Selasa, 02 Juli 2013

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-AN'AAM AYAT 21 - 40 ( 02 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-AN'AAM
Ayat [165]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:2/9
21 Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.(QS. 6:21)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 21 

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (21

Kemudian Allah swt. dalam ayat ini menegaskan bahwa tidak ada orang yang lebih merugi daripada orang yang berbuat dusta terhadap Allah seperti mengatakan Allah punya anak, punya sekutu atau menjadikan sesuatu selain dari Allah sebagai tumpuan doa dan pujaan, menjadikan-Nya pelindung, pengantara dan lin sebagainya dan menambah-nambah ajaran agama yang tidak ada dasarnya.
Demikian pula mereka sangat aniaya, mendustakan ayat-ayat Alquran memutar balikkan isi kitab Taurat dan Injil dan menolak mukjizat Rasul yang dikatakan mereka sebagai sihir dan mendustakan ayat-ayat alamiah yang menunjukkan Keesaan Allah swt. Sesungguhnya orang-orang yang berbuat itu yakni berbuat dusta terhadap Allah ataupun mendustakan ayat-ayat-Nya apa lagi mendustakan keduanya, tidak akan memperoleh keberuntungan di hari kiamat tetapi mereka akan mendapatkan azab dari Allah swt. Di dalam dunia ini mereka tidak akan beruntung, karena mereka dikalahkan kaum muslimin seperti dalam perang Badar dan gugurnya pemimpin-pemimpin mereka.


22 Dan (ingatlah), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik:` Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami)? `.(QS. 6:22)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 22

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِينَ أَشْرَكُوا أَيْنَ شُرَكَاؤُكُمُ الَّذِينَ كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ (22

Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan tentang hari berbangkit, saat dikumpulkan seluruh umat manusia yang pada hari itu hanya terbagi kepada dua golongan: mereka yang rugi dan mereka yang beruntung. Kemudian Allah SWT berkata kepada orang-orang yang merugikan diri sendiri yakni orang-orang musyrikin di manakah sembahan-sembahanmu yang dulu kamu katakan sekutu Allah? Sewaktu di dunia mereka meminta pertolongan dan memanjatkan doa kepada sembahan selain Allah, yang mereka jadikan sebagai pelindung atau sebagai pengantar untuk mendekatkan diri pada Allah atau untuk memberi syafaat kepada mereka pada hari kiamat. Mengapa sembahan-sembahan itu menghilang dan tidak nampak bersama mereka pada hari kiamat?. Seperti difirmankan Allah SWT dalam ayat ini:


وَمَا نَرَى مَعَكُمْ شُفَعَاءَكُمُ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ أَنَّهُمْ فِيكُمْ شُرَكَاءُ لَقَدْ تَقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَزْعُمُونَ(94

Artinya:
Dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah pertalian antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).
(Q.S Al An'am: 94)


23 Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan:` Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah `.(QS. 6:23)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 23

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ (23

Kemudian Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa sesudah mereka tidak dapat memberikan jawaban untuk mempertanggungjawabkan kemusyrikan mereka sewaktu di dunia, yakni anggapan mereka ada Tuhan lain di samping Allah, maka mereka lalu menjawab semata-mata untuk membersihkan diri dari perbuatan mereka itu. Mereka menyatakan dengan sumpah bahwa mereka bukanlah mempersekutukan Allah. Demikianlah akhir dari segala kekafiran dan kemusyrikan mereka. Sewaktu di dunia mereka telah menganut agama nenek moyang mereka. Untuk sembahan-sembahan dan pujaan-pujaan itu, mereka rela mati terbunuh dalam peperangan. Tetapi pada akhirnya, mereka membersihkan diri dari kemusyrikan dan kekafiran itu. Seraya bersumpah, bahwa mereka mengingkari sembahan-sembahan mereka sendiri. Mereka mengira bahwa pernyataan mereka demikian itu ada manfaatnya bagi mereka, pada hal sebaliknya menambah dosa baru bagi mereka.
Tingkah laku dan perbuatan mereka adalah menjadi saksi atas kemusyrikan mereka. Kaki dan tangan mereka akan menceritakan semua dosa mereka. Oleh sebab itu, pada akhirnya mereka akan mengakui kekafiran mereka itu.
Firman Allah


رَبَّنَا هَؤُلَاءِ شُرَكَاؤُنَا الَّذِينَ كُنَّا نَدْعُوا مِنْ دُونِكَ
Artinya:
Ya Tuhan kami! Mereka inilah sekutu-sekutu kami yang dahulu kami sembah selain dari Engkau.
(Q.S An Nahl: 86)


24 Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.(QS. 6:24)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 24 

انْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (24

Sesudah Allah menceritakan pernyataan orang-orang musyrikin pada hari kiamat itu yang berusaha untuk membersihkan diri mereka dari kemusyrikan, maka dalam ayat ini Allah menyuruh Rasul saw. dan umatnya untuk memperhatikan sikap orang musyrikin yang sangat mengherankan itu. Bagaimana bisa terjadi mereka membohongi diri mereka di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui segala yang gaib, yang tidak memerlukan kesaksian kesaksian. Suatu keanehan dan kejanggalan yang patut diperhatikan bahwa segala apa yang mereka anggap sekutu-sekutu Allah ternyata tidak memberi faedah sedikitpun kepada mereka. Syafaat, pertolongan, restu, perlindungan dan lain sebagainya yang mereka harapkan dari sekutu-sekutu itu lenyap dari mereka.
Firman Allah swt.:


أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا
Artinya:
Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?. Orang orang musyrik itu menjawab, "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami".
(Q.S Al A'raf: 37)


25 Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata:` Al quran ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu `.(QS. 6:25)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 25

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (25

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan faktor-faktor yang menyatakan mereka tidak beriman. Segolongan orang-orang kafir ikut mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran yang mengajak mereka bertauhid, tetapi bunyi ayat-ayat itu tidak dapat mempengaruhi pendirian mereka, sehingga mereka tetap dalam kekafiran. Mereka tidak dapat memahami dan mengerti ayat Allah swt. ini disebabkan ada tabir yang menutup hati mereka. Mereka tidak dapat mendengar dengan baik ayat-ayat Allah swt. itu seolah-olah ada suatu benda pada telinga mereka yang mengganggu pendengaran mereka sehingga ayat-ayat Allah itu tidak menyentuh jiwa mereka.
Baik tabir hati mereka maupun sumbatan pada pendengaran mereka adalah sebenarnya gambaran dari fanatisme yang pekat atau taklid buta dari pihak mereka sendiri, kemudian Allah menjadikannya sebagai penghambat bagi mereka untuk merenungkan dan mempelajari kenyataan-kenyataan itu. Karena taklid buta itu, mereka tidak dapat membedakan antara yang hak dan yang batil, mereka tidak bersedia mempertimbangkan antara paham yang mereka anut dengan paham orang lain, antara agama mereka dengan agama yang lain.
Setiap kepercayaan yang berlainan dengan apa yang mereka pegangi, ditolak tanpa memikirkan mana yang lebih dekat kepada kebenaran dan yang lebih banyak membawa petunjuk kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bilamana mereka melihat tanda-tanda atau bukti-bukti yang menunjukkan: kebenaran kerasulan Muhammad saw. mereka tidak mempercayainya, bahkan menuduhnya sebagai sihir disebabkan fanatisme yang pekat dan didorong oleh rasa permusuhan yang mendalam. Mereka tidak dapat lagi menanggapi maksud dari ayat-ayat Alquran dan tanggapan mereka terbatas kata-kata lahir dan ayat-ayat itu.
Demikian kosongnya hati mereka dalam menaggapi ayat-ayat itu sehingga bilamana mereka datang menemui Nabi Muhammad saw untuk membantah dakwah beliau, mereka mengatakan ayat-ayat Alquran ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang zaman dahulu. Padahal dalam Alquran itu banyak berita tentang yang gaib, hukum-hukum, ajaran-ajaran akhlak, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya yang sampai akhir zaman tetap mempunyai nilai yang tinggi. Tetapi kesemuanya itu dipandang oleh orang orang musyrikin itu sama dengan dongeng-dongeng dan tahyul-tahyul orang zaman dahulu yang tak memberi bimbingan hidup kepada manusia. Hal ini menunjukkan kegelapan hati dan pikiran mereka. Sekiranya mereka mau merenung kisah dalam Alquran yang menerangkan pelajaran sejarah manusia, hukum sebab akibat yang berlaku pada umat-umat yang lalu itu, tentulah mereka tidak akan berkata demikian itu.


26 Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.(QS. 6:26)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 26

وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (26

Dalam ayat ini Allah swt menjelaskan lagi bahwa mereka tidaklah berhenti mendustakan ayat-ayat Alquran itu dan memandangnya sebagai sihir, bahkan mereka mencegah orang lain mendengarkan serta menghasutnya, agar orang-orang itu tidak tertarik kepada Alquran yang indah bahasanya dan maknanya yang padat melebihi bahasa penyair-penyair mereka, sehingga pemimpin musyrikin itu merasa khawatir terhadap pengaruh gaya bahasa Alquran itu kepada pendengarnya. Mereka menyadari bahwa kesempatan untuk memperhatikan ayat Alquran itu berarti kesempatan untuk menanggapi mukjizatnya, karena itulah mereka menghalangi orang lain.
Di samping mencegah orang lain, mereka sendiri menjauhkan diri dan Alquran itu untuk menunjukkan bahwa mereka sangat menentangnya dan untuk menguatkan larangan mereka.
Meskipun orang-orang musyrikin itu telah berdaya upaya dengan pelbagai cara untuk memadamkan cahaya Islam, namun tidak akan memberikan faedah sedikitpun. Bahkan Allah menyatakan pada akhir ayat ini bahwasanya tindakan mereka itu bukanlah menghancurkan Islam tetapi menghancurkan mereka sendiri tanpa mereka sadari. Peringatan akan kehancuran mereka ini beberapa tahun kemudian terbukti kebenciannya dalam pelbagai peperangan dan kemenangan di pihak Rasulullah saw.


27 Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata:` Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami serta menjadi orang-orang yang beriman `, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).(QS. 6:27)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 27 

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (27

Sesudah Allah me nyatakan akan kehancuran mereka, maka dalam ayat ini Allah menerangkan keadaan mereka di hari akhir nanti yang tentu akan disaksikan oleh umat manusia. Sewaktu mereka dihadapkan ke muka api neraka dan menyadari azab yang akan mereka derita, timbullah dalam diri mereka n atas kekafiran dan kelancangan mereka terhadap Allah dan Rasul di dunia. Maka pada saat yang sangat mengerikan dan dahsyat itu mereka mengajukan permohonan mereka kepada Allah, "Kiranya Dia berkenan mengembalikan ke dunia untuk bertobat dan beramal saleh serta beriman kepada Allah dan Rasul-Nya tidak lagi mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka berjanji akan menjadi orang mukmin".
Keinginan mereka kembali ke dunia ini menunjukkan kejahilan mereka karena hal itu suatu hal yang mustahil. Orang-orang musyrikin itu di hadapan api neraka meratapi nasib mereka akibat dari perbuatan mereka di dunia yang menjadi penganut agama berhala dan menyetujui saja apa yang dikatakan oleh pemimpin-pemimpin mereka. Tetapi ratapan itu tidak ada gunanya, Firman Allah swt:


وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ(167

Artinya:
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami" Demikianlah Allah akan memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.
(Q.S Al Baqarah: 167)


28 Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.(QS. 6:28)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 28 

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (28

Allah dalam ayat ini menegaskan bahwa bukanlah benar keinginan mereka hendak kembali ke dunia untuk menjadi orang yang beriman bahkan karena ada suatu hal yang lain, yaitu sesudah nampak bagi mereka akibat yang buruk dari kekafiran dan kemusyrikan dan melihat azab neraka yang akan menimpa mereka, maka mereka merasa takut yang amat sangat dan mereka ingin bebas dari siksaan itu dengan dikembalikan ke dunia. Pada hari kiamat itu tidak ada sesuatu yang dapat disembunyikan. Segala kenyataan akan terbuka anggota badan manusia menjadi saksi atas segala sesuatunya yang buruk dan yang baik. Bagaimana sesuatu dapat tersembunyi di hadapan Yang Maha Mengetahui lahir dan batin?.
Firman Allah swt:


يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ(18

Artinya:
Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu) tiada sesuatupun dari keadaanmu tersembunyi (bagi Allah).
(Q.S Al Haqah: 18)
Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia seperti yang mereka inginkan, niscaya mereka kembali seperti semula, yakni kembali kepada syirik, kemungkaran, tipu muslihat, kemaksiatan dan segala yang terlarang, karena kejahatan itu sudah mendarah daging pada diri mereka dan disebabkan kelemahan mereka untuk menerima suatu yang baik. Menyatakan keinginan mereka akan menjadi orang beriman dan tidak akan mendustakan ayat-ayat Allah swt adalah dusta belaka, karena pernyataan itu lahir sebab ketakutan akan siksa neraka dan sifat mereka tidak akan berubah. Jika kembali ke dunia, mereka kembali sombong, membanggakan dan melakukan maksiat.


29 Dan tentu mereka akan mengatakan (pula):` Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan `.(QS. 6:29)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 29

وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ (29

Dan juga jika kembali ke dunia mereka akan mengatakan bahwa sesungguhnya tiada kehidupan lain kecuali kehidupan yang dialami dalam dunia ini. Menurut paham orang kafir hidup ini terbatas pada kehidupan duniawi semata-mata. Mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, hari pembalasan atau pertolongan. Demikian pula tak ada pahala ataupun azab di akhirat. Oleh sebab itu mereka berbuat dalam dunia ini berdasarkan keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan mereka masing-masing.
Firman Allah swt.


وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ(24

Artinya:
Dan mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa." Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(Q.S Al Jasiyah: 24)


30 Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah:` Bukankah (kebangkitan) ini benar? `Mereka menjawab:` Sungguh benar, demi Tuhan kami `. Berfirman Allah:` Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya) `.(QS. 6:30)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 30

وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (30

Sesudah Allah swt. menjelaskan keingkaran orang-orang kafir itu tentang hari kiamat sewaktu hidup di dunia, maka dalam ayat ini Allah menerangkan perihal mereka di akhirat saat terungkapnya kekeliruan pandangan mereka. Dalam suasana yang sangat menggugah perasaan yaitu sewaktu orang-orang kafir itu diperintahkan berdiri di tempat yang sudah ditentukan di depan pengadilan Allah swt. Allah swt. bertanya kepada mereka, "Bukankah ini benar".
Bukankah hari kiamat yang mereka sedang alami saat ini, yang dulu mereka ragu-ragukan bahkan mereka perolok-olokkan merupakan suatu kenyataan? Tidak merupakan berita kosong seperti yang mereka katakan. Dalam menghadapi pertanyaan Allah swt ini, mereka tidak dapat memanggil sekutu-sekutu yang mereka tuhankan, tidak pula mereka dapat tolong menolong satu sama lain, maka pada akhirnya mereka menjawab pertanyaan Allah swt itu, "Sungguh benar, demi Tuhan kami". Mereka tidak dapat lagi mengingkari kenyataan adanya hari bangkit itu dan mereka memperkuat pengakuan mereka atas kebenaran itu dengan mempergunakan kata sumpah "demi Tuhan". Mereka mengakui bahwa selama ini sesat dan kafir.
Sesuai dengan pengakuan itu, semestinyalah dirasakan kepada mereka azab hari kiamat yang semasa di dunia selalu mereka dustakan. Kekafiran yang mereka tonjolkan dan andalkan itu adalah penyebab dari semua derita yang mereka alami.


31 Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata:` Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu! `, Sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.(QS. 6:31)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 31 

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (31

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan tentang kerugian orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah swt, kerasulan Muhammad saw. dan hari berbangkit. Mereka itu mendustakan akan pertemuan dengan Allah swt. Mereka tidak mendapat keuntungan seperti halnya orang-orang yang beriman. Keuntungan orang-orang yang beriman di dunia sebagai buah keuntungan misalnya, kepuasan batin, rida dan merasa bahagia dengan nikmat Allah dalam segala keadaan, mereka bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat, sabar dan tabah terhadap derita. Adapun keuntungan di akhirat sebagai buah dari imannya ialah seperti memperoleh rida Ilahi yang besar, mengalami kemudahan dalam hisab, kebahagiaan surga yang tak dapat digambarkan oleh manusia.
Orang-orang kafir yang mendustakan perjumpaan dengan Allah swt kehilangan segala keuntungan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya akan hari berbangkit, hidup bagi mereka terbatas dalam dunia ini saja. Oleh sebab itu hidup mereka selalu dikejar-kejar oleh keinginan-keinginan yang tak ada batasnya dan kepentingan-kepentingan mereka yang saling bertentangan. Mereka tidak pernah barang sesaat mengalami kepuasan batin, ketenteraman rohani dan rida Ilahi, bahkan mereka lebih dekat kepada setan yang membuat mereka lupa daratan. Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu sampai datang kepada mereka kiamat. Keadaan hari kiamat itu amat mendadak, tak seorangpun yang dapat mengetahui. Sewaktu ia datang, orang kafir menyatakan penyesalannya karena mereka membatasi hidup ini pada kehidupan di dunia saja sehingga mereka lalai mempersiapkan diri untuk hari kiamat. Dalam pada itu mereka memikul beban yang berat yakni dosa dan kesalahan mereka di atas pundak mereka dan mereka akan menerima hukuman atas dosa kesalahan itu. Beban yang berat yang mereka pikul pada hari kiamat ini benar-benar merupakan beban yang amat buruk.


32 Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?(QS. 6:32)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 32 

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (32

Dalam ayat ini Allah menegaskan gambaran kehidupan duniawi dan ukhrawi. Kehidupan dinia ini sesungguhnya tidaklah lain hanyalah permainan dan hiburan. Bagi mereka yang mengingkari hari berbangkit dan kiamat memang demikianlah mereka sangat mencintai hidup duniawi ini. Seperti anak-anak bermain-main mereka memperoleh kesenangan dan kepuasan sewaktu dalam permainan itu. Semakin pandai dia mempergunakan waktu bermain itu semakin banyak kesenangan dan kepuasan yang mereka peroleh. Sehabis bermain itu mereka tidak memperoleh apa-apa, atau seperti pengisap narkotik, dia mendapatkan hiburan-hiburan yang amat menyenangkan sewaktu dia tenggelam dalam kemabukan narkotik itu. Hilanglah segala gangguan-gangguan pikiran yang tidak menyenangkan, lenyaplah kelelahan dan kelesuan rokhaniah dan jasmaniah pada waktu ini. Tetapi sebentar kemudian, bila racun narkotik itu sudah tidak berdaya lagi, hiburan yang menyenangkan itupun lenyap dan dia menderita kelelahan lebih berat dari sebelum minum narkotik. Begitulah keadaan orang-orang yang ingkar terhadap hari berbangkit dan hidup sesudah mati itu. Mereka membatasi diri mereka dalam kesempatan pendek itu. Hidup bagi mereka adalah permainan dan hiburan.
Bagi orang-orang yang mukmin dan takwa tentulah mereka berpikir tidak seperti orang-orang yang ingkar itu. Tidaklah patut mereka membatasi diri pada garis kehidupan yang pendek. Apakah arti kesenangan dan kenikmatan yang hanya sebentar saja, untuk kemudian menderita dengan tidak memperoleh apa apa. Oleh karena itu orang-orang mukmin, hendaklah memilih garis kehidupan. yang lebih panjang yakni kehidupan ukhrawi, sebab itulah kehidupan yang paling baik dan untuk garis kehidupan yang panjang ini hendaklah dia mempersiapkan diri dengan amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah swt.


33 Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.(QS. 6:33)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 33 

قَدْ نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (33

Allah swt menyatakan, Dia mengetahui bahwa perkataan-perkataan musyrik Mekah itu menyedihkan hati Nabi Muhammad saw. seperti mereka mengatakan, "Muhammad seorang pendusta, tukang sihir, seorang penyair, seorang tukang tenung dan sebagainya", serta mereka berusaha menjauhkan Muhammad dari kaumnya. Timbulnya kesedihan itu adalah wajar bagi Nabi, karena jiwa dan pikirannya yang bersih lagi suci itu tidak tega melihat kesesatan dan kemungkaran yang ada pada kaumnya, padahal ia selalu mengajak dan menyeru mereka kepada jalan yang benar.
Dengan ayat ini Allah swt melarang Nabi Muhammad saw bersedih hati dan berduka cita karena perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan orang kafir itu. Larangan ini dikuatkan Allah dengan firman-Nya yang lain:


وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ(65

Artinya:
Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
(Q.S Yunus: 65)
Dan firman Allah swt:


فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ(76

Artinya:
Maka janganlah jawaban mereka menyedihkan kamu Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.
(Q.S Yasin: 76)
Dan Allah swt melarang juga Nabi Muhammad bersedih hati karena mereka tidak beriman, dalam firman Allah swt:


وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ(127

Artinya:
Bersabarlah (hai Muhammad); dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan".
(Q.S An Nahl: 127)
Dan firman Allah swt:


وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ مِمَّا يَمْكُرُونَ(70

Artinya:
Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka dan janganlah (dadamu) merasa sempit terhadap apa yang mereka tipudayakan.
(Q.S An Naml: 70)
Allah swt menyatakan bahwa sebenarnya orang-orang kafir Mekah itu percaya kepada Nabi Muhammad, bahkan mereka telah menyerahkan kepada Muhammad urusan menyelesaikan perselisihan yang sangat berbahaya seperti urusan meletakkan kembali batu hitam (Hajar Aswad) ke tempatnya pada Kakbah dan sebagainya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari As Suddy, ia berkata, "telah bertemu Akhnas bin Syuraiq dengan Abu Jahal bin Hisyam, maka berkata Akhnas kepada Abu Jahal, "Hai Abul Hakam! Terangkanlah kepadaku tentang Muhammad, apakah ia seorang yang benar atau seorang pendusta. Sesungguhnya tidak ada orang yang lain di sini mendengar perkataanmu selain aku". Abu Jahal menjawab, "Demi Allah, sesungguhnya Muhammad adalah seorang yang benar, tidak pernah ia berdusta. Tetapi apabila Banu Qusay telah menguasai panji-panji, pelayanan air minum, urusan kunci Kakbah, urusan permusyawaratan (Nadwah) dan kenabian, maka apa lagi yang akan dimiliki orang-orang Quraisy yang lain". Maka Allah menurunkan ayat ini
Dari Abu Maisarah, ia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah saw lewat di hadapan Abu Jahal dan teman-temannya, mereka berkata, 'Hai Muhammad! Demi Allah, tidaklah kami mendustakan engkau dan sesungguhnya engkau menurut kami adalah orang yang benar tetapi kami mendustakan risalah yang engkau bawa'". Maka turunlah ayat ini.
Yang sebenarnya ialah orang-orang kafir itu tidak mempercayai kenabian Muhammad saw. Ayat-ayat Alquran yang diturunkan Allah, adanya hari kiamat, hari berbangkit serta semua yang dibawa dan disampaikan Muhammad.
Ar Razi dalam tafsirnya menerangkan empat macam bentuk keingkaran orang-orang kafir Mekah itu, yaitu:
1. Hati mereka mengaku Muhammad sebagai seorang yang dapat dipercaya, tetapi mulut mereka mendustakannya, karena mereka mengingkari Alquran dan kenabian Muhammad saw.
2. Mereka tidak mau menyatakan bahwa Muhammad seorang pendusta karena mereka mengetahui betul keadaan Muhammad yang sebenarnya yang tidak pernah berdusta. Menurut mereka Muhammad sendirilah yang mengkhayalkan di dalam pikirannya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul, lalu ia menyeru manusia.
3. Mereka selalu mendustakan kenabian dan risalah, sekalipun telah dikemukakan mukjizat-mukjizat dan dalil-dalil yang kuat mereka tetap mendustakan ayat-ayat Allah.
4. Mereka tidak mau percaya kepada mukjizat dan dalil-dalil itu, bahkan mereka mengatakan bahwa mukjizat itu adalah sihir belaka.
Dari susunan kalimat ayat ini dipahami bahwa Allah swt. meninggikan derajat Nabi Muhammad saw. Derajat itu tidak akan turun walaupun orang kafir Mekah mendustakan dan mengingkarinya. Ketinggian derajat itu dipahami dari firman Allah swt. yang menyebutkan perintah mengikuti Muhammad disebut sesudah perintah mengikuti Allah swt.
Allah swt. berfirman


مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا(80

Artinya:
Barang siapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.
(Q.S An Nisa': 80)
Dan firman Allah swt.


إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ
Artinya:
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepadamu. sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.....
(Q.S Al Fath: 10)


34 Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.(QS. 6:34)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 34

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ (34

Allah swt mengingatkan kepada Nabi Muhammad agar jangan bersedih hati dan berduka cita atas tindakan-tindakan orang-orang kafir itu, karena yang demikian itu adalah suatu yang biasa terjadi, para Nabi dan Rasul yang telah diutus Allah swt sebelumnya didustakan dan diingkari pula, bahkan disakiti dan pengikut-pengikut mereka dianiaya. Tetapi mereka tetap tabah dan sabar terhadap yang demikian itu.
Allah swt berfirman:


وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كَذَّبَتْ قَبْلَهُمْ قَوْمُ نُوحٍ وَعَادٌ وَثَمُودُ(42
Artinya:
Dan jika mereka (orang-orang musyrik) mendustakan kamu, maka sesungguhnya telah mendustakan pula sebelum mereka kaum Nuh, Ad dan Samud.
(Q.S Al Hajj: 42)
Dan firman Allah swt:


وَإِنْ يُكَذِّبُوكَ فَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ(4

Artinya:
Dan jika mereka mendustakan kamu (sesudah kamu beri peringatan) maka sungguh telah didustakan pula Rasul-rasul sebelum kamu. Dan kepada Allah lah dikembalikan segala urusan.
(Q.S Fatir: 4)
Dari perkataan (sampai datang pertolongan Kami kepada mereka) dipahami bahwa para nabi dan rasul dahulu sangat tabah dan sabar menghadapi segala macam tindakan-tindakan kaumnya walaupun apa yang terjadi. Karena tindakan-tindakan itu, Allah menimpakan kepada mereka malapetaka yang besar, seperti sambaran petir, guncangan gempa yang dahsyat, serangan badai dan sebagainya. Allah swt. menyelamatkan para Nabi dan Rasul beserta kaumnya yang beriman dari azab yang besar itu dan menyelamatkan mereka dari tindakan kaumnya yang ingkar itu.
Ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad saw. dalam menghadapi tindakan-tindakan orang-orang musyrik Mekah karena sebagaimana nabi-nabi dan rasul-rasul dahulu diselamatkan Allah swt., pasti Dia menyelamatkan Nabi Muhammad dan kaum muslimin serta memenangkan agama Islam.
Hiburan ini dijelaskan lagi dengan tegas dalam firman Allah swt. yang lain.


فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ بَلَاغٌ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ(35

Artinya:
Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.
(Q.S Al Ahqaf: 35)
Dan firman Allah swt.


وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا(10

Artinya:
Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.
(Q.S Al Muzammil: 10)
Allah swt juga menegaskan bahwa pertolongan dan janji Allah yang telah ditetapkan itu tidak akan berubah sedikitpun, baik ucapan janji itu sendiri maupun maksud dan isi dan janji itu.
Ayat ini juga mengisyaratkan kepada Nabi Muhammad saw bahwa kisah yang berhubungan dengan sikap dan tindakan orang-orang dahulu terhadap Nabi-nabi dan Rasul-rasul mereka serta ketabahan, kesabaran dan pertolongan Allah kepada para Nabi dan Rasul beserta pengikut-pengikut mereka telah, disampaikan Allah pula kepada Nabi Muhammad berupa ayat-aya( Alquran yang telah diturunkan. Hal ini sesuai pula dengan riwayat yang menerangkan bahwa surah Al An'am ini diturunkan sesudah surah-surah Asy Syu'ara, An Naml, Al Qasas, Hud, Al Hijr yang di dalam surah-surah itu diterangkan kisah-kisah para Nabi dan Rasul serta pengikut-pengikut mereka dalam menghadapi tindakan dan penganiayaan kaumnya.
Dengan ayat ini Allah swt menjanjikan pula pertolongan dan kemenangan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman. Dan ini ditegaskan oleh firman Allah swt.


إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ(51

Artinya:
Sesungguhnya Kami menolong Rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).
(Q.S Al Mu'min: 51)
Dalam firman Allah swt


لِيَجْزِيَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ(45

Artinya:
Agar Allah swt memberi pahala kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar.
(Q.S Ar Rum: 45)
Ayat-ayat di atas dan ayat-ayat yang sebelumnya menerangkan syarat-syarat datangnya pertolongan Allah swt kepada orang-orang yang beriman, yaitu:
1. Beriman dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati.
2. Selalu menegakkan yang hak dan berlaku adil.
3. Selalu tabah dan sabar dalam keadaan bagaimanapun dalam menghadapi cobaan-cobaan Allah swt.


35 Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lobang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil.(QS. 6:35)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 35 

وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ (35

Orang-orang musyrik Mekah pernah meminta kepada Nabi Muhammad saw agar didatangkan kepada mereka mukjizat dan mereka berjanji akan beriman jika permintaan mereka itu dipenuhi. Maka Allah swt menolak permintaan itu dengan menurunkan ayat ini.
Dalam ayat ini Allah swt menyatakan kepada Nabi Muhammad saw. jika Nabi merasa berat orang-orang musyrik berpaling dari agama Allah dan mereka memajukan permintaan-permintaan yang beraneka ragam agar mereka beriman, maka jika Muhammad ingin mengabulkan tuntutan mereka maka Allah menyuruhnya membuat lubang di bumi, lalu berjalan di dalamnya, atau membuat suatu tangga lalu naik ke langit untuk mendapatkan apa yang mereka minta itu, tentu saja nabi (Muhammad) tidak akan dapat melakukannya.
Sesungguhnya orang-orang musyrik itu sejak dahulu telah meminta seperti yang demikian itu tetapi mereka meminta hal-hal yang aneh-aneh itu hanyalah semata-mata disebabkan oleh keingkaran mereka bukan untuk mencari kebenaran dan karena permintaan itu tidak dipenuhi maka bertambahlah keingkaran mereka dari semula, sebagaimana tersebut dalam firman Allah swt:


وَقَالُوا لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى تَفْجُرَ لَنَا مِنَ الْأَرْضِ يَنْبُوعًا(90

Artinya:
Dan mereka berkata, "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu, hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami.
(Q.S Al Isra': 90)
Dan firman Allah swt.


أَوْ يَكُونَ لَكَ بَيْتٌ مِنْ زُخْرُفٍ أَوْ تَرْقَى فِي السَّمَاءِ وَلَنْ نُؤْمِنَ لِرُقِيِّكَ حَتَّى تُنَزِّلَ عَلَيْنَا كِتَابًا نَقْرَؤُهُ
Artinya:
Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas atau kamu naik ke langit dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu, hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.
(Q.S Al Isra': 93)
Dan Allah swt menegaskan, "Engkau hai Muhammad adalah manusia yang diangkat menjadi Rasul, karena itu engkau tidak dapat melakukan sesuatu yang melampaui batas kesanggupan manusia. Yang sanggup mendatangkan yang demikian itu hanyalah Allah, karena Allah yang menguasai segala sesuatu."
Jika Allah menghendaki mereka mendapat petunjuk, beriman dan mengakui apa yang engkau bawa atau menjadikan mereka seperti malaikat yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah swt, atau menjadikan semua mereka menjadi orang yang baik, sama tingkatan dan kemampuan mereka, sama adat dan budi pekerti mereka, tentulah melakukan yang demikian itu amat mudah bagi Allah. Tetapi Allah berkehendak lain. Allah menganugerahkan kepada mereka akal, pikiran, kemauan dan perasaan, yang dengannya mereka dapat menimbang dan memilih mana yang baik, mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah dan sebagainya.
Allah mengatur alam ini dengan sunah-Nya. Segala sesuatu berjalan menurut sunah-Nya, tidak seorangpun sanggup merubah, menambah, mengurangi atau menukar sunah-Nya itu. Karena itu janganlah engkau hai Muhammad seperti orang yang tidak tahu tentang sunah-Nya itu, sehingga mencita-citakan sesuatu yang tidak sesuai dengan sunah Allah.


36 Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya), akan dibangkitkan oleh Allah, kemudian kepada-Nya-lah mereka dikembalikan.(QS. 6:36)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 36 

إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ ثُمَّ إِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (36

Pada ayat ini Allah swt menerangkan bahwa dalam menghadapi seruan Nabi dan risalah yang disampaikannya itu, manusia terbagi dua, yaitu ada manusia yang hidup jiwanya dan ada manusia yang mati jiwanya.
Manusia yang hidup jiwanya ialah manusia yang menggunakan akal, pikiran, perasaan dan kehendak serta pilihan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Dengan anugerah itu mereka melihat, memperhatikan dan menilai segala sesuatu yang dikemukakan kepada mereka. Yang baik mereka ambil, sedang yang buruk mereka buang. Karena itu hati dan pikiran mereka terbuka untuk menerima petunjuk Allah. Mereka ibarat tanah yang subur. Sedikit saja dituangi air, tanah itu akan menumbuhkan tanaman-tanaman subur.
Manusia yang mati jiwanya ialah manusia yang tidak mau menggunakan akal, pikiran, perasaan, pilihan dan mata hati yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka. Hati mereka telah dikunci mati oleh rasa dengki yang ada di dalamnya. Karena itu segala keterangan apapun yang dikemukakan Nabi kepada mereka tidak akan mereka dengar dan perhatikan. Seandainya mereka dapat melihat dan memperhatikan dalil-dalil dan bukti-bukti yang dikemukakan Rasul dan pikiran mereka menerimanya, namun semuanya itu akan ditolak dan tidak akan diterima karena rasa dengki yang telah ada itu. Mereka diibaratkan seperti tanah yang tandus, berapapun air dialirkan kepadanya, namun tanah itu tidak akan menumbuhkan sesuatu. Karena itu mustahil tanah itu akan dapat menumbuhkan tanaman-tanaman yang diharapkan.
Manusia macam yang kedua ini adalah orang-orang kafir yang kekafirannya amat mendalam, sehingga tidak ada lagi harapan bahwa mereka akan beriman dan mematuhi seruan Nabi. Maka Allah swt menganjurkan agar Muhammad saw tidak berhati pilu terhadap mereka, hanya serahkanlah keadaan mereka itu kepada Allah. Allah swt akan membangkitkan mereka nanti dari kuburnya di hari kiamat dan akan mengazab mereka sebagai balasan dari kekafiran mereka itu.


37 Dan mereka (orang-orang musyrik Mekah) berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu mukjizat dari Tuhannya? `. Katakanlah:` Sesungguhnya Allah kuasa menurunkan suatu mukjizat, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui `.(QS. 6:37)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 37

وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنَزِّلَ آيَةً وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (37

Ayat ini menegaskan lagi tentang sikap orang-orang musyrik yang sangat ingkar kepada seruan Nabi Muhammad saw dan kepada ayat-ayat Allah. Mereka meminta agar diturunkan kepada mereka bukti-bukti dan keterangan-keterangan tentang kebenaran kenabian Muhammad saw. sebagaimana yang pernah diturunkan kepada Rasul-rasul dahulu. Mereka tidak merasa cukup dengan bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang terdapat di dalam Alquran, pada hal bukti dan keterangan yang terdapat di dalam Alquran itu adalah yang paling tinggi nilainya bagi orang-orang yang mau menggunakan akal, pikiran dan mata hatinya. Mereka tetap menuntut agar diturunkan bukti dan keterangan seperti telah diturunkan kepada umat-umat yang dahulu tetapi mereka tidak mau memikirkan dan mengambil pelajaran dari sunah Allah yang berlaku bagi orang-orang yang menerima bukti dan keterangan seperti itu serta akibat yang dialami oleh orang-orang dahulu, yaitu mereka dihancur leburkan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang pedih, karena mereka tetap dalam keingkaran dan tidak memperhatikan bukti-bukti dan keterangan-keterangan itu.
Seakan-akan orang-orang musyrikin Mekah itu tidak mau tahu bagaimana kasih sayangnya Allah kepada mereka, yaitu Allah tidak menurunkan bukti dan keterangan seperti yang diturunkan kepada umat yang dahulu, agar mereka tidak dihancurkan di dunia ini, yang dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk bertobat dan berbuat baik tetapi mereka tidak man mensyukuri nikmat Allah yang telah diturunkan kepada mereka itu, malah tetap ingkar dan membangkang.
Sebenarnya Allah Kuasa menurunkan apa yang mereka minta tetapi Allah swt berbuat menurut kehendak-Nya, Dia hanya menurunkan bukti dan keterangan, Dia tidak menurunkan bukti dan keterangan berdasarkan permintaan dan hawa nafsu orang-orang musyrik, apa lagi bila permintaan itu adalah semata-mata untuk melemahkan dan menyulitkan Nabi.


38 Dan tiadalah bintang-bintang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.(QS. 6:38)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 38 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا طَائِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيْهِ إِلَّا أُمَمٌ أَمْثَالُكُمْ مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ (38

Allah swt menyatakan bahwa Dia menguasai segala sesuatu, ilmu-Nya meliputi seluruh makhluk yang ada, Dialah yang mengatur alam semesta. Semua yang melata di permukaan bumi, semua yang terbang di udara, semua yang hidup di lautan, sejak dari yang kecil sampai yang besar, sejak dari yang nampak sampai kepada yang tidak nampak, hanya Dialah yang menciptakan, mengembangkan, mengatur dan memeliharanya.
Bukanlah jenis manusia saja makhluk Allah yang hidup di dunia ini, banyak lagi macam dan ragam makhluk-makhluk lain, bahkan masih banyak yang belum diketahui oleh manusia. Semuanya itu tunduk dan menghambakan diri kepada Allah swt. mengikuti perintah-perintah-Nya dan menghentikan larangan-larangan-Nya.
Binatang melata (dabbah) dalam ayat ini maksudnya ialah: segala makhluk yang diciptakan Allah swt, di bumi. Disebut "binatang melata di bumi" saja karena binatang melata di bumi itulah yang mudah dilihat dan diperhatikan oleh manusia.
Pada ayat yang lain Allah swt menyebutkan bahwa selain di bumi, juga di planet-planet yang lainpun terdapat makhluk hidup. Allah swt berfirman:


وَمِنْ ءَايَاتِهِ خَلْقُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ وَهُوَ عَلَى جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ(29

Artinya:
Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.
(Q.S Asy Syura: 29)
Adanya makhluk-makhluk hidup yang disebutkan Allah planet-planet yang lain, sebagaimana yang disebutkan oleh ayat ini merupakan suatu pengetahuan yang diberikan Allah kepada manusia dan sebagai bahan pemikiran dan penyelidikan.
Ayat ini mendorong orang-orang yang beriman agar menyelidiki segala rupa kehidupan mahluk Allah yang ada di alam ini untuk memperkuat iman dan menambah ketaatan serta ketundukan kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan ayat ini Allah swt. menyatakan bahwa di dalam Alquran itu telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat dan kebahagiaan makhluk umumnya.
Menurut Ibnu Abbas yang dimaksud dengan "Al Kitab dalam ayat ini ialah "Ummul Kitab", yakni lohmahfuz. Karena maksud ayat ini menurut beliau ialah segala sesuatu telah dituliskan dalam Lohmahfuz. Menurut Ibnu Kasir tiada suatu makhlukpun yang dilupakan Allah memberi rezekinya, sebagaimana firman Allah swt.


وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ(6

Artinya:
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz).
(Q.S Hud: 6)
Semua makhluk yang diciptakan Allah itu akan lenyap atau mati dan kembali kepada pemiliknya, yaitu Allah swt, kemudian Dia akan membangkitkannya dan menghimpunnya untuk memberi pahala terhadap perbuatan yang baik dan memberi siksaan terhadap perbuatan yang buruk.


39 Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.(QS. 6:39)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 39 

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ فِي الظُّلُمَاتِ مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (39

Orang-orang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah yang telah diturunkan kepada rasul-rasul-Nya dan membuktikan kekuasaan dan keesaan Allah, kebenaran risalah yang dibawa Nabi Muhammad saw. mereka itu seperti orang pekak, tidak mendengarkan seruan kepada kebenaran, tidak mengacuhkan petunjuk-petunjuk kepada jalan yang benar. Mereka itu juga seperti orang bisu karena tidak membicarakan dan menyampaikan yang hak yang telah mereka ketahui dan mereka telah tenggelam dalam kegelapan yaitu kegelapan kepercayaan menyembah berhala, kegelapan taklid kepada nenek moyang mereka dan kegelapan kebodohan. Mereka akan dimasukkan Allah ke neraka Jahanam.
Allah swt. berfirman


وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ(179

Artinya:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi) neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai hati (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah), mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Q.S Al A'raf: 179)
Orang-orang yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan yang sesat karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk-Nya. Orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapat taufik, maka Dia menjadikan mereka pengikut jalan yang lurus, jalan kebenaran karena mereka memperhatikan dan memahami ayat-ayat Allah kemudian mereka amalkan sesuai dengan sunatullah yang berlaku di alam ini.
Allah swt berfirman


يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(16

Artinya:
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(Q.S Al Ma'idah: 16)


40 Katakanlah:` Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar! `(QS. 6:40)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 40 - 41

قُلْ أَرَأَيْتَكُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُ اللَّهِ أَوْ أَتَتْكُمُ السَّاعَةُ أَغَيْرَ اللَّهِ تَدْعُونَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (40) بَلْ إِيَّاهُ تَدْعُونَ فَيَكْشِفُ مَا تَدْعُونَ إِلَيْهِ إِنْ شَاءَ وَتَنْسَوْنَ مَا تُشْرِكُونَ (41

Ayat ini mengingatkan orang-orang kafir tentang sikap dan keadaan mereka di saat menerima cobaan berat dari Allah, mereka kembali kepada fitrahnya, ingat dan menyeru Allah Yang Maha Esa, memohon pertolongan-Nya agar dihindarkan dari cobaan-cobaan yang berat yang sedang mereka alami itu. Tetapi apabila cobaan berat itu telah terhindar dari mereka, mereka kembali mempersekutukan Allah. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menanyakan kepada orang-orang musyrik yang mendustakan ayat-ayat Allah dan mempersekutukan-Nya itu, "Terangkanlah kepadaku hai orang-orang musyrik, jika datang kepadamu. azab Allah seperti yang pernah menimpa umat-umat yang dahulu, seperti serangan angin kencang, banjir besar, petir yang menyambar dari langit dan sebagainya, apakah kamu sekalian akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada berhala-berhala dan sembahan-sembahan itu juga yang kamu katakan bahwa mereka dapat menolong dan melindungimu?"
Pertanyaan itu dijawab oleh Allah, yaitu, "Tidak! Tetapi hanya Dialah yang kamu seru". Maksudnya, "Hai orang-orang musyrik, penyembah-penyembah berhala, jika kamu ditimpa azab, seperti yang pernah menimpa orang-orang dahulu, maka kamu tidak akan meminta pertolongan dan perlindungan kepada selain Allah untuk menghindarkan kamu dari azab itu".
Dengan pertanyaan dan jawaban di atas, seakan-akan Allah swt. melukiskan watak orang musyrik pada khususnya dan watak manusia pada umumnya yaitu manusia dalam keadaan senang tidak ingat kepada Allah swt. tetapi bila dalam keadaan kesulitan dan kesukaran mereka ingat dan menyembah Allah.
Allah swt. Berfirman: 

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ(65

Artinya
Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah.
(Q.S Al Ankabut: 65)
Dan firman Allah 

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ(32

Artinya
Dan apabila mereka dilamun ombak yang (besar) seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.
(Q.S Luqman: 32)
Fitrah manusia yang sebenarnya ialah percaya kepada Allah Yang Maha Esa, Penguasa dan Pemilik semesta alam. Fitrah ini pada seseorang dapat berkembang dan tumbuh dengan subur dan dapat pula tertutup perkembangan dan pertumbuhannya oleh pengaruh lingkungan dan sebagainya.
Rasulullah saw bersabda:


ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
Artinya:
Tidak seorangpun dari anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah (mentauhidkan Allah), maka dua orang ibu-bapaknya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
di samping pengaruh orang tua dan pengaruh lingkungan, maka pengaruh hawa nafsu dan keinginanpun dapat mempengaruhi atau menutup fitrah manusia itu. Karena itu manusia di masa senang, tidak ingat kepada Allah. Tetapi bila ditimpa kesengsaraan mereka ingat kepada Allah swt.



Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [9]
Ayat 21 s/d 40 dari [165]





Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

TAFSIR AL QUR'AN SURAH AL-AN'AAM AYAT 1 - 20 ( 01 )

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR]: AL-AN'AAM
Ayat [165]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:1/9
1 Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.(QS. 6:1)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 1 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ (1

Dalam ayat ini, Allah swt. memuji dirinya dengan "alhamdulillah". Dengan demikian para hamba mengetahui bagaimana hendaknya mereka memuji Tuhan yaitu dengan mengucap kalimat "alhamdulillah". Segala puji adalah untuk Allah swt. karena Dialah yang paling berhak untuk menerima pujian itu. Dialah yang memiliki segala sifat-sifat yang terpuji dan segala sifat-sifat kesempurnaan. Allah menjelaskan tentang diri-Nya sebagai zat Yang Maha terpuji itu dengan menerangkan bahwa Dialah Pencipta langit dan bumi, gelap dan terang. Penciptaan langit dan bumi disebutkan secara khusus dalam ayat ini adalah untuk menunjukkan keistimewaannya sebagai ciptaan Allah yang besar dan senantiasa disaksikan oleh umat manusia dan pada keduanya terdapat pelajaran kemanfaatan dan kemudaratan yang kesemuanya itu merupakan tanda-tanda dari kesempurnaan Allah. Sedangkan bumi merupakan wadah bagi perwujudan dari kemanfaatan dan kemudaratan yang kesemuanya itu adalah merupakan akibat-akibat.
Pengadaan gelap dan terang yang dimaksudkan dalam ayat ini ialah pengadaan kegelapan-kegelapan dan cahaya terang itu sendiri yang nampak oleh indra. Kegelapan nampak di malam hari dan terang di siang hari, keduanya ada manfaat bagi hamba-hamba Allah swt. Di antara ulama salaf ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan "Zulmah" (gelap) dalam ayat ini ialah kekafiran dan yang dimaksud dengan "nur" (terang) ialah iman, maka mereka menguraikan makna ayat-ayat ini sebagai berikut: Allah swt. menciptakan langit dan bumi lalu Dia menegakkan bukti-bukti untuk mengenali-Nya dan mentauhidkan-Nya dan membentangkan jalan-jalan kesesatan dan jalan-jalan petunjuk dengan menurunkan syariat-syariat dan kitab-kitab-Nya, walaupun demikian orang-orang kafir itu berbuat jauh dari pikiran yang sehat dan mereka selalu memilih jalan kesesatan. Karena itu Allah swt. berfirman pada akhir ayat ini yang artinya, "Namun orang-orang kafir itu mempersekutukan dengan Tuhan mereka". Dalam ayat ini Allah swt. mempergunakan Zulumat (kegelapan-kegelapan) dalam bentuk jamak (plural) dari Zulmah (gelap), sedangkan kata "Nur" (terang) dipergunakan bentuk kata tunggal. Dimaksudkan dengan perbedaan bentuk itu ialah kesesatan (gelap) banyak macamnya sedangkan petunjuk (terang) hanya satu, kebenaran hanya satu, sedang kebatilan itu berbilang. Di akhir ayat ini, ditegaskan bahwa orang-orang kafir itu mengambil sikap bertolak belakang. Mereka tidak mengkhususkan pujian dan ibadah kepada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi dan Yang mengadakan gelap dan terang tetapi mereka mempersamakan Allah dengan selain-Nya dalam ibadah dan pujian. Padahal mereka menyadari, hanyalah Allah yang paling berhak menerima ibadah dan pujian itu.


2 Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).(QS. 6:2)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 2 

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا وَأَجَلٌ مُسَمًّى عِنْدَهُ ثُمَّ أَنْتُمْ تَمْتَرُونَ (2

Kemudian Allah swt. menghadapkan firman-Nya kepada orang-orang musyrikin yang mempersamakan Allah swt. dengan selain-Nya dalam peribadatan. Allah dalam ayat ini menunjukkan lagi bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan manusia pada hari kiamat. Dialah yang menciptakan manusia turunan Adam dari tanah yang basah. Setiap kejadian manusia tentulah mengandung unsur zat dari asal-usul kejadian induknya yang pertama yakni Adam a.s. Sifat-sat kejadian induk pertama itu tidaklah terbatas pada induk itu saja tetapi diturunkan kepada kesatuan jenisnya. Oleh karena itu penciptaan Adam a.s. dari tanah yang basah dapat juga dalam penciptaan untuk setiap turunannya.
Jika diperhatikan proses kejadian manusia, lebih jelas lagi bahwa kejadiannya dari tanah. Manusia mula kejadiannya dalam rahim berupa nutfah (zygote), yaitu percampuran antara sel mani laki-laki "sperma" dengan sel telur dari ibu "ovum". Disebabkan berasimilasi dengan zat makanan, maka nutfah yang sudah bercampur itu mengembangkan dirinya ke dalam janin, kemudian keadaan itu berubah sampai menjadi bayi. Sel hidup itu tersusun dari zat-zat yang bermacam dan zat itu sendiri hakikatnya terdiri dari zat-zat unsur kimia yang mati seperti zat besi, zat air yang berasal dari tanah. Demikian pula zat makanan itu baik dari tumbuh-tumbuhan ataupun daging hewan tersusun dari zat unsur kimia yang berasal dari tanah. Dari zat-zat makanan ini pula terbentuk sel mani yang ada pada manusia atau hewan. Demikian dengan kodrat Allah swt. Yang Maha Besar, zat unsur kimia yang mati itu menjadi sel hidup dan akhirnya menjadi bibit manusia.
Bilamana Allah swt. kuasa menciptakan sel hidup dari zat-zat mati, mengapa pula Allah tidak kuasa membangkitkan manusia pada hari kiamat? Bukankah pada proses kejadian manusia itu sendiri bukti nyata yang menunjukkan kodrat Tuhan untuk mengadakan hari berbangkit. Allah menentukan pula dua waktu untuk manusia yang tak dapat dilampauinya, yaitu waktu kematian dan waktu dibangkitkan dari kubur, sesudah kehancuran dunia. Waktu yang ditetapkan Tuhan untuk berbangkit itu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah swt.
Firman Allah swt:


إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ
Artinya:
Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat ada pada sisi Tuhanku, tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain dari Dia....
(Q.S Al A'raf: 187)
Meskipun orang-orang musyrikin menyaksikan kejadian diri mereka dan terbatasnya umur mereka yang kesemuanya itu membuktikan kekuasaan Allah swt. untuk menentukan hari berbangkit, namun mereka masih tetap ragu ragu. Seharusnya mereka dapat menarik kesimpulan dari kesaksian-kesaksian itu bahwa Yang Kuasa menciptakan zat-zat yang mati menghimpunkannya menjadi satu lalu memberinya hidup serta menentukan perkembangannya, tentu Dia Kuasa pula menghimpunkan kembali zat-zat yang mati dan menghidupkannya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya.


3 Dan Dialah Allah (Yang disembah), baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan dan mengetahui (pula) apa yang kamu usahakan.(QS. 6:3)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 3

وَهُوَ اللَّهُ فِي السَّمَاوَاتِ وَفِي الْأَرْضِ يَعْلَمُ سِرَّكُمْ وَجَهْرَكُمْ وَيَعْلَمُ مَا تَكْسِبُونَ (3

Kemudian dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa Dialah Allah Yang disembah, Yang menerima doa dan harapan dari semua makhluk-Nya di langit dan di bumi. "Allah" ialah nama yang Maha Agung bagi Tuhan Rabbulalamin, sudah dikenal oleh Bangsa Arab sebelum Islam. Sebab bangsa Arab pada zaman Jahiliah, bila mereka akan menjawab "Allah", maka maksudnya ialah Tuhan Yang berhak disembah. Tuhan Yang mempunyai sifat-sifat yang mereka kenal itulah yang patut mereka sembah.
Ayat lain yang sejalan dengan maksud ayat ini ialah firman Allah swt.:


وَهُوَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ إِلَهٌ وَفِي الْأَرْضِ إِلَهٌ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ(84

Artinya:
Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
(Q.S Az Zukhruf: 84)
Kedua ayat ini, yakni ayat ini dan ayat surah Zukhruf dengan jelas mengagungkan Allah karena kekuasaan-Nya menghidupkan kembali orang yang telah mati dan lebih-lebih karena kekhususan diri-Nya dalam mengetahui hari berbangkit dan keesaan-Nya dalam ketuhanan serta keesaan zat-Nya yang disembah di langit dan di bumi. Kepada Dia sajalah tujuan doa segala makhluk dalam alam semesta ini.
Kemudian Allah menegaskan lagi bahwa Dia mengetahui segala yang mereka rahasiakan atau yang mereka lahirkan, baik perkataan dan perbuatan mereka maupun gerak-gerik hati mereka, segala apa yang diusahakan oleh manusia, tidak luput dari pengetahuan Tuhan. Usaha yang baik akan diberi pahala usaha yang buruk akan diberi hukuman. Sangatlah sempurna perhatian Tuhan terhadap usaha manusia itu disebabkan hubungan usaha itu dengan balasan balasan-Nya.


4 Dan tak ada suatu ayatpun dari ayat-ayat Tuhan sampai kepada mereka, malainkan mereka selalu berpaling daripadanya (mendustakannya).(QS. 6:4)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 4

وَمَا تَأْتِيهِمْ مِنْ آيَةٍ مِنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (4

Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan sikap orang musyrikin yang sama sekali tidak dapat menanggapi dalil-dalil dan bukti-bukti kebenaran ayat ayat Alquran. Ayat-ayat yang menjelaskan bukti-bukti Keesaan Allah, hari berbangkit dan keluasan ilmu-Nya, tidak mereka renungkan. Bahkan mereka tidak pula berusaha mencari petunjuk dari tanda-tanda alamiah yang mereka saksikan di permukaan bumi ini ataupun di dalam diri mereka sendiri. Semua ayat-ayat Alquran yang menunjuk kepada ayat-ayat alamiah dan meneguhkan kenabian Muhammad saw. semuanya mereka tinggalkan dan dustakan. Mereka acuh tak acuh dan tidak mau merenungkan ayat-ayat alamiah padahal ayat-ayat itulah yang menunjukkan adanya Tuhan Yang Maha Esa yang menguasai dan mengurusi alam semesta ini dan tidak ada Tuhan Yang disembah kecuali Dia.
Sekiranya mereka tidak berpaling dari ayat-ayat Allah karena keras kepala atau fanatik kepada pemimpin-pemimpin mereka, tentu tampaklah kebenaran bagi mereka dan tentu pula mereka tidak akan ragu-ragu serta tidak pula menentang ajaran Rasul saw.
Senada dengan ayat ini, Allah berfirman di awal surah Al Anbiya


مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ(2)لَاهِيَةً قُلُوبُهُمْ
Artinya:
Tidak datang kepada mereka suatu ayat Alquran pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya. sedang mereka bermain-main lagi hati mereka dalam keadaan lalai.
(Q.S Al Anbiya': 2-3)


5 Sesungguhnya mereka telah mendustakan yang hak (Al quran) tatkala sampai kepada mereka, maka kelak akan sampai kepada mereka (kenyataan dari) berita-berita yang selalu mereka perolok-olokan.(QS. 6:5)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 5 

فَقَدْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَسَوْفَ يَأْتِيهِمْ أَنْبَاءُ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (5

Kemudian dalam ayat ini Allah swt. menerangkan bahwa sebab orang-orang musyrikin itu selalu berpaling dari ayat-ayat Allah karena sebenarnya mereka telah mendustakan yang hak ketika yang hak tersebut datang kepada mereka. Tindakan mereka yang salah itu karena kejahatan dari mereka sendiri sebagai akibat mereka menutup jalan bagi diri mereka sendiri untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
Yang dimaksudkan dengan "yang hak" di sini ialah agama Allah yang dibawa Nabi Muhammad saw. yang mengandung kaidah-kaidah agama, hukum-hukum syariat, ibadah-ibadah, muamalah, hukum haram dan halal, akhlak dan lain sebagainya yang kesemuanya dijelaskan dalam Alquran, mereka mendustakan agama berarti mendustakan Alquran yang menjadi dasar agama ini. Jika kiranya mereka memahami Alquran dan merenungkannya tentulah mereka tidak akan mendustakan ajaran-ajaran agama itu.
Allah menegaskan kelak akan sampai kepada mereka kebenaran berita-berita besar yang selalu mereka perolok-olokan. Suatu ketika mereka akan mengalami penghinaan di dunia dan kebinasaan di akhirat akibat pendustaan mereka kepada agama itu. Sebaliknya mereka akan menyaksikan kemenangan Rasul kaum Muslimin. Ancaman-ancaman Allah kepada mereka, sebelumnya merupakan berita belaka. Oleh karena itu mereka memperolok-olokkannya, demikian pula janji Allah untuk kemenangan kaum Muslimin. Tetapi kemudian berita-berita itu terbukti yaitu dengan datangnya musim kering yang menimpa mereka dan hancurnya kaum musyrikin itu dalam perang Badar dan perang lain-lainnya dan kemenangan kaum Muslimin dengan penaklukan kota Mekah.
Dalam Alquran berulang kali diceritakan ejekan-ejekan orang musyrikin zaman dahulu terhadap para nabi dan agama Allah, melalui tiga tingkatan. Pertama mereka tidak memperdulikan ayat-ayat Allah swt. dan tanda-tanda alamiah serta tidak mau merenungkannya. Kedua: mereka mendustakannya. Sikap tingkatan kedua ini melebihi tingkatan pertama, karena orang-orang yang bersikap acuh tak acuh belum tentu mendustakan, kemungkinan lain dia alpa dan lalai. Ketiga: mereka memperolok-olokannya. Orang yang mendustakan belum tentu dia sampai kepada sikap memperolok-olokkan. Sikap memperolok-olokkan ini sudah mencapai puncak keingkaran. Orang-orang kafir itu telah melalui ketiga tingkatan tersebut.


6 Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.(QS. 6:6)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 6

أَلَمْ يَرَوْا كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ مَا لَمْ نُمَكِّنْ لَكُمْ وَأَرْسَلْنَا السَّمَاءَ عَلَيْهِمْ مِدْرَارًا وَجَعَلْنَا الْأَنْهَارَ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمْ فَأَهْلَكْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَأَنْشَأْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ (6

Kemudian Allah swt. memperingatkan dalam ayat ini bukankah orang orang kafir itu sudah mengetahui berapa banyak generasi-generasi dari umat zaman dahulu yang telah dimusnahkan Allah seperti kaum Nuh, Ad, Samud dan lain-lain. Padahal mereka termasuk generasi-generasi umat yang telah diberi Allah kekuatan, keteguhan, kemerdekaan di bumi yang belum pernah diberikan Allah kepada orang Arab yang musyrik itu. Bumi mereka senantiasa mendapat siraman air hujan yang deras menimbulkan kemakmuran dan kesuburan. Sungai-sungai mengalir di bawah kebun-kebun tanaman tanaman mereka, menambah indah dan makmur bumi mereka. Segala nikmat dan karunia Tuhan tersebut yang telah diberikan kepada umat dahulu itu tidaklah dapat menghalangi azab Allah disebabkan dosa yang mereka perbuat. Dua macam dosa yang mereka lakukan yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Pertama dosa menentang Rasul-rasul dan mengingkari ajaran-ajaran mereka serta memperolok-olokkannya. Kedua: dosa kafir nikmat yaitu mereka mempergunakan nikmat-nikmat itu ke jalan yang berlawanan dengan petunjuk Allah.
Banyak ayat Allah dalam Alquran yang menceritakan tentang sebab-sebab kehancuran mereka. Seperti firman Allah swt:


وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ(59

Artinya:
Tidaklah pernah (pula) kami membinasakan kota-kota kecuali penduduknya dalam melakukan kelaliman.
(Q.S Al Qasas: 59).
Azab Tuhan yang dijatuhkan kepada umat yang ingkar ada dua macam pula.
Pertama: azab dengan membinasakan secara keseluruhan dengan menghapuskan mereka sampai ke akarnya. Kedua: azab dengan melenyapkan kemerdekaan dan kekuatan umat itu sehingga mereka menjadi umat yang hina.
Bila mereka sudah binasa, maka yang lain yang memiliki sifat-sifat yang baik, berlawanan dengan sifat-sifat umat yang binasa itu.
Ayat ini memperingatkan kaum musyrikin Mekah bahwa kekuatan dan kekuasaan mereka tidak dapat menghalangi hukuman Allah, seperti halnya bangsa-bangsa yang telah lalu.


7 Dan kalau Kami turunkan kepadamu tulisan di atas kertas, lalu mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang-orang yang kafir itu berkata: `Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata`.(QS. 6:7)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 7 

وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (7

Dalam ayat ini Allah menjelaskan keragu-raguan orang-orang kafir yang ingkar terhadap kebenaran wahyu dan kerasulan Muhammad saw. Nabi Muhammad saw. sesungguhnya sudah mengetahui berdasarkan keterangan-keterangan Allah swt. pada ayat-ayat yang lalu bahwa sebab-sebab mereka mendustakan agama ialah berpalingnya mereka dari ayat-ayat Alquran dan tertutupnya hati mereka untuk merenungkan dan memikirkan kejadian-kejadian dalam alam ini. Banyak bukti-bukti keesaan Allah nampak pada diri sendiri dan di atas bumi ini, baik ayat kauniah maupun ayat alamiah yang sangat jelas, tak ada yang kabur dan yang samar-samar. Namun demikian orang-orang musyrikin itu tetap dalam kekafiran. Penjelasan-penjelasan Alquran terhadap bukti Keesaan Allah dalam alam ini tidak merubah pendirian mereka. Umpamanya wahyu itu diturunkan dari langit kepada Muhammad saw. tercetak di atas kertas dan mereka dapat menyaksikannya dengan mata kepala mereka, lalu ketika tiba di bumi mereka dapat memegangnya dengan tangan mereka sendiri, tentulah orang kafir itu masih akan berkata, "Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata". Kata-keta demikian didorong oleh kesombongan di luar batas dan permusuhan yang mendalam. Mereka tetap memandang wahyu ilahi itu sebagai sihir dan merasa diri mereka kena sihir. Sihir ialah tanggapan indrawi terhadap sesuatu tidak menurut wujudnya yang sebenarnya. Umpamanya seutas tali nampak sebagai seekor ular. Orang-orang kafir mengatakan Alquran yang tercetak di atas kertas yang turun dari langit itu (kalau misalnya hal ini benar-benar terjadi) sebagai sihir. Jadi mereka tetap tidak akan percaya, karena mereka merasa penglihatan demikian itu palsu, sebab tidak ada kenyataannya dan mereka merasa menjadi orang yang kena sihir.


8 Dan mereka berkata: `Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?` Dan kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak diberi tangguh (sedikitpun).(QS. 6:8)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 8 

وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ مَلَكٌ وَلَوْ أَنْزَلْنَا مَلَكًا لَقُضِيَ الْأَمْرُ ثُمَّ لَا يُنْظَرُونَ (8

Kemudian Allah menerangkan lagi dalam ayat ini pikiran orang kafir Mekah tentang kerasulan. Mereka berpendapat semestinya ada seorang malaikat mendampingi Muhammad saw. yang turut memberi peringatan bersama dia dan memperkuat kerasulan beliau atau sama sekali Allah menurunkan Malaikat sebagai Rasul, bahkan mereka menghendaki dapat melihat Tuhan.
Di kalangan bangsa Arab terdapat kepercayaan tentang adanya hubungan antara Allah dengan makhluk-Nya. Menurut mereka, yang patut menjadi penghubung (Rasul) ini haruslah makhluk rohani (malaikat). Manusia, meskipun dia memiliki kesempurnaan rohani yang tinggi, seperti akal, akhlak dan adab yang mulia, namun tidak mungkin dia menjadi Rasul disebabkan dia masih bergaul dengan manusia dan terikat kepada kebutuhan jasmani, seperti makan minum dan berusaha. Aliran Kepercayaan seperti ini, bukanlah baru ada pada zaman Nabi Muhammad saw. bahkan sejak zaman Nabi Hud a.s.
Kaum musyrikin Mekah mempunyai dua pandangan mengenai kedudukan malaikat dalam kerasulan. Pandangan pertama ialah malaikat itu sendiri yang menjadi Rasul. Pandangan kedua ialah malaikat itu menyertai Nabi dan menjelaskan langsung kepada mereka bahwa Muhammad itu adalah Nabi. Pandangan mereka yang kedua ini, jika sekiranya tidak dikaitkan dengan kehadiran malaikat secara langsung di hadapan mereka, tidaklah menjadi perselisihan, sebab Nabi Muhammad saw. sudah menerangkan kepada mereka, bahwa beliau selalu didatangi malaikat. Tetapi mereka memandang diri mereka sederajat dengan Nabi saw. dalam sifat-sifat kemanusiaan. Oleh karena itu mereka berpendapat sanggup pula berhadapan dengan malaikat dan menerima pelajaran langsung dari malaikat. Di sinilah letak kekeliruan yang besar dari orang-orang kafir terhadap wahyu. Karena anggapan yang berlebihan terhadap diri sendiri, mereka menolak segala sesuatu yang tidak diperoleh mereka dengan langsung.
Terhadap pandangan mereka yang kedua, Allah menjelaskan dalam ayat ini hawa kalau Allah menghadirkan malaikat di hadapan mereka menurut wujud bentuknya yang asli, tentulah selesai urusan itu dengan kehancuran mereka dan mereka tidak akan diberi kesempatan lagi untuk menyatakan iman, bahkan azab segera akan menimpa mereka. Kehancuran mereka dapat disebabkan kedahsyatan rupa dari malaikat itu di saat malaikat itu menampakkan diri kepada mereka atau dapat pula mereka dimusnahkan oleh malaikat karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah swt.
Mengenai pandangan mereka yang pertama dijelaskan dalam ayat berikut.


9 Dan kalau Kami jadikan rasul itu seorang malaikat, tentulah Kami jadikan dia berupa seorang laki-laki dan (kalau Kami jadikan dia berupa seorang laki-laki) tentulah Kami meragu-ragukan atas mereka apa yang mereka ragu-ragukan atas diri mereka sendiri.(QS. 6:9)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 9 

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ مَلَكًا لَجَعَلْنَاهُ رَجُلًا وَلَلَبَسْنَا عَلَيْهِمْ مَا يَلْبِسُونَ (9

Dalam ayat ini Allah menjelaskan pandangan kaum musyrikin Mekah tentang kerasulan malaikat seperti tersebut dalam tafsir surah Al An'am ayat 8. Kalau Allah menjadikan Rasul-rasul dari golongan malaikat, seperti pendapat orang musyrikin Mekah itu, tentulah Allah akan menjadikan malaikat itu seperti manusia laki-laki dan mendengarkan ajaran-ajarannya. Tetapi bilamana malaikat yang menjadi Rasul (Nabi) itu berujud dalam bentuk manusia, maka tentulah mereka akan mengatakan dia itu manusia. Memang mereka itu tidak akan melihat lain kecuali bentuk rupa dengan sifat-sifat kemanusiaannya. Pada saat itu timbullah kesangsian dan keragu-raguan lagi dalam jiwa mereka dan tentulah mereka akan mendustakan seperti halnya mereka mendustakan Nabi Muhammad saw. Mereka menyatakan lagi pendapat mereka yaitu Rasul itu haruslah seorang malaikat. Demikianlah mereka berputar dalam suatu lingkaran keragu-raguan yang tak tentu ujung pangkalnya. Kaum musyrikin Mekah ini adalah suatu contoh dari kebanyakan manusia yang terjerumus dalam kesulitan disebabkan kesalahan mereka dalam memilih pegangan hidup dan akhirnya mereka kebingungan mencari jalan keluar.


10 Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.(QS. 6:10)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 10 

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (10

Sesudah Allah swt. menerangkan kekacauan pikiran orang-orang kafir tentang kerasulan dan keadaan mereka yang terus menerus mengingkarinya, maka pada ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa sikap perlawanan mereka terhadap kerasulan Nabi Muhammad saw. itu serupa halnya dengan perlawanan orang-orang kafir terhadap Rasul-rasul Allah pada zaman dahulu. Permusuhan dan penghinaan yang dialami Nabi Muhammad dialami pula oleh Rasul-rasul sebelum beliau. Firman Allah:


يَاحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ(30

Artinya:
Alangkah besarnya penyesalan terhadap hamba-hamba itu, tiada datang seorang Rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olok kaumnya.
(Q.S Yasin: 30)
Penghinaan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad saw. merupakan kelanjutan dari permusuhan terhadap Rasul-rasul sejak zaman dahulu, maka akibat yang mereka hadapi tentulah sama dengan akibat yang dihadapi oleh umat-umat musuh Rasul-rasul itu. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa mereka yang mencemoohkan dan menghina rasul-rasul itu akan ditimpa azab, sebagai yang selalu mereka olok-olokkan bilamana Rasul-rasul itu mengingatkan kepada mereka jalan yang betul. Mereka dibinasakan dalam dunia dengan suatu bencana yang sangat mengerikan.
Ayat ini menerangkan kepada Nabi, sunah Allah yang berlaku bagi umat manusia di masa dahulu dengan Rasul-rasul-Nya dan juga ayat ini sebagai penghibur dan pelipur hati Nabi Muhammad saw. karena penghinaan kaumnya kepadanya dan sebagai berita yang menggembirakan, yaitu berita kemenangan terakhir kelak bagi Nabi dan pengikut-pengikut beliau dan kekalahan kaumnya. Hanya saja kaum Nabi Muhammad tidak akan menerima azab seperti umat-umat yang lalu yakni kemusnahan sampai ke akar-akarnya. Azab yang dijatuhkan kepada mereka tidaklah mengakibatkan kemusnahan dan kehancuran karena Nabi Muhammad saw. adalah "nabiyyurrahmah" nabi yang membawa rahmat kepada umat manusia.


11 Katakanlah: `Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu`.(QS. 6:11)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 11

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (11

Sesudah menjelaskan kemusnahan kaum-kaum yang memusuhi rasul-rasul pada zaman dahulu, maka Allah swt. dalam ayat ini menyuruh Nabi Muhammad saw. untuk mengatakan kepada kaumnya agar mereka mengembara di atas bumi ini terutama sekali mendatangi negeri-negeri kaum-kaum yang telah binasa itu. Sebab dengan pengembaraan itu mereka akan dapat menyaksikan sendiri tempat-tempat yang bersejarah menjadi bahan renungan bagi mereka dan memikirkan mengapa bangsa-bangsa dahulu itu sampai binasa padahal mereka termasuk bangsa yang perkasa dan berkuasa. Sesudah itu hendaklah mereka melihat kepada diri mereka sendiri dan membandingkannya dengan umat-umat yang musnah itu.
Orang-orang kafir Mekah sebenarnya adalah pengembara karena pada umumnya mereka hidup sebagai pedagang antar daerah di semenanjung Arabia. Tetapi dalam pengembaraan sebagai pedagang, mereka tidak memperhatikan bekas-bekas peninggalan umat-umat yang musnah itu, seperti kaum Nuh dan Samud di Arabia Utara dan kaum Ad di Arabia Selatan. Betapa banyak generasi-generasi yang telah dibinasakan lalu diganti dengan generasi baru, sebagaimana diterangkan Allah dalam ayat enam surah ini. Kesemuanya itu hendaklah dijadikan bahan penyelidikan sejarah bangsa itu sendiri walaupun akan memakan waktu yang panjang, karena dari pengalaman sejarah bangsa-bangsa yang lampau banyak diperoleh pelajaran yang berguna bagi generasi mendatang.
Dengan turunnya ayat ini, hati Nabi Muhammad saw. tambah terhibur, karena di dalamnya mengandung isyarat-isyarat lagi bahwa kaum musyrikin akan mengalami kekalahan.


12 Katakanlah: `Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?`. Katakanlah: `Kepunyaan Allah`. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh-sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.(QS. 6:12)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 12

قُلْ لِمَنْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلْ لِلَّهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (12

Allah swt. menyuruh Rasul-Nya, agar menanyakan kepada kaumnya yang ingkar itu, "Kepunyaan siapakah segala yang ada di langit dan di bumi ini?" Pertanyaan ini untuk mematahkan dasar pikiran syirik, karena bangsa Arab Jahiliah itu sebenarnya telah mengakui bahwa yang menciptakan langit dan bumi ini ialah "Allah"
Kemudian Allah memerintahkan Rasul saw. untuk menjawab sendiri pertanyaan itu dengan jawaban, "Kepunyaan Allah". Kaum musyrikin tentulah akan menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang serupa. Tidak ada jawaban lain bagi mereka. Mereka tidak akan memungkirinya dan mengelakkannya. Karena itu mereka tidak boleh menyandarkan sesuatu dari alam ini kepada orang lain selain kepada Allah. Hanyalah Allah sendiri Raja dan Pemilik alam raya ini dengan segala isinya.
Allah swt. yang diakui ada-Nya oleh orang musyrikin Yang menciptakan langit dan bumi dan Yang memiliki keduanya itu telah menyatakan tentang diri-Nya melalui Rasul-Nya bahwasanya sifat kasih sayang merupakan keharusan dari zat-Nya dan sifat kasih itu meliputi keseluruhan makhluk-Nya. Dia Maha Penyayang kepada seluruh hamba-hamba-Nya dengan melimpahkan bermacam-macam nikmat lahir dan batin kepada mereka. Jika mereka berbuat dosa, Dia tidak segera menjatuhkan azab kepada mereka, sebaliknya mereka diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah. Perbuatan dosa yang mereka lakukan sehingga mengakibatkan murka Allah, bukanlah sebabnya dari Allah tetapi adalah merupakan akibat kesalahan manusia itu sendiri. Bukankah karena kasih sayang Allah, manusia itu diciptakan di atas dasar fitrah kejadian yang sempurna? Kemudian mereka diberi petunjuk untuk mengenali dan mengesakan-Nya dengan jalan menunjukkan bukti-bukti yang ada pada manusia dan pada alam semesta ini, karena rahmat Allah diutus-Nya Rasul-rasul kepada mereka dengan membawa Kitab-kitab yang penuh dengan ajaran-ajaran yang menuju kepada rida-Nya dan ajaran yang mencegah mereka dari murka-Nya. Akan tetapi kemudian manusia itulah yang menodai ajaran yang baik itu dengan kejahatan-kejahatan. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan menghina para Rasul. Allah berfirman:


وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ(76

Artinya:
Tidaklah Kami menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(Q.S Az Zukhruf: 76)
Karena rahmat Tuhan itu pulalah orang musyrikin Mekah tidak dibinasakan seperti umat-umat di masa yang silam.
Rasulullah saw. bersabda.


إن الله لما خلق الخلق كتب كتابا عنده فوق العرش: رحمتي سبقت غضبي
Artinya:
Tatkala Allah selesai menciptakan makhluk ini, Allah menulis di dalam kitab-Nya (Lohmahfuz) yang ada di sisi-Nya di atas Arasy, "Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku"
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Dengan kasih sayang Allah itu pula, pasti Dia akan menghimpunkan manusia itu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Keadilan akan ditegakkan hari itu. Manusia dikumpulkan pada hari itu, tak seorangpun yang akan dialpakan. Adalah menjadi rahmat yang besar bagi hidup dan kehidupan manusia, bilamana dia yakin dan sadar akan kejadian hari berkumpul itu. Kesadaran ini menjadi pendorong baginya untuk membersihkan jiwanya dan meluhurkan budinya. Ketidakadilan yang terjadi dalam kehidupan duniawi, tentulah akan diperhitungkan oleh Allah dan diputuskan kembali dengan penuh keadilan pada hari kiamat itu.
Allah swt. tidak akan membiarkan saja pada pagi hari berkumpul itu orang yang merugikan dirinya yakni orang menodai fitrah kejadian dirinya yang bersih, merusak mentalnya yang sehat dan menghilangkan kesediaannya untuk menerima kerasulan Muhammad saw. dan tidak mau mendengarkan wahyu, mereka memilih jalan kekafiran, karena mereka tidak beriman kepada hari akhirat


13 Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:13)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 13

وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (13

Dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa alam dengan segala isinya menjadi milik-Nya dan juga segala yang terjadi di waktu malam dan di siang hari adalah kepunyaan Allah swt. Bagaimanapun kecilnya sesuatu benda yang menempati sudut manapun dalam ruang alam semesta ini, baik di waktu mana dia mulai menempati dan maupun di waktu mana dia meninggalkannya pastilah dia dalam kekuasaan Ilahi. Demikian pula tak mungkin dia bergerak dan dia di segala bidang dan waktu tanpa kodrat dan iradat Allah, sebab dia milik-Nya. Penguasaan atasnya mutlak pada Allah swt.
Kemudian Allah swt. menegaskan pula bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jarak jangkauan pendengaran-Nya sangatlah jauh dan luas, meliputi ruang lingkup alam ini. Walaupun bunyi langkah seekor semut di atas batu yang licin di malam gelap gulita, pasti tak akan luput dari pendengaran dan pengetahuan-Nya.


14 Katakanlah: `Apakah akan aku jadikan pelindung selain dari Allah yang menjadikan langit dan bumi, padahal Dia memberi makan dan tidak diberi makan?`. Katakanlah: `Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama sekali menyerah diri (kepada Allah), dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.`(QS. 6:14)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 14

قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَتَّخِذُ وَلِيًّا فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ يُطْعِمُ وَلَا يُطْعَمُ قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ وَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (14

Kemudian Allah dalam ayat ini memerintahkan lagi kepada Rasul-Nya agar bertanya kepada kaum musyrikin, "Apakah patut selain Allah aku jadikan pelindung yang memberikan pertolongan kepadaku sewaktu dalam kesulitan atau menolak bencana menimpaku?" Tentulah Rasul saw. tidak berbuat seperti halnya orang-orang musyrikin dan ahli-ahli kitab zaman dulu. Mereka itu menjadikan sembahan-sembahan dan pendeta-pendeta mereka, sebagai pelindung, yang menurut iktikad mereka dapat menolong dengan memberikan kebahagiaan mereka atau menolak kesengsaraan dari mereka.
Tiada pelindung atau penolong yang sebenarnya kecuali Allah yang menciptakan langit dan bumi. Allah mengemukakan sifat-Nya sebagai Pencipta untuk menegaskan penolakan pikiran yang menempatkan selain Allah sebagai penolong, sebab hanya Allah sajalah yang patut dimintai pertolongan dan tidak patut selain Dia dijadikan perantara yang dapat mempengaruhi kehendak Ilahi. Hanya kepada Pencipta langit dan bumi ini doa dan harapan ditujukan. Kehendak-Nya tak dapat dipengaruhi oleh siapapun juga. Dialah Tuhan Yang memberi rezeki, makan dan minum serta segala kemanfaatan kepada manusia. Sebaliknya Dia tidak memerlukan makan, minum dan rezeki, bahkan Dia suci dari segala kebutuhan akan makan, minum dan lain-lain sebagainya dan Dia tidak memerlukan orang lain. Firman Allah swt.


مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ(57

Artinya:
Aku tidak menghendaki rezeki dari mereka sedikitpun dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.
(Q.S Az Zariyat: 57)
Kemudian Rasul saw. disuruh pula berkata di hadapan orang kafir bahwa beliau diperintahkan Allah untuk menjadi orang yang pertama berserah diri kepada-Nya, menjunjung tinggi perintah-Nya, tidak akan memohon kepada selain Dia dan terus akan menegakkan agama di tengah-tengah umatnya. Rasul Muhammad saw. juga dilarang untuk menjadi orang musyrik yakni orang yang menganggap selain Allah swt. sebagai penolong atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.


15 Katakanlah: `Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.`(QS. 6:15)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 15 

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (15

Sesudah Allah menjelaskan pokok asas agama yang harus menjadi pegangan oleh seorang Rasul, maka dalam ayat ini Allah memerintahkan pula kepada Rasul-Nya agar menyatakan kepada kaum musyrikin bahwa jika sekiranya beliau melakukan kemaksiatan yakni melanggar perintah Allah atau menyimpang dari asas agama yang ditetapkan Allah, maka dia takut azab hari kiamat akan menimpanya, sebab pada hari itu Allah swt. akan berhadapan dengan hamba-hamba-Nya untuk menjatuhkan azab kepada mereka yang berdosa dan memberikan pahala kepada mereka yang beramal saleh. Pada hari yang dahsyat ini tidak seorangpun yang dapat menolong orang lain, karena kasih sayang atau persaudaraan. Ayat ini menunjukkan sifat Rasulullah saw. bahwa beliau meskipun jauh dari kemungkinan melakukan maksiat, namun hati beliau tetap takut kepada Allah swt. dalam segala keadaan.


16 Barangsiapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata.(QS. 6:16)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 16

مَنْ يُصْرَفْ عَنْهُ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمَهُ وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْمُبِينُ (16

(Siapa yang dijauhkan siksaan) dalam bentuk pasif, maf'ulnya azab/siksaan; dan dalam bentuk aktif, fa'ilnya Allah, sedangkan dhamirnya dibuang (daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya) Maha Tinggi Allah, artinya Ia menghendaki kebaikan untuknya. (Dan itu keberuntungan yang nyata) keselamatan yang nyata.


17 Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.(QS. 6:17)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 17

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يَمْسَسْكَ بِخَيْرٍ فَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (17

Kemudian Allah dalam ayat ini menegaskan lagi ke Maha Kuasaan-Nya yaitu tak ada seorangpun yang dapat melenyapkan suatu kemudaratan yang ditimpakan Tuhan kepada seseorang kecuali Allah sendiri, seperti sakit, kemiskinan, dukacita, kehinaan dan lain sebagainya yang mengakibatkan penderitaan manusia baik lahir maupun batin. Maka bukanlah berhala berhala, dukun-dukun atau pelindung lainnya selain Allah yang acap kali dipandang oleh orang musyrik, dapat menghilangkan kemudaratan tersebut. Demikian pula halnya tak ada seorangpun yang dapat mencegah suatu kebaikan yang dianugerahkan Allah kepada seseorang seperti kekayaan, kesehatan, kemuliaan, kekuatan dan lain sebagainya yang menimbulkan kebahagiaan baik lahir maupun batin. Allah Kuasa memelihara segala kebaikan itu agar seseorang tetap sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Nabi Muhammad saw. setiap habis salat lima waktu membaca antara lain:


اللهم لا مانع لما أعطيت ولا معطى لما منعت ولا ينفع ذاالجد منك الجد
Artinya:
Ya Allah tak ada yang mencegah terhadap apa yang Kau berikan, tak ada yang memberi terhadap apa yang Engkau cegah dan tidak memberi manfaat segala kesungguhan orang yang bersungguh-sungguh terhadap kehendak Mu
(HR Bukhari dari Warrad. Sekretaris al Mughirah Ibnu Syu'bah)
Ayat ini menunjukkan pula bahwa setiap manusia baik yang menginginkan kebaikan atau yang menghindari kemudaratan, haruslah meminta pertolongan kepada Allah swt. semata-mata dengan berusaha menurut sunah-Nya yang berlaku dalam alam ini dan dengan menghadapkan doa sepenuhnya kepada-Nya.
Firman Allah swt.


ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Artinya:
Berdoalah kepada Ku, niscaya Ku perkenankan bagimu.
(Q.S Al Mu'min: 60)


18 Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. 6:18)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 18 

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (18

Allah dalam ayat ini menegaskan kesempurnaan kedaulatan-Nya yang mutlak atas hamba-hamba-Nya. Dialah Penguasa yang tertinggi di atas hamba hamba-Nya dan menyelenggarakan serta mengatur segala masalah dan urusan mereka menurut kehendak-Nya dan tidak seorangpun yang dapat mencampuri-Nya yang dapat keluar dari daerah kekuasaan-Nya.
Kesempurnaan kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas hamba-hamba-Nya itu disertai dengan kesempurnaan hikmah-Nya dalam mengatur kebutuhan hamba hamba-Nya dan keluasan ilmu-Nya terhadap segala perkara yang kecil dan tersembunyi. Dialah Yang Maha Mengetahui apa yang bermanfaat dan yang mudarat bagi hamba-hamba-Nya. Tak ada suatu perkarapun, melainkan diketahui-Nya akhir dari perkara itu. Pentadbiran-Nya atas hamba-hamba-Nya ini diarahkan kepada suatu tujuan yakni kesempurnaan kemanusiaan.
Dialah Yang Maha Kuasa lagi Maha Esa tak ada sekutu bagi-Nya. Karena itu tidakkah patut menyembah kepada selain dari pada-Nya.
Firman Allah swt:


فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا(18

Artinya:
Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.
(Q.S Al Jin: 18)


19 Katakanlah: `Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?`. Katakanlah: `Allah`. Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah? `. Katakanlah:` Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah) `.(QS. 6:19)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 19

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (19

Dalam ayat ini Allah swt. memerintahkan lagi kepada Rasul-Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Quraisy tentang syahadat (persaksian pembuktian) yang lebih kuat yakni persaksian yang tidak mungkin mengandung unsur kedustaan, kepalsuan atau kesalahan.
Syahadat ialah keterangan yang bersumber dari pengetahuan, pengenalan dan keyakinan yang didasarkan atas penyerapan indrawi atau tanggapan pikiran dan perasaan. Perkara apakah yang akan disaksikan itu?
Dan siapakah yang menjadi saksi, supaya persaksian itu tidak diragu-ragukan?
Perkara yang meminta persaksian itu ialah kerasulan Muhammad saw. dan keesaan Allah yang mutlak yang diajarkan beliau. Orang-orang kafir itu menolaknya. Untuk menghadapi perkara ini Allah swt. menanyakan kepada mereka melalui Rasul-Nya, "Persaksian siapakah yang lebih kuat dan lebih benar yang tidak menimbulkan keraguan lagi. Kemudian Allah menyuruh Rasul-Nya untuk menjawab sendiri pertanyaan itu dengan jawaban, "Bahwa Allah yang menjadi saksi antara beliau dengan mereka dan Allah telah menurunkan Alquran kepada beliau untuk memperingatkan mereka tentang azab bagi mereka yang mendustakan kenabiannya dan ajaran yang dibawanya yang sudah diperkuat dengan persaksian Allah swt." Demikian juga, Alquran itu diturunkan untuk memberikan peringatan kepada semua orang yang telah sampai Alquran itu kepada mereka. Wajiblah atas mereka untuk mengikuti Alquran sampai hari kiamat.
Persaksian Allah atas kerasulan Muhammad saw ialah:
Pertama; Kitab Alquran sebagai mukjizat yang abadi. Manusia tidak mampu menirunya baik mengenai bahasa ataupun makna serta isinya yang mengandung berita-berita gaib, janji kemenangan bagi Rasul dan umatnya terhadap orang-orang musyrikin. Dalam Alquran itu sendiri banyak pertanyaan-pertanyaan Allah swt. tentang kenabian dan kerasulan Muhammad saw.
Kedua: Kitab-kitab samawi seperti Taurat dan Injil yang menggambarkan tentang kelahiran Nabi Muhammad saw. serta sifat-sifat dan tanda-tanda kenabian beliau.
Adapun persaksian Allah swt. atas ke Maha Esaan-Nya dan ke Maha Kekuasaan-Nya untuk mengadakan hari berbangkit di samping persaksian kitab-Nya ialah:
Pertama kejadian manusia dan alam semesta ini yang banyak di dalamnya menunjukkan bukti-bukti Keesaan-Nya dan kesempurnaan sifat-sifat-Nya
Kedua: hakikat tabiat manusia yang condong untuk percaya kepada Keesaan Tuhan dengan sifat-sifat-Nya yang sempurna. Kemudian Allah menyuruh lagi Rasul saw. mengatakan kepada orang musyrikin bahwa mereka sebenarnya mengakui adanya tuhan lain di samping Allah swt. dan kepada Nabi disuruh mengatakan bahwa beliau tidak akan mengakui sebagaimana pengakuan mereka. Bahkan beliau diperintahkan untuk mengatakan bahwa sesungguhnya Tuhan itu Allah Yang Maha Esa, sebagai pernyataan keyakinan yang berlawanan sepenuhnya dengan keyakinan orang musyrikin itu dan beliau bersih dari menuhankan apa yang mereka pandang sebagai sekutu Allah seperti patung, berhala atau nama-nama lain yang semakna dengan pengertian sekutu itu.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al An'aam 19 

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (19

(Katakanlah) kepada mereka ("Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?") menjadi tamyiz yang dialihkan dari mubtada (Katakanlah, "Allah.") jika kamu tidak mengatakannya, maka tidak ada jawaban lain bagimu selain itu. (Dia menjadi saksi antara aku dan kamu) yang menyaksikan kebenaranku. (Dan Alquran ini diwahyukan kepadaku supaya aku memberi peringatan kepadamu) aku membuat kamu takut hai penduduk Mekah (dengannya dan kepada orang-orang yang sampai kepadanya Alquran) diathafkan kepada dhamir yang terdapat dalam Lafal undzirakum; artinya manusia dan jin yang sampai kepadanya Alquran. ("Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di samping Allah?") kata tanya mengandung arti ingkar. (Katakanlah) kepada mereka ("Aku tidak mengakui") hal tersebut. (Katakanlah, "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.") terhadap Allah.


20 Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).(QS. 6:20)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al An'aam 20

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (20

Dalam ayat ini, Allah swt. menambahkan keterangan tentang kebenaran kerasulan Nabi Muhammad Saw yaitu keterangan bahwa ahli-ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani, sebenarnya mengetahui bahwa Muhammad saw. itu sendiri karena tanda-tanda kenabian beliau sangat jelas tercantum dalam kitab-kitab mereka.
Ada di riwayatkan bahwa orang-orang kafir Mekah pergi ke Madinah menanyakan kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani tentang sifat Muhammad saw. tetapi mereka memungkiri bahwa dalam Taurat dan Injil ada bagian yang menunjukkan kenabian Muhammad saw.
Allah swt. setelah menyatakan mereka telah merugikan diri sendiri disebabkan mereka tidak mempercayai kerasulan Muhammad saw. bahkan mengingkarinya dengan permusuhan. Oleh karena itu mereka mengingkari apa yang mereka ketahui. Keingkaran pendeta-pendeta Yahudi itu sama alasannya dengan keingkaran orang-orang musyrikin Mekah. Pendeta-pendeta Yahudi itu tidak mau beriman kepada Muhammad saw. karena takut kehilangan martabat dan kedudukan di tengah-tengah kaumnya, sedang dalam agama Islam sama kedudukannya Tidak berbeda antara pendeta dengan rakyat. Bila melakukan kesalahan yang sama, hukumnya akan serupa pula tak berbeda antara ulama dengan rakyat umum.
Demikian pemimpin-pemimpin Quraisy, tidak mau beriman kepada Nabi Muhammad saw. karena takut kehilangan martabat dan kedudukan. Bila mereka menganut agama Islam mereka akan duduk sejajar dengan rakyat jelata dan orang-orang miskin seperti Bilal orang Habsyah dan lain-lain, mereka itulah yang merugikan diri sendiri. Kerugian mereka itu disebabkan kelemahan cita cita dan keamanan mereka dan kehilangan pertimbangan akal sehat sehingga mereka mengingkari ilmu pengetahuan yang mereka miliki.


********


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [9]
Ayat 1 s/d 20 dari [165]





Sumber Tafsir dari :

1. Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU