- See more at: http://dapur-tutorial.blogspot.com/2012/10/cara-pasang-efek-salju-di-blog.html#sthash.OTQ3URGV.dpuf
- See more at: http://dapur-tutorial.blogspot.com/2012/10/cara-pasang-efek-salju-di-blog.html#sthash.OTQ3URGV.dpuf
- See more at: http://afahngeblog.blogspot.com/2012/09/cara-memasang-widget-animasi-follow-me.html#sthash.HtJUCl8q.dpuf
 |
Kyai Dahlan Salim Zarkasyi
|
Segala puji bagi Allah Pencipta langit
dan bumi seisinya, yang telah melimpahkan anugrah kepada kita semua.
Hingga saat ini kita masih merasakan anugrah itu yang berupa kesehatan,
keimanan dan mahabbah orang-orang yang terpilih menjadi Ahlul qur’an.
Sholawat dan salam mari kita sanjungkan
ke pangkuan insan terpilih, insan teladan sepanjang zaman dan penerima
wahyu dari ar-Rohman berupa al-Qur’an yang membawa manusia keluar dari
kegelapan menuju terang benderang.
Syukur dan terimakasih kepada Allah yang
telah mempertemukan kita kepada seorang guru al-Qur’an yang sangat arif
dan penuh wawasan, pendobrak system pengajaran yang sudah lama yang
berjalan dari zaman ke zaman, penerima ilmu dari Allah SWT. Untuk
mempersatukan umat dari berbagai kelompok dan golongan, sehingga merasa
satu dan bersatu dalam tujuan. Yaitu, menyebarluaskan ilmu baca
al-Qur’an yang benar, fasih dan penuh keikhlasan. Beliau adalah
al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi yang sangat teliti dan
hati-hati di setiap langkah yang dilalui.
Menurut kami beliau adalah
1. “Seorang waliyullah yang sangat amat pandai dalam menyembunyikan kewaliannya”
Pada suatu saat saya sowan silaturrahim, kebetulan tidak ada tamu selain saya. Beliau mengajarkan kepada saya tentang
tawadhu’,
ilmu sufi, sampai beliau menjelaskan dengan cerita si A, si B dan
seterusnya semua itu waliyullah. Ada sebuah foto yang beliau tunjukkan
kepada saya seraya
dawuh, “Ini adalah waliyullah yang sangat
pandai menyembunyikan kewaliannya”. Berhubung saya belum kenal yang di
foto itu, saya bertanya “Siapakah ini yai?” beliau menjawab, “Beliau
adalah Gus Mik”. Kemudian saya
matur secara sepontan, mungkin di luar kesadaran saya, “Kalau begitu Pak Kyai juga waliyullah karena
لا يعرف الولى الا الولى
Sambil wajah beliau menunduk dan berkaca-kaca beliau diam dan tidak
berkomentar. Menurut pendapat saya diamnya beliau adalah menunjukkan
bahwa tebakan saya adalah benar berdasarkan firman Allah:
اللهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ
صلى
Artinya, “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan
mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”.
(al-Baqoroh:257)
2. “Beliau adalah seorang hafidz yang amat sangat pandai menyembunyikan kehafidhaannya”
Beliau sering dawuh kepada saya, “Alhamdulillah guru al-Qur’an saya semua hafidh”.
TPA Darul Istiqomah, saya termasuk orang yang ikut khidmat di sana.
Tempo dulu, setiap anak khotam ijazahnya ditandatangani oleh al-Mukarrom
Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi (Pengasuh TPA Raudlotul Mujawwidin).
Pada khotam ke tiga tahun 1993 yang khotam di TPA Darul Istiqomah ada
100 anak, seperti biasa saya
sowan ke Semarang mohon
tandatangan beliau dengan ijazah yang sudah tertulis rapi. Nama Bapak
K.H. Dahlan, kami kasih tambahan AL HAAFIDH. Dengar tutur bahasa yang
tidak menyakitkan hati, beliau berkata, “Saya ndak berani nandatangani”.
Saya berkata, “Kanapa yai?”. Beliau menjawab, “Saya kan tidak hafidh,
kok ditulis al-hafidz. Maaf ya, dibetulkan nanti saya akan
tandatangani”. Dengan hati
marem tapi penuh harap, saya pulang ke kudus untuk membenahi ijazah.
Walaupun begitu hati tetap percaya dan yakin, bahwa Bapak K.H. Dahlan
Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh. Buktinya, setiap ada orang baca
al-Qur’an, satu ayat bahkan satu kalimat saja beliau sudah bisa
menyimpulkan karakter bacaan orang tersebut.
Suatu hari ada tamu seorang hafidh dan minta ditashih. Beliau
dawuh,
“Sudah ndak usah, langsung serahkan saja foto dan identitas anda, nanti
akan kami buatkan Syahadah”. Peristiwa semacam ini berulangkali
terjadi, berpuluh-puluh para hafidh yang ingin ditashih Bapak K.H.
Dahlan Salim Zarkasyi. Pada akhirnya suatu hari saya
sowan
silaturahim. Beliau sudah duduk diruang tamu, setelah saya salam dan
salim, seperti biasa dengan senyum has, saya dipersilahkan duduk. Tidak
lama kemudian Pak Bunyamin membawa dua cangkir teh. Satu untuk yai
Dahlan satu untuk saya. Kemudian Bapak K.H. Dahlan bercerita, “Kemaren
ada tamu seorang hafidh minta saya tashih, kemudian saya niat ngaji
(berguru dengan orang itu). Akhirnya kami tashih, ternyata menurut
aturan Qiraati orang itu belum lulus, karena banyak kesalahan”. Dengan
peristiwa itu, walaupun hafidh tetap harus ditashih.
Bahkan beliau
dawuh kepada saya, “Pak Halimi bila ada orang
hafidh minta di simak bacaannya, simak saja dengan niat ngaji pada orang
itu” kata-kata itu yang menjadi kami mau menyimak bacaan orang-orang
yang kami tidak kenal.
Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh adalah
dawuh seorang waliyullah di Moga Pemalang Mbah Nor Moga.
Kyai Dahlan cerita, “Saya itu orang yang senang ziarah silaturahim
pada waliyullah, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Pada
suatu hari saya silaturahim ke Mbah Nor Moga. Di sana banyak tamu,
sampai rumah beliau penuh dengan tamu. Berhubung saya datangnya
kari
(belakangan), maka saya duduk di pojok ruangan”. Mbah Nor berkata,
“Ngaji al-Qur’an 2 tahun apal al-Qur’an iku biasa, 2 bulan apal, biasa.
Dua hari apal, yo biasa, seng luar biasa, ono wong ngaji al-Qur’an 2
daqiqoh (2
detik) apal, iku luar biasa. Iki ono wonge neng kene (ada di sini) opo
sampean ora pengen weruh wonge?” tanya Mbah Nor pada para tamu. Para
tamu serentak jawab, “Inggih kepengen mbah”. Kemudian Mbah Nor jawab
sambil menunjukkan jarinya ke arah pojok ruangan (Pak Yai Dahlan), “Iku
lo wonge”. Semua wajah berpaling memandang pak Yai Dahlan. Kemudian Yai
Dahlan bilang pada saya, “Saya bingung waktu itu, wong saya tidak apal
kok dibilang apal al-Qur’an”.
Untuk kami (Achmad Chalimi) yakin dengan
haqqul yaqin bahwa al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh.
Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang yang hafidh, pada waktu
beliau wafat banyak teman-teman Bapak K.H. Dahlan yang bilang pada
ustadz Bunyamin bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh. Bahkan
ada seorang teman beliau memaksa pada ustadz Bunyamin untuk bersaksi
bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah hafidzh dengan kalimat, “Bunyamin kamu
harus bersaksi bahwa ayahmu itu hafal Qur’an”. Ustadz Bunyamin menolak
kesaksian itu, namun teman Yai Dahlan tadi memaksa pada Ustadz Bunyamin.
Akhirnya, ustadz Bunyamin bersaksi bahwa ayah adalah seorang hafidh.
Jawab teman Yai tadi, “Gitu dong, tinggal bersaksi saja kok ndak mau”.
3. Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang tawadhu’
tidak mementingkan diri sendiri, melainkan yang dipentingkan adalah
masalah umat. Sangat menghormati tamu, melalaikan kehormatan pribadi.
Setiap tamu yang datang pasti disambut dengan senyum dan tutur kata yang
membuat tamu merasa krasan dan betah di sampingnya.
Pada suatu hari ada seorang yang kebingungan dalam hidupnyadatang
bertamu. Seperti biasanya tamu tadi disambut dengan senyum dan tutur
kata yang indah. Tamu yang berinisial M.N. bicara banyak. Akhirnya
berkata pada beliau, “Pak Dahlan, saya ini orang yang benci agama, agama
yang paling saya benci apa pak Dahlan tau?” Tanya tamu tadi. Beliau
menjawab, “Ya ndak tahu”. Kemudian tamu tadi menyahut kata-kata, “Agama
yang paling saya benci adalah agama Islam”. Beliau tidak marah, tapi
senyum manis yang menyambut sambil mempersilahkan tamu tadi minum teh
yang telah disuguhkan. Tamu tadi terheran-heran kenapa pak Dahlan tidak
marah? Kemudian tamu tadi pamit pulang, beliau mengantar sampai teras.
Setelah tamu tadi agak jauh beliau masuk rumah.
Pada hari berikutnya tamu M.N. tadi datang lagi, dan seperti
biasanya, disambut dengan senyum has beliau, dipersilahkan duduk,
kemudian disuguhi air teh. Tamu tadi juga berkata yang sama, “Pak
Dahlan, saya adalah orang yang benci agama, dan agama yang paling saya
benci adalah agama Islam”. Dengan senyum dan tutur kata yang indah, tamu
tadi dipersilahkan minum teh, bahkan diajak makan siang bersama.
Setelah makan dan minum tamu tadi berpamitan sambil heran kenapa pak
Dahlah tidak marah, malah diajak makan siang bersama. Kemudian beliau
antar tamu tadi sampai di luar. Setelah agak jauh baru beliau masuk
rumah.
Di hari ke tiga tamu tadi datang lagi. Setelah dipersilahkan duduk
tamu tadi bilang, “Pak Dahlan tolong saya diajari sholat dan ngaji!”
Dengan merasa terharu yang disembunyikan beliau, beliau menjawab,
“InsyaAllah silahkan datang kapan saja, akan kami ajarkan sholat dan
ngaji” Akhirnya M.N. menjadi seseorang yang paling tekun dengan
bimbingan beliau. Sampai dengan pergi ibadah haji, beliau yang
membimbing
سبحان الله والحمد لله
Pada tahun 1996 kami merasakan betul perhatian dan keprihatinan
beliau terhadap masalah pendidikan al-Qur’an, khususnya di Kudus. Karena
tajamnya pikiran dan
felling beliau, sebingga beliau merasakan
adanya pelaksanaan amanah koordinator cabang (korcab) yang dulu disebut
dengan istilah koordinator daerah (korda) yang asal-asalan. Di Kudus
-sebagaimana yang kami ceritakan- terdapat dua Korda, yaitu Korda I dan
Korda II. Akhirnya beliau
dawuhi ustadz Bunyamin untuk super
visi (turba) ke Kudus dengan cara merekam keberhasilan anak didik
tentang bacaan Qiraati dan al-Qur’annya. Ustadz Bunyamin
didawuhi merekam TPQ bimbingan Korda Kudus I yang kurang berhasil dan TPQ Korda Kudus II yang terbaik, nenengah dan kurang berhasil.
Karena waktu yang kurang memadai, maka ustadz Bunyamin mengajak kami mendatangi 3 TPQ bimbingan Korda Kudus II. Yaitu:
1.TPQ Tashilul Murottilin Kudus Kota (terbaik)
2.TPQ… Peganjaran (sedang)
3.TPQ Roudlotul Mujawwidin Sambeng Karang Malang (kurang berhasil)
Bacaan santri TPQ tersebut direkam oleh ustadz M. Saifuddin yang
waktu itu menjabat Sekretaris Korda Kudus I. Bahkan, ditemukan KBM dari
salah satu TPQ tersebut ada guru yang mengajar 3 anak sekaligus dengan
jilid yang berbeda. Kami memperhatikan ustadz Bunyamin sangat sedih dan
setiap saat sering tarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala. Kami
pun diam dan tidak berani bicara panjang lebar karena kami merasa ikut
menjadi bagian orang Kudus. Hal tersebut menjadi guru besar kami untuk
introspeksi diri dan mawas diri. Kurang lebih jam 5 sore, ustadz
Bunyamin mengajak kami berpamitan pulang. Kami pun tambah bingung “kok
gitu ya?” (istilah kami nyolok moto).
Sepulang dari Kudus, hasil rekaman tersebut dihaturkan pada beliau Bapak K.H. Dahlan. Setelah kaset
disetel dan didengarkan, beliau sedih sambil terus-menerus membaca
istighfar.
Kesedihan beliau adalah tanda bakti perhatian beliau terhadap
pendidikan al-Qur’an dan wawasan beliau tentang nasib guru pengajar
al-Qur’an yang
sembrono. Karena kita mengajarkan 1 kalimat saja
dari al-Qur’an salah, maka kita akan “pesiun dosa”. Maka dari itu
beliau berwasiat, “Jangan ajarkan al-Qur’an yang salah, karena yang
benar itu mudah”. Wasiat ini adalah kendali yang kokoh dan luar biasa
bagi kita sepanjang zaman. Mari kita sadari!
Setelah mendengarkan semua hasil rekaman dari Kudus tadi. Kemudian
beliau memberikan tugas kepada ustadz Bunyamin untuk silaturahim ke Gus
Ulin Nuha Arwani. Ustadz Bunyamin pun datang ke Kudus mengajak kami
sowan ke Gus Ulin, namun akhinya kami bertemu di rumah Gus Ulil Albab Arwani. Ustadz Bunyamin kami
derekke
dengan pengurus Korcab I: KH. A. Musyaffa’ al-Hafidh, Ustadz M.
Saifuddin dan saya (Achmad Chalimi). Dan dari pihak Korcab Kudus II: KH.
Ulin Nuha Arwani al-Hafidh, KH. Ulil Albab Arwani al-Hafidh dan KH.
Manshur al-Hafidh. Kemudian ustadz Bunyamin menjelaskan maksud
kedatangannya adalah perintah dari beliau bapak KH. Dahlan untuk
melaporkan hasil di Kudus khususnya di 3 TPQ dan menyerahkan hasil
rekaman tersebut.
Setelah bicara banyak membahas kesana-kemari, tentang proses KBM TPQ
di Kudus dan hasilnya, maka beliau dan pengurus Korcab Kudus II sepekat
untuk mengadakan pembenahan-pembenahan, dan akhirnya diselenggarakan
pertemuan sekaligus pembinaan istilah dulu) di MAK Banat Krandon.
Pada tahun yang sama sekitar 1996 bulannya saya lupa, ada rombongan
tamu dari Kudus bersilaturahim. Seperti biasa tamu disambut dengan
senyum dan tutur kata yang indah. Setelah beliau berbicara tentang
hal-hal yang menyangkut pendidikan al-Qur’an. Satu ustadz dari rombongan
tadi mohon ditashih oleh beliau. Jawab beliau, “Tidak usah, saya yakin
dari Kudus al-Qur’annya baik-baik karena Mbah Arwani”. Namun ustadz tadi
memaksa, akhirnya dia ditashih oleh beliau. Namun, baru disuruh baca
Qiraati jilid VI halaman 20 saja sudah banyak yang salah baca. Apalagi
lembaran-lembaran yang ditulis oleh beliau, tentu banyak lagi
salahannya. Akhirnya beliau berkata, “Berhubung ustadz bacaannya banyak
yang salah, maka menurut Qiraati ustadz tidak lulus”. Kemudian ustadz
tadi menjawab sambil menunjukkan syahadah dari Ma’arif Kudus berkata,
“Saya kan sudah lulus tashih di Kudus. Ini buktinya dari Ma’arif, saya
dikasih Syahadah”. Jawab beliau, “Karena ustadz banyak salah baca, maka
mnurut Qiraati ustadz tidak lulus”.
Rombongan pulang, kemudian di Kudus heboh ada kata-kata yang tersebar
“Bapak K.H. Dahlan mengatakan bahwa Ulama’ Kudus tashihnya tidak sah”:
Kata-katanya diplintir untuk mengobati kekecewaan. Kudus semakin memanas
situasinya. Akhirnya kesepakatan Penguras Ma’arif dengan Qiraati pusat
mengadakan tashih ulang yang diadakan di MAK Banat Rrandon
dirawuhi
Ustadz Bunyamin dan ustadz Imam Murjito. Tashih diadakan 2 hari dengan
jumlah peserta 140 ustadz-ustadzah. Hari pertama 70 orang yang lulus 8
orang. Hari kedua 70 orang yang lulus 12 orang. Dari 140 orang yang
lulus 20 orang.
Dengan hasil kelulusan yang kurang memuaskan, di antara peserta ada
yang bicara di forum, “Bapak, kami ini adalah guru-guru yang sudah lama
mendidik al-Qur’an, tapi kenapa hasilnya kok seperti ini, ini berarti
bapak menjatuhkan kami” dengan kecewa ustadzah itu berbicara kepada
ustadz Bunyamin. Jawab ustadz Bunyamin, “Bapak ibu, ustadz ustadzah,
kami dari Semarang datang ke sini (Kudus) bukan menjatuhkan bapak ibu,
namun membangkitkan bapak ibu”. Namun, jawaban yang bijaksana dari
ustadz Bunyamin itu tidak bisa diterima dengan
logowo.
Akhirnya situasi di kalangan Korcab Kudus II (dulu ada dua
koordinator) dengan semarang semakin panas, sampai ulama Kudus mengecab
“al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi berani mengatakan ulama
Kudus tashihnya tidak sah”.
Kami (korcab Kudus I) menjadi gelisah atas situasi yang meresahkan
umat. Bahkan mencaci dan memojokkan Bapak K.H. Dahlan. Akhirnya kami
(Achmad Chalimi) mohon izin kepada Bapak K.H. Dahlan untuk menemui K.H.
Sya’roni al-Hafidh demi ketentraman dan keharmonisan umat Namun jawab
Bapak K.H. Dahlan, “Tidak usah”. Kami pun tidak berani menemui K.H.
Sya’roni al-Hafldh. Situasi semakin menjadi-jadi, kami pun minta izin
lagi kepada Bapak K.H. Dahlan, namun beliau tidak mengizinkan. Yang
ketiga kali kami minta izin kepada beliau untuk menemui K.H. Sya’roni
al-Hafidh. Kami mengutarakan alasan, “Pak yai” matur kami kepada beliau,
“kami tidak rela pak yai dimaki-maki dan dijelek-jelekkan oleh orang,
mohon diizikan saya tak menjelaskan kepada yai Sya’roni atas peristiwa
rombongan dari Kudusyang salah satunya minta ditashih oleh pak yai.
Akibatnya terjadi kerenggangan di antara kita”. Namun, jawab beliau, “
Tidak usah. wong saya yang dijelek-jelekkan kok kamu yang tidak rela!!!”
Karena tiga kali kami
isti’dzan tidak diijini, maka terpaksa kami sowan K.H. Sya’roni tanpa izin dari beliau. MasyaAllah hasilnya saya
kualat (terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati). Itulah di atara sifat
mahmudah
dari beliau (Bapak K.H. Dahlan). Andaikata apa yang kami lihat, kami
tahu dan apa yang kami saksikan dari beliau kami beberkan di sini
mungkin satu minggu tidak
rampung.
4. Bapak K.H. Dahlan adalah seorang ulama
yang sangat istimewa dan sangat tawadhu’ namun pandai menyembunyikan
keistimewaannya. Sangat memikirkan umat, dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dan siang malam yang dipikirkan adalah umat dari segala aspek.
Kami pernah didatangi beliau + 1995 siang-siang + jam 2 siang. Beliau
naik angkut umum dengan ustadz Fuad Zen. Kedatangan beliau mengejutkan
kami, beliau berkata, “Pak Halimi hari ini di Kudus ada khataman di desa
Japan Colo (gunung Muria) tolong saya diantar” berhubung beliau tidak
membawa kendaraan sendiri, maka kami cari mobil. Namun, hanya mendapat
mobil yang tidak layak dinaiki beliau (mobil baru mau dicat, jadi masih
didempul).
Sepanjang jalan beliau, kami pun perhatikan, Selaiu membaca
hamdalah dan
tasbih
dan matanya berkaca-kaca. Dan beliau berkata kepada saya, “Pak Halimi,
andaikata saya menangis mulai bangun tidur sampai menjelang tidur
kembali karena syukur, itu belum imbas atas nikmat Allah yang diberikan
kepada kami. Daerah pelosok pegunungan, jalan naik-turun dan lika-liku
begini kok qiraati ada, dan ilmu mengajar al-Qur’an bekembang di sini,
itu semua minAllah”.
Sesampai di tempat khotmil qur’an, acara dimulai. Giliran sambutan
dari beliau diucapkan M.C., namun masih menangis syukur dan menugaskan
kami untuk maju mewakili beli’au. Ada seorang ustadzah yang tanya kepada
saya, “Pak mau tanya, anak-anak itu loh kok kalau belajar rame dan
sulit dikendalikan, akhimya pelajaran kurang difahami, bagaimani
mengatasi hal tersebut?” Pertanyaan ustadzah tersebut kami jawab,
“Sebelum ibu mengajar hadiyah Fatihah dulu pada Bapak K.H. Dahlan.!”
Bagaimana tanggapan beliau atas jawaban kami pada ustadzah tersebut? Beliau diam. Kesimpulan kami beliau mengizinkan meridhokan.
Ini dikuatkan oleh Habib Husain al-Yahya dari Kudus sewaktu adik saya
(Ali Rif an) matur pada Habib Husain. Kata adik saya, “Bib, anak-anak
ini kok suit diatur. Mohon nasehatnya!” Habib Husian bilang, “Ajak
anak-anak bertawasul pada K.H. Dahlan, pasang gambar beliau, anak-anak
suruh baca Fatihah untuk beliau dan pandang bersama foto beliau”. Saran
dari Habib Husain tadi dilaksanakan adik saya. Dia minta foto Bapak
K.H.Dahlan sama saya, padahal saya hanya punya satu foto lukisan beliau.
Jawab kami, “Nanti kami mintakan pak Bin bila kami ke Semarang”. Kami
dikasih dua fotonya Bapak K.H. Dahlan oleh pak Bin, satu untuk adik dan
satu untuk saya. Sampai sekarang kebiasaan proses KBM di TPQ adik saya
sebelum masuk kelas doa bersama membaca MT dan
tawajjuh kepada guru. Hasilnya sungguh luar biasa, anak-anak tekun belajar dan KBM lancar.
Keikhlasan dan semangat yang tak kunjung padam dari Bapak K.H. Dahlan
adalab suatu uswah bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan keteladanan
beliau, membawa umat termasuk kita menjadi
khoiro ummah. Amin ya Robbal Alamin.
Berikut ini kami sampaikan sebuah sya’ir:
Ulama akhir terbagi dua #
Ada ulama yang istimewa
Kerja semangat punya pikiran #
Tidak berputus sama Tuhan
Ulama kedok bersemangat #
Membimbing kawau seiuruh rakyat
Hati terdorong pada nafsu #
Menuju dunia pikiraya palsu
Beliau sering berwasiat kepada siapa saja yang berkunjung, termasuk
saya. Ada tiga wasiat yang sering beliau berikan kepada para muridnya,
yaitu:
Guru al-Qur’an harus: 1 – Sering
tahajjud
2- Sering
tadarrus
3-Ikhlas
Tiga hal ini adalah kimci keberhasilan amal ibadah seseorang.
- Tahajjud: Ayo santri gage tangi sholat tahajjud #
Diparingi penjaluke wongkang sujud
Melek-melek wong turu gagean melek #
Yen wes melek amal sholih nggo kito dewek
Untung temen jam telune kito tangi
Yen wes tangi gage tandang sholat bengi
- Tadarrus: Ilmu iku dadi obor dadi damar #
Ayo ngaji mumpung Qur’an ijih gumelar
Qur’an iku
mu ‘jizat yang paling agung #
Nyelametaken penyakit susah lan bingung
Qur’an hadis ijma’ qiyas sumberane #
Kanggo ngatur urip kito neng dunyane
- Ikhlas: Untung temen wonge ayu neng baguse #
Sayang temen atine longko ikhlase
Wadon shobar dadi kembangane jagat
Banget ikhlase ayune ngliwati adat
Niat amal wajib ikhlas ajo liyan
Banget larang koyo regane berlian
Di hari-hari saya berjumpa dengan beliau +tahun 2000 beliau
mendatangi khotaman di TPQ Darul Istiqomah yang terakhir (TPQ yang kami
ikut khidmad di situ) dengan keadaan fisik beliau yang menurut saya
sudah seharusnya tidak bepergian, namun beliau
rawuh di
khotaman yang ke 10 TPQ Daml Istiqomah dengan keadaan berjalan harus
dengan payah. SubhanAllah, keikhlasan beliau dan perhatian beliau pada
kita menjadi kenangan sepanjang zaman. Semoga Allah menerima semua amal
sholihnya dan memaafkan kehilafannya. Amin.
Pada hari Jum’at Legi Desember tanggalnya saya lupa tahun 2000,
karena saya tidak bisa sowan ke Semarang, saya suruh anak saya Sucipto
untuk ke Semarang. Beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau berpesan
kepada anak saya lewat Pak Bunyamin, “Pak Halimi diarep-arep (ditunggu
kedatangannya) oleh ayah” kata ustadz Bunyamin. Kemudian esok harinya,
Sabtu Siang saya sowan ke Semarang. Saya dipersilahkan masuk kamar
beliau yang sedang tiduran, oleh ustadz Bunyamin. Begitu saya
mengucapkan salam, beliau yang sedang tiduran, mau duduk tapi tidak bisa
karena keadaan fisik yang sangat lemas.
Kemudian saya duduk di lantai, namun beliau meminta saya untuk duduk
di sebelahnya, sambil dawuh, “Pak Halimi, kok lama sekali tidak ke sini?
(padahal minggu lalu saya sudah sowan)”. Kata beliau, “Saya kangen pak
Halimi”. Jawab saya, “Mohon maaf yai, ini saya baru bisa sowan”. Jawab
beliau dengan suara yang terteteh-teteh, “Ndak apa-apa, aku ingin pesen
sama sampean”. “nggih yai” jawab saya. “semoga hidup kita diridloi
Allah” kata beliau. “amin” jawab saya. Kemudian beliau berwasiat sama
saya, “Mari kita ikhlas dalam berjuang dan beramal!!!” itulah kalimat
akhir sekaligus wasiat akhir beliau pada kami (IKHLAS).
Semoga kami bisa belajar melakukan ikhlas dan diaku menjadi murid beliau.
Amin ya Robbal Alamin.
I. NAWAITU DAN VISI MISI QIRAATI
- Qiraati bukan hasil fikiran manusia, Qiraati bukan karangan saya, Qiraati adalah inayah dan hidayah MINALLAH.
Saya duduk, saya kelihatan tulisan. Jadi kalau ditanya, “mengapa
pelajaran ikhfa di jilid 4, sedangkan idhar di jilid 6,?” jawabannya,
“Tidak tahu, saya tidak ikut ngarang.”
- Saya tidak jual buku, saya ingin anak-anak nanti ngajinya benar.
Kalau saya jual buku, buat apa repot repot membentuk Kooordinator,
titipkan saja ke toko-toko buku, selesai.
- Saya tidak pingin yang pakai Qiraati banyak. Saya pingin anak yang ngaji pakai Qiraati, ngajinya benar.
- Qiraati tidak disebar-sebarkan, saya tidak pernah menyebarkan Qiraati. Qiraati menyebar minallah.
II. METODOLOGI
- Kegagalan mengajar tempo dulu sebabnya ialah : Terlalu Toleransi
pada anak-anak. Pelajaran belum bisa anaknya minta tambah, ditambah,
satu halaman dua halaman belum masalah. Setelah halaman 15 pelajaran
tidak bisa diteruskan dan disuruh kembali ke halaman pertama tidak mau.
Akhirnya karena merasa tidak berhasil ngajinya pindah.
- Insya Allah setelah TK Al-Qur’an berdiri. Dua tahun sudah khotaman,
di sini (semarang) santri 90 setelah 2 tahun Khotam 20 santri (+ 20 %)
- Tidak ada murid bodoh, kalau ada yang bodoh paling dalam 100 ada
satu atau dua murid saja. Kalau ada guru yang mengatakan “ Murid saya
bodoh-bodoh” apa bukan guru”Gurunya?” Tanya beliau. Dan kalau ada anak
yang bodoh seperti itu maka cara yang tepat ialah gurunya SOWAN ke rumah
orang tuanya agar orang tuanya sabar.
- Qiraati tidak kemana-mana tetapi ada di mana-mana. Siapa yang lulus tashih boleh mengajarkan Qiraati. (Yang belum lulus tashih walaupun teman atau saudara tidak boleh mengajar Qiraati)
III. UJIAN SANTRI, KHATAMAN, DAN IMTIHAN
- Khatam Qiraati jilid 6 adalah khatam Tingkat Persiapan, insya Allah sudah bisa baca Al Quran dengan tartil (belum khatam).
- Kalau dulu santri ngaji sampai با لناس dikhatami, sekarang di
TK Al Quran sampai dengan با لناس baca Al Qurannya diulangi الم
lagi, belum dikhatami sampai gharib dan ilmu tajwid khatam.
- Khatam TK Al Quran, khatam Al Qurannya bisa 2 kali, 3 kali, atau sampai 5 kali.
- Khataman ini adalah khataman untuk pendidikan, dan ini lebih cocok (karena model tadarus ini lebih efektif dibandingkan dengan model tallqi).
- Saya diundang khataman di Kudus, bacaan gharibnya bagus tapi baca al Qurannya tidak tartil.
- Baca ان طهرا gharibnya benar, tapi an tha “salah”
tidak dengung. Saya sampaikan kepada Kepala TK Al Qurannya bahwa,
“anak-anak belum boleh dikhatami, masih jilid 3.”
- Khataman jangan diganti dengan wisuda
- Khataman tidak harus meriah (mewah), pernah di sini (Semarang),
khataman cukup dengan mengeluarkan minuman teh dan kantong
plastik, sedangkan isinya dari (sumbangan) wali murid.
- Kalau akan mengadakan khataman, wali murid yang dikhtami diajak
rapat, mau khataman di gedung atau di sini (TPQ), terserah wali murid.
IV. KRITIK DAN SARAN KH. DAHLAN SALIM ZARKASYI
- Saya tidak pernah dengar guru Al Quran mengatakan, “al hamdulillah saya telah dijadikan Allah sebagai guru Al Quran, padahal,
خيركم من تعلم القرأن و علمه Berapa itu ? (nilai pahala) خيركم
- Yang sering saya dengarkan guru mengeluhkan santrinya dan pengurusnya, (orang bersyukur tidak suka mengeluh).
- Guru Al Quran harus sering tadarus Al Qur’an.
- Guru Al Quran harus ikhlas.
- Saya kira tidak ada guru Al-Quran yang ingin cari sesuatu (nafkah dalam mengajar Al Quran).
- Kalau ada orang memberi sesuatu pada kita, maka cepat-cepat doakan semoga rizkinya barokah.
- Guru Al Quran supaya hati-hati dalam mengajarkan Al Quran.
disampaikan oleh : A. Alwafa Wajih