Minggu, 02 Juni 2013

Tafsir Surat Al-'Alaq ayat 1 - 5


Tafsir Surat Al-'Alaq ayat 1 - 5



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Sejak awal kehadirannya, Islam telah memberikan perhatian yang amat besar terhadap penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran dalam arti seluas-luasnya. Hal ini antara lain dapat dilihat pada apa yang secara normatif-teologi ditegaskan dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, dan pada apa yang secara empiris dapat dilihat dalam sejarah. Secara normatif-teologis, sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan al-Sunnah yang diakui sebagai pedoman hidup yang dapat menjamin keselamatan hidup di dunia dan akhirat, amat memberikan perhatian yang besar terhadap pendidikan. Demikian pula secara historis empiris, ummat Islam telah memainkan peranan yang amat signifikan dan menentukan dalam bidang pendidikan yang hasil-hasilnya hingga kini masih dapat dirasakan. Kemajuan yang dicapai oleh umat Islam dalam bidang pendidikan pada khususnya dan ilmu pengetahuan pada umumnya telah melampui apa yang dicapai para pemikiran Yunani klasik seperti Plato dan Aristoteles serta pemikiran Eropa modern seperti Covernicus, Galilei dan lain sebagainya.
Al-Qu’an adalah kitab suci, pedoman hidup untuk umat manusia sampai akhir zaman. Tiada kitab yang sangat spesifik, detail serta akurat salain kitab Al-Qur’an dari kejadian sebelum dan sesudah terjadi, segala macam hal tertera didalamnya.
Mengikuti  alur zaman yang selalu berkembang ini, dan banyak dari manusia yang hanya mengaku islam tetapi tidak mempelajari dan mengamalkannya sebagai orang pendidikan  patutlah mempelajari Ilmu yang membahas tentang isi dari Al-Qur’an diantaranya Ilmu tafsir.
B.       Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sedikit diatas dapat dirumuskan masalah, yaitu:
       B.1   Apa makna dari kosah kata dalam suart Al-Alaq ayat 1-5 ?  
       B.2    Apakah isi tafsir yang terkandung dalam surat Al-Alaq ayat 1-5 ?
       B.3    Intisari dari pembahsan surat Al-Alaq ayat 1-5 ?
C.      Tujuan Masalah
       C.1 Memahami kosah kata dalam surat Al-Alaq ayat 1-5
       C.2 Mengatahui serta memahami isi dari surat Al-Alaq ayat 1-5
       C.3 Memahami dan mengamalkan intisari dari surat Al-Alaq ayat 1-5
D.      Manfaat Masalah
       Hasil dari penulisan ini sedik hanya menambah ilmu pengetahuan, menganalisis surat Al-Alaq ayat 1-5,  serta masih banyak manfaat yang pasti belum kami ketahui yang membahas surat Al-Alaq  ayat 1-5. Khususnya untuk penulis dan semua pihak dari Jurusan Kependidikan Islam Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kegurusan dan runag lingkup Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
E.       Sistematika Penulisan
     
 Sistematika penulisan makalah ini secara berurutan dapat dirinci sebagai berikut :
BAB I          :    Pendahuluan, berisi pemaparan tentang latar belakang masalah, identifika                    
masalah,  tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
BAB II         :    Pembahasan, rincian surat al’alaq dengan terjemahannya, makna kosa kata, tafsiran ayat dan hubungan antara surat al’alaq dengan ideologi pendidikan islam.
BAB III       :    Penutup berisi pemaparan tentang kesimpulan dan evaluasi.


BAB II
MATERI INTI
A.      Teks Al-Qur’an dan Terjemahnya






Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.




  1. Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk),

    Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku;

    Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, -

    Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -




    Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
B.       Makna Kosa Kata (Mufradat’)
اقْرَأْ         :    bacalah
رَبِّكَ   بِاسْمِ    :   dengan menyebut nama Tuhanmu
خَلَقَ الَّذِي       :   Yang menciptakan
 الْإِنسَانَ خَلَقَ   :   Dia telah menciptakan manusia
عَلَقٍمِنْ          :    dari ‘alaq
الْأَكْرَمُ وَرَبُّكَ    :    dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah
عَلَّمَ الَّذِي       :    Yang mengajar
بِالْقَلَمِ           :    dengan qalam
الْإِنسَانَ عَلَّمَ     :    Dia mengajarkan kepada manusia
يَعْلَمْ لَمْ مَا        :    apa yang tidak diketahuinya

C.      Tafsir Ayat
Tafsiran Ayat ke 1 :
1)   Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahwa ke gua Hira’ suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit pinggir kota mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah isteri beliau, Khadijah, datanglah Jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca”. Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya sambil berkata : “Bacalah”. Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca”. Lalu dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata : “Bacalah”. Nabi menjawab : “Aku tidak bisa membaca” sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5 surat Al ‘Alaq yang artinya.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptkan.
Dia telah menciptakan manusia dari (sesuatu) yang melekat. Bacalah !,
dan Tuhanmu Yang Paling Pemurah.
Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Lalu Nabi saw dengan gemetar dan ketakutan pulang menemui isteri beliau dan mengatakan : “Selimutilah aku ! Selimutilah aku !”. nabi terus diselimuti sehingga hilanglah kegelisahannya. Lalu beliau menceritakan kepada Khadijah apa yang terjadi, dan beliau menambahkan : “Aku sangat kuatir apa yang akan terjadi atas diriku”. Khadijah berkata : “Tak usah kuatir; malah seharusnya engkau gembira; demi Allah sekali-kali Tuhan tidak akan menyusahkanmu. Engkau menghubungkan silaturrahmi, berbicara benar, membantu orang-orang yang tidak mampu, menghormati tamu dan meringankan kesulitan-kesulitan penderita”.
Kemudian Khadijah membawa Nabi saw menemui Waraqah bin Naufal (anak paman Khadijah). Waraqah bin Naufal ini adalah seorang beragama Nasrani. Ia banyak menulis buku yang berhasa Arab dan berbahasa Ibrani yang berasal dari Injil. Ia adalah seorang tua lagi buta.
Khadijah berkata kepadanya : “Wahai anak pamanku, dengarlah cerita dari anak saudaramu ini !”. Lalu waraqah bertanya : “Apakah yang ingin engkau ketahui wahai anak saudaraku?”. Lalu Nabi saw menceritakan kepadanya apa yang telah terjadi di gua Hira’. Kemudian Waraqah berkata : “Itu adalah Jibril yang pernah datang menemui Isa as; sekiranya saya ini seorang pemuda yang tangkas dan kiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu”, maka Nabi bertanya : “Apakah mereka akan mengusir aku?”. Jawab Waraqah : “Ya! hanya sedikit yang mengemban apa yang engkau bawa ini dan banyak yang memusuhinya, maka jika aku masih kuat hidup di waktu itu pasti aku akan membantumu sekuat-kuatnya”. Tidak lama sesudah itu Waraqah pun meninggal dunia.[1]
Berdasarkan hadis tersebut jelaslah bahwa lima ayat pertama surat Al’Alaq ini adalah ayat-ayat Al Qur’an yang pertama kali diturunkan sebagai rahmat dan panggilan Allah yang pertama kali yang dihadapkan kepada Nabi saw.
Adapun ayat-ayat lainnya diturunkan sesudah tersiarnya berita kerasulan Nabi saw dan sesudah Nabi mulai mengajak orang-orang beriman kepadanya. Ajakan Nabi ini pada mulanya disambut oleh sebahagian kecil orang-orang Quraisy, sedang kebanyakan mereka mengejek-ejek orang yang telah beriman dan berusaha agar jangan beriman kepada agama yang di bawa Muhammad dari Tuhannya.
Allah menyuruh Nabi agar membaca, sedang beliau tidak pandai membaca dan menulis, maka dengan kekuasaan Allah ini beliau dapat mengikuti ucapan Jibril. Dan Allah akan menurunkan kepadanya suatu Kitab yang akan menjadi petunjuk bagi manusia.
Maksudnya, bahwa Allah yang menjadikan dan menciptakan seluruh makhluk-Nya dari tidak ada kepada ada, sanggung menjadi Nabi Nya pandai membaca tanpa belajar.
Tafsiran Ayat ke 2 :
2)   Dalam ayat ini Allah mengungkapkan cara bagaimana ia menjadikan manusia; yaitu manusia sebagai makhluk yang mulia dijadikan Allah dari sesuatu yang melekat dan diberinya kesanggupan untuk menguasai segala sesuatu yang ada di bumi ini serta menundukkannya untuk keperluan hidupnya dengan ilmu yang diberikan Allah kepadanya. Dan Dia berkuasa pula menjadikan insan kamil ( manusia yang sempurna ) di antara manusia, seperti Nabi saw yang pandai membaca walaupun tanpa belajar.
Tafsiran Ayat ke 3 :
3)   Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kembali Nabi Nya untuk membaca, karena bacaan tidak dapat melekat pada diri seseorang kecuali dengan mengulang-ngulangi dan membiasakannya, maka seakan-akan peirntah demikian isi bacaan itu menjadi satu dengan jiwa Nabi saw sesuai dengan maksud firman Allah dalam ayat yang lain pada surat Al'Ala ayat 6 yang artinya :

Kami akan membacakan (Al Qur’an) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa.[2]
Nabi saw dapat membaca adalah dengan kemurahan Allah. Dia mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta kepada Nya, maka dengan limpahan karunia Nya dijadikan Nabi Nya pandai membaca. Dengan demikian hilanglah keuzuran Nabi saw yang beliau kemukakan kepada Jibril ketika menyuruh beliau membaca : “Saya tidak pandai membaca, karena saya seorang buta huruf yang tak pandai membaca dan menulis”.
Tafsiran Ayat ke 4 :
4)   Kemudian dengan ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyediakan kalam sebagai alat untuk menulis, sehingga tulisan itu menjadi penghubung antar manusia walaupun mereka berjauhan tempat, sebagaimana mereka berhubungan dengan perantaraan lisan. Kalam sebagai benda pada yang tidak dapat bergerak dijadikan alat informasi dan komunikasi, maka apakah sulitnya bagi Allah menjadi Nabi Nya sebagai manusia pilihan Nya bisa membaca, berorientasi dan dapat pula mengajar.
Allah menyatkan bahwa Dia menjadikan manusia dari ‘Alaq lalu diajarinya berkomunikasi dengan perantaraan kalam. Pernyataan ini menyatakan bahwa manusia diciptakan dari sesuatu bahan hina dengan melalui proses, sampai kepada kesempurnaan sebagai manusia sehingga dapat mengetahui segala rahasia sesuatu, maka seakan-akan dikatakan kepada mereka, “Perhatikanlah hai manusia bahwa engkau telah berubah dari tingkat yang paling rendah hingga tingkat yang paling mulia, hal mana tidak mungkin terjadi kecuali dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Bijaksana menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Nya.
Tafsiran Ayat ke 5 :
5)   Kemudian dalam ayat ini Allah menambahkan keterangan tentang limpahan karunia Nya yang tidak terhingga kepada manusia, bahwa Allah yang manjadikan Nabi Nya pandai membaca. Dia lah Tuhan yang mengajar manusia bermacam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat baginya yang menyebabkan dia lebih utama dari pada binatang-binatang, sedangkan manusia pada permulaan hidupnya tidak mengetahui apa-apa. Oleh sebab itu apakah menjadi suatu keanehan bahwa Dia mengajar Nabi Nya pandai membaca dan mengetahui bermacam-macam ilmu pengetahuan serta Nabi saw sanggup menerimanya.
Dengan ayat-ayat ini terbuktilah tentang tingginya nilai membaca, menulis dan berilmu pengetahuan. Andaikata tidak karena kalam niscaya banyak ilmu pengetahuan yang tidak terpelihara dengan baik, banyak penelitian yang tidak tercatat dan banyak ajaran agama hilang, pengetahuan orang dahulu kala tidak dapat dikenal oleh orang-orang sekarang baik ilmu, seni dan ciptaan-ciptaan mereka.
Demikian pula tanpa pena tidak dapat diketahui sejarah orang-orang yang berbuat baik atau yang berbuat jahat dan tidak ada pula ilmu pengetahuan yang menjadi pelita bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Lagi pula ayat ini sebagai bukti bahwa manusia yang dijadikan dari benda mati yang tidak berbentuk dan tidak berupa dapat dijadikan Allah menjadi manusia yang sangat berguna dengan mengajarinya pandai menulis, berbicara dan mengetahui semua macam ilmu yang tidak pernah diketahuinya.
D.      Hubungan Surat Al’Alaq dengan Ideologi Pendidikan Islam
Sejak awal abad 20 sampai sekarang humanisme merupakan konsep kemanusiaan yang sangat berharga karena konsep ini sepenuhnya memihak pada manusia, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dan menfasilitasi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia untuk memelihara dan menyempurnakan keberadaannya sebagai makhluk mulia. Demikian berharganya konsep ini humanisme ini, maka terdapat sekurang-kurangnya empat aliran penting yang mengklaim sebagai pemilik asli konsep humanisme, yaitu 1) Liberalisme Barat, 2) Marxisme, 3) Eksistensialisme, dan 4) Agama.
Keempatnya memiliki titik-titik kesepakatan mengenai prinsip-prinsip dasar kemanusiaan sebagai nilai universal. Dalam hal ini Ali Syari’ati mendeskripsi ke dalam tujuh prinsip, yaitu :
1.    Manusia adalah makhluk asli, artinya ia mempunyai substansi yang mandiri di antara makhluk-makhluk lain, dan memiliki esensi kemuliaan.
2.    Manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak bebas yang merupakan kekuatan paling besar dan luar biasa. Kemerdekaan dan kebebasan memilih adalah dua sifat ilahiah yang merupakan ciri menonjol dalam diri manusia.
3.    Manusia adalah makhluk yang sadar (berpikir) sebagai karakteristik manusia yang paling menonjol. Sadar berarti manusia dapat memahami realitas alam luar dengan kekuatan berpikir.
4.    Manusia adalah makhluk yang sadar akan dirinya sendiri, artinya dia adalah makhluk hidup satu-satunya yang memuliki pengetahuan budaya dan kemampuan membangun perasadaban.
5.    Manusia adalah makhluk kreatif, yang menyebabkan manusia mampu menjadikan dirinya makhluk sempurna di depan alam dan dihadapan tuhan.
6.    Manusia makhluk yang punya cita-cita dan merindukan sesuatu yang ideal, artinya dia tidak menyerah dan menerima “apa yang ada”, tetapi selalu berusaha megubahnya menjadi “apa yang semestinya”.
7.    Manusia adalah makhluk moral, yang hal ini berkaitan dengan masalah nilai (value).
Humanisme yang diangkat menjadi paradigma ideologi Islam pada dasarnya juga bertolak dari ketujuh prinsip dasar kemanusiaan tersebut yang implisit dalam konsep fitrah manusia. Namun demikian, humanisme dalam pandangan Islam tidak dapat dipisahkan dari prinsip teosentrisme. Dalam hal ini, keimanan ”tauhid” sebagai inti ajaran Islam, menjadi pusat seluruh orientasi nilai. Namun perlu diperjelas, bahwa semua itu kembali untuk manusia yang dieksplisitkan dalam tujuan risalah Islam, Rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi seluruh alam).
Dalam ideologi pendidikan islam terdapat proses pendidikan, metode pendidikan, dan juga media/alat pendidik, diantara ketiga tersebut akan dibahas dibawah ini, yaitu :
a)    Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Dalam proses pendidikan pun terdapat lima komponen yang diperlukan dalam proses pendidikan, yaitu :
1.    Anak Didik.
Anak didik merupakan pusat proses pendidikan. Ibarat lakon dalam sinetron, mereka yang menjadi peran utama dalam setiap proses pendidikan. Peran utama tidak boleh melakukan adegan diluar skenario yang telah digariskan.  Peran utama justru dianjurkan untuk melakukan improvisasi. Pemain hanya bisa memilih sebelum lakon dikumandangkan. Mau jenis laga, drama, atau humor.
2.    Orang Tua.
Sebelum pendidikan yang seperti kita sekarang kita kenal, orang tua berperan sebagai pendidik utama. Tak heran, bila orang tua berprofesi pedagang, akan mengular sampai sekian keturunan memilih profesi pedagang. Karena sesungguhnya orang tua berperan sebagai pelatih, mentor, penyelesai masalah dalam lingkungan keluarga.
Pendidikan yang sesungguhnya ada dalam keluarga. Keluarga yang sangat berpengaruh dalam perkembangan proses pendidikan. Hampir bisa dipastikan, bahwa orang sukses dikarenakan faktor keluarga.
3.    Guru.
Setelah pendidikan mengalami perkembangan yang signifikan, tidak mungkin seseorang menguasai berbagai macam ilmu. Oleh karenanya, keluarga mulai rela melepas proses pendidikan yang semula di rumah, berpindah ke lembaga pendidikan. Guru yang menerima estafet amanah untuk membimbing, memiliki peran yang sentral. Karena kedudukan guru sebagai pendidik, pengajar, berperan sebagai model.
Peran guru yang demikian komplek, mengharuskan selalu menata ulang tata kelola guru. Tata kelola ini mengarah kepada kepribadian dan profesi. Kalau diibaratkan, bateray harus selalu dalam kondisi penuh. Selalu dicharge secara terus-menerus.
4.    Sekolah.
Hemat penulis, seharusnya sekolah harus dipilah dengan peran guru. Sekolah mestinya lebih fokus dalam menangani sarana, system, metode dan teknis. Maka kalau ada lembaga pendidikan yang telah memilah urusannya masing-masing, model lembaga pendidikan semacam ini bisa dijadikan contoh. Misalnya, Kepala Sekolah hanya konsentrasi pada kegiatan pembelajaran. Sementara ada sebuah tim yang telah memikirkan sarananya. Ada tim yang telah menyiapkan dana.
5.    Lingkungan Masyarakat.
Inilah satu komponan yang terkadang menjadi kambing hitam. Bila ada siswa yang tidak mentaati tata tertib, akan dengan mudah menuding karena pengaruh lingkungan. Kalau ada sekolah yang sudah berpuluh tahun tidak berprestasi, akan dengan mudah karena lingkungan tidak mendukung. Selama sekolah tidak bisa merangkul masyarakat, maka sekolah itu tak akan pernah mendapat dukungan masyarakat.
b)   Metode Pendidikan
Pendidikan Islam dalam pelaksanaannya membutuhkan metode yang tepat untuk menghantarkan kegiatan kependidikannya kearah tujuan yang dicita-citakan. bagaimana baik dan sempurnanya kurikulum pendidikan Islam, ia tidak akan berarti apa-apa, manakala tidak memiliki metode atau cara yang tepat dalam mentransformasikannya kepada peserta didik .
Secara literal metode berasal dari bahasa Greek yang terdiri dari dua kata, yaitu meta yang berarti melalui dan hodos yang berarti jalan. Jadi metode berarti jalan yang dilalui, sebagai dikutip oleh Mohammad Noor Syam secara teknis menerangkan bahwa metode adalah :
1.    Suatu prosedur yang dipakai untuk mencapai suatu tujuan.
2.    Suatu teknik mengetahui yang dipakai dalam proses mencari ilmu pengetahuan dari suatu materi tertentu.
3.    Suatu ilmu yang merumuskan aturan-aturan dari suatu prosedur.
Sementara Al-Syaebany, menjelaskan bahwa metode pendidikan adalah segala segi kegiatan yang terarah yang dikerjakan oleh guru dalam rangaka memberikan pelajaran yang diajarkannya, ciri-ciri perkembangan peserta didiknya, dan suasana alam sekitar untuk mencapai proses belajar yang diinginkan.
BAB III
PENUTUP
Simpulan :
1.    Manusia dijadikan dari ’Alaq (yang melekat)
2.    Perintah menyuruh baca kepada Nabi Muhammad saw dan dengan perintah tersebut Nabi terus pandai membaca.
3.    Manusia yang pada mulanya tidak mengetahui apa-apa, lalu pandai membaca, menulis dan mendapat ilmu pengetahuan berharga.
Di dalam ayat-ayat ini (surat Al’Alaq) terdapat peringatan tentang awal mula penciptaan manusia adalah dari segumpal darah. Di antara kemurahan Allah ta’ala adalah mengajarkan kepada manusia tentang hal yang tidak mereka ketahui. Lalu Allah mengangkat derajatnya dan memuliakannya dengan ilmu. Ilmu inilah ukuran yang membedakan antara bapak manusia Adam dengan para malaikat.
Ilmu terkadang terdapat di dalam akal pikiran, terkadang di lisan, terkadang di tulisan tangan. Akal, lisan, dan tulisan. Tulisan selalu berkaitan dengan dua hal lainnya, tidak sebaliknya.
Dalam kaitan metode pendidikan Islam yang mempunyai peran penting dalam pendidikan Islam pada hakekatnya metode adalah suatu penerapan yang dilakukan oleh pendidik. Pada prinsipnya tidak ada metode yang paling ideal untuk semua tujuan pendidikan,semua ilmu dan mata pelajaran, semua pertumbuhan, semua tahap kematangan, semua pendidik, dan semua keadaan, yang meliputi proses pendidikan.
Oleh karena itu tidak bisa dihindarkan pendidik hendaknya mengkombinasikan lebih dari satu metode pendidikan dalam prakteknya dilapangan. Untuk itu sangat penting menerapkan metode yang relevan dengan semua situasi sehingga tujuan dapat tercapai dengan maksimal.

UJI KOMPETENSI

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!
1.        Apakah arti dari surat Al-‘Alaq ….
a)    Manusia                       c) Waktu Subuh
b)   Segumpal Darah          d) Gejolak Api
2.        Surat Al-Alaq termasuk surat ….
a)    Makkiyyah                  c) Suriyyah
b)   Madaniyah                  d) Arabiyah
3.        Arti dari kosah kata اقْرَأْ adalah ….
a)    Menulis                        c) Bacalah
b)   Mendengar                  d) Bebicara
4.         
    Arti dari ayat tersebut adalah ….
             a)    Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
             b)    Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
             c)    Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
            d)   Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
5.        Surat Al-Alaq ayat 1-5 membahas tentang ….
            a)    Belajar/Menuntut Ilmu           c)  Mencari teman
            b)   Menambah hasil kerja             d) Rasa bersyukur
6.        Perintah membaca terdapat dalam Surah Al-‘Alaq ayat ….
a)    1 dan 2                                   c)  1 dan 4
b)   1 dan 3                                   d) 1 dan 5
7.        Isi tafsir ayat 1 surat Al-‘Alaq menerangkan Malaikat Jibril menyuruh Nabi Muhammad untuk mebaca dan menulis hasilnya Nabi tidak bisa membaca dan menulis, istilah lain dalam bahasa arab tidak bisa membaca dan menulis Khusus Nabi Muhammad adalah ….
            a)    Kulsum                                   c)  Assabiqunal Aqqalun
            b)   Ummy                                    d) Ash habul kahfi
8.        Malaikat Jibril datang kepada Nabi Muhammad untuk menurunkan Al-Qur’an tempat tersebut berada di ….
            a)    Gua Sur                                  c) Gua Kabut
            b)   Gua Naar                                d) Gua Hira
9.        Manfaat diturukannya ayat 1-5 untuk manusia adalah ….
            a)    Sebagai petunjuk manusia khususnya menuntut ilmu
            b)    Sebagai ilmu mencari rezeki
           c)    Sebagai dasar untuk mencari keuntungan dunia dan akhirat
          d)   Jawaban a dan c benar
10.    Manusia dianugerahkan oleh Allah di dunia sebagai ….
            a)    Rahmatan lil ‘alamin              c) Alhi Shoqoh
            b)   Ahlin Naar                              d) Ahli ‘ilm


REFERENSI
Al-Imam Muhammad, ’Usman Abdullah, Al-Mirgani, Tajut Tafasir Mahkota Tafsir, Jilid III Surat Ar-Rum 1 s.d Surat An-Nas 6, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2009), Cet. I.
Departemen Agama Republik indonesia, Al-Qur’an dan Tafsirannya, Jilid X, (Yogyakarta: Dep. Agama RI, 1990).
_____________________________________
[1] HR. Imam Ahmad, Bukhari dan Muslim.

[2] QS.87 (Al’Ala) : 6.


Sabtu, 01 Juni 2013

Memahami Tafsir Surat Al-Ikhlas


Tafsir Surat Al-Ikhlash



Ilustrasi (desktopnexus.com)
Surat ini Makkiyah, terdiri dari 4 ayat. Merupakan surat tauhid dan pensucian nama Allah Taala. Ia merupakan prinsip pertama dan pilar tama Islam. Oleh karena itu pahala membaca surat ini disejajarkan dengan sepertiga Al-Qur’an. Karena ada tiga prinsip umum: tauhid, penerapan hudud dan perbuatan hamba, serta disebutkan dahsyatnya hari Kiamat. Ini tidaklah mengherankan bagi orang yang diberi karunia untuk membacanya dengan tadabbur dan pemahaman, hingga pahalanya disamakan dengan orang membaca sepertiga Al-Qur’an.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

 Subhanalloh, begitu besar pahala membaca surat Ikhlas ini. Merugilah apabila kita tidak mengamalkan surat ini, minimal sekali sehari.

Makna Mufradat:
Arti
Mufradat
1. Satu Dzat-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya.أحد
2. Dapat mencukupi semua kebutuhan sendirian.الصمد
3. Sepadan, sama, dan tandingan.كفؤاً
Syarah:
Inilah prinsip pertama dan tugas utama yang diemban Nabi saw. Beliau pun menyingsingkan lengan baju dan mulai mengajak manusia kepada tauhid dan beribadah kepada Allah yang Esa. Oleh karena itu di dalam surat ini Allah memerintahkan beliau agar mengatakan, “Katakan, ‘Dialah Allah yang Esa.” Katakan kepada mereka, ya Muhammad, “Berita ini benar karena didukung oleh kejujuran dan bukti yang jelas. Dialah Allah yang Esa. Dzat Allah satu dan tiada berbilang. Sifat-Nya satu dan selain-Nya tidak memiliki sifat yang sama dengan sifat-Nya. Satu perbuatan dan selain-Nya tidak memiliki perbuatan seperti perbuatan-Nya.
Barangkali pengertian kata ganti ‘dia’ pada awal ayat adalah penegasan di awal tentang beratnya ungkapan berikutnya dan penjelasan tentang suatu bahaya yang membuatmu harus mencari dan menoleh kepadanya. Sebab kata ganti tersebut memaksamu untuk memperhatikan ungkapan berikutnya. Jika kemudian ada tafsir dan penjelasannya jiwa pun merasa tenang. Barangkali Anda bertanya, tidakkah sebaiknya dikatakan, “Allah yang Esa” sebagai pengganti dari kata, “Allah itu Esa.” Jawabannya, bahwa ungkapan seperti ini adalah untuk mengukuhkan bahwa Allah itu Esa dan tiada berbilang Dzat-Nya.
Kalau dikatakan, “Allah yang Maha Esa,” tentu implikasinya mereka akan meyakini keesaan-Nya namun meragukan eksistensi keesaan itu. Padahal maksudnya adalah meniadakan pembilangan sebagaimana yang mereka yakini. Oleh karena itu Allah berfirman,

هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ اللَّهُ الصَّمَدُ ﴿٢
“Dia-lah Allah, Dia itu Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”
Artinya tiada sesuatu pun di atas-Nya dan Dia tidak butuh kepada sesuatu pun. Bahkan selain-Nya butuh kepada-Nya. Semua makhluk perlu berlindung kepada-Nya di saat sulit dan krisis mendera. Maha Agung Allah dan penuh berkah semua nikmat-Nya.

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣
“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan”
Ini merupakan pensucian Allah dari mempunyai anak laki-laki, anak perempuan, ayah, atau ibu. Allah tidak mempunyai anak adalah bantahan terhadap orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa malaikat itu anak-anak perempuan Allah, terhadap orang-orang Nasrani dan Yahudi yang mengatakan ‘Uzair dan Isa anak Allah. Dia juga bukan anak sebagaimana orang-orang Nasrani mengatakan Al-Masih itu anak Allah lalu mereka menyembahnya sebagaimana menyembah ayahnya. Ketidakmungkinan Allah mempunyai anak karena seorang anak biasanya bagian yang terpisah dari ayahnya. Tentu ini menuntut adanya pembilangan dan munculnya sesuatu yang baru serta serupa dengan makhluk. Allah tidak membutuhkan anak karena Dialah yang menciptakan alam semesta, menciptakan langit dan bumi serta mewarisinya. Sedangkan ketidakmungkinan Allah sebagai anak, karena sebuah aksioma bahwa anak membutuhkan ayah dan ibu, membutuhkan susu dan yang menyusuinya. Maha Tinggi Allah dari semua itu setinggi-tingginya.

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ ﴿٤
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Ya. Selama satu Dzat-Nya dan tidak berbilang, bukan ayah seseorang dan bukan anaknya, maka Dia tidak menyerupai makhluk-Nya. Tiada yang menyerupai-Nya atau sekutu-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.
Meskipun ringkas, surat ini membantah orang-orang musyrik Arab, Nasrani, dan Yahudi. Menggagalkan pemahaman Manaisme (Al-Manawiyah) yang mempercayai tuhan cahaya dan kegelapan, juga terhadap Nasrani yang berpaham trinitas, terhadap agama Shabi’ah yang menyembah bintang-bintang dan galaksi, terhadap orang-orang musyrik Arab yang mengira selain-Nya dapat diandalkan di saat membutuhkan, atau bahwa Allah mempunyai sekutu. Maha Tinggi Allah dari semua itu.
Surat ini dinamakan Al-Ikhlas, karena ia mengukuhkan keesaan Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia sendiri yang dituju untuk memenuhi semua kebutuhan, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, tiada yang menyerupai dan tandingan-Nya. Konsekuensi dari semua itu adalah ikhlas beribadah kepada Allah dan ikhlas menghadap kepada-Nya saja.
Memahami Tafsir Surat Al-Ikhlas

Pengenalan

Surat ini dinamakan Al Ikhlas karena di dalamnya berisi pengajaran tentang tauhid. Oleh karena itu, surat ini dinamakan juga Surat Al Asas, Qul Huwallahu Ahad, At Tauhid, Al Iman, dan masih banyak nama lainnya.
Surat ini merupakan surat Makiyyah dan termasuk surat Mufashol. Surat Al Ikhlas ini terdiri dari 4 ayat, surat ke 112, diturunkan setelah surat An Naas. (At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Ada dua sebab kenapa surat ini dinamakan Al Ikhlash.Yang pertama, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini berbicara tentang ikhlash. Yang kedua, dinamakan Al Ikhlash karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Perhatikan penjelasan berikut ini.
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan bahwa Surat Al Ikhlas ini berasal dari ’mengikhlaskan sesuatu’ yaitu membersihkannya/memurnikannya. Dinamakan demikian karena di dalam surat ini berisi pembahasan mengenai ikhlas kepada Allah ’Azza wa Jalla. Oleh karena itu, barangsiapa mengimaninya, dia termasuk orang yang ikhlas kepada Allah.
Ada pula yang mengatakan bahwa surat ini dinamakan Al Ikhlash (di mana ikhlash berarti murni) karena surat ini murni membicarakan tentang Allah. Allah hanya mengkhususkan membicarakan diri-Nya, tidak membicarakan tentang hukum ataupun yang lainnya. Dua tafsiran ini sama-sama benar, tidak bertolak belakang satu dan lainnya. (Lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, 97)
Asbabun Nuzul
Surat ini turun sebagai jawaban kepada orang musyrik yang menanyakan pada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?’. Maka Allah berfirman kepada Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, ’Katakanlah kepada yang menanyakan tadi, … [lalu disebutkanlah surat ini]’(Aysarut Tafasir, 1502). Juga ada yang mengatakan bahwa surat ini turun sebagai jawaban pertanyaan dari orang-orang Yahudi (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Tafsir Juz ‘Amma 292). Namun, Syaikh Muqbil mengatakan bahwa asbabun nuzul yang disebutkan di atas berasal dari riwayat yang dho’if (lemah) sebagaimana disebutkan dalam Shohih Al Musnad min Asbab An Nuzul.
Saatnya memahami tafsiran tiap ayat.

Tafsir Ayat Pertama

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1)
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Kata (قُلْ) –artinya katakanlah-. Perintah ini ditujukan kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga umatnya.
Al Qurtubhi mengatakan bahwa (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) maknanya adalah :
الوَاحِدُ الوِتْرُ، الَّذِي لَا شَبِيْهَ لَهُ، وَلَا نَظِيْرَ وَلَا صَاحَبَةَ، وَلَا وَلَد وَلَا شَرِيْكَ
Al Wahid Al Witr (Maha Esa), tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, tidak memiliki istri ataupun anak, dan tidak ada sekutu baginya.
Asal kata dari (أَحَدٌ) adalah (وَحْدٌ), sebelumnya diawali dengan huruf ‘waw’ kemudian diganti ‘hamzah’. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an, Adhwaul Bayan)
Syaikh Al Utsaimin mengatakan bahwa kalimat (اللَّهُ أَحَدٌ) –artinya Allah Maha Esa-, maknanya bahwa Allah itu Esa dalam keagungan dan kebesarannya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma 292)
Tafsir Ayat Kedua

اللَّهُ الصَّمَدُ (2)
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masiir mengatakan bahwa makna Ash Shomad ada empat pendapat:

Pertama, Ash Shomad bermakna:
أنه السيِّد الذي يُصْمَدُ إليه في الحوائج
Allah adalah As Sayid (penghulu), tempat makhluk menyandarkan segala hajat pada-Nya.
Kedua, Ash Shomad bermakna:
أنه الذي لا جوف له
Allah tidak memiliki rongga (perut).
Ketiga, Ash Shomad bermakna:
أنه الدائم
Allah itu Maha Kekal.
Keempat, Ash Shomad bermakna:
الباقي بعد فناء الخلق
Allah itu tetap kekal setelah para makhluk binasa.
Dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim (Tafsir Ibnu Katsir) disebutkan beberapa perkataan ahli tafsir yakni sebagai berikut.
Dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa maksud ayat ini adalah :
الَّذِي يَصْمُدُ الخَلَائِقُ إِلَيْهِ فِي حَوَائِجِهِمْ وَمَسَائِلِهِمْ
Seluruh makhluk bersandar/bergantung kepada-Nya dalam segala kebutuhan maupun permasalahan.
Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas mengatakan mengenai
(اللَّهُ الصَّمَدُ) :

هو السيد الذي قد كمل في سؤدده، والشريف الذي قد كمل في شرفه، والعظيم الذي قد كمل في عظمته، والحليم الذي قد كمل في حلمه، والعليم الذي قد كمل في علمه، والحكيم الذي قد كمل في حكمته وهو الذي قد كمل في أنواع الشرف والسؤدد، وهو الله سبحانه، هذه صفته لا تنبغي إلا له، ليس له كفء، وليس كمثله شيء، سبحان الله الواحد القهار.
Dia-lah As Sayyid (Pemimpin) yang kekuasaan-Nya sempurna. Dia-lah Asy Syarif (Maha Mulia) yang kemuliaan-Nya sempurna. Dia-lah Al ‘Azhim (Maha Agung) yang keagungan-Nya sempurna. Dia-lah Al Halim (Maha Pemurah) yang kemurahan-Nya itu sempurna. Dia-lah Al ‘Alim (Maha Mengetahui) yang ilmu-Nya itu sempurna. Dia-lah Al Hakim (Maha Bijaksana) yang sempurna dalam hikmah (atau hukum-Nya). Allah-lah –Yang Maha Suci- yang Maha Sempurna dalam segala kemuliaan dan kekuasaan. Sifat-Nya ini tidak pantas kecuali bagi-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang semisal dengan-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Esa dan Maha Kuasa.
Al A’masy mengatakan dari Syaqiq dari Abi Wa’il bahwa Ash Shomad bermakna:

{ الصَّمَدُ } السيد الذي قد انتهى سؤدده
”Pemimpin yang paling tinggi kekuasaan-Nya”. Begitu juga diriwayatkan dari ’Ashim dari Abi Wa’il dari Ibnu Mas’ud semacam itu.
Malik mengatakan dari Zaid bin Aslam, ”Ash Shomad adalah As Sayyid (Pemimpin).”
Al Hasan dan Qotadah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الباقي بعد خلقه) Yang Maha Kekal setelah makhluk-Nya (binasa).
Al Hasan juga mengatakan bahwa
Ash Shomad adalah

الحي القيوم الذي لا زوال له
Yang Maha Hidup dan Quyyum (mengurusi dirinya dan makhlukNya) dan tidak mungkin binasa.
’Ikrimah mengatakan bahwa Ash Shomad adalah yang tidak mengeluarkan sesuatupun dari-Nya (semisal anak) dan tidak makan.
Ar Robi’ bin Anas mengatakan bahwa Ash Shomad adalah (الذي لم يلد ولم يولد) yaitu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Beliau menafsirkan ayat ini dengan ayat sesudahnya dan ini tafsiran yang sangat bagus.
Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Sa’id bin Al Musayyib, Mujahid, Abdullah bin Buraidah, ’Ikrimah, Sa’id bin Jubair, ’Atho’ bin Abi Robbah, ’Athiyyah Al ’Awfiy, Adh Dhohak dan As Sudi mengatakan bahwa
Ash Shomad adalah (لا جوف له) yaitu tidak memiliki rongga (perut).
Al Hafizh Abul Qosim Ath Thobroni dalam kitab Sunnahnya -setelah menyebut berbagai pendapat di atas tentang tafsir Ash Shomad- berkata, ”Semua makna ini adalah shohih (benar). Sifat tersebut merupakan sifat Rabb kita ’Azza wa Jalla. Dia-lah tempat bersandar dan bergantung dalam segala kebutuhan. Dia-lah yang paling tinggi kekuasaan-Nya. Dia-lah Ash Shomad tidak ada yang berasal dari-Nya. Allah tidak butuh makan dan minum. Dia tetap kekal setelah para makhluk-Nya binasa. Baihaqi juga menjelaskan yang demikian.” (Diringkas dari Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Tafsir Ayat Ketiga

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3)
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
Kalimat (لَمْ يَلِدْ) sebagaimana dikatakan Maqotil,
”Tidak beranak kemudian mendapat warisan.” Kalimat (وَلَمْ يُولَدْ) maksudnya adalah tidak disekutui. Demikian karena orang-orang musyrik Arab mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah . Kaum Yahudi mengatakan bahwa ’Uzair adalah anak Allah. Sedangkan Nashoro mengatakan bahwa Al Masih (Isa, pen) adalah anak Allah. Dalam ayat ini, Allah meniadakan itu semua.” (Zadul Masiir)

Tafsir Ayat Keempat

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
Maksudnya adalah tidak ada seorang pun sama dalam setiap sifat-sifat Allah. Jadi Allah meniadakan dari diri-Nya memiliki anak atau dilahirkan sehingga memiliki orang tua. Juga Allah meniadakan adanya yang semisal dengan-Nya. (Tafsir Juz ‘Amma 293)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di mengatakan makna ayat: ”dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” yaitu tidak ada yang serupa (setara) dengan Allah dalam nama, sifat, dan perbuatan.
Ringkasnya, surat Al Ikhlash ini berisi penjelasan mengenai keesaan Allah serta kesempurnaan nama dan sifat-Nya.


 nara sumber :

 http://rumaysho.com

 http://www.dakwatuna.com/2010/11/01/9768/tafsir-surat-al-ikhlash/#ixzz2V10oMZUE

Memahami Tafsir surat Al-Falaq


Tafsir surat Al-Falaq






قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ
Katakanlah:"Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai subuh
مِن شَرِّ مَاخَلَقَ
dari kejahatan makhluk-Nya
وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ
dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita
وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فيِ الْعُقَدِ
dan dari kejahatan-kejahatan wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul
وَمِن شَرِّحاَسِدٍ إِذَا حَسَدَ
dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS.Al-Falaq: 1-5)

Keutamaan Surat
Mengenai keutamaan surat ini dan surat an-Naas terdapat banyak sekali hadits, di antaranya:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه, dia berkata, “Rasulullah صلي الله عليه وسلم., bersabda:
أَلَمْ تَر آيَاتٍ أُنْزِلَتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ لَمْ يُرَ مِثلُهُن قَطُّ ؟ قُلْ أَعُوذُ برَبِّ الفَلَقِ ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Tidakkah kamu mengetahui bahwa pada malam ini telah diturunkan beberapa ayat yang tidak pernah sama sekali dilihat ada yang semisalnya; Qul `Auudzu bi rabbil falaq dan Qul `Auudzu bi Rabbinnaas.(Shahih Muslim, hadits no.814)
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanadnya dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه, di antara bunyinya menyatakan bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم., pernah bersabda, “Wahai Uqaib! Maukah aku ajarkan kepadamu dua surat yang merupakan sebaik-baik dua surat yang dibaca manusia.?” Lalu aku berkata, “Tentu saja, wahai Rasulullah. Maka beliau pun membacakan kepadaku, Qul `Auudzu bi rabbil falaq dan Qul `Auudzu bi rabbinnaas kemudian shalat pun didirikan, maka Rasulullah صلي الله عليه وسلم., maju lantas membaca kedua surat tersebut, kemudian memerintahkan kepadaku seraya bersabda, Bagaimana pendapatmu, wahai Uqaib.? Bacalah keduanya tatkala kamu mau tidur dan bangun. (al-Musnad, Jld.IV, h.144; Sunan an-Nasaa`i, Jld.VIII, h.153)

Kapan Surat Ini Dibaca?
  1. Ketika Mengeluhkan Sesuatu Yang Sakit
Hal ini berdasarkan riwayat Malik dengan sanadnya dari Aisyah رضي الله عنها : bahwasanya bila Rasulullah صلي الله عليه وسلم., mengeluhkan rasa sakit, beliau membacakan untuk dirinya dengan al-Muawwidzatain (Surat al-Falaq dan an-Naas) dan meludah kecil, namun tatkala rasa sakitnya semakin parah, maka aku pun membacakan untuknya dan menyapunya dengan kedua tangannya karena berharap ada keberkahannya. (al-Muwaththa`, bab: at-Taawwudz wa ar-Ruqyah Fi al-Mardla, h.943)
  1. Ketika Akan Tidur 1
Salah satunya telah disebutkan ketika membahas mengenai keutamaannya di atas. Hadits lainnya adalah sebagaimana terdapat di dalam Shahih al-Bukhary dari Aisyah رضي الله عنها:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا فَقَرَأَ فِيهِمَا قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ وَ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
Bahwasanya bila Nabi صلي الله عليه وسلم., beranjak ke tempat tidurnya (untuk tidur) setiap malamnya beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian [meniupnya- meludah kecil] lalu membaca Qul huwallaahu Ahad, Qul `Auudzu birabbil falaq dan Qul `Auudzu birabbinnaas, kemudian membasuh dengan kedua telapak tangannya bagian badan yang mampu disapunya, dimulai dari atas kepala, wajah, bagian badan selanjutnya. Beliau melakukan hal itu hingga tiga kali. (Shahih al-Bukhari, Jld.IX, h.63, hadits no.5017)

Kosa Kata
Makna lafazh `Auudzu : Aku berlindung dan meminta perlindungan kepada-Mu, wahai Allah
Makna lafazh al-Falaq : Shubuh/pagi atau makhluk, artinya, Allah Taala memerintahkan kepada Nabi-Nya agar berlindung dari semua makhluk
Makna lafazh Ghaasiq : Malam apabila telah memasuki kegelapan
Makna lafazh Idza Waqab : Bila matahari sudah terbit dan kegelapan malam telah menjelang
Makna lafazh an-Naffaatsaat : Wanita-wanita tukang sihir bila mereka menjampi dan meludah kecil pada buhul-buhul lalu menyihir manusia
Makna lafazh Haasid : Orang yang dengki dan hasad (dengki) adalah bercita-cita hilangnya nikmat dari orang lain
Surat ini mengandung al-Istiaadzah (minta perlindungan) dari semua kejahatan baik secara umum maupun khusus, berlindung (kembali) kepada Allah dan berlindung dengan naungan rahmat-Nya dari segala keburukan serta berpegang teguh dengannya dari kejahatan semua makhluk-Nya.

Beberapa Pesan
  1. Wajib hanya meminta perlindungan kepada Allah semata dari semua hal yang membahayakan, khususnya dari kegelapan, sihir dan pelakunya, hasad dan pelakunya karena besarnya keburukan tersebut
  2. Surat ini banyak keutamaannya dan sangat berguna sekali, terutama di dalam mengobati sakit, ain (semacam hipnotis) dan sihir
  3. Surat ini menunjukkan hakikat sihir
  4. Larangan berbuat hasad (iri hati) dan bahwa ia merupakan sifat yang tercela

1 Surat Al-Ikhlas dan Surat Al-Mu'awwidzatain juga dianjurkan di baca pada pagi dan sore hari, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca tiga surat tersebut [Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas] tiga kali setiap pagi dan sore hari, maka itu (tiga surat tersebut) cukup baginya dari segala sesuatu.” HR. Abu Dawud 4/322, At-Tirmidzi 5/567 dan lihat Shahih At-Tirmidzi 3/182.
Ketiga surat tersebut juga di anjurkan dibaca setiap setelah selesai shalat fardhu. HR. Abu Dawud no.1523, an-Nasa'i III/68, Ibnu Khuzaimah no. 755 dan Hakim I/253. Lihat Pula Shahih at-Tirmidzi. Ketiga Surat ini dinamakan al-Mu'awwidzaat -Ibnu Majjah\




Memahami Tafsir Surat Al Falaq

surat Al FalaqSegala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Saat ini kita masuk dalam pembahasan tafsir surat Al Falaq. Semoga bermanfaat.
Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5
(yang artinya) :
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
2. dari kejahatan makhluk-Nya,
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul ,
5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
Pengenalan
Surat ini dan surat sesudahnya (surat An Naas) diturunkan secara bersamaan sebagaimana dikatakan oleh Al Baihaqi dalam Dalailin Nubuwwah. Oleh karena itu, kedua surat ini dinamakan Al Maw’izatain. Surat ini merupakan surat Makkiyyah (turun sebelum hijrah) dan ada juga yang mengatakan bahwa surat ini adalah surat Madaniyyah. Surat ini turun sesudah surat Al Fiil. (Aysarut Tafasir, hal. 1503; At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim)
Asbabun Nuzul
Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam disihir oleh orang Yahudi yang bernama Labid bin Al A’shom di Madinah, Allah Ta’ala menurunkan Al Maw’izatain (surat Al Falaq dan An Naas). Lalu Jibril ’alaihis salam meruqyah (membaca kedua ayat tersebut) kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Berkat izin Allah, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sembuh. (Aysarut Tafasir, hal. 1503) [Namun, riwayat sabab nuzul untuk surat Al falaq dan An Naaas dinilai dhaif oleh Syaikh Muqbil dalam as Shahih al Musnad min Asbab anNuzul, lihat juga penjelasan Ibnu Katsir]

Tafsir Ayat Pertama
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1
1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
Yang dimaksud dengan ‘Robbil Falaq’ adalah Allah. Al Falaq berasal dari kata ‘falaqo’ yang berarti membelah. Dalam ilmu shorof ‘Al Falaq’ bermakna isim maf’ul sifat musyabbahah yang berarti terbelah.
Lebih khusus ‘Al Falaq’ bisa bermakna Al Ishbah (pagi/shubuh) karena Allah membelah malam menjadi pagi.
Secara umum ‘Al Falaq’ bermakna segala sesuatu yang muncul/keluar dari yang lainnya. Seperti mata air yang keluar dari gunung, hujan dari awan, tumbuhan dari tanah, anak dari rahim ibunya. Ini semua dinamakan ‘Al Falaq’.
Perhatikan ayat-ayat berikut. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللّهَ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى
“Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan.” (QS. Al An’am [6] : 95).
Allah juga berfirman,
فَالِقُ الإِصْبَاحِ
“Dia menyingsingkan pagi.” (QS. Al An’am [6] : 95) (Tafsir Juz ‘Amma, 294; Ruhul Ma’ani)

Pengertian Ta’awudz
Ta’awudz (isti’adzah) adalah meminta perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar terhindar dari marabahaya. (I’anatul Mustafid; Mutiara Faedah Kitab Tauhid, 95)
Meminta Perlindungan (Isti'adzah)  adalah Ibadah
Meminta perlindungan (isti’adzah) merupakan ibadah. Karena menghilangkan marabahaya dan kejelekan tidak ada yang mampu melakukannya selain Allah subhanahu wa ta’ala. Segala sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka hal yang demikian tidaklah boleh dilakukan (ditujukan) kecuali pada Allah semata. Apabila hal semacam ini diminta kepada selain Allah, termasuk perbuatan syirik.
Ayat yang menunjukkan bahwa meminta perlindungan hanya boleh kepada Allah (karena Dia-lah yang mampu) dan bukan pada selain-Nya adalah firman Allah Ta’ala,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat [41] : 36)
Allah juga memerintahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta perlindungan kepada-Nya sebagaimana pada awal surat Al Falaq dan An Naas. Dan perintah untuk Rasulullah berarti juga perintah untuk umatnya karena umatnya memiliki kewajiban untuk meneladani beliau.
Allah juga menyatakan bahwa meminta perlindungan kepada selain Allah termasuk kesyirikan sebagaimana pada ayat,

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْأِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقاً
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rasa takut.” (QS. Al Jin [72] : 6)
Maksudnya adalah Allah akan menambahkan kepada manusia rasa takut. Oleh karena itu, ini adalah hukuman dari perbuatan mereka sendiri yang meminta perlindungan pada jin. Dan hukuman pasti diakibatkan karena dosa. Maka ayat ini menunjukkan celaan bagi manusia semacam ini karena telah meminta perlindungan kepada selain Allah.
Qotadah dan ulama salaf lainnya mengatakan bahwa makna ’rohaqo’ dalam ayat ini adalah ’itsman’ (dosa).
Oleh karena isti’adzah berakibat dosa, maka isti’adzah termasuk ibadah dan bernilai syirik jika ditujukan kepada selain Allah yang mati dan ghoib. (I’anatul Mustafid; At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid)

Tafsir Ayat Kedua
مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2)

2. dari kejahatan makhluk-Nya,
Ayat ini mencakup seluruh yang Allah ciptakan baik manusia, jin, hewan, benda-benda mati yang dapat menimbulkan bahaya dan dari kejelekan seluruh makhluk. (Taysir Al Karimir Rahman; Aysarut Tafasir).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini berarti berlindung dari kejelekan seluruh makhluk. Tsabit Al Bunani dan Al Hasan Al Bashri menafsirkan berlindung dari jahannam dan iblis serta keturunannya. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Ayat ini juga mencakup meminta perlindungan pada diri sendiri. Ingatlah, nafsu selalu memerintahkan pada kejelekan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
“Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf [12] : 53).
Maka setiap kali seseorang mengucapkan ayat ini, maka yang pertama kali tercakup dalam ayat tersebut adalah dirinya sendiri. Jadi dia berlindung dari kejelekan dirinya sendiri, yang mungkin sering ujub (berbangga diri) atau yang lainnya. Sebagaimana yang terdapat dalam khutbatul hajjah:

نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
“Aku berlindung kepada Allah dari kejelekan diriku sendiri.” (HR. At Tirmidzi. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi no. 1105) (Tafsir Juz ‘Amma, 294-295)
Tafsir Ayat Ketiga

وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3)
3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
Ghosiq dalam ayat ini adalah Al Lail (malam) dan juga ada yang mengatakan Al Qomar (bulan). Sedangkan Idza Waqob bermakna apabila masuk (Tafsir Juz ‘Amma, 295; Adhwaul Bayan).
Mujahid mengatakan bahwa ‘ghosiq’ adalah Al Lail (malam) ketika matahari telah tenggelam sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Abi Najih. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Muhammad bin Ka’ab Al Qurtubhy, Adh Dhohak, Khushoif, dan Al Hasan. Qotadah mengatakan bahwa maksudnya adalah malam apabila telah gelap gulita. (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)
Syaikh Asy Syinqithi mengatakan bahwa pendapat yang kuat adalah tafsiran yang pertama (ghosiq adalah malam) sebagaimana didukung dengan tafsiran Al Qur’an.

أَقِمِ الصلاة لِدُلُوكِ الشمس إلى غَسَقِ الليل
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.” (QS. Al Israa’ [17] : 78)
Sedangkan bulan merupakan bagian dari malam. Dan di malam harilah setan serta manusia dan hewan yang suka berbuat kerusakan bergentayangan ke mana-mana (Adhwaul Bayan). Kepada Allah-lah kita meminta perlindungan dari kejahatan dan kejelekan seperti ini.

Tafsir Ayat Keempat
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4)

4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
Mujahid, Ikrimah, Al Hasan, dan Qotadah mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah sihir. Mujahid mengatakan, ”Apabila membaca mantera-mantera dan meniupkan (menyihir) di ikatan tali” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim).
Dalam ayat ini disebut dengan ’An Nafatsaat’ yaitu tukang sihir wanita. Karena umumnya yang menjadi tukang sihir adalah wanita. Namun ayat ini juga dapat mencakup tukang sihir laki-laki dan wanita, jika yang dimaksudkan adalah sifat dari nufus (jiwa atau ruh) (Ruhul Ma’ani; Tafsir Juz ’Amma, 295)
Namun perlu diingat bahwa dalam syari’at ini terdapat pula penyembuhan penyakit dengan do’a-do’a yang disyari’atkan yang dikenal dengan ruqyah. Dari Abu Sa’id, beliau menceritakan bahwa Jibril pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu mengatakan,”Ya Muhammad, apakah engkau merasa sakit?” Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,”Iya”. Kemudian Jibril meruqyah Nabi dengan mengatakan,

بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَىْءٍ يُؤْذِيكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ اللَّهُ يَشْفِيكَ بِاسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ
”Bismillah arqika min kulli sya-in yu’dzika, min syarri kulli nafsin aw ’aini hasidin. Allahu yasyfika. Bismillah arqika [Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu, dari kejelekan (kejahatan) setiap jiwa atau ’ain orang yang hasad (dengki). Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan menyebut nama Allah, aku meruqyahmu].” (HR. Muslim no. 2186. Ada yang berpendapat bahwa kejelekan nafs (jiwa) adalah ’ain, yakni pandangan hasad).

Tafsir Ayat Kelima
وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

5. dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
Hasad adalah berangan-angan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain baik agar pindah kepada diri kita ataupun tidak (Aysarut Tafasir).
Allah menutup surat ini dengan hasad, sebagai peringatan bahayanya perkara ini. Hasad adalah memusuhi nikmat Allah.
Sebagian Ahli Hikmah mengatakan bahwa hasad itu dapat dilihat dari lima ciri :
Pertama, membenci suatu nikmat yang nampak pada orang lain;
Kedua, murka dengan pembagian nikmat Allah;
Ketiga, bakhil (kikir) dengan karunia Allah, padahal karunia Allah diberikan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya;
Keempat, tidak mau menolong wali Allah (orang beriman) dan menginginkan hilangnya nikmat dari mereka;
Kelima, menolong musuhnya yaitu Iblis. (Al Jaami’ liahkamil Qur’an)
Salah satu dari bentuk hasad adalah ’ain (pandangan hasad). Apabila seseorang melihat pada orang lain kenikmatan kemudian hatinya merasa tidak suka, dia menimpakan ’ain (pandangan mata dengan penuh rasa dengki) pada orang lain. ’Ain ini dapat menyebabkan seseorang mati, sakit atau gila. ’Ain ini benar adanya dengan izin Allah Ta’ala.
Allah memerintahkan kepada kita untuk berlindung kepada-Nya dari malam apabila gelap gulita, dari sihir yang ditiupkan pada buhul-buhul, dan dari orang yang hasad apabila dia hasad, karena ketiga hal ini adalah perkara yang samar. Banyak kejadian pada malam hari yang samar yang dapat memberikan bahaya kepada kita. Begitu juga sihir adalah suatu hal yang samar, jarang kita ketahui. Dan begitu juga hasad dari orang lain, itu adalah hal yang samar. Dan ketiga kejelekan (kejahatan) ini masuk pada keumuman ayat kedua,

مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2
“dari kejahatan makhluk-Nya.” (Tafsir Juz ’Amma, 296)

Lalu bagaimana jalan keluar agar terbebas dari tiga kejelekan (kejahatan) ini?


Pertama, dengan bertawakkal pada Allah, yaitu menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala.
Kedua, membaca wirid-wirid (dzikir-dzikir) yang dapat membentengi dan menjaga dari segala macam kejelekan. Perlu diingat bahwasanya kebanyakan manusia dapat terkena sihir, ’ain, dan berbagai kejelekan lainnya dikarenakan lalai dari dzikir-dzikir. Ingatlah bahwa bacaan dzikir merupakan benteng yang paling kokoh dan lebih kuat daripada benteng ’Ya’juj dan Ma’juj’. Namun, banyak dari manusia yang melupakan hal ini. Banyak di antara mereka yang melalaikan dzikir pagi dan petang, begitu juga dzikir ketika hendak tidur. Padahal dzikir-dzikir tersebut mudah untuk dihafalkan dan dibaca. (Tafsir Juz ’Amma, 296)


Sumber Rujukan
1.Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithiy, Maktabah Syamilah
2.Al Jaami’ liahkamil Qur’an (Tafsir Qurtubhy), Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshory Al Qurtubhy, Jami’ Mawsu’ah Al Quranil Karim, www.omelketab.net
3.At Tamhid li Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih Alu Syaikh, www.islamspirit.com
4.At Ta’rif bi Suratil Qur’anil Karim, Jami’ Mawsu’ah Al Quranil Karim, www.omelketab.net
5.Aysarut Tafasir likalamil ‘Aliyyil Karim, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi, Maktabah Adhwail Manar
6.I’anatul Mustafid bi Syarhi Kitabit Tauhid, Syaikh Sholih bin Fauzan Al Fauzan, www.islamspirit.com
7.Mutiara Faedah Kitab Tauhid (edisi revisi), Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim
8.Ruhul Ma’ani fi Tafsiril Qur’anil Azhim was Sab’il Matsani, Syihabuddin Mahmud bin Abdillah Al Husaini Al Alusi, Mawqi’ut Tafaasir-Maktabah Syamilah
9.Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Syamilah
10.Shohih Muslim, Muslim bin Al Hajjaj ABul Husain Al Qusyairiy An Naisabuiy, Pentahqiq : Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy Beirut-Maktabah Syamilah
11.Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Abul Fada’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, Maktabah Syamilah 5.
12.Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah
13.Taysir Al Karimir Rahman fi Tafsiril Kalamil Mannan, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As Sa’di, Muassasah Ar Risalah-Maktabah Syamilah

Semoga Bermanfaat untuk kita semua..................Amiin

Tafsir Qur'an Surat An-Naas


TAFSIR Qs. An-Naas

Artikel ini didinukil dari serat dakwah dan sedikit eksplor oleh admin Tpq Nuruddin dan kembali dipublikasikan dengan tidak mengurangi isi daripada artikel aslinya. Tentunya kami juga menyertakan sumber dimana kami nukil artikel ini.



Surat An-Nas ini jika diklasifikasikan berdasarkan lokasi atau tempat serta periode turunnya ayat merupakan sebuah surat yang termasuk ke dalam surat Makkiyah. Dan menurut pendapat paling benar, Surat yang terdiri dari 6 ayat ini pada dasarnya tergolong pula sebagai ayat-ayat yang merupakan ayat perlindungan yang kedua. Adapun bunyi Qs. An Naas seperti yang kita ketahui bersama adalah sebagaimana yang tertulis sebagai berikut :


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ﴿١
مَلِكِ النَّاسِ ﴿٢
إِلَٰهِ النَّاسِ ﴿٣
مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ﴿٤
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ ﴿٥
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ﴿٦

yang artinya :
1. Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
2. Raja manusia.
3. Sembahan manusia.
4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,
6. Dari (golongan) jin dan manusia.”

Jika kemudian kita bicara mengenai masalah mufradat? Maka pembagian hal tersebut Insya Allah akan tergambar sebagai berikut :

1. Yang membisikkkan kata-kata jahat di dada manusia ---> 1. الوسواس

2. Bentuk hiperbola dari kata Al-Khunus yang berarti kembali atau terlambat. Karena kalau ia diusir ia mundur dan kembali ---> 2. الخناس

3. Makhluk tersembunyi, tidak ada yang mengetahuinya selain Penciptanya. ---> 3. من الجِنَّة

Adapun Syarahnya adalah sebagai berikut:

Katakan kepada mereka, “Aku berlindung kepada Allah agar menjagaku dari kejahatan makhluk yang berbisik kepadaku. Aku berlindung kepada Tuhan manusia yang mendidik dan mengambil sumpah kepada mereka di kala mereka kecil atau lemah. Allah telah menguasai urusan mereka dan Dialah Pemilik Manusia. Dia Ilah mereka dan mereka budak-Nya. Dia yang layak disembah, ditunduki, dan dituju. Sebab Dialah Allah Taala yang menciptakan manusia, menumbuhkembangkan mereka, serta menguasai urusan mereka. Karena Dialah tempat berlindung dan meminta pertolongan. Bernaung kepada-Nya dari kejahatan bisikan di dalam hati yang biasa menghiasi kejahatan dan menampakkan keburukan dengan bentuk kebaikan. Itulah bisikan yang kebanyakan mengajak kepada larangan, baik dari bangsa jin, makhluk yang tersembunyi, yang mereka itu anak-anak dan tentara iblis atau dari bangsa manusia seperti halnya teman-teman buruk."

Adapun menurut penjelasan Dr. Ahmad Zain An Najah, MA, dalam situs beliau yakni : dikatakan bahwa surat ini turun bersamaan dengan surat Al Falaq, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam terkena sihir yang dilakukan oleh Labid bin al-A’shom seorang Yahudi yang meletakkan rontokan rambut Rasulullah yang berjumlah 11 helai di bawah sebuah batu yang berada di bawah sumur yang berair. Oleh karenanya, jumlah ayat dari dua surat An Nas dan Al Falaq adalah 11 ayat ; surat an-Nas berjumlah 6 ayat sedang surat al-Falaq berjumlah 5 ayat.

Dalam surat ini, Allah memerintahkan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam untuk berlindung kepada Allah dari was-was syaitan. Perintah kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam berarti juga perintah kepada umatnya. Di dalam kehidupan sehari-hari, jika kita ingin berlindung dari bahaya apapun juga, kita akan berlindung kepada sesuatu yang kuat. Umpamanya kita ingin menghindari dari bahaya banjir, maka kita akan berlindung di suatu tempat yang tinggi dan kuat yang bisa menahan arus banjir. Atau kita ingin terhindar dari sambaran petir, maka kita akan mencari rumah yang dilengkapi dengan perlengkapan penangkal petir, begitu seterusnya.

Kaitannya dengan surat An-Nas ini adalah kita diperintahkan berlindung dari bahaya godaan syetan, yang selalu membisikan ke dalam dada manusia. Syetan adalah musuh yang sangat berbahaya, kita tidak bisa melihat mereka, tetapi mereka melihat kita. Oleh karena itu kita memerlukan perlindungan dari serangan-serangan syetan yang datang bertubi-tubi, tiada henti-hentinya tersebut. Maka Allah menjelaskan bahwa tidak ada tempat berlindung dari itu semua kecuali Allah. Pertanyaannya adalah kenapa harus kepada Allah, seberapa kekuatan yang dimiliki-Nya sehingga kita harus berlindung kepada-Nya ? Maka Allah menjelaskan itu semua pada ayat-ayat di bawah ini :

Pertama :

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ


“Katakanlah: Aku berlindung kepada Robb manusia. “


Maksud Allah sebagai Rabb manusia adalah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah pencipta, pemilik, pengatur, penguasa dan pemberi rezeki seluruh umat manusia. Bahkan Allah juga Rabb (pencipta, pemilik, pengatur, penguasa, pemberi rezeki) seluruh Alam semesta ini beserta isinya, termasuk di dalamnya para syetan yang selalu menggoda manusia. Artinya sangat wajar dan memang seharus begitu, kita berlindung dari kejahatan syetan kepada Rabb (Dzat Yang Menciptakan Syetan itu sendiri), sehingga dipastikan bisa menanganinya, dan dipastikan kita akan selamat.

Mengakui Allah sebagai Rabb (Pencipta, Pemilik, Perawat, Pemberi Rezeki, Yang Menurunkan hujan, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Yang Memberi Sakit, Yang Menyembuhkan), adalah bentuk dari Tauhid Rububiyah. Orang yang menyakini bahwa selain Allah, seperti Jin, para wali-wali Allah yang sudah meninggal dalam kuburan-kuburan mereka, para dukun, bahwa mereka bisa memberikan manfaat dan mudharat, bisa mengabulkan permohonan berupa harta, jodoh atau anak, maka dia telah mensyirikan Allah dalam Rububiyah-NYa.

Orang-orang musyrik kadang mentauhidkan Allah dalam Rububiyah-Nya, sebagaimana di dalam firman Allah :

هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ حَتَّى إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

“ Dialah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur".( Qs Yunus (10) : 22-23 )

Begitu juga Iblis kadang mengakui Allah sebagai pencipta, sebagaimana di dalam firman Allah :

قَالَ ياإِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلاَّ تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ قَالَ لَمْ أَكُن لاِسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِى إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنظَرِينَ إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ

“ Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk". Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat". Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah ( hidupkan aku ) kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan".Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. “ ( Qs al-Hijr (15) : 32-37 )

Oleh karenanya, belum tentu orang yang mentauhidkan Rububiyah, pasti dia telah mentauhid Uluhiyah. Belum tentu orang yang mengakui bahwa sang pencipta adalah Allah, pasti dia hanya menyembah Allah saja.

Di dalam banyak firman-Nya, Allah swt mengajak orang-orang musyrik yang telah mengakui Tauhid Rububiyah agar mereka meningkatkan hal itu untuk mengakui Tauhid Uluhiyah, salah satunya di dalam firman Allah :

قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلَامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ (59) أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (60) أَمَّنْ جَعَلَ الْأَرْضَ قَرَارًا وَجَعَلَ خِلَالَهَا أَنْهَارًا وَجَعَلَ لَهَا رَوَاسِيَ وَجَعَلَ بَيْنَ الْبَحْرَيْنِ حَاجِزًا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (61) أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ (62) أَمَّنْ يَهْدِيكُمْ فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (63) أَمَّنْ يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَمَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (64


Katakanlah: "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?"

Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).

Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan) nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).

Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula) kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya).

Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar".( Qs An Naml : 59- 64 )



Kedua :

مَلِكِ النَّاسِ

“ (Allah adalah) Raja Manusia “

Allah sebagai raja manusia yang sebenarnya, penguasa manusia yang sebenarnya. Dia-lah raja manusia di dunia dan akherat. Adapun manusia yang menjadi raja di dunia ini, bukanlah raja yang sebenarnya. Mereka sebenarnya tidaklah memiliki apa-apa, kecuali dengan izin Raja Manusia yaitu Allah.

Ayat ini ditujukan kepada dua kelompok manusia :

Kelompok Pertama : Kepada rakyat dan masyarakat umum.

Sebagian masyarakat terlalu mengagungkan pemimpin dan raja mereka, sehingga memberikan hak kepada mereka yang sebenarnya hanya milik Allah saja.

Ayat ini mengingatkan kepada mereka semuanya bahwa satu-satunya Raja yang berhak disembah adalah Allah subhanahu wa ta’ala, tidak yang lainnya.

Orang-orang Nasrani telah menyembah para pendeta dan tokoh-tokoh agama mereka dengan cara mentaati mereka secara membabi buta, walaupun mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah ataupun mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, merekapun tetap mentaatinya. Inilah bentuk penyembahan mereka terhadap para pendeta tersebut. Allah berfirman :

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“ Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan “( Qs at Taubah ( 9 ) : 31)

Salah seorang sahabat yang bernama Adi bin Hatim ketika mendengar ayat ini, beliau berkata kepada Rasulullah : “ Wahai Rasulullah, sebenarnya mereka tidak menyembah para pendeta tersebut. “ Maka Rasulullah bersabda : “ Bukankah para pendeta itu mengharamkan sesuatu yang halal dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya ? Itulah bentuk peribadatan mereka kepada para pendeta tersebut.”

Oleh karenanya, seorang muslim tidak boleh mentaati seorang pemimpin yang memerintahkan kepada sesuatu yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya sebenar-benar raja dan pemimpin adalah Allah.

Kelompok Kedua : ayat ini ditujukan kepada para raja, dan para penguasa.

Ayat ini menjelaskan bahwa sebenarnya manusia itu bukanlah penguasa, tetapi mereka hanyalah pemegang amanat kekuasaan yang diberikan Allah kepada mereka. Bukankah Allah yang mengangkat seorang raja dan melengserkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

“ Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” ( Qs Ali Imran : 26 )

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh menyebut dirinya raja diraja, atau Syahinsyah ( untuk orang Persia ), Syah Jihan ( untuk orang India ) karena raja diraja adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Dalam suatu hadist Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda :

إنَّ أَخْنَعَ اسْمٍ عِنْدَ اللهِ - عز وجل - رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ

“ Sesungguhnya serendah-rendah nama di sisi Allah adalah orang yang menamakan dirinya raja diraja “ ( HR Bukhari dan Muslim)



Ketiga :

إِلَهِ النَّاسِ

( Allah adalah) Sesembahan Manusia

“ Ilah “ artinya sesembahan. Kalimat :“ La Ilaha illallah “ artinya tiada yang berhak disembah kecuali Allah. Para ulama menyebut kalimat ini sebagai kalimat tauhid “ Tauhid Uluhiyah. “. Apa itu Tauhid Uluhiyah ?

Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah, yaitu seseorang tidaklah boleh beribadah kecuali kepada Allah, tidaklah bertawakkal kecuali kepada Allah, tidaklah meminta kecuali kepada Allah, tidaklah mengharap kecuali kepada Allah, tidaklah takut kecuali kepada Allah.

Tauhid Uluhiyah ini adalah tauhid yang dibawa para nabi sejak nabi Nuh hingga nabi Muhammad. Karena tauhid inilah, maka diciptakan syurga dan neraka, ditiupkan terompet peperangan antara pembela tauhid ini dengan para musuhnya. Karena tauhid inilah, maka manusia dan jin diciptakan. Karena tauhid inilah para nabi diusir dari kampung halaman mereka. Tuhid Uluhiyah ini merupakan inti dakwah para Rasul, inti dari agama Islam, inti dari kandungan Al Qur’an dan inti dari surat Al Fatihah.

Di dalam surat an-Nas ini ada tiga macam tauhid : Tauhid Rubiyah, Tauhid Mulkiyah, Tauhid Uluhiyah.

Perbedaan mendasar antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah bahwa Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam perbuatan-Nya ( Allah sebagai subyek ), sedangkan Tauhid Uluhiyah adalah mentauhidkan Allah di dalam ibadah. ( Allah sebagai obyek ). Tauhid Rububiyah hampir semua makhluq mengakuinya, termasuk iblis. Sedangkan Tauhid Uluhiyah hanya orang muslim saja yang mengakuinya.

Keempat :

مِنْ شَرِّ الوَسْوَاسِ الخَنَّاسِ

“ Dari Kejahatan (Bisikan) Syaitan Yang Biasa Bersembunyi “



Di dalam ayat tersebut, Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan bahwa sifat syetan adalah suka bersembunyi dan lari terbirit - birit, khususnya jika mendengar adzan dan mendengar nama Allah disebut. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى



Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )

Syetan itu duduk di hati manusia, jika dia lengah, segera dia membisikan ke dalamnya, jika manusia itu mengingat Allah, dia akan lari.

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa syetan itu akan membisikan ke dalam hati manusia di saat ia sedih sekali dan di saat ia gembira sekali, namun jika dia mengingat Allah, maka syetan itu akan bersembunyi.

Telah terbukti, bahwa orang yang sedang dirundung kesedihan yang amat sangat dan kesenangan yang amat sangat tanpa disertai dengan menyebut nama Allah, maka syetan akan merasukinya, dan begitulah sering terjadi kesurupan, yang kadang menimpa juga kepada orang-orang Islam yang lengah mengingat Allah.

Di salah satu pesantren yang terletak di daerah Jawa Barat, sering terjadi kesurupan massal yang menimpa beberapa santriwatinya. Setelah diselidiki, ternyata jiwa para santriwati yang kesurupan tersebut sangat labil dan kosong. Salah seorang santriwati kedapatan sangat sedih sekali kehilangan teman akrabnya yang sedang pulang karena sakit. Nah, kesedihan yang berlarut, tanpa diiringi dengan dzikir kepada Allah, akan menjadi korban bisikan syetan dan berlanjut kepada kesurupan, na’udzubillahi min dzalik.



Ini sesuai dengan firman Allah :



وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ حَتَّى إِذَا جَآءَنَا قَالَ يالَيْتَ بَيْنِي وَبَيْنَكَ بُعْدَ الْمَشْرِقَيْنِ فَبِئْسَ الْقَرِينُ وَلَن يَنفَعَكُمُ الْيَوْمَ إِذ ظَّلَمْتُمْ أَنَّكُمْ فِى الْعَذَابِ مُشْتَرِكُونَ



“ Barang siapa yang berpaling dari Mengingat Allah ( Petunjuk Allah ) Yang Maha Pemurah (yaitu Al Qur'an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan), maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” ( Qs. Az Zukhruf : 36)



Kelima :



الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ

“ Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam manusia. “



Bisikan syetan pada hati manusia sangat banyak dan beragam, semuanya mengarahkan kepada kemaksiatan dan kejahatan.

Bisikan ini ditujukan kepada shodrun ( dada ) manusia. Kenapa shodrun ( dada ), tidak qalbun ( hati ), dan tidak pula fuad ( hati ) ? Jawabannya bahwa sebenarnya tiga kata itu maknanya sama, hanya berbeda dalam penggunaannya saja. Shodrun ( Dada ) adalah tempat dimana ada fuad dan qalbun ( hati ).

Qalbun berarti sesuatu yang sering berbolik-balik. bisa membalikkan qalbun hanyalah Allah swt. Di dalam doa’ disebutkan :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ.

“ Ya Allah, Yang Membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku ini agar selalu berada di dalam agama-Mu “ ( HR Tirmidzi )

Hadist lengkapnya adalah sebagai berikut :



عَن شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ قُلْتُ لِأُمِّ سَلَمَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ عِنْدَكِ قَالَتْ كَانَ أَكْثَرُ دُعَائِهِ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ دُعَاءَكَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ قَالَ يَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنَّهُ لَيْسَ آدَمِيٌّ إِلَّا وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ فَتَلَا مُعَاذٌ { رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا }



Dari Syahr bin Hausyab ia berkata; aku katakan kepada Ummu Salamah; Wahai Ummul mukminin, apakah doa Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam yang paling sering, apabila ada padamu? Iaberkata; doa beliau yang paling sering adalah: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).

Ummu Salamah berkata; wahai Rasulullah, betapa sering anda berdoa: "Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii 'Alaa Diinika" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamaMu).

Beliau berkata: "Wahai Ummu Salamah, sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun melainkan hatinya berada diantara dua jari diantara jari-jari Allah, barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan meluruskannya dan barang siapa yang Allah kehendaki maka Dia akan membelokkannya."

Kemudian Mu'adz membaca ayat: "Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami." ( HR Tirmidzi, beliau berkata; hadits ini adalah hadits hasan)

Bisikan syetan kepada manusia meliputi bisikan dalam masalah aqidah dan ibadah.

Dalam masalah aqidah, syetan membisikan manusia agar ragu-ragu dengan Allah, sampai-sampai dia menanyakan : “ Siapa yang menciptakan Allah ? Ini sebagaimana yang terdapat dalam hadist Abu Hurairah :



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ النَّاسُ يَتَسَاءَلُونَ حَتَّى يُقَالَ هَذَا خَلَقَ اللَّهُ الْخَلْقَ فَمَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ

عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ وَزَادَ وَرُسُلِهِ



Dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Manusia senantiasa bertanya-tanya hingga ditanyakan, 'Ini, Allah menciptakan makhluk, lalu siapakah yang menciptakan Allah', maka barangsiapa mendapatkan sesuatu dari hal tersebut, maka hendaklah dia berkata, 'Aku beriman kepada Allah'."

Dari Hisyam bin Urwah dengan sanad ini, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setan datang kepada salah seorang dari kalian lalu berkata, 'Siapakah yang menciptakan langit, siapakah yang menciptakan bumi? ' lalu dia menjawab, 'Allah', kemudian menyebutkan dengan semisalnya, dan dia menambahkan kalimat, 'Dan Rasul-Nya'.( HR Muslim )

Adapun bisikan syaitan dalam ibadah adalah : merasa keluar angin dalam sholat, padahal itu hanya bisikan syaitan saja. Dalam hal ini Rasulullah shallahu ‘alaihi wassalam bersabda :


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَلَ عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لَا فَلَا يَخْرُجَنَّ مِنْ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian mendapatkan sesuatu yang kurang beres dalam perutnya, lalu rancu baginya perkara tersebut, apakah keluar atau tidak, maka janganlah dia keluar dari masjid hingga dia mendengar suara (kentut) atau mendapatkan baunya." ( HR Bukhari dan Muslim )

Termasuk bisikan syetan dalam ibadah adalah seseorang melamun dalam sholat dan mengingat sesuatu, sehingga dia lupa berapa rekaat dia sudah sholat. Ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ أَدْبَرَ الشَّيْطَانُ وَلَهُ ضُرَاطٌ حَتَّى لَا يَسْمَعَ التَّأْذِينَ فَإِذَا قَضَى النِّدَاءَ أَقْبَلَ حَتَّى إِذَا ثُوِّبَ بِالصَّلَاةِ أَدْبَرَ حَتَّى إِذَا قَضَى التَّثْوِيبَ أَقْبَلَ حَتَّى يَخْطِرَ بَيْنَ الْمَرْءِ وَنَفْسِهِ يَقُولُ اذْكُرْ كَذَا اذْكُرْ كَذَا لِمَا لَمْ يَكُنْ يَذْكُرُ حَتَّى يَظَلَّ الرَّجُلُ لَا يَدْرِي كَمْ صَلَّى



Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika panggilan shalat (adzan) dikumandangkan maka setan akan lari sambil mengeluarkan kentut hingga ia tidak mendengar suara adzan. Apabila panggilan adzan telah selesai maka setan akan kembali. Dan bila iqamat dikumandangkan setan kembali berlari dan jika iqamat telah selesai dikumandangkan dia kembali lagi, lalu menyelinap masuk kepada hati seseorang seraya berkata, 'Ingatlah ini dan itu'. Dan terus saja dia melakukan godaan ini hingga seseorang tidak menyadari berapa rakaat yang sudah dia laksanakan dalam shalatnya."( HR Bukhari dan Muslim )

Termasuk bisikan syaitan dalam ibadah, adalah berlama-lama di kamar mandi, atau merasa bahwa air kencingnya belum bersih, atau belum keluar semua. Ada juga sebagian orang yang sudah keluar kamar mandi, masuk lagi dan terus begitu berkali-kali. Maka untuk menghilangkan bisikan syetan seperti itu, para ulama menganjurkan untuk membasahi celana kita dengan air, sehingga ketika merasa ada sesuatu yang keluar dari anggota tubuhnya, dan didapatkan celananya basah, akan terbetik bahwa basah tersebut penyebabnya adalah air bersih yang dipercikkan. Dengan demikian hilanglah bisikan syetan tersebut.



Bisikan syetan juga mempunyai dua bentuk :
Bentuk Pertama: Fitnah Syubhat, yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar salah di dalam memahami ajaran agama Islam ini. Fitnahi ini terjadi akibat kebodohan. Fitnah Subhat inilah yang menimpa kaum Nashrani, maka mereka menjadi orang-orang yang sesat ( Dhallun). Fitnah ini kemudian merembet kepada orang-orang Islam, sehingga merasuki sebagian orang-orang sufi, aliran-aliran sesat dan ahli bid’ah dan sejenisnya.

Bentuk Kedua : Fitnah Syahwat, yaitu bisikan syetan ke dalam hati manusia agar bermaksiat kepada Allah dan agar mengikuti hawa nafsunya. Seseorang yang terkena fitnah syahwat ini, akan lebih mementingkan kesenangan dunia dibandingkan kehidupan akherat. Fitnah Syahwat inilah yang menimpa orang-orang Yahudi, sehingga mereka dimurkai Allah ( Maghdhubi ‘Alaihim), karena mereka mempunyai ilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmu tersebut. Kemudian fitnah ini merembet kepada kaum muslimin dan menimpa sebagian orang-orang yang berilmu tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya, bahkan cenderung untuk bermaksiat dan lebih mementingkan kehidupan dunia daripada akherat.



Keenam :

مِنَ الجِنَّةِ وَالنَّاسِ

“ Dari golongan jin dan manusia.”

Allah menerangkan pada ayat keenam ini bahwa yang membisikan ke dalam dada manusia itu adalah syetan dari golongan jin dan dari golongan manusia. Ini sesuai dengan firman Allah :



وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيِّ عَدُوًّا شَيَاطِيْنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُورًا


“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu.” (QS. Al-An’am: 112)

Adapun Iblis berasal dari golongan Jin, sebagaimana dalam firman Allah :

إِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا



“ Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang dzalim.” ( Qs al-Kahfi : 50 )

Dari dua ayat di atas bisa disimpulkan bahwa iblis dan syaitan adalah dua istilah yang mempunyai titik berbeda dan kesamaan. Perbedaannya adalah syetan terdiri dari dua golongan ; golongan manusia dan jin, sedangkan iblis dari golongan jin saja. Sedangkan titik kesamaannya adalah bahwa kedua-duanya berasal dari golongan jin. Jadi, syaitan lebih umum dari iblis.

terakhir...

Mari kita berdoa! Mudah-mudahan kita dipelihara Allah dari kejahatan setan jin dan setan manusia. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan. Dia juga Maha Kuasa atas segala sesuatu. Allah sendiri telah mengajarkan kita bagaimana berlindung diri dari kejahatan lahir maupun batin.” Amin Ya Robbalalamiin
Wallahu A’lam.

Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2010/09/9011/tafsir-surat-an-naas/#ixzz1vcFFLxtN
serat dakwah blog
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU