Minggu, 25 Agustus 2013

I'tikaf

I'tikaf Ibadah yang Dianjurkan di Bulan Ramadhan

Space Iklan
300 x 80 Pixel
I'tikaf adalah salah satu ibadah yang dianjurkan selama Ramadhan. Sebagaimana yang dilaksanakan oleh Rasulullah saw.
Hadits Aisyah ra. menerangkan:

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 
Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006

I’tikaf secara bahasa memiliki arti menetapi suatu kebaikan atau kejelekan, dan secara ilmu fiqh berdiam diri dalam masjid dengan ketentuan-ketentuan tertentu, diantara ketentuan tersebut adalah; pertama orang yang melakukan I’tikaf adalah orang islam, maka i’tikaf yang dilakukan oleh orang selain beragam islam itu hukumnya tidak sah (batal). Kedua, berakal sehat, Apabila mu’takif itu gila atau terserang penyakit epilepsy maka batal (tidak sah) I’tikafnya. Ketiga orang jyang beri’tikaf (mu’takif) harus dalam keadaan suci dari haid dan nifas bagi seorang perempuan, dan suci dari perbuatan-perbuatan yang menyebabkan diwajibkannya mandi junnub.

Adapun rukun i’tikaf yang harus dipenuhi adalah; pertama Niat untuk untuk berdiam diri di dalam masjid, dan bagi mereka yang bernadzar untuk I’tikaf, maka diwajibkan baginya untuk mengucapkan kata fardu di dalam niat I’tikafnya. Dan kedua berdiam diri dalam masjid dalam rentang waktu lebih dari lamanya thumaninah dalam sholat.

Selain syarat dan rukun yang harus dijaga, hendaknya  bagi mereka yang beri’tikaf memperhatikan beberapa pantangan yang dapat membatalkan I’tikaf. Diantaranya bersetubuh dengan istri

وَلَا تُبَا شِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَ فِى الْمَسْجِدِوَتِلْكَ حُدُوْدُاللهِ فَلَا 

تَقْرَبُوْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ ءَايَتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ 

…dan janganlah kalian campuri mereka (isterimu) itu, sedang kalian sedang dalam keadaan I’tikaf di ,asjid, itulah ketentuan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:187)

Kedua, keluar dari masjid tanpa udzur atau halangan yang dibolehkan syariat. Tetapi bila keluar dari masjid karena ada udzur, misalnya buang hajat atau air kecil dan yang serupa dengan itu, tidak membatalkan I’tikaf. Diperbolehkan keluar dari masjid karena mengantarkan keluarga ke rumah, atau untuk mengambil makanan di luar masjid, bila tidak ada yang mengantarkannya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Aisyah r.a:

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا اعْتَكَفَ يُدْنِي

 اِلَيَّ رَاْسَهُ فَاُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ اِلَّا لِحَاجَةِ الْاِنْسَانِ
Dari Aisyah r.a, menuturkan, Nabi s.a.w, apabila beri’tikaf, Beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, lalu aku sisir rambutnya, dan Beliau tidak masuk rumah kecuali untuk keperluan hajat manusia (buang air besar atau buang air kecil)”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1889 dan Muslim: 445).
Mengenai waktu I’tikaf bisa dilakukan di setiap waktu, tetapi waktu yang sangat dianjurkan untuk beri’tikaf adalah pada malam sepuluh terakir dari bulan Ramadlon. Dengan alasan sebagai usaha untuk mencari dan menemukan malam lailatul qadar yang memiliki keistimewaan 1:1000 keistimewaan bulan selain bulan Ramadlon, oleh karena itu I’tikaf pada saat-saat itu sangat dianjurkan.

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

Dari Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w, meneuturkan: “sesungguhnya Nabi s.a.w, melakukan I’tikaf pada sepuluh hari terakhir bukan Ramadhan hingga Beliau wafat, kemudian isteri-isterinya mengerjakan I’tikaf sepeniggal Beliau”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006)



______________________________
sumber : http//www.nu.or.id

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan

Keutamaan Shadaqah di Bulan Ramadhan

Space Iklan
300 x 80 Pixel
Diantara amal ibadah yang sangat dianjurkan dalam bulan Ramadhan adalah memperbanyak shadaqah. Karena sesungguhnya shadaqah yang paling utama adalah shadaqah di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah saw.

عَنْ اَنَسٍ قِيْلَ يَارَسُولَ اللهِ اَيُّ الصَّدَقَةِ اَفْضَلُ؟ قَالَ: صَدَقَةٌ فِى رَمَضَانَ
Dar Anas r.a, dikatakan: “wahai Rasulullah s.a.w, shadaqah apa yang nilainya paling utama?” Nabi s.a.w, menjawab: “Shadaqah di dalam bulan Ramadhan" (Hadit Shahih, riwayat al-Tirmidzi).
Apalagi jika shadaqah itu berupa makanan yang ditasharufkan (dipergunakan) sebagai bahan berbuka puasa. Maka pahala seperti pahala orang yang berpuasa. Demikian keterangan rasulullah saw.

مَنْ اَفْطَرَ صَائِمًا فَلَهُ اَجْرُ صَائِمٍ وَلَا يَنْقُصُ مِنْ اَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
Siapa yang memberi makanan orang yang sedang berpuasa untuk berbuka, maka baginya pahala seperti orang puasa tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala orang puasa tersebut. (Hadits Shahih, riwayat al-Tirmidzi).



______________________________
sumber : http//www.nu.or.id/

Tradisi dan Anjuran Tadarrus al-Qur’an di Bulan Ramadhan

Tradisi dan Anjuran Tadarrus al-Qur’an di Bulan Ramadhan


Space Iklan
300 x 80 Pixel
Diantara ibadah yang diutamakan pada Bulan Ramadhan adalah memperbanyak membaca al-Qur’an. Hal ini sebagai penghormatan dan tabarrukan atas pertama kali diturunkannya al-Qur’an oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah pada malam 17 Ramadhan, yaitu malam yang terkenal dengan sebutan Nuzulul Qur’an.
Begitulah 17 Ramadhan menjadi awal permulaan Rasulullah saw menerima wahyu hingga berlangsung selama kenabian. Selain menjadi pedoman dan tuntunan bagi umat muslim sedunia, al-Qur’an juga merupakan sumber pahala bagi umat Muhammad, karena siapapun yang membaca al-Qur’an akan mendapatkan pahala (almuta’abba bitilawatih).
Dengan kata lain, al-Qur’an memiliki makna dan fungsi lebih apabila dibaca sebagai teks suci dan tidak hanya ditulis atau diterjemahkan saja. Oleh karena itu, untuk menjaga kesahihan Rasulullah dalam menghafal dan membaca al-Qur’an, jibril selalu datang di malam bulan Ramadhan guna bertadarrus langusng dengan Rasulullah saw. dengan cara berhadap-hadapan. Di sinilah akar tradisi tadarrus al-Qur’an di malam Ramadhan.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسِ اَنَّ رَسُولَ اللهِ ص.م. كَانَ مِنْ اَجْوَدِالنَّاسِ 

وَاَجْوَدُمَايَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ يُدَارِسُهُ

 اَلْقُرْأَنَ فَكَانَ رَسُولُ اللهِ ص.م. حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ اَجْوَدُ مِنَ الرِّيْحِ 

الْمُرْسَلَةِ

  
“Dari Ibn ‘Abbas RA bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah. Sedangkan saat yang paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadlan adalah pada saat malaikat Jibril mengunjungi beliau. Malaikat Jibril selalu mengunjungi Nabi setiap malam bulan Ramadlan, lalu melakukan mudarasah al-Qur’an dengan Nabi. Rasulullah SAW ketika dikunjungi malaikat Jibril, lebih dermawan dari angin yang berhembus.” (Musnad Ahmad: 3358)


_______________________
sumber : http//www.nu.or.id/

Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar

Makna Nuzulul Qur'an dan Lailatul Qadar




Space Iklan
300 x 80 Pixel
Diantara momentum yang berharga di bulan Ramadhan adalah malam nuzulul qur’an dan lailatul Qadar. Keduanya merupakan ruang bersejarah yang menentukan kehidupan dunia selanjutnya. Karena keduanya berhubungan langsung dengan proses turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia.Akan tetapi seringkali disalah fahami keterangan antara nuzulul qur’an dan lailatul qadar, bahkan saling tumpang tindih antar keduanya, sehingga perlu diuraikan lebih jelas. Istilah nuzulul qur’an yang sering diperingati pada malam tanggal 17 Ramadhan merupakan malam di mana pertama kali al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw di Gua Hira melalui malaikat Jibril. Pada kesempatan pertama kali ini Malaikat Jibril membawa surat iqra’ wa rabbukal akram. Kemudian untuk selanjutnya al-Qur’an diturunkan secara berangsur.

Sedangkan term lailatul qadar adalah istilah yang digunakan untuk memperingati malam di mana al-Qur’an diturunkan langsung dari Allah swt secara keseluruhan baitul izzah (semacam ruang ilahiyah) yang kemudian dibawa jibril secara berangsur kepada Rasulullah saw. Oleh karena itulah malam laylatul qadar  hanya Allah swt yang mengetahuinya. Sungguh malam itu adalah malam mulia, malam penuh berkah yang tidak boleh diragukan lagi. Karena Allah swt sendiri mengungkapkan dalam surat ad-Dukhan ayat 3:

إن أنزلناه فى ليلة مباركة
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
Malam yang berkah itu tentunya berbeda dengan malam-malam lain. Allah swt mengistimewakan nilai malam ini lebih dari malam seribu bulan. Karena pada malam itu Malaikat turun ke bumi mengatur segala urusan. Sesuai dengan perintah-Nya mereka, para malaikat akan menetapkan berbagai takdir manusia mulai dari rizki, mati, jodoh dan semuanya.

Karena itulah di namakan lailatul Qadar , malam penentuan taqdir manusia. Sudah selayaknya kita sebagai hamba yang menginginkan taqdir baik, apabila menekuk lutut bersimpuh di malam-malam itu, karena ini berhubungan dengan nasib kita sebagai hamba. Seperti seorang budak yang memohon kepada majikannya.

Allah mengkhususkan keterangn ini dalam satu surat penuh, surat al-Qadar:

إِنَّا أَنْزَلْناهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ * وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ * لَيْلَة الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْر * تَنَزَّلُ الْمَلاَئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيَها بِإِذْنِ رَبّـِهم مِّن كُلِّ أَمْر * سَلاَمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر 

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan * Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? * Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan * Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan * Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar



_________________________________
sumber : http://www.nu.or.id

Malam lailatul Qadar

Pengertian Malam lailatul Qadar

Berdasarkan keterangan al-Qur’an dan al-Sunnah, disebutkan bahwa dalam bulan Ramadhan terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam yang indah itu disebut Lailatul Qadar atau malam kemuliaan. Bila seorang muslim mengerjakan kebaikan-kebaikan di malam itu, maka nilainya lebih baik dari mengerjakan kebaikan selama seribu bulan atau sekitar 83 – 84 tahun.
Malam indah yang lebih baik dari seribu bulan itu adalah malam yang penuh berkah, malam yang mulia, dan memiliki keistimewaan-keistimewaan tersendiri. Syaikh Muhammad Abduh memaknai kata “al-Qadar” dengan kata “takdir”. Ia berpendapat demikian, karena Allah s.w.t, pada malam itu mentakdirkan agama-Nya dan menetapkan khittah untuk Nabi-Nya, dalam menyeru umat manusia ke jalan yang benar. Khittah yang dijalani itu, sekaligus melepaskan umat manusia dari kerusakan dan kehancuran yang waktu itu sedang membelenggu mereka. (hasbi Ash-Shiddieqy, 1996:247)

Kata “al-Qadar” diartikan juga “al-Syarf” yang artinya mulia (kemuliaan dan kebesaran). Maksudnya Allah s.w.t, telah mengangkat kedudukan Nabi-Nya pada malam Qadar itu dan memuliakannyadengan risalah dan membangkitkannya menjadi Rasul terakhir. Mengenai hal ini diisyaratkan dalam surat al-Qadar. Bahwa malam itu adalah malam yang mulia, malam diturunjannya al-qur’am sebagai kitab suci yang terakhir. Surat al-Qadar itu lengkapnya sebagai berikut:

 اِنَّا اَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ. وَمَا اَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ اَلْفِ شَهْرٍ. تَنَزَّلُ الْمَلَئِكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ اَمْرٍ. سَلَامٌ هِىَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ 

Sesungguhnya aku telah menurunkan al-qur’an pada malam lailatul qadar, tahukah kamu “apa itu lailatul qadar?”, lailatul qadar adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, pada malam itu turun para malaikat dan ruh qudus (malaikat jibril) dengan idzin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar’. (QS. Al-Baqarah,97: 1-5)

Dari ayat tersebut, maka jelaslah lailatul qadar adalah malam yang memiliki keistimewaannya sediri disbanding dengan malam-malam yang selainnya. Dan apabila malam itu digunakan untuk ibadah kepada Allah SWT, maka ia akan mendapatkan pahala berlibat ganda satu berbanding seribu amal kebajikan (ibadah) yang dilakukan di selain malam lailatul qadar.

Sedangkan keagungan dan keistimewaan malam Qadar pada dasarnya terletak dalam dua kemuliaan, yaitu turunnya al-qur’an dan turunnya para malaikat dalam jumlah yang besar, termasuk di dalamnya malaikat Jibril. Para malaikat turun di malam itu dengan cahaya yang cemerlang penuh kedamaian dan kesejahteraan. Kedatangan mereka adalah untuk menyampaikam ucapan selamat kepada orang yang yang melaksanakan puasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah lainnya. Kemuliaan turunnya al-qur’an, merupakan hari yang agung dan bersejarah, turunnya kitab suci itu merupakan titik awal dimulainya suatu kehidupan “Dunia Baru” yang terlepas dari kesesatan dan kedzaliman, menuju kebenaran yang hakiki.


_______________________________
sumber :  http://www.nu.or.id/

Malam Lailatul Qadar

Ketentuan Malam Lailatul Qadar

Malam lailatul qadar yang memiliki 1000 keistimewaan itu menjadi misteri bagi setiap hamba yang mencari dan menanti kehadirannya, hanya sedikit orang yang dapat menemukannya, seakan malam lailatul qadar menjadi rahasia Allah SWT semata, dan hanya hamba-hambaNya tertentu yang dikehendaki untuk menemukannya.

Mengenai ketentuan waktu kapan malam qadar itu terjadi, tidak ada ketetapan secara pasti dalam tanggal-tanggal Ramadhan. Akan tetapi kalau dianalisa dan difahami dari surat al-qadar tersebut akan dikaitkan dengan surat al-Baqarah, 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِى اَنْزَلَ فِيْهِ الْقُرْاَنُ هُدًى للِّنَّاسِ وَبَيِنَتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةُ مِنْ اَيَّامٍ اُخَرَ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوْا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَاهَدَىكُمْ وَلَعَلَكُمْ تَشْكُرُوْنَ
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. al-Baqarah, 2: 185)

Tetapi malam lailatul qadar menjadi kesepakatan ulama, bahwa malam istiwema itu ada dalam satu diantra malam-malam bulan Ramadlon, dan pendapat ulama yang kuat mengatakan; malam lailatul qadar itu terjadi salah satu diantara malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan ramadlon (21, 23, 25, 27, dan 29).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرُّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ 

Dari Aisyah r.a, ia menuturkan, “sesungguhnya Rasulullah s.a.w, bersabda: “carilah malam qadar pada malam-malam ganjil pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari:1878 dan Muslim: 1998)

اِلْتَمِسُوْهَا فِى الْعَشْرِ الْاَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَاِنْ ضَعُفَ اَحَدُكُمْ اَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي 

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan . bila salah seorang diantaramu merasakan lemah atau lelah, maka jangan kamu kalah dalam mencarinya pada tujuh malam terakhir (bukan Ramadhan)”. (Hadits Shahih, riqayat Muslim: 1989)

Dan diantara pendapat-pendapat di atas yang lebih masyhur adalah malam ke-27 bulan ramadlon itulah turunnya lailatul qadar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, yang diriwayatkan Imam Ahmad dengan sanad shahih:

عَنِ ابْنِ عَمْرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيْهَا فَلْيَتَحَرَّهَافىِ لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ 

Dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW, bersaabda: barang siapa mencari malam lailatul qadar, maka seyogyanya mencari pada malam ke-27 bulan ramadhan (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:4577).

Ubay bin Ka’ab r.a, juga meriwayatkan bahwa malam qadar jatuh pada tanggal 27 Ramadhan:

عَنْ اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ 
Dari Ubay bin Ka’ab r.a, ia berkata: “malam Qadar adalah malam tanggal 27 (ramadhan)”. (Hadits Hasan, riwayat Ahmad:20265)Riwayat ini didukung pula oleh hadits Zar bin Hubaisy yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

قَالَ اُبَيّ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللهِ اِنِّي لَا اَعْلَمُهَا قَالَ شُعْبَةُ وَاَكْبَرُ عِلْمِي هِيَ اَللَّيْلَةُ الَّتِي اَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ 

Ubay bin Ka’ab berkata tentang malam Qadar: “demi Allah sungguh aku mengetahuinya, syu’bah r.a, berkata: “pengetahuanku yang paling utama adalah tentang suatu malam yang Rasulullah s.a.w, memerintahkan kepada kami untuk menghidupkannya (malam qadar) adalah malam tanggal 27 (Ramadhan)”. (Hadits Shahih, riwayat Muslim:2000)


___________________________________
sumber : http://www.nu.or.id

Jumat, 23 Agustus 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-ANKABUUT AYAT 61 - 69 ( 04 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-ANKABUUT
Ayat [69]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/4
61 Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah`, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).(QS. 29:61)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (61

Ayat ini menerangkan bahwa kaum musyrikin itu mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi itu adalah Allah Yang Maha Esa. Dialah yang menundukkan matahari dan bulan untuk kepentingan manusia.
Pengakuan mereka itu adalah suatu hal yang wajar, karena pada mulanya nenek moyang mereka beragama tauhid, yaitu agama yang di bawa nenek moyang mereka, Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail as. Pada mulanya mereka berbangga dengan agama tauhid itu, sehingga mereka tidak tertarik kepada agama Yahudi dan Nasrani yang berkembang di Jaziratul Arab. Dengan berlalunya masa dan bergantinya generasi yang satu dengan generasi yang datang kemudian, tanpa mereka sadari agama tauhid yang murni itu sedikit demi sedikit telah dimasuki oleh unsur-unsur musyrikin. Makin lama, makin jauh menyimpang dari dasar semula., mereka telah menyembah patung-patung, jin-jin dan benda-benda lain di samping mereka menyembah Allah, mereka juga menyembah berhala Lata, Uzza dan Manat.
Sekalipun kepercayaan yang mereka anut telah jauh menyimpang dari agama tauhid, namun mereka masih tetap mengakui bahwa mereka menganut agama Ibrahim. Kalau ditanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan, mereka menjawab: "Yang menciptakan ialah Allah dan Allah-lah yang menguasainya". Apabila ditanyakan kepada mereka: "Kenapa mereka menyembah patung-patung itu:, mereka menjawab: "Nenek moyang kamilah yang menyuruhnya".
Jawaban mereka ini sesuai dengan yang tersebut dalam firman Allah SWT:


وإذا قيل لهم تعالوا إلى ما أنزل الله وإلى الرسول قالوا حسبنا ما وجدنا عليه آباءنا أو لو كان آباؤهم لا يعلمون شيئا ولا يهتدون
Artinya:
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab : "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (Q.S. Al Maidah: 104)
Karena sikap dan kepercayaan mereka itulah, Allah SWT bertanya dengan maksud mengingkari tindakan mereka itu dengan mengatakan: "Maka mengapa mereka berpaling dari jalan yang benar?".


62 Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 29:62)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 62 

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (62

Pada ayat ini Allah SWT menyatakan bahwa Dialah yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang menyempitkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya. 1Dia sendirilah yang berkuasa untuk menentukan rezeki itu, karena itu janganlah kamu wahai orang-orang yang beriman enggan berhijrah karena takut miskin, Allah memberi rezeki di mana saja kamu berada baik kamu berada di negerimu sendiri, atau di negeri orang atau dalam perjalanan, maupun di waktu kamu sedang ditawan musuh.
Allah SWT berfirman:


إن الله هو الرزاق ذو القوة المتين
Artinya:
Sesungguhnya Allah. Dialah Maha Pemberi Rezeki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (Q.S. Az Zariyat: 58)
Selanjutnya Allah SWT menyatakan: "Dia mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya, mengetahui orang-orang yang mengerjakan amal saleh, karena ia banyak dianugerahi-Nya rezeki, dan mengetahui orang-orang yang membuat kerusakan dan kemungkaran dengan kekayaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka.
Ayat ini dapat pula dihubungkan dengan pernyataan orang-orang musyrik pada ayat sebelum ini, yaitu ayat (61) Allah menyatakan kepada orang-orang musyrik: "Siapa yang menciptakan dan menguasai alam semesta ini". Mereka tidak mendapatkan jawaban, kecuali tunduk dengan menetapkan bahwa Allah Yang Maha Esa Yang menciptakan dan menguasai seluruh makhluk. Jika mereka telah mengakui bahwa Allah menciptakan dan menguasai semua makhluk mengapa mereka masih ragu-ragu tentang yang menanggung rezeki seluruh makhluk itu. Seharusnya mereka mengatakan bahwa Allah-lah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada makhluk-Nya, tidak ada yang lain, tetapi mereka masih menyembah dan meminta rezeki itu kepada berhala-berhala yang mereka sembah. Kemudian Allah menjelaskan sebab-sebab yang membedakan hamba-hamba-Nya dalam hal pemberian rezeki, karena Allah lebih mengetahui kemaslahatan hamba-Nya dan pemberian itu harus disesuaikan dengan keadaan masing-masing hamba-Nya.


63 Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: `Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?` Tentu mereka akan menjawab: `Allah`. Katakanlah: `Segala puji bagi Allah`, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya).(QS. 29:63)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 63 

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهَا لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ (63

Dalam ayat ini pertanyaan masih dihadapkan kepada orang-orang musyrik Mekah, tentang siapa yang menurunkan air hujan dari langit, kemudian dengan air itu suburlah tanah yang selama ini tandus dan gersang? Apa jawaban mereka terhadap pertanyaan ini?
Pada ayat 61 di atas mereka telah menyatakan, bahwa Allah-lah yang menjadikan langit dan bumi, menundukkan matahari dan bulan. Hal ini adalah suatu yang tidak perlu diperbincangkan lagi, karena sesuai dengan akal pikiran yang benar dan sesuai pula dengan kepercayaan, agama yang dibawa Nabi Ibrahim agama yang mereka akui sebagai agama mereka. Namun perbuatan mereka berlawanan dengan pernyataan yang mereka ucapkan. Inilah keanehan yang ada pada mereka. Maka dalam ayat 63 ini Allah menerangkan bahwa kalau dihadapkan kepada mereka pertanyaan tersebut, mereka juga akan menjawab: "Allah". Dengan demikian jelaslah bahwa mereka mempercayai bahwa Allah-lah Pemilik semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi. Dialah yang mengendalikan segala sesuatu yang ada pada keduanya, seperti menurunkan hujan dari langit, kemudian dengan air hujan itu bumi menjadi subur dan menumbuhkan tanam-tanaman. Akan tetapi kepercayaan mereka ini tidaklah kelihatan dalam amal perbuatan yang mereka lakukan setiap hari. Karena dalam amal perbuatan mereka, mereka mempersekutukan Tuhan dengan berhala-berhala yang tidak mempunyai sesuatu kekuasaan atau kekuatanpun. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengucapkan "Alhamdulillah" (Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam), karena orang-orang musyrik mengakui keesaan dan kekuasaan Allah serta penciptaan dan pemilihan-Nya terhadap semesta alam.
Akan tetapi sekalipun orang-orang musyrik menyatakan pengakuan seperti di atas sesuai dengan kepercayaan dan pikiran mereka, namun kebanyakan mereka tidak mau memahami dan mengamalkan pengakuan itu, seakan-akan mereka seperti orang yang bodoh yang tidak dapat mengerti hakikat pengakuan mereka. Yang demikian itu adalah karena kesesatan dan. kelaliman yang telah mengalahkan kebenaran. Apabila kebenaran itu dikemukakan kepada mereka, sekalipun pikiran dan naluri mereka menerimanya, tetapi hati mereka tidak menerimanya lagi, Bahkan mereka menuduh Nabi Muhammad telah menyihir mereka, sehingga mereka ragu-ragu terhadap kenyataan yang dilihat oleh mata dan pikiran mereka sendiri. Allah SWT berfirman:


لقالوا إنما سكرت أبصارنا بل نحن قوم مسحورون
Artinya:
Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir. (Q.S. Al Hijir: 15)
Pada ayat inilah Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad, supaya mengucapkan "Alhamdulillah". Perkataan ini diucapkan sebagai pernyataan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan-Nya, yaitu tersingkapnya kebenaran dengan adanya pengakuan dan pernyataan kaum musyrikin tentang keesaan Tuhan itu, sekali pun mereka telah mengakui kekuasaan dan ke Maha Pemurahan Allah, tetapi hati mereka masih tergantung pada berhala-berhala yang mereka sembah.


64 Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(QS. 29:64)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 64

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (64

Ayat ini menerangkan hakikat kehidupan duniawi, terutama kepada orang-orang musyrik yang terpedaya dengan kehidupan duniawi itu. Diterangkan bahwa kehidupan duniawi itu hanyalah permainan dan senda gurau saja, bukan kehidupan yang sebenarnya. Pandangan dan pikiran orang-orang musyrik telah tertutup, sehingga mereka telah disibukkan oleh urusan duniawi. Mereka berlomba-lomba mencari harta kekayaan, kekuasaan dan kesenangan serta kelezatan yang ada padanya, seakan-akan kehidupan dunia ialah kehidupan yang sebenarnya bagi mereka. Andai kata mereka mau mengurangi perhatian mereka kepada kehidupan duniawi itu agak sedikit saja, dan memandang kehidupan duniawi ini sebagai jembatan untuk sampai kepada kehidupan lain yang lebih kekal dan abadi, serta mau pula mendengarkan ayat-ayat Allah, tentulah mereka tidak akan durhaka dan tidak akan mempersekutukan Allah. Andai kata mereka mendengarkan seruan Rasul dengan menggunakan telinga, akal dan hati, mereka tidak akan tersesat dari jalan Allah.
Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa kehidupan yang hakiki itu adalah kehidupan akhirat, kehidupan akhirat itu merupakan segi yang lain dari kehidupan manusia itu, yaitu kehidupan yang diliputi oleh kebenaran yang mutlak. Kehidupan dunia adalah kehidupan yang di dalamnya masih bercampur baur antara kebenaran dan kebatilan, sedang pada kehidupan akhirat itu telah dipisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Kehidupan akhirat banyak ditentukan oleh corak kehidupan dunia yang dialami seseorang sekarang, dan tergantung kepada amal dan usahanya sewaktu ia masih hidup. Kehidupan dunia dapat diibaratkan dengan kehidupan masa kanak-kanak, sedang kehidupan akhirat dapat diibaratkan dengan kehidupan masa dewasa. Jika seseorang pada masa kanak-kanak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, seperti belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, maka kehidupan masa dewasanya akan merupakan kehidupan yang cerah. Sebaliknya jika ia banyak bermain-main tidak menggunakan waktu-waktu itu sebaik-baiknya, maka ia akan mempunyai masa dewasa yang suram.
Demikianlah halnya dengan kehidupan akhirat, tergantung kepada amal dan usaha seseorang se waktu masih hidup di dunia. Jika ia selama hidup di dunia beriman dan beramal saleh, maka kehidupannya di akhirat akan baik dan bahagia, sebaliknya jika ia kafir dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang terlarang, ia akan mengalami kehidupan yang sengsara di akhirat nanti.
Pada akhir ayat Allah SWT memperingatkan kepada orang-orang musyrik agar mereka mengetahui hakikat hidup itu. Andai kata mereka mendalami dan mengetahui hakikat hidup itu, tentulah mereka tidak akan tersesat, dan tentu pula mereka tidak akan terpedaya oleh kehidupan dunia yang fana ini. Setiap orang yang berilmu dan mau mempergunakan akalnya dengan mudah dapat membedakan antara yang baik dengan yang buruk, antara yang benar dan yang salah dan sebagainya.


65 Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah),(QS. 29:65)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 65 

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ (65

Ayat ini melukiskan kehidupan orang-orang musyrik yang penuh pertentangan dan kontradiksi. Hati mereka percaya kepada kekuasaan dan keesaan Allah, tetapi pengaruh dunia dan hawa nafsu mereka menutup keyakinan hati mereka yang benar, sehingga mereka tidak dapat beramal dan mengingat Allah secara ikhlas. Mereka seperti orang bingung di dalam kehidupan mereka yang penuh kemusyrikan.
Mereka diibaratkan Allah SWT dengan seorang yang naik kapal, berlayar mengarungi lautan luas. Tiba-tiba datanglah angin topan yang kencang disertai gelombang dan ombak yang menggunung dan kapal mereka dihempaskan gelombang yang besar itu ke sana ke mari. Maka timbul ketakutan dalam hati mereka dan mereka merasa tidak akan selamat dan akan ditelan oleh gelombang itu. Di saat itu mereka ingat kepada Allah, dan meyakini bahwa hanya Dia Yang Maha Kuasalah yang dapat menyelamatkan dan melindungi mereka dari hempasan ombak itu. Mereka mentauhidkan Allah baik dalam hati dan perasaan maupun dalam ucapan. Pendeknya dalam semua tindak tanduk mereka waktu itu, mereka kembali kepada fitrah mereka semula, yang mengakui keesaan dan kekuasaan Allah. Mereka tidak percaya lagi bahwa Tuhan-tuhan yang selama ini disembah sanggup melepaskan dan menyelamatkan mereka dari malapetaka yang sedang mengancam itu. Karena itu mereka berdoa dan mohon pertolongan kepada Allah saja.
Maka Allah SWT mengabulkan permohonan dan doa mereka yang ikhlas itu dengan menyelamatkan mereka dari segala bencana. Tetapi setelah mereka terlepas dari bencana kehancuran itu dan hati mereka telah merasa aman dan tenteram, dengan serta merta mereka kembali mengingkari Allah SWT yang telah menyelamatkan mereka. Mereka lupa bahwa mereka pernah berdoa kepada-Nya untuk keselamatan mereka dan berjanji akan tetap tunduk dan patuh hanya kepada-Nya saja. Mereka kembali mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan yang tidak layak sedikitpun dipersekutukan dengan-Nya. Maka Allah SWT membiarkan mereka bersenang-senang sampai pada waktu yang ditentukan dan Allah SWT akan memberi ganjaran yang setimpal di akhirat kelak.
Pada ayat yang lain diterangkan keadaan orang-orang musyrik di akhirat kelak. Mereka akan mengakui keesaan dan kekuasaan Allah di saat mereka mengalami siksaan yang pedih di dalam neraka dan berdoa kepada-Nya agar melepaskan mereka dari siksaan itu, sebagaimana firman Allah:


ربنا أخرجنا منها فإن عدنا فإنا ظالمون قال أخسئوا فيها ولا تكلمون
Artinya:
Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim. Allah berfirman "Tinggallah dengan hina di dalamnya dan janganlah kamu berbicara dengan Aku". (Q.S. Al Mu'minun: 107-108)
Muhammad bin Ishaq dalam kitab "Sirah"nya (tarikh Nabi Muhammad saw) meriwayatkan bahwa Ikrimah bin Abu Jahal berkata: "Tatkala Rasulullah menaklukkan Mekah, aku lari daripadanya. Ketika aku naik kapal ke Habsyah, kapal itu terombang-ambing. Para penumpang kapal berkata: "Hai orang banyak, berdoalah dengan ikhlas kepada Tuhanmu, sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari bencana ini, kecuali Dia". Selanjutnya Ikrimah berkata: "Andai kata di laut tidak ada yang dapat menyelamatkan, kecuali Dia maka di daratpun tidak ada pula yang dapat menyelamatkan, kecuali Dia. Hai Tuhanku, aku berjanji kepadamu, jika aku keluar dari laut ini, maka aku allan pergi kepada Muhammad dan aku akan menyatakan keimananku kepadanya, maka akan kudapati dia seorang yang sangat pengasih dan penyayang, dan terlaksanalah janjiku itu".
Ikrimah juga berkata: "Bangsa Jahiliah itu apabila menaiki kapal, berhala-berhala mereka juga ikut dibawa. Jika angin ribut datang, berhala-berhala itu dilemparkan ke laut, lalu mereka mengucapkan "Ya Tuhan, Ya Tuhan".
Ar Razi mengatakan dalam bukunya "Al Lawami": Ini adalah suatu pertanda bahwa pengetahuan tentang Tuhan itu merupakan fitrah kepada manusia, walaupun mereka lalai mengingat Tuhan di waktu mereka bersuka ria, mereka mengingat-Nya di waktu kesusahan"


66 agar mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka dan agar mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).(QS. 29:66)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 66

لِيَكْفُرُوا بِمَا آتَيْنَاهُمْ وَلِيَتَمَتَّعُوا فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (66

Ayat ini merupakan akibat dari perilaku kaum musyrikin mempersekutukan Tuhan sesudah Allah SWT menyelamatkan mereka dari bencana, dan ancaman atas kekafiran kaum musyrikin itu kepada nikmat Allah, ketika Dia menyelamatkan mereka dari bahaya tenggelam ditelan ombak Pada ayat yang lalu Allah menerangkan bahwa, setelah mereka selamat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah, maka timbullah pertanyaan kenapa Allah SWT menyelamatkan mereka dari bahaya tenggelam itu?". Kenapa kapal mereka beserta mereka tidak dibiarkan tenggelam ke dasar laut, sehingga selesailah persoalan mereka?
Pertanyaan ini dapat dijawab: bahwa wajarlah sudah kalau Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang itu memperkenankan doa dari hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya dengan tulus ikhlas Dalam pada itu mereka diselamatkan adalah juga sebagai batu ujian bagi keimanan mereka; apakah mereka akan tetap dalam keimanan itu atau akan musyrik kembali.
Ujian ini membawa hasil, bahwa mereka sesudah diselamatkan Allah musyrik kembali yang demikian itu adalah karena kemusyrikan itu telah berurat dan berakar pada jiwa mereka. Kemusyrikan mereka kembali itu mengakibatkan mereka kafir kepada nikmat Allah, yang telah menyelamatkan mereka dari bencana tenggelam dalam laut itu dan membuat mereka hidup bersenang-senang dalam kekafiran itu. Oleh karena itu Allah SWT mengancam mereka dengan mengatakan bahwa mereka kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka itu.
Maka "kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka)" ini adalah kalimat yang mempunyai nada ancaman kepada orang-orang musyrik, karena tanda tanda kekuasaan dan keesaan Allah dan nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka, tidak dapat meyakinkan mereka, bahkan menambah keingkaran mereka, sehingga seakan-akan dikatakan kepada mereka: "Apabila mereka lalai dan tidak merubah tindak tanduk mereka, mereka akan mengetahui dengan ilmu yakin; bahwa azab yang dijanjikan itu pasti menimpa mereka". Apabila azab itu telah menimpa mereka, maka semua pintu tobat telah tertutup bagi mereka.


67 Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah?(QS. 29:67)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 67

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ مِنْ حَوْلِهِمْ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَكْفُرُونَ (67

Ayat ini mengingatkan orang-orang musyrik Mekah akan nikmat yang dilimpahkan kepada mereka. Mereka diistimewakan Allah dari penduduk negeri-negeri yang berada di sekitar mereka dengan menjadikan kota Mekah sebagai negeri yang aman dan tenteram diharamkan berperang di sana, dan Allah menjaga negeri itu dari musuh-musuhnya yang hendak menghancurkan dan menguasainya, seperti yang pernah terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu tentara Abrahah yang mengendarai gajah dihancurkan Allah sebelum mereka sempat menjamah Kakbah.
Allah SWT berfirman:


ألم تر كيف فعل ربك بأصحاب الفيل ألم يجعل كيدهم في تضليل وأرسل عليهم طيرا أبابيل ترميهم بحجارة من سجيل فجعلهم كعصف مأكول
Artinya:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara gajah. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Q.S. Al Fil: 1-5)
Dalam ayat yang lain diterangkan keadaan kota Mekah dan kehidupan orang-orang Quraisy, Allah SWT berfirman:


لإيلاف قريش إيلافهم رحلة الشتاء والصيف فليعبدوا رب هذا البيت الذي أطعمهم من جوع وآمنهم من خوف
Artinya:
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakuan. (Q.S. Quraisy: 1-4)
Dalam pada itu negeri-negeri yang berada di sekitar Mekah dalam keadaan tidak aman, sering terjadi perampokan, pembunuhan, kekacauan dan peperangan antar kabilah, sehingga seseorang tidak dapat merasakan kedamaian dan keamanan atas jiwanya, keluarga dan hartanya. Setiap saat penduduknya selalu berada dalam keadaan kekhawatiran diserbu musuh. Pada ayat ini diterangkan kepada orang-orang musyrik itu : Apakah mereka tidak melihat nikanat yang jelas dan nyata itu? Apakah mereka tidak merasakan sedikit juga bahwa Allah telah mengistimewakan mereka dari penduduk negeri-negeri sekitar mereka. Kenapa mereka tidak meninggalkan penyembahan berhala yang mengotorkan Kakbah itu? Sebenarnya orang Mekah telah mengetahui semuanya itu, tetapi karena keingkaran mereka, mereka mempercayai yang batil dan mengingkari nikmat Allah. Alangkah rendahnya akal mereka?.


68 Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang kafir?(QS. 29:68)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 68

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ (68

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik itu adalah orang yang sangat zalim, karena mereka mengada-adakan sekutu bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. Mereka adalah orang-orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan menjadi musuh-Nya. Mereka membuat patung-patung, kemudian menyembahnya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah SWT berfirman, menceritakan kepercayaan kaum musyrikin itu:


ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى
Artinya:
Kami tidak menyembah mereka (patung-patung) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Q.S. Az Zumar: 3)
Setelah datang kepada mereka seorang Rasul Allah menerangkan kebatilan dan kepalsuan perbuatan mereka, serta menunjukkan jalan yang lurus berdasarkan kebenaran, mereka mengingkari dan mendustakan semuanya. Bahkan mengingkari semua nikmat Allah yang diberikan kepada mereka.
Sesungguhnya orang-orang musyrik itu telah mengerjakan dosa yang paling besar yang tidak ada tandingannya di dunia ini, tiada balasan yang tepat kecuali azab neraka Jahanam di akhirat nanti dan itulah tempat yang wajar bagi mereka.


69 Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(QS. 29:69)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 69 

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ (69

Ayat ini menerangkan janji yang mulia dari Allah SWT kepada orang-orang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan mengorbankan jiwanya dan hartanya serta menanggung siksaan dan rintangan. Karena itu Allah SWT akan memberi mereka petunjuk dan membulatkan tekad dan memberikan bantuan, sehingga mereka memperoleh kemenangan di dunia dan kebahagiaan serta kemuliaan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman:


ولينصرن الله من ينصره
Artinya:
Sesunguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya (Q.S. Al Hajj: 40)
Yang dimaksud dengan jihad di sini ialah melakukan segala macam usaha untuk menegakkan agama Allah dan meninggikan kalimat-Nya, seperti memerangi orang-orang kafir yang ingin memusnahkan Islam dan kaum Muslimin, menyiarkan agama Islam dan sebagainya.
Menurut Abu Sulaiman Ad Darami "jihad" dalam ayat ini bukan berarti memerangi orang-orang kafir saja, melainkan juga berarti mempertahankan agama, memberantas kelaliman. Dan yang terutama ialah menganjurkan berbuat yang makruf dan melarang dari perbuatan yang mungkar, memerangi hawa nafsu dalam menaati Allah.
Mereka yang berjihad itu dijanjikan Allah akan diberi-Nya jalan yang lapang. Janji ini pasti Allah melaksanakannya, sebagaimana firman-Nya:


وكان حقا علينا نصر المؤمنين
Artinya:
Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman (Q.S. Ar Rum: 47)
Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang-orang yang berjihad di jalan Allah itu adalah orang-orang yang berbuat baik. Hal ini berarti bahwa segala macam perbuatan, sesuai dengan yang digariskan Allah dalam berjihad itu adalah perbuatan baik, dan orangnya adalah orang yang berbuat baik (muhsin). Dinamakan demikian karena orang-orang yang berjihad itu selalu berjalan di jalan Allah, dan orang-orang yang tidak mau berjihad adalah orang yang jelek, sebab ia telah membangkang terhadap perintah Allah untuk melakukan jihad Orang itu adalah orang yang sesat, karena dia tidak mau melalui jalan yang lurus yang telah dibentangkan-Nya.
Sehubungan dengan arti "ihsan" ini lbnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sya'bi bahwa Nabi Isa as bersabda: "Yang dikatakan ihsan ialah : apabila seseorang berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat jelek kepadanya. Ihsan itu bukan berarti berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat baik kepadanya".
Dinyatakan dalam ayat ini bahwa setiap orang yang selalu berjihad di jalan Allah, Allah SWT selalu beserta orang-orang yang berperang di jalan-Nya, memerangi hawa nafsu, mengusir semua waswas setan dari hatinya, dan tak pernah menyia-nyiakan agama-Nya. Pernyataan ini dapat menenteramkan hati orang yang beriman dalam menghadapi orang-orang kafir dan dapat membangkitkan semangat mereka berjuang di jalan-Nya.
Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Allah, pasti akan ditunjukkan kepada mereka jalan-Nya. Dari ayat ini dipahami bahwa lapangan jihad yang luas dapat berupa perkataan, tulisan, lisan dan kalau perlu, jihad itu dapat dilakukan dengan senjata. Karena luas dan banyaknya lapangan jihad berarti banyak sekali jalan-jalan yang dapat ditempuh seorang mukmin untuk sampai kepada keridaan Allah, asal semua jalan itu didasarkan untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kebaikan.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [4]
Ayat 61 s/d 69 dari [69]



Sumber Tafsir dari  :

1. Tafsir DEPAG RI
2. Tafsir Jalalain Indonesia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU