|
Home » All posts
Jumat, 14 Maret 2014
Kamis, 13 Maret 2014
Al Qur'an Adalah Undang-Undang Paling Utama Kehidupan
Agama Islam, yang mengandung jalan hidup manusia yang paling sempurna dan memuat ajaran yang menuntun umat manusia kepada kebahagiaan dan kesejahteraan, dapat diketahui dasardasar dan perundang-undangannya melalui Al-Quran. Al-Quran adalah sumber utama dan mata air yang memancarkan ajaran Islam. Hukum-hukum Islam yang mengandung serangkaian pengetahuan tentang akidah, pokok-pokok akhlak dan perbuatan dapat dijumpai sumbernya yang asli dalam ayat-ayat Al-Quran. Allah berfirman, إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ
"Sesungguhnya Al-Quran ini menunjukkan kepada jalan yang lebih lurus." (QS 17:9)
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ تِبْيَٰنًۭا لِّكُلِّ شَىْءٍۢ
"Kami menurunkan AI-Quran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS 16:89)
Adalah amat jelas bahwa dalam Al-Quran terdapat banyak ayat yang mengandung pokok-pokok akidah keagamaan, keutamaan akhlak dan prinsip-prinsip-umum hukum perbuatan. Kami tidak perlu menyebutkan semua ayat itu dalam kesempatanyang tidak cukup luas ini. Lebih lanjut kami katakan bahwa pemikiran yang teliti tentang pokok-pokok permasalahan berikut dapat menjelaskan kepada kita universalitas kandungan Al-Quran mengenai jalan hidup yang harus ditempuh manusia.
Pertama, dalam hidupnya manusia hanya menuju kepada kebahagiaan, ketenangan dan pencapaian cita-citanya. Kebahagiaan dan ketenangan merupakan suatu wama khusus di antara warnawama kehidupan yang diinginkan oleh manusia, yang di naungannya ia berharap menemukan kemerdekaan, kesejahteraan, kesentosaan dan lain-lain.
Jarang kita lihat orang yang, dengan perbuatan mereka sendiri, memalingkan muka dari kebahagiaan dan kesenangan - seperti melakukan bunuh diri, melukai badan dan menyakiti anggota tubuhnya dan beberapa latihan (riyadhah) berat yang tidak diajarkan agama - dengan alasan berpaling dari dunia, dan perbuatanperbuatan lain yang menyebabkan seseorang kehilangan berbagai sarana kesejahteraan dan ketenangan hidup. Begitulah, (hanya) orang yang menderita komplikasi jiwa - sebagai akibat dari parahnya komplikasi itu - berpendapat bahwa kebahagiaan terdapat dalam perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebahagiaan. Sebagai contoh, seseorang mengalami kesulitan hidup dan tidak kuat menanggungnya, kemudian bunuh diri karena beranggapan bahwa kesenangan itu terdapat dalam kematian. Atau, sebagian orang menjauhi dunia, menjalani bermacam latihan badan dan mengharamkan kesenangan materiil untuk dirinya sendiri, karena ia berpendapat bahwa hidup dalam kesenangan materi merupakan hidup yang kering. Dengan demikian, usaha yang dilakukan manusia hanyalah untuk menemukan kebahagiaan yang diidam-idamkan yang ia berusaha mewujudkan dan memperolehnya.
Memang, jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut berbeda-beda. Sebagian menempuh jalan yang masuk akal, yang diterima kemanusiaan dan dibolehkan oleh syariat, sedang sebagian yang lain menyalahi jalan yang benar sehingga terperosok ke dalam belantara kesesatan dan menyimpang dad jalan kebenaran.
Kedua, perbuatan-perbuatan yang dilakukan manusia senantiasa berada dalam suatu kerangka peraturan dan hukum tertentu. Hal ini merupakan suatu kebenaran yang tak dapat diingkari, dalam segala keadaan, mengingat begitu jelas dan gamblangnya persoalan. Hal itu disebabkan karena manusia yang mempunyai akal hanya melakukan sesuatu setelah ia menghendakinya. Perbuatannya itu berdasarkan kehendak jiwa yang diketahuinya dengan jelas. Di segi yang lain, ia hanya melakukan apa pun demi dirinya sendiri. Yakni, ia merasakan adanya tuntutan-tuntutan hidup yang harus dipenuhinya, kemudian berbuat untuk memenuhi tuntutan-tuntutan itu untuk dirinya sendiri. Karenanya, antara semua perbuatannya itu ada suatu tali kuat yang menghubungkan sebagiannya dengan yang lain.
Sesungguhnya makan dan minum, tidur dan bangun, duduk dan berdiri, pergi dan datang - semua perbuatan ini dan perbuatan-perbuatan lain yang dilakukan manusia - pada beberapa keadaan, merupakan keharusan baginya; dan pada beberapa keadaan yang lain, tidak merupakan keharusan - yakni, bermanfaat baginya pada suatu saat, dan membahayakan pada saat yang lain. Semua yang dilakukan manusia itu bersumber dari suatu hukum yang ia ketahui universalitasnya dalam dirinya dan yang ia terapkan bagian-bagiannya pada perbuatan dan pekerjaan-pekerjaannya.
Seseorang, dalam perbuatan-perbuatan individualnya, menyerupai suatu pemerintahan lengkap, yang memiliki hukum, kebiasaan dan tata caranya sendiri. Kekuatan aktif dalam pemerintahan itu terlebih dahulu harus menimbang perbuatan-perbuatannya dengan hukum-hukum itu, kemudian bamlah ia berbuat. Perbuatan-perbuatan sosial yang dilakukan dalam suatu masyarakat menyerupai perbuatan individual, sehingga padanya berlaku seperangkat hukum dan tata cara yang dipatuhi oleh sebagian besar individu masyarakat itu. Jika tidak, maka anarkisme akan menguasai, dan ikatan sosial mereka pun terpecah.
Memang, corak masyarakat, di bawah pengaruh hukum-hukum yang berlaku dan dominan di dalamnya, berbeda-beda. Seandainya masyarakat itu bcrcorak mazhabiah, maka di dalamnya berlaku ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum mazhab tersebut. Dan bila tidak bercorak mazhabiah, melainkan kebudayaan, maka perbuatan-perbuatan masyarakatitu bercorak hukum kebudayaan tersebut. Adapun jika masyarakat itu liar dan tidak mempunyai kebudayaan, maka padanya berlaku tata pergaulan dan hukumhukum individual yang sewenang-wenang, atau hukum-hukum yang dihasilkan oleh adanya perbauran berbagai kepercayaan dan tata pergaulan yang kacau.
