selain dari itu selama di sini kamu semua sudah kami perlakukan dengan baik sebagai tamu kami karena begitulah biasanya kami memperlakukan tamu dengan sebaik-baiknya. Sekarang pulanglah kamu semua dan bawalah bahan makanan itu, kemudian kamu datang kembali membawa barang daganganmu untuk ditukar dengan bahan makanan tetapi dengan syarat harus membawa saudaramu sebagai bukti bagi kebenaran dan kejujuranmu."


60 Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat sukatan lagi daripadaku dan jangan kamu mendekatiku.`(QS. 12:60)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Yusuf 60 

فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلَا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلَا تَقْرَبُونِ (60

Jika kamu tidak membawa saudaramu itu maka kamu tidak akan mendapat bahan makanan sama sekali karena terbuktilah bagi kami kamu bukan orang-orang yang jujur. Orang-orang yang pembohong dan pendusta tidak akan mendapatkan layanan dari kami dan kami sangat membencinya. Sekali lagi kami tegaskan kepadamu, kalau kamu tidak membawa saudaramu itu janganlah diharapkan bahwa kalian akan diberi bahan makanan dan janganlah mencoba mendekat ke negeri kami apalagi menghadap kepada kami karena tidak ada tempat di sini bagi orang-orang yang tidak jujur.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [6]
Ayat 41 s/d 60 dari [111]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Keutamaan Shalat Berjama’ah di Mesjid

Keutamaan Shalat Berjama’ah di Mesjid

Allah mempersaksikan keimanan orang-orang yang memakmurkan masjidNya
Allah subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.”(At Taubah: 18)


Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i (bermadzhab Syafi’i) seorang ulama’ besar dan ahli tafsir menafsirkan ayat diatas:
“Allah subhanahu wata’ala bersaksi atas keimanan orang-orang yang mau memakmurkan masjid.”
(Al Mishbahul Munir tafsir At Taubah: 18)

Termasuk disini menuntut ilmu, shalat berjamaa’ah, dan amalan shalih lainnya.

Diberi balasan YANG LEBIH BAIK oleh Allah di hari Akhir, ditambahkan oleh Allah karuniaNya dan diberiNya rezeki dihari Akhirat tanpa batas.

Allah berfirman:

. فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ . رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ۙ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ ‪.‬ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.
(an-Nuur: 36-37)
Ibnu Katsir setelah menafsirkan:

يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
“Bertasbih kepadaNya didalam mesjid pada waktu petang dan pagi hari”
Beliau berkata:
“Siapakah yang mensucikan namaNya itu?” Jawabnya: رِجَالٌ (laki-laki).
Firman Allah رِجَالٌ (laki-laki) mengesankan tekad, niat dan kesungguhan mereka yang kuat dan tinggi untuk menjadi orang-orang yang memakmurkan mesjid, yang merupakan rumah Allah di bumiNya, yakni tempat beribadah kepadaNya, bersyukur, mentauhidkan dan mensucikanNya.
Allah berfirman:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah
sama seperti firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.
‪(Al-Munaafiqun: 9)‬
Ibnu Katsir menafsirkan:
Allah berfirman bahwa mereka tidak disibukkan dengan dunia beserta gemerlapnya, perhiasannya, kelezatan jual beli dan keuntugannya; dari mengingat Allah, Yang telah Menciptakan mereka dan Memberi mereka rezeki. Mereka tahu bahwa yang ada disisiNya lebih baik dan lebih bermanfaat daripada apa yang ada ditangan mereka. karena segala sesuatu yang mereka miliki pasti fana, dan apa-apa yang ada disisiNya pasti kekal abadi.
Oleh sebab itu Allah berfirman:

لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ
tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat.
Yakni mereka lebih mengutamakan ketaaatan, keinginan dan kecintaan kepadaNya daripada keinginan dan kecintaan terhadap diri mereka.
‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibn ‘Abbas, berkaitan dengan firman Allah:

لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah
yakni dari mengerjakan shalat fardhu. Demikian juga pendapat Muqatil bin Hayyan dan ar Rabi’ bin Anas.
Adapun as Suddi mengatakan:
“Yakni mengerjakan shalat berjama’ah”
Muqatil bin Hayan mengatakan:
“Tidak dilalaikan oleh hal itu dari menghadiri shalat dan menegakkannya seperti yang diperintahkan oleh Allah, menjaga waktu-waktunya yang telah Allah perintahkan untuk dijaga.”
(Tafsir Ibn Katsir)

Mendapat naungan dari Allah subhanahu wata’ala pada hari kiamat

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ
“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya;

…‬ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ …
(diantaranya) … dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….”
(Muttafaqun alaihi)



Dihapus dosa-dosanya

dari ‘Utsmaan bin ‘Affaan dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ

“Barangsiapa berwudhu untuk shalat dan menyempurnakan wudhunya, kemudian ia berangkat untuk shalat wajib dan ia mengerjakannya bersama manusia atau bersama jamaah, atau shalat di masjid, Allah mengampuni dosa-dosanya.”
(Shahiih an Nasaa-iy; dishahiihkan oleh syaikh al-albaniy)

Dihitung shalat dari sebelum berangkat ke mesjid, hingga kembali ke rumah
dari [Ka'b bin 'Ujrah] ia berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا تَوَضَّأْتَ فَعَمَدْتَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلَا تُشَبِّكَنَّ بَيْنَ أَصَابِعِكَ فَإِنَّكَ فِي صَلَاةٍ
“Apabila engkau berwudlu kemudian menuju masjid maka janganlah engkau menjalin jari-jarimu, karena sesungguhnya engkau ada dalam shalat.”
(HR. Bukhariy)
dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ خَرَجَ يُرِيدُ الصَّلَاةَ فَهُوَ فِي صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ إِلَى بَيْتِهِ فَلَا تَقُولُوا هَكَذَا يَعْنِي يُشَبِّكُ بَيْنَ أَصَابِعِهِ
“Barangsiapa berwudlu kemudian keluar untuk melaksanakan shalat, maka ia dalam hitungan shalat hingga ia kembali ke rumahnya. Maka janganlah kalian melakukan demikian, yaitu menjalin jari-jari.”
(HR. Bukhariy)

Langkah-langkah kaki menuju mesjid akan ditulis (sebagai amalan kebaikan)
Allah berfirman:

وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ
dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan
(Yaasiin: 12)
Berkata Mujahid dalam menafsirkan ayat diatas:
“Langkah-langkah mereka adalah bekas-bekas perjalanan mereka di muka bumi ketika berjalan dengan kaki mereka (–dalam rangka beramal shalih, ed–).”
(Atsar riwayat Bukhariy)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَلَا تَحْتَسِبُونَ آثَارَكُمْ
“Tidakkah kalian mengharap pahala dari langkah-langkah kalian?”
(HR. Bukhariy)

Diangkat derajat, serta dihapuskan dosa dengan langkah kaki ke masjid
Rasuulullaah bersabda:

إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ
Jika seseorang berwudhu, kemudian menyempurnakan wudhunya; kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid
(HR Muslim)
Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
 
مَنْ رَاحَ إِلَى مَسْجِدِ الْجَمَاعَةِ فَخَطْوَةٌ تَمْحُو سَيِّئَةً وَخَطْوَةٌ تُكْتَبُ لَهُ حَسَنَةٌ ذَاهِبًاوَرَاجِعًا
Barangsiapa berangkat ke masjid, maka satu langkah menghapus satu keburukan, dan satu langkah ditulis satu kebaikan, di saat pergi dan pulang.
(HR. Ahmad, no: 6599, 10/103, dari Abdulloh bin Amr bin Al-Ash, dishohihkan syaikh Ahmad Syakir)

Kaki yang berdebu karena ke masjid, maka diharamkan masuk neraka
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُمَا حَرَامٌ عَلَى النَّارِ
“Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka keduanya diharamkan untuk masuk neraka.”
(HR. Tirmidziy, beliau berkata: “Hadits ini derajatnya hasan gharib shahih.” dishahiihkan juga oleh Syaikh al Albaaniy)
“Fii sabiililaah” disini dimaknai UMUM, tidak khusus untuk jihad saja.
dari Yazid bin Abu Maryam ia berkata:
Abayah bin Rifa’ah menjumpaiku saat aku sedang berjalan MENUJU SHALAT JUM’AT ia lalu berkata, “Berbahagialah engkau, sebab langkah kakimu ini termasuk fi sabilillah.Aku mendengar Abu Abbas, bahwa ia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (dengan hadits diatas)’…”

Mendapat cahaya yang sempurna di hari kiamat
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لِيَبْشَرْ الْمَشَّاءُونَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِنُورٍ تَامٍّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Hendaklah orang-orang yang berjalan kaki dalam kegelapan (yaitu shalat ‘isya dan shalat shubuh) menuju masjid berbahagia dengan cahaya sempurna pada hari kiamat.”
(Shahiih HR, Ibnu Maajah, dishahiihkan oleh syaikh al-Albaaniy dalam shahiih ibn maajah)

Mendapat balasan seperti haji

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الحاَجِّ المُحْرِمِ
“Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan berwudhu’ untuk shalat lima waktu (secara berjama’ah di masjid), maka pahalanya seperti pahala orang berhaji yang memakai kain ihram.”
(HR. Abu Dawud no. 554, dan di hasankan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Disediakan baginya Al Jannah
Rasululloh bersabda:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِنْ الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ
Barangsiapa pergi di waktu pagi ke masjid, dan pergi di waktu sore, Alloh menyiapkan baginya tempat tinggalnya di sorga setiap dia pergi di waktu pagi dan di waktu sore.
(HR. Bukhori, no: 662, dari Abu Hurairoh)

Jaminan husnul khotimah atau pahala besar
Rasululloh bersabda:

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ رَجُلٌ
Tiga orang dijamin oleh Alloh ‘Azza wa Jalla:

خَرَجَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيمَةٍ
• Seseorang yang keluar berperang fii sabilillah, maka dia dijamin oleh Alloh sehingga Alloh akan mematikannya, lalu memasukkan ke dalam sorga, atau Alloh akan memulangkannya dengan meraih pahala dan ghonimah.

وَرَجُلٌ رَاحَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ حَتَّى يَتَوَفَّاهُ فَيُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرُدَّهُ بِمَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ وَغَنِيمَةٍ
• Seseorang yang berangkat ke masjid, maka dia dijamin oleh Alloh sehingga Alloh akan mematikannya, lalu memasukkan ke dalam sorga, atau Alloh akan memulangkannya dengan meraih pahala dan ghonimah.

وَرَجُلٌ دَخَلَ بَيْتَهُ بِسَلَامٍ فَهُوَ ضَامِنٌ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
• Seseorang yang masuk rumahnya dengan mengucapkan salam, maka dia dijamin oleh Alloh.
(HR. Abu Dawud, dari Abu Umamah, dishohihkan syaikh Al-Albani di dalam Shohih Abi Dawud 2/273)

Dimuliakan Allaah
Rasuulullaah bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ في بَيْتِهِ فَأَحْسَنَ الوُضُوء ، ثُمَّ أَتَى المَسْجِد ؛ فَهُوَ زَائِرُ الله ، وَحَقٌّ عَلَى المَزُورِ أَنْ يُكْرِمَ الزَّائِر
“Barangsiapa yang berwudhu di rumahnya dan memperbaiki wudhunya kemudian dia mendatangi masjid, maka dia adalah orang yang berziarah kepada Allah, dan sudah kewajiban bagi yang diziarahi untuk memuliakan orang yang berziarah.”
(diriwayatkan oleh ath-Thabarani; dihasankan al Albaaniy dalam ash-Shahihah: 1169)

Terdapat keutamaan yang besar
Rasululloh bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
Seandainya manusia mengetahui (keutamaan) yang ada pada adzan dan shof awal, lalu mereka tidak akan mendapatkannya kecuali mereka melakukan undian padanya, pastilah mereka melakukan undian.

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي التَّهْجِيرِ لَاسْتَبَقُوا إِلَيْهِ
Dan seandainya mereka mengetahui (keutamaan) bersegera (ke masjid), sungguh mereka pasti berlomba padanya.

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
Dan seandainya mereka mengetahui (keutamaan) yang ada pada (sholat) ‘atamah (isya’) dan subuh, sungguh mereka pasti mendatangai keduanya, walaupun merangkak.
(HR. Bukhori, no: 615, dari Abu Huroiroh)

Mendapatkan pahala yang lebih besar dari seekor kambing yang gemuk atau dua ekor kambing yang gemuk
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ يَعْلَمُ أَنَّهُ إِذَا شَهِدَ الصَّلَاةَ مَعِي كَانَ لَهُ أَعْظَمُ مِنْ شَاةٍ سَمِينَةٍ أَوْ شَاتَيْنِ لَفَعَلَ فَمَا يُصِيبُ مِنْ الْأَجْرِ أَفْضَلُ
“Sekiranya salah seorang dari kalian mengetahui bahwa bila dia ikut shalat berjama’ah denganku maka dia akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari seekor kambing yang gemuk atau dua ekor kambing yang gemuk, niscaya dia akan melakukannya. Padahal apa-apa yang diperolehnya dari pahala (tersebut) lebih afdhål baginya.”
(Shåhiih, HR. Ahmad; dishahihkan asy-Syaikh Ahmad Syaakir)

Mendapat dua puluh tujuh derajat daripada shalat sendirian
Rasululloh bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
Shalat berjamaah LEBIH UTAMA/LEBIH AFDHAL dari shalat sendirian DUA PULUH TUHUH DERAJAT
[Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih-nya kitab Al Adzaan, Bab Fadhlu Shalatul Jama’ah no. 609]

Mendapat dua puluh lima derajat daripada shalat di rumah atau di pasar
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
”Shalat seseorang dengan berjamaah (di mesjid) LEBIH BERLIPAT PAHALANYA 25 derajat daripada shalatnya di rumahnya atau di kedai pasarnya…..”
(HR.Bukhari)

Pahala berjama’ah isya’ maka pahalanya seperti sholat setengah malam; jika berjamaa’ah ‘isya dan shubuh, maka pahalanya seperti shalat semalam suntuk
Rasululloh bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ نِصْفِ لَيْلَةٍ وَمَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ وَالْفَجْرَ فِي جَمَاعَةٍ كَانَ كَقِيَامِ لَيْلَةٍ
Barangsiapa sholat isya’ di dalam jama’ah, hal itu seperti sholat setengah malam. Dan barangsiapa sholat isya’ dan subuh di dalam jama’ah, hal itu seperti sholat semalam suntuk
(HR. Abu Dawud)

Sholat subuh dan ashar disaksikan malaikat
Rasululloh bersabda:

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
Bergiliran pada kamu para malaikat di waktu malam dan para malaikat di waktu siang. Mereka berkumpul pada sholat subuh dan sholat ashar, kemudian para malaikat yang bermalam pada kamu naik. Maka Robb mereka menanyai mereka, sedangkan Dia lebih tahu tentang mereka: “Bagaimana kamu tinggalkan hamba-hambaku?”. Mereka menjawab: “Kami tinggalkan mereka, ketika mereka sedang sholat. Dan kami datangi mereka, ketika mereka sedang sholat.”
(HR. Muslim, no: 632, dari Abu Huroiroh)

Shalat yang paling utama disisi Allaah, adalah shalat shubuh dengan berjamaa’ah di hari jumu’at
Rasulullaah bersabda:

إن أفضل الصلاة عند الله صلاة الصبح يوم الجمعة في جماعة.
“Sesungguhnya seafdhal-afdhal shalat disisi Allah, adalah shalat shubuh di hari jum’at dengan berjamaa’ah”
(HR Abu Nu’aym, dishahihkan al Albani rahimahullah dalam Silsilatul Ahaadits Shahiihah, no.1566 (4/91) dan Shahiih Jaami’ ash-Shaghir no.1999.)

Allah dan malaikat bershalawat bagi orang-orang yang mendapatkan shaf awal (2x) dan shaf kedua (1x)
Rasululloh bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ
“Sesungguhnya Alloh dan para malaikatNya bersholawat kepada shof awal”.
Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, dan kepada yang kedua”.
Beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الصَّفِّ الْأَوَّلِ
“Sesungguhnya Alloh dan para malaikatNya bersholawat kepada shof awal”.
Para sahabat berkata: “Wahai Rasululloh, dan kepada yang kedua”.
Beliau bersabda:

‎وَعَلَى الثَّانِي
“Dan kepada yang kedua”.
(HR. Ahmad, no: 21233, dari Abu Umamah)

Allah dan malaikat bershalawat bagi orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat; dan akan diangkat oleh Allaah baginya satu derajat
Rasuulullaaah bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaff yang lowong, akan diangkat oleh Allaah dengannya satu derajat”
[HR. Ibnu Maajah no. 995; shahih lighairihi].

Dibersihkan dari kemunafikan dan neraka, apabila selama 40 hari shalat berjama’ah dan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam.
Rasululloh bersabda:

مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
Barangsiapa sholat 40 hari di dalam jama’ah, dia mendapatkan takbir yang pertama, ditulis baginya 2 kebebasan: kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan.
(HR. Tirmidzi, dari Anas bin Malik)

Diampunkan dosanya apabila mengucapkan “aamiin” bersama malaikat:
Rasululloh bersabda:

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Jika imam berkata “غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ”, maka katakanlah “aamiin”, karena sesungguhnya barangsiapa perkataannya mencocoki perkataan para malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu”.
(HR. Bukhori, no: 782; Muslim, no; 410; dari Abu Huroiroh)

Dimintakan ampunan oleh malaikat dan didoakan rahmat oleh malaikat selama ia belum beranjak ditempat shalatnya, dan tidak berhadats
dari [Abu Hurairah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَزَالُ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى الْعَبْدِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ مَا لَمْ يَقُمْ أَوْ يُحْدِثْ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
“Malaikat senantiasa mendoakan seorang hamba selama ia berada di tempat shalat yang ia gunakan untuk shalat, selama belum berdiri atau berhadats. Malaikat berdoa: ‘ALLAAHUMMAGHFIR LAHU, ALLAAHUMMARHAMHU (Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia).”
(HR. Bukhariy)

Sumber*
- http://ustadzmuslim.com/keutamaan-sholat-jama%E2%80%99ah-di-masjid-1/
- http://ustadzmuslim.com/keutamaan-sholat-jama%E2%80%99ah-di-masjid-2/
(*dengan beberapa tambahan hadits lain, yang tidak disebutkan sumber diatas)

Siapakah yang mendapatkan keutamaannya?

1. Lelaki1 yang melaksanakan SHALAT WAJIB secara berjama’ah yang dilaksanakan di Masjid Jamaa’ah2 bersama iimaam, BUKAN shalat wajib yang dilaksanaknnya di ruangan shalat yang ada di rumah/kantor/pasar/pabrik (meskipun pelaksanaannya secara berjama’ah!)
Berdasarkan hadits ibnu Ummi Maktuum, dimana Rasuulullaah bersabda kepadanya:

هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : فَأَجِبْ
Apakah kamu mendengar panggilan (adzan) untuk shalat ? dia menjawab: ya, Maka penuhilah.3
(HR Muslim)
Juga berdasarkan hadits ‘Abdullaah bin ‘Abbaas, bahwa Rasuulullaah bersabda :

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
Artinya: “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak datang padanya, maka tidak ada (kesempurnaan pahala) shalat baginya, kecuali karena udzur.“
[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; dishahiihkan al albaaniy]
Rasuulullaah bersabda:

صَلَاةُ أَحَدِكُمْ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ وَبَيْتِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
”Shalat seseorang dengan berjamaah (di masjid) LEBIH BERLIPAT PAHALANYA 25 derajat daripada shalatnya di rumahnya atau di pasarnya…”
(HR.Bukhari)
Berkata ibnu Mas’uud:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ
Barangsiapa yang ingin berjumpa dengan Allah kelak di akhirat sebagai seorang muslim maka hendaklah dia menjaga shalat-shalat wajib itu (dengan melaksanakannya) dimana (ia mendengar adzan) dikumandangkan padanya

فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى
Sesungguhnya Allah telah mensyari’atkan kepada nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat (yang dilaksanakan di masjid berssama iimaam), diantara sunnah-sunnah petunjuk itu…

وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ
Kalaulah kalian shalat di rumah kalian, seperti shalatnya orang-orang yang tinggal di rumahnya… berarti telah kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, sekiranya kalian tinggalkan sunnah nabi kalian, benar-benar akan menjadikan kalian akan tersesat…
(Atsar Riwayat Muslim)
Berkata Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Baariy:

. وَرَوَى سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِإِسْنَادٍ حَسَنٍ عَنْ أَوْسٍ الْمَعَافِرِيِّ أَنَّهُ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ :
”Diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur dengan sanad yang HASAN dari Aus Al-Ma’aafiriy bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash,

أَرَأَيْتَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى فِي بَيْتِهِ ؟
”Bagaimana pendapat anda jika seseorang berwudhu dengan sempurna lantas ia shalat di rumahnya?

قَالَ : حَسَنٌ جَمِيلٌ
”Abdullah bin Amr menjawab : ‘Sangat baik’4…”

قَالَ : فَإِنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ عَشِيرَتِهِ ؟
Aus bertanya lagi “Jika ia shalat di mesjid kampungnya ?”

قَالَ : خَمْسَ عَشْرَةَ صَلَاةً
Dijawab :”Berarti ia dapat pahala 15 kali lipat”5

قَالَ : فَإِنْ مَشَى إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ فَصَلَّى فِيهِ ؟
Diatanya lagi ,”Bagaimana jika berjalan ke masjid (yang ditegakkan shalat) jamaa’ah kemudian ia shalat didalamnya?”

قَالَ : خَمْسٌ وَعِشْرُونَ
Abdullah bin Amr menjawab “Berarti ia mendapat 25 kali lipat”
[Hasan; HR Sa'id bin Manshur, terdapat dalam Fathul Baari (II/35)]
Maka orang yang shalat berjamaa’ah di selain masjid, tetap mendapatkan keutamaan berjamaa’ah, hanya saja keutamaannya tidak seperti keutamaan orang-orang yang shalat berjamaa’ah di masjid bersama imam.

2. “Jama’ah” yang dimaksudkan dalam “shalat berjamaa’ah di masjid” adalah JAMAA’AH PERTAMA BERSAMA IMAM (yaitu imam rawatib atau penggantinya jika ia berhalangan)
Rasuulullaah bersabda:

صَلاةٌ مَعَ الإِمَامِ أَفْضَلُ مِنْ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ يُصَلِّيهَا وَحْدَهُ
Shalat (wajibnya seorang pria) bersama iimaam, lebih afdhal dari 25 shalatnya sendirian.
(HR Muslim)
Imam yang dimaksudkan disini, bukan “imam (‘tandingan’) pada giliran kedua”, bukan pula “imam (‘tandingan’) yang ada di selain masjid”… Tapi yang dimaksudkan adalam “Imaam rawatib (atau penggantinya) yang ada di masjid”. Bukan pula jamaa’ah ‘tandingan’ yang ada diselain masjid, bukan pula jamaa’ah kedua, meskipun dilaksanakannya di masjid. Wallaahu a’lam

- Bagaimana jika terlambat datang?
Dilihat alasan keterlambatannya, apakah disebabkan karena udzur yang syar’i, ataukah tidak? jika disebabkan udzur syar’iy, maka ia TETAP MENDAPATKAN PAHALA YANG SEMPURNA.
Berdasarkan hadits:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ ثُمَّ رَاحَ فَوَجَدَ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا أَعْطَاهُ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ مِثْلَ أَجْرِ مَنْ صَلَّاهَا وَحَضَرَهَا لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أَجْرِهِمْ شَيْئًا
“Barangsiapa yang berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, lalu ia pergi ke masjid (untuk berjamaah) dan ia dapati jamaah sudah selesai, maka ia tetap mendapatkan seperti pahala orang yang hadir dan berjamaah, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, an Nasaa-iy, al Haakim, dan beliau menshahiihkannya, demikian pula al albaaniy dalam shahiihul jaami’)
Tentunya hadits diatas dibawa kepada “ia dapati jamaa’ah sudah selasai, dan keterlambatannya KARENA UDZUR”, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
Artinya: “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu tidak datang padanya, maka tidak ada (kesempurnaan pahala) shalat baginya, kecuali karena UDZUR“
[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; dishahiihkan al albaaniy]
Sebaliknya, jika tidak ada udzur syar’i; maka ia telah kehilangan keutamaan yang sangat besar, dan ia tidak mendapatkan kesempurnaan pahala dalam shalatnya. Jikalau pun ia shalat berjama’ah diselain masjid, maka ia hanya mendapatkan 15x lipat (lihat hadits ‘abdullaah ibn ‘amr, diatas); terdapat perbedaan 10x lipat dibandingkan ia shalat di masjid secara berjamaa’ah bersama iimaam.
Sekaligus hadits diatas membantah golongan yang mengatakan bahwa jamaa’ah kedua, ketiga, keempat, dst di masjid; tetap mendapatkan pahala sempurna sebagaimana pahala jamaa’ah pertama bersama imam. Bahkan mereka TIDAK MENDAPATKAN pahala sempurna, JIKA keterlambatan mereka tidak termasuk ‘udzur syar’i! Seperti orang yang sengaja menunda-nunda sehingga tidak mendapati shalat bersama imam dan jamaa’ah pertama… Sekalipun ketika sesampainya di masjid, ia mengadakan jamaa’ah kedua, ketiga, keempat, dst, berdasarkan hadits diatas, ia tidaklah termasuk orang-orang yang mendapatkan kesempurnaan pahala shalat; dan ia hanya mendapatkan 15x lipat pahala shalat (sebagaimana hadits ‘abdullaah ibn ‘amr diatas).
Adapun jika mereka terhalangi karena udzur, maka jelas mereka TETAP mendapat kesempurnaan pahala shalat! Maka sekalipun mereka shalat sendirian di masjid (dan tidak membuat jamaa’ah kedua), atau mereka pulang ke rumah dan shalat bersama keluarganya, maka mereka TETAP mendapatkan pahala shalat berjamaa’ah bersama iimaam (simak pada point selanjutnya)

- Kesempurnaan pahala shalat TETAP DIDAPATKAN orang yang tidak shalat berjamaa’ah di masjid bersama imam, karena ada ‘udzur syar’i
Rasuulullaah bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ
Artinya: “Barangsiapa yang mendengar adzan, lalu tidak datang padanya, maka tidak ada (kesempurnaan pahala) shalat baginya, kecuali karena UDZUR“
[Diriwayatkan oleh Ibnu Majah; dishahiihkan al albaaniy]
Beliau juga bersabda:

إِنَّ بِالْمَدِيْنَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيْرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِياً إِلاَّ كَانـُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ.
“Sesungguhnya, di Madinah ada orang-orang yang kemana pun kalian pergi mengarungi lembah dan sahara, mereka selalu menyertai kalian; mereka tertahan oleh suatu udzur”
(HR al Bukhaariy dan selainnya)
Beliau juga bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْماً صَحِيْحاً
“Apabila seorang hamba ditimpa sakit atau sedang bepergian, maka akan ditulislah baginya amalan-amalan yang biasa dikerjakannya sewaktu sehat dan menetap”.
(HR al Bukhaariy dan selainnya)

Semoga bermanfaat

Catatan Kaki
 
  1. Adapun wanita, maka lebih utama baginya shalat di rumahnya. Berdasarkan hadits:

    لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ
    “Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.”
    (HR. Abu Daud. dishahiihkan Al Albaaniy)
    Juga hadits:

    قد علمت أنك تحبين الصلاة معي ، وصلاتك في بيتك خير لك من صلاتك في حجرتك ، وصلاتك في حجرتك خير من صلاتك في دارك ، وصلاتك في دارك خير لك من صلاتك في مسجد قومك ، وصلاتك في مسجد قومك خير لك من صلاتك في مسجدي
    Aku sudah tahu engkau menyukai shalat bersamaku, (akan tetapi) shalatmu di rumahmu (tempat paling dalam –red) lebih baik daripada shalatmu di kamar, shalatmu di kamarmu lebih baik daripada shalatmu di rumahmu (diluar kamar), shalatmu di rumahmu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, shalatmu di masjid kaummu lebih baik daripada shalamu di masjidku (Masjid Nabawi)
    (HR Ahmad, dll; dinilai shahiih al albaaniy) 
  2. yaitu Masjid yang dimana ditegakkan padanya shalat 5 waktu, yang memiliki imam 
  3. Dalam riwayat lain:
    هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ : لَا أَجِدُ لَكَ رُخْصَةً

    Apakah kamu mendengar panggilan (adzan)? dia menjawab: ya, “Tidaklah aku mendapatkan keringanan untukmu”
    Dalam riwayat lain:

    هَلْ تَسْمَعُ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ ؟ فَحَيَّ هَلًا
    “Apakah kamu mendengar seruan, ‘Hayya ‘alash-shalah, hayya ‘alal falah’? Maka marilah menyambut keduanya…
    Dalam riwayat lain:

    أَتَسْمَعُ الْإِقَامَةَ ؟ ,قَالَ : نَعَمْ ، قَالَ فَأْتِهَا
    Apakah kamu mendengar iqaamah? ia menjawab: Ya, Beliau bersabda: Maka DATANGI-lah seruan tersebut! 
  4. Atsar ini sebagai BUKTI yang NYATA, yang membantah KLAIM bahwa para shahabat ‘sepakat’ bahwa hukum shalat berjamaa’ah di masjid bersama iimaam adalah wajib (fardhu ‘ain)
  5. Perkataan ini berbicara masalah pahala, maka dihukumi marfu’ (sampai kepada nabi), karena pembicaraan masalah pahala bukan berasal dari ijtihad/pendapat shahabat.
___________________________________******________________________________________

Keutamaan Shalat Berjamaah


Kajian Hadits: Keutamaan Shalat Berjamaah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً (رواه البخاري ومسلم والترمذي والنشائي وابن ماجة وأحمد)
Artinya:
Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw., bersabda: Shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.

Derajat Hadits:
Hadits ini shahih, karena memenuhi syarat-syarat hadits shahih, yaitu sanadnya menyambung dan adil. Sanad hadits ini adalah Imam Bukhari, Abdullah bin Yusuf, Malik, Nafi’ dari Abdullah bin Umar. Juga karena diriwayatkan oleh banyak ahli Hadits yaitu Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majjah, Ahmad.

Biografi Singkat Sanad  Ibnu Umar:
Ibnu Umar adalah Abdullah bin Umar bin Khattab bin Nufail al-Qurasyi al-Adawi, beliau termasuk Ulama’ di kalangan para Sahabat dan ahli Fiqih. Beliau hijrah bersama ayahnya ke Madinah. Pada Perang Uhud, beliau masih kecil, dan pada perang berikutnya yaitu perang Khandaq beliau mendapatkan kesempatan untuk ikut serta dalam peperangan tersebut. Beliau sekandung dengan Hafshah isteri Rasulullah. Beliau lahir pada tahun ke 3 setelah kenabian dan wafat pada tahun 74 H. Beliau banyak meriwayatkan hadits.[1]

Beberapa Pelajaran:
Shalat adalah rukun Islam kedua setelah Syahadat, ia menjadi ibadah yang sangat penting dalam Islam. Barangsiapa yang menentangnya, maka ia akan kafir. Shalatlah yang membedakan antara orang islam dengan orang kafir. Shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab pada hari Kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه َقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنْ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
Artinya:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., berkata: Saya pernah mendengar Rasululullah bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat dari amalnya adalah  shalatnya. Jika shalatnya baik, ia  beruntung dan sukses. Dan jika rusak, maka akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, maka Allah akan berkata: “lihatlah apakah hambaku memiliki shalat sunnah, supaya bisa dipakai untuk menyempurnakan kekurangannya pada shalat wajibnya, kemudian setelah, yang akan dihisab adalah amal perbuatan yang lainnya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’I, Ibnu Majah dan Ahmad)
Karena urgennya shalat dalam ajaran Islam, maka harus dilakukan dengan cara yang berkualitas. Dan shalat yang berkualitas adalah apabila dilakukan secara berjamaah. Karena shalat yang dilakukan secara berjamaah lebih baik dari shalat yang dilakukan sendirian, dengan selisih dua puluh tujuh derajat sebagaimana disebutkan dalam hadits bab.
Keutamaan ini adalah hadiah dari Allah yang harus segera kita raih. Dan seorang muslim memiliki sifat “fastabul Khairat” berlomba-lomba meraih kebaikan, maka kesempatan seperti ini tidak boleh terlewatkan begitu saja dari seorang muslim. Sifat “Sur’atul Ijabah” atau responsibilitas juga memiliki pengaruh yang besar dalam membina seorang muslim untuk meraih segala keutamaan yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Ada hadits lain yang menyatakan bahwa selisih antara yang shalat yang dilakukan dengan berjamaah dengan sendirian adalah dua puluh lima derajat. Imam Tirmidzi mengatakan bahwa pada umumnya riwayat hadits yang berkaitan dengan masalah ini adalah menggunakan kalimat dua puluh lima derajat. Namun riwayat “dua puluh lima” tidak sekuat riwayat “dua puluh tujuh”, hanya saja riwayat “dua puluh lima” lebih banyak, dan riwayat “dua puluh tujuh” lebih kuat. Ada yang mengatakan bahwa “dua puluh lima” dinasakh oleh riwayat “dua puluh tujuh”. Juga ada yang berpendapat bahwa “dua puluh lima” derajat adalah batas minimal dan dapat bertambah hingga “dua puluh tujuh” karena karunia Allah tidak berkurang tetapi senantiasa bertambah.[2]

Kesimpulan:
  1. Hadits di atas menunjukan adanya perbedaan antara pahala orang yang mengerjakan shalat berjamaah dengan yang sendirian. Ini menunjukkan, kedua perbuatan tersebut dibenarkan, sehingga jika ada orang yang mengerjakan shalat sendirian maka hukum sah. Inilah yang menjadi dalil bahwa shalat berjamaah hukumnya sunnah Muakkadah atau fardhu Kifayah.
  2. Hendaknya seorang muslim senantiasa mengerjakan shalat dengan berjamaah, karena pahala yang disediakan Allah sangat besar.


[1]  Asqalani, Syihabuddin bin Hajar, al-Ishabah Fi Tamyizis Shahabah, cet Darul Fikr Beirut Libanon tahun 1398 H-1978 M. Juz: 4 hala: 181
[2]  Asqalani, Syihabuddin bin Hajar, Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari. Juz 2 hal: 468
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU