Rabu, 03 April 2013

SHOLAT SUNNAH HAJAT : Tata Cara Sholat Hajat

Tata Cara Sholat Hajat


Tata Cara Solat Thahajud
Tata Cara sholat Hajat - Hajat menurut arti katanya yaitu keperluan atau kebutuhan. Jadi shalat sunah hajat adalah sholat sunat yang dikerjakan karena mempunyai maksud atau keperluan dan berharap allah swt mengabulkannya. Hajat atau keperluan ini ada yang kepada allah swt dan ada juga yang mempunyai hajat kepada sesame manusia, atau disebut dengan urusan duniawi dan ukhrawi.
Atau suatu hajat dapat tercapai diantaranya dengan berusaha dan berdoa yaitu dengan shalat. Sehingga berharap allah swt akan segera mengabulkan keinginan kita. Karena allah telah berfirman dalam Al-Quran: (surat Al-baqarah ayat 45)

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´,(QS Al Baqarah: 45)
Waktu sholat Hajat tidak tertentu, namun tidak diperbolehkan mengerjakan sholat Hajat pada waktu yang dilarang seperti setelah sholat Ashar dan setelah sholat Subuh. Sholat Hajat dilakukan sendiri, tidak berjamaah. Banyaknya rakaat dalam sholat Hajat yaitu minimal dua rakaat dan maksimal sebanyak dua belas rakaat. Dalam pelaksanaanya, jika dikerjakan pada malam hari maka setiap dua rakaat sekali salam dan jika dilaksanakan pada siang hari maka boleh empat rakaat dengan sekali salam dan seterusnya.
Berikut ini tata cara sholat Hajat:
  • Niat sholat Hajat di dalam hati:
“Ushollii sunnatal haajati rok’ataini lillaahi ta’aala” (aku niat sholat sunah hajat karena Allah)
  • Lalu Takbiratul Ihram.
  • Membaca do’a Iftitah, dilanjutkan dengan surat Al Fatihah kemudian membaca salah satu surat di dalam Al Quran.
  • Ruku’ sambil membaca Tasbih tiga kali.
  • I’tidal sambil membaca bacaannya.
  • Sujud yang pertama sambil membaca Tasbih tiga kali
  • Duduk antara dua sujud sambil membaca bacaannya.
  • Sujud yang kedua sambil membaca Tasbih tiga kali
  • Setelah rakaat pertama selesai, lakukan rakaat kedua sebagaimana cara diatas, kemudian Tasyahhud akhir.
  • Setelah selesai maka membaca salam dua kali.
Jumlah rakaat dalam shalat hajat paling banyak 12 rakaat dan paling sedikit dua rakaat. Untuk shalat hajat yang di lakukan lebih dari dua rakaat dengan cara setiap dua rakaat salam, dan banyaknya rakaat dalam shalat hajat mungkin tergantung pada besar kecilnya hajat yang dibutuhkan, jika hajatnya kecil mungkin cukup hanya dua rakaat saja, tapi jika hajatnya besar maka tidak cukup hanya dengan dua rakaat saja. Mungkin cukup sekian dari saya mudah-mudahan bisa bermanpaat bagi kita semua khisusnya umat muslim.

Derajat Hadits Shalat Tasbih

Derajat Hadits Shalat Tasbih

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ أَلَا أُعْطِيكَ أَلَا أَمْنَحُكَ أَلَا أَحْبُوكَ أَلَا أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ سِرَّهُ وَعَلَانِيَتَهُ عَشْرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ الرُّكُوعِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنْ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُولُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ إِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً
Dari Ibnu Abbas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abbas bin Abdil Muthalib: “Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah aku memberimu? Maukah aku melakukan sepuluh perkara untukmu, bila engkau melakukannya Allah ampuni dosa-dosamu yang pertama dan yang terakhir, yang lama maupun yang baru, yang sengaja maupun yang tidak disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang rahasia maupun yang terang-terangan; yaitu engkau shalat empat raka’at, membaca al fatihah dan surat di setiap raka’at, lalu setelah selesai engkau baca: subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar 15x, kemudian ruku dan membaca itu 10x, kemudian I’tidal membaca 10 kali juga, kemudian sujud membaca 10x, kemudian mengangkat kepala dan membaca 10x, kemudian sujud lagi membaca 10x kemudian mengangkat kepala kembali membaca 10x, itu semua jumlahnya 75 kali setiap rakaat, dan engkau lakukan itu empat raka’at. Jika engkau mampu melakukannya setiap hari, lakukanlah. Bila tidak mampu maka setiap seminggu sekali, bila tidak mampu maka sebulan sekali, dan bila tidak mampu maka setahun sekali dan bila tidak mampu maka lakukanlah seumur hidup sekali”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud (2/46 no 1297) dengan sanad: “haddatsana Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam An Nisaburi haddatsana Musa bin Abdul ‘Aziz, haddatsana Al Hakam bin Aban, dari Ikrimah dari ibnu Abbas”.
Derajat Hadits
Dalam sanad hadits ini terdapat Musa bin Abdul ‘Aziz dikatakan oleh Al Hafidz ibnu Hajar: “Shaduq sayyi’ul hifdzi”. Artinya buruk hafalannya dan ini adalah lemah yang ringan, namun ia di-mutaba’ah oleh Ibrahim bin Al Hakam bin Abaan. Sebagaimana yang dikeluarkan oleh Al Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah (4/156 no 1018) secara mursal. Beliau berkata: “Akhbarana Ahmad bin Abdullah Ash Shalihi akhbarana Abu Bakar Ahmad bin Al Hasan Al Hiiri akhbarana Hajib bin Ahmad Ath Thuusi akhbarana Muhammad bin Raafi’ akhbarana Ibrahiim bin Al Hakam bin Abaan haddatsanii ayahku dari Ikrimah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Wahai Abbas.. dst’”. Namun Al Hakim dalam Al Mustadrak menyebutkan bahwa Ishaq bin Ibrahim telah me-maushul-kan hadits ini.
Saya katakan, akan tetapi Ibrahim bin Al Hakam bin Abaan ini dikatakan oleh Al Hafidz ibnu Hajar: “Dha’iif (lemah)”. Dan mutaba’ah ini setidaknya menguatkan jalan Musa bin Abdil ‘Aziz.
Dan hadits Al Abbas ini mempunyai jalan lain juga dari hadits Abu Rafi’ yang dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunan-nya no 482: “Haddatsana Abu Kuraib haddatsana Zaid bin Hubab Al ‘Ukliyy haddatsana Musa bin ‘Ubaidah haddatsani Sa’id bin Abi Sa’id Maula Abu Bakar bin Muhammad bin Amru bin Hazm dari Abu Rafi’ bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Al ‘Abbas… dst’”. Namun dalam sanadnya terdapat Musa bin Ubaidah, yang dikatakan oleh Al Hafidz: “Dha’iif terlebih pada periwayatannya dari Abdullah bin Diinar”. Dan juga Sa’id bin Abi Sa’id maula Abu Bakr bin Hazm, ia adalah majhul sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz. Akan tetapi sanad inipun menguatkan hadits Al ‘Abbas, dimana bila digabungkan dengan sanad di atas dapat terangkat menjadi hasan lighairihi.
Dan hadits ini mempunyai syawahid yang semakin menguatkannya, diantaranya adalah:
1.Hadits Abdullah bin ‘Amru radliyallahu ‘anhu
Dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya 2/47 no 1298:  ”haddatsana Muhammad bin Sufyan Al Ubulli haddatsana Habbaan bin Hilal Abu Habiib haddatsana Mahdii bin Maimuun haddatsana Amru bin Malik dari Abil Jauzaa haddatsani seorang shahabat yang mereka pandang dia adalah Abdullah bin Amru ia berkata: “Nabi bersabda kepadaku: “Datanglah kepadaku besok, aku akan memberimu sesuatu”. Aku mengira beliau akan memberikan kepadaku harta. Beliau bersabda: “Apabila siang telah pergi berdirilah dan empat rakaat.. beliau menyebutkan hampir sama (dengan hadits Al Abbas).. beliau bersabda: “Angkatlah kepalamu dari sujud kedua dan duduklah dengan sempurna dan jangan berdiri sampai kamu membaca tasbih 10 kali, tahmid, takbir dan tahlil masing-masing sepuluh kali, dan lakukan itu di empat rakaat”. Beliau bersabda: “Sesungguhnya jika kamu orang yang paling besar dosanya di muka bumi ini, niscaya dosamu akan terampuni dengan shalat tersebut”. Aku berkata: “Bagaimana jika aku tidak dapat melaksanakannya di waktu tersebut?” beliau bersabda: “Lakukanlah di waktu malam atau siang”.

Sanad hadits ini hasan, semua perawinya tsiqah kecuali ‘Amru bin Malik. Dikatakan oleh Al Hafidz: “Shaduq lahu auhaam”. Akan tetapi Abu Dawud menyebutkan adanya perselisihan dalam sanad ini, beliau berkata: “Al Mustamirr bin Ar Rayyaan meriwayatkan dari Abil Jauzaa dari Abdullah bin Amru secara mauquf”.
Al Mustamirr ini seorang perawi yang tsiqah, ia menyelisihi Amru bin Malik dalam periwayatannya. Namun kalaupun dikatakan bahwa hadits ini mauquf, akan tetapi dapat dihukumi marfu’ karena perkara ini tidak mungkin berasal dari hasil ijtihad Abdullah bin Amru’. Dan periwayatan Al Mustamirr ini tidak dianggap sebagai illat, justru sebagai mutaba’ah yang kuat bagi ‘Amru bin Malik, sehingga hadits ini mengangkat hadits Al ‘Abbas menjadi shahih.
2.Hadits Al Anshariyy
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 2/48 no 1299: “Haddatsana Abu Taubah Ar Rabii’ bin Naafi’ haddatsana Muhammad bin Muhajir dari ‘Urwah bin Ruwaim haddatsani Al Anshari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ja’far dengan hadits ini, dan ia menyebutkan yang sama dengannya”.

Semua perawinya tsiqah kecuali Al Anshariyy. Al Hafidz Ibnu Hajar condong kepada pendapat bahwa ia adalah shahabat yang bernama Abu Kabsyah, bila memang benar ia maka hadits ini shahih. Sehingga dengan dua syahid ini tampak dengan jelas keshahihan hadits shalat tasbih. Adapun perbuatan Ibnul Jauzi yang memasukkan hadits shalat tasbih ke dalam kitab hadits-hadits palsu adalah kesalahan beliau. Para ulama setelah beliau mengingatkan kesalahan ini seperti yang disebutkan oleh As Suyuthi dalam Al Laalii Al Mashnu’ah, demikian pula Ibnul ‘Arraak dan Al Laknawi dan Al Hafidz Ibnu Hajar.
Fiqih hadits
Hadits ini menunjukkan disunnahkannya shalat tasbih dan keutamaannya amat besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Keistimewaan Tasbih dan Shalat Tasbih

Keistimewaan Tasbih dan Shalat Tasbih


Tasbih berasal dari kata سَبَحَ – sabaha, yang artinya ‘menjauh’. Ber-tasbih dalam pengertian syariat artinya ‘menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan dan kejelekan’. 

Dengan begitu, ketika kita bertasbih, maka kita menunjukkan keluarbiasaan Allah dalam segala hal, tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Ada 7 surat yang dimulai dengan ucapan tasbih: Surat al-Isra’ (17:1), Surat al-Hadid (57:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat al-Hasyr (59:1), Surat as-Shaf (61:1), Surat at-Taghabun (64:1), Surat al-A’la (8:1).

Dalam al-Quran, banyak perintah agar kita ber-tasbih kepada Allah swt dalam segala keadaan. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut.

Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang (Thoha/20: 130)

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu akan berdiri (at-Thur/52: 48)

Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi. (al-Mu’min/40: 55)

KEISTIMEWAAN TASBIH

1. Kalimat yang paling dipilih Allah swt

Suatu kali Rasulullah ditanya apakah ucapan yang paling unggul? Rasulullah menjawab,

مَا اصْطَفَى اللهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ


‘Yang dipilih Allah swt terhadap para malaikat-Nya dan hamba-Nya adalah ucapan: Subhanallahi wa bihamdihi’ (Riwayat Muslim)

2. Memberatkan timbangan amal

Rasulullah bersabda,

كَلِمَتَانِ خَفِيْفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ثَقِيْلَتَانِ فِى الْمِيْزَانِ حَبِيْبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ


‘Ada dua kalimat yang keduanya ringan diucapkan di lidah namun memberatkan timbangan amal dan keduanya disukai oleh ar-Rahman, yaitu: Subhanallahi wa bi hamdihi subhanallahil azhim’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

3. Menghapus dosa yang banyak

Rasulullah bersabda,

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ


Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahi wa bi hamdihi 100x maka Allah dihapuskan kesalahan meskipun kesalahannya itu sebanyak buih lautan’ (Riwayat Bukhari dan Muslim)

4. Punya perkebunan kurma di surga

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ غُرِسَتْ لَهُ نَخْلَةٌ فِى الْجَنَّةِ


‘Barangsiapa yang mengucapkan: Subhanallahil azhimi wa bi hamdihi, maka ditanamkan baginya satu pohon kurma di surga’ (Riwayat at-Tirmidzi)

5. Terhindar dari kesedihan dan penyakit-penyakit berat (misal: stroke)

Suatu kali Qabishah al-Makhariq mendatangi Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkan aku beberapa kalimat (ucapan) yang dengannya Allah memberi manfaat kepadaku, karena sungguh umurku sudah tua dan aku merasa lemah untuk melakukan apapun’. Lalu Rasulullah berkata, ‘Adapun untuk duniamu, maka ketika engkau selesai shalat Shubuh, maka ucapkanlah tiga kali:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ


Jika engkau membacanya, maka engkau terhindar dari kesedihan, kusta (lepra), penyakit biasa, belang, lumpuh akibat pendarahan otak (stroke)…’ (Riwayat Ibnu as-Sunni dan Ahmad)

6. Senjata menghadapi persoalan besar

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah, bahwa jika Rasulullah menghadapi persoalan penting, maka beliau mengangkat kepalanya ke langit sambil mengucapkan: Subhanallahil azhim, dan jika beliau bersungguh-sungguh dalam berdoa, maka beliau mengucapkan: Ya hayyu ya qoyyum (Riwayat at-Tirmidzi)

7. Senjata menghadapi krisis pangan

Rasulullah bersabda,

طَعَامُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِي زَمَنِ الدَّجَّالِ طَعَامُ الْمَلاَئِكَةِ: التَّسْبِيْحُ وَالتَّقْدِيْسُ، فَمَنْ كَانَ مَنْطِقُهُ يَوْمِئِذٍ التَّسْبِيْحَ أَذْهَبَ اللهُ عَنْهُ الْجُوْعَ


‘Makanan orang beriman pada zaman munculnya Dajjal adalah makanan para malaikat, yaitu tasbih dan taqdis. Maka barangsiapa yang ucapannya pada saat itu adalah tasbih, maka Allah akan menghilangkan darinya kelaparan’ (Riwayat al-Hakim)

KEISTIMEWAN SHALAT TASBIH

Melakukan shalat tasbih bukan perbuatan bid’ah, seperti yang dikatakan oleh segelintir orang (yang awam dan sok ikut-ikutan). Shalat Tasbih termasuk kebiasaan orang-orang shalih. Abdullah bin Mubarok dan generasi sesudahnya selalu melakukannya.

Kata Syaikh Ali al-Khawwash, ‘Sebaiknya shalat tasbih dilakukan sebelum shalat hajat, karena shalat tasbih ini menghapus dosa-dosa, dengan demikian menjadi sebab terkabulnya hajat’.

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ إِبْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ لِعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ: يَا أَبَّاسُ يَا عَمَّاهُ، أَلاَ أُعْطِيْكَ؟ أَلاَ أَمْنَحُكَ؟ أَلاَ أَحْبُوْكَ؟ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَحِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ، صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ، سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ، عَشْرَ حِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُوْرَةً، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِى أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ: سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً، ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَهْوِى سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِى كُلِّ رَكْعَةٍ، تَفْعَلُ ذَلِكَ فِى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِى كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً، لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِى عُمُرِكَ مَرَّةً - رواه أبو داود وأبن ماجه وإبن خزيمة والطبراني


Dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah bersabda kepada Abbas bin Abdul Muththalib, ‘Wahai Abbas, wahai pamanku, maukah engkau aku beri sesuatu? Maukah engkau aku anugerahkan sesuatu? Maukah engkau aku berikan hadiah? Yaitu sepuluh keutamaan, yang jika engkau melakukannya, Allah mengampuni dosamu: dosa yang awal dan yang akhir, dosa yang lama dan yang baru, dosa yang tidak disengaja dan yang disengaja, dosa yang kecil dan yang besar, dosa yang rahasia dan terang-terangan. Sepuluh keutamaan itu engkau dapatkan dengan cara engkau lakukan shalat empat rakaat. Pada setiap rakaat engkau membaca al-Fatihah dan satu surat (dari al-Qur’an). Jika engkau telah selesai membaca al-Fatihan dan surat pada awal rakaat, sementara engkau masih berdiri, maka engka baca kalimat SUBHANALLAH WAL HAMDULILLAH, WA LA ILAHA ILLALLAH, WALLAHU AKBAR sebanyak 15 kali. Kemudian engkau ruku’, lalu engkau ucapkan kalimat tadi sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari ruku’, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau sujud, ketika sujud engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu dari sujud, maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau bersujud, lalu ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Kemudian engkau angkat kepalamu (dan duduk istirahat sebentar), maka engkau ucapkan kalimat itu sebanyak 10 kali. Maka jumlah kalimat itu 75 kali pada setiap satu rakaat. Engkau lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Jika engkau mampu melakukannya (shalat) itu setiap hari sekali, maka lakukanlah! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap hari, maka (lakukan) setiap minggu sekali! Jika engkau tidak mampu melakukannya setiap minggu, maka (lakukan) setiap bulan sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) setiap tahun sekali! Jika tidak mampu juga, maka (lakukan) sekali seumur hidupmu’. 

(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, 1297; Ibnu Majah, 1387; Ibnu Khuzaimah, 1216; al-Hakim dalam al-Mustadrak, 1233; al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, 3/51-52, dan lainnya dari jalan Abdurrahman bin Bisyr bin Hakam, dari Abu Syu’aib Musa bin Abdul Aziz, dari Hakam bin Abban, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sanad ini berderajat hasan

Bahkan Syaikh al-Albani menilai hadits ini shahih

Shalat tasbih bisa dilakukan siang hari, bisa juga malam hari. Jika dilakukan siang hari, maka langsung 4 rakaat dengan satu salam. Jika malam hari, maka dilakukan 2 rakaat 2 rakaat dengan 2 kali salam.

Tata Cara Shalat Tasbih


Cara Cepat Promosi Ribuan Web Sekaligus

Tata Cara Shalat Tasbih (Versi Lengkap)

Murtakibudz Dzunub - Shalat tasbih termasuk salah satu shalat sunat yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kalau bisa dilakukan tiap malam, seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali atau seumur hidup sekali.
Shalat sunat tasbih dilakukan dengan empat rokaat. Bila disiang hari, maka dilakukan dengan satu kali salam sedang di malam hari dilakukan dengan dua kali salam.


Hadits dari Ibnu ‘Abbas

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ يَا عَبَّاسُ يَا عَمَّاهْ أَلاَ أُعْطِيْكَ أَلاَ أُمْنِحُكَ أَلاَ أُحِبُّوْكَ أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ قَدِيْمَهُ وَحَدِيْثَهُ خَطْأَهُ وَعَمْدَهُ صَغِيْرَهُ وَكَبِيْرَهُ سِرَّهُ وَعَلاَنِيَّتَهُ عَشَرَ خِصَالٍ أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكْعَاتٍ تَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وِسُوْرَةً فَإِذَا فَرَغْتَ مِنْ الْقُرْاءَةِ فِيْ أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ قُلْتَ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ خَمْسَ عَشَرَةَ مَرَّةً ثُمَّ تَرْكَعُ فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشَرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكُوْعِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تّهْوِيْ سَاجِدًا فَتَقُوْلُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَالسُّجُوْدِ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَسْجُدُ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ فَتَقُوْلُهَا عَشْرًا فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُوْنَ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِيْ أَرْبَعِ رَكْعَاتٍ إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِيْ كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ جُمْعَةٍ مَرَّةً فَإِنْ لََمْ تَفْعَلْ فَفِيْ كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُ فَفِيْ كُلِّ سَنَةِ مَرَّةً فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِيْ عُمْرِكَ مَرَّةً
“Dari Ibnu ‘Abbâs, bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Abbâs bin ‘Abdul Muththalib, ‘Wahai ‘Abbas, wahai pamanku, maukah saya berikan padamu? maukah saya anugerahkan padamu? maukah saya berikan padamu? saya akan tunjukkan suatu perbuatan yang mengandung 10 keutamaan, yang jika kamu melakukannya maka diampuni dosamu, yaitu dari awalnya hingga akhirnya, yang lama maupun yang baru, yang tidak disengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nampak. 


Semuanya 10 macam. Kamu shalat 4 rakaat. Setiap rakaat kamu membaca Al-Fatihah dan satu surah. Jika telah selesai, maka bacalah Subhanallâhi wal hamdulillâhi wa lâ ilâha illallâh wallahu akbar sebelum ruku’ sebanyak 15 kali, kemudian kamu ruku’ lalu bacalah kalimat itu di dalamnya sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku’ baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian sujud lagi dan baca lagi sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari sujud sebelum berdiri baca lagi sebanyak 10 kali, maka semuanya sebanyak 75 kali setiap rakaat. Lakukan yang demikian itu dalam empat rakaat. Lakukanlah setiap hari, kalau tidak mampu lakukan setiap pekan, kalau tidak mampu setiap bulan, kalau tidak mampu setiap tahun dan jika tidak mampu maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu."

أصلى سنة التسبيح ركعتين لله تعالى
Niat tersebut untuk shalat tasbih yang dilakukan dengan dua kali salam, sedang untuk yang satu kali salam sebagai berikut:



أصلى سنة التسبيح اربع ركعات لله تعالى
Pada rokaat pertama setelah membaca surat al-fatihah dan surat-surat pendek, membaca tasbih 15 kali, kemudian ketika ruku' (setelah membaca do'a ruku') membaca tasbih 10 kali. Kemudian bangun dari ruku' (setelah membaca do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika sujud pertama (setelah membaca do'a sujud) membaca tasbih 10 kali. Ketika duduk diantara dua sujud (setelah membaca do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika sujud kedua (setelah membaca do'anya) membaca tasbih 10 kali. Ketika akan berdiri untuk rokaat yang kedua duduk dulu (duduk istirahat) membaca tasbih 10 kali, baru berdiri untuk rokaat yang kedua yang bacaannya sama dengan rokaat yang pertama.



Begitu seterusnya hingga salam (setelah tasyahud, baik tasyahud awal maupun akhir, membaca tasbih 10 kali kecuali setelah membaca surat al-fatihah yakni 15 kali).


Catatan: Disunahkan pada rokaat pertama membaca surat At-Takatsur, rokaat kedua membaca surat Al-'Ashr, rokaat ketiga membaca surat Al-Kafirun dan pada rokaat ke empat membaca surat Al-Ihlash.
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ



اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ تَوْفِيْقَ اَهْلِ اْلهُدَى وَاَعْمَالَ اَهْلِ اْليَقِيْن وَمُنَاصَحَةَ اَهْلِ التَّوْبَةِ 

وَعَزَمَ اَهْلِ الصَّبْرِ وَجَدَّ اَهْلِ الْخَشْيَةِ وَطَلَبَ اَهْلِ الرَّغْبَةِ وَتَعَبُّدَ اَهْلِ الْوَرَعِ 

وَعِرْفَانَ اَهْلِ اْلعِلْمِ حَتىَّ اَخَافَكَ . اللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ مَخَافَةً تُحْجِزُنِى عَنْ 

مَعَاصِيْكَ حَتَّى اَعْمَلَ بِطَعَاتِكَ عَمَلاً اَسْتَحِقُ بِهِ رِضَاكَ وَحَتَّى اُنَاصِحَكَ فِى

التَّوْبَةِ خَوْفًا مِنْكَ وَحَتَّى اُخْلِصَ لَكَ النَّصِيْحَةَ حُبًّالَكَ وَحَتَّى اَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ  فى 

اْلأُمُوْرِ كُلِّهَا وَاُحْسِنَ الظَّنَّ بِكَ . سُبْحَانَ خَالِقِ النُّوْرِ رَبَّنَا اَتْمِمْ لَنَا نُوْرَنَا

وَغْفِرْلَنَا اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن .

Sholat Sunnah Taubat

Tatacara Pelaksanaan Shalat Taubat dan Ketentuannya


Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya serta umatnya yang berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya hingga akhir zaman.

Tetap terbukanya pintu taubat merupakan bagian dari rahmat Allah Ta'ala kepada umat ini. Taubat masih tetap berlaku sebelum nyawa sampai dikerongkongan dan matahari terbit dari barat. Kesempurnaan anugerah ini berlanjut dengan mensyariatkan kepada mereka ibadah paling mulia (yakni shalat taubat) untuk dijadikan sebagai sarana oleh muznid (orang yang bertaubat) agar diterima taubatnya.

Disyari'atkan Shalat Taubat

Para ulama bersepakat tentang disyari'atkannya shalat taubat. Diriwayatkan dari Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

"Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya."

Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam membaca:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. [QS. Ali Imran: 1365]." (HR. Abu Dawud no. 1521. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud)

Penulis Shahih Fiqih Sunnah dalam megomentari hadits di atas mengatakan, "Dalam sanadnya terdapat kelemahan, hanya saja ayat tersebut menguatkan maknanya. Di samping itu, hadits ini juga dishahihkan oleh sebagian ulama." (Shahih Fiqih Sunnah: 2/95)

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya, dari Abu Darda' Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Siapa yang berwudhu dan memperbagus wudhunya, lalu berdiri shalat dua rakaat atau empat (salah seorang perawi ragu), ia memperbagus dzikir dan khusyu' dalam shalatnya, kemudian beristighfar (meminta ampun) kepada Allah 'Azza wa Jalla , pasti Allah megampuninya." (Para pentahqiq al-Musnad mengatakan: Isnadnya hasan. Syaikh Al-Albani menyebutkannya dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, no. 3398).

Sebab Dikerjakannya Shalat Taubat

Shalat taubat dikerjakan saat seorang muslim terjerumus ke dalam kemakasiatan, baik maksiat dosa besar atau kecil. Maka ia wajib bersegera taubat dan disunnahkan baginya untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Dua rakaat ini termasuk bagian dari amal shalih yang disunnahkan untuk dikerjakan dalam masa taubat. Ia sebagai wasilah (perantara) kepada Allah untuk mendapatkan taubat dari-Nya dan ampunan atas dosanya.

Waktu Shalat Taubat

Disunnahkan mengerjakan shalat taubat ini saat seorang muslim bertekad untuk bertaubat dari sebuah dosa yang telah diterjangnya, baik taubat ini segera dikerjakan selepas ia melakukan maksiat itu atau mengakhirkannya. Yang wajib atas seorang yang berdosa agar segera bertaubat. Tapi kalau ia mengakhirkannya/menundanya maka tetap diterima. Karena taubat bisa diterima selama belum datang satu dari dua kondisi berikut ini:

1. Apabila ruh belum sampai ke kerongkongan. Yakni ia yakin akan segera mati sehingga tidak punya pilihan lain kecuali itu, seperti Fir'aun, dikisahkan dalam QS. Yunus: 91-92.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

"Sesungguhnya Allah tetap menerima taubat seorang hamba selama ruh (nyawa)nya belum di tenggorokan." (HR. Al-Tirmidzi, hadits hasan)

2. Apabila matahari terbit dari barat, karena Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ



"Barangsiapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubatnya." (HR. Muslim, no. 2703)

Shalat taubat ini disyariatkan dalam semua waktu, sampai pada waktu terlarang seperti sesudah shalat 'Ashar. Sebabnya, karena ia termasuk jenis shalat yang memiliki sebab. Maka disyariatkan dan boleh langsung dikerjakan saat datang sebabnya.

Syikhul Islam rahimahullah berkata,

وَكَذَلِكَ صَلَاةُ التَّوْبَةِ فَإِذَا أَذْنَبَ فَالتَّوْبَةُ وَاجِبَةٌ عَلَى الْفَوْرِ وَهُوَ مَنْدُوبٌ إلَى أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَتُوبَ كَمَا فِي حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ

"Demikian pula shalat taubat (termasuk shalat yang memiliki sebab dan harus segera dilakukan, sehingga boleh dilakukan meskipun waktu terlarang untuk shalat), jika seseorang berbuat dosa, maka taubatnya itu wajib, yaitu wajib segera dilakukan. Dan disunnahkan baginya untuk melaksanakan shalat dua raka’at. Kemudian ia bertaubat sebagaimana keterangan dalam hadits Abu Bakar Al-Shiddiq.” (Majmu’ Al-Fatawa, Ibnu Taimiyah: 23/215)

Sifat Shalat Taubat

Shalat taubat dikerjakan sebanyak dua rakaat. Dikerjakan sendirian, karena ia termasuk nawafil yang tidak disyariatkan secara berjamaah. Dan disunnahkan untuk beristighfar sesudah selesai mengerjakannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu di atas.

Tidak ditemukan tuntutan dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang menetapkan bacaan tertentu pada dua rakaat tadi. Maka orang yang mengerjakan shalat taubat membaca surat yang dia kehendaki. Selain itu, juga disunnahkan baginya untuk memperbanyak amal shalih lainnya. Ini didasarkan kepada firman Allah Ta'ala:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

"Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar." (QS. Thaahaa: 82)

Di antara amal-amal utama yang bisa dikerjakan oleh orang yang bertaubat: shadaqah, karena shadaqah termasuk sebab besar yang menghapuskan dosa.

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Baqarah: 271)

Terdapat penguat dari kisah Ka'ab bin Malik Radhiyallahu 'Anhu, saat Allah menerima taubatnya, ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dengan sebab (diterima) taubatku, saya akan mensedekahkan semua hartaku kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "tahanlah sebagian hartamu, maka itu lebih baik bagimu." Ia menjawab, "Aku tahan sahamku yang ada di Khaibar." (Muttafaq 'Alaih)

Kesimpulan:

  1. Shalat taubat memiliki landasan shahih dari sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam.
  2. Shalat taubat disyariatkan saat seorang muslim bertaubat dari dosa besar maupun kecil. Tidak dibedakan, baik dosa itu baru saja dikerjakan atau sudah lama.
  3. Shalat taubat bisa dikerjakan pada semua waktu, sampai pada waktu yang terlarang mengerjakan shalat sunnah.
  4. Selain mengerjakan shalat taubat, orang yang bertaubat juga dianjurkan mengerjakan amal-amal kebajikan, seperti shadaqah dan selainnya. [PurWD/voa-islam.com]
Tulisan Terkait:

Sholat Sunat Tahiyatul Masjid

Sholat Sunat Tahiyatul Masjid


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ


اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

 .
  Solat Sunat Tahiyatul Masjid ialah solat sunat mu’akkad ‘selamat datang’ bagi menghormati masjid yang dilakukan sebanyak dua rakaat sebaik sahaja memasuki masjid, iaitu sebelum seseorang itu duduk atau melakukan sesuatu yang lain.

.

  Sabda Rasulullah SAW: “Apabila salah seorang di antara kamu mendatangi/memasuki masjid, maka janganlah duduk sebelum mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Muslim)

.

Dalam sebuah riwayat yang lain disebutkan, “Jika salah seorang di antara kamu memasuki masjid, hendaklah dia tidak duduk hingga mengerjakan solat dua rakaat.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

.

Sekiranya sampai ke masjid hanya beberapa minit sahaja akan didirikan solat fardhu, maka memadailah seseorang itu mendirikan solat sunat sebelum fardu dan ia sudah dikira sebagai memenuhi tuntutan Solat Sunat Tahiyatul Masjid. Boleh juga untuk menyatukan dua niat antara mana-mana solat sunat qabliyah dan Solat Tahiyatul Masjid.

.

Jika seseorang itu meninggalkan Solat Sunat Tahiyatul Masjid tetapi terus menunaikan solat sunat qabliyah atau solat wuduk, maka ia juga memadai kerana hadis di atas berbentuk umum, iaitu ‘mendirikan solat dua rakaat’.

.

Apabila berkelapangan dan ada kesempatan, maka adalah sewajarnya seseorang itu melakukan Solat Sunat Tahiyatul Masjid berasingan yang natijahnya akan memberatkan lagi timbangan amal di akhirat.

.

.

Tujuan


1.  Sebagai cara memuliakan masjid yang merupakan rumah Allah.

2.  Memupuk sifat rendah diri dan beradab semasa berada di dalam masjid.

3.  Menggalakkan umat Islam mendapat pahala berganda ketika di masjid.

.

.

Tertib

Sebaik-baik sahaja sampai di dalam masjid hendaklah lakukan pekara2 berikut:

 .

1.   Bila seseorang jemaah hendak masuk sesebuah masjid disunatkan membaca doa:



.

.

2.   Berniat iktikaf.




.

.

3.   Dan apabila sampai di tempat hendak duduk, bagi menambahkan kecekalan hati dalam menghadapi syaitan eloklah dibaca:




.

.

.

 Cara Melakukan Solat Tahiyatul Masjid


Sebelum duduk, boleh terus mengerjakan Solat Sunat Tahiyatul Masjid dua raka’at. Caranya sama dengan solat sunat yang lain, hanya niatnya saja yang berbeza.

.

1.  Niatnya :



.

.

2.  Bacaan surah selepas Al-Fatihah:

      Raka’at pertama – Al-Kafirun.

      Raka’at kedua – Al-Ikhlas.

.

.

3.  Zikir Selepas Solat Sunat Tahiyatul Masjid


a.  Kemudian selepas selesai Solat Sunat Tahiyatul Masjid itu bacalah 100 kali;


.

 .

b.  Selepas itu berzikirlah lagi dengan lain-lain Istighfar, tasbih, tahmid, tahlil atau sesuatu zikir sehingga sampai mendengar azan.

.

.

.

Fadhilat Solat Sunat Tahiyatul Masjid


1.  Melatih masyarakat ke arah meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

2.  Menyuburkan perasaan menghormati segala makhluk Allah SWT.

3.  Dapat meningkatkan ketenangan jiwa dan perasaan.

4.  Mendidik diri lebih berperatuan dan berdisplin.

5.  Memperolehi pahala yang berlipat kali ganda.

.

Ulama hadis terkemuka, Sufyan at-Tsauri menyatakan, di antara perkara yang termasuk dalam pekara sia-sia ialah apabila seseorang itu masuk ke dalam masjid, kemudian dia keluar kembali dari masjid tanpa mengerjakan Solat Sunat Tahiyatul Masjid.

.

.

.

Permasalahan Solat Sunat Tahiyatul Masjid


.

1. Jika seseorang itu telah masuk masjid dan terus duduk dengan sengaja, maka tiada lagi Solat Sunat Tahiyatul Masjid baginya.

.

2. Jika duduk itu dengan terlupa ada 2 keadaan.

a. Terlupa yang sekejap kemudian ingat kembali, maka dibolehkan bangun dan terus solat.

b.  Jika terlupa yang panjang waktunya, kemudian teringat, tiadalah lagi dibolehkan bangun bersolat.

.

3  Sekiranya masuk masjid dan didapati azan sedang berkumandang, maka perlulah menjawab azan tersebut sambil berdiri, kemudian melakukan solat sunat Rawatib yang  dikira sudah memadai sebagai memenuhi tuntutan Solat Sunat Tahiyatul Masjid.

.

4. Apabila masuk masjid, khatib sedang berkhutbah atau majlis ilmu sedang dijalankan, hendaklah mengerjakan solat Tahiyatul Masjid dua rakaat, sebelum duduk. Solat tersebut hendaklah dilakukan secara ringkas dengan mengambil yang wajib sahaja. Malah Rasulullah SAW pernah menegur orang yang masuk ke masjid kerana tidak Solat Sunat Tahiyatul Masjid sewaktu khutbah Jumaat dijalankan.

.

Dari Jabir bin ‘Abdillah r.a., dia menyatakan: Sulaik al-Ghifani pernah datang pada hari Jumaat ketika Rasulullah SAW sedang menyampaikan khutbah lalu dia terus duduk. Beliau SAW pun berkata kepadanya:
“Wahai Sulaik, berdiri dan ruku’lah dua rakaat serta pendekkanlah dalam melaksanakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kamu datang pada hari Jumaat ketika imam sedang berkhutbah, hendaklah dia mengerjakan solat dua rakaat dengan seringkasnya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari)

.

5. Orang yang tidak dapat mengerjakan Solat Sunat Tahiyatul Masjid disebabkan sudah dimulakan solat jemaah atau dia telah duduk atau dia sekadar masuk sebentar untuk sesuatu keperluan, maka dianjurkan membaca 3 kali:  ‘Subhanallah Walhamdulillah Walailahailallah Wallahu Akbar.’

Dari Abu Hurairah r.a., Nabi SAWbersabda: “Jika iqamah solat sudah dikumandangkan, tidak ada solat lagi, kecuali solat wajib.” (Hadis Riwayat Muslim)

.

6.  Sekiranya seseorang itu sedang dalam rakaat pertama Solat Sunat Tahiyatul Masjid dan para jemaah pun mendirikan solat fardhu, maka wajib baginya membatalkan solat tersebut dan menyertai solat fardhu kerana ada tegahan daripada Rasulullah SAW: “Apabia didirikan solat fardhu, maka tiada solat ketika itu melainkan solat fardhu.” (Hadis Riwayat Muslim)

Tetapi jika dia berada di rakaat kedua, maka hendaklah dia mempercepatkan dan sempurnakan rukun-rukun yang berbaki sehingga salam sebelum menyertai jemaah solat fardhu.

.

7. Tiada tuntutan untuk Solat Sunat Tahiyatul Masjid di luar masjid, contohnya di padang atau kaki lima.  Sekiranya datang sewaktu imam berkhutbah, kena duduk diam mendengar khutbah. Jika tiba sebelum imam memberi khutbah dan selepas azan pertama, maka boleh Solat Sunat Qabliyah Jumaat.

.

8.  Bagi mereka yang menunaikan haji atau umrah, apabila memasuki Masjidilharam hendaklah melakukan Tawaf sebagaimana yang diamalkan Rasulullah SAW dan bukannya Solat Tahiyatul Masjid. Kata Ibn Abbas r.a. “Tahiyat Kaabah ialah Tawaf”.

.

9.  Mereka yang telah bermukim di Makkah dan datang ke masjid untuk solat, menuntut ilmu dan seumpamanya, sebaik-baiknya mereka hendaklah melaksanakan Solat Sunat Tahiyatul Masjid bukannya mengerjakan Tawaf.

.

.

والله أعلم بالصواب

 (Hanya Allah Maha Mengetahui apa yang benar)

.

والسلام علبكم و رحمة الله و بركاته

.
By
Shafiqolbu

Cara Nabi Qiyamullail, Tahajjud, Witir dan Berdoa

Bagaimana Cara Nabi Qiyamullail, Tahajjud, Witir & Berdoa

Ustaz Fathul Bari Mat Jahya

Soalan:
Bagaimana Nabi mendidik kita cara atau kaedah qiyamullail?

Jawaban:
Perkataan qiyamullail bermaksud menghidupkan malam. Dengan apa menghidupkan malam adalah di antaranya dengan membaca Al Quran dan shalat. Shalat malam terbahagi kepada dua kategori; shalat sebelum tidur dan shalat selepas tidur.
Shalat sebelum tidur adalah qiyamullail, dan shalat selepas tidur juga adalah qiyamullail. Bezanya ialah shalat selepas tidur termasuk kategori tahajjud. Kadang-kadang orang salah faham, ramai orang menyangka shalat malam atau qiyamullail ini hanyalah shalat yang dilakukan selepas tidur sahaja.
Sebenarnya yang dilakukan sebelum tidur juga dikategorikan sebagai shalat malam tetapi kualitinya tidak sama seperti shalat atau ibadah yang dilakukan setelah bangun daripada tidur.

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
Ertinya: “Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. “ (Al-Israa, 17: 79)
Semua itu adalah qiyamullail (menghidupkan malam) dan shalat malam. Bagaimanakah Nabi SAW mengajar kita shalat malam?

1. Bangun pada sepertiga malam
Ada beberapa sebab mengapa Nabi SAW mengajar kita untuk bangun bertahajjud pada satu per tiga malam, antara yang paling penting ialah kata Nabi SAW, Allah SWT turun di sepertiga malam mendengar pengaduan dan doa hamba-hamba-Nya.
Kita wajib mengimani bahawa Allah SWT turun ke langit dunia. Soal bagaimana Allah SWT turun, serahkan urusan itu kepada Allah SWT. Allah turun seperti apa yang layak dan sesuai bagi sifat-Nya. Ianya tidak boleh difikir atau dibayangkan dan tidak boleh disamakan dengan sifat dan bentuk mana-mana makhluk.
Menggambar dan membentukkan Allah SWT sama seperti sifat makhluk menjadikan kita mujassimah iaitu menggambarkan bagaimana rupa bentuk Allah SWT dan ini diharamkan. Jadi kita beriman bahawa Allah SWT turun tetapi bagaimana Allah turun adalah sesuai dan layak bagi sifat dan zat-Nya tanpa menyerupai makhluk, tanpa membagaimanakan, tanpa menafikan sifat tersebut, dan tanpa melakukan pentakwilan ke atas sifat tersebut.
Turunnya Allah SWT ke langit dunia adalah suatu saat yang sangat baik dan mulia. Ini dari sudut pemilihan waktu dalam kita berdoa kepada Allah SWT dan melakukan amal kebaikan.
Sebab kedua mengapa bangun di sepertiga malam adalah kerana baginda Nabi SAW bangun di sepertiga malam. Kadang-kadang ramai yang bertanya, mengapa kita buat begitu, mengapa kita buat begini? Kita seringkali mencari kelebihan, tetapi kita lupa menunaikan tanggunggjawab terlebih dahulu.
Tanggungjawab belum ditunaikan tetapi kita sudah bertanya berapa keuntungan yang bakal diperoleh. Ini mungkin disebabkan terlebih belajar ekonomi dan bisnes. Belajar ekonomi itu perlu, tetapi jangan sampai terbawa-bawa dalam urusan ibadat sehingga jika ibadat tersebut tidak dilihat menguntungkan maka kita tidak mahu melakukan.
Kelebihan yang paling utama sebenarnya adalah mentaati perintah Allah dan Rasul. Kita melakukan sesuatu ibadat kerana Nabi melakukannya. Adapun ganjaran yang dijanjikan khusus untuk amalan tersebut adalah soal kedua. Mungkin kelebihan ada disebut di dalam hadis-hadis yang lain, tetapi perkara utama dan yang terpenting adalah ibadat itu dilakukan kerana ianya adalah perintah Allah dan rasul. Itu peringkat pertama bagi orang yang taat.
Maka sebagai umat Nabi SAW, apa yang Nabi buat, contohnya Nabi bangkit di sepertiga malam, maka itulah yang kita buat kerana semestinya itu merupakan waktu yang terbaik untuk beribadat kerana mencontohi baginda adalah hal yang terbaik.

2. Shalat
Jika tadi kita membicarakan tentang waktu yang terbaik, sekarang kita membincangkan apa amalan yang terbaik. Nabi bangkit di sepertiga malam untuk shalat. Shalat apakah yang baginda lakukan?
Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia pernah bertanya pada ‘Aisyah RA, “Bagaimana shalat malam Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan?” ‘Aisyah mengatakan,

مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ فِى غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
Ertinya: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula pada selainnya melebihi 11 rakaat.” (riwayat Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)
Nabi melakukan shalat malam tidak pernah melebihi 11 rakaat. Itu jumlah rakaat yang Nabi lakukan. Kemudian wujud juga hadis umum dari Nabi SAW,

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً ، تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
Ertinya: “Solat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian takut masuk waktu subuh, maka kerjakanlah satu rakaat. Dengan itu bererti kalian menutup solat tadi dengan witir.” (riwayat Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749, dari Ibnu ‘Umar)
Berdalilkan hadis yang umum ini, ulama seperti Al Imam An Nawawi rahimahullah, Imam As-Suyuthi dan selainnya menyatakan bahawa harus untuk kita melakukan shalat malam tanpa melakukan penetapan jumlahnya. Boleh dilakukan dua rakaat, dua rakaat, dan sehingga apabila takut masuk subuh lakukanlah witir sebagai penutup.

Shalat witir
Witir adalah shalat yang jumlah bilangan rakaatnya adalah ganjil. Jika ditanya pendapat saya, saya lebih cenderung kepada hadis Aisyah kerana hadis tersebut menyebut secara khusus bahawa Nabi tidak pernah menambah lebih daripada 11 rakaat di dalam shalat malamnya sama ada di dalam atau di luar Ramadhan.
Soal bagaimana 11 rakaat itu dilakukan, apakah 2 rakaat, 2 rakaat dan akhirnya 3 rakaat, atau dilakukan 8 rakaat sekaligus dan ditutup dengan 3 rakaat, atau 4 rakaat, 4 rakaat, kemudian ditutupi dengan 3 rakaat, semua itu ada disebut caranya oleh Nabi SAW.

Syaikh Muhammad Umar Bazmul mengarang buku “Meneladani Shalat-shalat Sunnah Rasulullah SAW” membahaskan topik khusus cara Nabi SAW melakukan shalat malam, termasuk di dalamnya juga salat tarawih dan shalat witir.
Sekiranya kita hendak melakukan kurang daripada itu (11 rakaat), lakukanlah shalat yang Nabi SAW tidak pernah tinggalkan iaitu shalat witir.
Shalat ini ada yang Nabi meletakkan jenama, ada yang Nabi tidak meletakkan jenama. Shalat witr bukan merujuk kepada jenama, tetapi ia merujuk kepada jumlah rakaat yang kita lakukan. Jumlah rakaat yang kita lakukan sekiranya ganjil rakaatnya maka itu ialah witir.
Kata Nabi SAW tentang shalat witir, witir adalah salah satu cara shalat malam, iaitu mengganjilkan jumlahnya. Mengganjilkan jumlah shalat ini sangat baik, antaranya sabda Nabi SAW di dalam hadis,

إِنَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ
Ertinya: “Sesungguhnya Allah itu ganjil (tunggal) dan menyukai yang ganjil.” (Muttafaq ‘alaihi)
Dan dalam riwayat yang lain Nabi menyatakan berkenaan shalat witir,

هي خير لكم من حمر النعم
Ertinya: “Shalat yang lebih baik daripada unta merah.” (riwayat At Tirmidzi)
Ada yang mengatakan maksud “humurin na’am” dalam hadis di atas merujuk kepada 100 ekor unta merah. Maknanya di sini ada kelebihan-kelebihan pada mengganjilkan shalat malam. Sebab itu Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul menyusun tatacara shalat witir yang dilakukan oleh Nabi SAW; 3, 5, 7, atau 11 rakaat, terpulang kepada kesediaan kita. Cuma untuk menambah kualiti shalat malam, lakukanlah ia setelah bangun daripada tidur pada waktu malam.
Apabila kita bangun daripada tidur pada waktu malam untuk beribadah, ibadah yang dilakukan itu termasuk dalam kategori tahajjud, tetapi shalat tersebut tetap shalat witir kerana kita mengganjilkan jumlahnya. Dengan mengganjilkan jumlah rakaat shalat, ada ganjaran-ganjaran tertentu yang telah dinyatakan oleh Nabi SAW.
Itu di antara amalan yang Nabi SAW lakukan.
Bersendirian atau berjamaah?
Shalat malam kadangkala dilakukan oleh Nabi secara berjamaah seperti hadis yang menunjukkan Nabi berjamaah bersama Ibn Abbas, tetapi kebiasaannya dan kebanyakannya Nabi melakukannya secara bersendirian. Aisyah RA menjadi saksi betapa Nabi shalat malam, sehingga Aisyah RA berkata,

أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ
Ertinya: “Nabi Allah SAW melaksanakan shalat malam sehingga pecah kedua tapak kakinya.” (riwayat Al-Bukhari no. 4460 dan Muslim no. 2820)
Sehingga Aisyah bertanya kepada Nabi, “Kenapa engkau melakukan hal ini wahai Rasulullah padahal Allah Ta’ala telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Baginda SAW bersabda, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (riwayat Muslim no. 2820)
Bersyukurnya Nabi dengan shalat malam sehingga pecah tapak kaki. Bagaimana pula dengan kita?
3. Berdoa
Ketika kita bangun dan shalat malam, dianjurkan kepada kita untuk memilih waktu yang sesuai untuk berdoa. Antara waktu yang paling sesuai untuk berdoa di dalam shalat adalah sewaktu sujud dan sebelum memberi salam. Kata Nabi SAW di dalam hadis,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Ertinya: “Keadaan paling dekat seorang hamba dari Tuhannya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, maka perbanyakkanlah doa.” (riwayat Muslim)
Penyakit masyarakat kita, mereka menunggu sujud yang terakhir sahaja untuk berdoa dan memperlama sujud. Sedangkan kita dianjurkan memperbanyakkan doa di dalam mana-mana sujud tidak dikhususkan pada sujud yang terakhir.
Tatacara berdoa
Doa boleh dilakukan dengan mengangkat tangan atau dengan tidak mengangkat tangan. Antara hadis-hadis yang menggambarkan cara Nabi SAW berdoa dengan mengangkat tangan ialah seperti yang digambarkan oleh Ibn ‘Abbas RA di mana Nabi SAW merapatkan kedua-dua belah tangannya dan mengangkat di antara paras muka dan dada. Itu salah satu cara Nabi mengangkat tangan ketika berdoa.
Banyak hadis yang menunjukkan keharusan kita mengangkat tangan ketika berdoa. Walaubagaimanapun ada masa-masa dan ketika Nabi berdoa dengan tidak mengangkat tangan, seperti doa ketika khutbah (baginda hanya mengangkat jari telunjuk tangan kanan ke atas) dan beberapa tempat yang lain. Bukan setiap waktu berdoa harus mengangkat dan menadah tangan, dan ianya juga tidak ditetapkan dan dikhususkan pada masa-masa tertentu untuk mesti mengangkat tangan, cuma di antara adab ketika meminta sesuatu daripada Allah adalah dengan mengangkat tangan. Adapun ketika Nabi berdoa meminta hujan atau keperluan mendesak dan di saat genting, Nabi mengangkat tangan lebih tinggi ke langit sehingga diriwayatkan nampak putihnya ketiak Nabi SAW.
Antara yang turut dianjurkan adalah menangis dan bersungguh-sungguh dalam berdoa, dan Nabi SAW kurang menyukai doa yang terlalu detil, sebaliknya baginda menyukai doa umum yang merangkumi hal yang diinginkan, tidak terlalu terperinci melainkan jika ada keperluan yang mendesak seperti dalam hadis riwayat Abu Dawud di mana baginda mengajar kita berdoa, mohonlah pada Allah walaupun untuk meminta garam dan kasut. Jadi sekiranya benda itu merupakan keperluan yang mendesak maka mohonlah kepada Allah SWT.
Nabi juga suka mengulangi doa yang sama sebanyak tiga kali. Maka inilah yang harus kita contohi dalam kita berdoa dan bershalat malam, khususnya apabila dekat dengan ujian. Seperti mana kita melihat para sahabat Nabi RA ketika berperang, mereka tetap meneruskan shalat; shalat khauf, membuktikan hubungan dengan Allah SWT sangat penting termasuklah di saat-saat genting.
Wallahu-A’lam.

Teks disediakan dari rakaman berikut:

http://www.youtube.com/watch?v=Lpmlxl23Wpw&feature=relmfu 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Edy_Hari_Yanto's  album on Photobucket
TPQ NURUDDIN NEWS : Terima kasih kepada donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk pembangunan TPQ Nuruddin| TKQ-TPQ "NURUDDIN" MENERIMA SANTRI DAN SANTRIWATI BARU | INFORMASI PENDAFTARAN DI KANTOR TPQ "NURUDDIN" KEMALANGAN-PLAOSAN-WONOAYU