Kalau begitu, maka manusia, dalam perbuatan-perbuatan individual dan sosialnya, harus memiliki tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkan itu, ia harus melakukan perbuatan-perbuatannya menurut hukum dan tata cara tertentu yang ditetapkan oleh agama atau masyarakat, atau yang lainnya. Al-Quran sendiri menguatkan teori ini ketika ia mengatakan,
وَلِكُلٍّۢ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَٱسْتَبِقُوا۟ ٱلْخَيْرَٰتِ
"Tiap-tiap umat memiliki kiblatnya sendiri yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan." (QS 2: 148)
Kata ad-din (agama), menurut kebiasaan Al-Quran berarti 'jalan hidup.' Orang-orang yang beriman dan yang kafir - sampaisampai yang tidak mengakui keberadaan Allah sekalipun – pasti memiliki suatu agama, karena setiap orang mengikuti hukumhukum tertentu dalam perbuatan-perbuatannya, dan hukumhukum itu disandarkan kepada Nabi dan wahyu, atau ditetapkan oleh seseorang atau suatu masyarakat. Tentang musuh-musuh agama Allah, Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ يَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًۭا وَهُم بِٱلْءَاخِرَةِ كَٰفِرُونَ
"Yaitu orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan itu menjadi bengkok. " (QS 7:45)1)
Ketiga, jalan hidup terbaik dan terkuat manusia adalah jalan hidup berdasarkan fitrah, bukan berdasarkan emosi-emosi dan dorongan-dorongan individual atau sosial.
Apabila kita mengamati secara teliti setiap bagian alam, akan kita ketahui bahwa ia memiliki tujuan tertentu, yang sejak hari pertama kejadiannya ia mengarah ke tujuan itu melalui jalan yang terdekat dan terbaik. Ia memiliki sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Inilah keadaan semua makhluk di dalam alam ini, baik yang bernyawa maupun yang tidak.
Sebagai contoh adalah biji gandum. Sejak hari pertama diletakkan dalam tanah, ia berjalan dalam proses penyempurnaan. Menghijau dan tumbuh sampai terbentuknya bulir-bulir yang lipatannya berisi banyak biji gandum. Dan ia dibekali dengan sarana-sarana khusus untuk memperoleh unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam proses penyempurnaannya itu. Kemudian ia menyerap unsur-unsur yang ada di dalam tanah, udara dan lain-lainnya dengan kadar tertentu: Lalu ia merekah, menghijau dan tumbuh hari demi hari, dan berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain sampai terbentuknya bulir-bulir baru, yang dalam setiap bulir terdapat banyak biji gandum. Pada saat itulah biji pertama yang disemaikan di bumi benar-benar telah mencapai tujuan yang diidam-idamkannya dan kesempurnaan yang ia tuju. Demikian pula pohon kenari. Jika kita amati secara teliti, akan kita ketahui bahwa pohon itu juga berjalan menuju suatu tujuan tertentu sejak hari pertama kejadiannya. Dan untuk mencapai tujuan itu ia dibekali alat-alat tertentu yang sesuai dengan proses penyempurnaan, kekuatan dan besarnya. Dalam perjalanannya ia tidak menempuh perjalanan yang ditempuh olch gandum, sebagaimana gandum - dalam tingkat-tingkat penyempurnaannya - tidak berproses sebagaimana prosesnya pohon kenari. Masing-masing dari kedua tanaman itu mempunyai perkembangannya sendiri yang tidak akan dilanggarnya untuk selama-lamanya.
Semua yang kita saksikan di dalam alam ini mengikuti kaidah yang berlaku ini, dan tidak ada bukti pasti bahwa manusia menyimpang dari kaidah itu dalam perjalanan alamiahnya menuju tujuan yang ia telah dibekali alat-alat tertentu untuk mencapainya. Bahkan bekal-bekal yang diberikan kepadanya itu merupakan bukti terkuat bahwa dia adalah seperti yang lainnya di alam ini. Dia memiliki tujuan tertentu yang menjamin kebahagiaannya, dan dia telah dilengkapi dengan sarana-sarana untuk mencapainya.
Jadi, fitrah manusia - bahkan fitrah alam yang manusia hanyalah merupakan sebagian darinya - menuntunnya ke arah kebahagiaan hakiki. Fitrah itu mengilhami hukum-hukum terpenting, terbaik dan terkuat yang menjamin kebahagiaannya. Allah berfirman:
قَالَ رَبُّنَا ٱلَّذِىٓ أَعْطَىٰ كُلَّ شَىْءٍ خَلْقَهُۥ ثُمَّ هَدَىٰ
"Musa berkata: 'Tuhan kami ialah Zat yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk'." (QS 20:50)
ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ
"Yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan)Nya. Yang memberikan ketentuan dan petunjuk." (QS 87:2-3)
وَنَفْسٍۢ وَمَا سَوَّىٰهَا-فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَىٰهَا-قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا-وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا
"Demi jiwa dan Penyempurnanya. Kemudian Allah memberitahukan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya." (QS 91:7-10)
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًۭا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ
"Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetapilah fitrah Allah yang la telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. ltulah agama yang lurus. " (QS 30:30)
إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلْإِسْلَٰمُ
"Sesungguhnya agama yang diterima Allah adalah lslam. (QS 3:19)
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ ٱلْإِسْلَٰمِ دِينًۭا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ
"Barangsiapa rnencari agarna selain lslarn, maka tidak akan diterima. " (QS 3:85)
Kesimpulan dati ayat-ayat ini dan ayat-ayat lain yang berkandungan sama, yang tidak kami sebutkan secara ringkas, adalah bahwa Allah menuntun setiap makhluk-Nya - termasuk manusia - kepada tujuan dan kebahagiaan puncak yanq merupakan tujuan diciptakannya mereka. Dan jalan yang benar bagi manusia ialah jalan fitrahnya. Maka dalarn perbuatan-perbuatannya manusia harus terikat dengan hukum-hukum individu dan sosial yang bersumber dari fitrahnya, dan tidak boleh secara membuta mengikuti hawa nafsu, emosi, kecenderungan dan keinginannya. Konsekuensi dari agama fitrah (alamiah) adalah manusia tidak boleh menyia-nyiakan bekal-bekal yang diberikan kepadanya. Bahkan setiap bekal harus dimanfaatkan dalam batas-batasnya dan secara benar, agar potensi-potensi yang ada dalam dirinya seimbang, dan agar satu potensi tidak mematikan potensi yang lain.
Selanjutnya manusia harus dikuasai oleh akal sehat yang jauh dari kesalahan, bukan oleh tuntutan-tuntutan diri yang bersumber dari emosi yang menyalahi akal. Beqitu pula, yang menguasai masyarakat haruslah kebenaran dan yang benar-benar bermanfaat baginya, bukan orang kuat yang sewenang-wenang dan mengikuti hawa nafsu dan keinginan-keinginannya. Bukan pula mayoritas yang menyimpang dari kebenaran dan kemaslahatan umum.
Pembahasan di atas juga menunjukkan hahwa yang berhak membuat dan memberlakukan hukum hanyalah Allah saja, dan tak seorang pun berhak membuat dan memberlakukan hukum dan memutuskan segala perkara, karena pembahasan di atas menunjukkan bahwa jalan hidup dan hukum yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya adalah yang diilhami fitrahnya. Yakni hukum dan jalan hidup yang dituntut oleh sebab-sebab dan faktor-faktor batiniah dan lahiriah dalam fitrahnya. Hal ini berarti sesuai dengan kehendak Allah. Pengertian "sesuai dengan kehendak Allah" adalah bahwa Allah telah menempatkan pada diri manusia sebab-sebab dan faktor-faktor yang mengakibatkan adanya perundanq-undangan dan jalan hidup.
Kadang-kadang, sebab-sebab dan faktor-faktor itu mengambil bentuk pemaksaan sebagai dasar bagi suatu proses, seperti peristiwa-peristiwa alam yang terjadi setiap hari. Inilah yanq dinamakan kemauan alam (iradah takwiniah), Kadanq-kadang juga sesuatu aksi dilakukan secara bebas dan berdasarkan kehendak, seperti makan, minum dan lain-lain, yang dalam hal ini kehendak diatur oleh hukum Allah (iradah tasyri'iah). Allah berfirman:
"Tidak ada hukum selain milik Allah." (QS 12:40 dan 67)
*********
Al-Quran, Menentukan Jalan Hidup Manusia
Setelah tiga
premis di atas jelas, maka harus diketahui pula bahwa Al-Quran - di
sampinq memperhatikan tiga premis tersebut, yaitu manusia mempunyai
tujuan yang harus dicapainya dalam perjalanan hidupnya dengan usaha dan
perbuatannya, dan dia tidak mungkin mencapai tujuan yang diidam-idamkan
itu kecuali dengan mengikuti hukum-hukum dan tata cara tertentu serta
keharusan mempelajari hukum-hukum dan tata cata itu dari buku fitrah dan
penciptaan, yakni ajatan Allah - juga menentukan jalan hidup bagi
manusia sebagai berikut:
AI-Quran mendasarkan jalan itu pada keimanan akan keesaan-Nya sebagai
dasar pertama agama; Al-Quran menjadikan keimanan kepada akhirat dan
Hari Kiamat, yaitu hari ketika orang yang baik dibalas karena
kebaikannya dan yang jahat dibalas karena kejahatannya, sebagai
dasar-kedua agama. Hal ini pada gilirannya membawa kepada keimanan
kepada kenabian, karena perbuatan-perbuatan bisa dibalas setelah si
pelakunya mengetahui ketaatan dan maksiat, yang baik dan yang buruk.
Pengetahuan ini tidak akan dapat diperoleh kecuali melalui wahyu dan
kenabian - sebagaimana akan kami rinci nanti. Al-Quran menjadikan
keimanan kepada kenabian ini sebagai dasar ketiga agama.
Al-Quran memandang ketiga dasar ini: keimanan kepada keesaan Allah,
kenabian dan akhirat sebagai dasar-dasar agama Islam. Setelah itu,
Al-Quran menjelaskan pokok-pokok akhlak yang diridhai dan sifat-sifat
baik yang sesuai dengan ketiga dasar tersebut, dan setiap orang beriman
harus menghiasi diri dengannya. Kemudian AI-Quran menetapkan hukum-hukum
perbuatan yang menjamin kebahagiaan hakiki manusia dan menyuburkan
akhlak yang utama dan faktor-faktor yang mengantarkannya kepada akidah
yang benar dan prinsip-prinsip pokok.
Tidak logis bila kita beranggapan bahwa orang yang bergelimang dalam
seks yang diharamkan, mencuri, berkhianat dan curang, adalah suci.
Begitu pula, tidak logis bila kita beranggapan bahwa orang yang
keterlaluan dalam mencintai harta, mengumpulkan dan menyimpannya, dan
tidak mau memenuhi hak-hak orang lain, adalah suci. Tidak logis pula
bila kita menganggap orang yang tidak menyembah Allah dan mengingat-Nya
siang dan malam, sebagai beriman kepada Allah dan Hari Akhir.
Dengan demikian, akhlak yang baik maujud kuena adanya
perbuatan-perbuatan baik, sebagaimana akhlak yang baik itu ada karena
akidah yang benar.
Seseorang yang terbelenggu kesombongan, kebanggaan dan kecintaan kepada
diri sendiri, tidak mungkin mempercayai Allah dan mengakui
keagungan-Nya. Dan orang yang selama hidupnya tidak mengetahui makna
keadilan, keperwiraan dan welas-asih terhadap yang lemah, tidak akan
masuk ke dalam hatinya intan kepada Hari Kiamat, perhitungan dan balasan
di akhirat. Tentang hubungan antara akidah yang benar dengan akhlak
yang diridhai, Allah berfirntan:
إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
"Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang baik dinaikkan-Nya. " (QS 35:10)
Dan tentang hubungan antara akidah dengan perbuatan, Allah berfirman:
ثُمَّ كَانَ عَٰقِبَةَ ٱلَّذِينَ
أَسَٰٓـُٔوا۟ ٱلسُّوٓأَىٰٓ أَن كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَكَانُوا۟ بِهَا
يَسْتَهْزِءُونَ
"Kemudian akibat orang-orang yang mengerjakan kejahatan adalah azab
yang lebih buruk, karena mereka mendustakan ayatayat Allah dan mereka
selalu memperolok-oloknya." (QS 90:10)
Kesimpulan dari pembicaraan di atas adalah bahwa Al-Quran mwgandung sumber-sumber ketiga dasu Islam, yaitu:
Dasar-dasar akidah. Ini terbagi menjadi tiga dasar agama: tauhid,
kenabian dan akhirat, dan akidah-akidah yang merupakan cabang darinya,
seperti lauh mahfudh, qalam, qadha' dan qadar, malaikat, menghadap
Allah, kursi, penciptaan langit dan bumi dan lain-lain.
Akhlak yang diridhai.
Hukum-bukum syara' dan perbuatan yang dasar-dasarnya telah dijelaskan
Al-Quran, sedangkan penjelasan terincinya diserahkan kepada Nabi
Muhammad s.a.w. Dan Nabi menjadikan penjelasan Ahlul Bait (keluarga)-nya
sama dengan penjelasan beliau, sebagaimana diketahui dari hadits
tsaqalain yang secara mutawatir diriwayatkan baik oleh kalangan Ahlus
Sunnah maupun Syi'ah.
*********
Sejarah Pengajaran Al Qur'an
Oleh :Prof. Dr. M.M al A'zami
Ayat pertama yang diwahyukan pada Nabi Muhammad adalah,
Tak ada bukti bahwa Nabi Muhammad pernah belajar seni menulis dan umumnya orang sepakat bahwa ia buta huruf sepanjang hayat. Sepotong ayat di atas memberi isyarat bukan tentang persoalan buta huruf, melainkan pentingnya pendidikan yang sehat bagi masyarakat di masa mendatang. Nabi Muhammad mencurahkan segala upaya yang mungkin dapat dilakukan dalam pengembangan pendidikan, manfaat serta imbalan para pelajar dan juga sanksi hukum bagi pengekang ilmu pengetahuan. Abu Huraira melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda,
"Siapa yang memilih jalan pencarian ilmu pengetahuan, Allah akan membuka baginya jalan menuju surga."2
Sebaliknya beliau memberi peringatan,
"Siapa yang ditanya ilmu yang telah dikuasai lalu ia sembunyikan, orang itu akan dililit api neraka di hari Kiamat."3
Nabi Muhammad minta para ilmuwan dan yang masih belum berbudaya agar kerja sama menasihati mereka yang tidak pernah belajar, dan kaum cendekiawan agar mau mengembangkan ilmunya pada para jiran.4 Penekanan diberikan pada setiap yang memiliki keahlian karya tulis di mana dalam sebuah hadith ditegaskan agar mengambil peran laksana seorang ayah pada anak.5
Nabi adalah pelopor pendidikan gratis di mana saat `Ubada b. as-Samit menerima hadiah dari seorang pelajar (dengan niatan untuk kepentingan Islam), Nabi Muhammad menegurnya,
"Jika mau menerima lilitan api neraka di leher anda, maka ambilah hadiah itu."6
Non-Muslim pun juga diberi tugas mengajar membaca di masa kehidupan rasul.
Uang tebusan tahanan Perang Badar juga berlainan. Beberapa di antara mereka mendapat tugas mengajar menulis pada anak-anak.7
1. Hadiah Belajar, Mengajar, dan Membaca Al-Qur'an
Nabi Muhammad tidak pernah menyia-nyiakan upaya dan keinginan masyarakat dalam mempelajari Kalamullah:
'Uthman bin 'Affan melaporkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, "Yang terbaik di antara kamu sekalian ada]ah yang mempelajari Al-Qur'an kemudian mengajarkan pada orang lain."8 Kata-kata yang sama juga dilaporkan oleh `Ali bin Abi.Talib.9
Menurut Ibn Mas'ud Nabi Muhammad memberi komentar, "Siapa yang membaca satu huruf Kitab Allah la akan diberi imbalan amal saleh, dan satu amal saleh akan mendapat pahala sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf melainkan alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf."10
Di antara pahala seketika bagi yang mempelajari Al-Qur'an adalah penghargaan umat Islam agar bertindak sebagai imam shalat, suatu kedudukan penting yang secara khas diberikan di awal permulaan Islam. 'A'isha clan Abu Mas'ud al-Ansari melaporkan sabda Nabi Muhammad, "Seorang yang be]ajar yang memiliki hafalan terbanyak hendaknya menjadi imam sha]at.11 Amir bin Salima al-Jarmi bercerita bahwa orang-orang dari suku bangsanya menemui Nabi Muhammad menyatakan diri hendak masuk Islam. Sebelum berangkat mereka bertanya, "Siapa yang akan mengimami shalat kita?" Beliau menjawab, "Orang yang menghafal Qur'an, atau mempelajarinya lebih banyak."12 Pada detik-detik akhir kehidupan Rasulullah, kedudukan imam shalat diberikan pada Abu Bakr setiap hari. Hal ini merupakan penghormatan agung saat penentuan khalifah umat Islam.
Segi positif lainnya adalah penyebab kemungkinan para Malaikat bersama kita. Usaid bin Hudair sedang membaca Al-Qur'an bagian terakhir di satu malam di mana seekor kudanya melompat-lompat ketakutan. Saat ia berhenti, seekor kuda All pun terdiam, dan saat membaca, kuda itu melompat-lompat kembali. Kemudian ia berhenti karena khawatir anaknya terinjak. Saat ia berdiri dekat kuda, ia melihat sesuatu seperti tenda menggantung di awang-awang penuh lampu-lampu bersinar menjulang ke langit dan kemudian menghilang. Hari berikutnya, la pergi menemui Nabi Muhammad menceritakan kejadian malam itu. la memberitahukan agar terus-menerus membacanya dan Usaid bin Hudair menjawab bahwa ia berhenti karena demi keselamatan anaknya, Yahya. Kemudian Nabi Muhammad berkata, 'Mereka adalah para Malaikat sedang mendengar dan mestinya anda terus membacanya, sebenarnya orang lain bisa melihat di pagi hari karena tidak akan bersembunyi dari mereka."13
Ibn ‘Umar meriwayatkan, "Kecemburuan hanya dibenarkan dalam dua hal: seorang yang telah menerima ilmu Al-Qur an dan membacanya di siang dan malam hari dan orang yang diberi karunia kekayaan Allah serta membantu orang lain di malam dan siang hari."14
‘Umar bin al-Khattab menjelaskan bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Melalui Kitab ini, Allah meninggikan beberapa orang dan merendahkan yang lain diantara kita."15
Yang lebih tua di antara orang buta huruf menghafal Al-Qur'an dengan susah payah di mana pikiran dan jiwanya merasa lemah. Mereka tidak tertolak mendapat keberkahan apa pun jua karena pahala besar dijanjikan bagi mereka yang mendengar Al-Qur'an saat dibacakan. Ibn ‘Abbas pernah berkata bahwa siapa yang mendengar satu ayat Al-Qur'an akan mendapat cahaya di Hari Kiamat.16
Adalah sangat memungkinkan bahwa seseorang yang tidak mampu menghafal dengan balk untuk membaca dari hafalannya bisa jadi terasa sedikit malas dalam mencari naskah tertulis. Untuk itu Nabi Muhammad menjelaskan, "Bacaan seseorang tanpa bantuan mushaf, berhakmendapat pahala sebanyak seribu tingkat sedang bacaan dengan menggunakan mushafakan mendapat pahala dua kali lipat menjadi dua ribu."17
Dalam menjelaskan tentang kebaikan orang-orang yang menghafal ‘Abdullah bin ‘Amr memberitahu bahwa Nabi Muhammad berkata, "Seseorang yang mencurahkan hidupnya untuk Al-Qur'an akan diminta di hari kiamat naik ke atas untuk membaca dengan hati-hati seperti yang ia lakukan selama di dunia di mana ia akan masuk surga lamanya setelah bacaan ayat terakhir.18
Bagi yang bermalas-malasan melihat kepentingan ini, Nabi Muhammad menentangnya dengan sebuah peringatan. Ibn ‘Abbas menceritakan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda, "Seorang yang tak berminat terhadap AI-Qur'an laksana rumah yang telah hancur.19 Dan beliau mencela penghafal Al-Qur'an lalu melupakan dianggap dosa besar dan menasihati agar selalu mengulanginya. Abu Musa al-Ash'ari memberitahukan bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Segarkan pengetahuan anda tentang Al-Qur'an dan saya bersumpah dengan Nama Allah di mana nyawa Muhammad ada di tangan-Nya bahwa hal ini lebih penting untuk menghindari seekor binatang unta yang kakinya diikat."20
Al-Harith bin al-A'war menceritakan apa yang terjadi setelah Nabi Muhammad wafat.
"Sewaktu melewati masjid, secara tak sengaja saya melihat orangorang terlibat pembicaraan bisik-bisik. Kemudian saya menemui 'Ali menceritakan hal itu. Beliau bertanya apakah itu benar dan saya memberi konfirmasi. Kemudian ia berkata, 'Saya mendengar penjelasan Nabi Muhammad yang menyebut, Perselisihan pasti akan terjadi.' Saya bertanya pada beliau bagaimana cara menghindari hal itu. Beliau menjawab, "Kitab Allah adalah satu-satunya cara karena ia mencakup apa-apa yang terjadi sebelum kamu, berita masa depan setelah ini serta keputusan tentang masalah-masalah yang mungkin terjadi di antara kamu sekalian. la merupakan pemisah dan bukan bahan lelucon. Jika terdapat orang yang memiliki kekuasaan sengaja meninggalkan ajarannya, Allah akan membuat perpecahan, dan siapa yang mencari petunjuk dari sumber lain, Allah akan mengantarkan ke jalan kesesatan. Kitab suci Al-Qur'an merupakan tall pengikat dari Allah yang tahan uji, peringatan bijak, jalan lurus di mana dengannya keinginan tak mungkin meleset pada kesesatan, lidah tak akan menjadi galau, dan kaum cendekiawan pun tak akan mampu memahami secara sempurna. Al-Qur'an tidak akan pernah usang karena diulang-ulang dan tak akan seorang yang rakus ilmu akan berhenti mengkajinya. la adalah sesuatu yang makhluk jin tidak segan mengeluarkan kata pujian saat mendengarnya, 'Kami telah mendengar bacaan indah yang memberi petunjuk pada yang benar dan kami percaya terhadapnya,' bagi orang yang membaca akan selalu berkata yang benar dan bagi yang bertindak menurut ajarannya akan menuai keberkahan hidup, seorang penegak hukum menurut ajarannya akan berbuat adil, dan siapa yang mengajak orang lain, ia akan memanggil ke jalan yang lurus."21
Masalah berikutnya kita akan meresapi secara mendalam bagaimana Nabi Muhammad berhasil dalam mencapai tujuan pengajaran Al-Qur'an kepada umat Islam. Ini akan dapat terungkap dengan baik sekiranya kita membagi bahasan ke dalam situasi di zaman Mekah dan Madinah.
2. Zaman Periode Mekah i. Nabi Muhammad Sebagai Guru Al-Qur'an
Sebagian kitab suci Al-Qur'an diturunkan di Mekah; imam as-Suyuti mendaftar urutan terperinci tentang surah-surah yang diturunkan.22 Al-Qur'an dapat bertindak sebagai alat petunjuk bagi jiwa yang kalut di mana terbukti kehidupan seorang penyembah patung berhala akan selalu merasa tidak puas, pengembangannya yang awalnya melakukan penindasan terhadap masyarakat Muslim menyebabkan mereka mengadakan kontak dengan Nabi Muhammad.
Orang pertama di luar jalur keturunan keluarga Nabi Muhammad yang masuk Islam adalah Abu Bakr. Nabi Muhammad mengajak masuk Islam dengan membaca beberapa ayat Al-Qur'an.23
Kemudian Abu Bakr membawa teman-teman terdekat menemui Nabi Muhammad, seperti `Uthman bin ‘Aff-an, `Abdur-Rahman bin 'Auf, azZubair bin al-‘Awwam, Talha, dan Sa'd bin Abi Waqqas. Nabi Muhammad mengenalkan agama baru dengan membacakan ayat-ayat AIQur'an dan yang menyebabkan mereka masuk Islam.24
Abu ‘Ubaidah, Abu Salama, `Abdullah bin al-Arqam dan ‘Uthman bin Maz'zun menemui Nabi Muhammad bertanya tentang hal ihwal Islam. Nabi Muhammad menjelaskan dengan membaca Al-Qur'an dan kemudian mereka menerima Islam.25
Ketika ‘Utba bin Rabi'a pergi menemui Nabi Muhammad membawa usulan atas nama orang Quraish, menawarkan rayuan dengan harapan ia dapat meninggalkan misinya, Nabi Muhammad dengan sabar menunggu sebelum ia menjawab dan kemudian berkata, "Sekarang dengarkan ucapan saya," dan kemudian la membaca beberapa ayat sebagai respons terhadap tawaran mereka.26
Beberapa orang Kristen dari Ethiopia mengunjungi Nabi Muhammad ke Mekah menanyakan tentang Islam. Beliau menjelaskan pada mereka dengan membaca Al-Qur'an dan mereka masuk Islam.27
As'ad bin Zurara dan Dhakwan pergi dari Madinah ke Mekah menemui ‘Utba bin Rabi'a tentang persaingan kehormatan ketika mereka mendengar berita Nabi Muhammad. Mereka berkunjung dan mendengar bacaan AI-Qur'an, dan akhirnya masuk Islam.28
Sewaktu musim haji Nabi Muhammad menemui delegasi dari Madinah. Beliau menjelaskan tentang rukun Islam dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Semuanya masuk Islam.29
Pada bai'ah ‘aqabah kedua Nabi Muhammad, lagi-lagi, membaca Al-Qur'an 30
Nabi Muhammad membaca untuk Suwaid bin Samit di Mekah.31
‘Iyas bin Mu'adh menuju Mekah mencari aliansi kekuatan dengan pihak Quraish. Nabi Muhammad mendatangi dan membacakan AI-Qur'an.32
Rafi bin Malik al-Ansari merupakan orang pertama yang membawa Sarah Yusufke Madinah.33
Nabi Muhammad mengajarkan pada tiga orang sahabat tentang Sarah Yunus, Taha, dan Hal-ata secara berurutan.34
Ibn Um Maktum menemui Nabi Muhammad meminta beliau membaca Al-Qur'an.35
ii. Para Sahabat Sebagai Guru
Ibn Ma'ud adalah orang pertama dari sahabat yang mengajarkan Al-Qur'an di Mekah.36
Khabbab mengajar AI-Qur'an pada Fatima (saudara perempuan 'Umar bin Khattab) dan suaminya, Sa`id bin Zaid.37
Mus'ab bin 'Umair dikirim oleh Nabi Muhammad ke Madinah sebagai guru mengaji Al-Qur'an.38
iii. Hasil Kebijaksanaan Pendidikan pada Periode Mekah
Arus kegiatan pendidikan di Mekah berjalan tanpa dapat- dihalangi kendati berhadapan dengan berbagai hambatan dan siksaan yang dikenakan secara paksa dari masyarakat; sikap tegas merupakan bukti yang meyakinkan akan keterikatan dan rujukan mereka terhadap Kitab Allah. Para sahabat selalu menanamkan ayat-ayatnya pada kabilah mereka melewati batas lembah kota Mekah yang dapat memperkuat tumbuhnya keislaman sebelum berhijrah ke Madinah. Berikut adalah beberapa contoh yang mereka lakukan:
Saat Nabi Muhamamd sampai ke Madinah, beliau diperkenalkan dengan Zaid bin Thabit, anak lelaki berusia sebelas tahun yang telah menghafal sebanyak enam belas Sarah Al-Qur'an.39
Barra menjelaskan bahwa ia sudah mengenal seluruh Sarah al-Mufassal (al-Mufassal terdiri dari Sarah al-Qaf hingga akhir seluruh Al-Qur'an) sebelum Nabi Muhammad sampai ke Madinah.40
Akar utama ajaran Al-Qur'an berkembang ke berbagai masjid di mana melalui dinding temboknya bergema suara AI-Qur'an yang dibacakan sebelum Nabi Muhammad menetap di Madinah. Menurut al-Waqidi, masjid pertama yang diberkahi bacaan Al-Qur'an adalah masjid bani Zuraiq41
3. Periode Madinah
i. Nabi Muhammad Sebagai Maha Guru Al-Qur'an
Begitu sampai di Madinah, Nabi Muhammad membuat Suffa di dalam masjid yang berfungsi sebagai tempat belajar pemberantasan buta huruf, dengan menyediakan makanan, dan tempat tinggal.
Lebih kurang sembilan ratus sahabat menerima tawaran tersebut.42 Saat Nabi Muhammad mengajarkan Al-Qur'an, yang lainnya seperti ‘Abdulah bin Sa`id bin al-'As, `Ubada bin as-Samit, dan Ubay bin Ka'b mengajarkan dasar-dasar penting membaca and menulis.43
Ibn ‘Umar sekali memberi pujian, "Nabi Muhammad membaca pada kita dan jika beliau membaca ayat sajadah yang menyuruh bersujud, beliau mengucapkan Allahu Akbar lalu sujud.44
Banyak di antara para sahabat menjelaskan bahwa Nabi Muhammad membaca surah seperti itu kepada mereka secara pribadi termasuk orangorang terkemuka, seperti Ubayy bin Ka'b, ‘Abdullah bin Salam, Hisham bin Hakim, 'Umar bin Khattab, dan Ibn Mas'ud.45
Beberapa utusan sampai ke Madinah dari luar daerah dan diberikan pada orang setempat untuk memberi perlindungan bukan saja di bidang pangan dan penginapan, melainkan juga dalam hal pendidikan. Nabi Muhammad bertanya pada mereka guna mengetahui tingkat pelajaran mereka.46
Setiap diberi wahyu, Nabi Muhammad cepat-cepat membacakan ayat yang baru beliau terima kepada semua sahabat dan kemudian membacakan kepada para wanita dalam pertemuan terpisah.47
‘Uthman bin Abi al-'As selalu ingin belajar Al-Qur'an dengan Nabi Muhammad dan jika tidak menemuinya, beliau mendatangi rumah Abu Bakr.48
ii. Dialek yang digunakan oleh Nabi Muhammad dalam Mengajarkan Al-Qur'an di Madinah
Adalah fakta yang cukup kuat bahwa sekalipun manusia berbicara bahasa namun tetap mengalami perbedaan dialek yang mencolok dari satu satu tempat ke tempat lain. Dua orang misalnya, kendati tinggal di New York dari kultur dan sosio-ekonomi yang berlainan akan memiliki aksen yang berbeda. Demikian juga orang-orang yang tinggal di London akan berbeda dengan mereka yang tinggal di Glasgow atau Dublin. Dalam hal bahasa Inggris, terdapat perbedaan sistem ejaan Amerika dan Inggris clan mungkin saja terdapat kesamaan dalam ejaan namun berbeda dalam intonasi.
Marilah kita amati situasi negara-negara Arab masa kini dalam penggunaan kata-kata qultu ( saya bicara) sebagai satu permasalahan, Orang Mesir mengungkapkan dengan kata ult, diganti dengan u dari kosakata q. Orang Yaman mengatakan dengan ungkapan gultu kendati dalam menulis katakata semua orang Arab akan mengatakannya secara identik. Contoh lain: seorang bernama Qasim akan disebut oleh orang Teluk Parsi dengan istilah Jasim; orang yang sama mengganti j dengan y, maka kata-kata rijal (orang lelaki) bisa berubah menjadi raiyyal dalam ungkapan.
Di Mekah mayoritas Muslim memiliki latar belakang budaya yang beragam. Karena Islam berkembang melewati batas kesukuan dan mencakup seluruh Jazirah Arab, berbagai aksen terjadi kontak satu sama lain. Pengajaran Al-Qur'an pada suku yang berbeda pun dirasa perlu dan mengharuskan mereka meninggalkan dialek asli secara keseluruhan dan meninggalkan dialek Arab Quraish di mana Qur'an diwahyukan, rasanya suatu masalah yang dirasa sulit untuk dilakukan. Guna memfasilitasi masalah tersebut, Nabi Muhammad mengajarkan mereka AI-Qur'an dengan dialek mereka. Dalam satu kesempatan dua orang atau lebih dari suku yang berbeda boleh juga belajar Al-Qur'an dalam dialek mereka, jika dirasa perlu.
iii. Para Sahabat sebagai Pengajar Al-Qur'an
'Abdullah bin Mughaffal al-Muzani mengatakan bahwa saat seorang Arab hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad menugaskan seseorang dari kaum Ansar pada individu dengan mengatakan: biarkan la memahami Islam dan mengajarkannya tentang Al-Qur'an. "Hal yang sama terjadi pada diri saya," katanya, "sebagaimana saya dipercaya karena pada salah satu dari orang Ansar yang telah membuatku paham agama dan mengajarku Al-Qur'an."49 Bukti nyata menunjukkan bahwa para sahabat secara aktif ambil bagian dalam kebijaksanaan, seperti pada periode Madinah. Riwayat berikut mewakili, seperti biasa, hanya sebagian dari petikan bukti-bukti yang ada pada kita.
- ‘Ubada bin as-Samit mengajarkan AI-Qur'an pada masa kehidupan Nabi Muhammad.50
- Ubbay juga mengajarkan Al-Qur'an pada masa kehidupan Nabi Muhammad di Madinah51, sehingga secara terus-menerus ia mengajar seorang buta di rumahnya.52
- Abu Sa’id al-Khudri menjelaskan bahwa ia duduk dengan sekelompok imigran dari Mekah sewaktu seorang qari' membaca untuk mereka.53
- Sahl bin Sa`id al-Ansari berkata, "Nabi Muhammad mendatangi kita sewaktu kami membaca bergantian..."54
- `Uqba bin `Amir memberi komentar, "Nabi Muhammad hadir pada kami sewaktu kami berada di dalam masjid mengajar satu sama lain tentang Al-Qur' an."55
- Jabir bin ‘Abdullah berkata, "Nabi Muhammad mengunjungi sewaktu kami membaca Al-Qur'an. Kumpulan kami terdiri dari orang-orang Arab dan juga bukan Arabs.56
- Anas bin Malik kemonetar, 'Nabi Muhammad datang kepada kita sewaktu kami membaca, diantara kita terdapat orang-orang Arab dan bukan Arab, kulit hitam dan kulit putih.57
- Bukti tambahan menunjukkan bahwa para sahabat melawat sampai di luar kota Madinah bertindak sebagai instruktur: Mu'adh bin Jabal dikirim ke Yaman.58
- Dalam perjalanan menuju Bir' Ma'una, sekurang-kurangnya empat puluh kalangan para sahabat yang dikenal sebagai pengajar Al-Qur'an dibunuh.59
- Abu ‘Ubaid dikirim ke Najran.60
- Wabra bin Yuhannas mengajar Al-Qur'an in San'a' (Yaman) kepada Um-Sa`id bint Buzrug semasa kehidupan Nabi Muhammad.61
4. Hasil Kegiatan Pendidikan: Huffaz
Samudra kesempatan mempelajari Kitab Suci yang berjalan bersama gelombang manusia yang terlibat dalam penyebarannya, ternyata membuahkan banyak para sahabat yang secara cermat menghafal Al-Qur'an. Banyak diantara mereka yang kemudian dibunuh di Yamama dan Bir Ma'una, dan nama mereka dalam banyak hal, telah lenyap dari buku sejarah. Dari bukti yang ada menunjukkan hanya nama-nama mereka yang masih hidup, yang kemudian meneruskan pengajaran di Madinah dan wilayah yang tertaklukan oleh kekuasaan Islam. Hal ini meliputi antara lain: Ibn Mas'ud,62 Abu Ayyub,63 Abu Bakr as-Siddiq,64 Abu ad-Darda,65 Abu Zaid,66 Abu Musa al-'Ash' ari,67 Abu Huraira,68 Ubayy bin Ka'b,69 Um-Salama,70 Tamim al-Dari,71 Sa'd bin Mundhir,72 Hafsa,73 Zaid bin Thabit,74 Salim dari suku Hudhaifa ,75 Sa'd bin 'Ubada,76 Sa'd bin ‘Ubaid al-Qari,77 Sa'd bin Mundhir,78 Shihab al-Qurashi,79 Talha,80 ‘A'isha,81 ‘Ubada bin Samit,82 ‘Abdullah bin Sa'ib,83 Ibn ‘Abbas,84 ‘Abdullah bin ‘Umar,85 ‘Abdullah bin 'Amr,86 ‘Uthman bin 'Affan,87 'Atta bin Markayud (orang Parsi tinggal di Yaman),88 ‘Uqba bin 'Amir,89 'All bin Abi Talib,90 ‘Umar bin al-Khattab,91 'Arm- bin al-'As.92 Fudala bin ‘Ubaid,93 Qays bin Abi Sa'sa'a,94 Mujamma’ bin Jariya,95 Maslama bin Makhlad,96 Mu'adh bin Jabal,97 Mu'adh Abu Halima,98 Um-Warqah bin ‘Abdullah bin al-Harith,99 dan 'Abdul Wahid.100
5. Kesimpulan
Sejarah tidak selalu bersahabat dengan Kitab suci. Injil asli Nabi ‘Isa (Jesus), sebagaimana akan kita lihat kemudian, telah lenyap sejak awal clan diganti dengan karya penulis yang tidak memiliki hubungan keilmuan dengan sumber pertama; demikian pula dengan kitab perjanjian lama yang telah mengalami penderitaan begitu kronik karena tidak adanya perhatian. Hal itu sama sekali bertentangan dengan kitab Al-Qur'an yang diberkahi dengan penyebaran yang begitu cepat ke seluruh Jazirah Arab sejak kehidupan Nabi Muhammad, yang disebarkan oleh para sahabat yang secara langsung mendapat pengajaran dari Nabi Muhammad sendiri. Adanya para huffaz memberi saksi atas kesuksesan dalam hal ini. Ada pertanyaan adakah penyebarannya sama sekali secara verbal? Kita telah jelaskan bahwa kompilasi Al-Qur'an secara tertulis merupakan perhatian utama Nabi Muhammad Saw Bagaimana beliau melakukan tugas ini? Hal ini akan terjawab dalam bab berikut
1. Qur'an, 96: 1.
2. Abn Khaithama, al-'llm, hadith no. 25.
3. At-Tirmidhi, Sunan, al-Ilm: 3,
4. AI-Haitami, Majma az-Zawa'id, i:164.
5. Al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, ii: 239, mencatat apa yang ditulis oleh ad-Durr al-Manthur, Abu Nu'aim dan ad-Dailami.
6. Ibn Hanbal, Musnad, vi: 315.
7. Ibn Sa'd, Tabaqat, ii: 1-4. Juga lihat Ibn Hanbal, Musnad, i: 247.
8. Al-Bukhari, ix: 74, no.5027-8; Abu Dawud, Sunan, hadith no.1452; Abu 'Ubaid, Fada'il, h1m.120-124.
9. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 126.
10. At_Tirmidhi, Sunan, Fa,da'il AI-Qur'an :16. Juga lihat Abu 'Ubaid, Fada'il, hlm. 16.
11. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 92; at-Tirmidhi, Sunan, hadith no.235; Abu Dawud, Sunan, hadith no.582-584.
12. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 91; al-Bukhari, Sahih, no.8: 18; Abu Dawud, Sunan, no.585-587.
13. Muslim, Sahih, terjemahan bahasa Inggris oleh Siddiqi hadith no. 1742. Harap dilihat juga hadith no. 1739-1740.
14. Abu `Ubaid, al-Fada'il, hlm.126; al-Bukhari, Sahih, Tawhid:46, Muslim, Sahih, Salat alMusafirin, no.266: at-Tirmidhi, Sunan, no. 1937.
15. Abu ‘Ubaid, Fa,da'il, hlm.126; al-Bukhari, Sahih, Tawhid:46, Muslim, Sahih, Salat alMusafirin, no.266; at-Tirmidhi, Sunan, no. 1937.
16. Abu ‘Ubaid, Fadail, hlm. 62: al-Faryabi, Fa,da'il, hlm. 170.
17. As-Suyuti, al-Itqan, i:304, dicatat dalam al-Tabari dan al-Baihaqi dalam Shu'ab al-Iman, diceritakan oleh ath-Thaqafi.
18. Abu Dawud, Sunan, hadith no.1464; at-Tirmidhi, Sunan, no. 2914; al-Faryabi, Fada'il, hadith no. 60-1.
19. At_Tirmidhi, Sunan, bab Fada'il AI-Qur'an, hadith no.2913.
20. Muslim, Sahih, terjemahan bahasa Inggris, oleh Siddiqi no.1727. Lihat juga hadith no.1725.
21. Muslim, Sahih, teqemahan bahasa Inggris oleh Siddiqi, no. 1727. Juga dapat dilihat pada
no. 1725.
22. At-Tirmidhi, Sunan, Fa,da'il Al-Qur'an :14, hadith no.2906.
23. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, edited by Suhail Zakkar, hlm.139.
24. Ibid, hlm.140.
25. Ibid, 143.
26. Ibn Hisham, Sira, jilid l-2, h1m.293-94.
27. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, ed. By Zakkar, hlm.218.
28. Ibn Sa'd, Tabaqat, iii/2:138-39.
29. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 428.
30. Ibid., jilid 1-2, hlm.427.
31. Ibid.
32. Ibid.
33. Al_KattanI , at-Taratib al-Idariya, i: 43-4.
34. Ibn Wahb, al-Jam `i fi Mum Al-Qur'an, h1m.271. Surah-surah tersebut tertulis dalam no. 10, 20, dan 76.
35. Ibn Hisham, Sira,jilid 1-2, hlm.369.
36. Ibn Sa'd, Tabaqat, iii/1:107; Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, diedit oleh Zakkar, hlm.186.
37. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghaz, diedit oleh Zakkar, hlm. 181-84.
38. Ibn Hisham, Sira, jilid 1-2, hlm. 434.
39. Al_Hakim, al-Mustadrak, iii: 476.
40. lbn Sa'd, Tabaqat, iv/2: 82.
41. An_Nuwairi, Nihayatul Arab, xvi: 312.
42. AI-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i:476-80. Menurut Qatada (61-117 A.H) jumlah orang orang yang belajar mencapai sembilan ratus dan ulama lain menyebut hanya empat ratus.
43. AI-Baihaqi, Sunan, vi: 125-16.
44. Muslim, Sahih, Masajid:104.
45. Al_Baihaqi , Sunan, vi: 125-126.
46. Ibn Hanbal, Musnad, iv: 206.
47. Ibn Ishaq, as-Seyar wa al-Maghazi, diedit oleh Zakkar, hlm.147.
48. AI-Baqilani, al-lntisar, versi yang telah diperluas, hlm.69.
49. Al-Baqilani, al-Intisar, versi yang diperluas, hlm. 69.
50. Al-Baqilani , Sunan, vi: 125; Abu `Ubaid, Fada'il, hlm. 206-7.
51. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 207.
52. Ibid, hlm.208.
53. Al_Khatib, al-Faqih, ii: 122.
54. Abu 'Ubaid, Fada'il, hlm. 68, al-Faryabi, Fada'il, hlm. 246.
55. Abu ‘Ubaid, Fada'il, hlm. 69-70.
56. Al Faryabi, Fada'il, hlm. 244.
57. Ibn Hanbal, Musnad, iii: 146; juga agar dilihat al-Faryabi, Fada'il, hlm.
58. AI-Khalifa, Tarikh, i: 72; ad-Dulabi, al-Kuna, i:19.
59. AI-Baladhuri, Ansab, i: 375.
60. lbn Sa'd, Tabaqat, iii/2: 299.
61. Ar_Razi, Tarikh Madinat San'a', hlm. 131. 244-45.
62. Adh-Dhahabi, Seyar al-`Alam an Nubula', ii: 245; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
63. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 53.
64. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idarlya, i: 45-46.
65. Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 286; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, ad-Dulabi, al-Kuna, i: 312; al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46.
66. Ibn Sa'd , Tabaqat, ii/2:112.
67. Ibn Hakar, Fathul Bari :ix: 52.
68. Al-Katani, at-Taratib al-Idariya I : 45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
69. Al-Bukhari, Sahih, hadith nos.5003, 5004, Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 86, an-Nadim, alFihrist, hlm. 27; adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qutra', hlm. 9.
70. Ibn Hajar, Fathul Bari, iX: 52, mencatat pendapat Abu ‘Ubaid.
71. I Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
72. AI-Kattani , at- Taratib al-ldariya, i: 45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
73. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52, as-Suyuti, al-Itqan , i: 202.
74. Ibn Sa'd, Tabaqat, ii/2:112, al-Bukhari, Sahih, hadith no.5003, 5004; Ibn Habib, al Muhabbar, hlm. 86; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, adh-Dhahabi, seyar al-'Alam an-Nubala', ii: 245, 318.
75. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i: 45.
76. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
77. Ibn Habib, al-Muhabbar, hlm. 286; al-Hakim, Mustadrak, ii: 260; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra', hlm. 15; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti, al-Itqan, i: 202.
78. Ibn Hajar, Fathul Bari, ii, ii: 159, al-Kattani , at-Tartib al-Idariya , i: 46.
79. Ibn Hajar, al-Isaba, ii: 159, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46.
80. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani, at-Taratib al-Idanya, i: 46.
81. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 45.
82. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52-53.
83. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 45.
84. Ibn Kathir, Fada'il al-Qur'an, hlm.7, 471; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
85. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti , al-Itqan , i: 202, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra', hlm. 19.
86. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
87. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; as-Suyuti , al-Itqan , i: 203; adh-Dhahabi, Tabagat al-Qurra', hlm. 19.
88. Ibn Hibban, Thiqat, hlm.286, ar-Razi, Tarikh Madinat San`a, hlm.337.
89. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, as-Suyuti, al-Itqan, i: 203, adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra', hlm. 19.
90. An Nadim, al-Fihrist, hlm. 27; Ibn Hajar, Fathul Ban, ix: 13, 52, adh-Dhahabi, Tabaqat alQurra', hlm.19.
91. Al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i:45; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52; as-Suyuti, al-Itqan, i:202.
92. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.
93. As_Suyuti , al-Itqan , i: 203; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52.
94. As-Suyuti , al-Itqan, i: 203; Ibn Hajar, Fathul Bar, ix: 52.
95. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52, al-Kattani , at-Taratib al-Idariya, i: 46.
96. Ibn Hajar, Fathul Ban, ix: 52; as-Suyuti , al-itqan, i: 202.
97. Al-Bukhari, Sahih, hadith nos.5003, 5004; Ibn abb, al-Muhabbar, hlm. 286; adh-Dhahabi, Tabaqat al-Qurra', hlm. 19; an-Nadim, al-Fihrist, hlm. 27; Ibn Hajar, Fathul Bari, ix:52
98. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52.'
99. Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: 52; as-Suynti, al-Itqan, i: 203-4; al-Kattani, at-Taratib al-Idariya, i: 47.
100. Ibn Wahb, al-Jami’ fi ‘ulum al-Qur'an, hlm. 263.
*********
__________________________________
Sumber : www.study-quran.com
Langganan:
Postingan (Atom)








