Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KELUARGA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

KONSEP KELUARGA SAKINAH,MAWADAH WARAHMAH

Konsep Menuju Keluarga Yang Sakinah


Sebagaimana telah diuraikan pada referensi sebelumnya, bahwa keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat, tidak akan ada masyarakat jika tidak ada keluarga. Ini berarti baik buruknya masyarakat adalah tergantung pada baik buruknya masyrakat terkecil tersebut (keluarga).
Kata Sakinah (Arab), sebagai rangkaian kata keluarga sakinah, mempunyai arti ketentraman dan ketenangan jiwa. Istilah keluarga sakinah merupakan dua kata yang saling melengkapi. Kata Sakinah sebagai kata sifat yang mensifati atau menerangkan kata keluarga. Keluarga sakinah digunakan dengan pengertian keluarga yang tenang, tentram bahagia dan sejahtera lahir batin.
Munculnya istilah keluarga sakinah ini sesuai dengan firman Allah surah Ar-Rum: 21, yang menyatakan bahwa tujuan dari berumah tangga atau berkeluarga adalah untuk mencari ketenangan dan ketentraman atas dasar Mawaddah war Rahmah, saling mencintai dan penuh rasa kasih sayang antara suami istri.
Menurut Aziz Mushoffa, sebuah keluarga dapat dikatakan sebagai keluarga sakinah apabila telah memenuhi kriteria antara lain :
  1. Mendasarkan kehidupan pada agama
  2. Terpenuhinya pendidikan keluarga maupun pendidikan formal bagi setiap anggota keluarga.
  3. Terjaganya kesehatan keluarga
  4. Terpenuhinya kebutuhan ekonomi seluruh anggota keluarga
  5. Hubungan sosial keluarga yang harmonis.
Dari poin tersebut, penulis simpulkan, apabila masing-masing unsur dalam keluarga itu dapat berfungsi dan berperan sebagaimana mestinya, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama maka interaksi sosial yang harmonis antar unsur dalam keluarga itu akan dapat diciptakan. Pada gilirannya kesejahteraan dan kebahagiaan dalam keluarga akan mudah dicapai.
Menurut Zaitunah Subhan ada beberapa aspek yang mendukung terbentuknya keluarga sakinah, antara lain aspek agama dan aspek ekonomi. Keduanya harus tetap terbina lestari.
1) Pembinaan Agama
Untuk mendukung terwujudnya keluarga sakinah, pembentukan pribadi secara utuh sangat menentukan. Ayah dan ibu adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas pembinaan keagamaan di dalam keluarga. Pembinaan agama dalam hal ini meliputi beberapa obyek sasaran, yaitu pembinaan agama bagi ayah dan ibu, pengamalan amar ma’ruf nahi munkar, pembentukan jiwa agama bagi anak.
2) Pembinaan Ekonomi
Kestabilan ekonomi merupakan salah satu penunjang terwujudnya keluarga sakinah. Kondisis keuangan sebuah keluarga bisa dikatakan stabil apabila terdapat keseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan. Tidak sedikit kasus kegagalan menciptakan keluarga sakinah dan bahkan menjadi retak dan berantakan, terjadi karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang stabil.
Karena itu keluarga perlu memperhatikan kestabilan ekonomi untuk mencapai predikat keluarga sakinah. Agar dapat menyeimbangkan kebutuhan dan pendapatan seseorang minimal harus mampu merencanakan anggaran belanja rumah tangga, menambah semangat kerja, dan meningkatkan pendapatan.

Menuju Keluarga Yang Sakinah

Membangun Keluarga Sakinah
oleh : Admin
 A. Landasan
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Yaa ai-yuhaannaasuuttaquu rabbakumul-ladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wakhalaqa minhaa zaujahaa wabats-tsa minhumaa rijaaalan katsiiran wanisaa-an waattaquullahal-ladzii tasaa-aluuna bihi wal arhaama innallaha kaana 'alaikum raqiiban

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4:1


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Wamin aayaatihi an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa waja'ala bainakum mawaddatan warahmatan inna fii dzalika li-aayaatin liqaumin yatafakkaruun(a)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. 30:21)

B. Pengertian
Ditinjau dari sisi lughah (bahasa) sakinah berasal dari kata “Sakana” yang berarti “Tenang, Tenteram, Damai” sedang dari sisi istilahi bermakna “Keluarga yang terbangun atas dasar cinta kasih dan kasih sayang serta rahmah dengan bimbingan Allah swt dan tuntunan Rasulullah saw, sehingga terbentuk rumah tangga yang tenang, tenteram dan damai”  

C. Esensi Nikah
Secara bahasa (lughah) “Nikah” berasal dari kata “Nakaha” yang berarti “Berkumpul, Bersatu atau Bersinergi” oleh karena itu, berkeluarga secara esensial adanya sinergi dalam membangun rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan anak dengan memahami peran masing-masing. Maka orang yang menikah mestinya berkeinginan untuk tetap bersatu, tidak ada niatan bercerai, melainkan hidup dalam kebersamaan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, semangat persatuan dan perdamaian antara suami, istri dan anak-anak harus dipertahankan karena menikah itu akan berdampak berbagai macam antara lain :
  1. Unik, artinya bahwa setelah berkeluarga adanya berbagai ragam problematika yang akan dihadapi untuk diselesaikan, diatasi dan dibicarakan bersama sebagai anak tangga menuju kebahagiaan dan kemulyaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
  2. Anak, bermakna bahwa setelah berkeluaraga diharapkan dapat meneruskan generasi (keturunan) dalam hal ini adalah anak dan harta kekayaan seperti dalam firman Allah swt dalam surat Ali-Imran ayat 14 yang berbunyi :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Zui-yina li-nnaasi hubbusy-syahawaati minannisaa-i wal baniina wal                                  qanaathiiril  muqantharati minadz-dzahabi wal fidh-dhati wal khailil musau-wamati wal an'aami wal hartsi dzalika mataa'ul hayaatiddunyaa wallahu 'indahu husnul maaab(i)

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS.3:14)
  1. Enak, maksudnya adalah bahwa dengan berkeluarga dan setelah dikaruniai anak dan harta benda maka akan tercipta harmonisasi dengan harapan adanya kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian serta sebagai curahan rasa cinta kasih dan kasih sayang yang paripurna.
  2. Ennek, artinya bahwa tidak selamanya dalam perjalanan rumah tangga itu selalu diliputi kebehagaiaan, ketenteraman dan kedamaian, tetapi terkadang adanya penderitaan, dikarenakan persoalan dan permasalahan hidup yang tidak dapat terselesaikan dengan baik.
D. Landasan Nikah

Berbagai macam alasan mengapa seseorang itu menikah, dari yang bersifat instingtif, lahiriah/fisik sampai yang bersifat alasan agama dan hal tersebut memang dibolehkan dalam agama seperti dalam hadits Rasulullah saw yang artinya “Dinikahi seorang wanita karena empat pilihan, karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan     karena agamanya, maka pilihlah yang taat beragama engkau akan selamat”  Demikianlah arti dari hadits Rasulullah, yang menyerahkan pilihan kepada setiap orang tetapi Nabi menggaris bawahi untuk menentukan pilihannya yang taat beragama, baik calon mempelai pria atau wanita. Dari apa yang disampaikan oleh Nabi tersebut luas pengertiannya, dan dalam maksudnya, maka disinilah kunci awal kesuksesan seseorang dalam berkeluarga, apa yang mendasari seseorang untuk memutuskan dirinya menikah. Dalam Al-Qur’an Allah swt memberikan gambaran beberapa alasan seseorang menikah :
  1. Hubb (rasa cinta diri) atau kecenderungan, cinta ini merupakan tingkatan terendah, karena menikah hanya mendasarkan hanya kepada instingtif dan lahiriyah/fisik saja berupa libido atau penyaluran seksual yang hanya mengharapkan kenikmatan sesaat dan harta berlimpah seperti yang digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya tersebut di atas dalam surat Ali-Imran ayat 14.
  2. Mawaddah (semangat saling memberi) cinta model ini adalah cinta tingkatan berikutnya yang memiliki semangat merengkuh/memiliki, maka apabila seseorang dalam menikah itu landasannya adalah saling cinta kasih dan kasih sayang akan terbangun antara suami dan istri adanya semangat saling memberi, saling menyayangi, saling melengkapi dan saling menghormati.
  3. Rahmah (semangat saling melindungi) cinta yang terbangun atas dasar ketidak relaan seorang suami istri yang tidak rela apabila salah seorang anggota keluarga menderita, maka akan terdorong untuk saling melindungi, menghormati dan saling menghargai maka akan ertanam adanya komitmen bersama, tanggungjawab dan pengorbanan.
  4. Radhiya (semangat saling menerima apa adanya) cinta model ini adalah cinta tingkat tinggi yaitu cinta yang memerdekakan, cinta tak bersyarat. Maka suami istri saling menerima apa adanya apapun kondisinya terkait dengan lahiriyah/fisik dan materi.
E. Model (gaya) Rumah Tangga
Dari sebuah survey terbatas ternyata di masyarakat kita ada 6 (enam) macam gaya rumah tangga, kita boleh menentukan kira-kira rumah tangga kita yang ada sekarang dan yang telah dibangun saat ini sepertia apa, adapun prototype  model (gaya) dari ke enam rumah tangga dimaksud adalah sebagai berikut :
  1. Model Hotel, rumah hanya dijadikan sebagai tempat transit, hanya untuk tidur, istirahat, makan, buang air, apabila terjadi permasalahan yang terjadi dirumah tangganya  tidak mau ambil pusing, bahkan tidak memiliki kemauan untuk menyelesaikan. Mau tinggal dan berada di rumah apabila dirumah tersebut tidak ada masalah, model rumah tangga ini adalah antara suami dan istri selalu ingin lari dari masalah.
  2. Model Rumah Sakit, antara dokter dan pasien merasa orang yang paling berjasa, keduanya (suami istri) cenderung mengedepankan egoisme masing-masing, semua merasa yang paling hebat dan berjasa, sedangkan yang lain tidak berarti apa-apa.
  3. Model Pasar, kesepakatan antara penjual dan pembeli tergantung kepada kecocokan harga, apabila harga cocok transaksi dilanjutkan, tetapi jika harga tidak cocok transaksi dihentikan dan langsung berpisah. Rumah tangga ini model rumah tangga coba-coba.
  4. Model Ring Tinju, model rumah tangga ini tidak pernah berdiri pada sudut yang sama, keduanya terlibat dalam pertengkaran dan tidak ada yang mau mengalah, saling ingin menjatuhkan dan merasa yang paling hebat, rumah tangga ini model rumah tangga yang tidak pernah ada titik temu (saling bermusuhan)
  5. Model Kuburan, rumah tangga antara suami, istri dan anak tidak adanya komunikasi, (saling tegur sapa), kata-kata senda gurau persis seperti kuburan antara penghuni lama dan penghuni baru tidak tegur sapa. Keadaanya begitu sunyi, tetapi penuh misteri dan menegangkan serta menakutkan.
  6. 6. Model Masjid, Masjid adalah sebuah gambaran model rumah tangga “Asmara” (as-sakanih mawaddah wa rahmah) yang menjadi dambaan dan harapan setiap keluarga, rumah tangga gaya masjid memiliki  empat ciri (dibangun dengan wudhu, ada imam dan ma’mum, semangat kebersamaan dan diakhiri dengan salam)
 F. Prototipe Keluarga Sakinah
Dari penjelasan model (gaya) rumah tangga tersebut diatas, maka rumah tangga yang terbaik adalah model (gaya) masjid, adapun prototype keluarga sakinah model masjid adalah sebagai berikut :
  1. Tidak sah kalau tidak dibangun dengan wudhu, dimulai dengan berwudhu untuk mensucikan batin dari sifat-sifat dan niat yang tercela dan dosa, membersihkan lahir untuk membersihkan hadats dan najis dari kotoran lahir atas pengaruh dari luar dengan cara membasuh telapak tangan, berkumur, membasuh muka, tangan, mengusap kepala, membasuh telinga dan kedua kaki dengan tujuan kebersihan hati ketulusan jiwa.
  2. Ada muadzin, imam dan makmum dengan tujuan agar setiap diri memahami perannya masing-masing dan system berjalan dengan baik. Alangkah indahnya sebuah rumah tangga jika yang jadi imam adalah suaminya, istri dan anak-anaknya menjadi makmum. Diawali dengan muadzin mengundangkan adzan sebagai tanda masuk waktu, dan iqomah pertanda dimulainya shalat berjama’ah, imam tampil kedepan menyerukan aturan main dan menjadi suritauladan yang harus diikuti sebagai pemimpin, makmum mengikuti bacaan dan gerakan imam dibelakangnya sebagai pertanda komitmennya sebagai makmum dan mengingatkan jika imam salah.
  3. Masjid sebagai pusat penyemaian peradaban (penanaman dan internalisasi nilai-nilai) yang dibangun dengan pondasi ruh keimanan dan tembok semangan kerjasama, tiang komitmen bersama, dengan ornament kepercayaan dan dihiasi dengan komunikasi dan atap saling melindungi, menghagai dan menyayangi.
  4. Shalat diakhiri dengan salam ke kanan dan ke kiri dengan tujuan untuk memberikan keselamatan, ketenangan, kedamaian dan ketentaraman tidak saja kepada rumah tangga kita tetapi juga kepada tetangga dan lingkungan senantiasa mewarnai suasana dalam rumah tangga gaya masjid yang kita bangun. Bukan keresahan, konflik, fitnah dan pukan pula baku hantam (berakhir dengan perceraian dan saling mendendam).
G. Jalan Menuju Keluarga Sakinah
Rumah tangga sakinah tidak datang begitu saja dari langit, maka harus ditempuh melalui langkah-langkah dan dirancang, dipahami, dilaksanakan dengan komitmen dan selalu saling mengevaluasi, adapun langkah-langkah menuju keluarga sakinah adalah sebagai berikut :
  1. 1. Untuk menjadi keluarga yang unggul kita harus menentukan mabda’ (mulai) harus dimulai dengan niat yang baik), manhaj (cara, metode) tidak cukup hanya niat yang baik tetapi harus diikuti dengan cara yang benar, dan Ghayyah (tujuan) harus juga menentukan tujuan akhir yang kita inginkan dalam kehidupan rumah tangga (ibtigha-a mardhatillah).
  2. Apakah keluarga sakinah telah menjadi tujuan dan komitmen bersama ? karena itulah, mengapa pernikahan itu harus diawali dan dinilai syah jika ada akad nikah (mitsaqan ghalidha) perjanjian/ikatan yang kokoh seperti tertera dalam surat A-nisa ayat 21 :

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا
Wakaifa ta'khudzuunahu waqad afdha ba'dhukum ila ba'dhin waakhadzna minkum miitsaaqan ghaliizhan

"Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat."(QS.4:21)
  1. Langkah selanjutnya adalah tentukan model rumah tangga yang tepat, kemudian tanamkan dalam pikiran dan hati pasangan kita komitmen untuk memulai, tidak ada kata terlambat untuk memulainya dari sekarang.
  2. Sadari bahwa tidak ada manusia sempurna selain Nabi Muhammad, masing-masing disatukan untuk saling melengkapi, seperti dalam firman Allah swt surat Al-Baqarah

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Uhilla lakum lailatash-shiyaamirrafatsu ila nisaa-ikum hunna libaasun lakum wa-antum libaasun lahunna 'alimallahu annakum kuntum takhtaanuuna anfusakum fataaba 'alaikum wa'afaa 'ankum fal-aana baasyiruuhunna waabtaghuu maa kataballahu lakum wakuluu waasyrabuu hatta yatabai-yana lakumul khaithul abyadhu minal khaithil aswadi minal fajri tsumma atimmuush-shiyaama ilallaili walaa tubaasyiruuhunna wa-antum 'aakifuuna fiil masaajidi tilka huduudullahi falaa taqrabuuhaa kadzalika yubai-yinullahu aayaatihi li-nnaasi la'allahum yattaquun(a)


"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa, bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka, dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah, hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, (maka) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu (banyak-banyaklah) beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa." – (QS.2:187)

  1. Pahami dan usahakan secara maksimal untuk mewujudkan fungsi-fungsi keluarga sebagai berikut :
    1. Salah satu bentuk ibadah kepada Allah swt, (sepiritualisasi diri) sebagai anak tangga menuju kemuliaan dan kebahagiaan yang paripurna.
    2. Mengikuti sunnah Rasulullah saw.
    3. Mencegah diri dari dosa (maksiat mata, telinga, hidung, mulut, hati dst).
    4. Reproduksi (mengembangkan keturunan) yang qurrata a’yun sebagai penentram hati sejuk dipandang mata.
    5. Berkarya (mengembangkan potensi diri, karir, karya-karya nyata).
    6. Ekonomi (mengembangkan semangat kemandirian dan tanggung jawab).
    7. Rekreasi (mengembangkan keceriaan, kebersamaan, dan kegembiraan bersama).
    8. Sosialisasi diri (sarana untuk bergaul, bermasyarakat dan berbangsa).
H. Cara Membangun Keluarga Sakinah
Dalam membangun rumah tangga sakinah harus diperhatikan dan dibangun terlebih dahulu pondasinya, sebab apabila pondasinya kuat, maka akan kuat pula bangunan di atasnya adapun pondasi yang dimaksud adalah :
  1. Quwwatul-Aqidah, dalam arti didasari aqidah salimah yang berbasis keislaman dan keimanan yang kokoh karena aqidah merupakan persoalan yang sangat penting dan atas dasar tauhid personal dan social yang tangguh.
  2. Quwwatul-‘Ibadah, mempraktikan ajaran islam (ubudiyah) dengan penuh ketundukan dan kepatuhan baik pada dimensi ritual maupun dimensi social.
  3. Quwwatul-Khulukiyyah, memiliki integritas dan moralitas yang luhur dan mulia.
  4. Quwwatul-Iqtishadiyyah, mengembangkan kemandirian ekonomi dan kehidupan yang halalan thayyiban.
  5. Quwwatul-Ijtima’iyyah, belajar hidup bersama, bersosialisasi diri, dan bermasyarakat secara sehat, bermartabat dan berbudaya.
I. Indikator Keluarga Sakinah
Berdasarkan Sabda Rasulullah saw, ada empat indicator kebahagiaan keluarga seseorang adalah :
  1. Suami/istri sholeh/sholehah.
  2. Anak-anak berbakti (Qurrata-A’yun).
  3. Teman pergaulan dan kolega shalih.
  4. Rizki berada di negeri sendiri yang halalan thayyiban, berkah, dekat dengan istri/suami dan anak-anak.
Dalam hadits lain Rasulullah mengutarakan :
  1. Rumah yang lapang.
  2. Kendaraan yang baik.
J. Penutup.
Demikian tulisan yang sederhana ini semoga dapat kiranya menjadi bahan diskusi, perenungan dan apabila dinilai baik sesuai dengan petunjuk Allah swt dan tuntunan Rasulullah saw, bagi yang menghendaki rumah tangganya sakinah dengan bermodalkan mawadah, rahmah dan penuh dengan keridhaan Allah swt sebagai bentuk dari pengejawantahan dari pengamalan ajaran Islam dengan baik maka hal ini dapat menjadi bahan masukan bagi para pembaca yang budiman.


Sumber : Al Qur'an dan Hadits

Jumat, 10 Mei 2013

RUMAH TANGGA BAHAGIA DALAM PANDANGAN ISLAM


Rumah Tangga Bahagia Menurut Pandangan Islam

 
Ketika ada seseorang menikah, Rasulullah membaca doa “barokallahulaka, wa baroka’alaika, wajama’a bainakuma fii khoir”. Cita-cita setiap pasangan adalah membentuk keluarga yang barokah, sakinah mawaddah warahmah. Tentunya tidak ada orang yang menginginkan kegagalan dan kehancuran dalam rumah tangganya.

Mari kita bahas secara singkat tentang barokah, sakinah, mawaddah warahmah dalam sebuah rumah tangga.

1. Rumah tangga barokah
Arti barokah “Secara harfiah, barokah berarti an-nama’ waz ziyadah yakni tumbuh dan bertambah. Atau bisa didefinisikan dengan kata majemuk jalbul khoir atau sesuatu yang dapat membawa kebaikan. Ini berarti Barokah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya. Kalau sesuatu yang kita miliki membawa pengaruh negatif, maka kita berarti tidak memperoleh barokah yang diidamkan itu.”
Dalam doa pernikahan yang diucapkan :
» barakallahulaka, artinya mengharapkan semoga diberi keberkahan Allah ketika kondisi berbahagia
» baroka’alaika, artinya mengharapkan diberi keberkahan ketika dalam kondisi susah atau ditimpa cobaan
misalnya ketika diberi cobaan sakit, jika keluarganya diliputi keberkahan maka Allah akan memberikan kesabaran dan kesembuhan.

Dalam sebuah rumah tangga pastilah ada suka dan duka, karena itu baiknya mendoakan agar sebuah keluarga tetap diberikan keberkahan oleh Allah dalam suka maupun duka.
» wajama’a bainakuma fii khoir, artinya semoga Allah mempertemukan dalam kebaikan.
Bagaimana caranya agar kita memperoleh hal-hal diatas ?
Mari kita membuka quran terjemahan kita surat Al-A’raf ayat 96
 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
yang artinya “Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.”. Dari ayat ini, maka ditegaskan kembali arti dari kata berkah, yaitu : semakin bermanfaat atau semakin bertambah kebaikan. Untuk mendapatkan kebaikan dan berkah Allah, sebuah rumah tangga haruslah dibangun atas dasar ketakwaan.
¤Dengan takwa, akan dimudahkan urusan dan rejeki (QS. 65:2-3).
 فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ فَارِقُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ وَأَقِيمُوا الشَّهَادَةَ لِلَّهِ ذَلِكُمْ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Artinya : " Apabila mereka telah mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar."
 وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya :" Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu."
¤QS. Muhammad (47):7.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Jika manusia menolong agama Allah, niscaya Allah akan memudahkan urusannya.

2. Rumah tangga sakinah

Rumah tangga yang penuh ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Seperti firman Allah dalam QS. Ar-Rum (30) : 21.
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum 21].
 
Kemudian disebutkan pula dalam firman Allah QS. An-Nisa : 1
 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
 'Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. '
dan QS. Ali-Imron :102.
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati, melainkan dalam keadaan beragama Islam." – (QS.3:102)

Kedua ayat Al-Quran tersebut menjelaskan tentang anjuran bertakwa dan silaturahim. Rumah tangga akan lebih baik dan bahagia jika ada hubungan dan komunikasi yang baik antara anak-orang tua serta menantu-mertua.
Sedangkan pada QS.Al-Ahzab : 70-71 menjelaskan tentang anjuran berbicara yang baik, suami istri dianjurkan untuk saling berkata dan bicara yang baik.
 يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا* يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
 "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."

Cara untuk meraih keluarga yang sakinah :
» Banyak mengingat Allah.
Dijelaskan dalam firman Allah QS. 13 : 28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat-ingat Allah-lah hati menjadi tenteram." – (QS.13:28)

dan QS. Thoha : 12
إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى
"Sesungguhnya Aku inilah Rabb-mu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa." – (QS.20:12)
bahwa hati akan menjadi tenang dengan sholat dan membaca Al-Quran.
» Ridho kedua orang tua.
Ridho Allah tergantung dari ridho orang tua, sedangkan murka Allah tergantung murka orang tua.
Dianjurkan pula untuk memperbanyak istighfar sebagai sarana taubat (QS. 8:39).
 وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
 "Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah, dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya, Allah Maha Melihat, apa yang mereka kerjakan." – (QS.8:39)

 Keutamaan beristighfar banyak sekali antara lain meredam murka Allah, menolak bala’ dan musibah. Bila sudah terlanjur menyakiti orang lain, maka dianjurkan banyak bertaubat dan meminta maaf.

3. Rumah tangga mawaddah warahmah
Artinya sebuah rumah tangga yang saling mencintai dan menyayangi. Dan doa yang dapat senantiasa diucapkan adalah seperti pada surat Al-Furqon ayat 74 yang artinya :
 وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Dan orang-orang yang berkata “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”. Jika seseorang itu belum dipertemukan Allah dengan jodohnya, maka doanya ditambah dengan kalimat “rabbi habli zaujan sholihan” yang artinya “Ya Allah karuniakan padaku pasangan yang takwa”.

Demikian sekilas tentang rumah tangga bahagia dalam pandangan islam, semoga bermanfaat.


Inspired by USTADZ AHMAD HAMBALI, Pengasuh TPQ Nuruddin
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU