Kamis, 11 Juli 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-A'RAAF AYAT 81 - 100 ( 05 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-A'RAAF
Ayat [206]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:5/11
81 Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.(QS. 7:81)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 81 

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (81

Ayat ini kelanjutan dari ayat 80 menerangkan bahwa Nabi Lut menegaskan kepada kaumnya bahwa sesungguhnya mereka melakukan homoseksual, perbuatan bukan saja bertentangan dengan fitrah manusia malahan ia adalah pemutusan pembiakan manusia. Perbuatan homosexuil hanya bertujuan pelepasan nafsu birahi semata karena pelakunya lebih rendah dari tingkatan hewan. Hewan masih memerlukan jenis kelamin lain untuk memuaskan nafsu birahinya dan keinginan mempunyai keturunan. Misalnya binatang yang merayap dan yang terbang memulai kehidupannya dengan suami istri untuk bersama-sama membuat sarang di atas pohon dan yang merayap mencari tempat di lubang-lubang. Sedangkan kelakuan homosex tidak mempunyai maksud demikian itu selain melampiaskan nafsu birahi semata.
Dengan bersemangat Nabi Lut mengutuk dan mencemoohkan tingkah laku mereka. Pada akhir ayat ini diutarakan bahwa Nabi Lut selalu mengakhiri ucapannya dengan kata-kata: "Tetapi wahai kaumku, kamu adalah benar-benar golongan orang-orang yang melampaui batas." Disebabkan kamu meninggalkan fitrah manusia dan akal yang sehat, sehingga kamu tidak memikirkan akibat buruk yang memutuskan keturunan dan merusak kesehatan serta melanggar peradaban. Kaum Lut ini jika mereka masih berada di atas fitrah dan pikiran yang sehat serta mempunyai akhlak yang tinggi tentulah mereka menjauhi pekerjaan yang buruk dan terkutuk itu berulang-ulang kali dikemukakan meskipun dengan tutur kata yang berlainan sebagaimana diketahui dari firman Allah yaitu:


أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
Artinya:
Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu(mu), bukan (mendatangi) wanita? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu).
(Q.S An Naml: 55)
Dan juga firman Allah pada ayat-ayat yang lain yaitu:


أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ
Artinya:
Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?
(Q.S Al Ankabut: 29)

82 Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan:` Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya) dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. `(QS. 7:82)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 82

وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (82

Ayat ini menerangkan sambutan kaum Lut terhadap kecaman dan nasihat-nasihat yang dikemukakan olehnya yang disertai dengan alasan-alasan yang tepat dan tidak dapat dibantah. Namun demikian mereka tetap menolak kebenaran. Beberapa pemuka mereka mengeluarkan perintah supaya Nabi Lut beserta orang-orang yang beriman kepadanya diusir dari kampung halaman mereka dengan alasan bahwa Nabi Lut, dan orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang bersih-bersih dan tidak patut berkumpul dengan mereka karena mereka adalah orang-orang yang rusak dan kotor. Oleh karena itu sebaiknya Nabi Lut dan pengikutnya tidak sekampung dengan mereka, karena antara mereka dengan Nabi Lut terdapat perbedaan-perbedaan dalam budi pekerti. Mereka berbuat perbuatan-perbuatan yang keji dengan bangga, sedang Nabi Lut beserta orang-orang yang beriman adalah orang-otang yang membersihkan diri dari perbuatan terkutuk itu. Sambil mengejek, mereka menghendaki supaya Nabi Lut dengan pengikutnya diusir dengan demikian mereka tetap dapat berbuat secara bebas tanpa ada yang mengganggu mereka.
Alangkah rendahnya tingkah laku kaum Lut itu tanpa malu-malu mereka berbangga melakukan perbuatan maksiat yang berbentuk kutukan seraya menghina orang-orang yang berbudi pekerti luhur. Hanya manusia yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudianlah yang dapat jatuh ke dalam martabat yang rendah ini.


83 Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).(QS. 7:83)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 83

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلَّا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (83

Ayat ini menerangkan bahwa Allah menyelamatkan Nabi Lut, beserta orang yang beriman kepada-Nya kecuali istrinya karena ia tidak beriman kepada Nabi Lut malahan mengkhianatinya. Istrinya berpihak kepada kaum Lut yang kafir. Karena itu ia tergolong ke dalam kaum Lut yang mendapat azab pula di akhirat nanti. Ayat ini menunjukkan sebelum azab diturunkan oleh Allah kepada kaum Lut, lebih dahulu Allah memerintahkan Nabi Lut supaya dia bersama-sama pengikutnya yang beriman meninggalkan negerinya sebagaimana diterangkan dalam firman-Nya:


قَالُوا يَالُوطُ إِنَّا رُسُلُ رَبِّكَ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ إِلَّا امْرَأَتَكَ إِنَّهُ مُصِيبُهَا مَا أَصَابَهُمْ إِنَّ مَوْعِدَهُمُ الصُّبْحُ أَلَيْسَ الصُّبْحُ بِقَرِيبٍ
Artinya:
Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Lut, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang pun di antara kamu yang tertinggal kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat."
(Q.S Hud: 81)
Dan firman-Nya:


فَأَسْرِ بِأَهْلِكَ بِقِطْعٍ مِنَ اللَّيْلِ وَاتَّبِعْ أَدْبَارَهُمْ وَلَا يَلْتَفِتْ مِنْكُمْ أَحَدٌ وَامْضُوا حَيْثُ تُؤْمَرُونَ
Artinya:
Maka pergilah kamu di akhir malam dengan membawa keluargamu dan ikutilah mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke belakang, dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.
(Q.S Al Hijr: 65)
Dan firman-Nya:


فَأَخْرَجْنَا مَنْ كَانَ فِيهَا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ(35)فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ(36)وَتَرَكْنَا فِيهَا ءَايَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الْأَلِيمَ(37

Artinya:
Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Lut. Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.
(Q.S Az Zariyat: 35-37)


84 Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.(QS. 7:84)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 84 

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (84
 
Ayat ini menerangkan bahwa Allah membinasakan kaum Lut dengan batu yang terkenal dengan batu "batu sijjil" diturunkan dari langit laksana hujan sebagaimana tersebut dalam firman Allah:


فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ
Artinya:
Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang keras.
(Q.S Al Hijr: 74)
Dan firman Allah:


فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ
Artinya:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Lut itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.
(Q.S Hud: 82)
Tidak ada seorang ahli tafsir pun yang menentukan kaifiyat dan cara-cara batu-batu itu terkumpul dari bumi diangkat ke atas, kemudian turun berjatuhan seperti hujan. Demikianlah juga bentuk batu tersebut apakah ia terjadi dari tanah keras semata ataukah bercampur pula dengan unsur-unsur zat pembakar atau batu-batu yang berasal dari pecahan sebagai bintang.
Pada akhir ayat ini Allah menunjukkan firman-Nya kepada Muhammad saw. beserta umatnya supaya mengambil pelajaran dari peristiwa tingkah laku orang-orang yang mendustakakan Allah dan Rasul-rasul-Nya di samping mereka melakukan perbuatan terkutuk. Kebinasaan mereka itu jika Allah menghendaki dapat terjadi disebabkan oleh sebab-sebab yang biasa, umpamanya gempa bumi, penyakit wabah, akibat peperangan dan korban fitnahan dan dapat pula dengan sebab-sebab luar biasa seperti topan yang menenggelamkan kaum Nuh, angin yang menghempaskan kaum Hud, petir yang membinasakan kaum Saleh dan hujan batu yang menghabiskan kaum Lut.
Mengenai perbuatan homosex yang dilakukan oleh kaum Lut itu terdapat perselisihan antara ulama fikih tentang hukumannya sebagai berikut:
1. Imam Abu Hanifah berpendirian bahwa pelakunya dijatuhkan dari tempat yang tinggi kemudian diiringi dengan lemparan batu. Tetapi menurut suatu riwayat pelakunya hanya ditakzir diberi hukuman supaya jera baik muhsan maupun tidak muhsan.
2. Imam Malik memandang bahwa pelakunya dirajam (baik muhsan/pernah kawin atau pun tidak). Demikian juga terhadap objek jika telah dewasa. Tetapi menurut suatu riwayat terhadap yang belum muhsan dikenakan hukum takzir.
3. Imam Syafi'i menerangkan bahwa pelakunya dirajam baik muhsan atau tidak. Menurut suatu riwayat pelakunya dirajam jika ia muhsan. Dan jika tidak muhsan didera sebanyak seratus kali.
4. Imam Ahmad memandang bahwa pelakunya keduanya dibunuh.
5. Pendapat sebagian sahabat Nabi, seperti Abu Bakar, Ali, Ibnu Zubair, pelakunya dibakar.


85 Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka Syuaib. Ia berkata:` Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman `.(QS. 7:85)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 85

وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (85

Allah swt. menceritakan bahwa kaum Madyan, yaitu kaum Nabi Syuaib tidaklah bersyukur kepada swt. mereka di samping mereka mempersekutukan-Nya. Akhlak mereka sangat merosot sekali sehingga kehidupan mereka bergelimang dalam penipuan sampai kepada urusan takar-menakar, timbang-menimbang. Menurut suatu riwayat jika orang asing datang berkunjung, mereka sepakat menuduh bahwa uang yang dibawa orang asing itu palsu, dengan demikian mereka menukarnya dengan harga (kurs) yang rendah sekali. Kepada kaum ini Allah swt. mengutus Nabi Syuaib supaya dia menunjukkan kepada mereka berupa jalan benar meninggalkan kezaliman terutama yang berupa pengurangan hak manusia yang mereka lakukan dengan cara khianat dalam takaran dan timbangan.
Sebagaimana biasanya setiap nabi, Allah perkuatkan kenabiannya dengan mukjizat sebagaimana diketahui dari hadis dari Abu Hurairah yaitu:


ما من الأنبياء نبي إلا أعطي من الآيات مثلها آمن عليه البشر وإنما كان الذي أوتيت وحيا أوحى الله إلي فارجون أن أكون أكثرهم تابعا يوم القيامة
Artinya:
Tidak seorang nabi pun dari kalangan nabi-nabi kecuali diberikan kepadanya tanda-tanda kenabiannya yang menjadikan manusia percaya kepadanya. Sesungguhnya yang diberikan kepadaku ialah wahyu yang disampaikan kepadaku yaitu (Alquran). Maka aku mengharap bahwa aku akan mempunyai pengikut yang lebih banyak daripada pengikut-pengikut nabi-nabi pada hari kiamat.
(H.R Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi tidak terdapat satu ayat pun dalam Alquran yang menerangkan tentang mukjizat yang diberikan kepada Nabi Syuaib. Fakhrul Razi dalam tafsirnya mengemukakan pendapat "Al-Kasyisyaf" bahwa di antara mukjizat Nabi Syuaib yaitu dia memberikan tongkatnya kepada Nabi Musa. Tongkat itu membinasakan ular-ular besar. Juga dia berkata kepada Nabi Musa bahwa kambing-kambing ini akan beranak semuanya lelaki yang bulunya hitam putih kemudian ternyata benar sebagaimana yang diucapkannya itu.
Madyan adalah nama kabilah yang terdiri dari anak-anak dari keturunan Madyan. Madyan ini adalah anak Nabi Ibrahim dari Siti Qaturah, demikian menurut Taurat. Syuaib adalah orang yang terbaik dari kalangan kabilah Madyan. Syuaib anak Mikil a.s. bin Yasijab bin Madyan istri Yasifar adalah putri Nabi Lut a.s., demikian menurut Taurat Muhammad bin Ishak, Syuaib meskipun matanya buta ia adalah seorang orator (ahli pidato) sehingga mendapat julukan "Khatibul Anbiya" (orator terkemuka dari kalangan nabi-nabi).
Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Syuaib kepada kaum Madyan. Setelah itu Syuaib menjalankan tugasnya menyampaikan amanat-amanat Tuhannya kepada kaumnya supaya mereka meninggalkan kemusyrikan dan hendaklah mereka menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan melainkan Dia. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Nabi Syuaib meyakinkan kaumnya bahwa dia adalah utusan Allah supaya mencabut seruannya. Setelah dikemukakan kepada mereka tentang akidah ketuhanan maka Nabi Syuaib memulai pula memperbaiki kebobrokan masyarakatnya dengan mengajak mereka supaya jujur dalam menimbang dan menakar supaya tidak mengurangi hak manusia dalam jual beli begitu juga menyeru mereka supaya meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merusak masyarakat setelah berjalan dengan baik umpamanya perbuatan kerusakan berupa sogokan, memakan harta orang lain dengan jalan batil, mengerjakan perbuatan yang keji dan membiarkan kerusakan akhlak.
Nabi Syuaib selalu mengakhiri seruannya bahwa apa yang disampaikannya kepada mereka itu adalah hal yang paling baik untuk mereka karena akan membawa kebahagiaan bagi mereka di dunia dan di akhirat jika mereka benar-benar beriman kepada kerasulannya.


86 Dan janganlah kamu duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman dari jalan Allah, dan menginginkan agar jalan Allah itu menjadi bengkok. Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu (berjumlah) sedikit, lalu Allah memperbanyak (jumlah) kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 7:86)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 86

وَلَا تَقْعُدُوا بِكُلِّ صِرَاطٍ تُوعِدُونَ وَتَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِهِ وَتَبْغُونَهَا عِوَجًا وَاذْكُرُوا إِذْ كُنْتُمْ قَلِيلًا فَكَثَّرَكُمْ وَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (86

Sesudah Nabi Syuaib melarang kaumnya membuat kerusakan di bumi maka ayat ini menerangkan bahwa Nabi Syuaib melarang mereka pula duduk di jalan untuk mengganggu orang yang lalu lintas. Terhadap orang yang beriman mereka ancam nyawanya dan terhadap orang yang belum beriman jika ia bermaksud mengunjungi Nabi Syuaib mereka mengatakan bahwa Syuaib itu seorang pendusta yang hendak menggoda orang supaya meninggalkan agama nenek moyangnya.
Pada akhir ayat Nabi Syuaib mengajak mereka mengenang masa-masa yang lalu di mana mereka masih sedikit jumlahnya kemudian Allah mengembangbiakkan keturunan mereka dalam keadaan murah rezeki. Karenanya hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan meninggalkan kemusyrikan dan perbuatan kezaliman dan hendaklah mereka mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian pada kaum-kaum yang berbuat kezaliman antara lain meninggalkan agama yang benar dari umat-umat sebelum mereka, seperti kaum Nuh, kaum Ad, dan kaum Tsamud. Hendaklah mereka mengambil pelajaran dari apa yang menjadi sebab Allah membinasakan umat-umat sebelum mereka itu. Dengan demikian Nabi Syuaib secara tidak langsung telah memperingatkan kaumnya agar mereka tidak mengalami nasib seperti mereka yang telah dibinasakan oleh Allah itu.


87 Jika ada segolongan daripada kamu beriman kepada apa yang aku diutus untuk menyampaikannya dan ada (pula) segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah, hingga Allah menetapkan hukumnya di antara kita; dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya..(QS. 7:87)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 87

وَإِنْ كَانَ طَائِفَةٌ مِنْكُمْ آمَنُوا بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ وَطَائِفَةٌ لَمْ يُؤْمِنُوا فَاصْبِرُوا حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنَنَا وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ (87

Ayat ini mengutarakan keahlian Nabi Syuaib menyampaikan amanat-amanat Tuhannya di mana dikemukakannya kata-kata yang tegas tapi cukup lunak dan mengesankan. Nabi Syuaib berkata kepada mereka jika ada golongan di antara mereka yang membenarkan seruannya supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan perbuatan-perbuatan zalim seperti mengurangi hak manusia dalam menimbang dan menakar maka mereka akan terhindar dari siksa Allah. Demikian pula sekiranya ada golongan di antara mereka itu yang masih belum menyambut seruannya dan masih tetap kufur dan zalim, maka Nabi Syuaib mengancam mereka supaya menunggu keputusan Tuhan yang seadil-adilnya, membela hamba-hamba-Nya yang beriman dan membinasakan golongan kafir yang berbuat kezaliman.


88 Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata:` Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami `. Berkata Syuaib:` Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? `(QS. 7:88)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 88 

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (88

Allah swt. menerangkan dalam ayat ini, bahwa orang-orang yang terkemuka di kalangan pengikut Nabi Syuaib itu berkata kepadanya, bahwa mereka akan mengusir bersama para pengikutnya dari negeri mereka, apabila Nabi Syuaib tidak mau kembali kepada agama yang diterima dari nenek mereka, serta menghentikan dakwahnya.
Dengan perkataan lain, mereka menyuruh Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk memilih apakah mereka akan tetap dalam agama baru dan melanjutkan dakwah tetapi diusir dari negeri mereka, ataukah bersedia kembali kepada agama nenek moyang dan menjadi anggota masyarakat dari kaumnya yang musyrik itu. Jika mereka memilih yang kedua ini sudah tentu Nabi Syuaib dan para pengikutnya harus meninggalkan agama mereka, dan kembali menjadi orang-orang yang musyrik seperti kaumnya.
Perlu diketahui bahwa kata-kata "kembali kepada agama nenek moyang" memberi kesan seolah-olah Nabi Syuaib sendiri sebelum diangkat menjadi rasul sebagai diungkapkan oleh mereka pernah menjadi penganut agama kaumnya, dan tentu pernah juga turut menyembah sembahan yang mereka sembah. Hal ini tidaklah benar karena para nabi dan rasul Allah swt. senantiasa terhindar dari dosa-dosa besar termasuk dosa yang disebabkan kemusyrikan kepada Allah swt.
Pada akhir ayat tersebut diterangkan bahwa Nabi Syuaib menjawab tantangan mereka dengan mengajukan pertanyaan, apakah mereka akan tetap memaksanya dengan para pengikutnya untuk kembali kepada agama mereka atau mengusirnya dengan para pengikutnya dari negeri Madyan bila ia menolak anjuran itu.
Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya bahwa ia dan para pengikutnya tidak merasa gentar untuk diusir dari negeri mereka, dan mereka akan tetap dalam agama Allah serta melanjutkan dakwah mereka. Kecintaan kepada agama Allah adalah lebih tinggi daripada kecintaan kepada tumpah darah yang penduduknya ingkar kepada Allah swt. Ia dan para pengikutnya lebih mengutamakan hidup dalam keridaan Allah swt. sehingga mereka benar-benar dapat memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan agama serta keimanan itu adalah urusan hati yang tidak dapat dipaksakan bagaimana pun juga. Ia dan para pengikutnya benci kepada kemusyrikan, karena kemusyrikan itu adalah dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah sedikitpun juga.
Seorang rasul yang berkewajiban menyiarkan agama Allah tidaklah segan-segan meninggalkan tanah tumpah darahnya apabila suasana dan keadaan di tempat itu tidak memungkinkan untuk melaksanakan tugas. Seperti diketahui, Nabi Ibrahim a.s. telah melakukan hijrah meninggalkan tanah tumpah darahnya yaitu kota Ur di Kaldania demi untuk agama Allah. Demikian pula Nabi Muhammad saw. telah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena kecintaannya kepada agama Allah adalah melebihi kecintaan kepada tanah air dan lain-lainnya. Orang-orang yang enggan hijrah karena Allah, ia akan ditimpa kemurkaan Allah swt. sebagaimana firman Allah swt.:


إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu." Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah), mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
(Q.S An Nisa': 97-99)


89 Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami daripadanya. Dan tidaklah patut kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki (nya). Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Kepada Allah sajalah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.(QS. 7:89)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 89 

قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (89

Pada ayat ini Allah swt. menjelaskan ucapan Nabi Syuaib selanjutnya terhadap kaumnya yang telah mengancam untuk mengusirnya dari negerinya apabila ia tidak mau menghentikan dakwahnya dan masuk ke agama mereka yang berdasarkan kemusyrikan itu. Nabi Syuaib berkata: "Alangkah besarnya dosa dan kebohongan kami terhadap Allah swt. apabila kami kembali kepada agama kamu padahal Allah telah menyelamatkan kami daripadanya dan Dia telah menunjuki kami kepada jalan yang lurus. Apabila seseorang mengikuti agama kamu tanpa pengetahuan dianggap sebagai orang yang mengadakan kebohongan terhadap Allah swt., maka bagaimanakah halnya orang yang sengaja mengada-adakan kebohongan terhadapnya, dan sengaja menyimpang dari jalan yang telah ditunjukkan-Nya secara sadar, dan mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Kekafiran semacam itu adalah kekafiran yang paling jahat. Berbuat kebohongan kepada Allah swt. adalah perbuatan yang amat keji tidak akan diampuni-Nya. Oleh sebab itu kami tidak akan melakukannya."
Dari penegasan Nabi Syuaib ini dapat pula diambil kesimpulan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan para pengikutnya dan sahabat-sahabatnya, termasuk dirinya sendiri dari agama syirik yang dianut kaumnya itu, atau dapat pula diartikan bahwa Allah swt. telah menyelamatkan Nabi Syuaib dari kemusyrikan. Sehingga ia tidak pernah menganut kepercayaan yang dianut kaumnya itu dan tidak menyembah apa-apa yang disembah oleh mereka. Maka Allah swt. lah yang menunjukinya kepada cara yang benar. Ini sama halnya dengan apa yang dialami Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana ditegaskan Allah dalam Alquran dengan firman-Nya:

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى
Artinya:
Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
(Q.S Ad Duha: 7)
Dan firman-Nya lagi:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Alquran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Alquran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Alquran itu cahaya yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
(Q.S Asy Syura: 52)
Selanjutnya Nabi Syuaib menegaskan kepada kaumnya, bahwa tidaklah layak dan tidak masuk akal, bahwa dia dan para pengikutnya akan meninggalkan agama yang benar serta kembali kepada agama mereka, kecuali jika Allah menghendakinya. Maksudnya ialah bahwa dia beserta para pengikutnya yakin sungguh, bahwa agama yang dianut kaumnya itu adalah agama yang tidak benar sedangkan agama yang dianutnya beserta para pengikutnya adalah agama yang benar dapat menjamin kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.
Sudah barang tentu Allah swt. tidak menghendaki agar Nabi Syuaib dan para pengikutnya kembali kepada agama kaumnya yang penuh dengan kemusyrikan itu, sebab Allah sendirilah yang telah membebaskannya dari kemusyrikan itu dan menunjukinya kepada agama yang benar. Oleh sebab itu janganlah diharapkan bahwa Nabi Syuaib dan para pengikutnya akan kembali kepada agama mereka.
Kemudian Nabi Syuaib mengingatkan pula bahwa ilmu Allah swt. adalah Maha Luas meliputi segala sesuatu. Ia mengetahui segala hikmah dan hal-hal yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-Nya. Dan kehendak-Nya senantiasa berlaku sesuai dengan hikmah tersebut. Maka segala sesuatu yang terjadi pada makhluk-Nya tidaklah terlepas dari hikmah tersebut. Oleh sebab itu kepada-Nya sajalah ia dan para pengikutnya bertawakal dan berserah diri dan disertai ketaatan dalam menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, yaitu menjaga syariat dan agama-Nya. Dialah yang akan melindungi Nabi Syuaib dan para pengikutnya itu dari segala ancaman dan gangguan kaumnya dan dari segala bahaya yang ia tidak mempunyai daya upaya untuk menghindari dan melawannya.
Perlu diketahui bahwa salah satu syarat dari tawakal ialah keteguhan dalam melaksanakan syariat yang telah ditetapkan Allah, serta mematuhi peraturan umum yang ditentukan-Nya, baik mengenai alam maupun masyarakat, terutama hubungan antara sebab dan akibat. Misalnya bila kita ingin memperoleh rezeki dari Allah, maka kita harus berusaha, serta menjaga peraturan Allah dan menjalankan usaha-usaha tersebut. Apabila usaha sudah dijalankan menurut cara-cara yang diperlukan, serta menjaga peraturan yang telah ditetapkan Allah dan syariat-Nya, maka barulah kita bertawakal. Tawakal yang dilakukan tanpa didahului dengan usaha yang benar dan sesuai dengan peraturan Allah adalah tawakal yang tidak benar. Itulah sebabnya Rasulullah saw. pernah menegur seseorang yang tidak menambatkan untanya ketika ia mau menghadap Rasulullah, karena katanya ia telah bertawakal kepada Allah lebih dahulu. Seharusnya ia menambatkan untanya terlebih dahulu sebelum ia meninggalkannya. Ini merupakan usaha sebagai syarat untuk bertawakal. Menurut keadaan yang biasa berlaku, unta tidak akan lari bila ia telah ditambatkan dengan baik.
Allah swt. berfirman:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya:
Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
(Q.S Ali Imran: 159)
Berazam ialah membulatkan tekad. Kebulatan tekad itu barulah kita peroleh setelah kita melakukan usaha-usaha yang layak yang diperlukan untuk mencapai tujuan, serta mengindahkan peraturan-peraturan yang ditetapkan syariat.
Setelah Nabi Syuaib menyatakan penyerahan dirinya kepada Allah swt. diakhiri dengan doa semoga Allah memberikan keputusan yang adil antara dia dan kaumnya. Sesudah itu, ia menyatakan pengakuan dan keyakinannya bahwa Allah swt. adalah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya karena Ia Maha Adil dan Maha Mengetahui.
Sebagaimana diketahui, sebelum lahirnya Nabi Syuaib di Madyan telah banyak rasul-rasul yang diutus Allah swt. untuk menyampaikan agama-Nya kepada umat manusia. Dan pada umumnya, para rasul itu mendapat tantangan dan dimusuhi oleh sebagian kaumnya, yaitu mereka yang ingkar kepada Allah swt. Pada akhirnya, para rasul tersebut mendapat pertolongan dari Allah karena mereka adalah orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan selalu bersikap jujur dan berbuat baik. Sebaliknya orang-orang kafir itulah yang menemui nasib malang akibat kekafiran mereka itu.


90 Pemuka-pemuka kaum Syuaib yang kafir berkata (kepada sesamanya):` Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu jika berbuat demikian (menjadi) orang-orang yang merugi `.(QS. 7:90)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 90

وَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ (90

Orang-orang yang kafir di antara kaum Nabi Syuaib, yaitu pemuka-pemuka mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mendustakan Rasul-Nya sudah keterlaluan dalam berbuat kezaliman, antara lain dengan menghalang-halangi orang lain untuk beriman kepada Nabi Syuaib dan agama yang dibawanya, mereka itu berkata: "Jika kamu beriman dan mengikuti seruan Syuaib yang mengajak kepada agama tauhid, niscaya kamu akan merugi akibat perbuatan itu dan karena meninggalkan agama nenek moyang yang kamu anut selama ini. Kamu akan kehilangan kemuliaan dan kehormatan, karena dengan mengikuti Syuaib itu kamu akan menganggap bahwa nenek moyang kamu adalah orang-orang yang sesat dan akan diazab di sisi Allah swt. Di samping itu, kamu juga akan kehilangan harta benda dan keuntungan yang berlipat ganda dalam perdagangan karena agama Syuaib tidak memperbolehkan melakukan penipuan dalam jual beli, terutama mengenai takaran dan timbangan."
Pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib itu bersikap angkuh dan kufur. Sikap angkuh itu timbul karena mereka berkuasa di negeri itu, dan sifat inilah yang mendorong mereka untuk mengeluarkan ancaman kepada Nabi Syuaib dan para pengikutnya untuk mengusir mereka dari Madyan. Sedang sifat kufur mereka telah menyebabkan mereka itu bertindak untuk menghalang-halangi orang lain untuk menganut agama Allah yang dibawa oleh Nabi Syuaib. Teranglah bahwa mereka itu adalah orang-orang yang sesat dan berusaha untuk menyesatkan orang lain.


91 Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.(QS. 7:91)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 91 

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (91

Keingkaran kepada Allah swt. serta perbuatan menghalangi orang lain untuk menganut agama Allah adalah kejahatan yang amat besar. Dan orang-orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman yang setimpal. Oleh sebab itu, Allah swt. telah menimpakan kepada mereka azab yang berat yaitu gempa yang dahsyat yang membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka seolah-olah mereka tidak pernah ada di negeri itu.
Kisah Nabi Syuaib ini selain kita dapati dalam surah Al-A`raf juga kita dapati dalam surah Hud. 329) Akan tetapi ada perbedaan yang menyebutkan nama azab yang ditimpakan kepada kaumnya yang kafir itu. Dalam surah Al-A`raf ayat 91 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa "Ar-Rajfah", yaitu gempa yang dahsyat. Sedangkan dalam surah Hud ayat 94 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa "Ash-Shaihatu" 330), yaitu suara keras yang mengguntur. Namun kedua ayat itu tidaklah berlawanan, karena kedua macam azab ini dapat terjadi dalam satu rentetan dan menimbulkan akibat yang sama, yaitu membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah-rumah mereka.
Kisah Nabi Syuaib juga terdapat dalam surah Asy-Syu'ara, dan di sini disebutkan bahwa Nabi Syuaib diutus Allah kepada penduduk negeri Aikah. Sedangkan dalam surah Al-A`raf disebutkan bahwa Nabi Syuaib adalah saudara sebangsa dari kaum Madyan, yaitu penduduk negeri Madyan. 331)
Menurut keterangan Ishak Ibnu Basyar yang diperolehnya dari Ibnu Asakir, mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah memberikan penjelasan sebagai berikut: "Penduduk Aikah itu adalah orang-orang yang mendiami daerah rawa-rawa yang terletak antara pantai Laut Merah dan negeri Madyan." Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa Nabi Syuaib telah diutus Allah kepada kaumnya yang telah mempunyai hubungan dengan mereka sampai ke pantai Laut Merah. Dan kedua kaum itu sama halnya, baik mengenai kekafiran mereka maupun mengenai perbuatan-perbuatan maksiat yang mereka lakukan, misalnya ketidakjujuran mereka dalam menimbang dan menakar ketika berjual beli. Nabi Syuaib menyiarkan agama kepada mereka semua. Azab yang ditimpakan Allah telah mengenai kedua golongan itu dalam waktu yang sama, atau dalam waktu yang berdekatan jaraknya, maka azab yang ditimpakan kepada penduduk Madyan adalah berupa "Ar-Rajfah", yaitu suara gempa yang amat dahsyat yang disertai suara gemuruh yang amat keras. Sedang azab yang ditimpakan kepada penduduk Aikah adalah berwujud angin samun dan udara yang sangat panas yang berakhir dengan datangnya gumpalan awan. Mereka lalu berkumpul ke tempat yang teduh untuk mendapatkan udara yang sejuk, akan tetapi tiba-tiba awan itu ditimpakan kepada mereka sehingga semuanya mati terhimpit karena tidak dapat bernafas. Akan tetapi di samping itu, sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa azab yang ditimpakan kepada kedua golongan itu adalah sama dan serupa. 332)


92 (Yaitu) orang-orang yang mendustakan Syuaib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syuaib mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. 7:92)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 92

الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ (92

Pada ayat-ayat yang terdahulu telah disebutkan bahwa pemuka-pemuka kaum Nabi Syuaib pernah mengeluarkan ancaman kepadanya, yaitu untuk mengusirnya bersama para pengikutnya dari negeri Madyan apabila mereka tidak mau kembali kepada agama nenek moyang mereka. Dan di samping itu, kepada khalayak ramai pun mereka mengatakan bahwa siapa yang mengikuti Nabi Syuaib pasti akan merugi. Mungkin timbul pertanyaan dalam pikiran kita: "Lalu bagaimana kesudahannya kedua ancaman itu?" Maka dalam ayat ini Allah swt. memberikan penjelasan sebagai jawabannya. Mengenai yang pertama, Allah swt. menegaskan sebaliknyalah yang terjadi yaitu bahwa orang-orang yang telah mengancam untuk mengusir Nabi Syuaib dari Madyan, justru merekalah yang rusak binasa dan hilang lenyap, sehingga seakan-akan mereka tak pernah hidup dan mendiami negeri ini. Mengenai yang kedua, juga demikian yaitu bahwa orang-orang yang mendustakan Nabi Syuaib dan mengatakan bahwa siapa yang mengikuti agamanya pasti akan merugi, justru merekalah yang benar-benar merugi sedang orang-orang yang beriman dan mengikuti agama yang dibawa oleh Nabi Syuaib adalah selamat dan memperoleh rida Allah swt.
Dari ayat ini dapat diambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa orang yang sangat menginginkan untuk tetap tinggal di negeri mereka dengan hidup senang dan berbuat sewenang-wenang terhadap pihak-pihak yang mencintai dan memegang teguh kebenaran, niscaya akan menemui akibat yang bertentangan dengan harapan mereka, yaitu kesirnaan yang abadi dari negeri mereka itu. Demikian pula orang-orang yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dengan jalan mengambil harta orang lain dengan cara yang batil niscaya akan menemui nasib yang amat malang, yaitu kehilangan harta benda dan laba untuk selama-lamanya.


93 Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata:` Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku telah memberi nasehat kepadamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir? `(QS. 7:93)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 93

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ (93

Ketika azab itu menimpa kaum Nabi Syuaib, lalu dia pergi meninggalkan mereka, dan dengan penuh kesedihan ia berkata: "Wahai kaumku, aku telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu, dan aku telah melaksanakan tugasku terhadapmu, dan aku telah memberikan nasihat yang cukup kepadamu, namun kamu membelakangi kesemuanya itu, maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?"
Nabi Syuaib diutus Allah untuk menuntun kaumnya kepada agama yang benar untuk mencapai rida Allah serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk itu Nabi Syuaib telah mencurahkan segenap tenaganya. Tetapi mereka telah memilih jalan kesesatan. Mereka bahkan mendustakannya, serta mengancam untuk mengusirnya dari tanah airnya. Mereka telah melemparkan diri mereka sendiri ke jurang kebinasaan, karena kekafiran mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya.


94 Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri.(QS. 7:94)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 94 

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (94

Allah swt. menjelaskan dalam ayat ini bahwa salah satu dari sunah-Nya yang berlaku ialah bahwa bila Dia mengutus rasul-Nya kepada suatu umat kemudian umat tersebut mendustai rasulnya itu, maka Allah menimpakan cobaan kepada umat tersebut berupa kesempitan dan penderitaan. Cobaan tersebut dimaksudkan untuk menginsyafkan mereka sehingga menjadi umat yang tunduk dan rendah hati serta dengan ikhlas berdoa kehadirat Allah swt. agar mereka dilepaskan dari azab tersebut.
Para ahli dalam ilmu jiwa dan ilmu pendidikan mengatakan, bahwa kemewahan dan kesenangan hidup menyebabkan manusia lupa kepada agama Tuhannya. Akan tetapi, bila suatu ketika ia ditimpa kesusahan dan kesempitan, maka hal itu akan menimbulkan keinsyafan dalam hatinya, lalu kembali ke jalan yang ditunjukkan agamanya, dan berusaha untuk memperbaiki dirinya.
Seseorang barulah dapat merasakan nikmat kekayaan bila suatu ketika ia pernah kehilangan kekayaan itu. Dan ia baru mengerti nikmat kesehatan bila suatu ketika ia pernah merasa kehilangan kesehatannya itu. Demikian pula halnya dengan nikmat-nikmat lainnya yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia.
Dengan demikian jelaslah, bahwa apabila suatu ketika Allah swt. mencabut nikmat-Nya dari seseorang atau sesuatu bangsa, maka hal itu akan memberikan keinsyafan kepadanya serta mengembalikannya kepada keimanan dan ketaatan kepada Allah swt. dan mempertinggi keyakinannya tentang sifat-sifat kekuasaan, keadilan dan kasih sayang kepada makhluknya. Oleh sebab itu mereka akan kembali merendahkan diri kepada Allah dan tunduk kepada peraturan-Nya, serta mengharapkan belas kasih-Nya untuk melepaskan mereka dari kesusahan yang menimpanya.


95 Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata:` Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan `, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.(QS. 7:95)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 95

ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (95

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan, bahwa setelah umat tadi ditimpa kesusahan dan kesulitan hidup, dan mereka berusaha memperbaiki diri serta berdoa kepada Allah, maka Allah swt. lalu memberikan kepada mereka nikmat dan kelapangan hidup sehingga mereka memperoleh kemakmuran dan harta benda yang cukup. Kemakmuran dan kecukupan harta benda ini menimbulkan pula kesuburan bagi mereka sehingga keturunan mereka berkembang. Harta benda yang cukup dan keturunan yang banyak adalah merupakan puncak kenikmatan bagi manusia.
Orang-orang yang beriman, jika memperoleh nikmat dari Allah swt., baik berupa harta benda maupun keturunan, tentu akan bertambah keimanan dan rasa syukur-Nya, dan akan melakukan kebajikan yang lebih banyak. Akan tetapi orang-orang yang lemah iman, bila memperoleh kemakmuran dan kenikmatan yang banyak, lupalah ia kepada Allah Yang memberikan nikmat tersebut, dan timbullah rasa sombong dan angkuhnya. Mereka berkata: "Nenek moyang kami dahulu juga pernah merasakan kenikmatan dan kesusahan. Demikian pula kami ini. Kesusahan yang pernah kami alami, dan kebahagiaan yang kami rasakan sekarang adalah sama saja dengan apa yang pernah dialami nenek moyang kami. Kesusahan yang menimpa kami bukanlah akibat dari dosa-dosa yang telah kami perbuat. Dan kebahagiaan yang kami peroleh bukanlah hasil dari kebajikan-kebajikan yang kami lakukan. Semuanya itu adalah kelaziman yang terjadi sepanjang masa."
Demikianlah, kekayaan dan kebahagiaan telah membuat mereka lupa kepada hubungan antara sebab-akibat. Serta menyebabkan mereka lupa kepada kekuasaan, keadilan dan kasih sayang Allah swt. Hal ini disebabkan karena mereka itu tidak memahami sunah Allah swt. yang berlaku dalam alam ini; mereka tidak memahami faktor-faktor yang menimbulkan kebahagiaan dan kesengsaraannya di bumi ini. Padahal Allah swt. telah memberikan bimbingan dengan firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya:
Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.
(Q.S Ar Ra'd: 11)
Oleh karena itu, keingkaran dan kesombongan mereka, timbul setelah memperoleh kemakmuran, maka Allah swt. menimpakan kepada mereka azab yang datang secara tiba-tiba sedang mereka tidak menyadari akan datangnya azab tersebut lantaran mereka tidak memahami sunah Allah yang berlaku dalam urusan masyarakat, dan akal mereka pun tidak mampu memikirkan hal itu. Lagi pula mereka tidak mau mengikuti petunjuk dan nasihat serta peringatan Rasul kepada mereka. Dalam hubungan ini Allah swt. telah berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
Artinya:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka sehingga apabila mereka telah bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus-asa.
(Q.S Al An'am: 44)
Adalah menjadi sifat orang kafir, bahwa bila mereka memperoleh kenikmatan dan kebahagiaan lalu takabur dan lupa daratan, tidak mensyukuri nikmat Allah. Sebaliknya bila mereka ditimpa musibah, lalu berputus asa dan berkeluh-kesah, tidak memikirkan sebab-sebab yang ada pada diri mereka yang menimbulkan musibah itu.
Kebahagiaan yang diperoleh sesudah kesusahan yang kemudian disusul dengan azab sengsara, tidak hanya dialami oleh kaum Nabi Syuaib, bahkan umat nabi-nabi sebelumnya itu, yakni umat Nabi Nuh, Nabi Hud, dan Nabi Saleh pun telah mengalami pula. Nabi Hud telah memperingatkan kepada umatnya, yaitu kaum 'Ad sebagai berikut:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا ءَالَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada yang dimiliki oleh kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
(Q.S Al A'raf: 69)
Selanjutnya Nabi Saleh telah memperingatkan pula kepada kaumnya, kaum Tsamud hal semacam itu:

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا ءَالَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah Ad, dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah, maka ingatlah nikmat-nikmat Allah, dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.
(Q.S Al A'raf: 74)
Kita generasi yang hidup sekarang ini hendaklah menyadari hal ini benar-benar agar kita jangan mengalami nasib sial seperti yang dialami umat-umat terdahulu, lantaran keingkaran dan kesombongan mereka kepada Allah swt. Apabila bangsa kita sekarang ini telah dikarunia Allah nasib yang lebih baik, berupa kemantapan ekonomi dan kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan sebagainya, janganlah menyebabkan kita lupa daratan, lalu menambah kemaksiatan di bumi. Hendaklah kita syukuri semua nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kita, dan kita memanfaatkan menurut cara yang dirida-Nya dan kita jauhkan segala macam kemaksiatan. Semoga Allah swt. menambah selalu karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua.


96 Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. 7:96)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96

Allah swt. menerangkan dalam ayat ini, bahwa seandainya penduduk kota Mekah dan penduduk negeri-negeri yang berada di sekitarnya serta umat manusia seluruhnya beriman kepada agama yang dibawa oleh Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. dan seandainya mereka bertakwa kepada Allah sehingga mereka menjauhkan diri dari segala yang dilarangnya, seperti kemusyrikan dan berbuat kerusakan di bumi, niscaya Allah akan melimpahkan kepada mereka kebaikan dan keberkatan yang banyak, baik yang datang dari langit maupun yang datang dari bumi. Nikmat yang datang dari langit, misalnya ialah hujan yang menyirami dan menyuburkan bumi, sehingga tumbuhlah tanam-tanaman dan berkembang-biaklah binatang ternak yang kesemuanya sangat diperlukan oleh manusia. Di samping itu mereka akan memperoleh ilmu pengetahuan yang banyak, serta kemampuan untuk memahami sunatullah yang berlaku di alam ini, sehingga mereka mampu menghubungkan antara sebab dan akibat dan dengan demikian mereka akan dapat membina kehidupan yang baik, serta menghindarkan malapetaka yang biasa menimpa umat yang ingkar kepada Allah dan tidak mensyukuri nikmat dan karunia-Nya.
Akan tetapi apabila penduduk Mekah dan sekitarnya tidak beriman dan bertakwa, bahkan sebaliknya mereka mendustakan Rasul dan membelakangi yang dibawanya, maka kejahatan yang mereka lakukan, yaitu kemusyrikan dan kemaksiatan tidak mustahil Allah menimpakan siksa kepada mereka walaupun tidak sama dengan siksa yang telah ditimpakan kepada umat yang dahulu yang bersifat memusnahkan. Dan datangnya azab tersebut adalah sesuai dengan sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya dan tak dapat diubah oleh siapa pun juga selain-Nya.


97 Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?(QS. 7:97)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 97 

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97
 
Dalam ayat ini Allah swt. memberi peringatan kepada orang-orang yang ingkar dalam bentuk suatu pertanyaan: "Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman akan datangnya siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka tidur?" Maksudnya ialah bahwa siksaan Allah itu ditimpakan kepada mereka yang telah mendapatkan seruan para Rasul tetapi mereka benar-benar ingkar dan tidak menggunakan akalnya. Sebab seandainya mereka itu mau berpikir dan mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang telah dialami oleh manusia-manusia yang terdahulu akibat mereka tenggelam dalam kenikmatan hidup sehingga mereka lupa kepada Allah yang memberikan nikmat, niscaya mereka akan merasa cemas tentang kemungkinan datangnya siksaan Allah kepada mereka dan karena mempunyai rasa kecemasan semacam itu, tentulah mereka segera memperbaiki tingkah-laku mereka antara lain dengan menjauhkan diri dari segala macam kemusyrikan dan kemaksiatan akan tetapi kenyataannya bukanlah demikian. Mereka bahkan merasa aman dan tidak mempunyai kekhawatiran akan datangnya siksaan Allah kepada mereka. Hal ini tampak dari tindak-tanduk dan tingkah-laku mereka yang tenggelam dalam kenikmatan serta tetap dalam kemusyrikan dan bermacam-macam kemaksiatan kepada Allah swt.


98 Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?(QS. 7:98)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 98

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98

Dalam ayat ini sekali lagi Allah swt. mencela tingkah-laku orang-orang yang ingkar, yaitu bahwa mereka tampak lebih aman dan tidak mempunyai kekhawatiran tentang kemungkinan datangnya siksaan Allah kepada mereka ketika mereka dalam keadaan lalai, seperti kanak-kanak yang sedang asyik bermain di waktu duha, yakni ketika matahari sedang naik.
Dengan firman ini Allah swt. memperingatkan mereka bahwa siksaan-Nya mungkin saja menimpa mereka ketika mereka sedang lalai baik di waktu tidur maupun di waktu mereka asyik berfoya-foya hingga mereka tidak akan sempat lagi mempersiapkan diri untuk keselamatan mereka. Oleh sebab itu sebaiknyalah mereka insyaf dan waspada terhadap siksaan Allah apalagi mereka telah mendengar seruan Rasul dan nasihat-nasihat yang diberikan-Nya kepada mereka untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.


99 Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.(QS. 7:99)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 99 

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99

Dalam ayat ini sekali lagi Allah swt. mengulangi celaan-Nya terhadap tingkah-aku orang-orang kafir: "Apakah mereka merasa aman terhadap siksaan Allah yang tidak terduga-duga"? Kemudian Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang semacam itu kelakuannya adalah termasuk orang-orang yang merugi.
Dengan firman-Nya ini Allah swt. menegaskan bahwa orang yang berakal sehat dan memegang teguh fitrah yang dikaruniakan-Nya kepada manusia serta memperhatikan kejadian-kejadian sejarah dan memperhatikan ayat-ayat Allah tentu tidak akan merasa aman dari kedatangan azab-Nya. Akan tetapi mereka yang ingkar ini benar-benar telah kehilangan akal yang sehat serta fitrah yang dikaruniakan Allah kepada mereka dan tidak pula mau memperhatikan peristiwa-peristiwa sejarah serta ayat-ayat Allah sehingga mereka ini betul-betul telah menjadi orang-orang yang merugi. Mereka sudah kehilangan kekhawatiran terhadap siksaan Allah padahal mereka senantiasa berbuat kemaksiatan dan kemusyrikan.
Bagi orang-orang yang beriman sikap yang tepat ialah yakin tentang sifat pemaaf dan pengasih yang ada pada Allah tetapi ia senantiasa takut kepada siksaan-Nya yang mungkin datang menimpa dirinya tanpa diduga sebelumnya sebagai akibat dari perbuatan yang dilakukannya. Oleh sebab itu akan senantiasa berhati-hati dan menghindarkan diri dari hal-hal yang akan menyebabkan datangnya siksaan tersebut pada dirinya.
Oleh Alquran orang-orang kafir biasa juga disebut "orang-orang merugi". Maka orang-orang yang kehilangan rasa kekhawatiran terhadap siksaan Allah sama halnya dengan orang-orang yang berputus asa terhadap ampunan dan rahmat Allah. Kedua sifat tersebut adalah termasuk sifat-sifat orang kafir yang disebut juga orang-orang yang merugi.


100 Dan apakah belum jelas bagi orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?(QS. 7:100)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 100 

أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ (100
 
Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa umat yang mewarisi suatu negeri setelah lenyapnya penduduk negeri itu karena ditimpa siksaan Allah akibat keingkaran mereka kepada-Nya, umat tersebut memahami dan meyakini bahwa Allah Kuasa untuk menimpakan azab tersebut kepada mereka karena dosa-dosa mereka apabila Dia menghendakinya. Juga Allah Kuasa untuk mengunci mati hati nurani mereka sehingga mereka tak dapat lagi menerima pelajaran dan nasihat agama dan tidak mau beriman.
Sebagaimana telah disebutkan pada bagian terdahulu Allah swt. telah mengutus beberapa orang rasul kepada umat mereka sebelum diutusnya Nabi Syuaib kepada kaumnya. Umat-umat terdahulu telah ditimpa siksaan Allah lantaran dosa-dosa dan keingkaran mereka kepada Allah. Siksaan yang menimpa mereka adalah sedemikian hebatnya memusnahkan mereka sedemikian rupa sehingga mereka seolah-olah tidak pernah ada di muka bumi ini. Setelah mereka itu lenyap, maka Allah mendatangkan umat yang baru untuk menghuni negeri tersebut. Umat yang baru ini mengetahui sejarah umat terdahulu itu karena buku-buku dan kitab-kitab suci mereka menyebutkan hal itu. Mereka mengetahui apa yang dialami umat tersebut, yaitu azab yang dahsyat. Dan mereka tahu pula hal-hal yang menyebabkan didatangkannya azab tersebut kepada mereka, yaitu lantaran dosa-dosa dari keingkaran mereka kepada Allah dan rasul-Nya.
Seharusnya mereka dapat mengambil pelajaran dari kesemuanya itu, dan dapat memahami bahwa Allah kuasa untuk menimpakan azab yang serupa itu kepada diri mereka bila mereka berbuat dosa dan kemaksiatan pula seperti umat yang terdahulu itu. Semuanya takluk di bawah kekuasaan Allah. Ia kuasa menimpakan azab kepada mereka bila Ia menghendakinya sebagaimana Ia telah menimpakan azab kepada umat terdahulu.
Ayat tersebut tidak hanya merupakan peringatan bagi orang-orang kafir melainkan juga bagi orang-orang muslimin. Setelah mengetahui sebab-sebab ditimpakan-Nya azab kepada umat para rasul yang terdahulu itu dan setelah mengetahui sunnatullah mengenai umat-umat yang berdosa, maka seharusnyalah kita menjauhkan diri dari kesalahan-kesalahan serupa itu agar kita tidak ditimpa siksa Allah yang akan menyebabkan kita kehilangan segala-galanya.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [11]
Ayat 81 s/d 100 dari [206]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Program penambahan Ruang Kelas Tpq Nuruddin


TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-A'RAAF AYAT 61 - 80 ( 04 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-A'RAAF
Ayat [206]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/11
61 Nuh menjawab: `Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam`.(QS. 7:61)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 61 

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلَالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (61
Ayat ini menerangkan tangkisan Nabi Nuh terhadap tuduhan kaumnya dengan menegaskan bahwa dia sekali-kali tidak berada dalam kesesatan karena ia sebenarnya adalah utusan daripada Allah dan bahwa yang diserukannya itu bukanlah timbul dari pikirannya semata-mata yang mungkin didorong oleh kepentingan pribadi. Tetapi apa yang dikemukakan itu adalah wahyu Allah yang pasti benarnya karena itu harus disampaikannya kepada mereka supaya mereka dapat mencapai kebahagiaan dan terhindar dari kebinasaan akibat mempersekutukan Allah.

62 `Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui`.(QS. 7:62)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 62 

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (62

Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Nuh menegaskan lagi kepada kaumnya bahwa dia mendapat tugas dari Allah swt. untuk menyampaikan perintah-perintah Tuhannya supaya manusia beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa kepada hari kemudian, kepada rasul-rasul yang diutus Allah, kepada malaikat-malaikat Allah dan menyampaikan juga hukum-hukum yang Allah tentukan baik yang berkenan dengan ibadah maupun yang berkenaan dengan muamalat. Nabi Nuh dalam menyampaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya oleh Tuhan disertai dengan ancaman halus berupa nasihat-nasihat kepada kaumnya supaya takut kepada siksaan Allah sebagai alasan terhadap orang-orang yang tidak beriman kepadanya serta mendustakan rasul-rasul-Nya. Nabi Nuh a.s. dalam penyampaian nasihat-nasihat kepada kaumnya itu menegaskan pula bahwa ia benar-benar mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh kaumnya karena semuanya itu diketahuinya dari Allah. Demikianlah gigihnya Nabi Nuh a.s. dalam meyakinkan kaumnya.

63 Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?(QS. 7:63)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 63 

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (63

Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan tentang kecaman Nabi Nuh a.s. kepada kaumnya bahwa tidaklah patut mereka itu mendustakan dan merasa heran atau ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka sendiri. Dia memperingatkan mereka tentang azab yang akan menimpa mereka bilama mereka tetap dalam kekafiran. Dan dengan peringatan itu mereka akan dapat memelihara diri dari perbuatan syirik dan mungkar sehingga mereka memperoleh rahmat Allah swt.
Adapun yang menyebabkan keraguan dan keheranan kaumnya tentang kerasulannya karena mereka tidak mempunyai sifat kelebihan dan keistimewaan. Tetapi jika mereka menggunakan pikiran dan akal sehat bahwa kelebihan antara manusia itu di samping diperoleh dengan usaha manusia itu sendiri juga didapat dari karunia Allah karena Allah Yang Maha Kuasa.
Dalam kenyataan hidup manusia tampak perbedaan perseorangan manusia itu baik perbedaan jasmaniah maupun rohaniah. Oleh karena itu semestinya mereka menyambut seruan dari salah seorang yang memiliki kelebihan dan keistimewaan untuk menyelematkan mereka dari siksa Allah akibat kekufuran mereka. Dan membawa mereka kepada kebenaran dan bertakwa kepada Allah untuk memperoleh keridaan dan rahmat-Nya.

64 Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).(QS. 7:64)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 64

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ (64

Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan kaum Nabi Nuh masih tetap mengejek dan mendustakannya, mereka tetap menentang perintah Tuhan dan bertambah hanyut dalam kedurhakaan. Hati nurani mereka tertutup sehingga mereka tidak dapat mengambil pelajaran dari tanda-tanda kebesaran Allah dan mereka tidak dapat mengambil hikmat manfaat terhadap pengutusan para rasul. Telinga mereka pun menjadi tuli sehingga mereka tidak dapat membenarkan adanya hari kemudian, hari pembalasan yang disampaikan oleh Nabi Nuh yang semestinya diketahui oleh manusia bahwa seorang yang hidup di dunia ini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Allah swt. sebagai Penciptanya, menunjukkan kepada adanya kehidupan pada hari kemudian tetapi manusia yang tidak menggunakan pikirannya menduga bahwa kehidupan manusia itu hanya di dunia saja tanpa ada pertanggungjawaban di akhirat. Secara tak sadar mereka telah menyamakan dirinya dengan makhluk hewan karenanya timbullah perbuatan-perbuatan mereka yang durjana di atas bumi ini. Di atas dasar inilah keingkaran kaum Nuh, maka datanglah azab Allah kepada mereka berupa angin topan dan hujan yang mengakibatkan banjir yang menenggelamkan mereka. Pengikut-pengikut kaum Nuh yang sedikit jumlahnya diselamatkan oleh Allah dari tenggelam di waktu terjadinya topan karena mereka berada dalam perahu yang telah disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya dan menenggelamkan kaumnya yang hanyut di dalam kekufuran dan kemaksiatan itu.

65 Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka (Hud). Ia berkata: `Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?`(QS. 7:65)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 65 

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ (65

Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus kepada kaum `Ad Nabi Hud dari kalangan mereka sendiri dan memerintahkan kepadanya untuk menyeru kaumnya supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan segala sesuatu yang dituhankan mereka karena selain Allah bukanlah Tuhan, karenanya tidak patut disembah, karena segala ibadat haruslah diperuntukkan kepada Allah sendiri dan tidaklah bagi lain-Nya. Oleh sebab itu Nabi Hud a.s. menganjurkan kepada mereka supaya bertakwa kepada Allah dan meninggalkan segala sesuatu yang dimurkai-Nya untuk menghindarkan diri daripada siksaan-Nya. Pada waktu dan kesempatan yang lain beliau menyilahkan kepada kaumnya agar mereka menggunakan akal pikirannya. Firman Allah swt.:


وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُودًا قَالَ يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا مُفْتَرُونَ(50)يَاقَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي أَفَلَا تَعْقِلُونَ(51
Artinya:
Dan kepada kaum `Ad (Kami utus) saudara mereka, Hud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak minta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkannya?"
(Q.S Hud: 50-51)
'Ad adalah anak Iram bin Aus bin Sam bin Nuh. Demikian diterangkan oleh Muhammad bin Ishak. Menurut Ibnu Ishak, Al-Kalbi berkata: Kaum `Ad itu adalah penyembah berhala sebagaimana halnya kaum Nabi Nuh yang mematungkan orang-orang yang dipandang keramat setelah mati. Kemudian ditingkatkan patung-patung itu sebagai tuhan. Kaum `Ad pun membuat patung-patung, mereka namakan Samud dan yang lain lagi mereka namakan Al-Hatar. Kaum `Ad itu bertempat tinggal di Yaman di daerah Ahqaf antara Amaan dan Hadramaut. Mereka adalah kaum yang berbuat kerusakan di bumi ini karena mereka berbangga dengan kekuatan fisik yang tidak dimiliki oleh kaum yang lain.
Mereka memperlakukan penduduk bumi ini sekehendak mereka secara zalim. Karena itu Allah mengutus Nabi Hud dari kalangan mereka sebab sudah menjadi kebijaksanaan Allah pengutusan rasul-rasul itu diambil dari kaumnya sendiri yang lebih mengerti tentang kaumnya dan lebih dapat diterima seruannya karena mengetahui kepribadiannya. Akan tetapi ketika Nabi Hud menjalankan risalahnya yaitu menyeru kaumnya supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan perbuatan yang zalim, seruan Nabi Hud tersebut mereka dustakan dan malahan mereka menentangnya sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah yaitu:


فَأَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوا مَنْ أَشَدُّ مِنَّا قُوَّةً أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَهُمْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يَجْحَدُونَ
Artinya:
Adapun kaum `Ad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata: "Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami?" Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami.
(Q.S Fussilat: 15)

66 Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: `Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta`.(QS. 7:66)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 66 

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ إِنَّا لَنَرَاكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ الْكَاذِبِينَ (66

Ayat ini menerangkan bahwa para pemuka kaum Hud yang tetap dalam kekufuran dan tetap menentang kerasulan Hud bukan saja menolak seruannya malahan mereka menegaskan bahwa mereka berada dalam agama yang benar dan mereka memandang bahwa Nabi Hud itulah yang berada dalam kesesatan disebabkan ia meninggalkan agama mereka dan menghina orang-orang yang terkemuka di kalangan kaumnya yang mereka anggap suci. Orang-orang yang dianggap suci itu setelah mati mereka keramatkan dalam bentuk patung guna mendapatkan syafaatnya dan keberkatan dari mereka. Nabi Hud a.s. menentang paham mereka itu. Karena itu mereka menuduh bahwa Nabi Hud adalah pendusta berada dalam kesesatan sebagaimana halnya rasul-rasul dahulu juga didustakan oleh kaumnya, disebabkan mereka berlawanan paham dengan kaumnya.

67 Hud berkata: `Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.(QS. 7:67)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 67

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (67

Ayat ini menerangkan bantahan bahwa dia (Nabi Hud) tidak sekali-kali berada dalam kesesatan sebagai yang mereka tuduhkan karena dia adalah utusan Allah diutus kepada mereka untuk menyampaikan perintah-perintah-Nya, Tuhan semesta alam Yang Maha Mengetahui siapa yang sesat atau lemah akal pikirannya dan siapa yang berada dalam kebenaran atau yang sempurna akal pikirannya.

68 Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu`.(QS. 7:68)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 68

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنَا لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ (68

Ayat ini menerangkan penegasan Nabi Hud kepada kaumnya bahwa dia hanyalah menyampaikan perintah-perintah Tuhannya supaya mereka beriman kepada-Nya, kepada hari kemudian, kepada rasul-rasul, kepada malaikat-malaikat Allah, kepada adanya surga dan neraka dan supaya mereka melaksanakan perintah-perintah Tuhan baik yang berhubungan dengan ibadat maupun muamalat. Nabi Hud menegaskan bahwa dia adalah benar-benar seorang yang ikhlas dan orang yang dipercaya. Dengan kata-kata ini seolah-olah Nabi Hud mengemukakan kepada kaumnya: tidaklah wajar bagiku berdusta kepada Tuhanku yang mengutus aku sebagai rasul.
Demikianlah gambaran budi pekerti rasul-rasul pilihan Allah ketika menghadapi pembangkangan kaum yang bukan saja menentang malahan secara tidak sopan menuduh rasul-rasul dengan tuduhan-tuduhan yang rendah sekali. Namun demikian para rasul itu menghadapi mereka dengan tenang dan dengan hati yang penuh kesabaran.

69 Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.(QS. 7:69)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 69 

أَوَعَجِبْتُمْ أَنْ جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَلَى رَجُلٍ مِنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (69

Dalam ayat ini, Allah swt. menerangkan kecaman Nabi Hud a.s. kepada pemuka-pemuka kaumnya bahwa tidaklah patut mereka merasa heran dan ragu-ragu terhadap kedatangan peringatan dan pengajaran dari Tuhan yang dibawa oleh seorang laki-laki di antara mereka. Pengajaran Allah swt. itu datang kepada mereka justru pada saat mereka berada dalam kesesatan. Semestinya mereka tidak perlu heran dan takjub kepada pribadi orang yang membawa seruan. Hendaknya mereka mempergunakan akal pikiran memperhatikan seruan yang dibawa kepada mereka itu yaitu seruan yang benar, seruan yang menyelamatkan diri mereka dari azab Allah. Laki-laki itu juga mengingatkan kepada mereka nikmat serta rahmat Allah bukan saja mereka sebagai ahli waris kaum Nuh yang diselamatkan Allah dari topan karena keimanan mereka kepada-Nya, tetapi juga Allah melebihkan mereka dari kekuatan fisik serta tubuh yang besar. Oleh sebab itu hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan bertakwa kepada-Nya. Kalau mereka tidak bersyukur, Allah akan menjatuhkan azab-Nya sebagaimana Allah menyatakan azab kepada kaum Nuh yang ingkar dan menggantikan kedudukannya dengan bangsa lain. Mereka diingatkan kepada nikmat Allah itu supaya mereka bersyukur dengan menyembah-Nya seikhlas-ikhlasnya sehingga mereka menjauhi kemusyrikan dengan meninggalkan penyembahan berhala. Dengan demikian mereka harus meninggalkan penyembahan berhala untuk mencapai kebahagiaan pada hari kemudian dan mendapat tempat pada sisi Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamha-Nya yang bersyukur kepada nikmat-Nya.

70 Mereka berkata: `Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar`.(QS. 7:70)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 70 

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (70

Ternyata memanglah kaum Hud ini adalah kaum yang sangat keras kepala dan pembangkang. Mereka masih juga menjawab dan mengejek seruan Nabi Hud itu seraya mengatakan: Rupanya engkau datang kepada kami ini, hai Hud, supaya kami menyembah Allah dengan meninggalkan apa yang disembah oleh nenek-moyang kami. Tidakkah ini suatu yang menggelikan hati kami. Apakah engkau tidak mengetahui bahwa sembahan peninggalan orang-orang tua kita itu adalah mendekatkan kita kepada Tuhan sebagai perantara karena kita belum menjadi orang suci; tidakkah kita perlu kepada tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang tua kita itu. Jika sekiranya engkau memang sebenarnya utusan Allah dan memang benar apa yang engkau sampaikan kepada kami, cobalah datangkan kepada kami azab yang engkau janjikan itu.

71 Ia berkata: `Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu`. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah (azab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu `.(QS. 7:71)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 71 

قَالَ قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ رِجْسٌ وَغَضَبٌ أَتُجَادِلُونَنِي فِي أَسْمَاءٍ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا نَزَّلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ (71

Setelah kaum Hud menentangnya dan menolak seruan agar mereka meninggalkan penyembahan patung-patung, bahkan mereka minta supaya segera didatangkan kepada mereka azab, maka Nabi Hud berkata kepada kaumnya bahwa Allah telah menentukan azab yang akan ditimpakan kepada mereka dan mereka akan mengalami kemurkaan Allah swt. yakni mereka akan dijauhkan dari rahmat-Nya. Azab yang akan menimpa itu ialah angin yang sangat kencang dengan suara yang sangat gemuruh yang menghempaskan mereka mati tersungkur.
Firman Allah:


كَذَّبَتْ عَادٌ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِإِنَّا أَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا صَرْصَرًا فِي يَوْمِ نَحْسٍ مُسْتَمِرٍّتَنْزِعُ النَّاسَ كَأَنَّهُمْ أَعْجَازُ نَخْلٍ مُنْقَعِرٍ فَكَيْفَ كَانَ عَذَابِي وَنُذُرِ
Artinya:
Kaum `Ad pun telah mendustakan (pula). Maka alangkah dahsyatnya azzb-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari yang nahas terus-menerus yang menggelimpangkan manusia seakan-akan mereka pohon kurma yang tumbang. Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
(Q.S Al Qamar: 18-21)
Nabi Hud menyatakan kepada kaumnya bahwa nama-nama berhala yang baik yang mereka namakan maupun yang dinamakan oleh nenek moyang mereka tidaklah patut mereka jadikan pokok perbantahan dengan beliau. Karena pemberian nama dengan nama-nama Tuhan kepada berhala dan patung-patung itu sangat tidak masuk akal. Demikian pula menamakannya dengan pengantara untuk mendekatkan diri kepada Allah swt., atau pemberi syafaat dan lain-lain dari sifat-sifat ketuhanan. Nama-nama itu tidak ada dasarnya. Allah swt. tidak ada menurunkan keterangan dan bukti nama-nama itu. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, hanya kepada-Nya saja manusia secara langsung menyembah; tidak ada sesuatu pun yang dibenarkan menjadi sekutu-Nya. Dan jika dibenarkan tentulah Allah memberi keterangan dengan wahyu-Nya. Nabi Hud berseru kepada mereka untuk menunggu turunnya azab dari Allah yang mereka minta itu dan dia sendiri termasuk orang-orang yang menunggu untuk menyaksikan kedatangan azab yang akan menimpa kaumnya yang kafir itu.

72 Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman.(QS. 7:72)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 72 

فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَمَا كَانُوا مُؤْمِنِينَ (72

Setelah kaum Hud menentang dan menuntut azab yang dijanjikan, maka datanglah azab Allah menimpa mereka dan Allah menyelamatakan Hud a.s. beserta orang-orang yang beriman daripada azab tersebut.
Azab itu berupa angin yang sangat dahsyat yang menghabiskan riwayat kaum Hud disebabkan mereka mendustakan kebesaran Allah bahkan mengingkari utusan-utusan-Nya. Mereka dilenyapkan dari muka bumi ini dengan angin yang menghancurkan segala sesuatu sebagaimana tersebut dalam firman Allah:


تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّهَا فَأَصْبَحُوا لَا يُرَى إِلَّا مَسَاكِنُهُمْ كَذَلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
Artinya:
Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada kaum yang berdosa.
(Al Ahqaf: 25)

73 Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata:` Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya, dengan gangguan apapun, maka kamu ditimpa siksaan yang pedih `.(QS. 7:73)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 73 

وَإِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73

Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Saleh kepada kaumnya yaitu kaum Tsamud. Tsamud adalah nama suatu kabilah dari bangsa Arab yang telah dimusnahkan yang terkenal dengan istilah "Arab Baidah" yang mendiami Hijir, yaitu daerah antara Hejaz dan Syam. Samud adalah nama nenek moyang mereka yaitu anak dari `Astir bin Iram bin Sam bin Nuh. Munculnya kaum Samud itu sesudah kaum `Ad dibinasakan Allah. Menurut suatu riwayat ketika Rasulullah saw. terlibat dalam peperangan Tabuk pada tahun 9 Hijriah ia pernah melewati daerah peninggalan kaum Samud itu. Rasulullah pernah melarang para sahabat memasuki daerah tersebut dengan sabdanya yaitu:


لاتدخلوا على هؤلاء المعذبين إلا أن تكونوا باكين فإن لم تكونوا باكين فلا تدخلوا عليهم أن يصيبكم مثل ما أصابهم
Artinya:
Jangan kamu memasuki tempat-tempat mereka yang ditimpa azab Allah itu kecuali kamu dalam keadaan menangis. Maka jika kamu tidak menangis, maka janganlah kamu memasuki tempat itu supaya kami tidak ditimpa oleh musibah yang telah menimpa mereka."
(H.R Bukhari dan Muslim)
Saleh a.s. adalah nabi yang diutus oleh Allah kepada kaum Samud itu. Dia adalah dari kaum Samud yang terbaik keturunannya, kedudukannya dan keadaan rumah tangganya demikian juga akhlaknya. Mukjizat kenabiannya adalah "unta Allah". Nabi Saleh menjalankan tugasnya dengan menyampaikan perintah-perintah Tuhannya yang ditujukan kepada kaumnya. Nabi Saleh menyeru mereka supaya menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa dengan menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain dari Allah karenanya hendaklah mereka bertakwa kepada-Nya. Nabi Saleh mengajak mereka menerima seruannya dan janganlah mereka mengikuti orang-orang yang hanyut di dalam kemusyrikan. Yang membawa mereka ke dalam neraka Jahanam akibat mereka meninggalkan ajaran agama yang benar. Nabi Saleh mengatakan kepada kaumnya bahwa sudah ternyata bukti kebenaran dan kenabian itu, yaitu seekor unta yang Nabi Saleh menamakannya "Unta Allah". Yang diciptakan Allah tidak menurut biasa. Menurut sebagian ahli tafsir unta ini keluar dari batu yang keras atas permintaan kaum Saleh sebagai suatu tanda kemukjizatan yang perlu diperhatikan oleh kaumnya.
Adapun sebabnya Nabi Saleh mengemukakan kepada kaumnya seekor unta sebagai tanda kebenaran kerasulannya karena mereka meminta bukti kerasulannya. Nabi Saleh meminta kepada kaumnya supaya membiarkan unta itu memakan sesuatu yang ada di bumi Allah ini karena bumi ini kepunyaan Allah dan unta ini adalah unta Allah dan tidak wajar mereka menghalang-halangi unta itu apalagi menyakitinya dan menyembelihnya. Nabi Saleh mengancam mereka bahwa mereka akan mendapat azab yang pedih dari Allah jika mereka mengganggu atau membunuh unta itu.
Supaya tidak menimbulkan kesulitan antara mereka dan unta itu, maka diaturlah hari-hari minum ke telaga untuk mereka dan untuk unta itu karena sedikitnya persediaan air sebagaimana diutarakan oleh firman Allah:


وَنَبِّئْهُمْ أَنَّ الْمَاءَ قِسْمَةٌ بَيْنَهُمْ كُلُّ شِرْبٍ مُحْتَضَرٌ
Artinya:
Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu), tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran).
(Q.S Al Qamar: 28)
Dan juga firman Allah pada ayat yang lain yaitu:


قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُومٍ
Artinya:
Saleh menjawab: "Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu."
(Q.S Asy Syu'ara: 155)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa mereka minta ganti air minum unta itu dengan susunya.

74 Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikan kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.(QS. 7:74)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 74

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (74

Sesudah Nabi Saleh mengajak kaumnya menyembah Allah dan menasihati mereka supaya berbuat baik kepada unta itu mulailah Nabi Saleh mengingatkan mereka kepada nikmat-nikmat Allah yang mereka peroleh antara lain mereka diberi kekuasaan dan kekuatan untuk memakmurkan bumi ini sebagai pengganti kaum `Ad. Mereka diberi oleh Allah swt. kecakapan dan kesanggupan membuat istana-istana dan pengetahuan membuat bahan-bahan bangunan seperti batu bata, kapur, dan genteng dan keahlian serta ketabahan dalam memahat bukit-bukit dan gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah kediaman dan tempat tinggal mereka pada musim dingin menjadikan bukit dan gunung sebagai bungalow untuk menghindarkan bahaya hujan dan dingin dan barulah mereka keluar dari bukit itu pada musim-musim lain guna pertanian dan pekerjaan-pekerjaan yang lain. Nabi Saleh menyeru mereka supaya mengingati nikmat-nikmat Allah tersebut agar mereka bersyukur kepada-Nya dengan hanya menyembah kepada-Nya dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang merusak di atas bumi ini antara lain perbuatan yang tidak diridai oleh Allah berupa kekufuran dan kemusyrikan serta kezaliman.

75 Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka:` Tahukah kamu bahwa Shaleh diutus (menjadi rasul) oleh Tuhannya? `. Mereka menjawab:` Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya `.(QS. 7:75)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 75 
 
قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ (75

Ayat ini menerangkan bahwa pemuka yang sombong pada kaum Samud itu mengatakan kepada orang-orang yang lemah yang beriman kepada Nabi Saleh dengan cara mengejek seolah-olah mereka itu berada dalam kekeliruan karena beriman kepada kerasulan Nabi Saleh. Mereka menyatakan bahwa orang-orang yang lemah itu tidak putus asa mungkin karena percaya akan kerasulan Saleh a.s. Memanglah menurut kebiasaan bahwa golongan yang lemah tidak mempunyai kepentingan, mereka masih berpegang kepada hati nurani mereka karena itulah mereka segera menerima seruan Nabi atau nasihat-nasihat orang-orang yang saleh.
Adapun orang-orang yang terkemuka dan orang-orang yang kaya memanglah sangat berat untuk mengikuti orang lain apalagi untuk menerima nasihat-nasihat yang menghalangi mereka mengikuti keinginan hawa nafsu meskipun bertentangan dengan hati nurani mereka sendiri. Demikianlah tingkah laku orang-orang yang mempunyai kedudukan karena pangkatnya atau karena kekayaannya sebagaimana diutarakan dalam firman Allah yaitu:


وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.
(Q.S An Naml: 14)
Orang-orang yang lemah dari kaum Tsamud yang beriman itu tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, tetapi dengan bijaksana menjawab bahwa mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Saleh itu semuanya karena petunjuk-petunjuk itu benar dan datangnya dari Allah.

76 Orang-orang yang menyombongkan diri berkata:` Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu `.(QS. 7:76)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 76 

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (76

Setelah golongan lemah yang beriman itu menjawab dengan jawaban yang bijaksana bahwa mereka beriman kepada Allah, dan apa yang dibawa oleh Nabi Saleh, maka ayat ini menerangkan ucapan pemuka-pemuka kaum Tsamud yang sombong sebagai jawaban kembali terhadap ucapan orang-orang yang lemah ini. Mereka mengatakan bahwa mereka mengingkari apa-apa yang diimani oleh orang yang lemah itu. Mereka menghindari untuk mengatakan ingkar kepada apa yang dibawa oleh Nabi Saleh a.s. karena khawatir terhadap adanya kesan seolah-olah mereka mengakui akan kerasulan Saleh a.s.

77 Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata:` Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah) `.(QS. 7:77)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 77 

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ (77

Setelah mereka menyembelih unta itu dan berbuat durhaka menentang perintah-perintah Allah yang disampaikan kepada mereka oleh Nabi Saleh. Yang menyembelih unta itu seorang dari mereka, seperti dijelaskan oleh firman Allah swt.:


فَنَادَوْا صَاحِبَهُمْ فَتَعَاطَى فَعَقَرَ
Artinya:
Maka mereka memanggil kawannya lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya.
(Q.S Al Qamar: 29)
Akan tetapi dalam ayat 77 dikatakan bahwa yang membunuh unta itu adalah orang banyak di kalangan mereka. Hal mana menunjukkan perbuatan kejahatan (tindak pidana) seseorang dipandang perbuatan pidana orang banyak apabila orang yang melakukan pidana itu atas persetujuan orang banyak atau perintah mereka. Maka tanggung jawab atas tindak pidana itu dipikulkan kepadanya dan orang banyak itu bersama-sama, dan hukuman jatuh kepada keseluruhan mereka. Mereka kemudian menentang Nabi Saleh a.s. supaya dia mendapat azab yang dijanjikan kepada mereka yaitu azab Allah dan pembalasan-Nya, jika benar-benar Saleh utusan Allah yang menyampaikan ancaman dari Allah.

78 Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.(QS. 7:78)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 78 

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (78

Setelah mereka menentang Nabi dengan memandangnya rendah seraya menuntut azab Allah yang dijanjikan, maka tentulah Allah membela umatnya dan utusan-Nya. Dan ayat ini menerangkan azab Allah yang diturunkan kepada mereka itu yaitu berupa petir yang dahsyat yang menggentarkan jantung manusia, menggoncangkan bumi bagaikan gempa besar yang menghancurkan semua bangunan sehingga mereka semuanya habis yang sedang berada di luar rumah. Tentulah petir tersebut tidak seperti biasa tetapi adalah petir yang luar biasa yang khusus ditimpakan kepada mereka sebagai azab atas kedurhakaan kaum Tsamud.

79 Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata:` Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat `.(QS. 7:79)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 79 

فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ (79

Setelah kaum Tsamud binasa akibat disambar petir, ayat ini menerangkan bahwa Nabi Saleh dengan rasa haru dan sedih berkata kepada mereka yang sudah mati itu dengan kata-kata: Bahwa dia sesungguhnya telah menyampaikan amanat Tuhannya dan telah cukup memberi nasihat kepada mereka namun mereka tidak suka menerima nasihat. Seruan Nabi Saleh ini yang ditujukan kepada kaumnya yang telah mati itu menunjukkan betapa cintanya kepada kaumnya. Hal mana mengingatkan kita kepada seruan Nabi Muhammad saw. terhadap sebagian orang-orang Quraisy yang telah mati sesudah mati dikuburkan (di Qalib). Rasulullah berkata: "Wahai Si Anu anak Si Anu, adakah kamu bergembira menaati Allah dan Rasul? Kami sesungguhnya telah meyakini bahwa janji Tuhan kami adalah benar. Adakah juga sekarang ini kamu meyakini apa-apa yang dijanjikan Allah itu benar?" Umar berkata: "Ya Rasulullah, apa guna berbicara dengan tubuh yang tidak bernyawa?" Rasulullah menjawab: "Demi Tuhan di mana diriku tergantung pada-Nya. Kamu tidaklah lebih mendengar daripada mereka itu terhadap apa yang aku katakan." Demikianlah riwayat Bukhari.
Ayat 79 ini tidak mengutarakan bahwa Nabi Saleh menyingkir dari kaumnya sebelum datang azab Allah, demikian juga tidak mengutarakan tentang nasib sebagian kaum Samud yang beriman kepada Nabi Saleh a.s. Namun ayat 79 ini jelas mengutarakan bahwa Nabi Saleh a.s. diselamatkan oleh Allah swt. Jadi andaikata sebagian kaum Samud yang beriman itu turut binasa, maka hal tersebut sejalan dengan firman Allah seperti tersebut di bawah ini:


وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya:
Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
(Q.S Al Anfal: 25)
Akan tetapi tafsir Khasir mengemukakan bahwa Nabi Saleh beserta orang-orang yang beriman kepadanya meninggalkan kaumnya menuju negeri Syam sebelum Allah menurunkan azab-Nya. Dengan demikian pengikut-pengikut Nabi Saleh tidak termasuk di dalam kaum Samud yang dibinasakan Allah itu.

80 Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka:` Mengapa kamu mengerjakan perbuatan faahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelummu? `(QS. 7:80)
TKQ/TPQ/MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 80

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (80

Ayat ini menerangkan bahwa Allah mengutus Nabi Lut untuk menyampaikan amanat Tuhan kepada kaumnya supaya menyembah-Nya dan kemudian secara mengejek Nabi Lut berkata kepada mereka dengan kata-kata: "Benarkah kamu melakukan perbuatan yang sangat buruk itu; perbuatan yang belum pernah seorang pun dari manusia pada masa sebelum kamu melakukannya?" Ucapan Nabi Lut seperti itu adalah untuk menyadarkan mereka bagaimana buruknya melakukan perbuatan itu dari kalangan lain, berarti mereka itulah pelopor dalam melakukan kelakuan buruk ini dan mereka berserikat dalam dosa yang dibuat oleh pengikut mereka sampai akhir zaman. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi sebagai berikut:


من دعا إلى الهدى كان له من الأجر مثل أجور من اتبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الأثم مثل آثام من اتبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا
Artinya:
Barang siapa mengajak kepada jalan yang benar, maka dia mendapat ganjaran sama banyaknya dengan ganjaran yang diberikan kepada pengikut-pengikutnya dan tidak sedikit pun mengurangi ganjaran mereka itu. Dan barang siapa yang mengajak berbuat kejahatan, maka ia mendapat dosa sama banyaknya dengan dosa pengikut-pengikutnya dan tidak mengurangi sedikit pun dari dosa mereka itu.
(H.R Bukhari)
Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan maksud memperkembangbiakkan umat manusia guna memakmurkan alam ini karena Allah menjadikan perempuan dengan fungsi wadah memperanakkan bibit yang ditanam oleh lelaki. Untuk itu Allah menjadikan pada masing-masing nafsu birahi yang mendorong kebutuhan bertemunya antara kedua jenis tersebut selaku jalan untuk pembiakan umat manusia. Karena Allah tidak menciptakan laki-laki semata atau perempuan semata tetapi Allah menciptakan Adam dan Hawa.
Perempuan dalam bentuk kejadiannya adalah indah, halus dan menarik. Namun antara keduanya saling tarik-menarik laksana tarikan antara positif dan negatif. Jika demikian hal kejadian manusia itu alangkah ganjilnya bila ada golongan manusia yang menyimpang dari ketentuan Allah itu. Alangkah besarnya pelanggaran terhadap kemanusiaan yang dilakukan seseorang laki-laki dengan menggauli laki-laki yang tidak berfungsi untuk meneruskan keturunan.
Jika dipandang oleh masyarakat bunuh-membunuh adalah perbuatan yang sangat rendah, maka tidaklah ada perbuatan yang menjauhkan derajat manusia dari kemanusiaan lebih rendah dari itu malahan lebih rendah daripada makhluk hewan karena di kalangan hewan tidak ada yang bercampur jantan dengan jantan. Jelas hal demikian itu menunjukkan bahwa lelaki itu untuk perempuan dan perempuan untuk laki-laki dan itulah sunnatullah. Tetapi kaum Lut bukan saja mereka ingkar kepada Allah dan tidak bersyukur kepada nikmat-Nya bahkan lebih dari itu, mereka melakukan homoseksual yang juga akhirnya mendorong para wanita melakukan lesbian. Kepada kaum yang seperti ini Allah mengutus Nabi Lut untuk menyampaikan amanat Tuhan supaya kembali kepada agama yang benar dengan meninggalkan pekerjaan yang bertentangan dengan sunnatullah. Setelah mereka menolak seruan Lut, maka Allah membinasakan kaum tersebut.
Nabi Lut adalah anak Haran. Bapak Haran adalah saudara Nabi Ibrahim a.s. Lut dilahirkan di daerah tepian timur dari selatan Irak yang dahulunya dinamakan Babilon. Atas kehendak Nabi Ibrahim, Lut berdiam di kota Sodom salah satu kota di daerah Yordania. Lut wafat di sekitar Yordan dahulu terkenal dengan nama Laut Lut.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [11]
Ayat 61 s/d 80 dari [206]


Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU