Jumat, 14 Juni 2013

Tafsir Surat Al Baqarah 61-80 ( 04 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-BAQARAH
Ayat [286]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/15
61 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: `Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu: Sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya`. Musa berkata: `Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta`. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.(QS. 2:61)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 61 

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (61

Ketika orang-orang Bani Israel tersesat di padang pasir Sinai, mereka berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak tahan terhadap satu makanan saja sedang yang ada hanya "al manna" dan "as salwa" saja (85). Mereka berkata demikian disebabkan keingkaran mereka terhadap Nabi Musa dan kebanggaan dengan penghidupan mereka dahulu.
Kaum Bani Israel itu kemudian meminta kepada Musa a.s. agar berdoa kepada Tuhan semoga Dia mengeluarkan sayur-sayuran yang ditumbuhkan bumi sebagai ganti dari "manna" dan "salwa". Mereka tidak mau berdoa sendiri tetapi mengharapkan Musa sebagai perantara kepada Tuhan karena mereka memandang Musa orang yang dekat kepada Tuhan dan lagi dia seorang Nabi yang dapat bermunajat dengan Allah swt. Sayur-mayur dan lain-lain yang mereka minta itu banyak terdapat di kota-kota, tapi tidak terdapat di padang pasir. Permintaan itu bukanlah sukar dicari. Mereka memperolehnya asal saja mereka pergi ke kota karena itu nabi Musa tidak perlu berdoa kepada Allah. Nabi Musa menolak permintaan itu dengan penuh kekecewaan dan kejengkelan dengan mencela sikap mereka karena mereka meminta ganti "al manna" dan "as salwa" makanan yang sebenarnya mengandung nilai gizi yang tinggi dan sangat diperlukan oleh tubuh, dengan sayur-mayur yang lebih rendah gizinya.
Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka keluar dari gurun Sinai (tempat mereka tersebut) dan pergi menuju kota, di situlah mereka akan mendapatkan yang mereka inginkan sebab gurun Sinai tempat mereka tinggal sampai batas waktu yang telah ditentukan Allah itu, tidak dapat menumbuhkan sayur sayuran. Mereka tinggal di gurun Sinai itu, disebabkan mereka lemah dan tidak tabah untuk mengalahkan penduduk negara yang dijanjikan bagi mereka. Maka sebenarnya mereka sendirilah yang menetapkan dirinya memakan makanan semacam itu. Mereka akan dapat lepas dari hal yang tidak mereka sukai, bilamana mereka memiliki keberanian memerangi orang-orang yang di sekitar mereka yang menjadi penduduk bumi yang dijanjikan Allah dan menjamin memberi pertolongan kepada mereka. Oleh sebab ini hendaknya mereka mencari jalan mendapatkan kemenangan dan keuntungan mereka.
Setelah Allah menceritakan penolakan Musa terhadap permintaan mereka dan sebelumnya telah membentangkan pula nikmat-nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, dalam ayat ini Allah mengemukakan beberapa kejahatan keturunan Bani Israel yang datang kemudian yaitu: ingkar kepada ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi dan pelanggaran mereka terhadap hukum Allah.
Oleh sebab kejahatan-kejahatan itu, Allah menimpakan kepada mereka kehinadinaan, kemiskinan dan murka Ilahi.
Sudah semestinya mereka menerima murka Ilahi, menanggung bencana dan siksa di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Demikian pula mereka mendapatkan kehinaan, kemiskinan karena mereka selalu menolak ayat-ayat Allah yang telah diberikan kepada Nabi Musa berupa mukjizat yang terang yang mereka saksikan sendiri. Kedurhakaan dan penolakan mereka terhadap Nabi Musa adalah suatu bukti bahwa ayat-ayat Allah tidak berbekas pada jiwa mereka. Mereka tetap mengingkarinya
Mereka membunuh Nabi Asy'iya, Nabi Zakaria, Nabi Yahya dan nabi yang lain dari golongan mereka, tanpa alasan yang benar. Memang sesungguhnya; orang yang berbuat kesalahan kadang-kadang meyakini bahwa yang diperbuatnya itu adalah benar. Perbuatan mereka yang demikian itu bukanlah karena salah dalam memahami:, atau menafsirkan hukum tetapi memang dengan sengaja menyalahi hukum hukum Allah yang telah disyariatkan di dalam agama mereka. Kekafiran mereka terhadap ayat-ayat Allah dan kelancangan mereka membunuh para nabi, disebabkan mereka banyak melampaui batas ketentuan ketentuan agama mereka. Seharusnya agama mempunyai pengaruh yang hebat pada jiwa manusia, sehingga penganutnya takut menyalahi perintah-Nya. Apabila seseorang melampaui peraturan-peraturan atau batas-batas agamanya berarti pengaruh agama pada jiwanya sudah lemah. Semakin sering dia melanggar batas hukum agama itu semakin lemah pulalah pengaruh agama pada jiwanya. Sampai pada akhirnya pelanggaran-pelanggaran ketentuan-ketentuan agama itu menjadi kebiasaannya, seolah-olah ia lupa akan adanya batas-batas agama dan peraturan-peraturannya. Akhirnya lenyaplah pengaruh agama dalam hatinya
62 Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(QS. 2:62) 
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 62 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62

Dalam ayat ini Allah menjelaskan keadaan tiap-tiap umat atau bangsa yang benar-benar berpegang kepada ajaran nabi-nabi mereka serta beramal saleh, mereka akan mendapat ganjaran di sisi Allah karena rahmat dan magfirah Tuhan selalu terbuka untuk seluruh hamba-hamba-Nya untuk orang-orang Yahudi atau pun untuk lain-lainnya. Tetapi bila mana ia beriman dan bertobat, niscaya Allah mengampuninya dan memberikan ganjaran kepadanya di dunia dan di akhirat.
Yang dimaksud dengan "orang-orang yang mukmin" dalam ayat ini ialah orang yang mengaku beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. dan menerima segala yang diajarkan oleh beliau sebagai suatu kebenaran dari sisi Allah. Pengertian beriman ialah seperti yang dijelaskan Rasul saw. sewaktu Jibril a.s. menemui beliau. Beliau berkata,


أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الأخر وتؤمن بالقدر خيره وشره
Artinya:
Agar/hendaknya kamu beriman kepada Allah. malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan kamu percaya pada hari kiamat dan qadar baik atau buruk (HR Ibnu Majah dari Umar ra)
Dan yang dimaksud orang Yahudi, ialah semua orang yang memeluk agama Yahudi. Mereka dinamakan Yahudi karena kebanyakan mereka dari keturunan Yahudi, salah seorang keturunan Yakub (Israel). Yang dimaksud orang-orang Nasrani ialah orang-orang yang menganut agama Nasrani. Kata Nasrani diambil dari nama suatu daerah Nasirah (Nazareth) di Palestina tempat Nabi Isa a.s. dilahirkan Siti Maryam. Yang dimaksud orang Sabiin di sini ialah orang-orang yang mengakui keesaan Allah, beriman kepadanya tapi mereka tidak menganut agama Yahudi atau pun Nasrani. Siapa saja di antara ketiga golongan di atas yang hidup pada waktu sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw benar-benar beragama menurut agama mereka, membenarkan dengan sepenuh hati akan adanya Allah dan hari kiamat, mengamalkan segala tuntutan syariat agamanya, mereka mendapat pahala dari sisi Allah swt.
Sesudah kedatangan Nabi Muhammad saw. seluruh umat manusia, diwajibkan beriman kepadanya dan segala ajaran-ajaran yang dibawanya yakni dengan menganut Islam.
63 Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): `Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa`.(QS. 2:63)  
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 63 

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (63

Allah mengingatkan kembali kesalahan lain dari nenek moyang orang Yahudi ketika Allah mengambil janji dan mereka, yaitu bahwa mereka akan beriman dan akan mengamalkan apa yang ada di dalam Taurat. Lalu Allah mengangkat bukit Tur ke atas kepala mereka untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya supaya mereka beriman kepada-Nya dan berpegang teguh kepada Kitab Taurat itu.
Isi perjanjian tersebut ialah perintah Allah kepada mereka, "Peganglah kitab Taurat dengan sungguh-sungguh dan tetaplah mengerjakan isinya, pelajarilah Taurat itu, perhatikan isinya dan amalkanlah hukum-hukum yang termaktub di dalamnya".
Ayat ini memberi pengertian bahwa orang yang meninggalkan syariat dan meremehkan hukum-hukum Allah disamakan dengan orang yang mengingkari dan menentangnya. Sudah sepatutnya ia pada hari kiamat dikumpulkan dalam keadaan buta. Dia tidak dapat melihat jalan kemenangan dan jalan kebahagiaan. Allah swt. berfirman:


قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرًا (125) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى (126
Artinya:
Berkatalah ia, "Ya Tuhanku! Mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?". Allah berfirman, "Demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya dan begitu (pula) pada hari ini, kamupun dilupakan (tidak diperdulikan)". (Q.S Taha: 125-126) 

Apabila seseorang mengingkari syariat dan menyia-nyiakan hukum-Nya, berarti syariat itu tidak mempunyai bekas (pengaruh) apa-apa pada jiwanya. Sehubungan dengan pengertian ayat ini dapatlah dikatakan bahwa orang-orang yang hanya melagu-lagukan Alquran mereka tidak mendapat manfaat dari Alquran itu.
Maksud menuruti kitab-kitab suci ialah mengamalkan isinya, bukan hanya sekadar membaca dan melagukannya dengan macam-macam lagu yang merdu.
Kemudian Allah memerintahkan agar mereka berpegang teguh kepada Al Kitab itu dan selalu mempelajarinya dan mengamalkan isinya agar mereka menjadi orang yang bertakwa.
64 Kemudian kamu berpaling setelah (ada perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang yang rugi.(QS. 2:64)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 64


ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ (64

Allah dalam ayat ini menerangkan bahwa sesudah Bani Israel mengambil perjanjian dari Allah swt. seperti disebutkan pada ayat yang lalu, kemudian mereka berpaling dan tidak menepati isi perjanjian itu. Mereka banyak melanggar ketentuan-ketentuan dalam Taurat, baik oleh nenek moyang mereka zaman dahulu maupun oleh mereka yang hidup pada zaman kemudian. Umpamanya pada zaman mereka hidup di padang pasir Tih, mereka menentang Nabi Musa, menyakiti beliau, melawan segala perintah-perintahnya. Pada zaman kemudian mereka membunuh Nabi Yahya, mengingkari Isa a.s. bahkan merencanakan akan membunuhnya. Keingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad saw. termasuk bukti penyelewengan mereka dari Taurat. Sudah sewajarnya mereka mendapat azab dari Allah swt. sebab penyelewengan penyelewengan itu atau Allah melenyapkan dari mereka nikmat untuk selama lamanya. Tetapi Allah tidak berbuat demikian karena kasih sayang-Nya. Mereka tidak dibinasakan dan Allah selalu membuka pintu tobat bagi yang ingin kembali ke jalan yang benar.
65 Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: `Jadilah kamu kera yang hina`.(QS. 2:65)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 65 

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65
Orang Yahudi di zaman Rasul saw. telah mengetahui kisah nenek moyang mereka yang melanggar ketentuan yang terdapat di dalam Taurat, yaitu agar mereka meninggalkan pekerjaan duniawi untuk melaksanakan amal ibadat pada hari Sabtu. Mereka tidak mau melaksanakan perintah Tuhan itu karena pada setiap hari Sabtu, ikan-ikan di laut bermunculan mudah ditangkap tapi selain hari Sabtu ikan-ikan itu menghilang. ini suatu ujian dari Allah kepada mereka karena mereka hidup di tepi pantai dan mata pencaharian mereka hanya menangkap ikan karena itu pergilah mereka ke laut menangkap ikan pada hari Sabtu itu dan meninggalkan amal ibadahnya. Perbuatan mereka tersebut suatu pelanggaran terhadap ketentuan Tuhan, maka Tuhan menjatuhkan hukuman dengan menjadikan mereka kera sehingga mereka jauh dari kebaikan serta hina dan rendah.
Menurut Mujahid riwayat Ibnu Jarir, "Rupa mereka tidak ditukar menjadi rupa kera tetapi hati, jiwa dan sifat mereka dirubah menjadi seperti kera. Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami ancaman" (HR Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim dari Mujahid) Pada ayat ini mereka diserupakan dengan kera dan ayat-ayat yang lain mereka diserupakan dengan keledai, sesuai dengan firman Allah ,swt:


مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal (Q.S Al Jum'ah: 5)
Jumhur ulama berpendapat, bahwa mereka benar-benar bertukar rupa menjadi kera. Disebut di dalam riwayat lain bahwa mereka yang dirubah menjadi kera itu, tidak beranak, tidak makan, tidak minum dan tidak dapat hidup dari tiga hari.
Di dalam Alquran terdapat ayat yang maksudnya:


وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتِ
Artinya:
Dan antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orong-orang) menyembah tagut. (Q.S Al Ma'idah: 60)
Menurut "Al Manar" pendapat jumhur mufassirin bahwa mereka yang melanggar ketentuan hari Sabtu itu benar-benar menjadi kera dan babi sukarlah diterima walaupun Allah kuasa berbuat demikian. Merubah manusia menjadi hewan sebagai hukuman bagi orang yang berbuat maksiat, tidaklah sesuai dengan sunah Allah terhadap makhluk-Nya, terutama atas manusia makhluk yang dimuliakan Allah. Pendapat Mujahid lebih tepat bahwa yang berubah itu adalah mental mereka menjadi mental hewan karena nafsu duniawi yang besar pada mereka menyebabkan mereka lupa dan jauh dari nilai-nilai moral dan kemanusiaan.
Berkata Ibnu Kasir, "Pendapat yang benar ialah perubahan maknawi sebagaimana pendapat Mujahid. Jadi bukan perubahan bentuk (ujud) rupa seperti yang dikemukakan oleh Jumhur."
66 Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang di masa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang bertakwa.(QS. 2:66)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 66 

فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66
Pada ayat ini, Allah menerangkan maksud dari hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Israel untuk menjadi pelajaran bagi manusia supaya mencegahnya dari perbuatan-perbuatan yang melampaui ketentuan-ketentuan Allah, baik untuk orang yang (hidup) di waktu itu, maupun yang hidup sesudahnya sampai hari kiamat.
Siksa itu sebab juga menjadi pelajaran yang baik bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertakwa senantiasa mengambil pelajaran dengan segala macam kejadian dan selalu menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang melampaui batas.
67 Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: `Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.` Mereka berkata: `Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?` Musa menjawab: `Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil`.(QS. 2:67)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 67 

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (67
Ketika Mesa memerintahkan Bani Israel menyembelih sapi. mereka berkata kepada Nabi Musa, "Apakah kamu mempermainkan kami?" Kami bertanya kepadamu tentang perkara pembunuhan, lalu kamu menyuruh kami menyembelih sapi betina. ini ganjil sekali dan jauh dari pada yang kami maksudkan.
Seharusnya Bani Israel menjalankan perintah Nabi Musa itu dan menyambutnya dengan patuh dan taat, kemudian mereka menunggu apa yang akan terjadi sesudah itu tetapi mereka berbuat sebaliknya.
Perkataan mereka itu sebagai bukti bahwa mereka sangat kasar tabiatnya dan tidak mengakui kekuasaan Allah Taala. Musa menjawab, "Saya berlindung kepada Allah dari pada memperolok-olokan manusia" karunia perbuatan itu termasuk perbuatan orang jahil, lebih-lebih bagi seorang rasul yang akan menyampaikan risalah dan menyampaikan hukum-hukum Allah kepada manusia.
68 Mereka menjawab: `Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.` Musa menjawab: `Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu`.(QS. 2:68)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 68 

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَلِكَ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ (68
Bani Israel berkata lagi kepada Musa, "Tanyakanlah kepada Allah supaya diterangkan-Nya kepada kami, tanda-tanda lembu yang dimaksudkan itu". Musa menjawab, "Lembu yang harus disembelih itu bukan yang tua dan bukan pula yang muda tetapi yang sedang umurnya. Turutilah perintah itu dan laksanakanlah segera". Mereka disuruh segera menaati perintah itu dan dilarang berkeras kepala. Sebenarnya mereka dapat melaksanakan penyembelihan lembu itu dengan penerangan yang sudah diberikan itu. Tetapi mereka membandel dan terus melanjutkan dan memperbanyak pertanyaan. Bahkan mereka menanyakan lagi.
69 Mereka berkata: `Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.` Musa menjawab: `Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.`(QS. 2:69)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 69

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ (69
Sesudah menanyakan umur lembu itu, mereka berkata, "Mohonkanlah kepada kami, bagaimana warna lembu itu". Mereka diberi jawaban yang cukup jelas yang dapat membedakan lembu yang dimaksud itu dari yang lain. Musa mengatakan bahwa warna lembu itu kuning tua yang menyenangkan hati orang yang melihatnya. Akan tetapi mereka tidak puas dengan jawaban tersebut. Bahkan mereka terus bertanya dan menambah pertanyaan lagi yang mempersulit diri mereka sendiri.
70 Mereka berkata: `Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat pentunjuk.`(QS. 2:70)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 70 

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ (70
Pada ayat ini mereka menanyakan lagi tentang apa yang telah mereka, tanyakan sebelumnya, "Sapi apakah itu, sapi itu masih samar bagi kami".
Semua itu sebenarnya sudah diterangkan tetapi mereka merasa belum sempurna penjelasan yang telah diberikan bahkan bagi mereka masih merasa samar-samar karunia ciri-ciri lembu itu hampir serupa sehingga tidak dapat menentukan mana yang akan disembelih.
Dengan pertanyaan yang terakhir ini, mereka mengharapkan mendapat petunjuk tentang sapi yang dibutuhkan atau petunjuk kepada hikmah dan rahasia perintah penyembelihannya sapi itu.
71 Musa berkata: `Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya.` Mereka berkata: `Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya`. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.(QS. 2:71)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 71 

قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَا شِيَةَ فِيهَا قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ (71
Sapi betina yang diperintahkan untuk disembelih itu, ialah seekor sapi yang belum pernah dipergunakan untuk membajak dan mengangkut air dan tidak bercacat sedikit pun.
Setelah mendapat keterangan ini, mereka menyatakan bahwa Musa telah menguraikan hakikat sapi yang sebenarnya, yang diperintahkan kepada mereka untuk menyembelihnya. Merekapun mencari lembu betina yang memenuhi segala ciri-ciri yang telah diterangkan itu. Akhirnya mereka mendapatkannya dan kemudian mereka menyembelihnya. Hampir-hampir mereka tidak sanggup mengerjakannya karunia telah terlalu sukar untuk mendapatkan lembu yang dimaksud. Akhirnya mereka menyembelih sapi betina yang dimaksud setelah mereka menunda-nunda dan mendapati kesulitan kesulitan.
Dalam suatu hadis disebutkan, "Kalau sekiranya mereka terus menyembelih salah seekor sapi betina di kala mereka menerima perintah, cukuplah sudah. Akan tetapi mereka mengajukan pertanyaan yang memberatkan mereka sendiri, maka Allah pun memberatkannya". (HR Ibnu Jarir dari Ibnu 'Abbas)
72 Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.(QS. 2:72)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 72 

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (72

Allah swt. mengungkapkan dalam ayat ini kejahatan orang Yahudi yang berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan mereka terhadap seseorang, kemudian mereka saling tuduh-menuduh mengenai pelaku pembunuhan itu, sehingga perkara ini menjadi kabur. Tetapi Allah tidaklah membiarkan perkara ini tetap kabur dan tertutup. Untuk membuka rahasia pembunuhan ini Allah memerintahkan kepada mereka supaya menyembelih sapi betina, sebagaimana disebutkan dalam ayat 67 yang lalu.
Bila diperhatikan urutan cerita seperti yang tercantum di awal kelompok ayat ini maka ayat 72 terletak di depan ayat 67, sebab peristiwa pembunuhan inilah yang mengakibatkan adanya perintah Allah untuk menyembelih sapi. Tetapi di dalam urutan ayat peristiwa penyembelihan sapi itulah yang didahulukan. karunia yang dipentingkan ialah pengusutan perkara pembunuhan itu dengan mencari lebih dahulu pembunuhnya yaitu dengan jalan menyembelih sapi betina yang diperintahkan Allah itu.
73 Lalu Kami berfirman: `Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!` Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.(QS. 2:73)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 73 

فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (73
Dalam ayat ini Allah memerintahkan supaya orang yang terbunuh itu dipukul dengan sebagian anggota lembu betina itu supaya orang itu hidup kembali.
Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati.
Diriwayatkan, bahwa ketika Bani Israel memukul orang yang terbunuh itu, maka dengan izin Allah berdirilah dia dan urat-urat lehernya mengucurkan darah seraya berkata, "Saya dibunuh oleh Si Anu dan Si Anu". Yang keduanya adalah anak pamannya. Kemudian dia pun jatuh mati kembali. Maka kedua pembunuh tersebut ditangkap dan dibunuh.
Nabi Musa a.s. menyuruh mereka memukulkan bagian tubuh anggota sapi itu dan bukan Nabi Musa sendiri yang melakukannya, disebabkan untuk menghindari tuduhan bahwa beliau berbuat sihir. Allah memper1ihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada bangsa Yahudi agar mereka memahami rahasia-rahasia syariat agama dan faedahnya tunduk kepada syariat itu. Dan supaya mereka mencegah diri dari mengikuti hawa nafsu dan supaya mereka menaati Allah dalam semua perintah-perintah-Nya
74 Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.(QS. 2:74)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 74 

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74
Dalam ayat ini Allah mengungkapkan watak orang-orang Yahudi. Sesudah mereka diberi petunjuk ke jalan yang benar dan mereka sudah pula memahami kebenaran itu, mereka lari din padanya dan hati mereka keras membatu bahkan lebih keras lagi. Allah mengumpamakan hati orang Yahudi itu dengan batu untuk menunjukkan kekerasan hati mereka untuk menerima petunjuk Allah. Bahkan mungkin lebih keras lagi. Walau bagaimanapun kerasnya batu tetapi pada suatu saat dan oleh suatu sebab dapat belah atau retak. Dan dari batu yang retak itu memancarlah air dan kemudian berkumpul menjadi anak-anak sungai. Kadang-kadang batu-batu itu jatuh dari gunung karunia patuh kepada kekuasaan Allah. Demikianlah halnya hati orang Yahudi lebih keras dari batu bagaikan tak mengenal retak sedikit pun. Hati mereka tak terpengaruh oleh ajaran-ajaran agama ataupun nasihat-nasihat yang biasanya dapat menembus hati manusia. Namun demikian di antara hati yang keras membatu itu terdapat hati yang disinari iman, sehingga hati itu berubah dari kekerasan menjadi lembut karunia takut kepada Allah swt.
Yang demikian itu banyak disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Hati yang tadinya biasa membangkang menentang agama akhirnya menjadi lembut, orang yang biasanya berbuat maksiat menjadi orang yang taat berkat petunjuk Allah swt.
Allah berfirman:


وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya:
Dan sesungguhnya di antara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat memperhitungkannya. (Q.S Ali Imran: 199)
Demikian pula pada ayat lain Allah berfirman:


وَمِنَ الْأَعْرَابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبَاتٍ عِنْدَ اللَّهِ وَصَلَوَاتِ الرَّسُولِ
Artinya:
Dan di antara orang-orang Badui itu ada orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. (Q.S At Taubah: 99)
75 Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui.(QS. 2:75)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 75
 
أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75
Dalam ayat ini Allah mengarahkan kembali firman-Nya kepada orang-orang mukmin agar mereka jangan terlalu banyak mengharapkan akan berimannya orang-orang Yahudi karunia watak mereka tidaklah jauh berbeda dengan watak nenek moyang mereka.
Hal yang demikian itu disebabkan adanya pendeta-pendeta Yahudi pada zaman dahulu yang mempelajari Taurat dan memahaminya kemudian merubah pengertiannya bahkan mengganti ayat-ayatnya dengan sengaja. Mereka sebenarnya menyadari bahwa mereka telah melakukan penyelewengan dengan memutar balikkan isi Taurat itu. Pelajaran agama yang sudah diputar balikkan itulah yang diajarkan kepada keturunannya. Dan orang Yahudi pada zaman Rasul saw. berpegang teguh dengan ajaran nenek moyang mereka yang keliru itu.
Keinginan yang besar dari Nabi saw. dan kaum muslimin supaya orang Yahudi beriman dan mengikuti tuntunan Islam disebabkan agama mereka paling dekat dengan Islam lagi mereka mempunyai Al Kitab dari Allah.
76 Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: `Kamipun telah beriman`, tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, mereka berkata: `Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?`(QS. 2:76) 
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 76 

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (76

Ayat ini memberitakan tentang beberapa watak orang-orang Yahudi yang tak dapat diharapkan lagi iman mereka, yaitu watak mereka menyerupai watak orang munafik dan juga menerangkan tingkah laku mereka.
Ayat ini menjelaskan bahwa apabila orang-orang Yahudi yang bersikap munafik berjumpa dengan para sahabat Nabi saw mereka berkata, "Kami juga beriman seperti kamu, kami mengakui bahwa kamu dalam kebenaran dan bahwa Muhammad saw itu memang pesuruh Allah yang telah diterangkan di dalam kitab Taurat." Mereka mengucapkan kata-kata itu dengan maksud untuk menenteramkan hati orang-orang Aus dan Khazraj yang pernah menjadi teman sekutu mereka. Tetapi ketika mereka berada di tengah-tengah kaumnya, mereka dicela oleh kaumnya itu dengan mengatakan, "Mengapa mereka mengabarkan kepada orang Islam apa yang diterangkan Allah tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. secara khusus di dalam Taurat. Seharusnya kabar itu dirahasiakan dan tidak boleh seorangpun mengetahuinya karunia kalau rahasia itu dibukakan, berarti orang-orang mukmin mempunyai alasan yang kuat untuk mengatakan hujah-hujah mereka sendiri di hadapan Allah.
Tindakan yang demikian dianggap oleh mereka sebagai perbuatan tercela, tidak diperkirakan sebelumnya akibat yang buruk dari padanya.
77 Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?(QS. 2:77)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 77

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (77

Ayat ini sebagai celaan dan pukulan bagi orang Yahudi terutama bagi para pemalsu yang menyembunyikan sifat-sifat Nabi dan merubah-rubah kitab suci, seolah-olah mereka hendak menyembunyikan kekafiran dan kedustaan mereka.
Allah mengetahui tentang apa-apa yang mereka lahirkan (tampakkan), yaitu memperlihatkan keimanan dan bermuka manis. Apabila mereka beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, mengapakah mereka tidak takut akan azab Allah? Allah mengetahui apa yang nampak dan mengetahui pula apa yang tersembunyi. Allah akan memberikan balasan terhadap perbuatan mereka itu dengan menimpakan kehinaan pada mereka di dunia dan siksa yang pedih di akhirat.
78 Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga.(QS. 2:78) 
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 78 

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78
Dalam ayat ini Allah menceritakan orang-orang awam pengikut-pengikut mereka yang mengikuti saja kemauan pendeta-pendeta yang memutar balikkan isi Taurat, baik pemimpin ataupun pengikutnya, keduanya dalam kesesatan. Di antara orang-orang Yahudi itu ada golongan ummi yaitu orang-orang yang beta huruf, tidak dapat membaca dan menulis. Mereka hanya dapat menghafal-hafal Kitab Taurat tetapi mereka tidak dapat memahami makna dan kandungan isinya dan amal perbuatannyapun tidak dapat mencerminkan apa yang dimaksud oleh isi Taurat itu.
Mereka ini adalah kaum yang hanya mendasarkan sesuatu kepada sangkaan saja tidak sampai kepada martabat keyakinan yang berdasarkan keterangan-keterangan yang pasti yang tidak ada keraguan lagi. Orang-orang Yahudi itu memang banyak ingkar terhadap kebenaran, meskipun kebenaran itu telah terang dan jelas. Dan banyak mendustakan ayat-ayat Allah dan paling banyak tertipu oleh dirinya sendiri serta suka memakan harta orang lain dengan cara haram, seperti riba, mengicuh dan suap. Dalam pada itu mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling utama di antara bangsa di dunia.
79 Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: `Ini dari Allah`, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, karena apa yang mereka kerjakan.(QS. 2:79)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 79

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79

Kemudian sesudah Allah menerangkan mereka yang berpegang kepada sangkaan belaka, maka disusullah dalam ayat ini dengan keterangan tentang orang-orang yang terlibat dalam pemalsuan kitab suci yaitu mereka yang menyesatkan dengan mengada-adakan dusta terhadap Allah dan memakan harta orang lain dengan secara tidak sah.
Orang-orang yang bersifat seperti itu akan ditimpakan kepada mereka kecelakaan yang besar terutama kepada pendeta mereka yang menulis kitab Taurat dengan menuruti kemauannya sendiri, kemudian mengatakan kepada orang awam, bahwa inilah Taurat yang sebenarnya.
Mereka berbuat begitu adalah untuk mendapatkan keuntungan duniawi seperti pangkat, kedudukan dan harta benda.
Allah menerangkan bahwa keuntungan yang mereka ambil itu adalah amat murah (sedikit), dibanding dengan kebenaran yang dijualnya itu yang sebenarnya sangat mahal dan tinggi nilainya. Kemudian Allah mengulangi ancaman-Nya terhadap kelakuan Pendeta Yahudi itu, bahwa kepada mereka akan ditimpakan siksa yang pedih.
Pendeta-pendeta Yahudi yang telah menulis Taurat itu telah melakukan tiga kejahatan, yaitu:
1.Menyembunyikan sifat-sifat Nabi saw yang tersebut dalam Taurat.
2.Mengadakan dusta kepada Allah.
3.Mengambil harta orang dengan cara yang tidak sah.
Muhammad Abduh berkata, "Barang siapa ingin mengetahui perilaku orang orang Yahudi masa lalu, hendaklah ia melihat dan memperhatikan perilaku mereka pada masa sekarang. Maka akan terlihat perilaku mereka dalam lembaran yang terang dan jelas. Akan terlihat pula kitab yang disusun mengenai akidah dan hukum-hukum agama yang telah dibelokkan dari maksud-maksud yang sebenarnya, dirubah sehingga menimbulkan kekacauan pada manusia dan kerusakan dalam agama mereka".
Para pendeta itu berkata, "Kitab ini dari Allah". Padahal kitab itu sama sekali bukan dari Allah. Sesungguhnya kitab tersebut hanyalah menghambat manusia untuk memperhatikan kitab Allah dan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya. Perbuatan yang demikian itu hanyalah dilakukan oleh salah satu di antara dua orang :
1.Orang yang memang keluar dari agama, yang sengaja merusak agama dan menyesatkan pengikut-pengikutnya. Ia memakai pakaian agama dan menampakkan diri sebagai orang yang mengadakan perbaikan untuk menipu manusia agar orang-orang tersebut menerima apa yang dia tulis dan apa yang dia katakan.
2.Orang yang sengaja menakwilkan dan sengaja membuat tipu muslihat agar mudah bagi manusia menyalahi agama. Orang ini berbuat demikian adalah untuk mencari harta dan kemegahan.
80 Dan mereka berkata: `Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.` Katakanlah: `Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?`(QS. 2:80)
TKQ-TPQ-MADIN "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN,KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 80 

وَقَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلَّا أَيَّامًا مَعْدُودَةً قُلْ أَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدًا فَلَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَهْدَهُ أَمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (80

Dalam ayat ini Allah menyebutkan lagi segi lain dari kedurhakaan orang Yahudi yaitu mengenai anggapan mereka bahwa mereka tidak dibakar oleh api neraka kecuali hanya berapa hari saja.
Maksudnya tidak kekal di dalam neraka karunia mereka adalah putra dan kekasih-kekasih Allah. Kebanyakan orang Yahudi berpendapat bahwa mereka dimakan api selama tujuh hari. Karena umur dunia menurut pendapat mereka 7000 tahun. Maka barangsiapa di antara mereka yang tidak memperoleh keselamatan dan kemenangan serta kebahagiaan, maka mereka akan mendekam dalam neraka selama 7 hari. Tiap-tiap sehari lamanya seperti 1000 tahun.
Ada yang berpendapat bahwa mereka dimakan api selama 40 hari, yaitu selama mereka menyembah anak sapi.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [15]
Ayat 61 s/d 80 dari [286]



Sumber Tafsir dari :

1.Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Tafsir Surat Al-Baqarah 41-60 ( 03 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-BAQARAH
Ayat [286]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/15
41 Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.(QS. 2:41)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 41

وَآمِنُوا بِمَا أَنْزَلْتُ مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ وَلَا تَكُونُوا أَوَّلَ كَافِرٍ بِهِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَإِيَّايَ فَاتَّقُونِ (41

Dalam ayat ini terdapat empat macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israel, yaitu:
1.Agar mereka beriman kepada Alquran yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw, yaitu Rasul terakhir yang diutus Allah kepada seluruh umat manusia.
Walaupun keharusan ini pada hakikatnya telah termasuk dalam perintah Allah yang disebutkan pada ayat yang lalu, yaitu agar mereka memenuhi janji yang antara lain beriman kepada setiap rasul dan kitab yang dibawanya, namun Allah menegaskan lagi perintah ini secara khusus, untuk menunjukkan bahwa beriman kepada Alquran itu adalah sangat penting, sebab Alquran itu membenarkan 75) apa-apa yang telah tercantum dalam kitab suci mereka, yaitu Taurat. Dan juga membenarkan kitab-kitab suci yang telah diturunkan Allah kepada Nabi nabi yang sebelumnya. Perintah-perintah yang dibawa Alquran, antara lain perintah agar melakukan dakwah, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun tidak, suruhan untuk berbuat kebaikan, larangan berbuat yang mungkar, mempercayai adanya hari akhirat, sebagai hati pembalasan. Hal itu sama dengan apa yang telah diserukan oleh Nabi Musa a.s. kepada mereka dan juga oleh nabi-nabi tersebut adalah sama, yaitu: mengokohkan yang hak, memberikan bimbingan kepada semua makhluk serta membasmi kesesatan yang telah mengotori akidah yang benar.
2.Agar mereka jangan tergesa-gesa mengingkari Alquran itu sehingga mereka menjadi orang yang pertama-tama mengingkarinya, padahal seharusnya merekalah orang yang mula-mula beriman dengannya, sebab mereka telah lebih dahulu mengetahui hakikat karena telah diberitakan dalam kitab suci mereka.
Dalam sejarah Nabi Muhammad saw, disebutkan bahwa ketika beliau datang ke Madinah, maka orang-orang Yahudi yang ada di sana mendustakan beliau. Kemudian diikuti pula oleh orang-orang Yahudi lainnya dari Bani Quraizah, Bani Nadir dan selanjutnya oleh semua orang orang Yahudi.
3.Agar mereka jangan menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Maksudnya, mereka jangan berpaling dengan meninggalkan petunjuk-petunjuk Alquran itu untuk mengejar keuntungan yang sedikit, berupa harta ataupun pangkat. Keuntungan-keuntungan yang diharapkan itu adalah kecil sekali karena dengan demikian mereka tidak akan memperoleh rida Allah, bahkan sebaliknya mereka akan ditimpa azab-Nya di dunia ini dan di akhirat kelak.
4.Agar mereka bertakwa hanya kepada Allah semata-mata, yaitu dengan beriman kepada-Nya serta mengikuti yang benar dan meninggalkan kelezatan duniawi ini apabila ternyata kelezatan duniawi itu menghalangi pekerjaan-pekerjaan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat kelak.


42 Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.(QS. 2:42)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 42 

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (42

Dalam ayat ini terdapat dua macam perintah Allah. yang ditujukan kepada Bani Israel, yaitu:
1.Agar mereka jangan mencampur adukkan yang hak dengan yang batil Maksudnya, pemimpin-pemimpin Bani Israel itu suka memasukkan pendapat-pendapat pribadi mereka ke dalam kitab Taurat, sehingga sukar untuk membedakan mana yang benar, terutama dalam penolakan mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. mereka membuat-buat alasan-alasan untuk menjelek-jelekkannya dan menyalah tafsirkan ucapan ucapan nenek moyang mereka, sehingga mereka lebih berpegang kepada ucapan para pemimpin dan tradisi mereka dari pada menerima ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Walaupun perintah itu ditujukan kepada Bani Israel, namun isinya dapat pula dihadapkan kepada kaum muslimin dari segala lapisan, terutama para pemimpin dan orang-orang yang memegang kekuasaan, sehingga ayat ini seakan-akan mengatakan:
Hai orang-orang yang memegang kekuasaan! Janganlah kamu campur adukkan antara keadilan dengan kelaliman. Hai para hakim! Janganlah kamu campur adukkan antara hukum dan suap. Hai para pejabat! Janganlah kamu campur adukkan antara tugas dan korupsi. Hai para sarjana! Janganlah kamu campur adukkan antara ilmu dan harta dan sebagainya.
2.Agar mereka jangan menyembunyikan kebenaran, pada hal mereka mengetahuinya. Maksudnya Bani Israel itu telah menyembunyikan kebenaran-kebenaran yang telah mereka ketahui dari kitab-kitab suci mereka, antara lain ialah berita dari Allah swt. tentang Nabi Muhammad saw. yang akan diutus sebagai penutup dari semua rasul-rasul Allah untuk seluruh umat manusia. Hal ini sengaja mereka tutupi terhadap rakyat umum, bahkan mereka berusaha menjelekkan Nabi Muhammad saw. untuk menghalangi manusia beriman kepadanya. Ayat ini mencela perbuatan mereka yang demikian itu dan setiap orang yang dengan sengaja menyembunyikan sesuatu yang benar.
Sesudah Allah menyampaikan seruan kepada mereka untuk beriman kepada Alquran, lalu pada ayat berikut ini Allah memerintahkan agar mereka senantiasa melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan oleh syarak terutama mendirikan salat, menunaikan zakat dan tunduk serta taat kepada perintah-perintah Allah swt.


43 Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku.(QS. 2:43)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ (43

Pada ayat ini terdapat pula tiga macam perintah Allah yang ditujukan kepada Bani Israel, ialah:
1.Agar mereka mendirikan salat, yaitu melaksanakan salat dengan cara yang sebaik-baiknya dengan melengkapi segala syarat-syarat dan rukun-rukunnya serta menjaga waktu-waktunya yang telah ditentukan dan menghadapkan seluruh hati kepada-Nya dengan tulus dan khusuk. Inilah jiwa dari ibadah salat. Adapun bentuk lahir dari pada ibadah salat ini adalah formalitas yang dapat berbeda-beda caranya menurut perbedaan agama, namun isi dan jiwanya tetap sama.
2.Agar mereka menunaikan zakat, karena zakat itu merupakan salah satu dari pernyataan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya dan menumbuhkan hubungan yang erat antar sesama manusia dan karena zakat itu merupakan pengorbanan harta benda untuk membantu fakir miskin. Dengan zakat itu pula dapat dilakukan kerja sama dan saling membantu dalam masyarakat, di mana orang-orang yang miskin memerlukan bantuan dari yang kaya dan sebaliknya, yang kaya pun memerlukan pertolongan orang-orang yang miskin. Dalam hubungan ini Rasulullah saw. telah bersabda:


المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا
Artinya:
Orang Mukmin terhadap mukmin yang lain tak obahnya seperti sebuah bangunan, masing-masing bagiannya saling menguatkan (HR Bukhari dan Muslim)
3.Agar mereka rukuk bersama orang-orang yang rukuk. Maksudnya ialah agar mereka masuk dalam jemaah kaum muslimin dan agar mendirikan salat sebagaimana mereka mengerjakannya. Jadi ayat ini menganjurkan untuk mendirikan salat dengan berjemaah yang merupakan perpaduan jiwa dalam bermunajat kepada Allah dan menumbuhkan hubungan yang erat antara sesama mukmin dan karena dalam kesempatan berjemaah itu mereka dapat pula mengadakan musyawarah sesudah beribadah, untuk merundingkan usaha-usaha yang akan mereka lakukan, baik untuk memperoleh sesuatu kebaikan, maupun untuk membendung malapetaka yang akan menimpa. Dalam hubungan ini Rasulullah pun telah bersabda:


صلاة الجماعة أفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة
Artinya:
Salat berjemaah itu lebih utama daripada salat sendirian dengan beda 27 derajat lebih tinggi daripada salat seorang diri". (HR Bukhari dan Muslim)
Kita telah mengetahui, bahwa salat menurut agama Islam terdiri dari bermacam-macam gerakan jasmaniyah, seperti rukuk, sujud, iktidal dan sebagainya. Tetapi pada akhir ayat ini salat tersebut hanya diungkapkan dengan kata-kata "rukuk ini adalah untuk menekankan agar mereka menunaikan salat itu benar-benar seperti yang dikehendaki syariat Islam, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw bukan salat menurut cara mereka dahulunya, yaitu salat tanpa rukuk.


44 Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?(QS. 2:44)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 44

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (44

Firman Allah swt, dalam ayat ini juga ditujukan kepada Pendeta pendeta Yahudi. Allah telah mencela tingkah laku dan perbuatan mereka yang tidak baik dan ditunjukkan-Nya kepada mereka jalan keluar dari kesesatan-kesesatan itu. Di antara kesesatan-kesesatan yang telah mereka lakukan ialah bahwa bangsa Yahudi mengatakan bahwa mereka beriman kepada kitab-kitab suci mereka, yaitu Taurat dan mereka melaksanakan petunjuk-petunjuknya dan akan tetap memelihara dan membacanya. Akan tetapi ternyata mereka tidak membacanya dengan baik karena membaca dengan baik berarti mengimaninya menurut cara yang diridai Allah. Pendeta-pendeta mereka yang bertugas untuk menyuruh dan melarang, hanya mau menyebutkan yang hak yang terdapat dalam ajaran kitab suci itu, apabila sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka dan mereka tidak mengerjakan hukum-hukum yang terdapat dalam kitab itu apabila berlawanan dengan hawa nafsu mereka. Pendeta-pendeta Yahudi yang berada di kota Madinah secara rahasia menasihatkan kepada orang orang lain untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw, akan tetapi mereka sendiri tak mau beriman kepadanya. Mereka menyuruh orang lain untuk taat kepada Allah dan melarang mereka dari perbuatan maksiat tetapi mereka sendiri melakukan per buatan-perbuatan maksiat itu.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa mereka "melupakan" diri mereka. Maksudnya ialah "membiarkan" diri mereka merugi, sebab sudah tentu bahwa biasanya manusia tidak pernah melupakan dirinya untuk memperoleh keuntungan dan ia tak rela apabila wing lain mendahuluinya mendapat kebahagiaan. Maka ungkapan "melupakan" itu menunjukkan betapa mereka melalaikan dan tidak memuliakan apa-apa yang sepatutnya mereka lakukan.
Maka seakan-akan Allah berfirman, "Jika benar-benar kamu yakin kepada janji Allah bahwa Dia akan memberikan pahala atas perbuatan yang baik dan Dia mengancam akan mengazab orang-orang yang meninggalkan perbuatan perbuatan yang baik itu, maka mengapakah kamu melupakan kepentingan dirimu sendiri".
Cukup jelas bahwa susunan kalimat ini mengandung celaan yang tak ada taranya karena barang siapa menyuruh orang-orang lain untuk melakukan sesuatu perbuatan kebaikan padahal ia sendiri tidak melakukannya, berarti ia telah menyalahi ucapannya sendiri.
Para pendeta yang selalu membacakan kitab suci itu kepada orang-orang lain lebih mengetahui isi kitab itu dari orang yang mereka suruh untuk mengikutinya. Dan adalah besar sekali perbedaan antara orang yang melakukan suatu perbuatan, padahal ia belum mengetahui benar-benar faedah dari perbuatan itu, dengan orang yang meninggalkan perbuatan itu padahal ia mengetahui benar-benar faedah dari perbuatan yang ditinggalkannya itu.
Oleh sebab itu Allah swt, memandang bahwa mereka seolah-olah tidak berakal, sebab orang yang berakal, betapa pun lemahnya, tentu akan mengamalkan ilmu pengetahuannya itu.
Firman Allah swt. ini, walaupun ditujukan kepada bangsa Yahudi, namun ia menjadi pelajaran pula bagi yang lain. Sebab itu, setiap bangsa, baik perseorangan maupun keseluruhannya, hendaklah memperhatikan keadaan dirinya dan berusaha untuk menjauhkan diri dari keadaan dan sifat-sifat seperti yang terdapat pada bangsa Yahudi itu yang dikritik dalam ayat tersebut di atas, supaya tidak menemui akibat seperti yang mereka alami.


45 Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu,(QS. 2:45)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 45

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (45

Setelah menjelaskan betapa jeleknya keadaan dan sifat-sifat bangsa Yahudi, sehingga akal mereka tidak bermanfaat bagi din mereka dan kitab suci yang ada di tangan mereka pun tidak mendatangkan faedah apapun bagi mereka, maka Allah swt. memberikan bimbingan kepada mereka menuju jalan yang paling baik, yaitu agar mereka menjadikan kesabaran dan salatnya sebagai penolong mereka.
Yang dimaksud dengan "sabar" di sini ialah tabah dalam melaksanakan hal hal berikut:
1.Menahan diri dari kehendak hawa nafsu yang menyimpang dan ajaran agama.
2.Menaati kewajiban-kewajiban yang biasanya dirasakan berat oleh jiwa
3.Menerima dengan sabar, tawakal dan rendah hati semua musibah yang ditakdirkan Allah, setelah berserah diri kepada-Nya dengan sepenuh-penuhnya.
Menjadikan kesabaran itu sebagai penolong, berarti mengikuti perintah perintah Allah swt. dan menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya, dengan cara mengekang syahwat dan hawa nafsu dari semua perbuatan yang terlarang. Juga melakukan salat, itu mencegah kita dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik dan dengan salat itu pula kita selalu ingat kepada Allah swt, sehingga hal itu akan menghalangi kita dari perbuatan-perbuatan yang jelek, baik diketahui orang lain, maupun tidak. Salat adalah ibadah yang sangat utama di mana kita dapat bermunajat dengan Allah swt. lima kali setiap hari. Menurut riwayat Imam Ahmad, Rasulullah saw segera melakukan salat, setiap kali beliau menghadapi kesulitan, kalau ditimpa sesuatu musibah. Demikian pula dilakukan oleh para sahabat beliau.
Melakukan salat dirasakan berat dan sukar, kecuali oleh orang-orang yang khusyuk, yaitu orang-orang yang benar-benar beriman dan taat kepada Allah swt. dan melakukan perintah-perintah-Nya dengan ikhlas karena mengharapkan rida-Nya semata-mata serta memelihara diri dari azab-Nya. Bagi mereka ini, mendirikan salat tiadalah dirasakan berat, sebab pada saat-saat tersebut mereka tekun dan tenggelam dalam bermunajat dengan Allah swt. sehingga mereka tidak lagi merasakan dan mengingat sesuatu pun yang lain, berupa kesukaran-kesukaran dan penderitaan yang telah mereka alami sebelumnya. Mengenai hal ini Rasulullah saw telah bersabda:


قرة عيني فى الصلاة
Artinya:
Ketenangan hatiku adalah dalam salat
Ini disebabkan karena ketekunannya dalam melakukan salat itu merupakan sesuatu yang amat menyenangkan baginya, sedang urusan-urusan lainnya untuk duniawi adalah memayahkan dan melelahkan.
Di samping itu mereka penuh pengharapan menanti-nanti pahala dari Allah swt. atas ibadah tersebut sehingga terasa ringan bagi mereka untuk melalui kesukaran-kesukaran dalam melaksanakan. Hal ini tidaklah mengherankan, sebab barangsiapa mengetahui hakikat dari pada yang dicarinya, niscaya ringan baginya untuk mengorbankan apa saja untuk memperolehnya. Dan barangsiapa yakin bahwa Allah swt. akan memberikan ganti yang lebih besar dari apa yang telah diberikannya niscaya terasa ringan baginya untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang ada.


46 (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(QS. 2:46)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 46 

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (46

Di antara sifat-sifat tersebut ialah bahwa mereka benar-benar yakin bahwa mereka pasti akan kembali kepada Allah swt. dan menemui-Nya pada hari akhirat nanti, di mana semua amalan manusia akan diteliti dan setiap orang akan menerima balasan atas semua perbuatan yang telah dilakukannya selama di dunia ini.
Berdasarkan keyakinan semacam itu, maka dia akan selalu taat kepada peraturan-peraturan Allah swt. serta khusyuk dalam menjalankan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Orang-orang yang hanya suka menyuruh orang lain untuk berbuat kebaikan padahal mereka sendiri melupakan kebaikan-kebaikan itu, maka iman mereka sangat lemah, jauh di bawah tingkat "keyakinan", terutama keimanan kepada Kitab Suci yang selalu mereka bacakan dan mereka ajarkan kepada orang lain yang berisi perintah-perintah dan larangan-larangan agama.


47 Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.(QS. 2:47)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 47 

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (47

Allah swt. telah melebihkan mereka itu dahulunya terhadap bangsa lain yang pada masa itu telah mempunyai peradaban dan kebudayaan yang tinggi, misalnya bangsa Mesir dan penduduk tanah suci Palestina. Allah swt, memanggil mereka lagi pada permulaan ayat ini dengan menyebut nama nenek moyang mereka "Israel", ialah Nabi Yakub karena dialah yang menjadi asal kebangsaan dan sumber kemuliaan mereka. Dan nikmat yang telah dilimpahkan kepadanya dapat dinikmati oleh mereka semuanya.
Kelebihan yang telah dikaruniakan Allah kepada mereka itu dahulunya adalah karena nenek moyang mereka itu sangat berpegang teguh kepada sifat-sifat yang mulia dan menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan jelek karena setiap orang yang dirinya mulia dan dilebihkan dari orang-orang lain tentu ingin menjaga kehormatan itu, sehingga ia menjauhi sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan rendah.
Karena Bani Israel yang ada pada masa turunnya ayat ini telah jauh menyimpang dari sifat-sifat yang mulia yang dipegang teguh oleh nenek moyang mereka dulunya, maka Allah swt, memperingatkan mereka kepada nikmat-Nya dan kelebihan yang telah diberikan kepada mereka itu dulunya, menyadarkan mereka bahwa karena Allah swt, telah memberikan kelebihan itu kepada mereka tentu Dia berhak pula untuk suatu ketika memberikannya kepada orang lain, misalnya kepada Nabi Muhammad saw dan umatnya dan bahwa Bani Israel itu sepatutnya lebih memperhatikan ayat-ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Seseorang yang diberi kelebihan itu tentunya sepatutnya lebih dahulu dari orang-orang lain berbuat keutamaan. Apabila keutamaan yang diberikan kepada Bani Israel itu disebabkan karena banyaknya para nabi dipilih dari kalangan mereka, maka hal itu tidaklah menjamin bahwa setiap pribadi dari Bani Israel itu lebih utama dari setiap orang yang berada di luar lingkungan mereka. Dan bahkan ada kemungkinan bahwa orang lain itu lebih mulia dari mereka apabila mereka sendiri telah meninggalkan sunah dan ajaran-ajaran nabi-nabi mereka itu. Sementara orang-orang lain bahkan menjadikannya petunjuk dan pedoman hidup mereka dengan sebaik-baiknya.
Dan apabila keutamaan mereka itu, disebabkan dekatnya mereka kepada Allah swt, sehingga mereka pernah disebutkan "sya'bullah", lantaran mereka dulunya mengikuti syariat-syariat-Nya, maka hal itu hanya berlaku pada diri nabi-nabi tersebut bersama orang-orang yang menjalankan syariat-syariat mereka itu selama mereka tidak menyimpang dari ajaran-ajaran tersebut dan selama mereka tetap berjalan pada jalan yang benar yang disebabkan mereka berhak menerima kelebihan dan keutamaan itu. Akan tetapi mereka yang sudah meninggalkan ajaran-ajaran para Nabi, tidaklah dapat dipandang sebagai "orang-orang yang dekat" kepada Allah swt.


48 Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan akan ditolong.(QS. 2:48)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 48 

وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (48

Allah memperingatkan kepada Bani Israel yang ada pada waktu turunnya ayat-ayat ini, agar mereka kembali ke jalan yang benar, yaitu mengikuti agama Allah, yang telah disempurnakan dengan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dengan jalan itulah mereka dapat menjaga diri mereka dari azab Hari Kiamat yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun juga, tak seorang pun dapat menyelamatkan diri dari pada-Nya kecuali orang-orang yang beriman dan bertakwa serta mengikuti syariat dan petunjuk-petunjuk-Nya.
Allah swt, menjelaskan bahwa pada Han Kiamat itu nanti tak seorang pun dapat memberikan pertolongan kepada orang lain dari azab-Nya dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing. Orang tak dapat pula turut memikul dosa orang lain, walaupun ia bersedia.
Dalam hubungan ini Allah swt. berfirman.


وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ
Artinya:
Seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain . (Q.S Al An'am: 164)
Dan Firman-Nya yang lain:


وَإِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُربَى
Artinya:
Jika seorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun, meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya sendiri. (Q.S Fatir: 18)
\P Dalam firman-Nya juga:


يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ (34) وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ (35) وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ (36) لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ (37

Artinya:
Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya, setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya. (Q.S 'Abasa: 34-37)
Walau peringatan ini ditujukan kepada Bani Israel, namun berlaku juga bagi umat Islam, agar kita selama hidup di dunia ini berusaha mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya, agar kelak terhindar dari azab Allah pada hari kiamat kelak. Jalannya ialah dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah swt. dan melaksanakan syariat-syariat-Nya


49 Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka meyembelih anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.(QS. 2:49)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 49

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ (49

Dalam ayat ini, Allah swt. mengingatkan lagi kepada mereka tentang nikmat-nikmat-Nya yang lain, yaitu bahwa mereka telah diselamatkan-Nya dari kesengsaraan yang mereka alami, yang timbul dari kekejaman Firaun 81) raja negeri Mesir, di waktu Bani Israel itu bertempat tinggal di sana.
Orang yang pertama-tama dari kalangan Bani Israel itu yang masuk ke Negeri Mesir, ialah Nabi Yusuf a.s. Kemudian saudara-saudaranya datang pula ke sana dan tinggal bersamanya. Selanjutnya, keturunan mereka itulah yang berkembang biak di sana, sehingga dalam masa 400 tahun saja jumlah mereka telah mencapai 600.000 orang. Penduduk asli telah terdesak karena Bani Israel itu giat bekerja dan memiliki pikiran yang lebih cerdas. Di samping itu mereka sangat mementingkan diri sendiri karena mereka masih tetap menganggap diri mereka sebagai sya`bullah. Sebab itu, mereka tidak mau bersatu padu dengan penduduk asli di sana dan tidak mau bekerja sama dan membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Melihat keadaan yang demikian, maka penduduk ash negeri itu semakin merasa khawatir, sebab apabila Bani Israel itu semakin banyak jumlahnya maka mereka akan menguasai keadaan dan penduduk asli sendiri akan semakin terdesak. Oleh sebab itu mereka berusaha untuk melemahkan kekuatan Bani Israel itu. Mula-mula dengan mewajibkan kerja paksa kepada mereka. Kemudian semakin meningkat dengan pembunuhan anak-anak lelaki mereka dan hanya anak-anak perempuan mereka yang dibiarkan hidup. Raja Firaun memerintahkan kepada setiap suku-suku rakyatnya untuk membunuh setiap lelaki Bani Israel itu walaupun anak-anak kecil mereka.
Penderitaan yang dialami Bani Israel itu merupakan ujian bagi mereka karena mereka telah melupakan nikmat-nikmat dan mereka telah melakukan bermacam-macam dosa. Kemudian Allah swt. mengampuni dan menerima tobat mereka dan dikaruniakan-Nya pula nikmat yang besar, yaitu mereka diselamatkan-Nya dari kesengsaraan yang mereka alami dari kekejaman Firaun itu. Tetapi rahmat inipun merupakan ujian bagi mereka, apakah nantinya mereka akan mensyukuri nikmat itu atau tidak.
Kita Umat Islam dapat pelajaran yang berharga dari kisah Bani Israel itu. Allah swt. mula-mula telah melimpahkan bermacam-macam nikmat-Nya kepada umat Islam, sehingga umat ini telah bersatu di bawah panji-panji Islam dan hidup dalam persaudaraan yang kokoh, sehingga berhasil membangun negara Islam yang kuat, Akan tetapi kemudian terjadilah perpecahan di antara umat Islam, sehingga Allah swt. mendatangkan malapetaka kepada mereka.
Kerajaan Bani Abbas di Bagdad diruntuhkan oleh bangsa Tartar. Kemudian terjadi perang Salib dalam waktu yang panjang. Sementara itu bangsa-bangsa barat menyusup ke negeri-negeri Islam, menguasai sumber-sumber kekayaan sehingga umat Islam di mana-mana menjadi lemah, takluk di bawah kekuasaan kaum penjajah. Barulah akhir-akhir ini negara Islam dapat bangkit kembali dan berhasil memerdekakan negeri mereka dari kekuasaan penjajah.


50 Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.(QS. 2:50)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 50 

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (50

Maka dalam ayat-ayat ini Allah swt. menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada mereka, yaitu bahwa Dia telah menyelamatkan mereka dulunya ketika mereka meninggalkan Mesir di bawah pimpinan Nabi Musa a.s. dikejar oleh Firaun bersama tentaranya.
Setelah Allah swt. mengangkat Musa a.s. menjadi Rasul-Nya, Dia memerintahkan supaya menyeru Firaun dan kaumnya untuk beriman kepada-Nya dan agar menuntut kepada Firaun supaya membebaskan Bani Israel yang berada di negeri itu dan untuk menghentikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan terhadap mereka. Sebagai jawabannya, Firaun memperhebat siksaan dan kekejaman mereka terhadap Bani Israel itu dan diperintahkannya kepada rakyatnya untuk meningkatkan kerja paksa yang ditimpakan kepada mereka itu.
Allah swt. lalu memberikan mukjizat-mukjizat kepada Musa a.s. dan saudaranya, yaitu Nabi Harun, antara lain ialah. tongkat Nabi Musa a.s. dapat berubah menjadi ular dan dapat menelan ular-ular yang dijelmakan oleh ahli ahli sihir yang dikerahkan Firaun untuk melawan mukjizat Nabi Musa a.s.
Melihat kenyataan-kenyataan itu, para ahli sihir itu pun mengakui kekalahan mereka, lalu menyatakan beriman kepada Tuhan. Akhirnya Firaun mengusir dan mengejar-ngejar mereka.
Maka berangkatlah mereka meninggalkan negeri itu di bawah pimpinan Musa a.s., sedangkan Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka.
Ketika mereka itu sampai di tepi laut Qulzum, yaitu laut Merah yang membatasi negeri Mesir dengan semenanjung Sinai, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa a.s. supaya memukulkan tongkatnya ke laut itu. Lalu Musa a.s. melakukannya, maka terbelahlah air laut itu dan terbentanglah dua belas jalur jalan raya yang akan dilalui Nabi Musa a.s. bersama pengikut-pengikutnya yang terdiri dari dua belas rombongan, sehingga selamatlah mereka sampai ke seberang.
Sementara itu Firaun bersama tentaranya terus mengejar mereka tetapi ketika mereka sampai di tengah-tengah laut itu, maka air laut kembali bertaut, sehingga mereka semuanya tenggelam ditelan air laut. Kejadian itu disaksikan oleh Bani Israel yang telah selamat ke seberang.
Terbelahnya laut merupakan salah satu dari mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. untuk membuktikan kepada manusia bahwa Allah adalah Maha Kuasa. Dialah yang menciptakan alam ini dan Dia pula yang menetapkan undang-undang alam yang berlaku sepanjang masa dan Dia berkuasa pula merubah atau membatalkan undang-undang alam tersebut apabila dikehendaki-Nya. Hukum-hukum alam yang berlaku pada air ialah bahwa air sebagai salah satu benda cair tidaklah dapat terpisah tanpa adanya benda lain yang memisahkannya. Undang-undang inilah yang dirubah dan dibatalkan-Nya ketika terbelahnya air laut itu. Air laut bersibak dan berdiri seperti dinding-dinding yang tegak lurus tanpa adanya sesuatu yang menahannya, sehingga terbentanglah jalan raya di antara dinding-dinding tersebut.
Demikianlah besarnya nikmat yang telah dilimpahkan Allah kepada Bani Israel itu. Mereka telah dibebaskan dari kekejaman Firaun dan rakyatnya. Kemudian mereka diselamatkan pula ketika menyeberang laut. Sesudah itu mereka dapat pula menyaksikan dengan mata kepala sendiri tenggelamnya musuh-musuh mereka di tengah laut yang tentu saja menggembirakan hati mereka. Sepatutnyalah mereka mensyukuri mikmat-nikmat tersebut.


51 Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahanmu) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim.(QS. 2:51)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 51 

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51

Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan mereka kepada nikmat yang lain sesudah nikmat-nikmat-Nya yang tersebut di atas, juga yang tidak mereka syukuri, bahkan mereka ingkari dan dengan demikian mereka telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri. Nikmat tersebut ialah bahwa mereka setelah selamat menyeberangi laut itu lalu mereka bertanya kepada Musa a.s. kapan Allah swt. akan menurunkan kitab suci (Taurat) kepadanya. Maka Allah menjanjikan kepada Musa a.s. akan memberikan kitab Taurat kepadanya dan Allah menentukan waktu itu. Mereka menganggap bahwa waktu yang ditetapkan itu terlalu lama mereka buatlah patung anak sapi dari emas yang dapat bersuara dan mereka sembah. Dengan demikian mereka telah menganiaya diri. mereka sendiri karena perbuatan syirik yang mereka lakukan itu.
Sikap mereka itu adalah sangat mengherankan, sebab janji Allah swt. kepada Nabi Musa a.s. akan menurunkan Kitab Taurat itu sebenarnya adalah merupakan nikmat dan keutamaan yang amat besar bagi Bani Israel itu tetapi mereka balas dengan perbuatan yang amat keji, serta kekafiran dan kebodohan.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 51

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَى أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ (51

(Dan ingatlah ketika Kami menjanjikan) dalam sekian masa (kepada Musa selama empat puluh malam) maksudnya Kami janjikan akan memberinya Taurat setelah 40 malam untuk menjadi pedoman bagi kamu (lalu kamu ambil anak lembu) maksudnya patung anak lembu yang ditempa oleh Samiri menjadi tuhan (sepeninggalnya) artinya setelah ia pergi memenuhi perjanjian dengan Kami itu, (dan kamu adalah orang-orang aniaya) disebabkan menaruh sesuatu bukan pada tempatnya, yaitu mengambil anak lembu itu sebagai sembahan.


52 Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.(QS. 2:52)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 52

ثُمَّ عَفَوْنَا عَنْكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (52

Allah swt. Maha Pengasih dan Maha Pengampun kepada hamba-Nya. Walaupun Bani Israel telah melakukan kekafiran, keingkaran dan kemusyrikan sedemikian rupa, namun Allah swt. masih memberi maaf dan keampunan kepada mereka. Semoga mereka mensyukuri-Nya. Allah swt. tidak segera menimpakan azab kepada mereka melainkan ditangguhkan-Nya sampai datangnya Nabi Musa memberitahukan kepada mereka cara menebus dosa, agar selanjutnya mereka mensyukuri nikmat-Nya.


53 Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. 2:53)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 53

وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (53

Dalam ayat ini Allah swt. mengingatkan lagi kepada mereka nikmat-Nya yang lain ialah Kitab Taurat diturunkan-Nya kepada mereka sebagai bukti untuk menguatkan kerasulan Nabi Musa a.s. Kitab tersebut diturunkan kepada mereka, melalui Nabi Musa a.s. untuk mereka jadikan petunjuk, dengan memahami isinya serta mengamalkan syariat dan petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya, agar mereka kembali menjadi orang baik-baik dan tidak lagi terjerumus kepada kesesatan yang lain, misalnya menyembah patung-patung dan sebagainya.


54 Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: `Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.`(QS. 2:54)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 54

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (54

Dengan ayat ini Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah agar menyampaikan kepada Bani Israel yang ada pada waktu itu bahwa Musa a.s. dahulu sekembalinya dari munajat dengan Tuhannya, Musa a.s. mendapati kaumnya menyembah patung anak sapi, lalu dia berkata kepada kaumnya, "Hai kaumku Sesungguhnya dengan perbuatan kamu menjadikan anak sapi itu sebagai tuhanmu, kamu telah membinasakan diri kamu sendiri dan telah melenyapkan pahala yang sedianya akan kamu terima di sisi Tuhanmu. Alangkah baiknya, seandainya kamu menepati janji yang telah diikrarkan dan kamu mengikuti syariatku . Oleh sebab itu bertobatlah kepada Tuhanmu telah menciptakan kamu dan janganlah berbuat kebodohan semacam itu, di mana kamu telah meninggalkan Tuhanmu yang sesungguhnya, lalu kamu mengambil anak sapi sebagai sembahanmu.
Musa a.s. juga memerintahkan kepada mereka, "Bunuhlah diri kamu". Maksudnya: agar orang-orang yang tidak berbuat kejahatan itu di antara mereka membunuh mereka yang telah bersalah itu, atau mereka yang telah berbuat kejahatan itu supaya membunuh diri mereka sendiri sebagai pernyataan tobat kepada Al1ah swt.
Kemudian Musa a.s. mengatakan kepada mereka bahwa bertobat dan membunuh diri sebagai pernyataan tobat itu lebih balk bagi mereka di sisi Allah swt. daripada terus-menerus berbuat kedurhakaan yang menyebabkan mereka di timpa azab. Apabila mereka telah bersih dari kotoran-kotoran dosa itu, barulah mereka patut menerima pahala dan ganjaran.
Pada akhir ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa setelah mereka melakukan yang diperintahkan Musa a.s. Allah swt. menerima tobat dan memaafkan kesalahan mereka karena Dialah yang memberikan jalan kepada orang-orang yang berdosa itu untuk bertobat dan Dia menerima tobat itu dari mereka, sebab Dia Maha Pengasih kepada orang-orang yang mau bertobat kepada-Nya. Seandainya tidak demikian, tentulah segera ditimpakan kebinasaan kepada mereka lantaran dosa-dosa besar yang mereka lakukan itu.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 54

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (54

(Dan ketika Musa berkata kepada kaumnya) yang telah menyembah patung anak lembu itu ("Hai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu karena kamu telah mengambil anak lembu) sebagai sembahan, (maka bertobatlah kamu kepada Tuhanmu) yang telah menciptakanmu atas kesalahanmu tidak menyembah kepada-Nya, (maka bunuhlah dirimu) maksudnya hendaklah yang tidak bersalah di antaramu membunuh yang bersalah. (Demikian itu) yakni membunuh itu (lebih baik bagimu di sisi Tuhanmu) hingga dituntun-Nya kamu untuk melakukannya dan dikirim-Nya awan hitam agar sebagian kamu tidak melihat lainnya yang akan menyebabkan timbulnya rasa kasihan di antara kamu yang akan menghalangi pembunuhan ini. Maka berhasillah pembunuhan masal itu sehingga yang tewas di antara kamu tidak kurang dari tujuh puluh ribu orang banyaknya. (Maka Allah menerima tobatmu. Sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang").


55 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: `Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang`, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya.(QS. 2:55)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 55

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ (55

Dalam ayat ini Allah swt. mengingatkan Bani Israel kepada sifat-sifat dan keingkaran nenek moyang mereka dahulunya kepada Nabi Musa a.s. yaitu bahwa mereka pernah berkata kepada Nabi Musa a.s., "Kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami dapat melihat Allah terang-terangan". Karena sikap dan kelakuan mereka yang demikian itu maka Allah swt. menurunkan azab kepada mereka, yaitu halilintar yang menyambar mereka. Menurut riwayat, mereka berjumlah tujuh puluh orang yang dipilih oleh Nabi Musa a.s. untuk pergi bersamanya ke bukit Tursina, meminta ampun atas kesalahan mereka menyembah anak sapi. Mereka mengatakan kepada Nabi Musa a.s. bahwa sebelum mereka dapat melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri, mereka tidak akan beriman, tidak akan membenarkan ucapan Nabi Musa a.s. bahwa Taurat itu adalah Kitab Allah dan bahwa Musa telah mendengar perkataan-Nya bahwa dia memerintahkan untuk menerima perkataan dan mengamalkannya. Lalu datanglah halilintar menyambar mereka itu, sedang yang lain menyaksikan peristiwa itu dengan jelas .
Demikian sikap Bani Israel itu terhadap Nabi Musa a.s. mereka selalu bertingkah dan membangkang. Maka datanglah azab Tuhan kepada mereka. Bermacam-macam penyakit menimpa mereka. Binatang-binatang kecil yang menyebarkan penyakit-penyakit itu telah membinasakan sejumlah besar dari mereka. Maka tidaklah mengherankan bahwa ketika datang Nabi Muhammad saw menyeru mereka kepada agama Islam, mereka bersikap menentang dengan dalih, mereka menolak seruan itu.


56 Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.(QS. 2:56)

Tafsir/Indonesia/Al Ashar/Surah Al-Baqarah 56

ثُمَّ بَعَثْنَاكُم مِّنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
"Kemudian Kami bangkitkan kamu sesudah mati, supaya kamu bersyukur. " (ayat ,56).

Ada riwayat setengah ahli tafsir bahwa orang-orang mati dihantam gempa atau nyala api yang timbul dari dalam bumi itu dihidupkan kembali; maka bersyukurlah mereka, lantaran mereka dihidupkan kembali. Ada lagi tafsir mengatakan, bahwa mereka mati betul-betul, tetapi sudah hampir mau mati, mungkin karena kontak listrik yang timbul dari bumi yang menimbulkan gempa dahsyat itu. Maka setelah gempa berhenti, merekapun berangsur dibangunkan, dan bersyukur kepada Tuhan mereka dihidupkan untuk bertaubat kembali.
Dalam Surat al-A'raf ( Surat 17, ayat 142), terkisah bahwa setelah Nabi Musa a. s. pingsan.
وَ خَرَّ مُوسى‏ صَعِقاً
"Tersungkurlah Musa dalam keadaan pingsan. " (al-A'raf 143)

Di ayat itu tertulis Sha'iqan, Musa pingsan. Di ayat yang tengah kita tafsirkan ini, orang-orang yang ingin hendak melihat Tuhan dengan terang itupun kena Sha'iqan, jadi pingsan. Jadi setengah mati. Berdasar kepada pengertian itu - kata ahli tafsir itu - teranglah bahwa mereka bukan terus mati. Setelah hilang geseran listrik dari sebab gempa itu, merekapun siuman bangun kembali.

Dan ada lagi tafsir bahwa yang mati karena ditimpa gempa itu telah terus mati. Mereka musnah. Dan kebanyakan ialah orang-orang yang telah berumur.

Banyak orang mati seketika membunuh diri sebagai taubat karena menyembah berhala anak lembu, dan banyak pula yang mati karena dihancurkan gempa karena meminta hendak melihat Allah itu, sehingga terancamlah mereka dengan kemusnahan. Tetapi Bani Israil dihidupkan kembali, tidak sampai musnah, karena anak-cucu mereka berkembang. Angkatan baru menggantikan angkatan yang lama, untuk melanjutkan hidup mereka sebagai kaum. Dengan sebab demikian, patutlah mereka bersyukur kepada Allah.

Yang tua-tua telah habis. Ada mati sampai umur, ada mati karena azab Tuhan, tetapi kehidupan diteruskan oleh anak-cucu, sehingga di jaman Nabi Muhammad mereka masih ada, sebagai Bani Israil. Mereka ini patutlah bersyukur kepada Tuhan, sebab dapat melanjutkan hidup nenek-moyang mereka. Itu pula sebabnya maka mereka semua dipanggil dengan nama yang mulia, nama yang tetap hidup sampai kepada anak-cucu mereka: "Hai Bani Israil !"

Itulah maksudnya, kata setengah ahli tafsir itu, bahwa mereka dihidupkan kembali sesudah mati.


57 Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu `manna` dan `salwa`. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS. 2:57)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 57

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57

(Dan Kami naungi kamu dengan awan), artinya Kami taruh awan tipis di atas kepalamu agar kamu terlindung dari panasnya cahaya matahari di padang Tih, (dan Kami turunkan padamu) di padang Tih itu (manna dan salwa) yakni makanan manis seperti madu dan daging burung sebangsa puyuh dan firman Kami, ("Makanlah di antara makanan yang baik yang Kami karuniakan kepadamu.") dan janganlah kamu simpan! Tetapi mereka mengingkari nikmat itu dan mereka menyimpannya. Maka Allah pun menghentikan rezeki itu atas mereka (dan tidaklah mereka menganiaya Kami) dengan perbuatan itu, (tetapi mereka menganiaya diri mereka sendiri) karena bencananya kembali kepada mereka juga.


58 Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: `Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah:` Bebaskanlah kami dari dosa `, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik`.(QS. 2:58)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 58

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58

(Dan ingatlah ketika Kami berfirman,) kepada mereka setelah mereka keluar dari bukit Tih, ("Masuklah kamu ke negeri ini"), yakni Baitulmakdis atau Yerusalem dan ada pula yang mengatakannya 'Ariha' (Maka makanlah di antara makanannya yang baik lagi enak mana yang kamu sukai) tanpa ada larangan (dan masukilah pintu gerbangnya) (dalam keadaan bersujud) artinya menundukkan diri (dan ucapkanlah) sebagai permohonan, ("Bebaskanlah kami dari dosa!") (niscaya Kami ampuni) menurut suatu qiraat 'yughfar', sedangkan menurut suatu qiraat lainnya 'tughfar', keduanya kata kerja pasif yang berarti 'diampuni' (bagimu kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami tambah pula pemberian Kami kepada orang-orang yang berbuat baik) maksudnya diampuni karena berlaku taat, diberi tambahan, yakni pahalanya.


59 Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu siksa dari langit, karena mereka berbuat fasik.(QS. 2:59)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 59

فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (59

(Lalu orang-orang yang aniaya mengubah) di antara mereka (perintah yang tidak dititahkan kepada mereka) mereka mengatakan, habbatun fi sya`ratin , bahkan mereka memasukinya bukan dengan bersujud tetapi merangkak di atas pantat mereka. (Maka Kami timpakan atas orang-orang yang aniaya itu) di sini disebutkan "atas orang-orang yang aniaya itu", yang sebenarnya cukup dengan kata ganti 'mereka' saja, dengan maksud sebagai kecaman (siksa) berupa penyakit taun (dari langit disebabkan kefasikan mereka) disebabkan mereka melanggar ketaatan. Maka dalam waktu satu jam ada 70 ribu orang atau mendekati jumlah itu di antara mereka yang mati.


60 Dan ingatlah ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: `Pukullah batu itu dengan tongkatmu`. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.(QS. 2:60)

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 60

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (60

Pada permulaan ayat ini Allah swt. mengisahkan bagaimana Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah swt. untuk mendapatkan air minum bagi para pengikutnya itu yang terdiri dari dua belas suku. Allah mengabulkan doa tersebut, lalu memerintahkan Nabi Musa a.s. memukulkan tongkatnya ke sebuah batu besar yang ada di padang pasir itu. Tiba-tiba memancarlah air dari batu sebanyak dua belas sumber, sehingga masing-masing suku dari kaum Nabi Musa a.s. mendapatkan air minum dengan cukup.
Kejadian ini merupakan mukjizat bagi Musa a.s. untuk membuktikan kerasulannya dan untuk menunjukkan kekuasaan Allah swt.
Sesungguhnya Allah kuasa memancarkan air dari batu, tanpa dipukul dengan tongkat lebih dahulu akan tetapi Allah swt. hendak memperlihatkan kepada hamba-Nya hubungan sebab dengan akibat, supaya mereka itu apabila menginginkan sesuatu haruslah berusaha dan bekerja mendapatkannya menurut proses hubungan antara sebab dan akibat. Allah swt. telah menyediakan rezeki untuk setiap makhluk-Nya yang hidup di muka bumi ini, akan tetapi rezeki itu tak datang sendiri, melainkan harus diusahakan dan harus ditempuh cara caranya. Siapa yang malas berusaha tentu tidak akan mendapatkan rezeki yang diperlukan.
Akan tetapi, di samping itu Allah swt. telah menciptakan manusia ini mempunyai pikiran dan perasaan yang terbatas, sehingga ia hanya dapat memahami yang berada dalam daerah jangkauan indera pikiran dan perasaannya. Apabila ia melihat adanya sesuatu yang berada di luar kemampuannya, ia berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada yang telah diketahuinya. Bila ia tidak dapat memahaminya sama sekali maka ia menjadi bingung, apabila hal itu terjadi di hadapannya berulang kali. Maka Allah memperlihatkan mukjizat melalui para nabi sesuai dengan keadaan umat pada masa nabi itu.
Allah swt. menyuruh mereka makan dan minum dari rezeki yang telah dilimpahkan kepada mereka dan dilarang-Nya mereka untuk berbuat kelaliman.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 60

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (60

(Dan) ingatlah (ketika Musa memohon air) (untuk kaumnya) yakni ketika mereka telah kehausan di padang Tih (lalu firman Kami, "Pukulkanlah tongkatmu ke atas batu itu!") yaitu batu yang pernah membawa lari pakaiannya, bentuknya tipis persegi empat sebesar kepala manusia, batu lunak atau seperti keduanya lalu dipukulkannya (maka terpancarlah) terbelahlah batu itu lalu keluar air (daripadanya dua belas mata air) yaitu sebanyak jumlah suku Bani Israel (sesungguhnya telah mengetahui tiap-tiap suku) yakni tiap-tiap suku di antara mereka (tempat minum mereka) masing-masing hingga mereka tidak saling berebut. Lalu firman Kami kepada mereka, ("Makan dan minumlah rezeki yang diberikan Allah dan janganlah kamu berbuat keonaran di muka bumi dengan melakukan pengrusakan!") 'Mufsidiin' menjadi 'hal' yang memperkuat perbuatan pelaku '`atsiya' yang berarti berbuat keonaran.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [15]
Ayat 41 s/d 60 dari [286]



Sumber Tafsir dari :

1.Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU