Rabu, 07 Agustus 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-ANBIYAA' AYAT 61 - 80 ( 04 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-ANBIYAA'
Ayat [112]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/6
61 Mereka berkata: ` (Kalau demikian) bawalah dia ke hadapan orang banyak agar mereka menyaksikan`.(QS. 21:61)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 61 

قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (61

Ayat ini menjelaskan bahwa setelah mereka mendapat jawaban bahwa yang merusakkan patung-patung itu adalah seorang pemuda yang bernama Ibrahim, maka mereka menyuruh agar pemuda itu dihadapkan kepada orang banyak, dengan harapan kalau-kalau ada orang lain yang melihat pemuda tersebut melakukan perusakan itu, sehingga persaksian itu akan dapat dijadikan bukti.
Hal ini memberikan bukti pengertian bahwa di kalangan mereka masa itu sudah berlaku suatu peraturan, bahwa mereka tidak akan menindak secara langsung seseorang yang dituduh sebelum ada bukti-bukti, baik berupa persaksian dari seseorang, maupun berupa pengakuan dari pihak yang bersangkutan.
62 Mereka bertanya: `Apakah kamu yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?`(QS. 21:62)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 62 

قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (62

Pada ayat ini dijelaskan bahwa setelah Ibrahim mereka hadapkan kepada orang banyak, maka mereka mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadapnya dengan mengajukan pertanyaan: Apakah betul dia yang melakukan perusakan terhadap berhala-berhala itu. Mereka bertanya, "Hai Ibrahim, engkaukah yang telah merusak tuhan-tuhan kami?
Pertanyaan mereka ajukan dengan harapan bahwa Ibrahim akan mengakui bahwa dialah yang melakukan pengrusakan itu. Pengakuan itu akan mereka jadikan alasan untuk menghukum Ibrahim.
63 Ibrahim menjawab: `Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara`.(QS. 21:63)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 63 

قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ (63

Diterangkan dalam ayat ini jawaban lbrahim atas tuduhan dan pertanyaan kaum itu. Jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka; karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan, bahkan ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh.
Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tak dapat berbuat apa-apa.
Sudah jelas bahwa kaumnya itu tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain itu. Sebab, mereka akan menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apapun, sebab dia adalah benda mati.
Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung.
Kemudian, pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka.
Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar, tidak mengerti dan tidak dapat bicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah disembah? Sudah tentu tidak patut.
Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikiran yang sehat
64 Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: `Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)`,(QS. 21:64)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 64 

فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ (64

Pada ayat ini diterangkan keadaan kaum penyembah patung itu setelah mendengar jawaban Ibrahim. Mereka Ialu menyesali diri, mereka menyembah patung-patung yang ternyata tidak mempertahankan diri terhadap orang yang ingin merusaknya, dan tidak mampu membinasakannya. Kalau demikian halnya bagaimana ia akan mampu menolong dan melindungi orang lain. Oleh sebab itu patung tersebut tak patut disembah.
Penyesalan diri mereka itu tampak jelas pada ucapan mereka yang saling menyalahkan antara sesama mereka, "Sesungguhnya kamu termasuk orang orang yang zalim", yaitu karena menyembah sesuatu yang tak dapat berpikir dan berbicara. Itu merupakan suatu kebodohan diri mereka sendiri.
65 kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): `Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara`.(QS. 21:65)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 65 

ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ (65

Pada ayat ini diterangkan keadaan mereka itu selanjutnya setelah mereka menyesali kesalahan dan kebodohan diri mereka. Mereka lalu menekurkan kepala dan berdiam diri. Pada saat itulah setan kembali menggoda mereka. sehingga kesadaran mereka yang tadinya telah mulai bersemi lalu lenyap dan mereka kembali kepada kepercayaan semula, dan ingin membela patung-patung mereka serta kepercayaan mereka kepadanya. Oleh sebab itu lalu mereka berkata kepada Ibrahim, "Mengapa engkau menyuruh kami bertanya kepada patung-patung ini, padahal engkau sudah mengetahui bahwa mereka tidak dapat berbicara".
Ucapan ini juga pengakuan dari mereka bahwa merekapun mengetahui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar berpikir dan berbicara, akan tetapi disembah juga sebagai tuhan. Dan mereka akan tetap menyembah dan mempertuhankannya.
66 Ibrahim berkata: `Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu?`(QS. 21:66)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 66 

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ (66

Allah SWT. menerangkan dalam ayat ini, bahwa setelah mereka itu mengakui bahwa patung-patung itu tidak dapat mendengar, berpikir dan berbicara, maka Ibrahim segera menjawab: Kalau demikian halnya, mengapa kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun, dan tidak pula dapat mendatangkan mudarat kepada kamu, bahkan ia tidak dapat berbicara dan mempertahankan diri.
67 Ah (celakalah) kamu beserta apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?(QS. 21:67)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 67

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (67

Dalam ayat ini disebutkan lanjutan dari ucapan Ibrahim kepada mereka, "Ah, celakalah kamu bersama patung-patung yang kamu sembah selain Allah". Apakah kamu tidak memahami keburukan dan kesesatan perbuatan kamu?.
Ucapan itu telah menyebabkan para penyembah patung itu sungguh-sungguh terpojok, dan mengobarkan kemarahan mereka yang amat sangat.
68 Mereka berkata: `Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak`.(QS. 21:68)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 68 

قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (68

Pada ayat ini diterangkan, bahwa setelah mereka itu kehabisan akal dan hujah untuk menjawab ucapan Ibrahim, dan marah mereka sudah memuncak, maka mereka berkata kepada sesama mereka, "Bakarlah dia, dan belalah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar ingin bertindak".
Dengan demikian mereka memutuskan untuk membinasakan Ibrahim, dan tindakan itu mereka pandang sebagai cara yang terbaik untuk membela kehormatan tuhan-tuhan mereka, dan untuk melenyapkan rintangan terhadap mereka dalam menyembah patung-patung. Dan mereka memilih cara yang paling kejam untuk membinasakan Ibrahim, yaitu dengan membakarnya dalam sebuah api unggun. Dengan demikianlah Ibrahim dapat dilenyapkan, agar mereka dapat mencapai kemenangan untuk diri dan tuhan-tuhan mereka
69 Kami berfirman: `Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim`,(QS. 21:69)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 69 

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69

Dalam ayat ini dijelaskan tindakan Allah SWT untuk melindungi dan menolong Ibrahim dari kekejaman kaumnya, yaitu membakar Ibrahim dalam api unggun yang sedang berkobar-kobar.
Sebagaimana diketahui bahwa Allah SWT telah memberikan sifat-sifat tertentu bagi setiap makhluk-Nya. Dan sifat itu tetap berlaku baginya sebagai Sunah Allah. Antara lain ialah api, yang bersifat panas dan membakar, sehingga logam-logam yang amat kuatpun dapat dicairkan dengan api, apalagi tubuh manusia.
Maka Allah melindungi Ibrahim dari bakaran api tersebut dengan cara mencabut sifat panas dan membakar itu, dari api yang sedang membakar, Ibrahim tidak merasa panas, padahal ia berada dalam api unggun yang menyala-nyala.
Allah berfirman, "Hai api, jadilah engkau dingin, dan memberi keselamatan bagi Ibrahim".
Dengan adanya perintah Allah kepada api tersebut, maka sifatnya berubah dari panas menjadi dingin, dan tidak merusak terhadap Ibrahim sampai api itu padam. Ini menambah bukti tentang kekuasaan Allah SWT yang seharusnya disadari oleh kaum kafir.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah disebutkan sebagai berikut: 

\85 لما ألقي إبراهيم في النار قال: اللهم إنك في السماء واحد وأنا في الأرض واحد أعبدك \85
Artinya:
Setelah Ibrahim dilemparkan (mereka) ke dalam api itu. maka ia berdoa, "Ya Allah, Engkau di langit hanya sendiri, dan akupun di bumi hanya sendiri menyembah Mu.
Demikianlah pertolongan dan perlindungan yang biasa yang diberikan-Nya kepada para Nabi, wali-wali dan hamba-hamba-Nya yang saleh. Walaupun pada waktu itu Ibrahim belum menjadi Nabi dan Rasul, namun ia tetap merupakan seorang hamba Allah yang saleh.
Patut pula kiranya diingat bahwa Nabi Muhammad ada juga mengalami makar dari kaum kafir Quraisy yang berusaha untuk membinasakannya. Akan tetapi walaupun mereka telah membuat rencana yang rapi untuk mencapai maksud tertentu, namun pelaksanaannya tidaklah membawa hasil seperti yang mereka harapkan, karena Allah SWT telah memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya kepada Rasul-Nya itu, sebagai pelaksanaan dari janji-Nya:


والله يعصمك من الناس
Artinya:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Q.S Al Ma'idah: 67)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Anbiyaa' 69 

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ (69

(Kami berfirman, "Hai api! Menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim") maka api itu tidak membakarnya selain pada tali-tali pengikatnya saja dan lenyaplah panas api itu, yang tinggal hanyalah cahayanya saja, hal ini berkat perintah Allah, 'Salaaman' yakni menjadi keselamatan bagi Ibrahim, akhirnya Nabi Ibrahim selamat dari kematian karena api itu dingin.
70 mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling merugi.(QS. 21:70)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 70 

وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ (70

Allah SWT menegaskan dalam ayat ini bahwa makar yang dilaksanakan. kaum musyrik terhadap yang dimaksud untuk membinasakannya, telah menimbulkan akibat yang sebaliknya, yaitu menyebabkan mereka itu menjadi orang-orang yang paling merugi.
Mereka itu dengan ucapan dan perbuatannya ingin memadamkan cahaya kebenaran yang disampaikan Ibrahim, dengan cara menyalakan api unggun untuk membinasakannya. Tetapi akhirnya api yang mereka nyalakan itulah yang padam tanpa menimbulkan bekas apapun terhadap Ibrahim as, berkat perlindungan Allah Yang Maha Kuasa. Dan hal ini menunjukkan dengan jelas batilnya kepercayaan yang mereka anut, dan jahatnya cara yang mereka tempuh untuk mencapai kemenangan. Sebaliknya lbrahimlah yang berada pada pihak yang benar, karena ia menyampaikan petunjuk Allah untuk membasmi kebatilan dan kelaliman.
71 Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.(QS. 21:71)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 71 

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ (71

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT melengkapkan rahmat-Nya kepada Ibrahim as. Allah SWT telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah SWT telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harram, kemudian ke Palestina di daerah Syam.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam itu adalah negeri yang telah diberi Allah keberkatan yang banyak untuk semua manusia. Maksudnya ialah negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir dari banyak Nabi-nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Juga Baitulmakdis terletak di Palestina yang termasuk daerah Syam itu, adalah kiblat pertama bagi umat Islam.
Dalam ayat ini juga diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama-sama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim as.
72 Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Yaqub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.(QS. 21:72)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 72 

وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ (72

Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim as sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkannya dua orang putra, yaitu Ishak dan Yakub, artinya Ishak, sebagai anak kandung Ibrahim, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim. Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Dan Allah SWT telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai orang-orang yang saleh.
73 Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,(QS. 21:73)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 73

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (73

Allah SWT menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah.
Nabi Ibrahim as, yang diberi gelar "Khalilullah" (teman akrab Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa Nabi karena banyak di antara Nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad termasuk cucu-cucu Ibrahim as melalui Nabi Ismail.
Karena beberapa di antara keturunan Ibrahim itu dipilih Allah menjadi Nabi-Nya, maka mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaran-ajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebaikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.
Di samping itu Allah SWT juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah yang amat mulia, sedang zakat mempunyai keistimewaan sebagai ibadah harta yang paling utama, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia.
Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadah-ibadat lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu: taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia. Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu'.
74 dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik, dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 21:74)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 74

وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ (74

Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan tiga macam di antara rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut as.
Pertama: Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hukum, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam pemeriksaan perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.
Kedua: Ia juga dikaruniai-Nya ilmu pengetahuan yang sangat berguna, terutama tentang agamanya, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.
Ketiga: Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara jenis lelaki (homosex), mengganggu lalu lintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut, dan tidak mengindahkan ancaman Allah SWT. dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah SWT. Nabi Lut beserta keluarganya kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah diselamatkan Tuhan.
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang telah dilarangnya, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya itu dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.
75 dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 21:75)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 75 

وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (75

Allah SWT. menjelaskan dalam ayat ini rahmat-Nya lagi kepada Nabi Lut a.s. yaitu bahwa Dia telah memasukkannya ke dalam lingkungan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa Nabi Lut termasuk orang-orang yang dikasihi dan disayangi Allah, sehingga ia menjadi salah seorang penghuni surga-Nya.
Dalam suatu hadis sahih, disebutkan:


قال الله عز وجل للجنة: أنت رحمتي أرحم بك من أشاء من عبادي
Artinya:
Allah SWT. berfirman kepada surga, "Kamu adalah rahmat Ku, dengan kaulah Aku rahmati orang-orang yang Aku kehendaki di antara hamba-hamba-Ku. (HR Bukhari)
Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya dia mengaruniakan rahmat yang begitu besarnya kepada Nabi Lut yaitu karena dia termasuk bilangan hamba-hamba Allah yang saleh yang selalu menaati perintah dan larangan Allah SWT.
76 Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.(QS. 21:76)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 76 

وَنُوحًا إِذْ نَادَى مِنْ قَبْلُ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ مِنَ الْكَرْبِ الْعَظِيمِ (76

Dengan ayat ini Allah SWT. mengingatkan Rasulullah dan kaum Muslimin kepada kisah Nabi Nuh a.s. yang disebut sebagai bapak yang ke 2 bagi umat manusia.
Jauh sebelum Nabi Muhammad, bahkan sebelum Nabi Ibrahim dan Lut, Nabi Nuh telah diutus Allah sebagai Rasul-Nya.
Karena keingkaran kaumnya yang amat sangat, sehingga mereka tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah, akhirnya ia berdoa kepada Tuhan:


رب لا تذر على الأرض من الكافرين ديارا
Artinya:
Nuh berkata, "Ya Tuhanku janganlah Engkau biarkan seseorang di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi". (Q.S Nuh: 26)
Dan doanya lagi:


أني مغلوب فانتصر
Artinya
"Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh karena itu tolonglah (aku)". (Q.S Al Qamar: 10)
Akan tetapi doa-doa tersebut diucapkannya setelah 950 tahun lamanya ia melakukan dakwahnya, namun kaumnya tetap juga ingkar dan tidak memperdulikan seruannya kepada agama Allah.
Menurut riwayat, Nabi Nuh a.s. diutus Allah menjadi Rasul-Nya pada waktu itu ia berusia 40 tahun. pada waktu itulah doa itu diucapkannya. Dan sesudah terjadinya azab Allah berupa angin taufan dan banjir besar Nabi Nuh masih hidup selama 40 tahun. Dengan demikian, maka usianya berjumlah 1050 tahun.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa setelah Nuh a.s. mengucapkan doa-doa tersebut maka Allah mengabulkannya, yaitu dengan menimpakan banjir yang amat dahsyat, sehingga air laut meluap tinggi dan membinasakan negeri tersebut bersama orang-orang yang tidak beriman.
Adapun Nabi Nuh dan keluarganya, serta kaumnya yang beriman, telah diselamatkan Allah dari malapetaka yang dahsyat itu, yaitu dengan, sebuah perahu besar yang disediakan Nabi Nuh terlebih dahulu atas perintah dan petunjuk Allah.
77 Dan Kami telah menolongnya dari kaum yang telah mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat, maka Kami tenggelamkan mereka semuanya.(QS. 21:77)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 77

وَنَصَرْنَاهُ مِنَ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَأَغْرَقْنَاهُمْ أَجْمَعِينَ (77

Pada ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa Dia telah menurunkan pertolongan kepada Nabi Nuh dan pengikutnya yang beriman terhadap kejahatan orang-orang yang telah mendustakan ayat-ayat-Nya, dan tidak menerima bukti-bukti dan keterangan yang disampaikan Rasul-Nya.
Pada ahkhir ayat ini Allah menerangkan alasan mengapa Dia menolong Nabi Nuh sehingga kaum kafir itu dimusnahkan oleh azab yang dahsyat itu, ialah karena kaumnya itu adalah jahat, baik perkataan maupun perbuatan mereka Mendurhakai Allah, dan menyalahi perintah-perintah-Nya adalah perbuatan jahat kaumnya itu, keturunan demi keturunan. Maka sepantasnyalah mereka menerima balasan dari Allah.
Kisah-kisah yang dikemukakan dalam Alquran ini haruslah menjadi pelajaran bagi umat manusia, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw, baik dari kalangan kaum kafir Quraisy, maupun lain-lainnya. Allah berfirman


فاعتبروا يا أولي الأبصار
Artinya:
Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (Q.S Al Hasyr: 2)
78 Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,(QS. 21:78)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 78

وَدَاوُدَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (78

Pada ayat ini Allah SWT. menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka.
Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas disebutkan bahwa sekelompok domba telah merusak tanaman seorang petani pada waktu malam, lalu terjadilah sengketa antara pemilik tanaman dan pemilik domba, dan kemudian mereka datang kepada Daud a.s. untuk minta diadili. Setelah mengadakan pemeriksaan maka Daud a.s. memberi keputusan agar domba-domba itu diserahkan kepada pemilik tanaman, karena dinilainya adalah sama dengan nilai tanaman yang dirusaknya. Sulaiman a.s. yang juga mendengarkan putusan itu mempunyai pendapat yang lain, yang lebih tepat dan lebih adil. Lalu ia berkata dalam majelis tersebut; "Sebaiknya domba-domba itu diserahkan dulu kepada pemilik tanaman sehingga ia dapat mengambil manfaat dari susu, minyak dan bulunya, sementara kebun itu diserahkan kepada pemilik domba untuk diolahnya sendiri. Apabila nanti tanamannya sudah kembali kepada keadaannya seperti sebelum dirusak oleh domba-domba tersebut, maka kebun itu diserahkan kepada pemiliknya, domba-domba itu pun dikembalikan pula kepada pemiliknya.
Pendapat Sulaiman jelas lebih tepat, karena akhirnya masing-masing dari kedua pihak yang berperkara akan mendapatkan kembali miliknya dalam keadaan utuh.
Perbedaan pandangan antara mereka dalam mengambil keputusan atas perkara tersebut adalah bahwa Daud a.s. lebih menitik beratkan perhatiannya kepada nilai kerusakan tanaman itu, yang dilihatnya sama dengan nilai domba yang merusaknya lalu ia memutuskan agar domba-domba itu diserahkan sepenuhnya kepada pemilik tanaman. Sedang Sulaiman a.s. lebih menitik beratkan pandangannya kepada manfaat domba dan manfaat tanaman itu, maka ia mengambil keputusan yang demikian itu. Bagaimanapun juga, namun masing-masing mereka mendasarkan keputusannya kepada ijtihad, bukan kepada wahyu, sehingga lahirlah dua keputusan yang berbeda.
Selanjutnya Nabi Daud pun mengakui tepatnya pendapat anaknya itu, sehingga itulah yang ditetapkannya kemudian sebagai keputusannya, dan membatalkan pendapatnya yang semula.
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menerangkan bahwa Dia menyaksikan dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Daud dan Sulaiman dalam memeriksa dan memutuskan perkara tersebut, sehingga tidak sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya.
79 maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.(QS. 21:79)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 79 

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِينَ (79

Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah.
Hal ini memang telah terbukti dalam keputusan yang mereka berikan kepada masing-masing pihak dalam perkara yang terjadi antara pemilik domba dan pemilik tanaman seperti tersebut di atas, di mana keputusan yang diberikan Sulaiman adalah di rasa lebih tepat, dan lebih memenuhi keadilan.
Sesudah menyebutkan hal itu, maka Allah menerangkan selanjutnya rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka berdua, yaitu hukum-hukum dan ilmu pengetahuan, baik mengenai agama, ataupun masalah duniawi.
Rahmat seperti itu juga diberikan Allah kepada Nabi-nabi-Nya yang lain karena merupakan syarat pokok untuk menjadi Nabi.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan nikmat yang khusus dikaruniakan-Nya kepada Nabi Daud a.s. yaitu: bahwa Allah telah menjadikan gunung-gunung dan burung-burung tunduk kepada Daud a.s. semuanya bertasbih bersamanya.
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia kuasa untuk memberikan karunia semacam itu kepada hamba-Nya, karena Dialah Pencipta dan Pemilik seluruh alam ini.
80 Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).(QS. 21:80)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 80 

وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ (80

Pada ayat ini Allah menyebutkan karunianya yang lain, yang diberikannya kepada Daud a.s. yaitu bahwa Daud telah diberi-Nya pengetahuan dan keterampilan dalam kepandaian membuat baju besi Yang dipergunakan orang-orang di zaman itu sebagai pelindung diri dalam peperangan.
Kepandaian itu dimanfaatkan pula oleh umat-umat yang datang kemudian berabad-abad lamanya. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Daud a.s. itu telah tersebar luas dan bermanfaat bagi orang-orang dan bangsa lain.
Sebab itu, pada akhir ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada umat Nabi Muhammad, apakah turut bersyukur atas karunia tersebut? Sudah tentu, semua umat yang beriman kepada-Nya, senantiasa mensyukuri segala karunia yang dilimpahkan-Nya

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [6]
Ayat 61 s/d 80 dari [112]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-ANBIYAA' AYAT 41 - 60 ( 03 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-ANBIYAA'
Ayat [112]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/6
41 Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan.(QS. 21:41)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 41

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (41

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa azab akhirat yang diancamkan kepada kaum kafir itu pasti akan terjadi, bahkan akan datang kepada mereka secara tiba-tiba dan tak terduga, sehingga menyebabkan mereka menjadi panik, tidak sanggup menyelamatkan diri. Dan mereka benar-benar tidak akan diberi tenggang waktu untuk bersiap-siap guna menyelamatkan diri dari padanya.
Akhirnya pada ayat ini Allah memberikan hiburan kepada Nabi Muhammad yang selalu mendapat ejekan dari kaum kafir, Allah menegaskan bukan dia saja yang pernah diejek oleh kaum kafir itu. Bahan semua Rasul yang diutus Allah sebelumnya juga menjadi sasaran ejekan mereka. Akan tetapi azab yang dahulu mereka perolok-olokkan itu akhirnya datang melanda mereka Dan tak seorang pun dapat menyelamatkan mereka dari azab yang dahsyat itu.
42 Katakanlah: `Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari daripada (azab Allah) Yang Maha Pemurah?` Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka.(QS. 21:42)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 42 

قُلْ مَنْ يَكْلَؤُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مِنَ الرَّحْمَنِ بَلْ هُمْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهِمْ مُعْرِضُونَ (42

Dengan ayat ini Allah SWT menyuruh Nabi untuk menjawab ejekan itu dengan cara mengajukan pertanyaan kepada mereka tentang siapakah yang dapat memelihara dan melindungi mereka dari azab Allah. baik pada waktu malam. maupun pada waktu siang?
Pertanyaan itu dimaksudkan untuk menyadarkan mereka, bahwa tak seorangpun kuasa untuk melindungi mereka dari kemurkaan dan azab Allah, karena Dia adalah Maha Kuasa untuk berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Andai kata mereka selalu ingat tentang iradah dan kekuasaan Allah, niscaya mereka tidak akan melakukan ejekan dan tantangan semacam itu. Akan tetapi, karena mereka adalah orang-orang yang telah berpaling dari mengingat Allah dan kekuasaan-Nya, maka itulah sebabnya mereka mengejek Rasul-Nya dan menantang dengan sikap yang angkuh agar azab tersebut segera ditimpakan kepada mereka.
43 Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami. Tuhan-tuhan itu tidak sanggup menolong diri mereka sendiri dan tidak (pula) mereka dilindungi daripada (azab) Kami itu?(QS. 21:43)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 43

أَمْ لَهُمْ آلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِنْ دُونِنَا لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَ أَنْفُسِهِمْ وَلَا هُمْ مِنَّا يُصْحَبُونَ (43

Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, di mana Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mengajukan pertanyaan kepada kaum kafir, untuk menyadarkan mereka tentang kekuasaan Allah SWT. Isi pertanyaan yang disebutkan dalam ayat ini adalah, "Apakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara dari azab Allah ? Tentu saja tidak ada, karena tuhan-tuhan mereka yang berujud patung-patung dan berhala itu sudah pasti tidak mampu untuk menolong mereka, bahkan menolong dirinya sendiripun ia tidak mampu. Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan lagi, bahwa tuhan-tuhan yang disembah mereka itu tidak pula terlindung dari azab Allah. Kalau demikian halnya, bagaimana mereka akan mampu untuk melindungi para penyembahnya?
Dengan demikian, maka ayat ini mengemukakan dua macam kelemahan tuhan-tuhan yang disembah kaum kafir itu, yang menyebabkan tidak pantasnya mereka disembah dan dipertuhan.
Pertama: Bahwa mereka tidak mampu untuk menolong diri sendiri.
Kedua: Bahwa merekapun tidak terlindung dari azab Allah. Dengan demikian, keadaannya lebih rendah dari penyembahnya.
Ketiga: Dengan adanya dua macam kenyataan itu, seharusnya mereka dapat mengambil kesimpulan, bahwa benda-benda yang mereka sembah itu tidak mempunyai kemampuan apapun untuk melindungi mereka dari azab Allah SWT.
44 Sebenarnya Kami telah memberi mereka dan bapak-bapak mereka kenikmatan (hidup di dunia) hingga panjanglah umur mereka. Maka apakah mereka tidak melihat bahwasanya Kami mendatangi negeri (orang kafir), lalu Kami kurangi luasnya dari segala penjurunya. Maka apakah mereka yang menang?(QS. 21:44)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 44 

بَلْ مَتَّعْنَا هَؤُلَاءِ وَآبَاءَهُمْ حَتَّى طَالَ عَلَيْهِمُ الْعُمُرُ أَفَلَا يَرَوْنَ أَنَّا نَأْتِي الْأَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ أَطْرَافِهَا أَفَهُمُ الْغَالِبُونَ (44

Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa Dia memberikan kenikmatan hidup dan harta kekayaan kepada kaum kafir itu, sehingga mereka dapat hidup enak dengan usia panjang. Akan tetapi kaum Muslimin tak usah iri hati dan merasa silau melihat kenikmatan hidup mereka itu, karena semua kekayaan dan kemewahan itu diberikan Allah kepada mereka adalah juga menjadi ancaman azab kepada mereka, karena semuanya itu akan menyebabkan hati mereka berkarat, dan tabiat mereka akan menjadi kasar sehingga menjerumuskan mereka kepada perbuatan-perbuatan yang tidak. baik. Semuanya itu mengakibatkan dosa-dosa mereka bertambah banyak, dan azab yang akan mereka terima bertambah berat.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah memberi mereka kemewahan dan kenikmatan hidup bukanlah karena Dia tidak kuasa menurunkan azab kepada mereka, bahkan sebaliknya kemewahan itu menjerumuskan mereka kepada kebinasaan lahir batin, serta azab yang pedih.
Selain itu. dalam ayat ini disebutkan pula suatu macam yang lain yang ditimpakan Allah kepada mereka, yaitu: berkurangnya jumlah para pengikut mereka lantaran banyak yang masuk Islam, dan akibatnya daerah kekuasaan merekapun makin berkurang pula karena agama Islam telah tersebar ke daerah-daerah yang tadinya termasuk daerah kekuasaan mereka. Dengan susutnya jumlah pengikut dan daerah kekuasaan mereka, berarti kekuatan mereka pun semakin berkurang.
Setelah menggambarkan keadaan mereka itu yang telah menjadi rusak karena kemewahan, dan telah menjadi lemah karena berkurangnya jumlah pengikut dan kekuasaan mereka, maka Allah pada akhir ayat tersebut mengajukan suatu pertanyaan bahwa dalam keadaan semacam itu siapakah yang dapat memperoleh kemenangan, mereka ataukah Allah?
Sudah tentu mereka tidak akan memperoleh kemenangan. Di samping keadaan mereka telah rusak dan lemah, kekuasaan Allah adalah mutlak atas hamba-Nya, dan Dia berbuat apa yang dikehendaki-Nya. Tidak sesuatupun yang dapat mengalahkan-Nya.
45 Katakanlah (hai Muhammad): `Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan`.(QS. 21:45)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 45

قُلْ إِنَّمَا أُنْذِرُكُمْ بِالْوَحْيِ وَلَا يَسْمَعُ الصُّمُّ الدُّعَاءَ إِذَا مَا يُنْذَرُونَ (45

Dalam ayat ini Allah SWT menyuruh Nabi Muhammad saw untuk menegaskan kepada kaum kafir dan musyrik itu tugas pokoknya sebagai Rasul, yaitu sekadar menyampaikan peringatan Allah kepada mereka dengan wahyu, yaitu Alquran, serta menerangkan kepada mereka akibat kekafiran, dengan menerangkan kisah-kisah tentang umat yang terdahulu. Adapun perhitungan dan pembalasan atas perbuatan mereka adalah menjadi kekuasaan Allah SWT, bukan kekuasaan Rasul.
Di samping itu, dalam ayat ini juga terdapat sindiran terhadap kaum kafir itu, bahwa mereka adalah seperti orang-orang tuli, tidak mendengarkan dan tidak memperhatikan peringatan yang disampaikan kepada mereka. Hati mereka seperti telah tertutup, dan tidak menerima kebenaran dan petunjuk Allah yang disampaikan Rasul kepada mereka
46 Dan sesungguhnya, jika mereka ditimpa sedikit saja dari azab Tuhanmu, pastilah mereka berkata: `Aduhai, celakalah kami, bahwasanya kami adalah orang yang menganiaya diri sendiri`.(QS. 21:46)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 46 

وَلَئِنْ مَسَّتْهُمْ نَفْحَةٌ مِنْ عَذَابِ رَبِّكَ لَيَقُولُنَّ يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ (46

Allah SWT menerangkan dalam ayat ini salah satu dari sifat kelakuan kaum kafir, yaitu bila mereka ditimpa oleh Azab Allah, walaupun hanya sedikit saja, mereka mengeluh dan menyesali diri, dengan berkata: aduhai, celakalah kami, bahwasannya kami adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri.
Sebelum azab itu datang menimpa, mereka tidak mempercayainya, bahkan mereka menentang, agar azab tersebut didatangkan segera kepada mereka, karena keingkaran dan keangkuhan mereka. Tetapi setelah azab itu datang menimpa tahulah mereka tentang kekuasaan Allah dan timbullah penyesalan dalam hati mereka. Akan tetapi sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.
47 Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami menjadi pembuat-xxx perhitungan.(QS. 21:47)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 47

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ (47

Dengan tegas Allah SWT menyatakan dalam ayat ini, bahwa dalam menilai perbuatan hamba-Nya kelak di hari kiamat. Allah akan menegakkan neraca keadilan yang benar-benar adil, sehingga tak seorangpun akan dirugikan dalam penilaian itu.
Maksudnya: penilaian itu akan dilakukan setepat-tepatnya, sehingga tak akan ada seorang hambapun yang amal kebaikannya akan dikurangi sedikitpun, sehingga menyebabkan pahalanya dikurangi dari yang semestinya ia terima Sebaliknya tak seorangpun di antara mereka yang kejahatannya dilebih-lebihkan, sehingga menyebabkan ia mendapat azab yang lebih berat dari pada yang semestinya, walaupun Allah kuasa berbual demikian.
Adapun memberikan pahala yang berlipat ganda dari jumlah kebaikan sekarang, atau menimpakan azab yang lebih ringan dari kejahatan sekarang, adalah terserah kepada kehendak Allah dan Allah adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Keadilan Allah SWT menjelaskan bahwa semua kebaikan manusia, betapapun kecilnya niscaya dibalasi-Nya dengan pahala, dan semua kejahatannya betapapun kecilnya niscaya dibalasi-Nya dengan azab atau siksa-Nya. Dalam hubungan ini, Allah SWT berfirman dalam ayat yang lain.


فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره
Artinya:
\
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula. (Q.S Al Zalzalah: 7-8)
Pada akhir ayat ini Allah. menegaskan bahwa cukuplah Dia sebagai saksi pembuat perhitungan yang paling adil. Ini merupakan jaminan bahwa penilaian yang akan dilakukan terhadap segala perbuatan hamba-Nya akan dilakukan-Nya kelak di hari berhisab dengan penilaian yang seadil-adilnya, sehingga tak seorangpun hamba yang dirugikan atau teraniaya, yaitu menerima pahala dari kebaikannya atau menerima azab dari kejahatan yang telah dilakukannya
48 Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Kitab Taurat dan penerangan serta pengajaran bagi semua orang-orang yang bertakwa,(QS. 21:48)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 48 

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ (48

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa dan Harun. Kitab Taurat tersebut adalah merupakan penerangan dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.
Kitab Taurat juga disebut Al Furqan, sebagaimana halnya Alquran, karena kitab Taurat tersebut juga berisi syariat, yaitu hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang membedakan antara hak dan batil, antara baik dan buruk, secara hukum, sehingga setiap tingkah laku dan perbuatan manusia, baik atau buruk, dijelaskan akibat hukum atau sangsinya. Tidak demikian halnya kitab Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Ia tidak membawa syariat.
Pada akhir ayat tersebut ditegaskan bahwa kitab Taurat yang berfungsi sebagai pembawa syariat, dan sebagai sinar petunjuk dan peringatan, hanyalah berguna bagi orang-orang yang bertakwa.
Ini berarti bagi orang-orang yang tidak bertakwa, yaitu yang tidak bersedia melaksanakan perintah-perintah Allah serta menjauhi larangan-larangan-Nya, maka Taurat itu tidaklah menjadi petunjuk. Akan tetapi untuk mereka disediakan azab yang dahsyat
49 (yaitu) orang-orang yang takut akan (azab) Tuhan mereka, sedang mereka tidak melihat-Nya, dan mereka merasa takut akan (tibanya) hari kiamat.(QS. 21:49)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 49 

الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ وَهُمْ مِنَ السَّاعَةِ مُشْفِقُونَ (49

Selanjutnya dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat-sifat orang yang bertakwa itu.
Sifat Pertama. Bahwa mereka senantiasa takut kepada azab Allah, walaupun azab tersebut merupakan salah satu dari hal-hal yang gaib.
Sifat Kedua. Orang-orang yang bertakwa yang disebutkan dalam ayat ini adalah bahwa mereka senantiasa merasa takut akan datangnya hari kiamat, mengingat hal yang akan terjadi kelak di hari kiamat itu antara lain hari berhisab dan hari pembalasan.
Oleh karena rasa takut mereka terhadap azab Allah pada hari kiamat yang akan menimpa orang-orang yang tidak bertakwa, maka mereka yang bertakwa ini selalu menjaga diri terhadap hal-hal dan perbuatan yang mengakibatkan dosa dan azab maka mereka senantiasa melaksanakan perintah Allah, serta menjauhi segala larangan-Nya
50 Dan Al quran ini adalah suatu kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?(QS. 21:50)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 50 

وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ (50

Setelah menyebutkan kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, maka dalam ayat ini Allah mengalihkan perhatian kepada Alquran yang diturunkan-Nya kepada Nabi dan Rasul-Nya yang terakhir, Allah menegaskan bahwa Alquran itu merupakan peringatan dan pelajaran yang sangat bermanfaat untuk orang-orang yang bertakwa, sehingga sepatutnyalah diikuti dan dijadikan pegangan yang teguh.
Pada akhir ayat ini Allah SWT mencela sikap kaum yang masih mengingkari Alquran, padahal tak ada satu alasanpun bagi mereka untuk mengingkarinya karena ia hanya membawa pelajaran dan tuntunan yang bermanfaat bagi mereka apabila mereka mengikutinya Lagi pula, kebaikan dan manfaat Alquran itu sudah dijelaskan kepada mereka.
51 Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya.(QS. 21:51)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 51

وَلَقَدْ آتَيْنَا إِبْرَاهِيمَ رُشْدَهُ مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا بِهِ عَالِمِينَ (51

Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa sebelum Dia mengutus Nabi Musa dan Harun, Dia juga telah mengutus Nabi Ibrahim as, dan Dia telah mengaruniakan kepadanya hidayah kebenaran untuk memimpin umatnya, dalam mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Dengan hidayah tersebut ia telah dapat menyelamatkan dirinya dan umatnya dari kepercayaan yang tidak benar dan dari penyembahan kepada selain Allah, Seperti patung dan berhala
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui benar-benar hal ikhwal Ibrahim, baik keadaannya sebelum diutus menjadi Rasul, maupun sesudahnya, artinya; Allah SWT mcngetahui benar kepribadian dan kepercayaan serta watak dan budi pekertinya, yakni bahwa Ibrahim adalah seorang yang menganut kepercayaan tauhid kepada Allah, tanpa dicampuri oleh kemusyrikan sedikitpun, dan di samping itu ia juga mempunyai sifat-sifat dan budi pekerti luhur, sehingga tepatlah kalau ia dipilih dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul.
Kebanyakan para mufassir mengatakan bahwa Allah telah memberikan petunjuk kebenaran itu kepada Ibrahim sejak sebelum ia diangkat menjadi Rasul, sehingga dengan petunjuk itu ia telah dapat memperhatikan alam ini sehingga ia sampai kepada keyakinan tentang adanya Allah Yang Maha Esa Oleh sebab itu, perjuangannya dalam membasmi kemusyrikan berupa penyembahan patung dan berhala di kalangan kaumnya adalah sebelum ia diangkat menjadi Rasul.
52 (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: `Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?`(QS. 21:52)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 52 

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ (52

Allah menjelaskan dalam ayat ini, hanya Dia telah mengaruniakan petunjuk kepada Ibrahim, ia berkata kepada ayahnya Azar yang sedang berkumpul bersama kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu beribadat kepada nya dengan tekun?.
Pertanyaan itu mengandung arti bahwa Azar dan kaumnya seharusnya menggunakan akal pikiran mereka untuk merenungkan bahwa benda-benda tersebut tidak patut disembah, karena tidak mempunyai sifat-sifat sebagai Tuhan yang layak untuk disembah. Mereka menyembah barang-barang yang dicipta, bukan pencipta, serta tidak dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya, apalagi untuk orang lain. Mereka tidak menyembah Allah padahal Allah adalah Pencipta, Pemelihara, Pendidik, Pelindung, dan Penguasa seluruh makhluk Andai kata mereka mau memikirkannya, niscaya mereka tidak akan berbuat demikian, jadi mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal pikiran yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka.
53 Mereka menjawab: `Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya`.(QS. 21:53)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 53 

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ (53

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Azar dan kaumnya menjawab pertanyaan Ibrahim dengan pernyataan bahwa mereka menyembah patung hanyalah sekadar mengikuti perbuatan nenek moyang mereka.
Jawaban tersebut menunjukkan bermacam-macam kelemahan.
Pertama, bahwa mereka tidak dapat menjawab pertanyaan Ibrahim tadi dengan menggunakan alasan-alasan yang masuk akal, yang didasarkan atas kebenaran,
Kedua, bahwa mereka dalam hidup beragama hanyalah berdasarkan rasa taassub (fanatik) kepada tradisi nenek moyang, bukan berdasarkan keyakinan dan pemikiran yang sehat.
Ketiga, mereka menutup diri terhadap hal-hal yang berbeda dari kebiasaan mereka, walaupun nyata kebenarannya Seolah-olah telinga mereka telah tersumbat, dan hati mereka telah tertutup rapat.
Sifat taassub dan bertaklid buta adalah ciri khas orang-orang yang tak mampu mengatakan pendirian mereka dengan bukti yang benar dan hujah yang kuat, karena memang pendirian yang mereka anut itu tidak benar. Mereka menganutnya hanya sekadar menjaga tradisi yang mereka pusakai dari nenek moyang. Sifat tersebut sangat menghambat kemajuan manusia, dan menjerumuskan mereka kepada keingkaran terhadap yang benar, bahkan kepada kekafiran terhadap Allah.
Bahkan dalam kalangan kaum Muslimin kita dapati pula orang-orang yang bertaklid buta terhadap sesuatu mazhab, atau terhadap seorang imam, sehingga mereka tak mau menerima kebenaran yang datang dari orang lain. Sifat semacam itu bertentangan dengan ajaran agama Islam, yang selalu menganjurkan agar manusia menggunakan akal pikirannya dalam mencari kebenaran.
Para imam dari mazhab-mazhab fikih lingkungan Islam melarang para pengikutnya untuk bertaklid kepadanya, dan menganjurkan agar mereka suka menerima pendapat orang lain, bila ternyata lebih benar dari pendapat yang dianutnya
54 Ibrahim berkata: `Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata`.(QS. 21:54)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 54

قَالَ لَقَدْ كُنْتُمْ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ (54

Ayat ini menerangkan bahwa Ibrahim membalas jawaban mereka itu dengan menunjukkan keburukan perbuatan serta perbuatan nenek moyang mereka yang menyembah selain Allah. Ibrahim mengatakan kepada ayahnya beserta. kaumnya, bahwa mereka semuanya beserta nenek moyangnya berada dalam kesesatan yang nyata, karena mereka menyembah patung dan berhala. Dengan perbuatan itu mereka telah jauh dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang hak. Mereka tidak berpegang kepada agama yang benar dan akal sehat. Yang menjadi pegangan mereka hanyalah keinginan hawa nafsu dan bisikan iblis.
55 Mereka menjawab: `Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?`(QS. 21:55)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 55 

قَالُوا أَجِئْتَنَا بِالْحَقِّ أَمْ أَنْتَ مِنَ اللَّاعِبِينَ (55

Dalam ayat ini disebutkan jawaban Azar dan kaumnya kepada Ibrahim, yaitu, "Apakah engkau datang kepada kami dengan membawa kebenaran, ataukah engkau hanya berolok-olok saja?".
Dari ucapan mereka itu dapat kita simpulkan adanya beberapa pertanyaan
Pertama Bahwa mereka, setelah mendengarkan ucapan Ibrahim yang bersifat merendahkan martabat tuhan-tuhan mereka, dan menyatakan sesatnya perbuatan mereka, maka hati mereka mulai tergugah, karena ucapan semacam itu belum pernah terdengar di kalangan mereka.
Kedua Karena melihat sikap Ibrahim yang bersungguh-sungguh dan keras dalam ucapannya, maka hati mereka mulai ragu-ragu terhadap kebenaran dan perbuatan mereka sendiri sebagai penyembah patung.
Ketiga Mereka meminta kepada Ibrahim agar memberikan bukti-bukti dan alasan-alasan yang menunjukkan kebenaran ucapan kepada mereka
Keempat, Jika Ibrahim tidak dapat memberikan bukti-bukti tersebut, maka mereka menganggap Ibrahim hanya memperolok-olok mereka
56 Ibrahim berkata: `Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu`.(QS. 21:56)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 56

قَالَ بَلْ رَبُّكُمْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الَّذِي فَطَرَهُنَّ وَأَنَا عَلَى ذَلِكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (56

Ayat ini menerangkan bahwa setelah Ibrahim memahami adanya kenyataan-kenyataan tersebut di atas, maka ia membalas jawaban mereka dengan ucapan yang tidak lagi menyingkapkan kesesatan mereka dalam penyembahan terhadap patung dan berhala, melainkan ia beralih kepada menerangkan kebenaran dan menyebutkan tuhan yang sesungguhnya patut disembah. Maka Ibrahim menerangkan kepada mereka bahwa ia datang membawa kebenaran, bukan berolok-olok, yaitu bahwa Tuhan mereka adalah Tuhan langit dan Bumi. Dialah yang patut disembah, karena Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi itu dan menciptakan diri mereka, serta memberikan rahmat dan perlindungan-Nya kepada semua makhluk-Nya, karena Ia Maha Kuasa dan Maha Pengasih.
Dengan demikian sadarlah mereka bahwa menyembah Allah adalah jalan yang benar, sedang menyembah patung dan menyembah berhala adalah kesesatan yang besar.
Pada akhir ayat ini diterangkan, bahwa untuk memantapkan keyakinan mereka kepada akidah tauhid kepada Allah, maka Ibrahim mengulas ucapannya tadi dengan menegaskan bahwa ia dapat dan bertanggung jawab penuh untuk memberikan bukti-bukti atas kebenaran apa yang disampaikannya kepada mereka.
Keterangan ini dimaksudkan untuk melenyapkan prasangka mereka bahwa Ibrahim hanya berolok-olok kepada mereka dengan ucapan-ucapan yang tersebut di atas.
57 Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.(QS. 21:57)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 57 

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (57

Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang tidak diucapkan kepada kaumnya itu, ialah bahwa ia bertekad untuk menghancurkan patung yang menjadi sesembahan kaumnya itu, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut
58 Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.(QS. 21:58)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 58 

فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (58

Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu benar-benar dilaksanakannya kemudian, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar. Patung yang sebuah itu tidak dirusaknya, karena ia berharap bahwa bila mereka kembali ke sana dan bertanya kepadanya tentang siapa orang yang merusak patung-patung yang lain itu, maka ia akan menyuruh mereka bertanya kepada patung yang terbesar itu, yang tentu saja tidak dapat bicara
59 Mereka berkata: `Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim?`(QS. 21:59)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 59 

قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (59

Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diharapkan oleh Ibrahim, benar-benar terjadi. Setelah mendengar berita bahwa patung-patung mereka telah rusak, mereka datang kembali ke tempat itu dan bertanya, "Siapakah yang melakukan perbuatan jahat ini terhadap tuhan-tuhan kami?. Dia benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.
Dari ucapan itu dapat kita pahami bahwa sampai saat itu mereka masih belum menerima sepenuhnya apa yang disampaikan Ibrahim kepada mereka, dan mereka masih menghormati dan mengagungkan berhala-berhala itu, dan masih menyebutnya sebagai tuhan-tuhan mereka ini menunjukkan rasa marah terhadap orang yang membinasakannya
60 Mereka berkata: `Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim`.(QS. 21:60)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Anbiyaa' 60 

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (60

Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang berada di dekat penyembahan patung-patung itu menjawab pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa mereka mendengar seorang pemuda yang bernama Ibrahim, mencela berhala-berhala itu.
Dari sini kita pahami pada saat itu Ibrahim masih sebagai seorang pemuda, dan belum diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Maka tindakannya dalam membinasakan patung-patung itu bukan dalam rangka tugasnya sebagai Rasul, melainkan timbul diri dorongan kepercayaannya kepada Allah, berdasarkan petunjuk kebenaran yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, sebelum ia diangkat menjadi Rasul.



Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [6]
Ayat 41 s/d 60 dari [112]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI,  2. Tafsir Jalalain Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU