Rabu, 05 Maret 2014

TAFSIR ALL QUR'AN SURAH NUH AYAT 1 - 20 ( 01 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : NUH
Ayat [28]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:1/2
1 Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): `Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih`.(QS. 71:1)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 1 

إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (1

Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah mengutus Nabi Nuh A.S. kepada kaumnya untuk menyampaikan agama-Nya supaya mereka takut kepada azab Allah yang dahsyat sebelum tiba saatnya, agar mereka mendapat petunjuk dan mencari keridaan-Nya.
Nabi Nuh A.S. adalah Nabi dan Rasul Allah yang ketiga setelah Adam A.S. dan Idris A.S. Beliau diutus kepada kaumnya, karena kaumnya adalah penyembah-penyembah berhala, melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yang dilarang Allah. Karena itu Allah SWT memerintahkan Nuh A.S. agar memberi peringatan kepada kaumnya itu agar beriman kepada Allah dan menghentikan perbuatan-perbuatan maksiat yang selalu mereka kerjakan itu.
Jika tidak mengindahkan peringatan itu, mereka akan ditimpa azab yang dahsyat sebagai akibat keingkaran mereka itu. Azab yang dahsyat yang akan menimpa mereka itu berupa banjir besar yang melanda mereka disertai topan yang sangat kencang.
2 Nuh berkata: `Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu,(QS. 71:2)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 2 

قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ (2

Nuh berkata kepada kaumnya dalam rangka melaksanakan tugas kerasulannya itu, "wahai kaumku; aku peringatkan kepadamu bahwa telah menjadi Sunah Allah bahwa siksaan-Nya akan menimpa setiap orang yang ingkar kepada-Nya. Karena itu, seandainya kamu sekalian tidak mau meninggalkan penyembahan berhala dan masih mengerjakan perbuatan-perbuatan maksiat serta mengingkari seruanku, pasti sunah-Nya itu akan berlaku pula kepadamu. Kamu akan ditimpa melapetaka yang dahsyat".
3 (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku,(QS. 71:3)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 3 

أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاتَّقُوهُ وَأَطِيعُونِ (3

Dalam ayat ini, diterangkan isi peringatan itu, yaitu:
1. Hendaklah mereka menyembah Allah saja, Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Dalam perintah menyembah Allah SWT yang disampaikan Nuh itu terkandung seluruh syariat yang disampaikan Nuh, yaitu mengerjakan segala yang wajib, segala yang sunah; baik berupa gerakan dan ketetapan hati, maupun yang berupa perbuatan anggota badan. Juga mencakup perintah menghentikan segala yang diharamkan dan dimakruhkan-Nya. Dari perintah Allah, agar mereka menyembah Allah saja, dipahami pula bahwa agama yang dianut kaum Nuh itu adalah agama syirik.
2. Hendaklah bertakwa kepada Allah, yaitu berusaha menjauhkan diri dari azab neraka dengan melaksanakan semua yang diperintahkan dan menjauhkan segala yang dilarang-Nya.
3. Menaati segala yang diperintahkan dan dilarang Nuh, melaksanakan semua yang dinasihatkannya, karena ia adalah utusan Allah kepada mereka, untuk menyampaikan agama-Nya; bukan untuk menyampaikan keinginan-keinginan dirinya. Menaati Nuh berarti menaati Allah.
4 niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui`.(QS. 71:4)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 4 

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4

Dalam ayat ini , disebutkan janji Allah kepada kaum Nuh, seandainya mereka mengikuti seruan Nuh dengan ikhlas, yaitu:
1. Allah akan mengampuni segala dosa mereka. Dengan arti hapusnya dosa-dosa yang pernah mereka lakukan, seakan-akan mereka tidak pernah berbuat dosa. Karena dengan berimannya mereka dan mengikuti agama yang dibawa Nuh, berarti mereka telah berbuat, dan kembali ke jalan yang benar.
2. Allah SWT akan memanjangkan umur mereka. Maksudnya ialah, sekalipun menurut takdir Allah umur mereka telah ditentukan dan terbatas, namun jika mereka beriman, Allah akan memanjangkan umur mereka dengan menghentikan kedatangan azab yang dijanjikan itu. Melakukan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. karena Dia Maha Kuasa dan Maha Menentukan segala sesuatu menurut yang dikehendaki-Nya.
Sehubungan dengan masalah menangguhkan kedatangan ajal, yakni memanjangkan umur yang disebut dalam ayat ini, sebagian ahli tafsir menyatakan bahwa Allah akan mengubah takdir yang telah ditentukan-Nya, jika Dia menghendakinya. Karena itu taat kepada Allah dan melakukan perbuatan-perbuatan takwa serta menghubungkan silaturahmi dapat memanjangkan umur manusia, Nabi Muhammad SAW bersabda:


صلة الرحم تزيد في العمر
Artinya:
"Mempererat hubungan silaturahmi itu menambah panjangnya umur" (lihat Tafsir Al Maragi, hal. 80, juz 29, jilid X)
Jika hal ini dihubungkan dengan ilmu jiwa akan lebih jelas pemahamannya. Menurut ilmu jiwa, ada hubungan timbal balik antara jasmani seseorang dengan jiwa (rohani) nya. Kesehatan rohani besar pengaruhnya kepada kesehatan jasmani; begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, maka orang yang sehat adalah orang yang sehat jasmani dan rohaninya. Pada umumnya orang yang tekun mengerjakan amal saleh dan menghubungkan silaturahmi adalah orang yang sehat jasmaninya. Dengan perkataan lain, bahwa takwa kepada Allah dapat menghilangkan penyakit-penyakit rohani. Jika rohani sehat tentulah jasmani sehat pula dan umurpun akan panjang.
Pada akhir ayat ini Allan SWT menegaskan bahwa Dia telah menetapkan ajal semua manusia, yang terdapat di Ummul Kitab (Lohmahfuz). Jika ajal itu telah datang sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan, maka kedatangannya itu tidak dapat ditangguhkan atau tidak pula dapat dipercepat walau sesaat pun. Kemudian Allah SWT menegaskan, "Hai orang-orang kafir, jika kamu mempunyai ilmu tentulah kamu akan meyakini bahwa ketentuan ajal itu hanyalah di tangan Allah. Sebaliknya jika kamu tidak mempunyai ilmu, tentulah kamu tidak akan mempercayai bahwa ketentuan ajal itu di tangan Allah, dan seterusnya kamu tetap tidak beriman kepada Allah dan tetap tidak menaati Rasul-Nya".

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Nuh 4 

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لَا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (4

(Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosa kalian) huruf min di sini dapat dianggap sebagai huruf zaidah, karena sesungguhnya Islam itu mengampuni semua dosa yang terjadi sebelumnya; yakni semua dosa kalian. Sebagaimana dapat pula dianggap sebagai min yang mengandung makna sebagian, hal ini karena mengecualikan hak-hak yang bersangkutan dengan orang lain (dan menangguhkan kalian) tanpa diazab (sampai kepada waktu yang ditentukan) yaitu ajal kematiannya. (Sesungguhnya ketetapan Allah) yang memutuskan untuk mengazab kalian, jika kalian tidak beriman kepada-Nya (apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kalian mengetahui) seandainya kalian mengetahui hal tersebut, niscaya kalian beriman kepada-Nya.
5 Nuh berkata: `Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang,(QS. 71:5)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 5 - 6 

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6

Dalam ayat-ayat ini, diterangkan bahwa Nuh mengadukan sikap kaumnya kepada Allah dengan menyatakan, "Wahai Tuhanku; aku telah melaksanakan tugasku sesuai dengan kesanggupanku setiap saat, siang dan malam, tetapi mereka tidak menghiraukannya. Semakin aku seru mereka, semakin mereka menjauhiku dan lari dari kebenaran.
6 maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).(QS. 71:6)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 5-6

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا (5) فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا (6


(Nuh berkata, "Ya Rabbku! Sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang) terus-menerus tanpa mengenal waktu.

(Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari) dari iman.
7 Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.(QS. 71:7)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 7 

وَإِنِّي كُلَّمَا دَعَوْتُهُمْ لِتَغْفِرَ لَهُمْ جَعَلُوا أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ وَاسْتَغْشَوْا ثِيَابَهُمْ وَأَصَرُّوا وَاسْتَكْبَرُوا اسْتِكْبَارًا (7

Nuh A.S. mengadukan, "Wahai Tuhanku, setiap kali aku menyeru mereka agar mengakui ke-Esaan Engkau, tidak lagi menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Engkau, sehingga dengan demikian Engkau mengampuni dosa-dosa mereka, merekapun menyumbatkan anak jari ke lubang telinga mereka agar mereka tidak mendengar seruanku. Bahkan mereka menutup muka mereka sebagai pernyataan benci melihatku. Setiap kali aku menyeru mereka, semakin bertambah kesombongannya dan kecongkakan mereka kepadaku.
8 Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan,(QS. 71:8)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 8 - 9 

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9

Nuh A.S. mengadu kepada Allah, "Wahai Tuhanku segala macam cara telah aku lakukan untuk menyeru mereka ke jalan Engkau. Adakalanya aku menghubungi tiap-tiap mereka seorang-seorang tanpa yang lain mengetahuinya. Adakalanya dengan terang-terangan di hadapan umum dan adakalanya kedua cara itu aku lakukan bersamaan; tetapi mereka tetap menampiknya, seakan-akan usahaku itu tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun.
Dari ayat ini dipahami bahwa Nuh A.S. telah melaksanakan tugas tanpa menghiraukan bahaya yang mungkin mengancam jiwanya, untuk mencari keridaan Allah. Dipahami pula bahwa Nuh A.S. sangat cinta kepada kaumnya. Ia ingin kaumnya mengikuti jalan yang lurus, sehingga terhindar dari azab Allah. Ia melaksanakan tugasnya dengan taat dan penuh mengabdikan kepada Allah disertai keimanan yang kuat terhunjam di dalam dadanya.
9 kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam,(QS. 71:9)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Nuh 8-9

ثُمَّ إِنِّي دَعَوْتُهُمْ جِهَارًا (8) ثُمَّ إِنِّي أَعْلَنْتُ لَهُمْ وَأَسْرَرْتُ لَهُمْ إِسْرَارًا (9


(Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka dengan terang-terangan) dengan sekuat suaraku.

(Kemudian sesungguhnya aku telah mengeraskan kepada mereka) suaraku (dan pula telah membisikkan) suaraku atau seruanku (kepada mereka dengan sangat rahasia.)
10 maka aku katakan kepada mereka:` Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,(QS. 71:10)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 10 

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10

Nuh A.S. menyeru kepada kaumnya agar beriman kepada Allah, karena dengan pernyataan iman kepada-Nya itu berarti memohonkan ampun kepada-Nya.
Dengan beriman, berarti mereka telah meninggalkan agama syirik, agama yang berlawanan dengan agama tauhid dan bertentangan dengan naluri manusia.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nuh A.S. telah menyampaikan kepada kaumnya bahwa Tuhan yang disembah itu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun terhadap hamba-Nya. Karena itu dengan berimannya mereka sekalian; Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.
11 niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,(QS. 71:11)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 11 - 12 

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12

Dalam ayat ini, diterangkan bahwa Nuh A.S. telah menyampaikan kepada kaumnya janji Allah seandainya mereka beriman kepada-Nya, yaitu:
1. Dia akan menurunkan hujan yang lebat, yang dapat menyuburkan tanah-tanah mereka, sehingga menghasilkan tanaman-tanaman dan buah-buahan yang mereka perlukan serta mendatangkan kebahagiaan kepada mereka.
2. Dia akan menganugerahkan kepada mereka harta kekayaan yang banyak, yang beraneka rupa dan ragamnya.
3. Dia akan menganugerahkan anak-anak yang akan melanjutkan keturunan mereka, sehingga mereka tidak punah.
4. Dia akan menyuburkan tanah-tanah mereka, sehingga kebun-kebun menjadi dan dapat memberi manfaat kepada mereka.
5. Dia akan mengadakan sungai-sungai yang mengalir, yang dengan mudah mengairi kebun-kebun mereka, sehingga tanam-tanaman hidup subur dan menghijau.
Janji Allah SWT yang diberikan-Nya kepada kaum Nuh, seandainya mereka beriman adalah janji yang sesuai dengan keadaan kaum Nuh waktu itu. Kaum Nuh adalah kaum yang termasuk cikal bakal umat manusia sekarang ini. Perkembangan kebudayaan mereka masih taraf permulaan belum berkembang seperti yang sekarang ini. Tetapi janji itu tidak menarik hati mereka sedikit pun. Hal ini menunjukkan keingkaran mereka yang sangat dalam memperkenankan seruan Nuh A.S.
Dalam janji itu terkandung sesuatu pengertian bahwa Allah SWT., menyuruh mereka mempergunakan akal pikiran mereka. Mereka seakan-akan disuruh memikirkan faedah hujan bagi mereka. Hujan akan menyuburkan bumi tempat mereka berdiam, menghasilkan tanam-tanaman dan buah-buahan yang mereka perlukan. Sebagian hasil pertanian mereka jual dan sebagian mereka makan sendiri, sehingga menambah kekayaan mereka. Hujan akan mengalirkan air di sungai-sungai, yang bermanfaat bagi mereka. Jika mereka mau menggunakan pikiran mereka dengan cara yang demikian. tentulah mereka akan sampai kepada kesimpulan tentang siapa yang menurunkan hujan itu, sehingga bumi menjadi subur dan siapa yang menyuburkan bumi sehingga menghasilkan keperluan-keperluan hidup mereka. Akhirnya. mereka sampai kepada suatu kesimpulan yang sama dengan seruan yang disampaikan Nuh A.S. kepada mereka, yaitu beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa yang menciptakan semua keperluan-keperluan mereka itu.
12 dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.(QS. 71:12)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Nuh 11-12


يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12


(Niscaya Dia akan mengirimkan hujan) pada saat itu mereka sedang mengalami kekeringan karena terlalu lama tidak ada hujan (kepada kalian dengan lebat) dengan deras.

(Dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun) ladang-ladang (dan mengadakan pula bagi kalian sungai-sungai) yang mengalir di dalamnya.
13 Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?(QS. 71:13)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 13 

مَا لَكُمْ لَا تَرْجُونَ لِلَّهِ وَقَارًا (13

Pada ayat ini kaum Nuh diperingatkan lagi akan kebesaran Tuhan yang menciptakan semua keperluan mereka itu. Apakah mereka tidak pernah merasa khawatir, seandainya nikmat-nikmat yang telah dilimpahkan kepada mereka itu dihentikan, dapatkah mereka menciptakannya sendiri, tanpa pertolongan Allah kepada mereka. Bagaimana seandainya Tuhan Yang Kuasa yang wajib disembah itu marah kepada mereka, sehingga Dia menimpakan azab-Nya.
14 Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.(QS. 71:14)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 14 

وَقَدْ خَلَقَكُمْ أَطْوَارًا (14

Dalam ayat ini kaum Nuh diingatkan lagi akan kebesaran dan kekuasaan Allah. Agar mereka melihat kepada diri sendiri. Mereka selaku manusia mengalami tahap-tahap kejadian. Mula-mula dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah, kemudian manjadi segumpal daging. Setelah sempurna kejadian mereka, merekapun dilahirkan. Mulai dari seorang bayi yang tidak tahu sesuatupun sampai menjadi manusia yang dewasa, kemudian menurunkan keturunan. Akhirnya mereka meninggal dunia.
Mengenai tahap-tahap kejadian manusia ini diterangkan pula dalam firman Allah SWT:


هو الذي خلقكم من تراب ثم من نطفة ثم من علقة ثم يخرجكم طفلا ثم لتبلغوا أشدكم لتكونوا شيوخا ومنكم من يتوفى من قبل ولتبلغوا أجلا مسمى ولعلكم تعقلون
Artinya:
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahaminya. (Q.S. Al-Mu'minun: 67)
15 Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?(QS. 71:15)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 15 

أَلَمْ تَرَوْا كَيْفَ خَلَقَ اللَّهُ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا (15

Dalam ayat ini Nuh A.S. menyuruh kaumnya memperhatikan langit yang terdiri atas tujuh tingkat. Ayat ini dapat berarti khusus untuk kaum Nuh dan dapat pula berarti umum (untuk seluruh manusia); karena dalam ayat ini terdapat perkataan "alam tarau" (tidakkah kamu perhatikan) Memperhatikan, di sini dengan akal, dengan mempergunakan otak Karena itu cara memperhatikan yang diperintahkan itu adalah dengan cara yang lazim digunakan dalam dunia ilmu pengetahuan.
Ayat ini khusus berhubungan dengan kaum Nuh, yang tingkat pengetahuan mereka belum seperti tingkat pengetahuan manusia sekarang. Mereka, dalam memperhatikan segala sesuatu belum lagi mempunyai alat, belum mempunyai metode penyelidikan yang tinggi. Mereka baru mempergunakan pancaindra mereka. Dengan mata mereka melihat langit yang biru kehijau-hijauan yang dipenuhi oleh bintang-bintang yang berserakan, yang berbeda tinggi rendahnya.
Mereka baru mengetahui bahwa langit itu bertingkat-tingkat, seakan-akan bintang-bintang itu merupakan tingkat-tingkatnya.
Ayat ini juga berarti umum, ialah bahwa ayat ini ditujukan kepada umat Nabi Muhammad yang telah mempunyai tingkat kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang jauh melebihi kaum Nuh. Kepada manusia sekarangpun diperintahkan merenungkan dan memikirkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi, agar dapat menambah kuat iman kepada Allah SWT.
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:


أو لم ير الذين كفروا أن السماوات والأرض كانتا رتقا ففتقناهما وجعلنا من الماء كل شيء حي أفلا يؤمنون
Artinya:
Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air. Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?". (Q.S. Al-Anbiya': 30)
Dari ayat ini, dipahami bahwa perintah memikirkan dan merenungkan kekuasaan dan kebesaran Allah itu tertuju kepada seluruh manusia, baik yang tinggi tingkat pengetahuannya maupun yang rendah tingkat pengetahuannya. Seluruh manusia sanggup dan mampu melakukannya, sehingga dengan memperhatikan itu menambah kuat imannya kepada Allah. Tuhan Yang Maha Esa Ayat ini juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara menentukan agama yang diridai Allah di antara agama-agama yang ada. Caranya ialah dengan merenungkan kejadian alam ini kita akan sampai kepada penciptanya. Pencipta alam ini adalah Yang Maha Tahu, dan Maha Kuasa. Mustahil pencipta alam ini bodoh, tidak mengetahui mana yang mudarat, mana yang manfaat. Dialah yang menentukan segala sesuatu. Dia adalah Zat yang Maha Esa, tidak berserikat dengan sesuatupun. Karena Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, maka agama yang benar adalah agama yang mengakui keesaan Tuhan dan mengakui bahwa ibadat yang benar ialah ibadat yang langsung ditujukan kepada-Nya, tidak menggunakan perantara, seperti minta rezeki kepada Allah dengan perantaraan kuburan seseorang keramat, dan sebagainya.
16 Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?(QS. 71:16)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 16 

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا (16

Nabi Nuh telah menerangkan kepada kaumnya bahwa Allah SWT yang hendak disembah itu menciptakan bulan sebagai cahaya bagi manusia dan matahari sebagai pelita.
Dari susunan ini dipahami bahwa:
1. Keadaan matahari berbeda dengan keadaan bulan; baik kedudukannya di antara planet, sifat cahayanya, maupun faedah cahayanya.
2. Matahari termasuk induk planet, yang mempunyai anak-anak planet dan bulan termasuk anak planet matahari yang beredar mengitarinya.
3. Matahari memancarkan sinar sendiri, sedang bulan mendapat cahaya dari matahari. Cahaya yang dipancarkan bulan berasal dari sinar matahari yang lebih dipantulkannya ke bumi. Karena itu sinar matahari lebih keras dan terang dari cahaya bulan.
4. Kedua sinar itu mempunyai faedah bagi manusia. tetapi bentuk faedahnya berbeda-beda.
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:


هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نورا وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب ما خلق الله ذلك إلا بالحق يفصل الآيات لقوم يعلمون
Artinya:
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang yang mengetahui"
17 Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya,(QS. 71:17)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 17 

وَاللَّهُ أَنْبَتَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا (17

Nabi Nuh A.S. telah menerangkan kepada kaumnya bahwa Allah SWT Yang Maha Esa dan wajib disembah itu adalah Tuhan yang menumbuhkan mereka seperti juga manusia yang lain -dari tanah. Yakni manusia termasuk mereka diciptakan dari nutfah (air mani), dan nutfah itu dari darah, sedang darah berasal dari sari makanan. Makanan itu adalah dari tumbuh-tumbuhan yang berasal dari zat-zat yang berbeda dalam tanah atau dari daging hewan. Sedang makanannya dari tumbuh-tumbuhan pula.
Dari nutfah yang berasal dari tanah itulah mereka tumbuh menjadi manusia yang dalam perlengkapan tubuhnya dan perjalanan hidupnya serupa dengan tanaman. Yakni tanaman atau pohon mempunyai batang, dahan, ranting dan daun. Demikian pula manusia. Manusia mempunyai badan, kepala, tangan dan kaki. Tanaman mempunyai alat-alat untuk mengatur pernapasan dan peredaran makanan. demikian pula manusia. Tanaman dalam perjalanan hidupnya mengalami berbagai macam proses dan perubahan. Dia tumbuh. Berkembang biak kemudian mati. demikian pula manusia. Manusia juga hidup. tumbuh, berketurunan, kemudian mati. Tanam-tanaman dalam perjalanan hidupnya ada yang mengalami nasib yang baik dan ada yang mengalami nasib yang buruk, ada yang subur dan ada pula yang merana. ada yang cepat berbuah dan ada pula yang lambat: demikian pula manusia. Manusia dan tumbuh-tumbuhan sama-sama memerlukan makanan, minuman dan sinar matahari. Akan tetapi kaum Nuh tidak mengambil pelajaran dari proses penciptaan manusia itu. Oleh karena itu mereka mengingkari Tuhan dan tidak mempercayai kebesaran-Nya. Dan inilah yang diingatkan oleh Nabi Nuh A.S. kepada mereka dalam ayat ini.
18 kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya.(QS. 71:18)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 18 

ثُمَّ يُعِيدُكُمْ فِيهَا وَيُخْرِجُكُمْ إِخْرَاجًا (18

Dalam ayat ini, Nuh A.S. menerangkan kepada kaumnya bahwa mereka tidak memperhatikan tumbuh-tumbuhan atau tanaman itu. Semula ia berwujud biji yang kemudian tumbuh di tanah yang subur, mulai dari kecil sampai kepada besar kemudian mati. Ada yang panjang umurnya dan ada pula yang pendek. Demikian pulalah halnya dengan manusia. Ia lahir, kemudian tumbuh menjadi besar dan tua bangka, setelah itu mereka diwafatkan oleh Allah, bersatu kembali dengan tanah di dalam kubur dan sebagainya. Pada Hari Kiamat mereka dibangkitkan kembali untuk perhitungan amal dan perbuatan mereka.
19 Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan,(QS. 71:19)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 19 - 20 

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20

Allah SWT menegaskan lagi nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, yaitu Dia telah menciptakan bumi sedemikian rupa, luas dan terhampar sehingga mudah bagi mereka melaksanakan kehidupan. Dimudahkan Nya bagi manusia membuat jalan-jalan yang dapat mereka lalui, mendatangi negeri-negeri yang berjauhan letaknya.
20 supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu `.(QS. 71:20)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Nuh 19 - 20

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ بِسَاطًا (19) لِتَسْلُكُوا مِنْهَا سُبُلًا فِجَاجًا (20

Allah SWT menegaskan lagi nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia, yaitu Dia telah menciptakan bumi sedemikian rupa, luas dan terhampar sehingga mudah bagi mereka melaksanakan kehidupan. Dimudahkan Nya bagi manusia membuat jalan-jalan yang dapat mereka lalui, mendatangi negeri-negeri yang berjauhan letaknya.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [2]
Ayat 1 s/d 20 dari [28]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Selasa, 04 Maret 2014

Mintalah Doa Orang yang Sakit



Sebagai agama yang sangat menghargai kebersamaan, Islam menganjurkan umatnya untuk saling menengok sesamanya ketika dalam keadaan sakit. Begitu anjuran Rasulullah saw dalam haidtsnya:

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ، وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصُحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam: Jika engkau bertemu dengannya, maka ucapkanlah salam kepadanya, apabila ia mengundangmu penuhilah undangan itu, apabila ia minta nasihat kepadamu maka nasihatilah dia, dan apabila di bersin dan mengucapkan "Al Hamdu lillah", maka ucapkanlah "Yarhamukallah", apabila ia sakit maka jenguklah dan apabila ia mati maka ikutilah (antarkanlah jenazahnya sampai ke kuburnya)". (HR. Muslim).
Kewajiban menjenguk orang sakit tidak hanya sebatas pada sesama yang memiliki hubungan persaudaraan tetapi juga tetangga walaupun dia tidak hubungan persaudaraan sama sekali.

حق الجار إن مرض عدته وإن مات شيعته
Hak tetangga jika dia sakit, engkau menjenguknya, dan jika dia mati engkau urusi jenazahnya..dst.
Demikianlah anjuran Rasulullah saw sehubungan dengan orang sakit. Meski demikian ada satu hal yang jarang dimengerti oleh masyarakat umum akan satu rahasia penting dibalik dianjurkannya menjenguk orang sakit. Harus dimengerti bahwasannya do’a orang yang sedang menderita adalah maqbul. Tidak ada penghalang antara dia dan Allah. Bahkan Rasulullah menyamakan do’a orang yang saki, seperti do’a malaikat.

اذا دخلت على مريض فمره فليدع لك فإن دعاءه كدعاء الملائكة
Apabila engkau datang mengunjungi orang sakit, maka mintalah agar dia beroa untukmu, karena do’anya maqbul seperti doa malaikat (Riwayat Ibnu Majah)
Demikianlah salah satu hal yang sering dilewatkan oleh para penjenguk orang sakit. Mereka sebagai orang sehat merasa berkecukupan dengan mendo’akan kesembuhan si sakit, padahal sebaliknya. Karena �do’a orang yang sakit adalah makbul

*********

___________________________________
Sumber :  http://www.nu.or.id/ubudiyah

Hari-hari Yang Paling Istimewa Dalam Islam

Berikut ini adalah hari-hari istimewa yang ada dalam Islam, dan cukuplah kita dengan hari-hari istimewa milik kita sendiri.

1. Hari Senin dan Kamis

Apa saja keistimewaannya?
- Hari diperiksanya amal manusia
Dari Abu Hurairah R.a, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Diperiksa amal-amal manusia pada setiap Jumat (baca: setiap pekan) sebanyak dua kali; hari senin dan hari kamis.” (HR. Muslim No. 2565)
- Hari dianjurkannya puasa
Dari Abu Hurairah R.a, katanya: bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Amal-amal manusia diperiksa setiap hari Senin dan Kamis, maka saya suka ketika amal saya diperiksa saat saya sedang berpuasa.”
(HR. At Tirmidzi No. 747, katanya: hasan Gharib. Syeikh Al Albani mengatakan: shahih. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 747)
- Hari dibukanya pintu-pintu surga dan diampunkannya hamba.
Dari Abu Hurairah R.a, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, maka saat itu akan di ampuni semua hamba yang tidak menyekutukan Allah Swt dengan sesuatu apapun, kecuali seseorang yang antara dirinya dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan: ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”
(HR. Muslim No. 2565, Al Bukhari dalam Adabul Mufrad No. 411, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6626)
- Senin adalah hari lahir, hari wafat, dan hari diutusnya Nabi Muhammad Saw dan menerima wahyu pertama
Dari Abu Qatadah Al Anshari R.a, katanya:
Nabi ditanya tentang hari senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus menjadi rasul, atau diturunkan kepadaku (wahyu).” (HR. Muslim No. 1162)
Dari ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq R.ha, bahwa dia ditanya: Hari apakah Rasulullah Saw wafat?
Beliau menjawab: “Hari senin.”(HR. Bukhari No. 1387)
- Kamis adalah hari yang Nabi Muhammad Saw sukai untuk bepergian
Dari Ka’ab bin Malik R.a:
“Bahwa Rasulullah Saw jika hendak safar, Beliau tidak bersafar melainkan pada hari kamis.”
(HR. Ahmad No. 27178. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 27178)
- Kamis adalah hari disebarkannya Ad Dawwab (hewan)
Dari Abu Hurairah R.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
Allah Swt membanyakkan Ad Dawwab di bumi pada hari Kamis.(HR. Muslim No. 2789)

2. Hari Jum’at
Apa saja keistimewaannya?
- Dijelaskan dalam riwayat berikut lima keutamaannya:
Dari Abu Lubabah bin Abdil Mundzir, dia berkata: Bersabda Nabi Muhammad Saw: “Sesungguhnya hari Jum’at adalah Sayyidul Ayyam (pimpinan hari-hari), keagungannya ada pada sisi Allah Swt, dan dia lebih agung di sisi Allah Swt dibanding hari Idul Adha dan Idul Fitri.
Padanya ada lima hal istimewa: pada hari itu Allah Swt menciptakan Adam A.s, pada hari itu Allah Swt menurunkan Adam A.s ke bumi, pada hari itu Allah Swt mewafatkan Adam A.s, pada hari itu ada waktu yang tidaklah seorang hamba berdo’a kepada Allah Swt melainkan akan dikabulkan selama tidak meminta yang haram, dan pada hari itu terjadinya kiamat. Tidaklah Malaikat Muqarrabin A.s, langit, bumi, angin, gunung, dan lautan, melainkan mereka ketakutan pada hari Jum’at.”
(HR. Ibnu Majah No. 1083. Ahmad No. 15547, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 4511, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2973, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 817, Al Bazzar No. 3738. Dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 2279)
- Dianjurkan membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at:
Dari Abu Said Al Khudri bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda: “Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan disinari oleh cahaya sejauh diantara dua Jum’at.”
(HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 5792, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 3392, katanya: shahih. Dishahihkan pula oleh Syeikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6470)
- Dibebaskan dari fitnah kubur bagi yang wafat pada malam Jum’at dan hari Jum’at
Dari Abdullah bin Amr, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at, melainkan Allah Swt akan melindunginya dari fitnah kubur.”
(HR. At Tirmidzi No. 1073, Ahmad No. 6582, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Aatsar No. 277)
Syeikh Al Albani Rahimahullah berkata tentang hadits ini: “Dikeluarkan oleh Ahmad (6582-6646) melalui dua jalan dari Abdullah bin Amr, dan oleh At Tirmidzi melalui salah satu dari dua jalur, dan hadits ini memiliki Syawahid (beberapa penguat) dari jalur Anas, Jabir bin Abdullah, dan selain keduanya. Maka, hadits ini dengan kumpulan semua jalurnya adalah hasan atau shahih.” (Lihat Ahkamul Jazaiz, Hal. 35)
Selain disebutnya Senin, Kamis, dan Jum’at, disebutkan pula oleh Nabi Muhammad Saw bahwa semua hari yang tujuh memiliki peristiwanya sendiri.
Dari Abu Hurairah R.a, katanya:
Rasulullah Saw memegang tanganku lalu bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan tanah pada hari Sabtu, dan menciptakan padanya gunung-gunung pada hari Ahad, menciptakan pepohonan pada hari Senin, menciptakan sesuatu yang dibenci pada hari Selasa, menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan melata pada hari Kamis, menciptakan Adam A.s setelah Ashar pada hari Jum’at, di akhir penciptaan pada akhir waktu-waktu Jum’at antara Ashar menuju malam. (HR. Muslim No. 2789)

3. Hari ‘Asyura (9 dan 10 Muharram)
Berikut ini keistimewaannya:
- Hari diselamatkannya Nabi Musa A.s dan Bani Israel dari kejaran Fir’aun dan tentaranya
Dari Ibnu Abbas R.a, katanya:
Nabi Muhammad Saw sampai di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura.
Beliau Saw bertanya: “Apa ini?”
mereka menjawab: “Ini hari baik, Allah telah menyelamatkan pada hari ini Musa dan Bani Israel dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.”
Maka, Nabi Muhammad Saw bersabda: “Saya lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Maka, beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa (‘Asyura).” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
- Hari dianjurkannya berpuasa
Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Dan berpuasa ‘Asyura, sesungguhnya saya menduga atas Allah Swt bahwa dihapuskannya dosa setahun sebelumnya.”
(HR. Abu Daud No. 2425, Ibnu Majah No. 1738. Syeikh Al Albani mengatakan shahih dalam Al Irwa, 4/111, katanya: diriwayatkan oleh Jamaah kecuali Al Bukhari dan At Tirmidzi. Shahihul Jami’ No. 3806)
Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah –setelah merangkum semua dalil yang ada tentang puasa ‘Asyura:
“Oleh karena itu, puasa ‘Asyura terdiri atas tiga tingkatan:
1. Paling rendah yakni berpuasa sehari saja (tanggal 10).
2. Puasa hari ke-9 dan ke-10.
3. Paling tinggi puasa hari ke-9, 10, dan ke-11.
Wallahu A’lam” (Fathul Bari, 6/280. Lihat juga Fiqhus Sunnah, 1/450)

4. Ayyamul Bidh (tanggal 13,14,15 tiap bulan Hijriyah)
Ayyamul Bidh artinya hari-hari yang putih terang, karena saat itu hari di waktu bulan sedang purnama. Ini juga hari-hari istimewa dalam Islam.
- Saat itu dianjurkan bagi kita untuk berpuasa
Abu Hurairah R.a berkata:
Kekasihku (Nabi) Muhammad Saw berwasiat kepadaku tiga hal:
“Berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat dua rakaat ketika Dhuha, dan shalat witir sebelum tidur.”
(HR. Bukhari No. 1981, Muslim No. 721. Lafadz ini adalah milik Bukhari)
Kapankah tiga hari itu?
Dari Abu Dzar Al Ghifari R.a, katanya:
“Rasulullah Saw memerintahkan kami untuk berpuasa dalam satu bulannya sebanyak tiga hari, Ayyamul Bidh, yaitu tanggal 13, 14, dan 15.”
(HR. An Nasa’i No. 2422, 2423, lihat juga dalam As Sunan Al Kubranya An Nasa’i No. 2730, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3848, Ibnu Hibban No. 943, lihat Mawarid Azh Zham’an. Dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No.673)
- Nilai puasanya sama seperti puasa Ad Dahr (sepanjang tahun)
Dari Jarir bin Abdullah R.a, bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
“Berpuasa tiga hari setiap bulannya, adalah puasa sepanjang tahun, dan hari Ayyamul Bidh yang terang benderang itu adalah pada hari 13, 14, dan 15.”
(HR. An Nasa’i No. 2420. Dihasankan oleh Syeikh Al Albani dalam At Ta’liq Ar Raghib, 2/84)

5. Hari Idul Fitri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijah)
Dari ‘Aisyah R.ha, bahwa Rasulullah Saw bersabda ketika hari Id:
“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita.” (HR. Bukhari No. 952, Muslim No. 892)
Dari Anas bin Malik R.a, beliau Saw berkata:
“Dahulu orang jahiliyah memiliki dua hari untuk mereka bermain-main pada tiap tahunnya.” Ketika Rasulullah Saw datang ke Madinah, dia (Muhammad Saw) bersabda: “Dahulu Kalian memiliki dua hari yang kalian bisa bermain-main saat itu. Allah Swt telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik dari keduanya, yakni hari Fitri dan hari Adha.”
(HR. An Nasa’i No. 1556, lihat juga As Sunan Al Kubra No. 1755)
Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan hadits ini sanadnya shahih. (Fathul Bari, 3/371). Syeikh Al Albani juga menshahihkannya. (Ash Shahihah No.2021)
Dua hari raya inilah hari bagi umat Islam untuk bersenang-senang dan bermain, sebagaimana yang nabi Muhammad Saw alternatifkan dalam hadits Anas bin Malik di atas.

6. Enam hari di Bulan Syawal
Pada enam hari di bulan Syawal kita dianjurkan untuk berpuasa setelah kita menunaikan puasa Ramadhan. Keutamaannya adalah senilai dengan puasa setahun penuh.
Dari Abu Ayyub Al Anshari R.a, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian menyusulnya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan dia berpuasa setahun penuh.”
(HR. Muslim No. 1164, At Tirmidzi No. 759, Abu Daud No. 2433, Ibnu Majah No. 1716, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2866, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 8214, dan As Sunan As Shaghir No. 1119, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 3908, 3909, 3914, 3915, Abdu bin Humaid dalam Musnadnya No. 228, Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Musykilul Aatsar No. 1945, Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1780)
Kapankah enam hari Syawal itu?
Imam At Tirmidzi Rahimahullah menceritakan:
Imam Ibnul Mubarak memilih berpuasa enam hari itu di awal bulan. Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak bahwa dia berkata: “Berpuasa enam hari bulan Syawal secara terpisah-pisah boleh saja.” (Lihat Sunan At Tirmidzi komentar hadits No. 759)
Syeikh Sayyid Sabiq -Rahimahullah rahmatan waasi’ah- berkata:
Menurut Imam Ahmad: bahwa itu bisa dilakukan secara berturut-turut dan tidak berturut-turut, dan tidak ada keutamaan yang satu atas yang lainnya. Menurut Hanafiyah dan Syafi’iyah adalah lebih utama secara berturut-turut, setelah hari raya. (Fiqhus Sunnah, 1/450)
Syeikh ‘Athiyah Shaqr Rahimahullah mengatakan:
Keutamaan ini adalah bagi yang berpuasanya di bulan Syawal, sama saja apakah di awalnya, di tengah, atau di akhirnya, dan sama pula apakah dengan hari yang berturut atau dipisah-pisah. Hanya saja lebih utama di awal bulan dan secara bersambung. Anjurannya berakhir jika sudah selesai bulan Syawal. (Fatawa Darul Ifta Al Mishriyah, 9/261)

7. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah
Disebutkan dalam Al Qur’an:
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr (89): 1-2)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:
(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)
Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. (Ibid) yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.
Keutamaannya pun juga disebutkan dalam As Sunnah, bahwa ibadah saat itu senilai dengan mati syahid. Dari Ibnu Abbas R.a, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:
“Tidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.”
Mereka bertanya: “Tidak juga jihad?”
Beliau Saw menjawab: “Tidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun (mati syahid).”(HR. Bukhari No. 969)
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari “pada hari-hari ini” adalah sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 8/390. Lihat Syeikh Sayyid Ath Thanthawi, Al Wasith, 1/4497. Mawqi’ At Tafasir)

8. Hari ‘Arafah (9 Dzulhijah), Hari penyembelihan Qurban – Idul Adha (10 Dzulhijah), dan hari-hari taysrik (11,12,13 Dzulhijah)
Hari-hari ini dengan tegas oleh Nabi Muhammad Saw disebut sebagai ‘Iduna (hari raya kita).
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir R.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
“Hari ‘Arafah, hari penyembelihan Qurban, hari-hari Tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk Islam, itu adalah hari-hari makan dan minum.”
(HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syeikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.”)

9. Tanggal 17 Ramadhan
Pada tanggal ini ada dua peristiwa istimewa yang terjadi sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an, yakni perang Badar (disebut dengan Yaumul Furqaan dan Yaumut Taqal Jam’an – hari bertemunya dua pasukan) dan turunnya Al Qur’an, disebut dengan Wa Maa Anzalnaa ‘Ala ‘Abdinaa (dan apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami).
Allah Swt berfirman
“Ketahuilah, Sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, Maka Sesungguhnya seperlima untuk Allah, rasul, Kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. Al Anfal (8): 41)
Imam Ibnu Jarir Rahimahullah meriwayatkan demikian:
“Berkata Al Hasan bin Abi Thalib R.a: “Adalah ‘malam Al Furqan hari di mana bertemunya dua pasukan’ terjadi pada 17 Ramadhan.”
(Jami’ Al Bayan, 13/562. Muasasah Ar Risalah)

10. Lailatul Qadar
Malam ini terjadi pada sepuluh malam terakhir, kemungkinannya pada malam-malam ganjil sebagaimana telah diketahui bersama. Keistimewaan malam ini diterangkan dalam Al Qur’an:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadr (97): 1-5)
Ada banyak keutamaan Lailatul Qadar, di sini kami sebutkan dua saja:
Pertama, malam turunnya Al Quran.
Lalu bagaimana dengan 17 Ramadhan?
Bukankah juga waktu diturunkannya Al Quran?
Dan bukankah keduanya merupakan waktu yang berbeda?
Maka untuk mentaufiq (kompromi) antara dua keterangan ini (Lailatul Qadar dan 17 Ramadhan), sebagian ulama mengatakan Al Qur’an diturunkan dua kali tahap. Tahap pertama diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia pada Lailatul Qadar secara langsung, tahap selanjutnya, diturunkan dari langit dunia ke kehidupan manusia secara bertahap selama hampir 23 tahun, yang diawali pada 17 Ramadhan di Gua Hira. Inilah pendapat Ibnu Abbas. Dengan demikian antara dua ayat ini tidak ada pertentangan sama sekali, justru saling mendukung. Inilah pendapat yang benar.
Berkata Imam Ibnu Jarir tentang surat Al Qadar ayat 1:
“Sesungguhnya Kami menurunkan Al Qur’an ini secara satu kesatuan menuju langit dunia pada Lailatul Qadar.”
Beliau mengutip dari Ibnu Abbas R.a:
“Seluruh Al Qur’an diturunkan sekali turun pada Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan menuju langit dunia, jika Allah Swt hendak ‘berbicara’ sesuatu di bumi Dia menurunkannya sampai semuanya (lengkap).”
Beliau juga mengatakan:
“Allah menurunkan Al Qur’an pada malam (Al Qadar) dari langit paling tinggi menuju langit dunia dalam satu kesatuan, lalu membaginya dalam waktu bertahun-tahun.”
Lalu, Ibnu Abbas membaca ayat: “Maka aku bersumpah dengan masa turunnya bagian-bagian Al-Qur’an.” Artinya: Al Qur’an turun secara terbagi-bagi.
Asy Sya’bi R.a mengatakan:
“Allah Swt menurunkan Al Qur’an pertama kali pada Lailatul Qadar.”
Dari Asy Sya’bi juga:
“Telah sampai kepada kami bahwa Al Qur’an diturunkan dalam satu kesatuan ke langit dunia.“ (lihat semua dalam Jami’ Al Bayan, 24/531-532)
Kedua, nilai Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.
Imam Mujahid Rahimahullah berkata tentang ayat tersebut:
“Amal pada malam itu, puasanya, dan qiyamul lailnya, lebih baik (nilainya) dari seribu bulan.”
Imam Mujahid juga menjelaskan:
“Dahulu pada Bani Israil ada seorang laki-laki yang shalat malam hingga pagi hari, kemudian dia pergi jihad melawan musuh pada siang harinya hingga sore, dan dia melakukan itu hingga seribu tahun. Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat ini: (Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan), qiyamul lail pada malam itu lebih baik dibanding amal laki-laki tersebut.” (Ibid)
Sementara Amru bin Qais Al Mala’i Rahimahullah berkata:
“Amal pada malam itu (nilainya) lebih baik dari amal seribu bulan.”
(Imam Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Quran, 24/ 533)
Demikian. Sebenarnya masih banyak waktu-waktu istimewa dalam Islam yang belum kami bahas seperti peristiwa Isra Mi’raj dan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Insya Allah jika ada kesempatan akan kami bahas secara khusus.
Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi Ajma’in.
Wallahu A’lam

*********


DO'A ROSULULLOH DI PAGI HARI

Do’a Yang Selalu Di amalkan Nabi Muhammad Saw Pada Pagi Hari


Termasuk do’a yang selalu diamalkan Nabi Muhammad Saw pada Pagi Hari yaitu yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dari hadits Ummu Salamah R.ha, bahwa Rasulullah Saw ketika selesai salam dalam sholat shubuh beliau membaca;


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

Allaahumma inniy as-aluka ‘ilman naafi’an warizqon thoyyiban wa’amalan mutaqobbalan
“Yaa Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan baik serta amalan yang diterima oleh-Mu.”
{Musnad Imam Ahmad,6/322. Sunan Ibnu Majah,no.925. Dan shohih Ibnu Majah,no.753.}

Siapa yang merenungkan do’a yang agung ini, niscaya dia tahu bahwa mengamalkannya pada waktu tersebut sangat tepat, karena pagi merupakan permulaan hari, dan bagi seorang muslim, tidak ada obsesi apapun pada hari itu selain merealisasikan tujuan-tujuan mulia tersebut. Yaitu ILMU YANG BERMANFAAT, RIZKI YANG BAIK, dan AMAL YANG SELALU DITERIMA-NYA. Ketika dia membuka harinya dengan tiga permintaan ini seakan-akan dia membatasi harapan dan tujuannya. Dan tidak diragukan lagi, hal ini akan membuat hati manusia semakin lapang dan tujuan hidupnya semakin terarah dengan baik
.
Berbeda dengan mereka yang memulai paginya tanpa mengetahui tujuan hidup yang dia harap untuk dijalankan dalam hidupnya. Para praktisi pendidikan menyarankan agar setiap orang menentukan tujuan pada setiap aktivitas yang dilakukan agar tujuan lebih mudah dicapai, lebih terhindar dari kekacauan, dan lebih terarah. Sekali lagi tidak diragukan lagi jika seseorang yang menentukan tujuan hidupnya dengan tujuan tertentu akan lebih sempurna dibandingkan dengan yang tidak melakukannya.
Bagi seorang muslim dalam menjalankan hari-harinya tidak boleh meremehkan hal itu bahkan dia harus memiliki tujuan-tujuan hidup agar mendapatkan tiga hal di atas dan menyempurnakannya dalam kehidupan dan mendapatkannya dengan cara yang terbaik.
Oleh karena itu, betapa indahnya hari yang diawali dengan menentukan tiga tujuan hidup kita ini. Yang dengannya kehidupan akan lebih terarah dengan baik.
Kemudian seseorang yang di awal harinya menentukan tiga hal ini bukan berarti ia membatasi tujuan hidupnya, namun dia bermaksud untuk merendahkan diri kepada Allah Swt, memohon perlindungan-Nya agar senantiasa diberi karunia oleh Allah Swt untuk mendapatkan tiga tujuan yang mulia tersebut. Karena tiada daya dan kekuatan, tiada kemampuan baginya untuk mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya kecuali atas izin Allah ‘Azza wajalla, maka kepada-Nya dia memohon perlindungan, pertolongan dan juga kepada-Nya dia menyerahkan diri dan tawakkal.

{Dikutip dari bagian ketiga kitab “Fiqh Al-Ad’iyah wa Al-Adzkar”, Asy-Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘AbdilMuhsin Al-Abbad Al-Badr.

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-MA'AARIJ AYAT 41 - 44 ( 03 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-MA'AARIJ
Ayat [44]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/3
41 Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.(QS. 70:41)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ma'aarij 40 - 41

فَلَا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ (40) عَلَى أَنْ نُبَدِّلَ خَيْرًا مِنْهُمْ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ (41

Allah SWT menegaskan dalam ayat ini bahwa Dia Tuhan penguasa dan pemilik seluruh makhluk-Nya yang berupa alam semesta dan seluruh isinya. Bahwa Dia Kuasa menciptakan umat yang lain yang lebih baik dari orang-orang musyrik itu, yang mau mendengarkan ayat-ayat-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya dan Kuasa pula menghancurkan mereka seketika dan tidak seorangpun yang dapat menolak kehendak Allah atau menghindarkan diri dari azab yang akan ditimpakan kepadanya. Ayat yang lain yang sama artinya dengan ayat ini, ialah firman Allah SWT:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ (19
Artinya:
Tidakkah kamu perhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan langit dan bumi dengan hak? Jika Dia menghendaki, niscaya Dia membinasakan kamu dan mengganti (mu) dengan makhluk yang baru. (Q.S. Ibrahim: 19)
Pada akhir ayat ini, Allah SWT menegaskan bahwa siapa saja yang telah menerima ketetapan azab Allah baginya, mereka tidak dapat menghindarinya sedikitpun seperti yang diterangkan dalam firman Allah yang lain:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ أَنْ يَسْبِقُونَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ (4
Artinya:
Ataukah orang-orang yang mengerjakan kejahatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari (azab) Kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu. (Q.S. Al-Ankabut: 4)


42 Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka,(QS. 70:42)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ma'aarij 42 

فَذَرْهُمْ يَخُوضُوا وَيَلْعَبُوا حَتَّى يُلَاقُوا يَوْمَهُمُ الَّذِي يُوعَدُونَ (42

Ayat ini merupakan peringatan keras kepada kaum musyrikin yang selalu menantang dan mengingkari seruan Nabi Muhammad SAW. Telah dilakukan berbagai macam cara untuk menyadarkan, namun mereka tetap ingkar. Karena itu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW, "Hai Muhammad, biarkanlah orang-orang musyrik itu mendustakan kamu dan mengingkari adanya hari berbangkit, sampai datangnya Hari Kiamat yang mana pada hari itu mereka dibangkitkan kembali. Pada hari itu barulah mereka mengetahui kebenaran risalah yang telah engkau sampaikan kepada mereka, yaitu ketika kepada mereka diminta pertanggungjawaban terhadap semua perbuatan mereka di dunia dan ketika mereka dijatuhi hukuman.


43 (yaitu) pada hari mereka ke luar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia),(QS. 70:43)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ma'aarij 43 

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الْأَجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ (43

Hari yang diancamkan kedatangannya kepada mereka di masa hidup di dunia dahulu, ialah hari mereka dihidupkan kembali dan dibangkitkan dari kubur. Mereka datang dalam keadaan tergesa-gesa memenuhi panggilan yang memanggil mereka, seperti orang lari menghindari malapetaka, karena ketakutan dan kegundahan hati mereka.


44 dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.(QS. 70:44)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ma'aarij 44 

خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ (44

Pada hari yang dijanjikan itu, orang-orang musyrik lari dalam keadaan kepala mereka tertunduk dan terhina.
Pada akhir ayat ini, seakan-akan Allah SWT, mengingatkan lagi kepada orang-orang musyrik, bahwa seperti itulah keadaan hari yang dijanjikan itu penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan yang tidak tertanggungkan. Pada hari itu tidak ada suatupun yang dapat memberi pertolongan kecuali Allah SWT.



Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [3]
Ayat 41 s/d 44 dari [44]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU