Sabtu, 20 Juli 2013

MUTIARA RAMADHAN : PUASA DAN MANAJEMEN SYAHWAT

Puasa dan Manajemen Syahwat

 

BAGI pemuda yang ingin menikah tapi tak punya dukungan ekonomi dan mentalitas yang cukup, Rasulullah SAW menganjurkan berpuasa. Tujuannya agar dia tidak terperosok ke jurang kemaksiatan.
"Siapapun yang belum mampu menikah, hendaklah berpuasa. Karena puasa adalah penjaga baginya," sabda Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Hadis ini menunjukkan bahwa ada kaitan erat antara puasa dengan pengaturan syahwat. Tahukah Anda, apa itu syahwat? Imam al-Ghazali mendefinisikannya dengan istilah, nuzu' an nafs ila ma turiduh, yaitu kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya.
Keinginan manusia untuk melakukan dan mendapatkan segala hal yang ia sukai dan selalu ingin menambah lagi dan lagi, itulah syahwat.

Aneka syahwat ini dijelaskan Allah SWT dalam surat Ali Imran Ayat 14  :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Zui-yina li-nnaasi hubbusy-syahawaati minannisaa-i wal baniina wal qanaathiiril muqantharati minadz-dzahabi wal fidh-dhati wal khailil musau-wamati wal an'aami wal hartsi dzalika mataa'ul hayaatiddunyaa wallahu 'indahu husnul maaab(i)

 "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga)."

Ayat di atas menyiratkan, syahwat sebagai potensi keinginan manusia. Allah menegaskan, pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan kesenangan kepada wanita atau lawan jenis (seksual), anak-anak (kebanggaan), harta kekayaan (kebanggaan, kesombongan dan kemanfaatan), kendaraan yang bagus (kebanggaan, kenyamanan dan kemanfaatan), binatang ternak (kesenangan dan kemanfaatan), dan sawah ladang (kesenangan, kemanfaatan).

Dengan demikian, kecenderungan manusia pada kesenangan seksual, harta benda dan kenyamanan adalah perkara alamiah alias manusiawi. Dalam diri manusia, syahwat ini berperan penting, karena ia menjadi penggerak tingkah laku.
Kalau lapar dan dahaga datang, ia akan mengarahkan manusia untuk mencari makanan dan minuman. Apabila melihat perempuan seksi, yang dominan adalah syahwat seksual. Maka, dorongan keinginannya selalu mengarah kepada hal-hal yang dapat memberikan kepuasan seksual.
Jadi, kecenderungan syahwat itu tergantung apa yang sedang dominan dalam dirinya. Syahwat seksual, syahwat politik, syahwat pemilikan, syahwat kenyamanan, syahwat harga diri, syahwat kelezatan dan lainnya. Ibarat anak kecil, ia bebas dan tak terkendali jika selalu dimanjakan dan dituruti.
Supaya terkendali dan tumbuh menjadi pribadi yang baik, anak harus dididik dengan ilmu pengetahuan. Begitu pula syahwat, dorongan keinginan yang beraneka ragam itu akan mengarah pada hal-hal posistif, jika kita mampu mengendalikannya.
Lalu, bagaimana cara mengendalikan syahwat? Pada titik inilah, puasa berperan besar dalam mendidik syahwat liar itu. Nah, Bulan Ramadan adalah kesempatan emas bagi kita untuk menjalani training manajemen syahwat secara langsung melalui puasa Ramadan selama satu bulan.
Materi penting dalam training manajemen syahwat selama berpuasa di Bulan Suci Ramadan adalah latihan mengendalikan syahwat yang halal. Syahwat jenis ini perlu ditundukkan, karena untuk mempermudah seseorang dalam mengendalikan syahwat haram.
Jika tidak terbiasa mengendalikan syahwat halal, akan sulit bahkan mustahil baginya mengendalikan syahwat haram. Mengapa? Karena, syahwat yang haram pasti terasa lebih nikmat, lebih mudah, lebih banyak dan lebih kuat dorongan melakukannya.
Contoh, menerima honor atau gaji itu jelas halal. Tapi, syahwat manusia selalu mendorong mendapatkan gaji yang lebih dan lebih besar lagi. Jika dituruti tentu tak ada kata puas, sebesar apapun gajinya selalu ingin lebih.
Manusia bisa mengendalikan atau tidak? Jika tidak, syahwat yang haram (perilaku korupsi) sudah mengincar. Apabila ada kesempatan, pasti dia tak segan melakukan korupsi untuk memuaskan syahwat mendapatkan gaji lebih.
Jadi, training manajemen syahwat di Bulan Ramadan ini fokus pada tiga induk syahwat halal yang sudah built in dalam diri manusia. Antara lain, syahwat makan, syahwat minum, dan syahwat kemaluan (seks). Jika ketiga hal ini dilanggar, training langsung dinyatakan gagal, alias batal puasanya.
Apabila seorang tak mampu dan tak terbiasa mengendalikan ketiga syahwat dalam kondisi halal, ia dengan mudah terjerumus ke dalam syahwat haram. Korupsi misalnya, jelas bukan dilakukan orang miskin yang sekadar butuh makan dan minum. Tapi, dilakukan orang-orang yang bergaji besar.
Perselingkuhan, juga bukan dilakukan pria dan wanita lajang, tapi mereka yang sudah punya pasangan halal. Mereka tak puas pasangannya dan apa yang dimilikinya.

Walhasil, syahwat makan, minum dan seks itu harus dapat dikendalikan dengan baik dalam situasi dan kondisi halal. Kalau tidak, ketiga syahwat tersebut mendorong seseorang mendapatkannya dengan segala cara tanpa mengenal halal dan haram.
Mari kita manfaatkan puasa Ramadan sebagai training manajemen syahwat dengan baik. (*)


_______________________________________________

MUTIARA RAMADHAN : PARADOKS PUASA

Paradoks Puasa


PUASA seyogyanya membangun keintiman seorang makhluk dengan Sang Khaliq, mencapai ketaqwaan, memompa produktifitas, menyehatkan, mensejahterakan, dan membangun solidaritas. Sebab saat ibadah puasa, seseorang berinteraksi secara langsung, jujur dan spesial dengan Allah SWT, sehingga mendapat ridhanya.
     Saat berpuasa seseorang mengurangi jadwal dan jumlah  konsumsi, sehingga lebih sehat. Perut lebih stabil, banyak waktu berkarya dan dapat merasakan betapa penderitaan menahan lapar dan haus, sehingga terketuk hatinya untuk berbagi sebagai rasa solidaritas kemanusiaan.
     Nyatanya fenomena puasa sering berlawanan dan paradoks antara nilai dan realitanya. Acapkali orang berpuasa hanya rutinitas keagamaan tahunan, tidak makan, tidak minum dan tidak bersetubuh di siang hari.Tapi perilakunya tidak ada perubahan, pikiran dan hatinya tidak dibersihkan dari rasa hasud, sehingga puasa tidak memberi efek perubahan dalam hidupnya.
Saat Ramadhan seyogyanya bahan pokok lebih murah dan lebih banyak persediaan, karena puasa mengurangi kebutuhan konsumsi. Nyatanya harga bahan pokok dan kebutuhan lain beranjak naik. Ini menunjukkan permintaan bahan pokok meningkat, sehingga menimbulkan kenaikan harga. Artinya pelaksanaan puasa tidak membuat pengurangan konsumsi, tapi malah meningkat.
     Puasa sering menjadi alasan untuk tidak melakukan banyak aktivitas, seperti jam kantor dikurangi dua jam, sudah begitu masih banyak pegawai datang terlambat karena alasan puasa, sehingga banyak pekerjaan tertunda bahkan terbengkalai. Padahal, sebenarnya saat orang berpuasa lebih banyak waktu, karena saat berpuasa telah menghilangkan jadwal makan pagi dan siang. Bahkan mau cepat-cepat pulang ke rumahpun masih menunggu maghrib untuk makan malam.
     Puasa menambah produktivitas, tapi kenapa sering menjadi alasan menghentikan banyak aktivitas karena alasan PUASA..??? Padahal saat berpuasa seseorang menstabilkan konsumsi, memperbanyak gerak dengan banyak beribadah sehingga tubuh dan rohani dibersihkan. Akan tetapi acapkali orang yang berbuka malah balas dendam dengan mengkonsumsi makanan beraneka ragam dan berlebihan. Saat puasa tak ubahnya hanya mengubah jadwal makan di siang hari, tidak berkurang sedikitpun bahkan bertambah.
     Puasa seyogyanya menyehatkan karena ada proses pencernaan yang membersihkan dan menghancurkan racun-racun dalam tubuh. Tapi nyatanya acapkali terjadi yang sebaliknya, saat berpuasa tubuhnya lemas dan banyak tidur. Rosululloh SAW bersabda : "Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Alloh SWT dan sholat, serta janganlah kalian langsung tidur selesai makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras." (HR. Abu Nu'aim).
Puasa seyogyanya dapat membangkitkan rsa solidaritas. Sebab saat berpuasa dapat merasakan pedihnya menahan lapar dan haus yang diderita oleh orang tidak mampu. Nyatanya acapkali orang yang berpuasa berlebihan mengkonsumsi saat berbuka dan saat sahur, bahkan banyak makan basi dan terbuang.
     Ibadah puasa seyogyanya makin hari semakin meningkat hingga di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar. Nyatanya acapkali saat Ramadhan hanya semangat di awal dan makin hari makin menyusut semangatnya. Bahkan saat 10 hari terakhir Ramadhan lebih sibuk berburu diskon dan belanja di pasar untuk keperluan lebaran.
"Pada sepuluh terakhir Ramadhan Rosululloh SAW  lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." (HR. Muslim).
     Tuntutan puasa acapkali tak sesuai pelaksanaannya, sehingga nilai puasa tak terinternalisasi dalam kehidupan. Maka puasa tak memberi efek dalam mengubah karakter dan pencapaian kesejatian diri manusia. Lebaran yang seyogyanya menjadi simbol kemenangan melawan hawa nafsu, nyatanya hanya simbolis belaka. Sebab yang berubah dan baru hanya baju atau pakaian. Puasa hanya menahan lapar dan haus, tak menuntun perubahan dan menggapai fitrah.
     Puasa seharusnya dilakun seluruh organ tubuh, pikiran dan hatinya menyatu dengan Sang Pencipta. Jabir bin Abdillah ra berkata : "Jika kamu berpuasa hendanya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari nista dan dosa-dosa. Tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."
  
Demikian sekilas mutiara ramadhan kali ini semoga bermanfaat dan Allah selalu menjadikan kita orang yang selalu dalam lindungannya... Amin Yaa Rabbal Alamin...


____________________________________


Jumat, 19 Juli 2013

MUTIARA RAMADHAN : PUASA DAN QANAAH

PUASA DAN QANAAH

Manusia salah satu makhluk Allah SWT yang memiliki nafsu ganda, yaitu nafsu baik dan jahat. Sifat yang muncul pada diri manusia, tergantung nafsu mana yang dapat memenangkan  pertarungan dalam diri manusia itu sendiri.
     Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kecenderungan manusia memunculkan nasu jahatnya yang lebih besar. Dalam Al Qur'an Surah Yusuf Allah berfirman :

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Wamaa ubarri-u nafsii innannafsa ammaaratun bissuu-i ilaa maa rahima rabbii inna rabbii ghafuurun rahiimun

"Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang." – (QS.12:53)

Salah satu nafsu jahat manusia yang sering muncul adalah rakus dan tamak. Manusia memiliki sifat tak pernah puas terhadap apa yang telah dicapai.
Rosululloh SWA bersabda : " Kalau adak Adam (manusia) memiliki harta sepenuh dua lembah, niscaya dia masih mencari lembah yang ketiga. Tiada yang memenuhi perut anak Adam (manusia) selain tanah. Allah menerima taubat sesiapa yang bertaubat". (HR. Muslim). 
     Manusia sifatnya rakus maunya nambah terus,dan tak pernah puas terhadap yang telah dicapainya.
Makanya dalam kehidupan sehari-hari,manusia tak cukup dengan satu kendaraan.Sudah memiliki satu kendaraan maunya nambah lagi,sehingga macet dimana-mana.
Manusia selalu takut akan kekurangan dan takut hidupnya menderita. maka, manusia senang menumpuk-numpuk harta sampai lalai kewajibannya terhadap Tuhannya. Allah berfirman dalam Al Qur'an surah At-Takastur :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
Al-haakumut-takaatsur(u)

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu," – (QS.102:1)

Memang tak mudah mengendalikan nafsu serakah manusia,karena memang watak ini sudah melekat erat pada diri manusia.  Demi tuntunan nafsunya banyak orang mengabaikan bagaimana cara mendapatkan hartanya. Halal haram tak lagi menjadi pertimbangan, karena itu korupsi merajalela, penipuan dimana-mana,pencurian, penjambretan terjadi dimana-mana.
Manusia, demi kepuasan nafsunya tak lagi takut akan hisab di hari akhirat nanti. Padahal, semua perbuatan manusia dalam perburuannya untuk memuaskan nafsunya nanti akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman :

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ
Inna ilainaa iyaabahum
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
Tsumma inna 'alainaa hisaabahum

 "Sesungguhnya kepada Kami-lah, kembali mereka,"kemudian sesungguhnya, kewajiban Kami-lah menghisab mereka." – (QS.Al Ghaasyiyah :25-26)

     Dengan datangnya bulan Ramadhan,manusia (khususnya umat muslim) diperintahkan berpuasa. Puasa yang secara bahasa diartikan dengan menahan (al imsak) dan secara terminologi menjauhkan diri sepenuhnya dari makanan,minuman, hubungan intim dan segala hal yang dapat membatalkan puasa, mulai fajar sampai matahari terbenam, merupan ibadah yang bertujuan mengendalikan nafsu jahat manusia.
Dengan puasa manusia disuruh belajar menahan "suatu perbuatan" yang selama ini menjadi kegemaran, bahkan kebutuhan dasar manusia. Seperti makan, minum. hubungan seksual dan lain-lain.
     Puasa melatih manusia tidak serakah. Puasa melatih manusia mengontrol nafsunya untuk tidak melakukan
perbuatan yang pada hari-hari tidak berpuasa diperbolehkan. Karena itu, puasa menghasilkan manusia-manusia yang terlatih nafsunya dalam menghadapi kemewahan dunia, yaitu insan bertaqwa. Dalam Al Qur'an surah Al Baqarah :183 dijelaskan   :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu kutiba 'alaikumush-shiyaamu kamaa kutiba 'alaal-ladziina min qablikum la'allakum tattaquun(a)

 "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa." – (QS.2:183)

Puasa melatih manusia untuk bersabar ( syahr al shabr ) dalam menghadapi godaan megahnya dunia. Betapapun nafsu sangat menginginkannya, jikalau perbuatan itu maksiat, atau mencapainya harus dengan kemaksiatan, manusia yang telah terlatih dengan puasa ia akan mampu menahannya. Berbeda dengan orang yang tak terlatih dengan puasa, atau puasa tapi puasanya tidak benar, nafsunya tidak memiliki kendali, sehingga ia tak mampu menahan godaan-godaan kemaksiatan yang ada didepannya.
     Karena itu Rosululloh menyebutkan puasa itu sebagai perisai (al shaumu junnatun ). Karena, dengan puasa manusia mampu menangkis berbagai hal yang akan menjerumuskan dalam keserakahan.
Puasa mengembalikan sifat-sifat serakah manusia kepada sifat mau menerima dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya (qanaah). Orang yang berpuasa di didik melihat dan merasakan kehidupan orang-orang yang lebih susah darinya dan dididik tidak selalu melihat orang yang nasibnya lebih baik darinya. Sehingga orang yang berpuasa akan menyadari bahwa nikmat Allah SWT yang diberikan kepadanya masih jauh lebih baik dibanding yang diberikan kepada orang lain.
Jika orang yang selalu melihat nasib orang yang lebih baik, ia tidak pernah bersyukur dan tak pernah puas terhadap  apa yang telah ia perolehnya.
     Disinilah puasa mendidik manusia untuk selalu memiliki kesadaran bahwa kekayaan tidak selalu identik dengan harta, atau glamoritasnya dunia. Tetapi kekayaan letaknya dalam hati. Sejauh mana ia dapat mensyukuri nikmat Illahi Rabbi, maka disitulah ia menemukan kecukupan hidupnya.
Rosululloh SAW telah mengingatkan kita dalam sabdanya  : "Kekayaan (yang hakiki), bukanlah dengan banyaknya harta atau materi, namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup". (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa mendidik manusia agar menjadi orang yang selalu merasa cukup dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT.
         Demikian sekilas yang dapat kami sampaikan semoga Allah selalu menjadikan kita sebagai orang yang selalu mensyukuri atas apa yang telah diberikanNya kepada kita. Amin......
Samapi jumpa di artikel Mutiara Ramadhan berikutnya.

______________________________________

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AT-TAUBAH AYAT 121 - 129 ( 07 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AT-TAUBAH
Ayat [129]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:7/7
121 dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 9:121)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 121 

وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (121

Dalam ayat ini, Allah swt. menjelaskan, bahwa mereka yang tinggal di rumah dan tidak berangkat ke medan perang bersama Rasulullah, tentulah tidak ikut memberikan sumbangan bagi perjuangan baik yang kecil maupun yang besar, dan mereka pun tidak ikut merasakan kepayahan melintasi suatu lembah pun. Lain halnya dengan orang-orang yang ikut berperang. Mereka berbuat dan mengalami hal yang demikian itu niscaya dituliskan di sisi Allah sebagai amal saleh, karena Allah akan memberikan kepada mereka balasan yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada apa yang telah mereka sumbangkan dan apa yang mereka perbuat itu.
Orang-orang yang ikut berperang serta menyumbangkan harta bendanya untuk di jalan Allah, berarti telah melakukan dua macam pengorbanan yang mulia, yaitu pengorbanan harta benda dan pengorbanan jiwa raga. Pengorbanan yang paling mulia tentulah berhak untuk diberi ganjaran yang paling mulia pula, bahwa ganjaran itu lebih tinggi daripada pengorbanan yang telah diberikannya. Mengenai hal ini telah ada suatu ketentuan dalam agama Islam sebagaimana firman Allah:


مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا
Artinya:
Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.
(Q.S. Al-An'am: 160)
Perlu diingat bahwa pahala yang besar itu tidak hanya diberikan Allah kepada orang mukmin yang mengorbankan harta benda dan jiwa raga dalam peperangan saja melainkan juga kepada orang-orang mukmin yang melakukan amal kebajikan dalam bidang yang lain. Namun demikian pengorbanan yang diberikan dalam berjihad di medan perang untuk membela agama adalah lebih mulia daripada pengorbanan untuk kepentingan yang lain sehingga pengorbanan harta yang sedikit jumlahnya untuk keperluan jihad sama nilainya dengan pengorbanan harta yang banyak untuk kebajikan yang lain. Dan penderitaan yang sedikit yang diderita dalam berjihad sama nilainya dengan penderitaan besar yang dialami dalam perbuatan amal yang lain.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 121 

وَلَا يُنْفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً وَلَا يَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (121

(Dan mereka tiada menafkahkan) dalam rangka melaksanakan hal tersebut (suatu nafkah yang kecil) sekali pun berupa sebiji buah kurma (dan tidak pula yang besar dan tidak melintasi suatu lembah) dengan berjalan kaki (melainkan dituliskan bagi mereka) amal saleh pula (karena Allah memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) sebagai pahalanya.


122 Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(QS. 9:122)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 122

 
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan bahwa tidak perlu semua orang mukmin berangkat ke medan perang, bila peperangan itu dapat dilakukan oleh sebagian kaum muslimin saja. Tetapi harus ada pembagian tugas dalam masyarakat, sebagian berangkat ke medan perang, dan sebagian lagi bertekun menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama Islam supaya ajaran-ajaran agama itu dapat diajarkan secara merata, dan dakwah dapat dilakukan dengan cara yang lebih efektif dan bermanfaat serta kecerdasan umat Islam dapat ditingkatkan.
Orang-orang yang berjuang di bidang pengetahuan, oleh agama Islam disamakan nilainya dengan orang-orang yang berjuang di medan perang. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah bersabda:


يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء
Artinya:
Di hari kiamat kelak tinta yang digunakan untuk menulis oleh para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada (yang gugur di medan perang).
Tugas ulama umat Islam adalah untuk mempelajari agamanya, serta mengamalkannya dengan baik, kemudian menyampaikan pengetahuan agama itu kepada yang belum mengetahuinya. Tugas-tugas tersebut adalah merupakan tugas umat dan tugas setiap pribadi muslim sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan masing-masing, karena Rasulullah saw. telah bersabda;


بلغوا عني ولو آية
Artinya:
Sampaikanlah olehmu (apa-apa yang telah kamu peroleh) daripadaku walaupun hanya satu ayat Alquran saja.
Akan tetapi tentu saja tidak setiap orang Islam mendapat kesempatan untuk bertekun menuntut dan mendalami ilmu pengetahuan serta mendalami ilmu agama, karena sebagiannya sibuk dengan tugas di medan perang, di ladang, di pabrik, di toko dan sebagainya. Oleh sebab itu harus ada sebagian dari umat Islam yang menggunakan waktu dan tenaganya untuk menuntut ilmu dan mendalami ilmu-ilmu agama agar kemudian setelah mereka selesai dan kembali ke masyarakat, mereka dapat menyebarkan ilmu tersebut, serta menjalankan dakwah Islam dengan cara atau metode yang baik sehingga mencapai hasil yang lebih baik pula.
Apabila umat Islam telah memahami ajaran-ajaran agamanya, dan telah mengerti hukum halal dan haram, serta perintah dan larangan agama, tentulah mereka akan lebih dapat menjaga diri dari kesesatan dan kemaksiatan, dapat melaksanakan perintah agama dengan baik dan dapat menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian umat Islam menjadi umat yang baik, sejahtera dunia dan akhirat.
Di samping itu perlu diingat, bahwa apabila umat Islam menghadapi peperangan besar yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, maka dalam hal ini seluruh umat Islam harus dikerahkan untuk menghadapi musuh. Tetapi bila peperangan itu sudah selesai, maka masing-masing harus kembali kepada tugas semula, kecuali sejumlah orang yang diberi tugas khusus untuk menjaga keamanan dan ketertiban dalam dinas kemiliteran dan kepolisian.
Oleh karena ayat ini telah menetapkan bahwa fungsi ilmu tersebut adalah untuk mencerdaskan umat, maka tidaklah dapat dibenarkan bila ada orang-orang Islam yang menuntut ilmu pengetahuannya hanya untuk mengejar pangkat dan kedudukan atau keuntungan pribadi saja, apalagi untuk menggunakan ilmu pengetahuan sebagai kebanggaan dan kesombongan diri terhadap golongan yang belum menerima pengetahuan.
Orang-orang yang telah memiliki ilmu pengetahuan haruslah menjadi mercusuar bagi umatnya. Ia harus menyebarluaskan ilmunya, dan membimbing orang lain agar memiliki ilmu pengetahuan pula. Selain itu, ia sendiri juga harus mengamalkan ilmunya agar menjadi contoh dan teladan bagi orang-orang sekitarnya dalam ketaatan menjalankan peraturan dan ajaran-ajaran agama.
Dengan demikian dapat diambil suatu pengertian, bahwa dalam bidang ilmu pengetahuan, setiap orang mukmin mempunyai tiga macam kewajiban, yaitu: menuntut ilmu, mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.
Menurut pengertian yang tersurat dari ayat ini kewajiban menuntut ilmu pengetahuan yang ditekankan di sisi Allah adalah dalam bidang ilmu agama. Akan tetapi agama adalah suatu sistem hidup yang mencakup seluruh aspek dan mencerdaskan kehidupan mereka, dan tidak bertentangan dengan norma-norma segi kehidupan manusia. Setiap ilmu pengetahuan yang berguna dan dapat mencerdaskan kehidupan mereka dan tidak bertentangan dengan norma-norma agama, wajib dipelajari. Umat Islam diperintahkan Allah untuk memakmurkan bumi ini dan menciptakan kehidupan yang baik. Sedang ilmu pengetahuan adalah sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan kewajiban adalah wajib pula hukumnya. Dalam hal ini, para ulama Islam telah menetapkan suatu kaidah yang berbunyi: 
 
كل ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب
Artinya:
Setiap sarana yang diperlukan untuk melaksanakan yang wajib, maka ia wajib pula hukumnya.
Karena pentingnya fungsi ilmu dan para sarjana, maka beberapa negara Islam membebaskan para ulama (sarjana) dan mahasiswa pada perguruan agama dari wajib militer agar pengajaran dan pengembangan ilmu senantiasa dapat berjalan dengan lancar, kecuali bila negara sedang menghadapi bahaya besar yang harus dihadapi oleh segala lapisan masyarakat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 122 

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122

Tatkala kaum Mukminin dicela oleh Allah bila tidak ikut ke medan perang kemudian Nabi saw. mengirimkan sariyahnya, akhirnya mereka berangkat ke medan perang semua tanpa ada seorang pun yang tinggal, maka turunlah firman-Nya berikut ini: (Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi) ke medan perang (semuanya. Mengapa tidak) (pergi dari tiap-tiap golongan) suatu kabilah (di antara mereka beberapa orang) beberapa golongan saja kemudian sisanya tetap tinggal di tempat (untuk memperdalam pengetahuan mereka) yakni tetap tinggal di tempat (mengenai agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya) dari medan perang, yaitu dengan mengajarkan kepada mereka hukum-hukum agama yang telah dipelajarinya (supaya mereka itu dapat menjaga dirinya) dari siksaan Allah, yaitu dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sehubungan dengan ayat ini Ibnu Abbas r.a. memberikan penakwilannya bahwa ayat ini penerapannya hanya khusus untuk sariyah-sariyah, yakni bilamana pasukan itu dalam bentuk sariyah lantaran Nabi saw. tidak ikut. Sedangkan ayat sebelumnya yang juga melarang seseorang tetap tinggal di tempatnya dan tidak ikut berangkat ke medan perang, maka hal ini pengertiannya tertuju kepada bila Nabi saw. berangkat ke suatu ghazwah.


123 Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(QS. 9:123)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 123 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (123

Taktik perang yang ditunjukkan Allah dalam ayat ini kepada Rasulullah saw. dan kaum muslimin lebih dahulu memerangi musuh-musuh Islam yang berada pada garis lingkaran yang terdekat dengan pusat kedudukan umat Islam kemudian dilanjutkan kepada lingkaran yang lebih jauh.
Hal ini didasarkan kepada prinsip, bahwa peperangan yang dilakukan umat Islam hanyalah untuk mengamankan jalannya dakwah Islam dan untuk melindungi keselamatan umat Islam, sedang dakwah tersebut juga dimulai dari orang-orang yang terdekat, dilanjutkan kepada orang-orang yang lebih jauh. Dengan demikian, terlihat adanya garis sejajar antara dakwah Islam dan peperangan tersebut.
Petunjuk ini telah dilaksanakan dengan baik oleh Rasulullah saw., baik dalam bidang dakwah maupun peperangan yang berfungsi untuk mengamankan dakwah tersebut. Mengenai dakwah, beliau telah melaksanakannya lebih dahulu kepada keluarganya yang terdekat dan sahabat-sahabat karibnya, sesuai dengan petunjuk Allah swt.:


وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ
Artinya:
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.
(Q.S. Asy Syu'ara: 214)
Dan firman-Nya dalam ayat yang lain:


وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا
Artinya:
....dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya.
(Q.S. Al-An'am: 92)
Kemudian dakwah ini beliau lanjutkan kepada masyarakat yang lebih luas, tidak saja dalam lingkungan negeri Arab, bahkan kepada raja-raja dan bangsa-bangsa sekitar Jazirah Arab.
Demikian pula dalam hal peperangan, sesuai dengan ayat tadi dimulai dari musuh-musuh Islam yang terdekat yang selalu melakukan tipu daya untuk menghalang-halangi jalannya dakwah Islam. Kemudian dilanjutkan kepada suku-suku Arab yang lebih jauh dari pusat kedudukan atau basis umat Islam. Sesudah Rasulullah saw. wafat, maka para khalifah meneruskan peperangan tersebut ke daerah-daerah yang lebih jauh, yaitu ke negeri Syam (Syria) dan Irak. Kemudian menyusup ke benua Afrika (sebelah Barat) dan Persia, Khurasan, bahkan sampai ke pegunungan Hindukust (sebelah Timur) sesuai dengan perluasan dakwah Islam yang mereka lakukan menurut petunjuk dan perintah Allah swt.:


قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ
Artinya:
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan tidak (pula) kepada hari kemudian.
(Q.S. At Taubah: 29)
Musuh-musuh Islam yang terdekat kepada Rasulullah dan kaum muslimin ketika itu ialah orang-orang kafir yang terdiri dari kaum Yahudi yang berdiam di kota Madinah, kemudian di Khaibar dan selanjutnya mereka yang memerangi kaum Muslimin di perang Tabuk, dan sesudah itu musuh-musuh Islam di daerah-daerah Syam yang ketika itu berada dalam kekuasaan Romawi Timur yang berpusat di bizantium.
Taktik peperangan dengan cara memulai dari yang terdekat kepada yang jauh adalah tepat sekali ditinjau dari berbagai segi, yaitu dari segi kemungkinan fasilitas pengangkutan, perbekalan dan biaya. Semakin dekat tempatnya, semakin mudah cara-cara pengangkutan dan dengan demikian semakin kecil pula biaya dan perbekalan yang diperlukan. Semakin jauh tempat yang harus didatangi, semakin sukar pula pengangkutan dan semakin banyak pula waktu dan perbekalan yang diperlukan. Dengan sendirinya semakin banyak tenaga yang dibutuhkan.
Prinsip mendahulukan yang dekat dari yang jauh ini juga diterangkan dalam bidang-bidang lainnya, yaitu:
a. Dalam kewajiban memberi nafkah dan sedekah harus dimulai dari yang terdekat, kemudian orang-orang yang lebih jauh, baik ditinjau dari segi kekerabatannya maupun dari segi tempatnya. Atas dasar prinsip ini, maka zakat dan sedekah tidaklah boleh diberikan kepada orang-orang di desa lain apabila dalam desa itu sendiri masih ada orang-orang yang perlu diberi.
b. Dalam menghidangkan makanan dan minuman pada majelis perjamuan harus dimulai dari yang terdekat. Rasulullah saw. telah memberikan contoh teladan dalam hal ini, di mana beliau mengedarkan minuman lebih dahulu kepada orang-orang yang duduk di kanan-kirinya walaupun mereka itu bukan orang-orang penting dan terkemuka, kemudian baru diteruskan kepada yang berikutnya.
c. Mengenai hak perwalian dalam pernikahan, juga kita lihat adanya prinsip ini. Orang yang paling berhak untuk menjadi wali nikah bagi wanita Islam adalah orang-orang yang terdekat kepadanya, yaitu ayahnya, kemudian kakek lalu saudara lelaki dan paman dan seterusnya.
d. Demikian pula dalam berbuat kebajikan terhadap orang lain harus didahulukan yang terdekat, yaitu ibu, ayah dan seterusnya.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah swt. memberikan petunjuk-Nya agar kaum Muslimin mampu menggunakan kekerasan dan kekuatan terhadap orang-orang kafir yang menghalang-halangi dakwah Islam, apabila jalan diplomasi dan perlakuan yang lemah dan ramah tamah tidak mempan lagi untuk mereka. Kaum Muslimin diperintahkan untuk bersikap adil, kasih sayang dan ramah tamah kepada orang-orang bukan Islam. Akan tetapi bila mereka tetap mengganggu kepentingan umat Islam, terutama dakwah Islam, maka kaum Muslimin harus menggunakan kekuatan dan kekuasaan sehingga mereka menghentikan permusuhan terhadap Islam dan kaum Muslimin. Hal ini tersebut pula dalam firman Allah pada ayat yang lain:


يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ
Artinya:
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.
(Q.S. At Taubah: 73)
Dengan demikian jelaslah bahwa kaum muslimin harus menggunakan dua macam sikap terhadap orang-orang kafir dan munafik, yaitu pertama sikap ramah tamah dan lemah lembut, bila sikap ini mendapat sambutan baik dari mereka. Kedua sikap keras dan menggunakan kekuatan fisik, bila sikap yang pertama tadi sudah tak mempan.
Pada akhir ayat ini Allah meyakinkan orang-orang yang bertakwa, bahwa Dia senantiasa bersama mereka. Artinya Allah memberikan jaminan kepada orang-orang yang bertakwa, yaitu yang senantiasa menjaga hukum-hukum dan ketentuan Allah, bahwa Dia akan selalu memberikan bantuan dan pertolongan-Nya. Ketentuan-ketentuan Allah yang perlu diperhatikan dalam masalah peperangan ialah agar umat Islam tidak lalai dalam mempersiapkan segala sesuatu yang perlu untuk mencapai kemenangan, yaitu kekuatan fisik dan mental. Kekuatan fisik mencakup prajurit yang berbadan sehat dan kuat, alat-alat senjata yang efektif, kubu-kubu pertahanan yang tangguh, serta perbekalan dan perlengkapan yang cukup. Sedang kekuatan mental ialah semangat yang tinggi, kesabaran dan keuletan yang tangguh, serta siasat perang yang jitu serta disiplin yang kuat, dan persatuan yang kokoh. Termasuk pula etika perang yang bermoral tinggi, yaitu tidak berlaku lalim terhadap wanita, anak-anak, orang tua yang lemah, serta tidak pula berlaku kejam terhadap orang-orang yang sudah menyerah atau tertawan selama mereka ini tidak membahayakan bagi kepentingan Islam dan umat Islam. Akhirnya yang tidak pula kurang pentingnya untuk mencapai kemenangan ini ialah iman yang kokoh, serta ingat dan tawakal kepada Allah swt.


124 Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: `Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini? Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira.(QS. 9:124)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 124 

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ (124

Kaum munafikin di masa Nabi Muhammad saw. apabila ayat-ayat Alquran diturunkan kepada beliau dan disampaikan kepada mereka, maka di antara mereka itu ada yang bertanya kepada teman-temannya baik dari kalangan munafik sendiri maupun teman-teman mereka dari kaum Muslimin yang lemah imannya, "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini?" Sehingga ia meyakinkan bahwa Alquran ini benar-benar dari Allah bahwa Muhammad itu benar-benar pesuruh Allah, bahwa tiap-tiap ayat Alquran merupakan mukjizat bagi Muhammad dan bahwa Alquran itu bukan buatan Muhammad.
Jika diperhatikan pertanyaan orang munafik yang tersebut dalam ayat-ayat ini dirasakan bahwa pertanyaan itu bukanlah maksudnya untuk menanyakan sesuatu yang tidak diketahui tetapi menunjukkan apa yang menjadi isi hati mereka; yaitu mereka belum percaya kepada Rasulullah sekalipun mulut mereka telah mengakuinya. Bahkan mereka ingin pula agar orang-orang Islam yang lemah imannya seperti mereka pula. Seandainya tidak ada penyakit di dalam hati orang-orang munafik itu pasti mereka mengetahui bahwa iman yang sesungguhnya yang disertai dengan ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah karena telah merasakan dan meyakini kekuasaan-Nya pasti akan bertambah dengan mendengar dan membaca ayat-ayat Alquran apalagi jika langsung mendengarnya dari Rasulullah saw. sendiri.
Sifat-sifat orang munafik ini diterangkan dalam firman-Nya:


يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ
Artinya:
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta.
(Q.S. Al-Baqarah: 9, 10)
Mengenai kesan ayat-ayat Alquran dalam hati orang-orang yang beriman diterangkan dalam firman Allah swt.:


بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Artinya:
Sebenarnya Alquran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang lalim.
(Q.S. Al-Ankabut: 49)
Pertanyaan orang-orang munafik itu dijawab Allah swt. dengan ungkapan yang tersebut pada akhir ayat ini yang maksudnya: Orang-orang yang beriman kepada Allah swt. dan kepada Rasul-Nya, serta orang-orang yang hatinya telah mendapat pancaran sinar agama Islam, akan bertambah imannya itu dengan bertambahnya ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad dan disampaikan kepada mereka. Setiap ayat yang disampaikan kepada mereka selalu menguatkan iman dan keyakinan mereka, dan akan menambah ketenangan dan ketenteraman mereka. Mereka selalu menerima ayat-ayat itu dengan senang hati dan penuh kegembiraan.


125 Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir.(QS. 9:125)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 125 

وَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُوا وَهُمْ كَافِرُونَ (125

Selanjutnya Allah swt. meneruskan jawaban pertanyaan mereka itu pada ayat ini yang maksudnya ialah: "Adapun orang-orang yang hatinya ragu-ragu, dan orang-orang munafik, yaitu orang-orang yang hatinya penuh kekafiran sedang mulutnya menyatakan iman, tentulah setiap ayat yang disampaikan kepada mereka selalu menimbulkan keragu-raguan dan kemunafikan dalam hati mereka atau menambah keragu-raguan dan kemunafikan yang telah ada. Hal yang seperti ini selalu bertambah dan semakin kuat pengaruhnya pada diri mereka, sehingga akhirnya mereka mati sebagai seorang munafik yang kafir. Hal yang mereka alami ini akan dialami oleh orang-orang yang sesudah mereka yang sama hatinya dengan hati mereka, mereka akan mati pula sebagai seorang yang kafir.


126 Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?(QS. 9:126)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 126 

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ (126

Pada ayat ini Allah swt. tidak membenarkan bahkan mencela sikap orang-orang munafik yang tetap membangkang, tidak mau bertobat dengan tidak pula mengambil pengalaman dari peristiwa-peristiwa yang telah mereka alami. Sebenarnya kepada mereka setiap tahun telah didatangkan cobaan-cobaan dan pengalaman-pengalaman yang dapat menambah kuat iman seseorang dan membedakan antara yang benar dan yang salah. Di antara ujian dan pengalaman mereka itu ialah bukti-bukti kebenaran Muhammad sebagai utusan Allah yang menyatakan bahwa Allah pasti akan menolong orang-orang yang mengikuti Muhammad. Jadi Allah akan mengalahkan orang-orang kafir dan munafik, dan terjadilah ancaman dari peringatan-peringatan yang telah diberikan kepada mereka itu. Ujian dan pengalaman mereka itu, jika mereka mau berpikir dengan baik, tentu akan menyampaikan kepada kesimpulan bahwa Muhammad itu benar-benar Rasulullah yang diutus Allah kepada mereka, tetapi mereka tetap ingkar dan tidak mau bertobat serta mengambil pelajaran daripadanya. Bahkan hati mereka bertambah sakit dan bertambah ingkar.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 126 

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ (126

(Dan tidakkah mereka memperhatikan) bila dibaca yarauna, fa'ilnya adalah orang-orang munafik, dan bila dibaca tarauna, fa`ilnya adalah orang-orang mukmin (bahwa mereka diuji) dicoba (sekali atau dua kali setiap tahun) dengan musim paceklik dan wabah penyakit (kemudian mereka tidak juga bertobat) dari kemunafikannya (dan tidak pula mengambil pelajaran) artinya pelajaran buat dirinya.


127 Dan apabila diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain (sambil berkata):` Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu? `Sesudah itu merekapun pergi. Allah telah memalingkan hati mereka disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti.(QS. 9:127)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 127 

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (127

Ayat ini menerangkan sikap orang-orang munafik dan tindakan-tindakan mereka di majelis Rasulullah waktu diturunkan ayat-ayat Alquran. Bila diturunkan suatu ayat atau suatu surat kepada Rasulullah saw. sedang mereka berada dalam majelis saling melihat satu sama lain, mengedipkan mata sebagai tanda memandang enteng terhadap apa yang telah diturunkan itu. Sikap mereka ini menunjukkan bahwa pengaruh kekafiran telah berurat akar dalam jiwa mereka. Mereka sebenarnya tidak ingin mendengarkan ayat-ayat Alquran dari Rasulullah, dan tidak ingin orang lain mendapat petunjuk dengan Alquran.
Sikap mereka yang lain ialah mereka berangsur-angsur meninggalkan majelis Rasulullah saw. sambil bertanya kepada temannya yang lain: "Apakah ada orang yang melihat kepergian kita meninggalkan majelis itu." Sedang orang-orang mukmin mendengar dan memperhatikan ayat-ayat itu dengan tunduk dan penuh perhatian.
Karena sikap orang-orang munafik itu, maka Allah swt. memalingkan hati mereka dari iman dan dari petunjuk-petunjuk yang ada dalam ayat-ayat Alquran. Allah melakukan yang demikian karena mereka mengingkari seruan Nabi dan tidak menghiraukan petunjuk-petunjuk Alquran.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 127 

وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ نَظَرَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ هَلْ يَرَاكُمْ مِنْ أَحَدٍ ثُمَّ انْصَرَفُوا صَرَفَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَفْقَهُونَ (127

(Dan apabila diturunkan satu surah) yang di dalamnya menyebutkan tentang perihal mereka, kemudian surah tersebut dibacakan oleh Nabi saw. (sebagian mereka memandang kepada sebagian yang lain) dengan maksud untuk lari dari tempat itu seraya berkata ("Adakah seorang dari orang-orang Muslimin yang melihat kalian?") bilamana kalian pergi dari tempat ini; jika ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan kaum Muslimin yang melihat mereka, maka mereka segera beranjak pergi dari tempat itu. Apabila ternyata ada seseorang dari kaum Muslimin yang melihat mereka, maka mereka tetap di tempatnya (sesudah itu mereka pun pergi) dengan membawa kekafirannya. (Allah telah memalingkan hati mereka) dari hidayah (disebabkan mereka adalah kaum yang tidak mengerti) akan kebenaran, lantaran mereka tidak mau menggunakan pikirannya guna merenungkan kebenaran itu.


128 Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.(QS. 9:128)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 128

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128)

Ayat ini sekalipun khusus ditujukan kepada bangsa Arab di masa Nabi tetapi juga ditujukan kepada seluruh umat manusia. Semula ditujukan kepada orang Arab di masa Nabi, karena kepada merekalah Alquran mula-mula disampaikan, karena Alquran itu dalam bahasa Arab, tentulah orang Arab yang paling dapat memahami dan merasakan ketinggian ayat-ayat Alquran itu. Dengan demikian mereka mudah pula menyampaikan kepada orang-orang selain bangsa Arab. Jika orang-orang Arab sendiri tidak mempercayai Muhammad dan Alquran, tentu orang-orang selain orang Arab lebih sukar mempercayainya.
Ayat ini seakan-akan mengingatkan orang-orang Arab sebagaimana bunyinya: Hai orang-orang Arab, telah diutus seorang rasul dari bangsamu sendiri yang kamu mengetahui sepenuhnya asal-usul kepribadiannya, kamu lebih mengetahuinya dari orang-orang lain.
Sebagian mufassir menafsirkan perkataan "rasulun min anfusikum" dengan hadis:


قال صلى الله عليه وسلم: إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل واصطفى قريشا من كنانة واصطفى بني هاشم من قريش واصطفاني من بني هاشم
Artinya:
Bersabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan Allah telah memilihku dari Bani Hasyim."
(H.R. Muslim dan Tirmizi dari Wasilah bin Asqa')
Dari ayat dan hadis di atas dapat dipahami tentang kesucian keturunan Muhammad saw. yang berasal dari suku-suku pilihan dari suku-suku bangsa Arab. Dan orang-orang Arab mengetahui benar tentang hal ini. Nabi Muhammad saw. berasal dari keturunan orang-orang yang baik dan terhormat mempunyai sifat-sifat yang tinggi dan agung pula, yaitu:
1. Dia merasa tidak senang jika umatnya ditimpa sesuatu yang tidak diingini, seperti ditimpa kehinaan karena dikuasai dan diperhamba oleh musuh-musuh kaum muslimin, sebagaimana ia tidak senang pula melihat umatnya ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti.
2. Sangat menginginkan agar umatnya mendapat taufik dari Allah, bertambah kuat imannya dan bertambah baik keadaannya. Keinginan beliau ini dilukiskan oleh Allah swt. dalam firman-Nya: 
 
إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
Artinya:
Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong.
(Q.S. An Nahl: 37)
Dan Allah berfirman:
وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya.
(Q.S. Yusuf: 103)
3. Sangat belas kasihan dan amat penyayang kepada kaum muslimin. Keinginannya ini tampak pada tujuan risalah yang disampaikannya, yaitu agar manusia hidup berbahagia di dunia dan di akhirat nanti. Dalam ayat ini Allah memberikan dua macam sifat kepada Nabi Muhammad saw. yang kedua sifat itu merupakan sifat-Nya sendiri, termasuk di antara "asmaulhusna", yaitu sifat "rauf" (amat belas kasihan) dan sifat "rahim" (penyayang) sebagai tersebut dalam firman-Nya: 
 
إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Sesungguhnya Allah benar-benar amat Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.
(Q.S. Al-Baqarah: 143)
Pemberian kedua sifat ini kepada Muhammad saw. menunjukkan bahwa Allah swt. menjadikan Muhammad saw. sebagai rasul yang dimuliakan-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 128 

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (128

(Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri) dari kalangan kalian sendiri, yaitu Nabi Muhammad saw. (berat terasa) dirasa berat (olehnya apa yang kalian derita) yaitu penderitaan kalian, yang dimaksud ialah penderitaan dan musibah yang menimpa diri kalian (sangat menginginkan bagi kalian) hidayah dan keselamatan (lagi terhadap orang-orang mukmin amat belas kasihan) sangat belas kasihan (lagi penyayang) ia selalu mengharapkan kebaikan bagi mereka.


129 Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah:` Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki arasy yang agung `.(QS. 9:129)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 129 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129

Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. dan umatnya bahwa jika orang-orang kafir dan munafik itu tidak juga mau beriman setelah didatangkan kepada mereka petunjuk, katakanlah kepada mereka: "Cukuplah Allah bagiku, dan Dia akan menolongku, tidak ada Tuhan yang lain yang disembah selain Dia, hanya kepada-Nyalah aku bertawakal dan menyerahkan diri, dan hanya Dialah yang mengatur dan mengurus alam semesta, Dia memiliki Arasy yang Agung."
Diriwayatkan dari Zaid bin Sabit yang ditugaskan oleh Umar r.a. untuk mengumpulkan Alquran yang masih belum terkumpul di masa Abu Bakar, sehubungan dengan pengumpulan Alquran itu ia berkata: ".... hingga aku memperoleh dua ayat terakhir dari surat At-Taubah pada catatan Khuzaimah bin Sabit Al-Ansari, aku tidak memperolehnya sebelumnya dari seorang pun sedang kedua ayat itu dihafal dan dikenal oleh orang banyak." 138)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 129 

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (129

(Jika mereka berpaling) dari iman kepadamu (maka katakanlah, "Cukuplah bagiku) maksudnya cukup untukku (Allah; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal) percaya dan bukan kepada selain-Nya (dan Dia adalah Rabb yang memiliki Arasy) yakni Al-Kursiy (yang agung.") Arasy disebutkan secara khusus karena ia makhluk yang paling besar. Imam Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak meriwayatkan sebuah atsar yang bersumber dari Ubay bin Kaab, bahwasanya Ubay bin Kaab telah mengatakan, "Ayat yang diturunkan paling akhir ialah firman-Nya, 'Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul.'" (Q.S. At-Taubah 128-129). Kedua ayat akhir surah At-Taubah itulah ayat yang paling terakhir diturunkan.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [7]
Ayat 121 s/d 129 dari [129]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU