Rabu, 26 Juni 2013

Tafsir Al Qur'an Surat An-Nisaa' 61 - 80 (04)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AN-NISAA'
Ayat [176]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/9
61 Apabila dikatakan kepada mereka: `Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul`, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.(QS. 4:61)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 61 

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا (61

. Kemudian pada ayat ini, Allah melanjutkan penjelasan tentang sikap dan tingkah laku orang-orang yang mengaku beriman di mulut dan membangkang di hati itu kita diajak beramal atau menjalankan apa yang diturunkan Allah dalam Alquran dan menerima hukum dari Rasulullah. mereka tetap berpaling dan menghalangi manusia menerima hukum tersebut dengan segala macam jalan dan alasan, padahal hukum Allah dan Rasul itu adalah hukum yang benar dan adil. Yang mendorong mereka bersikap demikian hanyalah semata-mata karena memperturutkan hawa nafsu saja.


62 Maka bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu mushibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: `Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna`.(QS. 4:62)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 62 

فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا (62

. Allah menerangkan pula pada ayat ini tentang kelicikan orang-orang munafik itu, yaitu apabila mereka ditimpa sesuatu musibah karena rahasia mereka telah terbuka dan diketahui oleh Rasulullah dan orang-orang mukmin, mereka datang kepada Nabi sambil bersumpah: "Demi Allah, perbuatan kami itu bukanlah dengan maksud jahat dan sengaja melanggar perintah Allah dan Rasul Nya, tetapi semata-mata karena ingin hendak mencapai penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna", padahal sumpah mereka itu hanyalah semata-mata siasat licik belaka.


63 Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu berpalinglah kamu dari pada mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka.(QS. 4:63)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 63

أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلًا بَلِيغًا (63

. Demikianlah kelicikan dari orang-orang munafik itu, tetapi pada ayat ini Allah menyatakan dengan tegas bahwa mereka itu adalah orang-orang yang telah diketahui apa yang tersimpan di dalam hati mereka; yaitu sifat dengki dan keinginan untuk melakukan tipu muslihat yang merugikan kaum muslimin. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada Rasulullah dan kaum muslimin agar jangan mempercayai mereka dan jangan terpedaya oleh tipu muslihat mereka itu. Di samping itu hendaklah mereka diberi peringatan dan pelajaran dengan kata-kata yang dapat mengembalikan mereka kepada kesadaran dan keinsafan sehingga mereka bebas dari sifat kemunafikan itu, dan benar-benar menjadi orang yang beriman.


64 Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. 4:64)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 64 

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا (64

. Pada bagian pertama dari ayat ini, Allah menerangkan: bahwa setiap Rasul yang diutus Allah ke dunia ini semenjak dari dahulu sampai kepada Nabi Muhammad saw wajib ditaati dengan izin (perintah) Allah, karena tugas risalah mereka adalah sama, yaitu untuk menunjuki umat manusia ke jalan yang benar dan kebahagiaan hidup mereka di dunia dan di akhirat. Juga dalam ayat ini dikaitkan taat itu dengan izin Allah, maksudnya ialah bahwa tidak ada sesuatu makhlukpun yang boleh ditaati melainkan dengan izin Allah atau sesuai dengan perintah Nya, seperti menaati Rasul, ulil amri, ibu bapak dan sebagainya, selama mereka tidak menyuruh berbuat maksiat, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Talib yang berbunyi:


لا طاعة لبشر في معصية الله تعالى
Artinya:
"Tidak boleh menaati manusia yang menyuruh melanggar perintah Allah"
(H.R. Bukhari dan Muslim)
Dan hadis:


إنما الطاعة في المعروف
Artinya:
"Sesungguhnya yang ditaati itu hanya perintah berbuat makruf"
(H.R. Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan Nasa'i)
Pada bagian kedua sampai akhir ayat ini, Allah menerangkan: Andaikata orang-orang yang menganiaya dirinya sendiri yaitu orang-orang yang bertahkim kepada Tagut seperti tersebut pada ayat 60, datang kepada Nabi Muhammad ketika itu, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun turut memohon supaya mereka diampuni, niscaya Allah akan mengampuni mereka, karena Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.
Di dalam ayat ini disebutkan orang-orang yang bertahkim kepada Tagut itu adalah orang-orang yang menganiaya diri sendiri, karena mereka melakukan kesalahan besar dan membangkang tidak: mau sadar. Baik juga disebutkan di sini beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh orang yang bertobat agar tobat itu diterima oleh Tuhan, antara lain:
a. Tobat itu dilakukan seketika itu juga, artinya segera setelah membuat kesalahan.
b. Bila ada hak manusia (orang lain) dilanggar haruslah diselesaikan lebih dahulu.
c. Hendaklah tobat itu merupakan tobat nasuha, artinya benar-benar menyesal atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat dan tidak akan mengulangi lagi.


65 Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. 4:65)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 65 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (65

. Sebab turunnya ayat ini berhubungan dengan peristiwa sebagai berikut: sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan perawi-perawi lain, mereka menceritakan bahwa Zubair bin 'Awwam mengadukan seorang laki-laki dari kaum Ansar kepada Rasulullah saw dalam suatu persengketaan tentang pembahagian air untuk kebun kurma. Rasulullah memberi putusan seraya berkata kepada Zubair: "Airilah kebunmu itu lebih dahulu kemudian alirkanlah air itu kepada kebun tetanggamu". Maka laki-laki itu berkata: "Apakah karena dia anak bibimu hai Rasulullah ?" Maka berubahlah muka Rasulullah karena mendengar tuduhan tentang itu, Rasulullah berkata lagi (untuk menguatkan putusannya) "Airilah hai Zubair, kebunmu itu sehingga air itu meratainya, kemudian alirkanlah kepada kebun tetanggamu". Maka turunlah ayat ini.
Dalam ayat ini Allah menjelaskan dengan sumpah bahwa walaupun ada orang-orang yang mengaku beriman. tetapi pada hakikatnya tidaklah mereka beriman selama mereka tidak mau bertahkim kepadamu Rasulullah saw pernah mengambil keputusan dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka, seperti yang terjadi kepada orang-orang munafik. Atau mereka bertahkim kepada Rasul tetapi kalau putusannya tidak sesuai dengan keinginan mereka lalu merasa keberatan dan tidak senang atas putusan itu, seperti putusan -Nabi untuk kemenangan Az Zubair bin 'Awwam terhadap lawannya seorang laki-laki dari kaum Ansar yang tersebut di atas.
Jadi orang-orang yang benar-benar beriman haruslah mau bertahkim kepada Rasulullah dan menerima putusannya dengan sepenuh hati tanpa merasa curiga dan keberatan.
Memang putusan seorang hakim baik ia seorang Rasul maupun bukan. haruslah berdasarkan kepada kenyataan dan bukti-bukti yang cukup.


66 Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: `Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu`, niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),(QS. 4:66)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 66

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا (66

. Menurut riwayat Ibnu Jarir yang dinukil oleh Jalaluddin Assuyuti bahwa setelah turun ayat ini, maka terjadi pembicaraan antara orang Yahudi dengan seorang sahabat Nabi yang bernama Sabit bin Qais bin Syammas. Yahudi itu berkata (dengan perasaan bangga): "Demi Allah, Allah telah mewajibkan kepada kami (umat Yahudi) membunuh diri sebagai kafarat (denda) dari dosa menyembah anak sapi, dan kami laksanakan perintah itu dengan patuh". Mendengar itu Sabit bin Qais membalas dengan katanya: "Demi Allah andaikata Tuhan menyuruh kami membunuh diri untuk kafarat atau bertobat dari dosa, kami pasti melaksanakannya".
Menurut Ibnul Arabi dan Syihabuddin Al Alusi: bahwa setelah Nabi Muhammad saw mendengar ucapan Sabit bin Qais tersebut di atas dan juga ucapan yang serupa dari para sahabat Nabi yang lainnya, maka beliau bersabda yang maksudnya: "Pada umatku banyak terdapat orang-orang yang imannya lebih kuat tertanam dalam lubuk hatinya dari pada tertanamnya gunung-gunung di atas permukaan bumi".
Pada ayat ini Allah menjelaskan berbagai sikap manusia pada umumnya dalam mematuhi perintah Allah SWT. Kebanyakan mereka apabila diperintahkan hal-hal yang berat, mereka enggan bahkan menolak untuk melaksanakannya seperti halnya orang-orang munafik dan orang-orang yang lemah imannya.
Adapun orang-orang yang benar-benar beriman selalu menaati segala yang diperintahkan Allah bagaimanapun beratnya perintah itu, walaupun perintah itu meminta pengorbanan jiwa, harta atau meninggalkan kampung halaman. Hal ini terbukti dari sikap kaum muslimin di waktu diperintahkan berhijrah ke Madinah dan di waktu diperintahkan berperang melawan musuh yang amat kuat, berlipat ganda jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Inilah yang digambarkan oleh Nabi Muhammad saw dalam sabdanya yang tersebut di atas. Sebenarnya kalau manusia itu melaksanakan apa yang disuruh oleh Allah dan meninggalkan apa yang di larang Nya, itulah yang lebih baik bagi mereka, karena dengan demikian iman mereka bertambah kuat dan akan menumbuhkan sifat-sifat yang terpuji pada diri mereka.


67 dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami.(QS. 4:67)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 67 - 68 

وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68


Kemudian Allah menjelaskan lagi bahwa: kalau mereka berbuat kebaikan dan mematuhi segala perintah Allah dan meninggalkan semua larangan Nya serta beramal dengan penuh ikhlas, niscaya Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang besar dan akan memimpin mereka kepada jalan yang lurus yang dapat membawa kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.


68 Dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus.(QS. 4:68)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 67 - 68 

وَإِذًا لَآتَيْنَاهُمْ مِنْ لَدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا (67) وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68
 
Kemudian Allah menjelaskan lagi bahwa: kalau mereka berbuat kebaikan dan mematuhi segala perintah Allah dan meninggalkan semua larangan Nya serta beramal dengan penuh ikhlas, niscaya Allah akan memberikan kepada mereka pahala yang besar dan akan memimpin mereka kepada jalan yang lurus yang dapat membawa kepada kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 68 

وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا (68

(Dan tentulah akan Kami bimbing mereka ke jalan yang lurus). Kata sebagian sahabat kepada Nabi saw., "Betapa caranya kami dapat melihat baginda dalam surga padahal baginda berada pada tingkat yang tinggi sedangkan kami di tingkat bawah?" Maka turunlah ayat:


69 Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(QS. 4:69)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 69 

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا (69

. Sebab turunnya ayat ini menurut riwayat At Tabari dan Ibnu Mardawaih dari 'Aisyah ra. "Bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw dan berkata: "Ya Rasulullah sesungguhnya saya lebih mencintaimu dari diri saya dan anak saya. Apabila saya berada di rumah, saya selalu teringat padamu: sehingga saya tidak sabar dan terus datang untuk melihatmu. Dan apabila saya teringat tentang kematian saya dan kematianmu, maka tahulah (sadarlah) saya. bahwa engkau apabila masuk surga berada di tempat yang tinggi bersama-sama para Nabi, sedang saya apabila masuk surga, saya takut tidak akan melihatmu lagi. Mendengar itu Rasulullah diam tidak menjawab, dan kemudian turunlah ayat ini".
Pada ayat ini Allah mengajak dan mendorong setiap orang, supaya taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya dengan menjanjikan secara pasti. akan membalas ketaatan dengan pahala yang sangat besar, yaitu bukan saja sekadar masuk surga, tetapi akan ditempatkan bersama-sama dengan orang-orang yang paling tinggi derajatnya di sisi Tuhan, yaitu Nabi-nabi, para siddiqin, para syuhada (orang-orang yang mati syahid) dan orang-orang yang saleh.
Berdasarkan ayat ini para ahli tafsir secara garis besarnya membagi orang-orang yang memperoleh anugerah Allah yang paling besar di dalam surga kepada empat macam yaitu:
1. Para Rasul dan Nabi-nabi, yaitu mereka yang menerima wahyu dari Allah SWT.
2. Para siddiqin, yaitu orang-orang yang teguh keimanannya kepada kebenaran Nabi dan Rasul.
3. Para syuhada dibagi pula urutannya sebagai berikut:
a. Orang-orang beriman yang berjuang di jalan Allah dan mati terbunuh di dalam peperangan melawan orang-oang kafir
b. Orang-orang yang menghabiskan usianya berjuang di jalan Allah dengan harta; dan dengan segala macam jalan yang dapat dilaksanakannya.
c. Orang-orang beriman yang mati ditimpa musibah yang mendadak atau teraniaya, seperti mati bersalin, tenggelam di lautan, terbunuh dengan aniaya. Bagian (a) disebut syahid dunia dan akhirat yang lebih tinggi pahalanya dari bagian (b) dan (c) yang keduanya hanya dinamakan syahid akhirat. Dan ada satu bagian lagi yang disebut namanya syahid dunia, yaitu orang-orang yang mati berperang melawan kafir, hanya untuk mencari keuntungan duniawi, seperti untuk mendapatkan harta rampasan, untuk mencari nama dan sebagainya. Syahid yang serupa ini tidak dimasukkan pembagian syahid di atas, karena syahid dunia tersebut tidak termaksud sama sekali dalam kedua ayat ini.
4. Orang-orang saleh, yaitu orang-orang yang selalu berbuat amal baik yang bermanfaat untuk umum, termasuk dirinya dan keluarganya baik untuk kebahagiaan hidup duniawi maupun untuk kebahagiaan hidup ukhrawi yang sesuai dengan ajaran Allah.
Orang-orang yang benar-benar taat kepada Allah dan Rasul-Nya sebagaimana yang tersebut dalam ayat ini akan dapat masuk surga dan ditempatkan bersama-sama dengan semua golongan yang empat itu.


70 Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui.(QS. 4:70)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 70 

ذَلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللَّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ عَلِيمًا (70

. Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa pahala yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang taat kepada Nya dan kepada Rasul Nya, adalah suatu karunia yang tidak ada tara dan bandingannya bagi yang ingin mencapainya dan Allahlah Yang Maha Mengetahui siapa yang benar-benar taat kepada Nya, sehingga berhak memperoleh pahala yang besar itu.


71 Hai orang-orang yang beriman, bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama!(QS. 4:71)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 71

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا خُذُوا حِذْرَكُمْ فَانْفِرُوا ثُبَاتٍ أَوِ انْفِرُوا جَمِيعًا (71

. Dalam menyuruh mengadakan segala macam persiapan buat menghadapi musuh, ayat ini seirama dengan ayat 60 surat Al Anfal. Menurut Sayid Qutub, ayat-ayat ini diturunkan segera setelah perang Uhud dan sebelum perang Khandak, tetapi beliau tidak menyebutkan sebab turunnya. Pada ayat ini, Allah memerintahkan agar orang-orang mukmin senantiasa bersiap-siap dalam segala hal, untuk menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan, dan wajib maju ke medan pertempuran, baik secara berkelompok maupun secara serempak, sesuai dengan taktik strategi peperangan, dan menurut komando yang diatur dengan baik. Hal ini semua sudah dipraktekkan oleh Nabi Besar Muhammad saw dalam beberapa peperangan yang terjadi antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir. Beliau sebelum menaklukkan kota Mekah lebih dahulu telah mengetahui kekuatan musuh dan strategi mereka dalam menghadapi kaum muslimin dan mengetahui pula secara mendalam bagaimana semangat dan kekuatan iman yang dimiliki oleh pengikut-pengikutnya. Pada umumnya Nabi dalam melakukan peperangan telah mengetahui lebih dahulu keadaan musuh dan kesetiaan. pengikutnya sendiri.


72 Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa mushibah ia berkata: `Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama-sama mereka`.(QS. 4:72)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 72 

وَإِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَيُبَطِّئَنَّ فَإِنْ أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَالَ قَدْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيَّ إِذْ لَمْ أَكُنْ مَعَهُمْ شَهِيدًا (72

Ayat ini menjelaskan, bahwa di antara kaum muslimin ada orang-orang yang enggan dan tidak segera bersiap-siap untuk pergi ke medan pertempuran. dengan bermacam-macam dalih dan alasan. Dan akhirnya benar-benar mereka tidak jadi ikut bertempur. Orang-orang ini adalah orang-orang yang lemah imannya dan orang-orang munafik yang selalu terdapat dalam setiap peperangan dan perjuangan di sepanjang masa.
Selanjutnya ayat ini menjelaskan bagaimana sikap orang-orang munafik dan orang-orang yang tidak ikut berperang itu. Bila kaum muslimin ditimpa musibah atau kekalahan dalam medan pertempuran, mereka merasa gembira dan menganggap bahwa tidak ikutnya dalam peperangan sebagai satu karunia dari Allah karena mereka tidak ikut terbunuh atau luka-luka.


73 Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: `Wahai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)`.(QS. 4:73)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 73

وَلَئِنْ أَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِنَ اللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَنْ لَمْ تَكُنْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ مَوَدَّةٌ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَعَهُمْ فَأَفُوزَ فَوْزًا عَظِيمًا (73

Pada ayat ini Allah menambah penjelasan lagi tentang sikap orang-orang munafik dan orang-orang yang lemah imannya itu. Jika kaum muslimin memperoleh kemenangan dalam peperangan melawan orang-orang kafir. maka orang-orang ini berkata: "Andaikata saya ikut mereka dalam peperangan ini, tentulah saya mendapat keuntungan yang besar dengan memperoleh harta rampasan yang banyak".
Ucapan seperti ini menggambarkan seakan-akan mereka adalah orang-orang lain yang tidak mempunyai hubungan silaturahmi sedikitpun dengan kaum Muslimin, padahal mereka telah menggabungkan diri dengan kaum Muslimin dan telah hidup bersama mereka dalam suasana yang aman dan baik tetapi dalam hail mereka tersimpan rasa hasad dan dengki yang mendalam.


74 Karena itu, hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.(QS. 4:74)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 74

فَلْيُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يَشْرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا بِالْآخِرَةِ وَمَنْ يُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلْ أَوْ يَغْلِبْ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا (74

Pada ayat ini dijelaskan bahwa berperang di jalan Allah itu adalah suatu pekerjaan yang mulia. Orang-orang yang berperang di jalan Allah pasti mendapat keuntungan besar. Orang-orang yang benar-benar beriman dan ikhlas dalam melaksanakan tuntutan agamanya serta rela mengorbankan kepentingan dunianya untuk mencapai keutamaan di akhirat hendaklah ikut berperang di jalan Allah. Barang siapa berperang di jalan Allah, maka ia akan memperoleh salah satu dari dua kebajikan yaitu mati syahid di jalan Allah atau menang dalam peperangan, yang masing-masing dari dua kebajikan itu akan dibalas oleh Tuhan dengan pahala yang besar, karena orang yang mati syahid itu telah dengan ikhlas mengorbankan jiwa raganya dalam mematuhi perintah Allah, sedang yang menang dan masih hidup akan dapat pula melanjutkan perjuangan untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran di jalan Allah.


75 Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: `Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!`.(QS. 4:75)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 75 

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا (75

Pada ayat ini terdapat dorongan yang kuat agar kaum muslimin berperang di jalan Allah untuk membela saudara-saudara mereka yang tertindas dan yang berada dalam cengkeraman musuh, karena mereka itu adalah orang orang yang lemah dan tidak berdaya baik laki-laki, wanita maupun anak-anak. Keamanan mereka terancam. Mereka tidak mampu membebaskan diri dari cengkeraman musuh, mereka ditindas dan dianiaya oleh penguasa-penguasa yang lalim, mereka tidak berbuat apa-apa selain berdoa memohon pertolongan dan perlindungan dari sisi Allah SWT.
Allah mendorong untuk berperang dengan cara yang lebih mendalam, mengetok pintu hati nurani setiap orang yang masih memiliki perasaan dan keinginan yang baik, dengan menyebutkan keuntungan dan tujuan murni duri peperangan menurut Islam. Tujuan perang dalam Islam ialah meninggikan kalimah Allah, membela saudara-saudara seagama, membela hak-hak azasi manusia dan menegakkan norma-norma akhlak yang tinggi bukan untuk memperbudak atau menjajah atau untuk menguasai sesuatu bangsa atau negara atau hak-hak orang lain.
Berdasarkan tujuan berperang tersebut di atas. adalah menjadi kewajiban bagi kaum muslimin membebaskan orang-orang Islam yang ditawan oleh musuh dengan berperang atau menebusnya dengan harta.
Demikian para ulama Islam mengambil hukum dan ayat ini. Bahkan menurut Abi Abdillah Al Qurtubi, tidak ada perbedaan paham dalam hukum ini dan mereka telah sepakat semuanya Harta untuk penebusannya diambilkan dari baitulmal dan kalau tidak ada wajib ditanggung oleh seluruh umat Islam


76 Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang dijalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.(QS. 4:76)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 76 

الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا (76
pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin berperang untuk menegakkan keadilan dan membela kebenaran sedang orang-orang kafir berperang adalah karena mengikuti hawa nafsu yang dikendalikan oleh setan dan mengembangkan angkara murka di dunia sehingga kalau orang-orang mukmin meninggalkan atau mengabaikan tugas berperang di jalan Allah, niscaya kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan-perbuatan hawa nafsu akan merajalela. Oleh karena tujuan berperang dalam Islam demikian suci dan murninya, sedang membasmi kelaliman dan angkara murka sangat penting maka hendaklah kaum muslimin menyerang musuh-musuh Islam yang menjadi kawan-kawan setan itu dan hendaklah diyakini bahwa tipu daya setan itu lemah tidak akan mampu mengalahkan orang-orang yang benar-benar beriman dan berperang di jalan Allah.


77 Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: `Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!` Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: `Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?` Katakanlah: `Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.(QS. 4:77)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 77 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا (77

Ayat ini menggambarkan tentang keadaan orang-orang pada masa Jahiliah. Mereka suka berperang meskipun karena sebab yang sekecil-kecilnya. Setelah mereka masuk Islam, mereka diperintahkan supaya menghentikan perang dan mereka diperintahkan salat dan membayar zakat. Sebagian dari mereka mengharap-harap adanya perintah perang karena kepentingan duniawi sebagaimana kebiasaan mereka pada masa Jahiliah. Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada sebagian kaum Muslimin yang enggan berperang supaya mereka bersikap tenang dan menahan diri untuk mengadakan peperangan terhadap orang kafir dan mereka hanya diperintahkan melakukan salat dan membayar zakat Akan tetapi pada waktu mereka diperintahkan berperang ternyata sebagian dari mereka tidak bersemangat untuk berperang karena takut kepada musuh, padahal semestinya mereka hanya takut kepada Allah. Malahan mereka berkata: "Mengapa kami diwajibkan berperang pada waktu ini, biarkanlah kami mati sebagaimana biasa". Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya supaya mengatakan kepada sebahagian kaum Muslimin bahwa sikap mereka itu adalah sikap seorang pengecut. karena takut mati dan cinta kepada harta dunia, sedangkan kelezatan dunia itu hanya sedikit sekali dibandingkan dengan kelezatan akhirat yang abadi dan tidak terbatas, yang hanya akan didapat oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah yaitu orang yang bersih dari syirik dan akhlak yang rendah.
Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah tidak akan menganiaya dan merugikan manusia. Masing-masing akan mendapat balasan sesuai dengan amal perbuatannya, walaupun sebesar zarah.


78 Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan:` Ini adalah dari sisi Allah `, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan:` Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad) `. Katakanlah:` Semuanya (datang) dari sisi Allah `. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?(QS. 4:78)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 78 

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا (78

. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa maut (mati) itu adalah suatu hal yang pasti datangnya tidak seorangpun yang dapat lepas dari padanya di manapun dia berada meskipun berlindung di dalam benteng yang kokoh kuat, karena itu tidaklah wajar manusia takut mati meskipun ia berada di dalam kancah peperangan dan jika sampai ajalnya tentulah ia pasti mati meskipun ia hidup mewah di dalam istana atau bertahan di dalam benteng yang kokoh.
Ayat ini merupakan celaan Allah terhadap segolongan kaum muslimin yang tidak mempunyai semangat juang untuk membela kebenaran di mana mereka tak mau berperang karena takut akan mati. Sikap pengecut mereka dan sifat kemunafikan mereka itu tidak lain. disebabkan kelemahan iman dan piciknya pikiran mereka.
Selanjutnya Allah menggambarkan kepicikan akal mereka yakni mereka tidak mau berperang karena takut akan mati. Sikap pengecut mereka anggap sebagai karunia dari Allah sedang malapetaka yang menimpa mereka adalah karena datangnya Muhammad ke Madinah; sehingga musim kemarau yang menimpa kota Madinah mereka anggap sebagai musibah yang ditimbulkan oleh kedatangan Nabi Muhammad itu dan kesialannya. Adapun orang yang beriman ia tetap berpendirian bahwa baik dan buruk adalah datangnya dari Allah.
Pendirian seperti inilah yang Allah perintahkan kepada Muhammad supaya disampaikan kepada mereka. Dan sekiranya mereka tidak dapat memahaminya, mereka akan tetap sepanjang masa di dalam kegelapan dan jika mereka dapat memahaminya tentulah mereka tidak akan mengatakan bahwa hal yang buruk itu dikarenakan celanya seseorang tetapi baik dan buruk itu akan mereka ketahui erat hubungannya dengan sebab musabab yang telah menjadi Sunah Allah.


79 Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.(QS. 4:79)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 79 

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (79

Pada ayat ini Allah menegaskan lagi dari segi kesopanan bahwa sesuatu yang baik yang diperoleh seseorang hendaklah dikatakan datangnya dari Allah dan malapetaka yang menimpa seseorang itu hendaklah pula dikatakan datangnya dari dirinya sendiri, mungkin pula karena disebabkan kelalaiannya atau kelalaian orang lain apakah dia saudara, sahabat dan tetangga

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 79
 
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (79

(Apa pun yang kamu peroleh) hai manusia (berupa kebaikan, maka dari Allah) artinya diberi-Nya kamu karena karunia dan kemurahan-Nya (dan apa pun yang menimpamu berupa keburukan) atau bencana (maka dari dirimu sendiri) artinya karena kamu melakukan hal-hal yang mengundang datangnya bencana itu. (Dan Kami utus kamu) hai Muhammad (kepada manusia sebagai rasul) menjadi hal yang diperkuat. (Dan cukuplah Allah sebagai saksi) atas kerasulanmu.


80 Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.(QS. 4:80)
TKQ/TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN - PLAOSAN, KEC. WONOAYU

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 80

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا (80

. Perintah dan larangan Rasul yang tidak menyangkut urusan keagamaan umpamanya yang berhubungan dengan keduniaan seperti soal-soal pertanian dan pertahanan, maka Rasul sendiri bersedia menerima pendapat dari sahabatnya yang lebih mengetahui masalahnya.
Menurut sejarah dalam menjaga kesopanan terhadap Rasul para sahabat bertanya lebih dahulu apakah hal itu datangnya dari Allah atau pendapat Rasul sendiri. Jika ditegaskan oleh Rasul bahwa ini adalah dari Allah maka mereka menaati tanpa ragu-ragu dan jika dikatakan bahwa ini pendapat Muhammad maka para sahabat mengemukakan pula pendapat mereka. Peristiwa ini pernah terjadi ketika sahabat menghadapi perintah Rasul dalam memilih suatu tempat untuk kepentingan strategi pertahanan ketika peperangan Badar. Jadi pada hakikatnya perintah atau larangan Rasul dalam hal-hal di luar agama tidaklah ! berfungsi wajib atau haram, tetapi fungsinya sekadar anjuran.
Ketika menerangkan sebab turunnya ayat ini Muqatil meriwayatkan bahwa ketika Nabi pernah bersabda:


من أحبني فقد أحب الله ومن أطاعني فقد أطاع الله قال المنافقون: ألا تسمعون إلى ما يقول لهذا الرجل ? لقد فارق الشرك قد نهى أن نعبد غير الله ويريد أن نتخذه ربا كما اتخذت النصارى عيسى فأنزل الله هذه الآية
Artinya:
"Barangsiapa mencintai aku sesungguhnya ia mencintai Allah. Dan barangsiapa yang menaati aku sesungguhnya ia menaati Allah. Orang munafik berkata: "Tidakkah kamu mendengar kata laki-laki ini (Muhammad)?. Sesungguhnya ia telah mendekati syirik. Sesungguhnyo ia melarang kita menyembah selain Allah dan ia menghendaki kita menjadikannya tuhan sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan Isa tuhan. Maka Allah menurunkan ayat ini.
(H.R. Muqatil)
Ayat ini menerangkan bahwa menaati Rasul tidak dapat disamakan dengan syirik, karena Rasul hanya sekadar penyampai perintah Allah. Dengan demikian menaati Rasul adalah menaati Allah. bukan mempersekutukannya dengan Allah.
Di dalam tafsir Al Maragi dijelaskan bahwa syirik itu terdiri dari dua macam:
Pertama: yang terkenal dengan syirik uluhiah, yaitu mempercayai adanya sesuatu yang selain Allah yang mempunyai kekuatan gaib dan dapat memberi manfaat dan memberi mudarat Kedua: syirik rububiah, mempercayai bahwa ada sesuatu selain Allah yang mempunyai hak menetapkan hukum haram dan halal, sebagaimana orang Nasrani memandang hak tersebut ada -pada pendeta-pendeta mereka. Orang mukmin sejati berpendirian: tunduk hanya kepada Allah sebagai Pencipta dan tiada sesuatupun makhluk Tuhan yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat memberi manfaat dan mudarat dan tidak ada di antara makhluk Tuhan yang berhak menetapkan hukum haram dan halal karena semua makhluk Tuhan tunduk kepada kehendak Nya.
Selanjutnya dalam ayat ini Allah menghendaki agar supaya Rasul-Nya (Muhammad) tidak mengambil tindakan kekerasan atau tindakan paksaan terhadap orang yang tidak menaatinya, karena ia diutus hanya untuk sekadar menyampaikan berita gembira dan ancaman. Keimanan manusia pada kerasulannya tidak digantungkan kepada paksaan tetapi kepada kesadaran setelah menggunakan pikiran.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [9]
Ayat 61 s/d 80 dari [176]





Sumber Tafsir dari :

1.Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.

Selasa, 25 Juni 2013

Tafsir Al Qur'an Surat An-Nisaa' 41 - 60 (03)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an
Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch    nuruddin

No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AN-NISAA'
Ayat [176]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/9
41 Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).(QS. 4:41)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 41 

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا (41

Ayat ini menggambarkan bagaimana keadaan manusia di akhirat nanti Allah SWT tidak akan merugikan hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan walaupun sedikit, tapi akan diberinya pahala yang berlipat ganda atas kebaikannya itu.
Allah menggambarkan pula, bagaimana keadaan manusia nanti kalau mereka berhadapan dengan saksi-saksi mereka. Saksi mereka adalah Nabi-nabi mereka. Tiap-tiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka, seperti umat Yahudi, umat Nasrani dan Umat Islam, masing-masing umat itu akan dihadapkan ke hadapan saksinya, yaitu Nabi mereka masing-masing. Pada waktu itulah dapat diketahui siapa yang sebenarnya pengikut Nabi dan siapa yang hanya pengakuannya saja yang mengikuti Nabi, tapi amal perbuatannya mendurhakai Nabi. Maka siapa yang telah disaksikan oleh Nabinya bahwa dia betul-betul telah mengikuti ajaran Rasul, maka orang itu termasuk orang yang beruntung. Bila Nabinya berlepas diri dari mereka, karena amal perbuatannya dan kepercayaannya tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasul, maka mereka termasuk orang merugi. Nabi Muhammad saw, akan menjadi saksi bagi umat Islam nanti dan bagi semua manusia.
Firman Allah SWT:


وكذلك جعلناكم أمة وسطا لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا 

Artinya:
"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu"
(Q.S. Al-Baqarah: 143)
Nabi Muhammad sampai mencucurkan air mata, ketika mendengarkan ayat ini dibacakan seorang sahabat kepadanya, memikirkan bagaimana hebatnya suasana pada hari akhirat, beliau akan melihat dengan jelas pengikut-pengikut beliau yang setia dan benar dan yang pura-pura dan palsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi saw:


عن ابن مسعود قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اقرأ على قلت : يا رسول الله أقرأ عليك ? وعليك أنزل ? قال : نعم إني أحب أن أسمعه من غيري فقرأت سورة النساء حتى أتيت إلى هذه الآية : فكيف إذا جئنا من كل أمة بشهيد الخ فقال : حسبك الآية فإذا عيناه تذرفان
.
Artinya
Dari Ibnu Mas'ud dia berkata: "Rasulullah saw telah berkata kepada saya : "Tolong, bacakan kepada saya Alquran itu. Lalu saya menjawab: "Ya Rasulullah, akukah yang akan membacakan kepada engkau, padahal dia diturunkan kepada engkau?" Rasulullah berkata : "Betul, tapi saya ingin mendengarkannya dibaca oleh orang lain" Maka aku bacalah surat An Nisa' Ketika aku sampai membaca, ayat 41 ini maka beliau bersabda : "Sekarang cukuplah sebegitu saja". dan air matanya bercucuran keluar"
(H.R. Bukhari dan Muslim)


42 Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.(QS. 4:42)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 42 

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا (42

Ayat ini menggambarkan bagaimana penyesalan orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasulullah pada hari kiamat, setelah melihat hebatnya azab yang akan mereka derita. Semua perbuatan mereka yang salah, lebih-lebih perbuatan mereka mengingkari Allah dan tidak patuh menuruti ajaran Rasul, pada hari itu akan mendapat balasan yang setimpal. Apalagi pada hari itu sengaja Rasul didatangkan untuk menjadi saksi atas perbuatan mereka. Alangkah malunya mereka dan menyesal atas perbuatan mereka semasa hidup di dunia. Sampai-sampai mereka menginginkan, lebih baik mereka disama-ratakan saja dengan tanah. Malahan mereka ada yang menginginkan agar jadi tanah saja jangan jadi manusia yang akan mendapat siksaan yang hebat dari Allah.
Allah berfirman:


ويقول الكافر يا ليتني كنت ترابا
Artinya:
...dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah"
(Q.S. An Naba': 40)
Begitulah hebatnya penyesalan mereka pada hari itu, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna. Pada saat itu orang-orang kafir tidak dapat menyembunyikan sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul, kesombongan dan ketakaburan mereka, dan tentang kebakhilan dan riya' mereka. Pendeknya tidak dapat mereka sembunvikan semua kejelekan dan kesalahan mereka. Pada hari itu tidak satu pertolonganpun yang dapat menolong mereka.. Apa-apa yang biasa mereka jadikan tempat minta tolong dan minta syafaat, selain dari Allah, semuanya berlepas diri, tidak mampu menolong dan melepaskan mereka dari siksa yang hebat itu.
Dan firman Allah SWT:


ويوم نحشرهم جميعا ثم نقول للذين أشركوا أين شركاؤكم الذين كنتم تزعمون ثم لم تكن فتنتهم إلا أن قالوا والله ربنا ما كنا مشركين انظر كيف كذبوا على أنفسهم وضل عنهم ما كانوا يفترون 

Artinya:
Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami) ? Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan:" Demi Allah Tuhan kami, tiadalah kami persekutukan Allah". Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.


43 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci): Sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.(QS. 4:43)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 43 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا (43

. Sebab turunnya ayat ini adalah sebagai berikut Ali bin Abi Talib berkata: `Abdurrahman bin `Auf membuat makanan untuk kami dan setelah itu ia mengundang kami dan memberi kami minuman khamar, akhirnya kami menjadi mabuk dan tibalah waktu salat. Mereka meminta supaya saya menjadi imam. Dalam salat itu saya membaca keliru:


قل يا أيها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ونحن نعبد ما تعبدون
Artinya:
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir!, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah".
(H.R. Abu Daud dan Tirmizi dari Ali bin Abi Talib)
Padahal yang sebenarnya berbunyi:


قل يا أيها الكافرون لا أعبد ما تعبدون ولا أنتم عابدون ما أعبد ولا أنا عابد ما عبدتم 

Artinya:
Katakanlah hai orang-orang yang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.
(Q.S. Al-Kafirun: 1-4)
Adapun sebab turunnya ayat yang berkenaan dengan tayamum adalah sebagai berikut : Dalam suatu perjalanan Nabi Muhammad saw, Siti `Aisyah kehilangan kalungnya, maka beliau beserta sahabat-sahabatnya mencari kalung itu. Di tempat itu tidak ada air dan mereka kehabisan air (sedang waktu salat telah tiba), maka turunlah ayat ini, lalu mereka salat dengan tayamum saja. Ayat ini melarang orang-orang mukmin mengerjakan salat pada waktu mereka sedang mabuk. Mereka tidak dibolehkan salat sehingga mereka menyadari apa yang dibaca dan apa yang dilakukan dalam salat itu. Hal itu tidak mungkin pada waktu mabuk dan keadaan mabuk itu tidak memungkinkan beribadat dengan khusyuk.
Ayat ini belum lagi mengharamkan khamar secara tegas, namun telah memperingatkan kaum muslimin akan bahaya meminum khamar itu sebelum diharamkan sama sekali.
Pada ayat ini orang mukmin dilarang salat pada waktu ia berhadas besar larangan ini akan berakhir setelah ia mandi janabah, karena dengan mandi itu akan bersihlah ia lahir dan batin. Di antara hikmah mandi ialah seorang yang sedang lesu, lelah dan lemah biasanya apabila ia mandi ia akan menjadi segar kembali.
Pada lazimnya meskipun salat dapat dilakukan di mana saja, salat itu sebaiknya dilakukan di mesjid. Maka seorang junub yang dilarang salat itu, dilarang juga berada di mesjid kecuali sekadar lewat saja karena ada keperluan. Dalam hal ini ada riwayat yang menerangkan bahwa seorang sahabat Nabi dari golongan Ansar, pintu rumahnya di tepi mesjid. Pada waktu junub, ia tidak dapat keluar rumah kecuali melewati mesjid, maka ia dibolehkan oleh Rasulullah saw, melewatinya dan tidak memerintahkan menutup pintu rumahnya yang ada di tepi mesjid itu.
Telah cukup dimaklumi, bahwa orang yang salat harus suci dari hadas kecil, misalnya sesudah buang air kecil atau hadas besar sesudah bersetubuh. Menyucikan hadas itu adalah dengan wudu atau mandi. Untuk berwudu' atau mandi kadang-kadang orang tidak mendapatkan air, atau ia tidak boleh terkena air karena penyakit, maka baginya dalam keadaan serupa itu diperbolehkan tayamum yaitu mengusap muka dan tangan dengan debu-tanah yang suci.
Yang dimaksud dengan:


أو لامستم النساء
Artinya:
Ialah menyentuh perempuan (yang bukan muhrim).
Maka menyentuh perempuan itu mengakibatkan adanya hadas kecil yang dapat dihilangkan dengan wudu' atau tayamum. (Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan menyentuh perempuan arti ayat ini ialah bersetubuh, maka oleh karena itu bersentuhan kulit laki-laki dengan perempuan tidak membatalkan wudu). Apabila seseorang buang air kecil atau buang air besar, maka kedua hal itu menyebabkan hadas kecil yang dapat dihilangkan dengan wudu'. Setiap orang buang air kecil atau buang air besar diwajibkan menyucikan dirinya dengan membersihkan tempat najis itu. Hal itu dapat dilakukan dengan memakai air atau benda-benda suci yang bersih seperti batu, kertas kasar dan lain sebagainya. Hukum-hukum yang tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah tidak memberati hamba-Nya di luar batas kemampuannya, karena Dia adalah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.


44 Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? Mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).(QS. 4:44)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 44 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يَشْتَرُونَ الضَّلَالَةَ وَيُرِيدُونَ أَنْ تَضِلُّوا السَّبِيلَ (44

. Kaum muslimin harus mengetahui bahwa para ahli kitab yang menerima kitab dan Allah dengan perantara rasul-Nya, mereka hanya mengambil sebagian dari isi kitab itu yang sesuai dengan keinginan dan hawa nafsu mereka, bahkan mereka banyak pula mengubah-ubah dan menambahkannya. Dengan kedatangan Nabi Muhammad saw, mereka itu semestinya menjadi orang-orang yang beriman, tetapi sebaliknya mereka menjadi orang-orang yang kafir. Maksud dan tujuan mereka berbuat seperti itu adalah untuk menyesatkan orang banyak termasuk orang-orang Islam sendiri dari jalan yang benar. Mereka tidak segan-segan mengadakan berbagai macam tipu daya dan pura-pura ikhlas terhadap kaum muslimin padahal mereka adalah musuh dalam selimut.


45 Dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong (bagimu).(QS. 4:45)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 45 

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِأَعْدَائِكُمْ وَكَفَى بِاللَّهِ وَلِيًّا وَكَفَى بِاللَّهِ نَصِيرًا (45

. Allah lebih mengetahui siapa-siapa yang menjadi musuh umat Islam. Umat Islam kadang-kadang mengira bahwa musuh-musuh itu adalah sahabat mereka, padahal sebenarnya bukan.
Kebaikan-kebaikan yang mereka lahirkan terhadap kaum muslimin adalah tipu muslihat belaka, sedang tujuan mereka yang sebenarnya ialah menarik kaum muslimin supaya menyeleweng seperti penyelewengan mereka dari jalan yang benar. Allahlah yang memberi petunjuk kaum muslimin kepada keselamatan, kebahagiaan dan kebaikan. Dan Dialah yang menolong mereka dalam menghadapi musuh-musuh agama.


46 Yaitu orang-orang Yahudi, mereka merobah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: `Kami mendengar`, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): `Dengarlah` semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): `Raa ina` dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: `Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami`, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(QS. 4:46)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 46 

مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَيَقُولُونَ سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَاسْمَعْ غَيْرَ مُسْمَعٍ وَرَاعِنَا لَيًّا بِأَلْسِنَتِهِمْ وَطَعْنًا فِي الدِّينِ وَلَوْ أَنَّهُمْ قَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَاسْمَعْ وَانْظُرْنَا لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَقْوَمَ وَلَكِنْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُونَ إِلَّا قَلِيلًا (46

. Di antara Ahli kitab yang tersebut di atas ada pula yang mengubah kalimat-kalimat yang ada pada kitab mereka dan memindahkannya dari tempat semula ke tempat yang lain, sehingga kitab itu menjadi kacau dan tidak dapat lagi dijadikan pedoman. Mereka menafsirkan bahwa kedatangan Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw adalah tidak benar dan mereka masih menunggu kedatangan Isa dan Muhammad yang diutus dari kalangan mereka. Orang-orang Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad saw: 

سمعنا وعصينا 

(kami mendengar ucapanmu akan tetapi kami tidak akan taat kepada perintahmu).
Mereka juga berkata kepada Nabi Muhammad saw: 

اسمع غير مسمع 

(dengarlah Muhammad saw semoga engkau tidak dapat mendengar/tuli.
Demikian juga mereka berkata kepada Nabi Muhammad saw:
راعنا
(kiranya engkau memperhatikan kami). Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini terhadap Rasulullah. Padahal yang mereka maksud dengan
راعنا
itu ialah "kebodohan yang sangat sebagai celaan kepada Rasulullah saw. Semua pemakaian kata-kata yang tidak benar itu dimaksudkan untuk memutar balikkan panggilan dan untuk mencela agama. Termasuk pula pemutaran lidah mereka terhadap Nabi Muhammad saw ialah bila mereka bertemu dengan Nabi, mereka mengucapkan kata-kata
السام
("mudah-mudahan kamu mati") maka ucapan itu oleh Nabi dijawab:
عليكم
(mudah-mudahan kamulah yang mati.)
Jika sekiranya orang-orang Yahudi itu tidak mengucapkan kata-kata yang sejelek itu tetapi mengganti ucapannya kepada Muhammad dengan kata-kata: 

سمعنا وأطعنا واسمع وانظرنا 

("kami mendengarkan ucapanmu dan menaati segala perintahmu, dengarkanlah ucapan kami dan perhatikanlah kami",)maka pastilah perkataan-perkataan itu akan membawa akibat yang sangat baik bagi mereka. Akan tetapi karena kekafiran mereka, mereka mendapat laknat Allah dan mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis yang tidak dapat membawa mereka kepada kebahagiaan yang hakiki.


47 Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka (mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku.(QS. 4:47)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 47 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ آمِنُوا بِمَا نَزَّلْنَا مُصَدِّقًا لِمَا مَعَكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَطْمِسَ وُجُوهًا فَنَرُدَّهَا عَلَى أَدْبَارِهَا أَوْ نَلْعَنَهُمْ كَمَا لَعَنَّا أَصْحَابَ السَّبْتِ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا (47

. Orang-orang Yahudi yang pernah menerima kitab Taurat dan orang Nasrani yang pernah menerima kitab Injil, dalam ayat ini diperintahkan agar mereka percaya kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. yang membenarkan isi kedua kitab mereka. Di antara pokok-pokok isi Alquran adalah mengenai ke-Esa-an Allah menjauhi pekerjaan syirik dan memperkuat iman dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji lahir dan batin. Tiga soal pokok itu adalah tiang agama yang diperintahkan Allah untuk dilakukan oleh hamba-Nya. Perintah mempercayai Alquran itu harus dilakukan oleh mereka agar Allah tidak menghapuskan mereka, membalikkan mereka ke belakang dan mengutuk mereka sebagaimana nenek moyang mereka pernah dikutuk karena menangkap ikan pada hari yang terlarang yaitu hari Sabtu. Ketentuan-ketentuan Allah baik berupa penciptaan sesuatu maupun berupa pelaksanaan hukum atau ancaman, semua itu pasti akan terlaksana sebagaimana dikehendaki Nya
Sebagian ahli tafsir memahami pengertian hukuman Allah berupa penghapusan mereka dan membalikkan mereka ke belakang tersebut, yaitu arah muka mereka dipalingkan Allah menghadap jalan lurus dan membalikkannya ke jalan kesesatan.
Setelah turun ayat ini, banyak di antara ahli kitab yang masuk Islam karena takut kepada ancaman siksa itu. Di antara mereka itu ialah: Ka'ab Al Ahbar Allah SWT yang bersifat Maha Kuasa tidak akan menghadapi kesukaran sedikitpun dalam melaksanakan kudrat-iradat Nya, termasuk juga pelaksanaan ancaman-Nya dalam ayat ini.


48 Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS. 4:48)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 48 

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (48

. Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia sekali-kali tidak akan mengampuni perbuatan syirik yang dilakukan oleh hamba-Nya, kecuali apabila mereka bertobat sebelum mati. Syirik adalah dosa yang paling besar, karena orang musyrik beriktikad dan mempercayai bahwa Allah SWT mempunyai sekutu dan tandingan yang disamakan derajatnya dengan Dia. Dalam Alquran disebutkan berulang-ulang dosa syirik ini. Adapun dosa-dosa selain syirik, jika dikehendaki Allah, Dia akan mengampuninya. Tentulah hal itu disesuaikan dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan menurut tata cara Sunah Nya yang berlaku. Misalnya yang berdosa itu benar-benar telah tobat dari dosanya dan mengiringi tobat itu dengan amal-amal saleh.
Allah SWT berfirman:


إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء ومن يشرك بالله فقد افترى إثما عظيما 

Artinya:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain dan (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka (sungguh) ia telah berbuat dosa yang besar"
(Q.S. An Nisa': 48)


إن من يشرك بالله فقد حرم الله عليه الجنة ومأواه النار وما للظالمين من أنصار 

Artinya:
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolongpun"
(Q.S. Al-Ma'idah: 72)


49 Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.(QS. 4:49)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 49 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Hasan, bahwa ayat ini diturunkan mengenai orang-orang Yahudi dan Nasrani yang memuji-muji diri mereka dengan mengatakan bahwa mereka anak Allah dan kesayangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani dan mereka tidak akan masuk neraka kecuali beberapa hari saja.
Allah memperingatkan Nabi Muhammad saw. supaya berhati-hati terhadap tindakan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu yang menganggap dan mengakui diri mereka adalah suci. Pengakuan itu seperti tertera pada sebab turunnya ayat di atas bahwa ucapan mereka itu tidak benar karena mereka masih tetap dalam kekafiran dan tetap melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. Sebenarnya mereka tidak berhak membersihkan diri, hanya dengan kata-kata dan pengakuan yang tidak beralasan. Membersihkan din haruslah dengan amal perbuatan yang dapat menjadikan seseorang bersih dan bebas dari perbuatan syirik dan maksiat.
Tidak ada gunanya seseorang itu mengemukakan kebersihan dirinya karena kebersihan diri seseorang itu berada di tangan Allah SWT, dan Allah sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-Nya.


50 Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).(QS. 4:50)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 50 

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا (50

Pada ayat ini Allah menekankan lagi tentang keanehan perbuatan orang orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Nabi Muhammad saw. diperintahkan memperhatikan betapa beraninya orang-orang Yahudi dan Nasrani membuat kebohongan terhadap Allah SWT dengan pengakuan mereka bahwa dirinya suci dan mereka disayangi oleh Allah secara khusus, tidak seperti umat-umat lainnya. Cukup jelas bahwa perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani itu merupakan dosa yang besar.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 50 

انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَكَفَى بِهِ إِثْمًا مُبِينًا (50

(Perhatikanlah) menunjukkan keheranan (betapa mereka mengada-adakan kedustaan terhadap Allah) mengenai hal itu (dan cukuplah itu menjadi dosa yang nyata) bagi mereka. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Kaab bin Asyraf dan lain-lainnya dari kalangan ulama Yahudi, yaitu ketika mereka tiba di Mekah dan menyaksikan orang-orang musyrikin yang terbunuh dalam perang Badar, maka mereka membakar kaum musyrikin untuk membalas dendam atas kekalahan ini dan memerangi Nabi saw.:


51 Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.(QS. 4:51)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 51 

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا سَبِيلًا (51

Sebab turunnya ayat ini, diriwayatkan bahwa Huyay bin Akhtab dan Ka'ab bin Al Asyraf dan pemuka Yahudi lainnya berangkat dari Madinah menuju Mekah untuk mengajak orang-orang Quraisy memerangi Rasulullah saw. Berkata orang-orang Quraisy: "Kamu sekalian adalah Ahli Kitab, lebih dekat kepada Muhammad dari pada kami. Untuk menguatkan hati kami dan agar kami tidak ragu-ragu -atas ajakanmu, bersujudlah kepada berhala-berkala kami Al Jibtu dan Tagut", maka bersujudlah mereka. Kemudian berkata Abu Sofyan kepada Ka'ab: "Kamu adalah ahli kitab, membaca dan mengetahui serta mendalami isinya dan kami ini adalah ummi tidak mengetahui apa-apa, siapakah di antara kita yang benar? Kamikah atau Muhammad?". Berkata Abu Sofyan: "Ia menyuruh supaya menyembah hanya kepada Allah, dan melarang menyekutukanNya?". Berkata Ka'ab: "Dan saudara-saudara apa yang saudara lakukan?" Mereka menjawab: "Kami ini penguasa Kakbah, memberi minum para Jamaah Haji, menjamu tamu-tamu yang datang dsb". lalu Ka'ab menjawab. "Kalau begitu, kamulah yang benar", maka turunlah ayat ini. Ayat ini mengisahkan kembali perbuatan orang-orang Yahudi yang telah diberi kitab, telah memahami dan mendalami isi Kitab yang pada dasarnya menyuruh berbakti dan menyembah hanya kepada Allah saja, tetapi mereka masih juga mau bersujud dan menyembah berhala dan mempersekutukan Allah, memenuhi ajakan orang-orang Quraisy yang tidak berkitab. Satu hal yang aneh dan mengherankan, mereka menyangka bahwa mereka orang-orang yang benar, yang mengikuti dan menempuh jalan yang lebih baik dari jalan orang-orang mukmin pengikut Nabi Muhammad saw. Alangkah kelirunya mereka, dan mereka sangat merugi. Seperti tersebut dalam Firman Allah SWT


قل هل ننبئكم بالأخسرين أعمالا الذين ضل سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا
Artinya:
"Katakanlah! Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya"
(Q.S. Al-Kahfi: 103, 104)


52 Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.(QS. 4:52)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 52 

أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ وَمَنْ يَلْعَنِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ نَصِيرًا (52

Orang-orang Yahudi dan orang-orang yang sifatnya seperti mereka itu dikutuk oleh Allah, dijauhkan dari rahmat-Nya. Berkata Ar Razy: "Orang-orang Yahudi dan orang-orang semacam mereka itu, memang pantas dikutuk karena mereka itu bersifat sombong dan takabur; mereka memandang bahwa orang-orang penyembah berhala itu lebih mulia dari orang-orang mukmin pengikut Muhammad saw. Apakah dapat diterima oleh akal sehat bahwa orang-orang musyrik, orang-orang yang menyembah selain Allah lebih baik dan lebih benar dari orang-orang yang tidak mau menyembah kecuali hanya kepada Allah SWT saja?".
Barang siapa yang telah mendapat kutukan dari Allah pasti ia tidak akan menemukan penolong dan pembela yang akan membebaskan mereka dari siksaan dan azab di akhirat nanti, tidak ada yang akan memberi syafaat kepadanya dan tidak ada yang akan menolongnya.


53 Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia,(QS. 4:53)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 53 

أَمْ لَهُمْ نَصِيبٌ مِنَ الْمُلْكِ فَإِذًا لَا يُؤْتُونَ النَّاسَ نَقِيرًا (53

. Orang-orang Yahudi itu tidak akan memperoleh kerajaan dan kekuasaan sesuai dengan yang dicita -citakan mereka seperti sebelum Islam datang, karena mereka telah banyak berbuat aniaya, menempuh jalan yang sesat, dan tidak lagi mengamalkan isi kitab Taurat secara murni, andai kata pada suatu ketika mereka membina kerajaan dan memiliki kekuasaan, itu berarti hanya bayangan yang sifatnya sementara, dan di kala itu mereka tidak akan memberikan sedikitpun kebajikan kepada manusia.
Sifat bakhil dan sifat mementingkan diri sendiri timbul dan menonjol kecuali kepada sesamanya, kaum Yahudi.


54 ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepada manusia itu? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.(QS. 4:54)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 54 

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (54

Kalau ayat-ayat sebelumnya menerangkan sifat-sifat jelek Yahudi seperti sangkaan bahwa merekalah yang lebih baik dan menempuh jalan yang lebih benar dari orang-orang mukmin, maka pada ayat ini diterangkan sifat dengkinya, mereka kepada Muhammad saw. karena kenabian jatuh kepadanya, tidak kepada orang Yahudi, dan mereka dengki kepada pengikut-pengikut Nabi Muhammad saw, karena mereka percaya dan beriman kepada-Nya, terutama setelah mereka melihat kemajuan dan kemenangan yang dicapai oleh Muhammad dan sahabat-sahabatnya, dari sehari ke sehari bertambah kuat dan bertambah kuat dan makin banyak pendukung dan pengikutnya. Kedengkian orang-orang Yahudi kepada Muhammad dan pengikutnya itu, adalah suatu kekeliruan besar dari mereka dan sangat mengherankan, karena apa yang telah dicapai Muhammad dan sahabat-sahabatnya itu bukanlah hal yang baru, sebab Allah telah memberikan juga kitab, hikmah dan kerajaan kepada keluarga keturunan Nabi Ibrahim; seperti yang pernah diberikan kepada Nabi Yusuf, Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.
Sifat dengki ialah perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat Allah, malah menginginkan nikmat itu lenyap dari pemiliknya. Sifat itu tidak saja buruk tetapi juga akan menghilangkan pahala-pahala kebajikan yang telah dikerjakan.
Nabi saw. bersabda:


إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب
Artinya:
"Jauhilah sifat-dengki karena sesungguhnya dengki itu memakan (pahala) kebaikan. seperti api memakan kayu bakar"
(H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah)


55 Maka di antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) dari beriman kepadanya. Dan cukuplah (bagi mereka) Jahannam yang menyala-nyala apinya.(QS. 4:55)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 55 

فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ وَكَفَى بِجَهَنَّمَ سَعِيرًا (55

Anugerah kenabian dan kekuasaan kepada Nabi Nya terdahulu seperti Nabi Ibrahim dan keluarganya menjadikan umatnya terbagi dua. Sebagian dari mereka percaya kepada nabi Nya dan sebagian yang lain tetap di dalam kekafirannya, menghalangi orang lain beriman.
Begitu pula halnya umat sekarang ada yang beriman ada pula yang ingkar. Ketahuilah, sekalipun mereka yang ingkar itu di dunia ini kelihatannya aman dan tenteram saja, tetapi di akhirat nanti mereka akan merasakan pedihnya api yang menyala-nyala, karena mengutamakan perbuatan yang batil dan sesat serta tidak mengikuti yang hak dan benar yang dibawa oleh nabi Nya.


56 Sesungguhnya orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 4:56)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 56 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56

. Allah tidak akan membiarkan orang-orang kafir dan orang-orang yang yang mengingkari ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Nya, tetapi bagi mereka telah disediakan api neraka yang menyala-nyala yang akan membakarnya di akhirat kelak.
Setiap kali kulit mereka hangus sampai tidak merasakan apa-apa lagi, diganti lagi dengan kulit yang baru yang dapat merasakan pedihnya api yang membakar itu. Demikian siksa itu akan berlaku seterusnya supaya mereka senantiasa menderita dan merasakan kepedihan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah An Nisaa' 56 

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا (56

(Sesungguhnya orang-orang yang kafir akan ayat-ayat Kami akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka) mereka akan terbakar hangus (setiap matang) atau menjadi hangus (kulit mereka itu Kami ganti dengan kulit lainnya) yakni dengan mengembalikannya kepada keadaannya sebelum matang atau hangus itu (supaya mereka merasakan azab) dan menderita kepedihannya. (Sesungguhnya Allah Maha Perkasa) dalam segala penciptaan-Nya.


57 Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya; mereka di dalamnya mempunyai isteri-isteri yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.(QS. 4:57)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 57

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا لَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَنُدْخِلُهُمْ ظِلًّا ظَلِيلًا (57

. Beruntung dan berbahagialah orang-orang yang tidak termasuk golongan orang-orang yang ingkar dan bergelimang dosa dan maksiat, dan mereka termasuk orang-orang yang beriman, mereka senantiasa percaya kepada apa yang dibawa oleh Nabi Besar Muhammad saw, yang ditandai dengan perbuatan amal saleh, selalu taat dan patuh kepada perintah Allah, menjauhi larangan Nya, sekalipun pada suatu saat ia harus mempertaruhkan jiwanya. Orang-orang semacam itu akan dianugerahkan kepada mereka segala macam nikmat dan kesenangan yang ada di dalam surga Jannatun Na'im, yang luasnya seperti langit dan bumi dan mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka akan tetap kekal di dalamnya.
Allah SWT berfirman:


والذين آمنوا وعملوا الصالحات أولئك أصحاب الجنة هم فيها خالدون
Artinya:
Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Di dalam surga itu mereka memperoleh istri-istri yang disucikan dan ditempatkan pada tempat yang sejuk dan teduh.
(Q.S. Al-Baqarah: 82)


58 Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS. 4:58)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 58 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58

. Diriwayatkan dari Ibnu `Abbas bahwa setelah Rasulullah saw memasukkan kota Mekah pada hari ditaklukkannya, Usman bin Talhah pengurus Kakbah pada waktu itu menguasai pintu Kakbah lalu naik ke atas bubungannya. ia tidak mau memberikan kunci Kakbah kepada Rasulullah saw.
Kemudian Ali bin Abi Talib merebut kunci Kakbah itu dari Usman bin Talhah secara paksa dan membuka Kakbah, lalu masuklah Rasulullah ke dalam dan salat dua rakaat. Setelah beliau keluar dari Kakbah tampillah pamannya 'Abbas ke hadapannya dan meminta supaya kunci itu diserahkan dan diberi jabatan pemeliharaan Kakbah dan jabatan penyediaan air untuk jemaah haji, maka turunlah ayat ini, lalu Rasulullah saw memerintahkan Ali bin Abi Talib mengembalikan kunci Kakbah kepada Usman bin Talhah dan minta maaf. Pada ayat 58 ini Allah memerintahkan agar menyampaikan "amanat" kepada yang berhak. Pengertian "amanat" pada ayat ini, ialah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kata "amanat" dengan pengertian ini sangat luas, meliputi "amanat" Allah kepada hamba Nya, amanat seseorang kepada sesamanya dan terhadap dirinya sendiri. Amanat Allah terhadap hamba Nya yang harus dilaksanakan ialah antara lain: melaksanakan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi larangan Nya. Semua nikmat Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Nya.
Amanat seseorang terhadap sesamanya yang harus dilaksanakan antara lain: mengembalikan titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apapun, tidak menipunya, memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya ialah:
a. Sifat adil penguasa terhadap rakyat dalam bidang apapun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain di dalam pelaksanaan hukum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat ini.


وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل
Artinya:
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil.
(Q.S. An Nisa': 58)
Dalam hal ini cukuplah Nabi Muhammad saw menjadi contoh Di dalam satu pernyataannya beliau bersabda:


لو كانت فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
Artinya:
"Andaikata putriku Fatimah mencuri, niscaya saya potong tangannya"
(H.R. Bukhari dan Muslim)
b. Sifat adil ulama (yaitu orang yang berilmu pengetahuan) terhadap orang awam, seperti menanamkan ke dalam hati mereka akidah yang benar. membimbingnya kepada amal-amal yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasihat-nasihat yang menambah kuat imannya, menyelamatkan dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan. mengeluarkan fatwa yang berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah SWT.
c. Sifat adil seorang suami terhadap istrinya, begitupun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain.
Amanat seseorang terhadap dirinya sendiri; seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya. Janganlah ia membuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.
Ajaran Allah yang sangat baik ini yaitu melaksanakan amanat dan hukum dengan seadil-adilnya, jangan sekali-kali diabaikan, tetapi hendaklah diindahkan. diperhatikan dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan kita, untuk dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.


59 Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(QS. 4:59)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 59 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59

Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya kaum muslimin taat dan patuh kepada Nya, kepada rasul Nya dan kepada orang yang memegang kekuasaan di antara mereka untuk dapat terciptanya kemaslahatan umum. Untuk kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, hendaklah kaum muslimin:
a. Taat dan patuh kepada perintah Allah dengan mengamalkan isi Kitab suci Alquran, melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan Nya, sekalipun dirasa berat, tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak pribadi. karena apa yang diperintahkan Allah itu mengandung maslahat dan apa yang di larang Nya mengandung mudarat.
b. Melaksanakan ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah saw pembawa amanat dari Allah SWT untuk dilaksanakan oleh segenap hamba Nya. Beliau ditugaskan untuk menjelaskan kepada manusia isi Alquran.
Allah SWT berfirman:


وأنزلناإليك الذكر لتبين للناس ما أنزل إليهم
Artinya: ,
"Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka"
(Q.S. An Nahl: 44)
c. Patuh kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan ulil `amri yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Orang-orang yang memegang kekuasaan itu meliputi: pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin-pemimpin. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka kaum muslimin berkewajiban melaksanakannya dengan syarat bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan isi Kitab Alquran. Kalau tidak demikian halnya, maka kita tidak wajib melaksanakannya, bahkan wajib menentangnya, karena tidak dibenarkan seseorang itu taat dan patuh kepada sesuatu yang merupakan dosa dan maksiat pada Allah SWT.
Nabi Muhammad saw bersabda:


لا طاعة لمخلوق في معصية الله
Artinya:
"Tidak (dibenarkan) taat kepada makhluk di dalam hal-hal yang merupakan maksiat kepada Khalik (Allah SWT)"
d. Kalau ada sesuatu yang diperselisihkan dan tidak tercapai kata sepakat atasnya, maka wajib dikembalikan kepada Quran dan hadis. Kalau tidak terdapat di dalamnya haruslah disesuaikan dengan (dikiaskan kepada) hal-hal yang ada persamaan dan persesuaiannya di dalam Alquran dan Sunah Rasulullah saw. Tentunya yang dapat melakukan qias seperti yang dimaksud di atas ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan, mengetahui dan memahami isi Alquran dan Sunah Rasul.
Demikianlah hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat.


60 Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.(QS. 4:60)


Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah An Nisaa' 60 


أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا (60

"Banyak riwayat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini, akan tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, maka maksudnya adalah hampir sama; salah satu dari riwayat itu ialah sebagai berikut.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Asy Sya'bi: bahwa ada persengketaan antara seorang laki-laki Yahudi dengan seorang laki-laki munafik. Maka oleh karena Yahudi itu mengetahui bahwa Nabi Muhammad sangat adil dalam memberikan hukum dan tidak dapat disogok, ia berkata "Apakah saya akan menuntutmu pada hakim ahli agamamu (kepada Nabi)? Maka terjadilah perselisihan antara mereka. Kemudian mereka sepakat untuk mendatangi seorang tukang tenung di Juhaimah untuk menjadi hakim dalam persengketaan ini, maka turunlah ayat-ayat ini.
Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul Nya, Muhammad saw supaya memperhatikan bagaimana anehnya sikap dan tingkah laku orang-orang yang telah mengaku dirinya beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah saw, dan kepada kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan kepada nabi dan Rasul sebelumnya. Orang-orang yang mengaku beriman ini, telah berbuat sesuatu yang berlawanan dengan pengakuan keimanan yang mereka ucapkan. Andaikata mereka benar-benar beriman kepada Muhammad sebagaimana diucapkan dengan mulut mereka, tentu mereka mau bertahkim kepadanya untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi di antara mereka, dan tidak akan mau bertahkim kepada tagut yaitu orang yang banyak bergelimang dalam kejahatan dan kesesatan Yang dimaksud dengan Tagut di sini ialah Ka'ab bin Al Asyraf, seorang Yahudi yang selalu memusuhi Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin. Dan ada yang mengatakan yang dimaksud Tagut di sini ialah Abu Barzah Al Asiami seorang tukang tenung di masa Nabi. Termasuk juga di sini berhala-berhala dan setiap orang yang membuat dan menetapkan hukum secara tidak benar. Demikianlah mereka telah disesatkan oleh setan dengan penyesatan yang sangat jauh.

Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [9]
Ayat 41 s/d 60 dari [176]





Sumber Tafsir dari :

1.Tafsir DEPAG RI, 2. Tafsir Jalalain Indonesia.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU