
Di
antara metode atau uslub dalam pendidikan adalah dengan cara tanya
jawab. Metode semacam ini banyak terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan
dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagai
salah satu contoh adalah apa yang terdapat dalam sebuah hadits shahih
yang cukup terkenal, yaitu hadits Jibril yang datang berupa seorang
laki-laki dan bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
tentang Islam, iman dan ihsan. Di akhir hadits tersebut Rasulullah
mengatakan, “Wahai Umar, tahukah engkau siapakah orang yang bertanya
itu?” Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Kemudian
Rasulullah bersabda, “Ia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk
mengajari kalian tentang agama kalian.”
Berikut ini adalah beberapa permasalahan dalam Islam yang cukup
penting untuk diketahui oleh seorang muslim dalam bentuk tanya jawab
untuk mempermudah dalam memahami dan mengingatnya.*
1. Apakah syarat diterimanya amal shaleh?
Syarat diterimanya amal shaleh:
a. Beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Amalan orang yang berbuat syirik tidak akan diterima.
b. Ikhlas, yakni bahwa amalan shaleh tersebut dilakukan semata-mata karena mengharapkan ridha Allah.
c. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam amalan
itu, dengan cara mengerjakan sesuai dengan apa yang Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Sehingga Allah tidak diibadahi
kecuali dengan apa yang diajarkan oleh beliau.
Jika salah satu dari syarat-syarat itu tidak terpenuhi, maka amalan
akan tertolak/tidak diterima. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” (QS al-Furqan: 23)
2. Apakah arti iman itu dan ada berapa rukunnya?
Iman artinya, keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan.
Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “
Supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).” (QS al-Fath: 4)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Iman itu ada
tujuh puluhan cabang. Cabang yang tertinggi adalah ucapan “Laa ilaaha
illallah” (tidak ada tuhan yang haq kecuali Allah) dan yang paling
rendah adalah menjauhkan gangguan dari jalan. Rasa malu adalah salah
satu cabang dari keimanan.” (H.R Muslim)
Ini diperkuat oleh apa yang dirasakan seorang muslim dalam dirinya
berupa sikap semangat dalam ketaatan tatkala berada pada musim-musim
kebaikan, dan rasa malas pada musim-musim tersebut ketika melakukan
kemaksiatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS Hud: 114)
3. Apa makna Laa ilaaha illallah?
Maknanya yaitu meniadakan hak ibadah bagi selain Allah, dan menetapkannya hanya untuk Allah yang Maha Esa semata.
4. Apakah Allah bersama kita?
Ya benar, Allah bersama kita dengan pengetahuan, pendengaran,
penglihatan, penjagaan, peliputan, kekuasaan dan kehendak-Nya. Adapun
Dzat-Nya tidak bercampur dengan dzat makhluk dan tidak ada satu makhluk
pun yang bisa meliputi-Nya.
5. Apakah Allah bisa dilihat dengan mata?
Kaum muslimin sepakat bahwa Allah tidak bisa dilihat di dunia. Akan
tetapi orang-orang yang beriman akan melihat-Nya di padang mahsyar dan
di surga. Allah berfirman:
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat.” (QS al-Qiyamah: 22-23)
6. Apakah kegunaan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat Allah?
Sesungguhnya kewajiban pertama yang diwajibkan Allah kepada
makhluk-Nya adalah mengenal Allah. Apabila manusia mengenal Allah, maka
mereka akan beribadah kepada-Nya dengan sebenar-benar ibadah, Allah
berfirman:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (QS Muhammad: 19)
Dengan mengingat luasnya rahmat Allah menjadikan penuh harap
(الرجاء), mengingat pedihnya siksa dan murka Allah menimbulkan ketakutan yang sangat
(الخوف), dan dengan mengingat keesaan Allah dalam menganugerahkan nikmat mengharuskan
rasa syukur
kepada-Nya. Maksud dari beribadah kepada Allah dengan nama dan
sifat-Nya adalah mewujudkan pengetahuan tentang nama dan sifat Allah
tersebut, memahami arti yang terkandung di dalamnya, serta
mengamalkannya. Di antara nama dan sifat-Nya terdapat sifat yang apabila
dimiliki oleh seorang hamba maka ia dipuji, seperti ilmu, kasih sayang,
dan adil. Di antara sifat dan nama-Nya apabila dimiliki oleh seorang
hamba maka ia dicela, seperti sifat ketuhanan, absolut, dan sombong.
Sementara ada beberapa sifat bagi hamba yang dipuji karenanya, dan
diperintahkan untuk memilikinya, tetapi tidak boleh sifat tersebut ada
pada Allah, seperti sifat kehambaan, membutuhkan, berhajat, menghinakan
diri, memohon dan semisalnya. Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai
Allah adalah yang memiliki sifat yang dicintai-Nya, dan yang paling
dibenci Allah adalah orang yang memiliki sifat yang dibenci-Nya.
7. Apa rincian Asmaul Husna?
Allah berfirman:
“Allah memiliki nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengan nama-nama itu.” (QS al-A’raf: 180). Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Sesungguhnya
Allah Ta’ala memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang
satu. Siapa yang menghitungnya maka akan masuk surga.” (Muttafaq ‘alaihi )
Adapun pengertian
ihsha (menghitung) adalah : 1) Menghitung
lafadz dan jumlahnya 2) Memahami makna yang tersirat dan terkandung di
dalamnya serta mengimaninya. Apabila ia mengatakan
الحكيم
Al-Hakim (Yang Maha Bijaksana), berarti dia menyerahkan seluruh
urusannya kepada Allah, karena seluruhnya itu sesuai dengan hikmah dan
kebijaksanaan-Nya. Apabila dia berkata
القدّوس
Al-Quddus (Yang Maha Suci), maka dia merasakan bahwa Allah itu suci dan
bersih dari segala kekurangan. 3) Berdo’a kepada Allah dengan
nama-nama-Nya.
Doa ada dua: a) Doa pujian dan ibadah. b) Doa permohonan dan masalah.
8. Apakah perbedaan antara nama Allah dan sifat-Nya?
Nama Allah dan sifat-sifat-Nya dapat dipakai untuk minta perlindungan
dan bersumpah. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan, di antaranya
yang terpenting adalah:
Pertama: Dibolehkan memberikan nama Abd (hamba) di depan nama-nama
Allah, dan berdo’a dengan-Nya. Adapun dengan sifat-sifat-Nya tidak
boleh. Contoh pemberian nama dengan abd, seperti
عبدالكريم Abdul Karim (hamba Yang Maha Mulia), namun pemberian nama
عبدالكرم Abdul Karam (hamba kemuliaan) tidak boleh. Begitu pula berdo’a dengan memanggil salah satu nama Allah
ياكريم ya Karim (wahai Yang Maha Mulia), akan tetapi tidak boleh berdo’a dengan
menyebut
ياكرم الله ya karamallah (wahai kemulian Allah).
Kedua: Dari nama-nama Allah diambil sifat-sifat-Nya, seperti nama
الرحمن Al-Rahman, dapat diambil dari nama tersebut sifat
الرحمة rahmah. Adapun sifat-sifat Allah, tidak bisa diambil darinya nama-nama bagi Allah, seperti sifat
الاستواء istiwa’ tidak dapat diambil darinya nama Allah
المستوي Al-Mustawy (Yang beristiwa’).
Ketiga: Perbuatan Allah tidak bisa diambil darinya nama yang tidak ada dalam nama-nama Allah. Di antara perbuatan Allah adalah
الغضب al-Ghadhab (marah), tidak bisa diambil darinya nama untuk Allah seperti
الغاضب Al-Ghaadhib.
Adapun sifat-sifat-Nya dapat diambil dari perbuatan-Nya. Oleh karena
itu sifat marah, kita tetapkan bagi Allah karena marah itu adalah salah
satu perbuatan Allah.
9. Cukupkah kita berpedoman dengan al-Quran saja tanpa sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Tidak cukup, karena Allah memerintahkan untuk berpegang kepada sunnah dalam firman-Nya:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Q.S Al-Hasyr: 7)
As-Sunnah berfungsi sebagai penafsir Al-Qur’an. Rincian syari’at
agama, seperti shalat, tidak dapat diketahui tanpa sunnah. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ketahuilah sesungguhnya aku
diberi kitab (al Quran) dan semisalnya bersamanya, ketahuilah akan ada
seorang yang kenyang (duduk) di atas kursinya lalu berkata: berpeganglah
kalian pada Al Quran ini, hal-hal yang halal yang kalian temui di
dalamnya maka halalkanlah, dan hal-hal yang haram yang kalian temui di
dalamnya, maka haramkanlah.” (H.R Abu Daud)
10. Apakah arti beriman kepada para rasul?
Yaitu pembenaran yang pasti, bahwa Allah telah mengutus seorang rasul
kepada setiap umat dari golongan mereka, mengajak mereka untuk
beribadah kepada Allah semata, dan mengingkari sesuatu yang diibadahi
selain-Nya, dan para rasul itu semuanya jujur, dipercaya, pintar, mulia,
berbakti, bertakwa, terpercaya, pemberi petunjuk, dan diberi petunjuk,
mereka menyampaikan risalah/misi, makhluk yang paling baik, dan suci
dari mempersekutukan Allah sejak lahir sampai meninggal dunia.
11. Apakah macam-macam syafaat pada hari kiamat?
Ada berbagai macam syafaat, yang terbesar adalah
syafa’at uzhma
(syafa’at terbesar). Yang terjadi pada saat manusia dikumpulkan pada
hari kiamat, setelah lima puluh ribu tahun manusia berdiri menunggu
keputuskan urusan mereka, lantas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam memberikan syafa’at di sisi Rabbnya dan memohon kepada-Nya untuk
memutuskan urusan mereka. Syafa’at ini hanya dimiliki oleh pemimpin kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan merupakan kedudukan terpuji
yang dijanjikan untuk beliau.
Kedua: Syafa’at untuk meminta dibukanya
pintu surga.
Orang yang pertama kali minta dibukakan pintu surga adalah Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat yang pertama kali masuk
surga adalah umat beliau.
Ketiga: Syafa’at untuk sekelompok kaum yang telah diperintahkan untuk
dimasukkan ke dalam api neraka, agar tidak jadi memasukinya.
Keempat: Syafa’at untuk pelaku maksiat dari kalangan ahli tauhid yang telah masuk neraka, agar dikeluarkan darinya.
Kelima: Syafa’at untuk meninggikan derajat sekelompok penghuni surga.
Ketiga macam syafa’at terakhir ini (syafa’at ketiga, keempat dan
kelima) tidak dikhususkan untuk nabi kita, tapi beliau adalah yang
diberi kesempatan terlebih dahulu. Setelah beliau, yang memberikan
syafaat adalah para nabi, malaikat, orang-orang sholeh, dan para
syuhada’ (orang yang mati syahid).
Keenam: Syafa’at untuk sekelompok manusia agar masuk surga tanpa hisab.
Ketujuh: Syafaat untuk mendapatkan keringanan azab bagi sebagian
orang kafir. Syafa’at ini adalah khusus bagi nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk paman beliau Abu Thalib, agar azabnya diringankan.
Kemudian Allah dengan rahmat-Nya mengeluarkan sekelompok orang yang
meninggal dunia dalam keadaan bertauhid dari api neraka, tanpa syafa’at
dari siapapun. Jumlah mereka tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali
Allah, lalu dimasukkan ke dalam surga dengan rahmat-Nya.
12. Bolehkah minta tolong, atau minta syafa’at dari orang yang masih hidup?
Boleh, syari’at Islam menganjurkan untuk memberikan pertolongan kepada sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa.” (Al-Maidah: 2) Rasulullah bersabda: “
Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selagi ia menolong saudaranya.” (H.R.Muslim)
Adapun syafa’at, maka keutamaannya besar sekali, syafaat disini berarti perantaraan, Allah berfirman:
”Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik,niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya.” (An-Nisaa:85) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “
Berilah syafa’at (jadilah sebagai perantara yang menolong), niscaya kalian akan diberi pahala.” (HR Bukhari)
Semua hal di atas harus sesuai dengan beberapa syarat:
Pertama: Syafa’at itu berasal dari orang yang masih hidup. Adapun
memohon syafa’at dari orang yang sudah meninggal dinamakan do’a. Padahal
si mayit tidak dapat mendengar permohonannya. Allah berfirman:
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada menmendengar seruanmu; dan kalau
mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (Fathir:14)
Maka bagaimana mayit sampai di seru, padahal ia sendiri butuh doa orang
yang masih hidup. Amalannya telah terputus dengan kematiannya kecuali
apa yang dapat sampai kepadanya berupa pahala doa dan lainnya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bila anak Adam meninggal
dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah,
ilmu yang bermanfaat atau anak soleh yang mendoakan.” (H.R Muslim)
Kedua: Mengerti apa yang diutarakan kepadanya.
Ketiga: Orang yang dimintai syafa’at hadir di hadapan yang meminta.
Keempat: Syafaat itu harus dalam hal yang mampu dilakukan.
Kelima: Dalam urusan duniawi.
Keenam: Pada perkara yang dibolehkan dan tidak mengandung kemudharatan.
13. Ada berapa jenis tawasul?
Tawasul ada dua bagian:
Pertama: Tawasul yang dibolehkan; tawasul ini ada tiga macam:
1) Tawasul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
2) Tawasul kepada Allah dengan sebagian amal sholeh (yang dikerjakan
oleh si pemohon), seperti kisah tiga orang yang terkurung di dalam gua.
3) Tawasul kepada Allah, dengan do’a seorang muslim yang shaleh yang
masih hidup, yang hadir (berada di hadapannya) yang diharapkan do’anya
akan dikabulkan.
Kedua: Tawasul yang haram (dilarang), tawasul ini ada dua macam:
1) Berdo’a kepada Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan
jah (kedudukan) Nabi atau wali. Seperti ungkapan: “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan bertawasul dengan
jah (kedudukan) nabi-Mu”, atau dengan
jah Husain misalnya. Memang benar, bahwa jah (kedudukan) Nabi agung sekali di sisi Allah, begitu juga
jah
(kedudukan) orang-orang shaleh. Akan tetapi para sahabat yang mereka
adalah orang yang paling antusias kepada kebajikan, tatkala terjadi
paceklik, mereka tidak bertawasul dengan
jah (kedudukan) Nabi
padahal makam beliau ada di tengah-tengah mereka. Mereka hanya
bertawasul dengan do’a paman beliau yang pada waktu itu masih hidup,
yaitu Abbas radhiallahu ‘anhu.
2) Meminta kepada Allah untuk dikabulkan hajatnya seraya bersumpah
dengan nama nabi-Nya atau wali-Nya, seperti ungkapan: “Ya Allah
sesungguhnya aku meminta kepada-Mu (untuk dipenuhi) ini dan itu, demi
wali-Mu si fulan, atau demi hak nabi-Mu.” Bersumpah dengan nama makhluk
terhadap makhluk saja hukumnya dilarang, apalagi terhadap Allah, hal itu
lebih dilarang lagi. Seorang hamba tidak memiliki hak apapun terhadap
Allah karena semata-mata mentaati-Nya.
***
Dicuplik dari Tafsir Sepersepuluh dari al-Qur’an al-Karim Berikut Hukum-hukum Penting Bagi Muslim,
http://www.tafseer.info.